Melalui judulnya, mungkin kita akan mengira buku ini seperti mengajak kita mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia dan menghilang dari khalayak. Lalu mengarahkan kita untuk bermeditasi untuk menemukan diri kita yang sejati. Apakah kenyataannya demikian? Hohoho big no yes..
Awalnya kukira aku akan membaca sebuah buku inspirasi atau pembahasan konsep² tasawuf secara praktik. Namun lebih dari itu, tidak hanya konsep sufisme atau tasawuf saja, buku ini secara menyeluruh mengajak kita memahami dunia filsafat dan urgensinya, yang bertitik berat pada filsafat Barat dan Timur. Dalam istilah penulis, NGAJI FILSAFAT. Namun demikian, menariknya, buku yang sejak awal ditujukan untuk pembaca umum, yang tidak saja sejak awal familiar dengan konsep² filsafat, buku ini cukup gurih dan renyah dalam menyampaikan gagasan² yang ada. Dalam hal ini sepakatlah saya dengan penuturan Wa Ode Zainab ZT di bagian cover belakang buku.
Berisi sembilan Bab dalam 317 halaman, buku ini dikemas dengan cukup apik dan sedap dipandang mata, baik dari segi layout buku, pemilihan jenis font serta ukuran, serta highlight pada poin-poin penting menjadi satu kesatuan utuh dan melengkapi kenikmatan melahap buku ini. Disajikan pula beberapa biografi tokoh filsuf terkait aliran filsafat yang sedang dibahas di setiap akhir bab.
Hal menarik lainnya, yang menurut saya juga menjadi keistimewaan dan ciri khas pemikiran dan tulisan penulis adalah, kemampuannya mendekatkan pemikiran filsafat yang ada dengan konsep² dalam Islam yang sudah lebih familiar bagi kita. Hal ini sangat membantu bagi pembaca umum dengan background non - filsafat. Pun dengan beberapa kritik atas realitas umat Islam hari ini yang ditampilkan dengan tajam tapi nggak tegang, bahkan di beberapa tempat seolah dengan pembawaan santuy dan bercandanya, sehingga meski tergolong refleksi kritis, namun kita dapat menerima dengan pikiran terbuka dan jernih.
Secara keseluruhan setiap bab buku ini menarik. I can't take my eyes on its at all, engga mau skip² bacaan barang satu kata pun, saking enak bahasanya.
Buku ini mengajak kita melakukan refleksi atas diri kita, menemukan tujuan dan hakikat hidup kita, lalu mendorong kita melakukan perbaikan² sebagai bentuk mau diapakan makna yang sudah diperoleh tadi. Setelah ditemukan, lantas apa, bagaimana?
Tapi jika diambil yang paling favorit, saya suka pembahasan tentang ajaran Hinduisme dan tentang absurditas hidup ala Camus, khususnya pada gagasan kebebasan dan pemberontakan.
"Menghilang" berarti mengesampingkan ego dan kepentingan diri-menyadari sepenuhnya misi penciptaan yang diembankan kepada setiap manusia, yaitu menjadi rahmat bagi semesta. - Fahruddin Faiz