Saat ini aku berdiri di depan panti asuhan, membawa dua adik perempuanku. Bukan, aku bukan anak yatim piatu. Ibuku masih hidup. Tapi, dua menit yang lalu adalah hari terakhir kali aku bertemu dengan ibu. Hingga kelak aku dewasa, kami tak pernah bertemu lagi. Sementara ayahku tewas tertembak.
Panti asuhan ini bukan panti asuhan betulan. Dari luar memang ada plang bertuliskan panti asuhan. Di dalamnya? Penjara yang amat menakutkan.
Tak perlu menunggu besok bagi kami merasakan hal mengerikan. Di hari pertama kedatangan, malamnya kami bertiga langsung hampir mati.
Kalian, saat seusia kami, sedang melakukan apa? Inilah ceritaku. Tak banyak yang tahu, tak banyak yang maun mendengarkan inilah kisahku, tentang kado terbaik itu. Semoga aku bercerita pada orang yang tepat.
Usahakan baca minimal 1 fiksi, dan 1 non-fiksi setiap bulan. Fiksi untuk hati, non-fiksi untuk kepala. – Ini juga pesan untuk kawan-kawan yang mencoba merintis jadi penulis. Jika ada yang menganggap karyamu baik, maka syukuri dan jangan terlalu terbang. Rekam itu di ingatan, jadikan dorongan untuk memberi dampak dan membawa pesan-pesan yang seru dan penting.
Jika rupanya ada yang tak suka, memberi kritik, saran, itu tak masalah. Beberapaa kritik malah bisa jadi pelontar yang ampuh untuk karyamu berikutnya. Lagi pula, orang sudah keluar uang untuk beli karyamu, masa mengkritik saja tidak boleh. Selama sesuatu itu karya manusia, pasti ada saja retak-retaknya.
Lain cerita jika menghina. Memang benar tak harus jadi koki untuk bisa menilai satu menu masakan itu enak atau tidak. Namun cukup jadi manusia untuk tidak menghina makanan yang barang kali tak cocok di lidahmu, kawan. – “Karya yang terbaik adalah karya yang selanjutnya.” Bisik seorang sahabat. “Tulislah sesuatu yang bahkan engkau sendiri akan tergetar apabila membacanya.” Sambung sahabat yang lain.
Selesaiiiii! 🥳 Ini novel pertama Kak J.S. Khairen yang aku baca. Cerita sederhana yang menghangatkan hati. Aku suka cara berceritanya mudah dipahami, manis, sedih, nyesek dan beberapa bagian lumayan bikin kaget. Aku suka di setiap chapternya selalu ada quote-quote yang bagus. Aku suka cara Rizki menunjukkan kasih sayangnya ke adiknya terkadang bikin iri. Sedih waktu adiknya tanya bisa nggak beli Bapak sama Ibu 😔. Suka persahabatan Rizka dan Gang Terminal. Aku cukup suka sama Bang Toron, meskipun dia nggak bener tapi dia masih punya hati. Suka Rani juga dan salut dengan jalan yang akhirnya dia pilih. Baca ini dibagian akhirnya seperti sesudah aku selesai baca Hujan dan Saat-saat Jauh kayak semacam dapat masukkan tentang pekerjaan yang mereka pilih gitu sukaaa salut 👏🏼.
Ceritanya cukup seru dan mengetuk empati. Bisa "melihat" dari sudut pandang anak jalanan. Cuma menurutku ini masih kurang klimaks di bagian kriminal2nya.
Kemana bang Toron? Apa yang dilakukan dirumah gede dengan kerangkeng? Kemana mereka? Siapa orang tua angkat Rizka? Banyak potongan2 yang rasanya kayak...yaudah nih dikasih sepotong aja tanpa bisa digabungkan jadi 1 puzzle yang lengkap.
What I like of course satu dua kalimat di tiap awal bab untuk direnungkan. Oh ya rilisnya pas banget ya di bulan Ramadan ini vibes Lebarannya kuat :")
akhirnya selesai juga baca buku js khairen yang terbaru ini. sedikit berharap banyak dengan ending ceritanya tapi yaa kadang hidup memang harus serealistis itu yaa.
ceritanya seru, asik dan menegangkan. oh dan nyesek pastinya. agak sedikit sebel sama rizki yang bebal cuma yaa gimanaa mungkin itu pola pikir anak jalanan untuk bertahan hidup (?)
agak sedikit bingung sama alur ceritanya, aku nemu beberapa plot kosong yang kalau lebih di ceritakan lagi akan membuat cerita jadi lebih bagus. seperti; kenapa tono di tembak (?) kemana perginya bang toron (?) dan ada beberapa lagi.
terus aku juga nemu beberapa penyebutan nama yang salah, bukan sekali tapi ada beberapa kali (semoga nanti bisa diperbaiki kalau cetul)
kalau ingin baca cerita ttg sisi gelap anak jalanan yang jarang diketahui, mungkin buku ini bisa menceritakan gambaran kehidupan anak jalanan. sekian.
Sebuah kisah yang mengharukan, hubungan kekeluargaan, persahabatan dan masyarakat setempat.
Rizki, seorang anak yatim. Ditinggalkan ibunya di sebuah panti asuhan haram. Rizki, bersama dua adiknya terpaksa terus tinggal di situ demi kelangsungan hidup.
Apabila mencecah usia belasan tahun, Rizki nekad keluar dari panti untuk mencari kerja. Harapannya supaya dia mampu menanggung kedua adiknya dan mereka boleh keluar dari neraka dunia itu.
Sayangnya, hidup tak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Mencari wang itu begitu sukar bagi Rizki, bermacam-macam cara dicuba, tapi penghasilannya tidak seberapa. Untuk hidupnya sendiri pun masih susah, tentu saja tidak mampu menjaga adik-adiknya.
Apa yang terjadi tujuh hari sebelum lebaran itu, penuh dengan pergelutan dan kesukaran. Tujuh hari itu menukar kehidupan Rizki dan Rani. Mereka menemukan pemahaman yang lebih tentang hubungan keluarga, apa yang patut diutamakan dan dijadikan prioriti.
Sesungguhnya, tujuh hari tu adalah kado terbaik buat mereka.
AAAAAAAAAA life is hard and it must go on. this is my first book that i read from the author. for me, i would like to give 4.7/5 forrrrr this book.
the story was sad, showed a hard struggle from younger brother as an orphan to make sure his sister could eat atm in a day. but, at some point, i was disappointed, like…. where did Rizky go? why he left his sister and only saw her after a couple of years. weird but that’s life.
Kado Terbaik: Sebuah ulasan berdasarkan pandangan pribadi (4.7/5)
“Saat kau berjanji sesuatu yang amat tulus, alam juga ikut bekerja menuntaskannya” (halaman 5)
Karya pertama J.S. Khairen yang saya baca kali ini ternyata sangat sarat makna. Gaya narasinya cantik sekali. Heartwarming, sedih, terharu, dan rasa senang juga kelegaan meskipun hanya sekelibat sukses mengobrak-abrik perasaan saya saat membaca. Meskipun konflik yang disajikan cukup berat, tetapi karena gaya narasi yang dipilih membuat membaca novel ini menjadi sangat ringan. Bisa dibilang, novel ini masuk ke dalam jajaran novel page turner. 260 halaman yang sukses saya babat habis kurang dari tiga hari lamanya. Pembaca akan diajak mengarungi pedih, susah, dan jatuh bangunnya Rizki untuk tetap bertahan hidup. Membacanya saja saya tidak sanggup, apalagi harus terjun langsung untuk menghadapi situasi bahaya yang datang bertubi-tubi seperti Rizki.
Walaupun sebetulnya saya cukup kesal dengan karakternya Rizki ini. Bebal, keras kepala, dan kasarnya bersumbu pendek. Sudah jelas-jelas ada jalan lain yang cukup aman untuk menyelamatkan adiknya malah tetap ngotot melalui jalan yang berbahaya. Mungkin salah satu akibat dari hidup di kerasnya jalanan, tidak memikirkan secara jangka panjang alias hanya peduli apa yang ada di depan harus diterabas sekarang. Kalau ada nominasi manusia yang paling sengsara dan paling nelangsa hidupnya, Rizki mungkin cocok untuk masuk kriteria. Bahkan sampai akhir cerita, sosok Rizki tidak dapat secuil atau bahkan cipratan ending bahagia dari penulisnya.
“Apa kau pernah merasa berutang banyak pada kehidupan? Jika iya, maka temukanlah cara untuk melunasinya. Boleh jadi cuma ada satu cara itu: memberikan kehidupan juga kepada sesama” (halaman 51)
“Hati adalah lanpangan terbaik untuk berbagi hal. Cinta tumbuh karena hatimu. Mental kuat karena hatimu. Amarahmu pun muncul karena hatimu. Lantas apa fungsi akalmu? Mengajari hatimu caranya mengontrol itu semua” (halaman 116)
“Minum itu seteguk demi seteguk. Tak bisa sekali layau. Bisa meletus perutmu nanti. Berhasil itu proses demi proses. Tak bisa langsung hebat. Bisa datang tetanggamu menuduh kau babi ngepet nanti” (halaman 135)
“Berusaha paling benar di depan semua orang itu hanya membuat kebencian makin besar. Cahaya paling terang justru membuat bayangan paling gelap” (halaman 139)
Buku ini di awali dengan scane seorang ayah yang di temukan tewas tertembak yang mana karna kejadian itu lah mau tak mau 3 anak dari ayah tewas tersebut pun di usir oleh ibu nya.
3 anak tersebut yakni Rizki (anak laki-laki berumur 14 tahun, Rizka (anak perempuan berumur 7 tahun) dan bayi mungil yang berumur 4 hari yang mana ibu mereka pun tak menitipkan apa apa untuk bayi mungil itu sekalipun nama (Khanza)
Mereka pun ke panti asuhan namun naasnya lagi panti asuhan yang mereka datangi tersebut bukan tempat yang selayaknya bagi usia mereka. Bahkan tempat itu lah penjara yang amat menakutkan... (Scane awalnya gitu asli aku ngebayanginnya kek yaAllah tega bgt, engga kuaaaat😭)
Ada di salah satu chapter, nyesek bgt di aku. Pas kejadian khanza nanyain "Bisa beli bapak dan ibu gak?". Dengan umur yang cukup belia dan sangking polosnya bisa ampe nanya gitu🥺
Sama juga di chapter 35 kek woi lah iihhh gemesh bgt hahahaha😂, lagi situasi genting lah ada drama uhuy nya aaaa😭
Tapi... Diendingnya aku lebih nyesek bgt asli, engga kebayang perasaan khanza hmm Satu tapi tak bersama💔
sama juga itu loh aku pikir rizki bakalan jadinya sama si anu tapi malah rizkinya anu, dahlah apa dipikirkan rizki nih bisa bisanya dia gituuuu laaagii arrrgg keeezeeel😒
Btw, Lagi bulan puasa terus baca ini kek duhhh bener bener kek secara engga langsung dapet insight dan kek dikasih teguran halus kalo kita tuh musti selalu bersyukur apa yang di punya dan sesekali tengok lah keadaan dibawah, apa yang kita punya tuh sekarang mungkin perspektif kita B aja tapi kalo bagi org lain itu sangat bernilai✨
Kalo temen temen nyari novel yang tentang kekeluargaan, anak yatim, terus yang heartwarming bisaa bgt di icip icip buku ini❤️🔥
Rizki, Rizka dan Khanza - tiga bersaudara yang tercampak di sebuah panti asuhan haram yang diuruskan oleh Pak Tono. Hidup mereka di situ begitu teruk sekali dikerjakan oleh Pak Tono.
Ketika berusia 18 tahun, Rizki keluar dari panti asuhan tersebut dengan harapan untuk bekerja lalu membawa keluar kedua-dua adik perempuannya dari panti asuhan tersebut. Namun, hidup yang keras di luar sana membawa nasib yang malang jua buat Rizki.
Sehinggalah dompet Rani yang tercicir membawa hidup Rizki ke dalam suatu alur kehidupan yang aneh, bahagia yang sekejap, walau ada jua derita menanti di hadapan jalan hidupnya.
Adakah Rani "kado terbaik" dalam hidup Rizki?
Perkembangan watak dan cerita yang begitu menggugah jiwa. Perkembangan watak Rani yang paling aku kagumi dalam cerita ini. Watak-watak lain di dalamnya juga begitu hidup dan terasa sekali setiap kesakitan yang disampaikan lewat pelbagai dugaan yang mereka hadapi. Banyak sekali babak yang membuatkan aku terdiam sejenak, lalu mensyukuri kehidupan yang jauh lebih baik daripada sebahagian orang lainnya.
Pelbagai masalah seperti panti asuhan haram, kecurian dan penculikan digarap dengan begitu baik sekali. Hal itu membuatkan jalan ceritanya semakin seru dibaca untuk setiap episode ke depannya.
Menghampiri penamat cerita ini, aku menjadi begitu sedih mengenangkan apa yang terjadi. Sedih sampai menangis juga lah. Namun, mengetahui "kado terbaik" tersebut, sejujurnya membawa tenang di hati.
Tujuh hari sebelum lebaran idulfitri, hari-hari yang super sibuk yang dijalani Rizki untuk berkumpul dengan adik-adiknya. "Sibuk" dari kejadian-kejadian yang hanya (mungkin) dirasakan oleh anak-anak jalanan yang benar-benar hidup di jalan. Rasa-rasanya 24/7 keknya ga cukup. Terlalu banyak kejadian yang menimpa Rizki.
Orang-orang jalanan memang kuat mentalnya, cerdik akalnya, dan terpaksa menjadi "dewasa" sebelum waktunya. Kekeluargaan dibangun atas latar belakang yang sama. Jadi jangan heran kalau mereka-meraka memang solid adanya. Persahabatannya kuat dan saling membantu.
Dari buku ini kita dilihatkan bagaimana kehidupan jalanan bagi teman-teman yang tak memiliki "rumah" dan harus selalu berjuang untuk hidup. Tak ada waktu untuk memikirkan masa depan yang belum tau akan menjadi seperti apa, yang mereka lakukan tujuannya adalah "yang penting gue hidup hari ini."
Kekeluargaan, Persahabatan, Keberanian, Empati, semua ada di sini.
"Adik dan kakak memang sering berkelahi. Tapi cobalah saat salah satu dari saudara kandung kita dijahati oleh dunia, kita yang akan berdiri paling depan. Satu tetes tangis saudara, satu sobek lukanya, adalah tangis dan darah kita juga."
Rizki, seorang Abang dengan 2 adik perempuan, tiba-tiba harus menjalani hidup dengan peran ganda setelah kematian ayahnya dan kepergian ibunya yang entah kemana. Baginya, apapun akan ia lakukan supaya kedua adiknya bisa hidup nyaman dan enak. Tapi, dunia memang nggak selalu berjalan sesuai dengan kehendak. Jangankan untuk memberi kehidupan yang layak bagi kedua adiknya, untuk membebaskan mereka dari panti asuhan yang layaknya penjarapun, Rizki nggak mampu.
Pertama kalinya baca tulisan mas J.S Khairen, aku mendapati bahwa blurb dan tema nya menarik, tentang kasih sayang dan pengorbanan antar kakak beradik, yang menjalani kehidupan yang keras tanpa kedua orang tua. Ditulis dengan sudut pandang dari Rizki.
Bagi aku, ceritanya agak-agak kelam, ada penculikan, penjualan organ tubuh yang bikin merinding, eksploitasi anak, sampai jual-beli obat terlarang, duhh isinya kriminal semua ini. Semua masalah itu emang bikin aku mendidih banget, tapi yang paling bikin aku nggak habis fikir adalah, kok bisa-bisanya menjadikan anak yatim piatu sebagai pekerja? Duhh mungkin efek keinget dengan adikku jadi aku merasa emosi banget di part ini.
Tapi disamping yang kelam-kelam itu, dibuku ini juga ada kisah kasih sayang antara Rizki dan kedua adiknya, persahabatan geng terminal, dan romance tipis-tipis antara Rizki dan si mbak-mbak. Walau aku merasa drama diantara mereka tuh timing nya nggak pas gitu, karena lagi greget-greget nya eh malah sempat-sempatnya drama 😂
Walau karakter Rizki disini digambarkan sebagai seorang kakak yang rela melakukan apa aja buat adiknya, tapi menurutku dengan dia pergi ninggalin mereka di panti tuh agak-agak egois sih, belum lagi dengan karakternya yang nggak sat set sat set, bikin gemes 😂
Menurutku masih ada beberapa hal yang belum terjawab, kayak alasan ibunya pergi dan kemana, trus kenapa Rizki lebih pilih pergi?
Baca buku ini bikin pembaca bisa lebih menghargai waktu yang kita punya bareng keluarga, apalagi yang sering nggak akur sama kakak adeknya pas masih serumah, giliran pas jauh malah drama kangen-kangenan (nunjuk diri) 🤣
3⭐
Kado Terbaik • J.S. Khairen • 244 halaman • Grasindo
Alhamdulillah ya, dapet buku 'lumayan' barunya Uda Jombang. Rilis tahun 2022, tentu saja antriannya di iPusnas makin hari makin banyak. Seru. Ide ceritanya menarik yaitu tentang kehidupan anak jalanan. Nggak ragulah dengan kepiawaian penulis dalam merangkai kata-kata untuk menarasikan cerita. Hampir di setiap bab menyuguhkan konflik yang membuat pembaca berfikir; apalagi nih. Sayangnya makin ke belakang alur cerita seperti melompat-lompat seperti ingin segera dituntaskan. Sehingga ada beberapa 'lubang' yang rasanya penting ga penting. Penting, karena cerita jadi dibuat seakan dipaksa berhenti sampai di sana dengan penyelesaian konflik yang 'maksa'. Nggak penting, karena bisa jadi penulis mau membebaskan pembaca memilih skenario sendiri untuk 'menutupi' kekosongan yang diakibatkan lubang tadi. Selain itu aku agak sedikit terganggu dengan Rizki yang berencana ke kota yang disebutkan oleh imam mesjid (?) dengan niat kuat menyelamatkan Khanza, adiknya, tapi kemudian malah membatalkan keinginan itu ketika polisi sudah terlebih dulu menangkap komplotan penjahat beserta anak-anak yang akan dijual. Bahkan mendadak tidak mau bertemu adeknya lagi dengan asumsi lebih baik adiknya tidak bersama dia (?). Rasanya perubahan janggal ini dipaparkan dengan cepat sekali untuk menuntaskan cerita.
Kisah tentang kehidupan anak jalanan yang dipekerjakan Panti Asuhan Ilegal yang dimiliki Pak Tono. Beliau selalu memperlakukan anak panti sesuka kelakuannya asalkan mereka bisa mendapatkan lembaran rupiah dengan cara haram. Dengan pemeran utama Rizqi Alqurania dengan kedua adik perempuannya yang bernama Rizka dan Khanza. Rizqi salah satu anak yatim karena ayahnya ditembak mati. Dia berada dipanti karena dibuang oleh Ibu kandungnya sendiri 😢😪😓💔
Buku pertama yang berhasil diselesaikan di awal tahun ini, dengan genre slice of life dan sedikit mistery action. Berlatar waktu di Bulan Ramadhan, tepatnya beberapa hari sebelum Lebaran.
Menceritakan tentang Rizki, seorang kakak yang mempunyai dua adik perempuan bernama Rizka dan Khanza yang ditinggal ibunya pergi entah kemana di saat ayahnya pun telah meninggal karena ditembak sewaktu bekerja. Dan harus tinggal di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan menyiksa batin anak di usia belia, miris sekali.
Tapi salut dengan Rizki mempunyai niat, keberanian, pengorbanan meninggalkan kedua adiknya untuk keluar dari tempat itu dengan harap akan mendapatkan kehidupan lebih baik nantinya, walaupun sangat amat kesulitan selama dua tahun terakhir.
Dan banyak sekali makna tersirat tentang apa itu Kado Terbaik saat mempertahankan sebuah keluarga walaupun sudah tidak utuh. Sebetulnya sedikit kesal dengan Rizki karena terkesan pengecut, tapi setelah melihat sudut pandangnya akhirnya paham kenapa dia melakukan itu semua, yaitu tekad melindungi saudaranya.
Dan untuk Rani, gadis yang bisa dibilang sangat keren dan pengambil keputusan yang sangat tepat pula. Banyak berterima kasih pokoknya dengan tokoh ini, walaupun ada part yang agak nyeleneh saat gantian berbonceng sepeda motor dengan Rizki padahal lagi ngebut.
Berharap di ending, Rizki punya keberanian untuk memeluk semua adiknya dan tidak menghilang. Mungkin Rizki juga ingin menata kehidupannya setelah memastikan semua adiknya bahagia, kan?
“Selalu ada kado terbaik dari setiap keburukan, dari setiap hal pahit yang menimpa hidup kita. Cepat atau lambat, saat kita menyadarinya, itu adalah hadiah yang memberikan kita kekuatan untuk terus bertahan.” Kado Terbaik - J.S. Khairen.
Aku gak ingat kapan terakhir kali baca sebuah buku yg messed pikiran dan hati aku. Perasaanku campur aduk membaca buku bertema family ini, hidup ketiga bersaudara disini keras sekali dari kecil setelah kedua orangtua mereka meninggal 😭😭😭 Cerita awalnya aja dimulai dengan kisah yg painful. Feeling sedihnya tuh dapet, apalagi pas part celotehan si bungsu, Khanza. Tapi apa yg diceritakan memang banyak terjadi in real life, yaitu eksploitasi anak2. Bukannya mendapatkan pendidikan yg layak tapi menjadikan mereka pengamen, pengemis, pencuri, dsb.
Miris sih! Buku ini sangat page turner menurutku. Dan juga menegangkan guys, ngikutin gimana Rizki harus bertahan hidup.
Btw, awalnya aku ikutan antri di app Ipusnas tapi gak kebagian mulu, terlalu banyak yg mengantri, pas cek di GramDig eh trnyata ada disana jadi aku bacanya di GramDig aja deh.
Akhirnyaa punyaa "kado terbaik".. baru mendarattt langsung eksekusi.. yuhuuu... dannn bablasss selesai dalam 2/3 jam..
Dibuat mewek, tegangg, enjoiii sama ceritaa si Rizkii... Keren deh meskipunn ada beberapa bagian yang muncul tanda tanya (?) Dan entahh dmna nyari jawabannyaa... Tapi akhirnya ketemuu endingg cerita yang "ga itu itu aja", kewren sihh...
Poin poinnn amanatnya dpt bngtt, buat yg jauhh dari orgtua, jrng komunikasi sm adik atau kakak, cukup ketampar sih sm cerita rizki. Cerita tentang keluarga, kehidupan, realita, dikemas dalam satuuu cerita. Gaya penulisannya jugaa keren abis, ga mesti berpikir 2 kali buat paham mksd dr cerita... Jdii ngebacanyaa santuy bngt.. smpe2 ga kerasaa udah halaman terakhir... :))
Yang nyari temen ngopii, kado terbaik cocok sih jdi pilihan, tp siap2 aja kopinya dingin krn keasyikan bacaa wkwk
Ini buku J.S. Khairen pertama yang aku baca. Ceritanya sedih dan bikin miris. Tapi, entah kenapa aku seakan nggak dapat emosinya langsung karena mungkin ada banyak hal yang bikin aku bertanya-tanya, misalnya aja kenapa pula Rizki meninggalkan kedua adiknya di panti asuhan, sikap dan percakapan antara Rani dan Rizki yang buatku kadang agak janggal. Biar begitu, aku menikmati ceritanya dan akhirnya juga logis karena memang begitulah adanya kehidupan.
Lumayan bikin campur aduk rasanya. Ceritanya bagus sih cuman banyak adegan yang kurang aja menurutku. Tapi dapet banget buat value yang mau disampaikan. Tentang Kado terbaik itu. Tentang keluarga dan kasih sayang.
Seperti yang kebanyakan pembaca rasakan, mungkin aku juga sedikit kecewa terkait endingnya. Nanggung banget gitu edingnya. Tapi ya begitulah mungkin yang penulis inginkan agar tak terlalu happy ending atau tertebak oleh pembacanya.
Novel ini bener-bener ngasih pelajaran ke aku betapa berharganya sebuah keluarga. Sampe tamat pun aku masih berasa nyeseknya huhuhu, yaa walaupun bagian akhirnya meleset dari perkiraanku sih. Biar begitu, aku suka bangetbanget sama novel ini!
Sedih banget mana bacanya pas bulan Ramadhan juga lagi sesuai sama latar ceritanya huhu. Banyak banget pelajaran yang bisa diambil, endingnya gak muluk-muluk dan sangat realistis.
Rizki, anak yatim yang terpaksa hidup di "panti asuhan" bersama kedua adik perempuannya setelah bapaknya tewas ditembak polisi dan ibunya pergi bekerja di luar negeri setelah melahirkan si bungsu. Hidup di luar panti asuhan rupanya tidak semudah yang ia bayangkan. Rizki justru terpaksa kembali ke panti itu demi mengambil kembali tasnya yang dibawa kabur Rizka, adiknya. Pertemuan tak disengaja dengan Rani, pemilik dompet yang isinya direbut Geng Terminal, justru menghadirkan getaran dalam dada dan kejadian-kejadian yang tak terduga. Bermaksud mengembalikan dompet Rani lengkap dengan isinya, Rizki berusaha mendapatkan uang dengan halal. Namun, mampukah ia mendapatkan rezeki dengan halal jika jalanan selalu menjegalnya?
Bersetting waktu yang sempit, hanya beberapa hari, kisah Rizki membawa pembaca untuk bertualang dari satu sudut ke sisi lain jalan dengan rapat dan padat. Kerasnya kehidupan anak jalanan serta banyaknya aksi kriminal yang menyertainya digambarkan dengan gamblang di buku ini, mulai dari aksi perampasan, penipuan, pengedaran obat terlarang, bahkan sampai penjualan organ tubuh ilegal. Selain itu, cerita ini makin asyik karena diselipi aktivitas kekinian seperti cara mengelola konten para pemengaruh di media sosial atau unggahan yang menampilkan tindakan konyol demi mendapatkan koin virtual.
Selain serunya kisah petualangan Rizki untuk memberikan kehidupan yang lebih baik--setidaknya Lebaran yang bermakna--bagi adik-adiknya, karakter Rizki sendiri menjadi daya pikat bagiku. Bagaimana seorang anak panti yang bermimpi punya kehidupan yang layak menghadapi segala cobaan tergambar dengan apik.
Sayangnya, aku merasa kurang pas dengan akhir cerita. Aku merasa janggal dengan kepergian Bang Toron yang tiba-tiba. Benarkah karena ia takut? Rasanya sulit membayangkan seorang Bang Toron menghilang hanya karena gertakan Rani. Jujur saja, aku mengharapkan kehadiran tiba-tiba Bang Toron di akhir cerita. Ah!
Meskipun cerita ini banyak disertai aksi kejar-kejaran, kehangatan dari cerita ini tetap terasa. Pantas saja penulis buku ini bilang kalau buku ini cocok dibaca saat ngabuburead. Lha wong selain setting waktunya beberapa hari menjelang Ramadan, karakter tokohnya dibuat berusaha kembali kepada ajaran agama yang pernah ditinggalkannya. Oiya, kalau kamu pencinta quote, kamu bakal menemukan kutipan menarik dan mengena di tiap pembuka bab, lo. Penasaran?
--
Dinding paling rapat dan tinggi itu dibangun oleh rasa kecewa. Saat seseorang kecewa padamu, wah, bisa-bisa tak ada lagi celah untuk menerima. Tinggi, rapat, sulit untuk membiarkanmu kembali. - Hlm. 18
Apa kau pernah merasa berutang banyak pada kehidupan? Jika iya, maka temukanlah orang untuk melunasinya. Boleh jadi cuma ada satu cara itu: memberikan kehidupan juga kepada sesama. - Hlm. 51
Ternyata, tak punya kenangan sama sekali jauh lebih baik daripada punya meski setitik. - Hlm. 59
Kalau sudah rusak, ya ndak perlu disesali. Aku tak menyesali keluargaku yang sudah hancur, tapi pecahannya masuk ke dalam darah dan daging kami, merambat hingga ke jantung, menyakitkan setiap kami mengingatnya. - Hlm. 104
Hati adalah lapangan berlatih terbaik untuk berbagai hal. Cinta tumbuh karena hatimu. Mental kuat karena hatimu. Amarahmu pun muncul karena hatimu. Lantas apa fungsi akalmu? Mengajari hatimu caranya mengontrol itu semua. - Hlm. 116
“emg sengeselin apa sih ending nya?!” bagus kokk ending nya. realistis dan ga egois.
buku ini pake sudut pandang orang pertama, yaitu Rizki. Rizki yang bercerita tentang 7 hari sebelum lebaran dalam hidupnya, saat itu usia nya 20. Saat dia berusaha menghadirkan keluarga untuk kedua adik perempuannya.
Cerita yang menarik empati kita sebagai pembaca, dan maksa kita buat mikir kalau…disaat hidup kita sendiri penuh pertanyaan2 tentang keegoisan diri sendiri, buku ini mengingatkan bahwa ternyata tanpa kita tau banyak orang yang setiap hari punya pertanyaan “nanti makan apa?” karena ga ada uang. “nanti malem tidur dimana?” karna gapunya tempat tinggal. “bisa dapet uang darimana?” karena ga ada kerja.
dan emang itu manfaat nya kita baca novel, novel2 kayak gini yang membentuk simpati dalam diri kita tentang kehidupan yang realistis nyata di depan mata kita.
perasaan aku pas baca buku ini dari awal tu masih agak datar aja, tapi pas udah di halaman 170 kebelakang.. itu mulai tegang, karena adegan action nya tu ngebut2an naik motor trus nyusup ke tempat bisnis nya org2 biadab🙂makin lanjut ko kayak makin terharu, dan tepat di kalimat terakhir epilog, baru aku nangis🤝
dibuku ini aku banyak nemuin kepandaian bang js khairen dalam mengungkap fakta lewat cerita. pembahasan tentang panti asuhan ilegal yang nampung banyak anak trus disuruh turun2 kejalanan, disiksa, trus gimana org2 dengan profesi itu tu, yang seharusnya ngeringkus penjahat2 kayak Tono, pengedar narkoba kaya Toron, dan pebisnis biadab yg nge rebut nyawa, malah bungkam dan jarang mau ngegubris kasusnya orang kelas bawah. jadi nyambung kayaknya ni sama novel baru yg bakal dirilis?👀
eh iya, ada bagian2 yang Rizki ini kerjanya nipu, mecahin kotak amal masjid, nganter barang haram, tapi nih tapi.. si Rizki tu ingetttt kesalahannya, bahkan disaat ditimpa musibah bertubi2 pun yang dia inget ya kesalahan dia itu, kalo musibah yg terjadi di dia, mungkin balasan atas perlakuan buruk dia sendiri. dan.. ini keren menurut gue ya. kita sendiri kadang ga sadar sama salah kita dan justru nyalahin faktor eksternal atas apa yg terjadi sm kita..?!
"Selalu ada kado terbaik dari setiap keburukan dari setiap hal pahit yang menimpa hidup kita. Cepat atau lambat, saat kita menyadarinya, itu adalah hadiah yang memberikan kita kekuatan untuk bertahan."
Kado Terbaik memiliki ide yang fresh, mengangkat isu sosial yang sangat dekat dengan kita. Penyampaian penulis mampu menyeret pembaca masuk ke dalam dunia Rizki. Bocah berusia empat belas tahun yang ditelantarkan ibunya setelah ayahnya meninggal tertembak. Rizki dan kedua adik perempuannya terdampar di tempat berkedok panti asuhan. Malam pertama kedatangan, mereka nyaris mati. Mengerikan bukan? Selanjutnya bisa temukan jawabannya di Kado Terbaik.
Lika-liku kehidupan Rizki sangat menarik untuk diikuti. Perjalanan Rizki dan adik-adiknya membawaku melalui perjalanan emosional yang pelik dan panjang. Konflik-konflik yang tidak sederhana dipaparkan dalam gambaran yang lugas dan vulgar. Tidak ada tedeng aling-aling Rizki menunjukkan kerasnya kehidupan jalanan yang mengerikan. Keadaan yang mengimpit memaksa Rizki mengambil jalan penuh ranjau. Tak ada pilihan yang lebih baik selain melalui kepahitan demi kepahitan yang memberi nilai moral di setiap lembar buku ini.
Aku suka motif dalam setiap tindakan Rizki. Kisah ini diurai dalam tempo yang pas pada momen tertentu nyaris tak membiarkan pembacanya menarik napas lega. Ketegangan demi ketegangan ditampilkan dengan baik, tensi dan tempo yang tepat. Di halaman 170-an aku tak bisa berhenti bahkan untuk sekadar minum. Aku takut ketinggalan detail, jadi aku selesaikan dalam sekali duduk.
Aku paling suka sama kepolosan si bungsu, setiap pertanyaan yang dilontarkan bikin aku ikutan merasa miris. Untuk seusia Khanza, nasibnya kurang mujur dan menyedihkan. Aku suka adegan kejar-kejaran Rizki dengan Tono, penggambarannya mantul banget. Apalagi bagian endingnya pas banget. Ending terbaik yang bisa diberikan setiap karakternya bikin terharu~
Aku penasaran kepergian ibunya Rizki seandainya dikulik lebih dalam pasti bakal makin greget. Secara keseluruhan aku suka banget buku ini dan aku merekomendasikan novel ini untuk kamu yang sedang mencari novel berbobot, tetapi dikemas dalam konsep yang sederhana.
Setiap dari kita pasti akan ada masanya ketika di tinggal oleh orangtua untuk selamanya. Entah siap atau tidak, kita punya tempat untuk melanjutkan apa yang masih tersisa. Namun dalam kisah Rizki, berbeda. Ia dan saudari-saudarinya tidak diinginkan, sehingga berakhir di panti asuhan. Tidak satupun yang bisa menjadi pegangan selain harapan hidup lebih baik bersama anak-anak terbuang. Panti asuhan yang harusnya menjadi harapan, merasakan kasih sayang, pupus saat Rizki dan saudarinya dipaksa menghasilkan uang dari jalanan, tidak peduli halal atau haram, harus ada setoran setiap harinya. Tidak terkecuali Khanza yang baru berumur 4 hari. Rasa sakit akan mengintai tubuh-tubuh kecil mereka, dan setiap harinya bersahabat dengan rasa takut akan ancaman preman suruhan Pak Tono Aku menikmati setiap halaman, kisah Rizki mencari makan, berharap rezeki akan berdatangan menjelang lebaran, ingin bertemu adik kesayangan, namun takdir berkata "tahan". Kebahagian Rizki selalu terhalang keadaan. Sampai dia lelah dan meratap, apakah ini hukuman Tuhan atas tindakan tidak terpuji yang ia lakukan? 🥺 Aksi penyelamatan menjadi klimaks yang menegangkan sekaligus sayang di lewatkan, dimana Rizki harus berjuang menyelamatkan Khanza dari maut keji yang di sodorkan Tono kepada para bajingan. Hatinya penuh dilema antara melaporkan ke polisi, atau menyelamatkan adiknya seorang diri dan menyusun rencana masa depan indah di kota lain.
Endingnya tidak sesuai harapan, tapi realitas anak jalanan. Rizki dikalahkan oleh rasa rendah diri, menjauh dari segala yang ia sayangi. Mencoba peruntungan yang selama ini telah membantunya melewati hari. Memangnya apa yang kamu harapkan? Rizki menjadi kaya raya dan hidup berkecukupan?
Aku suka semua isi buku ini. Terutama sifat Rizki yang "tahu diri" akan dosanya, dan berkali-kali meminta ampun tak pernah putus doanya.
Memang ada beberapa bagian yang menimbulkan pertanyaan. Tapi buatku pribadi, biarkan bagian-bagian itu menjadi pelengkap hidup Rizki.
Buku yang cocok harus ada di perpustakaan sekolah ♥️ #GrasindoEmbraceOptimism #HutGrasindo33 #HutGWI33 #HayuKitaBacaChallenge #ReviewHayuKitaBaca #buibubacabuku
Di usia 14 tahun, Rizki kehilangan kedua orang tuanya. Ayahnya meninggal tertembak dan ibunya meninggalkannya di panti asuhan. Rizki dan kedua adiknya -Rizka dan Khanza, pun tak pernah bertemu ibunya lagi!
Ternyata panti asuhan tempat tinggali sangat berbeda. Anak-anak yang tinggal di sana harus bekerja, mengemis, bahkan ada yang menjadi pencopet agar mendapatkan uang. Uang itu nantinya harus disetor pada Pak Tono, pemilik panti! Tak hanya itu saja, anak-anak panti yang diadopsi juga tak pernah terdengar kabarnya lagi. Semuanya semakin mencurigakan di mata Rizki!
Saat Rizki berumur 20 tahun, dia berusaha mengambil Rizka dan Khanza untuk keluar dari panti. Meski dia tak punya uang sepeser pun, tak punya pekerjaan juga, dia tetap bertekad membesarkan adik-adiknya! Tapi nasib sial lagi-lagi mengikutinya! Rizka diadopsi secara mencurigakan! Lalu Khanza akan dibun*h? Dan sebenarnya bisnis gelap macam apa yang dilakukan di panti asuhan ini?? Akankah pada akhirnya Rizki berhasil menyelamatkan adik-adiknya? Memberikan kado terbaik bagi mereka??
🎁✨🎁 Baca review buku lainnya di IG ku @tika_nia
Kado Terbaik sangat cocok dibaca di bulan Ramadhan seperti ini. Latar waktunya mulai dari H-7 lebaran hingga hari lebaran. Beragam makna tentang arti keluarga, persahabatan, dan cinta turut menghiasi novel ini💖
Dari sudut pandang anak jalanan, orang-orang yang dikucilkan dari kehidupan sosial. Dari situlah kita akan belajar banyak hal. Episode ceritanya dibuat pendek-pendek sehingga tak kan bosan. Bagian favoritku terletak pada Epilognya, berhasil membuat mataku berkaca-kaca dan dadaku terasa sesak 🥲
Jika harus menyertakan hal yang kurang ku suka juga, aku memilih menyebutkan saat Rizki mengingat ulang kejadian yang terjadi padanya (h.207-209 dan h.224-225). Menurutku bagian itu banyak diulang-ulang jadi terkesan agak membosankan. Hal lain yang kurang ku suka adalah sifat Rizki yang kurang logis, beberapa kemalangan terjadi karena itu. Misalnya rasa penasarannya yang membuat Khanza ditangkap penjahat. Tapi selebihnya sudah baik dan membuka mata untuk lebih bersyukur 🥲
"Sungguh dunia ini panggung kebingungan." Hlm. 95.
Aku pikir kita perlu banyak baca buku-buku sejenis ini, deh. Yang nggak hanya menjual mimpi-mimpi, tapi ngebuka mata kita untuk liat realitas. Di luar sana, pasti banyak Rizki Rizki lain yang sering kita pandang sebelah mata tanpa tahu gimana latar belakang kehidupan mereka. Terima kasih Rizki, kisahmu nggak hanya jadi kado terbaik buat adik-adikmu atau Rani, tapi juga bagi pembaca, I suppose.
Novel ini menceritakan tentang seorang laki-laki, Rizki, dan dua adik perempuannya yang dibuang oleh ibunya ke panti asuhan ilegal setelah ayahnya meninggal. Selama di panti asuhan, dia hidup menderita bersama penghuni panti lain, sampai ketika beranjak dewasa dia memutuskan keluar. Dua tahun kemudian, tujuh hari menjelang lebaran, dia kembali lagi ke panti asuhan menemui adik-adik tercintanya. Selama tujuh hari itu, banyak sekali kejadian luar biasa yang membuatku serasa menonton anime The Promised Neverland dan Made in Abyss. Xixixi.
Aku selalu salut sama tulisan/tontonan yang bisa menyajikan berbagai kejadian dalam waktu singkat. Ini tujuh hari, loh. Sama kaya perang dunia shinobi keempat yang sebenarnya cuma empat harian doang. Wkwk. Nah, mumpung kita otw idul fitri, yuk, dibaca, Say. Dialog di novel ini udah jauh lebih enak dan nggak ada kesan berlebihan atau menggurui seperti di novel Bang JS yang pernah ku riviu sebelumnya.
Jujurly, aku suka endingnya. Sangat masuk akal. Nggak sat set sat set, tring, simsalabim. Dan menurutku ini bukan twist ending. :p Udah paling cakep begini. Aku juga suka sama hubungan akhir Rizki dan Rani. Padahal, udah deg-degan banget takut nggak sesuai harapan. Untungnya enggak. Good job, Bang author.
Cuma, ada satu inkonsisten yang aku temui: kapan terakhir kali Rizki pegang ponsel?
Anw, novel ini wajib dibaca sih. Bisa ngebuka pikiran kita buat banyak-banyak syukur. 😭😭 Btw, aku suka Bang Toron (bukan pekerjaannya) sama trio Geng Terminal.
Buku ini ngasih kita cerita dari POV anak-anak jalanan yang terlantar dan ditampung di panti asuhan ilegal. Mereka dijadikan sebagai 'mesin uang' bagi orang-orang yang ada di panti tersebut. Tokoh utama di sini adalah Rizki, seorang kakak laki-laki yang lunya 2 adik perempuan.
Mereka tinggal di panti tersebut setelah 'dibuang' oleh ibu mereka sendiri yang seakan tidak lagi mau mengurus mereka setelah ayah mereka mati tertembak. Rizki berpikir bahwa ia harus menjaga 2 adiknya: Rizka dan Khanza.
Kehidupan mereka sangat berat, energi mereka diforsir tapi imbalan yang mereka dapat masih jauh dari kata layak. Tapi, ya, masih untung karena setidaknya mereka masih bisa makan dan dapat tempat berlindung di kala malam menjelang.
Ketika berumur 18 tahun, Rizki pergi dari panti tersebut demi mencari peruntungan agar dapat kehidupan yang lebih layak. Tapi nasib berkata lain, 2 tahun sudah ia pergi, ia masih saja hidup berkesusahan. Di sinilah cerita serunya dimulai.
Cerita tentang Khanza yang mulai mempertanyakan di mana orangtua mereka. Rizka yang ingin diadopsi oleh sepasang suami istri. Serta kabar buruk soal penjualan manusia dan sialnya, dugaan Rizki mengatakan bahwa adiknya akan menjadi sasaran.
----------
Ceritanya tuh hearwarming yet so heartbreaking💔 Rizki kakak yang sangat baik dan sayang adik-adiknya. Rela bertaruh nyawa agar adiknya selamat dan bahagia. Adik-adiknya juga sayang sekali sama Rizki walaupun sulit mengucapkannya.
Betapa sulitnya kehidupan yang mereka jalani. Rasanya mereka tidak mendapatkan secicip saja manisnya kehidupan. Tidak ada dukungan moral dan materiel yang baik. Ekonomi sulit, keluarga juga tidak komplet. Tapi mereka tetap tidak menyerah pada kehidupan.
Sebetulnya yang bikin salut tuh Rizki masih ingat dan tergerak hatinya untuk beribadah. Salat wajib dan puasa ramadan. Bahkan masih merindukan suasana lebaran, tapi sayangnya, itu bikin ia bersedih hati karena lebaran mengingatkannya dengan ibu dan ayah mereka.
Sebuah novel yang mengisahkan bagaimana perjuangan seorang kakak melindungi adik-adiknya, berusaha keras untuk menghadirkan arti keluarga bagi mereka. -------------- Rizki Alqurania; di usia 14 tahun, ayahnya mati tertembak karena sebuah pekerjaan terlarang. Ibunya? meninggalkan, tepatnya membuang Rizki dan kedua adiknya (Rizka, Khanza) ke sebuah panti asuhan bohongan. Ya, panti asuhan itu dari luarnya saja nampak seperti panti asuhan, tapi di dalamnya sungguh sangat mengerikan. Anak-anak di sana harus menuruti apa yg diperintahkan oleh pak Tono dan asisten-asistenya; mengamen, berjualan, mengemis, mencopet. Kalau tidak? Nasib mereka tidak akan aman. Akan ada luka dan darah di tubuh mereka.
20 tahun. Rizki memilih keluar dari panti asuhan. Karena ia enggan menjadi orang seperti asisten-asisten pak Tono. Ia bertekad untuk mencari kehidupan yang lebih baik, berusaha mencari pekerjaan dan akan membawa kedua adiknya keluar dari panti asuhan itu. Namun, nasib baik belum juga menghampirinya. Tepat 7 hari sebelum lebaran, keadaan benar-benar membuatnya terpontang-panting, berantakan, tak keruan. --------------- Dari kisah Rizki dan adik-adiknya, kita diingatkan bahwa keluarga adalah harta paling berharga. Anugerah yang wajib dijaga dan disyukuri kehadirannya. Seperti halnya Rani, tak jarang pula dari kita yang belum menyadari betapa pentingnya mereka.
Dari kisah Geng Terminal, kita diingatkan kembali tentang arti persahabatan. Layaknya anggota tubuh, ketika yang satu sakit maka yang lainnya turut merasakan.
Insight terakhir yang saya dapat: bahwa hidup adalah sebuah perjalanan tak terduga. Hari ini masih bisa tertawa bersama ibu, bapak, bisa jadi esok kita ditinggal atau meninggalkan mereka. Maka, "apapun" yang kita miliki saat ini, syukuri, hargai, jangan sia-siakan. Karena, rasa kehilangan mendalamlah yang akan menguasai kita ketika mereka tak lagi terjangkau oleh mata.
AKU NANGIS BACA BUKU INI 😭😭😭 Dan nangis kejar waktu udah nyampe bagian akhir menuju epilog. Kek ya ampun nyesek banget :")
Gimana perasaan seorang kakak laki-laki pertama yang begitu sayang sekali sama kedua adik perempuannya, berjuang buat bahagiain mereka dan bahkan mengantarkan kebahagiaan itu kepada adiknya. Dengan menyampingkan bagian dirinya, yang sebetulnya, dia juga butuh sandaran betapa lelahnya bertahan hidup yang dijalani sendirian di dunia yang begitu keras ini.
Gak punya orangtua, hidup di jalanan, luntang-lantung gak punya tempat tinggal yang layak, kelaparan, beberapa kali hampir mati, belum lagi dia bertarung antara batinnya yang sebetulnya memang mau di jalan baik, tapi jalan mencapai kebutuhan hidupnya ternyata harus pakai jalan yang salah. Karna gak ada pilihan lagi. Tapi hebatnya, dia mau membayar kesalahannya ketika ada kesempatan untuk memperbaiki. Itu sih aku salut banget.
Waktu baca sinopsisnya, ada sepenggal kalimat yang membuat aku harus baca buku ini. Dimana kalimat itu, "semoga aku bercerita pada orang yang tepat." Dan responku setelah baca buku ini, justru aku ngerasa aku beruntung bisa mendengar cerita orang yang tepat. Disaat mungkin dari kita justru banyak mendengar orang hanya ingin diketahui kebaikannya, ingin diketahui kehebatannya, seberapa banyak harta yang dipunya, dll, yang semata-mata hanya ingin minta pengakuan saja.
Aku suka banget sama orang yang kuat. Dengan segala kekurangan yang ada, mereka masih memiliki hati yang tulus tuh masya allah sangat melegakan dan justru menginspirasi banyak orang.
Kado terbaik yang sering dilupakan sama orang, yang gak bisa dinominalkan dengan angka, uang,harta, jabatan, status, dll. Coba aja baca buku ini dan bakalan tau maksud kado terbaik itu apa.
Makasih udah cerita. Karna membuat pembaca jadi lebih mensyukuri apa yang jelas masih dimiliki ketimbang merenungi apa yang tidak dimiliki. Jaga dan rawatlah, maka kita akan berbahagia.
Novel ini membuka cerita tentang Rizki bersama kedua adiknya, Rizka dan Khanza. Setelah ayahnya tewas tertembak, ibunya meninggalkan mereka tanpa pamit, kehidupan anak anak ini berubah menjadi neraka saat mereka tinggal di panti asuhan yang disinyalir ilegal.
Dari luar aja namanya panti asuhan, tapi sesungguhnya anak-anak yang tinggal di dalamnya dipaksa untuk mengemis di jalanan bahkan mencopet di terminal, agar tetap diperbolehkan tinggal dan makan disana.
Rizki tumbuh dengan satu tekad : melindungi dan menyelematkan adik-adiknya dari neraka tersebut. Di tengah kerasnya dunia, Rizki tetap berjuang agar adik-adiknya punya hidup yang lebih baik.
Bagian paling menyentuh ada saat menjelang lebaran, ketika Khanza meminta sebuah “kado”. Permintaan sederhana itu justru membawa Rizki dalam dilema dan situasi berbahaya, yang menguji seberapa jauh kasih sayang seorang kakak bisa diwujudkan
—
Potret kehidupan yang hampir kita lihat sehari-hari, termasuk latar waktu 7 hari menjelang lebaran ini, begitu banyak isu sosial yang diselipkan di dalamnya. Seperti eksploitasi anak-anak berkedok panti asuhan, pencurian kotak amal, penipuan di angkot, kurir antar barang haram, hingga yang terparah penjualan anak.
Tapi yang paling bikin trenyuh adalah pesan hangat dari novel ini, bahwa Kado Terbaik bukan sekadar novel tentang penderitaan dan perjuangan, melainkan juga pengingat betapa berharganya cinta dalam keluarga.
Tak selamanya hidup ini tentang uang, terkenal dan beragam identitas yang diakui khalayak. Tapi tentang berani melepaskan, demi mencapai kebermanfaatan untuk banyak orang.
Kereeen sih ! J.S. Khairen meramu cerita dengan gaya bercerita yang mengalir, penuh emosi, tapi tetap mudah dipahami. Ia mengajak pembaca menyusuri luka, perjuangan, dan harapan Rizki tanpa terasa menggurui.
Setelah menutup halaman terakhir, ada perasaan hangat sekaligus getir yang tertinggal, seolah-olah kita sendiri baru saja menerima “kado terbaik” dalam hidup.