Apa tujuan hidup kita ? apa makna keberadaan kita ? Barangkali itulah pertanyaan lestari yang mengekor hidup manusia. Dan sering kali, realitas hidup, kesibukan mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, justru membuat kita menjauh dari menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu - menjauh dari makna hidup, membuat hidup kian terasa hampa.
Lantas, bagaimana mencegah kehilangan makna diri dan hidup kita itu ? Menjauh dari keramaian, mengasingkan diri, meninggalkan hal-hal duniawi ? Sedangkan peran utama dan pertama-tama yang diberikan Sang Pencipta kepada kita adalah sebagai khalifah, wakil-Nya ?
Menghilang, Menemukan Diri Sejati, mengajak pembaca mengjelajahi dan memahami diri dari berbagai perspektif, demi mendapatkan kompas kita menjalani hidup. "Menghilang" bukan berarto menceraikan dunia, melainkan justru melebur, terlibat penuh ke dalam berbagai pesoalannya. "Menghilang" berarti mengesampingkan ego dan kepentingan diri - menyadari sepenuhnya misi penciptaan yang diembankan kepada setiap manusia, yaitu menjadi rahmat bagi semesta.
*** "Dr. Faiz mengemas hidangan filsafat dengan gurih dan renyah, pembahasannya terkait erat dengan keseharian, membuat buku ini sangat layak disantap." - Wa Ode Zainab Zilullah Toresano Ph.D. Candidate, Co-Founder Zona Nalar
Fahruddin Faiz adalah doktor ilmu filsafat di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia kini selain sebagai dosen Prodi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), juga menjabat sebagai Wakil Dekan I di Fakultas Ushuluddin (teologi Islam).
Sudah sejak 2013, tiap malam Rabu di setiap pekannya, Pak Faiz, panggilan akrabnya, menjadi pengisi materi dan pemantik diskusi kajian filsafat di Masjid Jendral Sudirman.
Fahruddin Faiz lahir di Mojokerto pada 16 Agustus 1975. Dia meraih S-1 dari Jurusan Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1998), S-2 dari Jurusan Agama dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2001), dan S-3 dari Jurusan Studi Islam UIN Sunan Kalijaga (2014).
Selain menjadi dosen dan wakil dekan di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, penerima Short-Course on Research-Management, NTU Singapura (2006) dan Short-Course on Islamic-Philosophy, ICIS (International center for Islamic Studies), Qom, Iran (2007) ini juga merupakan seorang penulis yang cukup aktif.
Beberapa karyanya antara lain: Menjadi Manusia, Menjadi Hamba; Menghilang, Menemukan Diri Sejati; Hermeneutika Qur’ani: Antara Teks-Konteks dan Kontekstualisasi; Tafsir Baru Studi Islam dalam Era Multikultural; Transfigurasi Manusia (Terjemahan); Perempuan dalam Agama-Agama Dunia (Terjemahan); Filosofi Cinta Kahlil Gibran; Bertuhan Ala Filosof (Terjemahan); Aku Bertanya Maka Aku Ada; Handbook of Broken Heart; Risalah Patah Hati; Filosof Juga Manusia; Sebelum Filsafat; Memaknai Kembali Sunan Kalijaga; Dunia Cinta Filosofis Kahlil Gibran; dan beberapa judul buku lain. Dia juga masih aktif memberikan ceramah keagamaan, khususnya bertema filsafat ke sepenjuru Nusantara.
Salah satu buku karya Pak Faiz yang sangat menarik, mengusung konsep ngaji filsafat disini memberikan alternatif sudut pandang dalam menemukan kesejatian diri selaku makhluk yang di beri keistimewaan sebagai masterpiece, kecintaan dan wakil-Nya dalam keberadaannya di semesta ini.
Diawali dari penjelasan eksistensi dan bekal yang diberikan kepada sang masterpiece dalam menemukan kebenaran sebagai pedoman menjalani kehidupan mulai dari hal yang paling dasar berupa inderawi sampai kecanggihan berpikir yang dimiliki oleh animal rationale ini yang kemudian ditutup oleh dimensi nurani dalam memahami hakikat diri dan tujuan penciptaannya, ini dijelaskan dengan kerenyahan bahasa yang akrab dan ejawantahan membumi untuk dicerna dan dinikmati. Ini merupakan kolaborasi lengkap dimensi kesejatian sang makhluk spritual yang memiliki sifat manusiawi tersebut. ^_^
Koherensi alur berpikir yang konsisten kemudian dilanjutkan dengan pemahaman akan kesejatian kehidupan itu sendiri menambah episode lanjutan sang masterpiece dalam 'berjalan' dan menjalankan perannya untuk memberi serta menciptakan makna kehadirannya di dunia. Pada bagian awal sudah ditekankan bahwa untuk memperkaya perspektif dan menggunakan kacamata orang lain untuk melihat dengan jelas dan bebas semakin menjernihkan keberadaan, posisi dan warna yang dipegang, dan untuk menguliti dan mengkritisi dalam rangka memperbaharui kebenaran yang diakui selama ini, metode passing over ini sangat mencerahkan dalam perjalanan mendekat serta menemukan cahaya.
Memahami kodrat dan fitrah diri untuk menjalankan peran dengan sebaik mungkin di dunia ini merupakan esensi dan laku. Kemasan alternatif pembersihan jiwa dan jalan yang ditawarkan semakin memperkaya khazanah warna kacamata dalam melihat dan menjalani gradasi warna warni kehidupan ini dengan integritas kuat dalam diri yang katanya sang materpiece ini. ^_^
Kutipan; "Hanya dengan terang dalam diri itulah "kunci" yang selama ini kita cari dapat kita temukan"-Hal:18 "Apapun yang terlintas di pikiran anda, terlihat oleh mata anda, terdengar oleh telinga anda, ragukanlah kebenarannya" - Hal:24 " Jalan untuk mendapatkan pencerahan memang harus menjauh sebentar dari kerumunan"-Hal:70 "Ada jarak antara gagasan ideal dengan kenyataan, tetapi kita tetap memang kuat ideal kita. Itulah absurbditas menurut Camus" - Hal:111 "Belajarlah dari semua yang ada di sekeliling kita, yang bukan manusia, karena semuanya mengajarkan cinta" Hal:164 "Hidup ini tidak konstan, selalu berubah, dan perubahan mendatangkan penderitaan"-Hal:197 "Jika Tuhan itu benar, maka kebenaran adalah Tuhan itu sendiri"-Hal 233 "Diantara cahaya Tuhan yang langsung jatuh ke bumi tanpa perantara adalah kebenaran"-Hal:233 "Esensi semua agama adalah mengajarkan kedamaian"-Hal:253 "Tuhan yang kita kenal itu sebenarnya bukan Tuhan itu sendiri, tetapi konsep kita tentang Tuhan"-Hal:267 "Jika sudah mengalami, buat apa bersandar pada teori?"-Hal:277 "Yang sangat menyakitkan itu bukanlah orang lain yang berubah, tetapi diri kitalah yang tidak bisa menerima perubahan"-Hal:295 "Pilihlah jalan sunyi, jangan memilih jalan yang ramai"-Hal:314
Temukan dirimu, ciptakan dirimu, perankan dirimu. kamu ada untuk itu dan kamu bisa. Terima kasih Pak Faiz ^_^
Melalui judulnya, mungkin kita akan mengira buku ini seperti mengajak kita mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia dan menghilang dari khalayak. Lalu mengarahkan kita untuk bermeditasi untuk menemukan diri kita yang sejati. Apakah kenyataannya demikian? Hohoho big no yes..
Awalnya kukira aku akan membaca sebuah buku inspirasi atau pembahasan konsep² tasawuf secara praktik. Namun lebih dari itu, tidak hanya konsep sufisme atau tasawuf saja, buku ini secara menyeluruh mengajak kita memahami dunia filsafat dan urgensinya, yang bertitik berat pada filsafat Barat dan Timur. Dalam istilah penulis, NGAJI FILSAFAT. Namun demikian, menariknya, buku yang sejak awal ditujukan untuk pembaca umum, yang tidak saja sejak awal familiar dengan konsep² filsafat, buku ini cukup gurih dan renyah dalam menyampaikan gagasan² yang ada. Dalam hal ini sepakatlah saya dengan penuturan Wa Ode Zainab ZT di bagian cover belakang buku.
Berisi sembilan Bab dalam 317 halaman, buku ini dikemas dengan cukup apik dan sedap dipandang mata, baik dari segi layout buku, pemilihan jenis font serta ukuran, serta highlight pada poin-poin penting menjadi satu kesatuan utuh dan melengkapi kenikmatan melahap buku ini. Disajikan pula beberapa biografi tokoh filsuf terkait aliran filsafat yang sedang dibahas di setiap akhir bab.
Hal menarik lainnya, yang menurut saya juga menjadi keistimewaan dan ciri khas pemikiran dan tulisan penulis adalah, kemampuannya mendekatkan pemikiran filsafat yang ada dengan konsep² dalam Islam yang sudah lebih familiar bagi kita. Hal ini sangat membantu bagi pembaca umum dengan background non - filsafat. Pun dengan beberapa kritik atas realitas umat Islam hari ini yang ditampilkan dengan tajam tapi nggak tegang, bahkan di beberapa tempat seolah dengan pembawaan santuy dan bercandanya, sehingga meski tergolong refleksi kritis, namun kita dapat menerima dengan pikiran terbuka dan jernih.
Secara keseluruhan setiap bab buku ini menarik. I can't take my eyes on its at all, engga mau skip² bacaan barang satu kata pun, saking enak bahasanya. Buku ini mengajak kita melakukan refleksi atas diri kita, menemukan tujuan dan hakikat hidup kita, lalu mendorong kita melakukan perbaikan² sebagai bentuk mau diapakan makna yang sudah diperoleh tadi. Setelah ditemukan, lantas apa, bagaimana? Tapi jika diambil yang paling favorit, saya suka pembahasan tentang ajaran Hinduisme dan tentang absurditas hidup ala Camus, khususnya pada gagasan kebebasan dan pemberontakan.
"Menghilang" berarti mengesampingkan ego dan kepentingan diri-menyadari sepenuhnya misi penciptaan yang diembankan kepada setiap manusia, yaitu menjadi rahmat bagi semesta. - Fahruddin Faiz
#NgajiFilsafat : Menghilang, Menemukan Diri Sejati. Fahruddin Faiz. Noura Books.
Hidup dengan filsafat ala Rene Descartes dengan cara menarik diri dari hiruk pikuk keramaian agar mampu mempergunakan akal dengan sebaik-baiknya. Tidak hanya sekadar mengandalkan pengetahuan empiris yang berdasarkan subjektivitas pancaindra.
Hidup dengan filsafat ala Henri Bergson dengan turut mempergunakan kekuatan intuisi dalam memaknai realitas untuk melengkapi keterbatasan akal yang tidak berdaya ketika dihadapkan pada dimensi psikis (non-materi).
Hidup dengan filsafat ala Albert Camus dengan menghadapinya walaupun hidup itu sendiri penuh dengan absurditas dan serba faktisitas, sebuah istilah, yang dipopulerkan oleh filsuf eksistensialis seperti Martin Heidegger, tentang kita yang sering kali terlempar ke dalam fakta-fakta yang tidak cocok dengan apa yang kita gambarkan.
"You Will never be happy of you continue to search for what happiness consists of. You Will never live of you are looking for the meaning of life." - Albert Camus
"Kalau mau bahagia, tinggal bahagia saja." - halaman 116
Hidup dengan filsafat ala Panca Sradha ajaran Weda (Hinduisme). Percaya adanya Brahman (dalam terminologi agama Ibrahim 'Tuhan'), percaya adanya Atman (jiwa manusia), percaya adanya karmaphala (kausalitas hukum alam duniawi), percaya adanya punarbhawa/samsara (kausalitas level ruhani), dan percaya adanya moksha (kebebasan ruhani).
Hidup dengan filsafat ala apa yang dilakukan oleh Siddhartha Gautama (Buddha Sakyamuni) dan Mohandas Karamchand Gandhi (Mahatma Gandhi) melalui perjalanan spiritualnya masing-masing.
Hidup dengan filsafat ala aliran Zen dengan mengamalkan ilmu melalui laku bukan sekadar mempelajarinya. Hidup dengan filsafat perang ala Bushido melalui tujuh prinsip moralnya: integritas, keberanian, kemurahan hati, menghormati, jujur-tulus, kehormatan, dan loyalitas.
Memadukan ajaran filsafat Barat dan Timur. Sebuah metode pembelajaran filsafat yang menarik. Berfilsafat ala Descartes, Bergson, dan Camus masih bisa saya temukan korelasinya dengan poin-poin yang ingin penulis sampaikan. Namun, dalam berfilsafat ala ajaran Weda, Buddhisme, aliran Zen, dan filsafat perang Bushido, saya tidak dapat menemukan poin-poin apa yang ingin penulis sampaikan. Seperti sekadar hanya ingin melihat ajaran Islam melalui kacamata ajaran agama/filsafat lain (diistilahkan penulis sebagai 'passing over').
"Jika kita melihat agama kita dengan kacamata yang berbeda, mungkin akan terasa lebih jujur dan mencerahkan dibandingkan ketika kita menggunakan kacamata sendiri." - halaman 149
Apa tujuan hidup kita ? apa makna keberadaan kita ? lewat buku menghilang, menemukan diri sejati Fahruddin Faiz mencoba menelusurinya dari berbagai perspektif mulai dari pemikiran Descartes, intuisi Bergson, absurdismenya Albert Camus, ajaran Hindu, buddha hingga Zen. Kata Fahruddin Faiz : menghilang bukan menceraikan dunia, tapi melebur bersama persoalan-persoalannya. Menurutku isi buku ini semacam latihan diri, mental sebelum melebur kedalam dunia yang absurd.
Sedikit khawatir buku ini terlalu filsafat dibandingin Ngaji Filsafatnya Pak Faiz di MJS sehingga sulit dicerna. Ternyataa, saya menikmati dan justru lebih paham versi tulisan (prefer baca dibanding nyimak karena kemampuan auditori lemah + suara lembut beliau bikin cepet pindah alam) 😅🙏🏼
Memaparkan perspektif dan makna hidup dari berbagai aliran tokoh besar dunia (Descartes, Bergson, Camus, Gandhi, Buddha, dll), buku ini setidaknya bisa sedikit memberi gambaran dan rujukan untuk menemukan hakikat hidup yang dirasa cocok, disesuaikan dgn kepercayaan dan pribadi masing2. Maksud dr "Menghilang" yg disebut dalam buku ini bukan menarik diri dr hiruk pikuk dunia, tp meninggalkan ego dan ambisi berlebih kemudian merenungkan apa makna eksistensi kita.
Berkesannya buku ini bg saya karena smua aliran yg dijelaskan ditarik hikmah dan simpulan sesuai dgn ajaran Islam dan disampaikan spt bercerita khas Pak Faiz. Tambah lg, tertampar sama beberapa part yg dtng dr celetukan beliau.
Penjabaran poin-poin dari beberapa filsuf, dibarengi benchmarking dengan ajaran yang ada di Islam. Penjelasannya gampang dicerna, cocok buat bekal mengawali perjalanan mengenali diri sendiri.
Tidak membosankan, dikemas dengan sangat ringan dan to the point. Baca deh, nanti kamu paham apa "menghilang" yang dimaksud di judul~
Ngaji Filsafat. Selain Gus Baha, yang paling sering saya simak video dawuh-dawuhnya (ceramah) adalah Pak Faiz. Baik yang dengan sengaja saya klik di Youtube, maupun yang begitu saja lewat di timeline medsos saya. Saya juga mengoleksi buku-buku Pak Faiz. Dua di antaranya yang sudah saya baca ialah buku ini dan Filosof Juga Manusia; buku keren mengenalkan sisi lucu para filsuf.
Di buku setebal 317 halaman ini ada sembilan bab. Overall mengajak kita melakukan refleksi diri; atau istilah populernya menemukan jati diri; dan dilengkapi cara memaknai apa-apa yang telah kita temukan. Tasawuf banget. Namun, enggak cuma berteori tasawuf saja. Buku ini juga membikin kita mau memahami dunia filsafat dan urgensinya.
Semua itu dijelaskan dengan khas Pak Faiz. Pelan, jernih, dan mencerahkan. Ah. Sampai sekarang, masih sering kubayangkan, betapa enaknya, kalau dosen filsafaku di kampus dulu adalah Pak Faiz.
Bahasanya ringan. Cocok untuk orang yang tertarik dengan filsafat tapi gak mau bahasanya yang berat. Tapi, ada pembahasan yang aku tidak sependapat (sedikit aja sih). Overall, keren! Banyak banget highlight & insight yang aku dapat.
Izinkan aku mengutip bagian buku ini sebelum mengulas isinya. Membahas judul, “menghilang” bukan berarti menceraikan dunia, melainkan justru melebur, terlibat penuh ke dalam berbagai persoalannya. “Menghilang” berarti mengesampingkan ego dan kepentingan diri—menyadari sepenuhnya misi penciptaan yang diembankan kepada setiap manusia, yaitu rahmat bagi semesta.
Kita selalu punya kiblat dalam menjalani hidup. Selalu punya tujuan akan ke mana, selalu punya visi misi akan melakukan apa, dan seterusnya. Ini permisalan sederhana bahwa hidup selalu punya muara. Itulah bukti bahwa Allah tidak pernah main-main menghadirkan dan memberi peran pada manusia di muka bumi (QS. 23:115). Selanjutnya, Allah memenuhi kecukupan manusia dengan rezeki dan kemuliaan (QS. 17:70).
Menariknya, Pak Faiz selalu mengimani beragam filsuf (baik timur maupun barat), mengolahnya sekaligus memadukan dengan pedoman umat muslim, yakni al-Quran dan sunnah. Tak heran jika aku menyebutnya “daging semua”. Buku setebal tigaratusan halaman ini cukup dikaji dalam delapan bagian saja. Teori yang ditawarkan luas dan mendalam, mesti kurang detail jika untuk pembaca yang telah lebih dahulu mendalami filsafat.
Halaman paling banyak kugarisbawahi salah satunya membahas absurditas, “Hidup itu Absurd, Jangan Lari darinya”. Salah satu pemikiran filsafat yang digagas Albert Camus, “Di sudut-sudut jalan mana pun, absurditas itu bisa menampar wajah siapa pun.” Dia merasa bahwa hidup tidak jelas. Pernah dengar ungkapan, “Kita berencana, Tuhan yang menentukan?” Nah, kalimat ini ada karena absurditas. Manusia tak tahu apa yang akan terjadi setelah sekarang.
Ada pula pemikiran Gandhi yang religius, anti kekerasan (baca teori Ahimsa). Dalam buku ini juga dikenalkan biografi singkat beberapa tokoh yang bersangkutan, sehingga memudahkan pembaca untuk mengenal pencetusnya. Tatak letak buku pun mempengaruhi kenyamanan membaca. Boleh diakui, buku ini salah satu yang memudahkanku memahami konten. Sekian.
Damn.... siapa sangka? Saya pikir ini hanya buku self development biasa... ternyata, buku ini menjadi buku pertama yang membuat saya tertarik berat untuk mendalami filsafat.
Awalnya saya membeli buku ini karena keren aja liat covernya. Saya ga nyangka kalau ternyata di dalamnya banyak mengkaji/ngaji tentang berbagai filsafat. Dan, baru kali ini saya merasa sangat nyaman, semangat, dan terpukau membaca buku filsafat.
Bila biasanya buku-buku filsafat kerap memakai bahasa yang lumayan sulit dipahami dan memberikan contoh yang kadang kurang relevan dengan pengalaman sehari-hari, buku ini BERBEDA! Bahasanya sangat ENAK! Saya tak merasa digurui ataupun seakan membaca penjelasan serius semata. Apa yang ingin disampaikan dikemas dengan bahasa yang bersahabat dan kerap memancing tanda tanya sehingga tak jemu-jemu untuk terus dibaca. Saya juga kagum dengan pengemasan pesan filosofis yang dikaitkan dengan nilai-nilai keislaman dengan begitu baik dan mudah diterima.
Ada banyak aliran filsafat yang disampaikan dibuku ini. Tak begitu dalam, namun sudah cukup untuk menambah pengetahuan/gambaran dasar dan memancing keiingintahuan para pembaca untuk mengeksplore lanjut sendiri.
Beberapa konsep yang disampaikan misalnya konsep dari Albert Camus mengenai absurditas dan mitos sisifus, bushido, eksistensi ketuhanan, konsep ehipassiko Buddha, dan masih banyak lagi. Sangat menyenangkan rasanya merenungi isi buku ini.
Ada banyak amanat, sudut pandang baru, dan keindahan dalam buku ini. Jangan ragu untuk dibaca!
Buku Menghilang, Menemukan Diri Sendiri karya Dr. Fahruddin Faiz merupakan sebuah refleksi mendalam tentang perjalanan manusia dalam memahami jati diri. Dengan gaya penyampaian yang khas—jernih, filosofis, dan penuh kebijaksanaan—Dr. Faiz menuntun pembaca untuk menelusuri makna eksistensi diri dari berbagai sudut pandang budaya dan tradisi dunia. Ia dengan cermat merangkai hikmah dari Timur dan Barat, dari ajaran sufi hingga pemikiran modern, membentuk sebuah mozaik pengetahuan yang universal dan lintas batas.
Kekuatan buku ini terletak pada kemampuannya berbicara kepada semua kalangan. Ia tidak terikat oleh agama tertentu, melainkan menembus ruang spiritualitas yang lebih luas—mengingatkan kita bahwa pencarian diri adalah kebutuhan dasar setiap manusia, apa pun latar keyakinannya. Setiap bab mengajak pembaca untuk “menghilang” dari ego dan kepalsuan, agar dapat benar-benar “menemukan” diri yang sejati: diri yang sadar, jernih, dan berdaya cipta.
Menjelang akhir, Dr. Faiz menutup renungan ini dengan kutipan George Bernard Shaw:
“Life isn’t about finding yourself. Life is about creating yourself.”
Kutipan ini menjadi simpul makna dari seluruh perjalanan buku—bahwa hidup bukan sekadar mencari siapa diri kita, tetapi tentang keberanian untuk menciptakan diri sesuai dengan nilai, kehendak, dan tujuan penciptaan kita sebagai khalifah di muka Bumi. Sebuah ajakan untuk hidup dengan kesadaran penuh, berkarya dengan makna, dan menjadi manusia yang otentik.
Buku ini layak dibaca oleh siapa pun yang tengah mencari arah, makna, atau sekadar jeda untuk mengenal dirinya kembali.
Ini buku lengkap bgt udah ky pengantar filsafat dari seluruh penjuru dunia. The latter half is alright dan lumayan bagus. Gue tertarik membedah lebi lanjut soal filsafat Zen Buddhism. Namun, ada bbrp part yg gw kurang suka 1. Di bag. intuisi penulis menyebut tertarik kepada lawan jenis adalah inting, tak peduli apakah anda laki-laki atau perempuan, anda tahu bahwa anda harus suka dengan lawan jenis bukankah insting ssuatu yg tidak dikontrol scr sadar/conscious? Mmg physical attraction makhluk hidup itu insting, dan scr alamiah fungsinya adalah untuk reproduksi. Akan tetapi scientist masih meragukan kberadaan feromon (hormon yg menarik lawan jenis utk reproduksi) pd diri manusia. Selain itu, mendefinisikan ketertarikan manusia sbnrnya tdk bisa sebatas physical attraction saja 2. Beberapa bagian ad kalimat-kalimat definisi yg repetitif 3. Terjemahan kutipan karya sepertinya tidak dicek lebih lanjut, there are few major grammar errors
Dengan bahasa dan kiasan sederhananya lagi-lagi Fahrudin Faiz membawa kita kepada penyelaman makna terhadap konsep-konsep kehidupan yang rumit. Buku ini membicarakan cara-cara bagaimana aliran-aliran di dunia ini dalam menemukan pertanyaan-pertanyaan rumit di dalam kehidupan seperti asal kita dari mana? untuk apa kita hidup? dan akan dibawa ke mana kehidupan ini? Fahrudin Faiz berhasil membedah konsep-konsep rasionalisme, intusionisme, absurdisme, hinduisme, budhisme, zen, dan bushido terkait bagaimana aliran tersebut menjalani kehidupan. Pastinya, pembahasan disertai dengan penjelasan bagaimana seorang Muslim harusnya berpikir dan merespons aliran-aliran pemikiran tersebut. Hal ini semakin membuka wawasan dan mata kita, membuat kita lues dalam menjalani kehidupan, serta berusaha memahami manusia dengan segala pemikirannya.
tak kusangka kok bagus, baru kali ini aku baca buku filsafat bertabur ragam agama yang lembut pembawaannya. berasa menemukan toleransi beragama dalam tulisan. tidak hanya menemukan makna hidup dari sudut pandang Descartes, Bergson atau Albert Camus aja. (btw aku condong ke Camus yg hidupnya sejak lahir penuh penderitaan jadi apa yg dikatakan Camus lebih mengena utk aku seperti ' should i kill my self or have a cup of coffee') buku ini juga menceritakan bagaimana hidup menurut Hindu dan buddha serta islam sendiri. aku jadi tau kisah gandhi yg pemalu atau Sidharta Gautama yg seorang anak raja pergi mengembara utk melihat dunia dan mencapai ketentraman. dari buku ini aku juga memahami kenapa nabi memanggil umatnya sahabat daripada murid. intinya sih hidup itu bukan hanya pencarian jati diri tetapi bagaimana kamu menciptakan dirimu di dunia ini. wah aku jadi mau beli bukunya yg lain.
Banyak konsep/teori yang dijelaskan kembali menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh Pak Faiz. Dari teorinya Descartes, Albert Camus, hingga prinsip seorang samurai. Ya menurut saya tujuan pak Faiz menulis buku ini ya satu, sesuai dengan judul buku, bagaimana kita dapat menemukan diri sejati.
Ada beberapa kalimat yg paling membekas, yaitu
"Jika anda punya modal 90 pakailah semuanya, jika anda punya modal 100 gunakan semuanya. Tidak ada gunanya menyimpan modal itu, kerahkanlah semua untuk menemukan kebenaran anda sendiri"
Dan ....
"Kalau ada orang marah-marah kepada anda, tidak usah diladeni. Katakan saja padanya, "Ya sudah silakan selesaikan dulu evolusinya, sampai berhasil menjadi manusia modern."
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini merupakan karya pertama dia yang aku baca. Ia ditulis bertujuan untuk mengajak pembaca menelusuri akan diri dari pelbagai perspektif.
Menariknya, penulis menggunakan beberapa ajaran falsafah yang terkenal dunia seperti kaedah keraguan Descartes, intuisisme Heri Bergson, Albert Camus, Hindu, Buddha, Zen dan Bushido membawa pembaca berfikir dan membuat cerminan akan keadaan diri.
Akhir setiap bab, penulis telah membawa konsep² Islam yang biasa kita dengari tapi tak ramai yang amalkan seperti tidak sia-siakan waktu, muhasabah diri dengan berfikir dan zikir dan lain-lain.
Mungkin aku akan baca karya dia yang lain, moga bertambah manfaat dari ilmu dan amal.
Buku pertama Pak Faiz yang aku baca. Sebelumnya ingin membaca yang sebelum filsafat tapi pada akhirnya aku pilih buku yang ini mengingat pada masa-masa usia dua puluhan seperti ini pencarian jati diri menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Bagimana kita hidup untuk tujuan yang mana, bersyukur dengan cara yang bagaimana, menghargai diri sendiri, dan lain sebagainya.
Salah satu hal yang aku suka adalah part dimana kebahagiaan sebetulnya dirasakan ketika kita mampu mengubah pandangan kita. Kita tidak bisa mengubah dunia, tapi kita bisa mengubah diri kita sendiri menjadi lebih baik. Hari ini pastikan lebih baik dari hari kemarin.
I read the book after the third series, this book is about thoughts, intuition, absurdity, harmony and warrior's will.
I guess what the book really trying to say: You are you, go think, go press the world, accept and compartmentalize the absurdity of the life, all of these nonsense and a lot of thoughts in the world, we can just try to be in harmony if we can just slow down a little, and keep sharp in what we do, because we are a warrior.
Kumpulan kajian #NgajiFilsafat yang disunting dalam bentuk teks. Ada beberapa bab yang tersedia, dua di antaranya filsafat barat dan sisanya filsafat timur. Bagi yang lebih senang membaca buku dibandingkan mendengarkan kajian yang ada di YouTube, buku ini bisa jadi salah satu referensi yang cocok untuk berkenalan dengan tema-tema filsafat seputar "penemuan diri".
Cocok banget buat yg mau merenung sambil memikirkan kehidupan. Buku ini menawarkan kepada kita berbagai sudut pandang ideologi yang membuat kita kaya akan kebijaksanaan dari tokoh2 hebat terdahulu. Khasnya ngaji filsafat banget lah. Kalau kalian orang2 yg suka memikirkan idealitas dunia, manusia, dan kehidupan, kalian akan suka buku ini.
✅ Descartes ✅ Bergson ✅ Camus ✅ Hindu ✅ Buddha ✅ Gandhi ✅ Zen ✅ Bushido
Konsep di atas dijelaskan ulang dengan gaya bahasa yang enak dibaca dan contoh-contoh yang disesuaikan dengan pembacanya. Saya paling suka 3 bab pertama karena terasa lebih relevan.
judulnya ga terlalu merepresentasi-kan isinya. awalnya saya kira mau pakai sudut pandang dan opini penulis tapi lebih banyak referensi filsuf ((it's fine, walaupun lebih ingin pov dan pemikiran murni dari bapak Fahruddin sendiri/langsung saja)).
Isinya tidak seperti kesan yang ditampilkan pada judul. Hehehe.. Isinya filsafat ringan dari Descartes hingga Buddha. Seperti tulisan Pak Faiz lainnya, isi buku ini mudah dipahami.
Saya memutuskan membaca buku ini setelah beberapa kali mendengarkan #NgajiFilsafat dari channel youtube Masjid Jendral Sudirman. Dulu saya berpendapat, namanya belajar filsafat ya pasti menjauh dari agama. Maka dari itu kadang ada rasa khawatir saat ingin belajar filsafat lebih dalam.
Namun ternyata bukan seperti itu. Ilmu itu hanya alat, semua tergantung siapa yang memegang. Fahruddin Faiz berhasil memberi saya cara pandang belajar filsafat yang baru. Dengan unsur-unsur Islam yang lebih mudah dipahami. Buku ini merangkum banyak sumber ilmu filsafat dunia, filsafat Yunani, filsafat Barat, filsafat Timur filsafat Islam, banyak sekali.
Penuturan sederhana, tanpa terkesan menggurui, kadang disisipkan guyonan agar nggak sepaneng. Buku ini layak dibaca oleh umum yang sekiranya tertarik dengan filsafat secara luas tapi ingin mencari bacaan yang ringan.