Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sendalu

Rate this book

146 pages, Paperback

First published January 1, 2006

Loading...
Loading...

About the author

Chavchay Syaifullah

6 books6 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
14 (31%)
4 stars
7 (15%)
3 stars
12 (27%)
2 stars
3 (6%)
1 star
8 (18%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for John Ferry Sihotang.
27 reviews47 followers
March 22, 2011
Review: Sendalu Pemerkosaan ala Chavchay

Awalnya saya mengetahui buku ini dari buku kumpulan esai Hudan Hidayat, Nabi Tanpa Wahyu. "Chavchay masuk lewat tokoh biasa dengan segenap 'ironi pertumbuhan' yang membias dari orang-orang kalah," tulis Hudan tentang novel ini. Sebuah novel yang sangat kelam. Keras. Meradang. Begini dongengnya:

Tokoh Lumang adalah seorang manusia "terapit bangkai", diapit oleh dua bayi keguguran. Ia tumbuh dalam kemiskinan. Diasuh orang tua yang cekcok mulut melulu. Dan anehnya, pertengkeran hebat selalu berakhir dengan permainan kuda ranjang yang tak kalah hebat pula. Begitulah Lumang dibesarkan orang tua yang sering kali beradu daging, tak kenal tempat dan waktu.

Sang Ayah seorang mantan jawara Banten yang bertobat menjadi tukang cukur. Sementara si Ibu sehari-hari menjual kue di pasar pagi. Orang tua miskin ini tak pernah memikirkan bagaimana pertengkaran hingga raungan perkelaminan mereka berpengaruh pada aspek psikis si anak. Pula dengan pahitnya hidup, membuat mereka berdiam di rumah sangat sederhana; dengan pembatas kamar apa adanya. Jadilah tiap rintihan kenikmatan orang tua menjadi rekaman suram masa kecil Lumang.

Tak terbayangkan betapa tersiksanya jiwa dan kelamin si anak itu. Diperparah pula dengan adegan panas tak henti dari tetangganya, pasangan pengantin muda Lastri dan Burhan - yang selalu diintipnya. Makin lengkaplah duka dan siksa itu. Bahkan, suatu kali lolongan kenikmatan dua pasang prajurit bertetangga ini, orang tua dan pasangan muda, memberondong otak Lumang dengan peluru kemesuman. Bersahut-sahutan. Membiakkan ulat busuk di hati dan pikiran Lumang. Ia menjadi korban yang terlupakan. Seks berwajah kelam pun menjadi sendalu malam di tubuhnya.

Lumang tak sanggup protes. Tak tahan pula dengan semua keriuhan itu. Ia kabur dari rumah, bertarung di jalanan yang keras. Namun sudah tercipta Lumang dewasa pembawa hasrat tak terperikan dalam tubuhnya.

Hari-hari pun berlari. Lumang telah mengumpulkan dendam kesumat rawa-rawa dalam debarnya. Tak tertahankan lagi gejolak hatinya pada Lastri. Ia pulang ke rumah orang tuanya... Voila. Ada kesempatan! Lastri sendiri di rumahnya dalam keadaan bugil sehabis mandi. Inilah awal mula teror syahwat seorang Lumang. Dia tak mau lagi hanya jadi penonton pertunjukan. "Aku adalah lelaki yang selalu kalah, kini saatnya harus menang," ujarnya. Tak mau lagi dikalahkan khayalnya yang kelam. Lastri diperkosa dengan amat rakusnya. Amat bengisnya. Ia usir pemeran utama dalam jerit panggung persetubuhan yang sekian lama ia saksikan. Ia tinggalkan tubuh perempuan itu meringis-ringis, meringkuk dalam perih dan ancaman.

Lumang kembali ke kamar sepinya dengan sedikit penyesalan. Sang Ibu datang. Gembira melihat anaknya pulang kembali, Ibu mengusap-usap kepala anak tunggal yang dikasihinya. Lelaki jantan yang setia pada ibunya.

Rupanya setan tak mengenal ibu kandung. Sang ibu diperkosa dengan gegap gempita! Tuntaskan dendam rawanya yang mengasuh beribu-ribu buaya. Kucing lapar mengendap di alam bawah sadarnya. Maniak. Kegilaan pun dipertahankan dengan kegilaan lain. Lastri diseret ke ranjang ibu yang masih telanjang. Keduanya dilantak dengan beringas. Gelo, siah! Sang bapak pulang, dihajar! Burham pulang, dihajar! Keduanya ditawan, disekap dihadapan istri mereka yang tak berdaya. Lumang kian kesetanan memperkosa kedua wanita itu dengan 'keadilan' yang suram, disaksikan kedua lelaki malang itu.

Dendam pertama terpuaskan. Dia telah melampaui kejantanan dua lelaki malang itu: sang Ayah dan Burhan. Lumang puas. Bebas. Bahagia. Sendalu pun kian tersepuh dalam parang dagingnya yang terhunus penuh karat.

Bekisar jantan si pesakitan Lumang masih menyimpan lahar gunung api yang bergejolak minta disemburkan. Terminal Kampung Rambutan sebagai tujuan awal. Lumang memperkosa seorang ibu muda di toilet sudut terminal. Selanjutnya ke Pasar Rebo. Ia memangsa seorang ibu muda tanpa ampun setelah membunuh suami dan anaknya. Ia telah menjelma serigala lapar. Siap meringkus siapa saja. Di stasiun kereta Manggarai, ia perkosa seorang petugas loket tiket di toilet penuh kotoron, lantaran tidurnya terganggu oleh salah seorang seorang penjaga stasiun. Stasiun pun geger. Horor pemerkosaan menjadi headline news koran-koran. Syahwatnya telah menebar teror kengerian. Kesadisan. Kebiadaban.

Rupanya kegilaan tak kenal batas terujung. Bosan dengan wanita sebaya Lastri dan ibunya, ia cari sensasi lain dengan menggauli nenek-nenek. Bosan dengan nenek-nenek, ia berburu para perawan kota Jakarta hingga orang-orang cacat fisik dan mental. Aparat negara kelimpungan. Banyak orang cacat bunting akibat perkosaan Lumang. Haram jadah!

Ia pun menyesal telah membuat banyak wanita hamil dan bunuh diri karena kebrutalannya. Ia bertobat menggauli perempuan... Bedebah! Namun tidak untuk lelaki. Serangat sebelas maret (1997) dilancarkan: menjebol pertahanan dubur kaum Adam. 'Lobang belakang' menjadi kegirangan barunya. Ia kian tertantang menguji tapal batas kejantanannya. Maniak! Tak enggan berjibaku untuk menaklukkan si korban dengan kepal dan pentungan. Kelompok satpam, polisi, militer, preman; semua dimangsanya dengan ingar-bingar. Saraaap!

1 Mei 1998, Tugu Pancoran, pendengar sejati hal-ikhal kebejatan moral hewaninya, menjadi saksi bisu syahwat penghabisan Lumang. Tubuhnya ringkih, tak mampu mencari korban lagi. Tapi kelaminnya blingsatan. Yang ada cuma si kecil Bono, yang sudah dianggap adik kandungnya sendiri; sesama gelandangan di kolong jembatan Pancoran itu. Dasar bandot sinting! Si bocah diperkosa dengn paksa. Bono Mati. Lumang meraung-raung. Berteriak-teriak. Terjangkan amuk sesal dalam gelap malam. Tapi percuma. Bono tetap mati. Hatinya teriris-iris. Dengan peluh air mata, ia buang tubuh Bono ke sungai Ciliwung. Dan, sejak saat itu ia gelisah, tak pernah sanggup memejamkan mata.

Peri kebinatangan ditanggalkan. Dua minggu kemudian meletus tragedi besar. Kelompok terorganisir memperkosa perempuan-perempuan etnis cina. Lorong-lorong kota menjelma lautan merah dan pekik anak dara. Bulu kuduknya berdiri. Naluri kemanusiaannya tersibak. Rupanya tak ada solidaritas antar sesama pemerkosa. Ia berlari ke Matraman hendak mengejar dan membunuh para pemerkosa itu. Hasilnya nihil. Ia terus berlari, berlari, dan berlari. Namun sia-sia. Tubuhnya kian lunglai.

Hari-harinya menjadi hari-hari perkabungan dan penyesalan. Ia potong kelaminnya pada 1 januari 2002. Dengan kata tobat yang getir. Dibiarkannya sekerat daging itu tergilas reroda dan jalan raya. Lumang mengaku salah kepada orangtua yang pernah didurhakainya. Juga kepada wartawan, polisi, guru agama, ia akui segala perbuatan nistanya. Itulah pengakuaanya. Pengakuan terakhirnya. Ia pun berjalan ke kuburnya sendiri. Tanpa kelamin.

Inilah karya sastra yang keras. Yang sakit. Tesis yang meradang. Tesis paling jahanam! Tesis pembawa teror kengerian dan hantu kuburan. Demikian penulis membabar hitamnya hitam wajah perkosaan di negeri berpeluh tragedi ini. O, nasib manusia. O, takdir dunia. Karya ini pun boleh menjadi diktum imajiner bagi kita, sebagai medium bercermin pada sejarah. Kepada sejarah yang luka dan lupa itu, si tokoh menitipkan surat wasiat sebagai antitesis diri:

"Wahai kau yang senang memperkosa anak manusia, bercerminlah! Perbuatanmu telah menghancurkan kehidupan manusia seluruhnya. Ingatlah, korban-korbanmu adalah manusia, sama sepertimu. Hentikanlah aksi biadabmu! Bercerminlah! Pandanglah dirimu baik-baik!" (Hal 125).***
Profile Image for Cep Subhan KM.
344 reviews27 followers
June 1, 2020
I like the idea presented by the novel, i like the "testimony" presented by the author in the beginning of the novel, but i don't think it is a good novel. It is one example that a literary work appears as a rebel toward the author's intention. Even if the author said "i want to present blablabla" and in the case of this novel it is supported too by Hudan Hidayat's reading of the book as a "reader's note" as such an epilogue, the novel may walk toward a different direction.

If we consider the author's intention and the available intrinsic aspects of the novel (the characters, the plot, the story), it is supposed to be a good novel. Nevertheless, i think the novel is composed with too many burden (or sympathy? Emotional feeling toward the event want to be provided in the novel form) in the author's mind so that the voice of the author is often stronger than the voice of the novel's characters (Lumang's contemplation in Chapter VI for instance, he seems too intellectual for such a contemplation).

At the time a voice of the author seems too powerful in a novel, as a consequence the characterization of the novel is commonly degraded. The novel lacks a support from psychological reason for its characters' actions, their actions just like spontaneously happened and the reader suggested to just accept it. I like the theme of the novel since it is not a common one in our Indonesian literature, but i don't like the way it is composed.
Profile Image for Tio.
30 reviews3 followers
January 25, 2009
Dapat bukuu ini waktu ikut lumba cari telur.. di Jurang Doankkk..

Boo.. keren banget buku ini,.. ng tau apa ini fiksi apa ng, cuman gw jadi parno ke pulang kerumah lewat jatinegara dan tugu pancoran...
uhh jd pengen baca jg buku nya yg pertama... aduh apa ya kok jd lupa.. payudara ya.. kl ada yg punya ak pinjem ya.. :D

Profile Image for Indarpati Indarpati.
Author 5 books13 followers
December 17, 2009
Nggak seperti yang pernah ditulis reviewnya di Kompas (kalau nggak salah). Yang kudapat tak seperti yang kuharapkan.
Displaying 1 - 6 of 6 reviews