Ini adalah pusat tubuh di mana jiwaku bersemayam,” katanya. “Hanya dengan merobek tubuh, aku bisa menunjukkan kepada orang lain bahwa jiwaku akan tetap berani dan murni dalam menghadapi kecemaran ini. Jika Nichiren menilai rasa sakitku sudah terlalu berat untuk ditanggung maka dia akan mengakhiri penderitaanku.” Hal 16
Lelaki itu kemudian melepas tanto (belati) dari sarungnya. Darah pekat menyembur dari tubuhnya. Merasa lelaki itu sudah tidak lagi mampu menahan rasa sakitnya, Araki Nichiren segera menarik pedang dan menebas leher lelaki itu. Dan kehidupannya pun meredup dan mati dari tubuhnya.
Kisah dalam buku ini diawali dengan Lord Shimomura Kensu yang melakuan seppuku, setelah Kaisar menjatuhkan hukuman bahwa nama keluarga Shimomura tidak boleh ada lagi. Adegan seppuku itu disaksikan sendiri oleh anak tunggalnya, Shimomura Jimmu – bocah berumur sepuluh tahun. Ibunya sendiri, Lady Izanami, sudah lebih dulu menyerahkan dirinya kepada maut dengan menenggak racun.
Jimmu bingung dengan apa yang terjadi dan kenapa itu harus terjadi. Tapi sebagai pewaris tunggal nama Shimomura, dia dituntut untuk membalaskan dendam agar aib keluarga mereka terbayarkan. Dendam itu harus dibayar lunas dengan nyawa Lord Choju Ankan, yang menurut cerita Nichiren, menjadi dalang dibalik kematian ayah-ibunya.
Lord Choju Ankan adalah penyebabnya, Bocah,” kata Nichiren. “Dia adalah Iblis yang jahat, tamak, tak peduli pada orang lain kecuali dirinya sendiri. Ayahmu dulu pernah menyinggungnya, dan Lord Ankan tak melupakannya. Dia menuduh ayahmu merencanakan pembunuhan terhadap Kaisar, dan membuat berkas-berkas palsu sebagai pembuktiannya. Sang Kaisar kemudian menyatakan ayahmu sebagai pengkhianat.”Hal 19
Selama sekitar tujuh tahun, Jimmu digembleng Nichiren. Dilatih bertarung dengan pedang dan tombak. Dan selama itu pula, Nichiren menanamkan dan memupuk benih kebencian di hati Jimmu. Setiap saat, Jimmu diajar untuk membenci Lord Choju Ankan. Otaknya dicuci. Bahkan ketika Nichiren sudah tiada, Jimmu masih bisa mendengarkan suara Nichiren dalam pikirannya. Nichiren masih hidup dalam dirinya, dan selalu mengingatkannya untuk membalaskan dendam keluarganya.
Jimmu memang dilatih untuk mampu bertarung seperti seorang samurai, tapi dia tidak pernah dibimbing untuk menjadi seorang samurai sejati, yang mengawali dan mengakhiri segala sesuatu dengan kehormatan.
“Jalan samurai itu tidak hanya sulit, tapi juga suci dan mulia. Setiap hari, seorang samurai harus berperang melawan diri sendiri demi mencapai kesempurnaan, sekaligus mengetahui bahwa ia juga akan gagal. Setiap malam, seorang samurai harus beristirahat dalam rangka memperbaharui perjuangannya keesokan pagi. Di atas semua itu, seorang samurai harus belajar untuk patuh. Kewajiban utamanya adalah pengabdian yang tanpa ragu kepada tuannya, sampai pada taraf di mana ia bersedia mengorbankan nyawanya jika itu yang diminta darinya.”Hal 95-96
Dengan kemampuan bertarung yang hebat, Jimmu akhirnya bisa bergabung dan menjadi pengawal di Kastil Mitsukage, tempat Lord Choju Ankan bertahta. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mencabut nyawa lelaki yang digadang-gadang menjadi penyebab kematian ayah-ibunya. Bisakah dendam itu terlampiaskan?
Kisah dalam buku ini juga dibumbui dengan kisah cinta. Jimmu – yang sebelumnya belum pernah berhubungan dengan perempuan – tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya setelah bertemu dengan Lady Takeko yang cantik dan blak-blakan. Sialnya, perempuan manja itu adalah putri dari Lord Choju Ankan. Jimmu berusaha mengesampingkan perasaannya, dan berusaha membuat pikirannya tetap fokus terhadap tujuannya semula: BALAS DENDAM!!!
Tak jarang, tekad Jimmu terombang-ambing. Bukan karena masalah dendam berbalut cinta, tapi juga karena hal lainnya. Meski sudah dicekoki dengan rasa benci dan dendam selama tujuh tahun, namun hati kecil Jimmu kadang-kadang memunculkan pertanyaan. Ketika suara kebencian Nichiren bergema dalam pikirannya, pikiran jernihnya kadang-kadang memberontak.
”Kau akan mati bak seorang pahlawan,” kata Nichiren terus menerus; tapi bagaimana mungkin seorang pembunuh bayaran menjadi pahlawan? Hal 99
Di manakah pusatku? Pikir Jimmu. Selama bertahun-tahun, pusat dirinya adalah Nichiren. Ia mengikuti perintah Nichiren, menerima pukulan Nichiren, menghargai kesempatan-kesempatan langka ketika ia memperoleh pujian dari Nichiren. Segala sesuatu dilakukan berdasarkan aturan Nichiren. Jimmu tak pernah berpikir untuk dirinya sendiri – sampai saat ini. Hal 120
Semakin banyak peristiwa yang dia saksikan, semakin dia mempertanyakan kebenaran akan kebencian yang ditanamkan Nichiren padanya. Kadang-kadang dia melihat Lord Choju Ankan sebagai “serigala berbulu domba”. Di lain waktu, dia yakin kalau tingkah Lady Takeko yang manja dan jutek (tapi bikin Jimmu rindu) adalah titisan darah iblis Lord Choju Ankan, ayahnya. Jimmu juga mulai mempertanyakan kebenarannya sendiri? Selama ini, dia mengira kalau Nichiren sudah melatihnya untuk menjadi seorang samurai. Tapi kelihatannya, Nichiren hanya mengajarkan dirinya bagaimana menggunakan senjata samurai. Ternyata masih banyak hal yang bisa dipelajari untuk menjadi seorang samurai daripada sekedar membunuh. Ahh…jadi ingat teroris.
Cerita “The Way of Warrior” berjalan mulus dan menarik. Terlalu menarik sehingga saya sama sekali tidak memperhatikan apakah ada yang salah-salah ketik. Beberapa peristiwa dalam cerita ini didasarkan pada pertempuran Mikata ga Hara, yang berlangsung pada tahun 1572. Dan pada masa itu, orang-orang meletakkan nama keluarganya di depan namanya. Selain itu, banyak hal yang bisa dipelajari dari kisah dalam buku ini. Salah duanya, bagaimana manusia bisa langsung percaya dengan informasi yang diberikan oleh orang yang paling dekat dengan dirinya tanpa perlu lagi mempertanyakan kebenarannya (both side of story, please…). Dan, bagaimana manusia terlalu sibuk memperjuangkan kebenaran yang diusung orang lain tanpa pernah memberikan kesempatan kepada dirinya untuk memunculkan kebenarannya sendiri.
Hmm, jatuh cinta pada putri dari orang yang seharusnya dibunuh. Terlalu mudah untuk ditebak akhir ceritanya, bukan? Saya juga sempat berpikir seperti itu, tapi saya salah. Saya terlalu sotoy tapi pada akhirnya saya terkecoh. Empat bintang!