Kebetulan lagi bulan Ramadhan dan buku ini baru saja muncul sebagai rekomendasi yang sedang hangat. Dari judul dan desain sampulnya saja sudah membuatku tertarik—rasanya belum ada buku semacam ini yang diterbitkan di Indonesia. Kebanyakan buku bertema Islami di Indonesia cukup kaku dan jelas-jelas ditargetkan untuk orang-orang yang memang sudah bertaqwa, orang-orang yang bisa dibilang imannya kuat—sementara orang-orang sepertiku yang masih mempertanyakan keimanan diri sendiri seperti tidak diajak ikut berdiskusi.
Itulah yang berbeda dari buku ini.
Jujur, aku tidak tahu Husein Ja'far sebelum membaca buku ini. Namun buku ini membuatku cukup menghormatinya. Pada dasarnya, melalui buku ini Beliau menyentil kebiasaan beragama umat Muslim—terutama Muslim Indonesia—yang tidak sejalan dengan ajaran Islam. Bukan, bukan menyudutkan mereka yang imannya memang masih belum sempurna, namun mengkritik mereka yang merasa sudah paling suci. Semua yang Beliau tuangkan dalam buku ini sungguh masuk akal dan bisa kumengerti. Ternyata benar adanya, bahwa Islam kini tampak mengerikan dan menyulitkan untuk khalayak muda—itulah sebabnya banyak Muslim generasi muda di Indonesia yang hanya sebatas Muslim KTP semata.
Padahal—sesuai observasi Husein Ja'far—Islam itu harusnya hadir sebagai solusi, sehingga sudah sepatutnya mudah dan cocok untuk memenuhi kebutuhan masing-masing pihak. Seharusnya Islam itu menyatukan, bukan memecah belah. Seharusnya umat Muslim lebih sibuk berusaha memperbaiki diri, bukannya justru mengkritik orang lain. Seharusnya masyarakat Indonesia meminta maaf kepada Ahok, karena yang namanya penistaan agama itu tidak ada—agama hanya akan tercoreng namanya jika penganutnya tidak merepresentasikan agama tersebut dengan baik. Siapapun di luar agama Islam tidak akan bisa menyakitinya.
Setelah membaca sejumlah buku-buku internasional tentang pengalaman umat Muslim sebagai kaum minoritas di berbagai budaya, juga pendapat-pendapat yang meragukan ajaran Islam, isi buku ini sangat masuk akal dan relevan dengan kondisi sosial budaya masyarakat global zaman sekarang—terutama sehubungan dengan Islam itu sendiri. Ada alasannya mengapa Islamophobia itu muncul dan berdiri kokoh di berbagai negara di dunia, yakni akhlak dan tingkah laku umat Muslim sendiri. Tingkah laku inilah yang bertentangan dengan intisari ajaran agama Islam.
Meskipun begitu, buku ini tentu belum sempurna—karena, sejatinya, yang sempurna hanyalah milik Allah semata. Masih banyak aspek dari buku ini yang mengajarkan kita untuk berhenti berpikir, menerima begitu saja apa kata ulama dan para imam, sehingga terkadang buku ini tampak menggiring opini pembaca berdasarkan preferensi penulisnya. Tidak jarang pula isu yang diangkat dan dibahas oleh penulis hanya dilakukan setengah jalan, karena bentrok dengan beberapa ajaran atau sejarah Islam yang saling bertentangan.
Contoh kecilnya adalah ketika membahas Islam yang menerima perbedaan dengan membawa hubungan baik antara imam-imam besar yang berbeda pendapat, namun tidak sedikit pun berusaha menyentuh kejadian berlumur darah yang memecah belah umat Muslim menjadi Sunni dan Shiah hingga kini—padahal kejadian tersebut kelewat penting dalam sejarah Islam, karena berpengaruh secara global dan prinsip bahkan sampai sekarang.
Meskipun begitu, aku pribadi sangat menikmati membaca buku ini karena berani membahas hal-hal Islami yang tidak pernah dibahas di media mainstream sebelumnya. Ketika membicarakan tentang buku-buku atau tontonan Islami, yang langsung terlintas di otak adalah ceramah atau kajian Islam. Hal-hal yang lebih dekat dengan gaya hidup modern tidak pernah disentuh sama sekali, sehingga umat Muslim generasi muda yang sekarang jadi merasa jauh dengan agama yang seringkali diturunkan dari orangtua mereka tersebut.
Singkat cerita, buku ini sangat kurekomendasikan, terutama untuk umat Muslim di Indonesia. Non-Muslim juga boleh membacanya, meskipun mungkin tidak akan bisa relate dengan banyak hal yang terkandung di dalamnya.