Sebelum dikenal sebagai gerakan politik, anarkisme lebih dulu dikenal sebagai gerakan moral, bahkan hingga hari ini. Para anarkis adalah orang-orang yang menjadikan nurani dan kebebasan mutlak sebagal pijakannya. Mereka tidak menoleransi gerakan yang berorientasi kekuasaan, karena bagi mereka keinginan berkuasa menjadi awal dominasi, manipulasi, dan eksploitasi satu kelompok atas kelompok lain.
Ketika Orde Baru berada di senja kala kekuasaan, ada banyak elemen prodemokrasi yang tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD), termasuk kelompok-kelompok anarkis. Namun, keberadaan kelompok tersebut tidak berlangsung lama karena PRD gagal menampung berbagai varian politik dan mengalami problem yang tak bisa dikompromikan dengan nilai-nilai anarkisme, Blok Pembangkang merekam kelompok dan afinitas yang muncul di berbagai momen penting. Di Indonesia, gerakan anarkisme tak benar-benar mati. Ia tumbuh, berganti generasi, sembari menunggu waktu bersemi kembali.
Dari dulu saya kerap bertanya-tanya: kenapa Marxisme dan Anarkisme bertentangan dan kerap berseteru? Padahal cita-cita keduanya sama: pembebasan kaum tertindas dari kuasa.
Membaca buku "Blok Pembangkang" karya Ferdhi membuat saya jadi mengerti kenapa dua ideologi masyhur ini bertentangan. Baik secara ideologis maupun praksis praktik.
Bermula sebagai sebuah naskah skripsi untuk menuntaskan kuliah, "Blok Pembangkang" akhirnya dijadikan sebuah buku. Naskah skripsi itu sendiri sebelumnya kadung tersebar ke mana-mana dan dijadikan patokan orang-orang yang ingin memahami anarkisme. Kita beruntung Ferdhi akhirnya memodifikasi naskah itu, menambal sulam data-datanya agar menjadi lebih relevan, dan jadilah buku yang baru tuntas saya baca.
Saya juga jadi paham bahwa dalam anarkisme sendiri juga banyak cabang-cabang pemikiran. Mulai dari mereka yang percaya bahwa vandalisme adalah bentuk perlawanan sehingga mereka membakar ATM, hingga para pasifis yang cinta damai dan mengedepankan argumentasi dalam dialektika pemikiran.
Buku ini penting untuk kamu yang ingin memahami bagaimana anarkisme berkembang di Indonesia, terutama di beberapa kota besar yang dipilih Ferdhi untuk dibahas.
Akhir kata, buku ini bisa menjelaskan kepada kita bahwa ideologi atau ide itu kebal peluru. Ia tak bisa dibungkam, dan akan berlipat ganda.
Rather repetitive and perhaps it would be really interesting to expand what happened post-2011 anarchism with an ethnographical perspective since the writer himself involve at some level. Nevertheless, learn a lot from this book about how platformism somehow struggles in accommodating anarchism both as a social movement and ideal—maybe it is also the reason Stirnerian egoism is rather popular these days (at least as translated literature in Indonesia).
Mau baca ini awalnya khawatir terlalu teknis dan nanti gak paham tapi penjelasannya bagus dan mudah dimengerti. Blok Pembangkang dikembangkan dari skripsi/tesis yang menceritakan definisi Anarkisme itu apa dan menjabarkan perjalanannya di Indonesia, terutama di periode paska reformasi sampai di sekitar 2011. Jadi gue baru paham beberapa hal: 1. Anarki itu awalnya punya spirit yg mirip dengan sosialisme, tapi berbeda jauh dari segi pandangan terhadap pemerintah dengan anarki sama sekali menolak kekuasaan negara karena dianggap mau kiri atau kanan, kekuasaan itu berbahaya. 2. Anarki sendiri bukan chaos, tapi menolak negara kalau dari akar katanya. Jadi ada perubahan makna ketika dipakai di bahasa sehari-hari. 3. Mungkin karena sifat gerakannya itu, jadi agak sulit menjadi besar? (menolak kepemimpinan terpusat?)
Sebenarnya gerakan ini adalah gerakan paling ideal. Sebab, tidak punya kepentingan politik apa pun seperti merebut kursi kekuasaan. Mereka hanya mengusahakan kebebasan. Titik.
Yang menjadi masalah, kebebasan itu sering dibatasi oleh negara, dan oleh sebab itu anarkisme berusaha menghancurkan negara. Sayangnya, negara terlalu kuat untuk dihancurkan. Negara punya senjata, punya tentara, punya polisi, punya media, dan alat-alat propaganda.
Buku penting untuk mengetahui apa itu anarkisme dan menjadi anarkis yang sesungguhnya, dan bukan dalam pengertian yang diberikan oleh pemerintah juga media-media yang selalu memaknainya sebagai kekerasan.
Anarkisme adalah murni gerakan anti-otoritarian dan anti-kapitalisme.
Lugas dan jelas adalah kesan saya saat membaca buku ini. Bahasa yang digunakan penulis tepat sasaran dan tidak bertele-tele. Penjelasan dan contoh juga semakin memperdalam pemahamam mengenai topik utama: gerakan anarkisme di Indonesia.
3.5/5 Awal buku ini menarik bagi saya, sebagai seseorang yang awam dengan gerakan anarkis. Hanya saja, ketika sudah memasuki sejarah tiap organisasi, muncul kesan monoton. Nevertheless, buku ini dapat memberikan gambaran sejarah gerakan anarkis di Indonesia, sebagaimana judul buku ini.