“You are what you think,” begitu kata banyak orang. Padahal, ketika saya berpikir saya kaya, uang dalam rekening saya tidak otomatis bertambah. Akan lebih tepat jika kutipan ini sedikit diubah menjadi “You are how you think”, karena perasaan dan diri kita bergantung pada bagaimana cara kita berpikir. Buku ini berisi tentang proses berpikir, bukan sekadar berpikir dengan positif. Saat perasaan sedang tidak baik-baik saja, terlebih pada keadaan depresi, proses pikir kita biasanya ikut andil dalam memperburuk keadaan. Namun, sulit bagi kita untuk menyadari proses berpikir yang bermasalah ini karena kita menganggapnya sebagai cara kita melihat realitas. Menyadari pikiran yang keliru saat hal itu muncul bukanlah hal yang mudah. Buku ini memuat beberapa pola untuk membentuk cara berpikir yang tepat. Tak hanya orang-orang yang sedang merawat luka batin, para caregiver dan penyintas depresi juga bisa menarik manfaat dari buku ini. Semoga buku ini juga bisa menghapus stigma tentang depresi dan menunjukkan bahwa gangguan kejiwaan, termasuk depresi, bisa dialami siapa saja.
Dari covernya, saya pikir buku ini akan jadi semacam buku 'hugging essays' ala Korea yang bernada "Tenang, nggak apa-apa, semua akan baik-baik saja." Ternyata saya salah. Sebagai dokter spesialis kejiwaan, dr.Jiemi betul-betul mengajak kita berkenalan dengan depresi dan bagaimana kita menghadapi isu kesehatan mental ini.
Buku ini dimulai dengan membahas soal depresi secara ilmiah; apa itu depresi, betapan kompleks penyebabnya, apa yang terjadi pada otak dan tubuh ketika mengalami depresi, sampai apakah depresi dapat disembuhkan.
Selanjutnya buku membahas soal pikiran dan perasaan. Menurut saya, bagian ini bagus sekali untuk dipahami oleh semua orang, bukan hanya yang mengalami luka batin saja. Misalnya apa bedanya 'emosi' dan 'perasaan', bagaimana mengenali mereka dengan lebih baik dapat mencegah hadirnya kegelapan dalam diri kita. dr. Jiemi juga membahas soal filter mental seperti generalisasi, delesi & distorsi. Bab-bab selanjutnya membahas solusi praktis yang bisa diupayakan; soal latihan mindfulness, menghadapi keinginan menyakiti diri sendiri, dan sampai tips untuk mendampingi orang dengan depresi.
Bukunya terdiri dari 300-an halaman, ditulis secara sistematis dan ilmiah tapi nyaman dibaca 😊 Referensi buku dan jurnalnya juga dilampirkan. Keren deh dr. Jiemi!
Saya pribadi tidak memiliki pengalaman depresi jadi saya tidak bisa berkomentar apakah buku ini cocok dibaca mereka yang terkena depresi atau berada di ambang depresi. Namun, buku ini membuat saya: - Lebih memahami apa itu depresi dan kesehatan mental secara umum - Berempati dan membayangkan sudut pandang orang yang terkena depresi
Sejak dua tahun lalu, topik tentang kesehatan mental secara masif terus muncul ke permukaan. Pandemi membuat masalah ini semakin didengar oleh manusia. Bagi mereka yang asing, depresi dianggap sebagai sesuatu yang bisa disembuhkan dengan dibawa ke orang pintar.
Well, aku sendiri pernah didiagnosa oleh orang yang nggak punya latar belakang pendidikan psikologi/kesehatan jiwa. Akibatnya, aku jadi meyakini there's something wrong in me. Bukannya dianjurkan untuk ke tenaga profesional, ketika itu aku disuruh pulang ke rumah--di Surabaya. Dengan harapan, once I got back to Jakarta, aku bisa lebih "nurut."
Years later, I made a decision to see the therapist. Aku bertemu psikolog yang membantuku memahami gejolak emosi yang dulu sempat terepresi. Meski progresnya seperti siput, tetapi aku menyadari perubahan dalam diri. Salah satunya dalam merespon perasaan dan emosi yang overwhelmed.
Merawat Luka Batin juga membahas itu. Bedanya, sudut pandang yang diambil adalah kesehatan jiwa (medis) mengingat bahwa penulisnya merupakan seorang dokter jiwa.
Dibuka dengan penyebab depresi yang ternyata terdiri dari beragam faktor-- termasuk zat kimiawi dalam tubuh-- hingga bagaimana gambar otak (CT Scan) yang mengalami depresi, dr Jiemi menjelaskan dengan bahasa awam bahwa depresi juga sama berbahayanya dengan penyakit fisik seperti infeksi lambung. Yang artinya, jika tidak ditangani dengan benar maka akan menjadi petaka.
Si kuning jeruk ini paket komplit. Selain penjelasan, dr. Jiemi juga memberikan langkah awal yang bisa kita lakukan jika mulai merasa "tidak enak badan." Hal apa yang sekiranya membantu agar kita tidak melakukan self-harm.
Sayangnya, beberapa bagian terasa terburu-buru. Entah karena deadline atau memang belum rapi saja menyuntingnya. Ada kalimat yang terasa aneh dan sumbang. Teks yang salah ketik juga termasuk. Hingga yang cukup membuatku merasa terganggu adalah kalimat-kalimat panjang. Pembagian bab terasa kurang rapi. Aku sempat lost in the book karena bingung sub-bab ini ada di bab mana ya? Mungkin akan lebih mudah jika diberikan penomoran pada sub-bab dan sub sub-bab.
Merawat Luka Batin adalah sebuah pengenalan yang bisa dibaca untuk mereka yang penasaran dengan apa itu depresi dari sudut pandang sains.
aku suka buku ini. ini buku tentang depresi dengan penulisan yang sistematis dan ilmiah. Namun, tetap enak dibaca dan ga terkesan kaku bagiku. Buku ini buku paket komplit sih, bener" dibahas sampe ke tentang emosi, perasaan, dan perilaku yang dapat menyebabkan/berisiko mengalami depresi dan yang terjadi pada orang yang mengalami depresi.
Buku ini cocok dibaca untuk penderita depresi dan juga caregivers orang dengan depresi serta untuk teman-teman yang ingin lebih tahu tentang depresi atau bagaimana dinamika hingga bisa timbul depresi dan bagaimana orang depresi melihat dunia dan yang dirasakan.
Sebagai salah satu orang yang memiliki depresi (bipolar tipe 2, terdapat fase depresi), buku ini serasa seperti menguliti or called me out 😭🤣
Mungkin sebagian besar dari kita sudah tidak asing lagi dengan kata "depresi". Di mana kehidupan memberikan dinamika yang seringkali malah membuat kita merasa terputus dengan dunia ini. Depresi menjadi penyakit mental yang sering dirasakan saat kehidupan tidak sejalan dengan yang diinginkan. Bagaimanan pikiran dan perasaan saling berkaitan menciptakan bias pandangan yang membuat hidup seolah-olah terasa begitu menyakitkan.
Tidak ketinggalan, stigma dan prasangka akan depresi sendiri sudah begitu buruk di mata masyarakat Indonesia. Bagaimana masyarakat menilai jika depresi merupakan aib yang mesti ditutupi agar tidak mendapatkan opini buruk dari lingkungan. Hal ini tentunya menyebabkan penderita depresi hidup dalam derita tak berkesudahan karena mereka tidak mampu dan tidak mau mencari pertolongan karena takut dengan stigma masyarakat.
Padahal, depresi merupakan penyakit yang sama parahnya dengan penyakit fisik yang mungkin lebih diperhatikan dan dianggap lumrah. Sementara penyakit mental seperti depresi kerap kali dianggap aib yang membuat malu, sehingga banyak orang yang masih asing untuk mencari pertolongan profesional. Untungnya, selama beberapa tahun ini, isu kesehatan mental sudah semakin diterima akibat kehadiran sosial media yang menggaungkannya.
Namun, apakah selama ini kita sendiri sudah benar-benar paham akan depresi itu sendiri? Untungnya, buku 𝗠𝗲𝗿𝗮𝘄𝗮𝘁 𝗟𝘂𝗸𝗮 𝗕𝗮𝘁𝗶𝗻 dapat menjadi sumber referensi yang sangat tepat untuk mulai belajar memahami apa itu depresi dan bagaimana cara untuk menanganinya. Di sampaikan secara sistematis, dr. Jiemi berhasil menyampaikan depresi dengan amat lengkap dan akurat. Mulai dari apa itu depresi, apa penyebabnya, dan bagaimana cara menanganinya.
Meskipun pada dasarnya depresi dapat terjadi akibat sebuah masalah, tetapi itu bukanlah penyebab utamanya. Depresi sendiri timbul akibat hubungan kompleks antara situasi lingkungan, stresor, dan genetik. Jadi bisa dikatakan penyebab depresi ternyata sangat kompleks, sehingga sulit untuk menyalahkan satu penyebab saja. Ditambah lagi sebagai manusia kita mempunyai sisi gelap dalam cara berpikir. Cara berpikir manusia yang kompleks juga menyebabkan bias antara realita dengan apa yang kita pikiran, sehingga bisa memicu timbulnya depresi.
Depresi juga terkadang membuat cara merespons situasi menjadi lebih buruk, seperti harapan agar orang lain atau hal lain dapat berubah untuk diri kita. Sebagai penderita depresi tak jarang sering merasa jika kita merupakan tokoh protagonis yang tengah didzolimi oleh orang lain atau keadaan. Istilah yang lebih tepat disebut sebagai playing victim. Padahal, alih-alih mengharapkan orang lain atau hal lain yang berubah, kita sebenarnya bisa mengubah cara merespons situasi lewat pola pikir yang tepat.
Mulai dari memperkuat self-esteem dengan sikap positif dalam menghargai, menyukai, serta menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Namun, jika pola pengasuhan orangtua menjadi masalah yang menimbulkan kekeliruan dalam cara berinteraksi dengan orang lain, tidak ada salahnya untuk meminta pertolongan pada pihak ketiga seperti psikolog.
Sebenarnya jika mampu memiliki pola pikir yang tepat, depresi bisa ditangani dengan benar. Alih-alih terjerumus semakin dalam pada perasaan sedih dan cemas, kita dapat menikmati dan merasakan perasaan tersebut secara jauh lebih sadar untuk bisa melaluinya. Pasalnya, berbagai perasaan apa pun, baik senang, sedih, maupun cemas, hanya akan bertahan beberapa waktu saja, sehingga dibutuhkan kesadaran untuk bisa menerima dan merasakan semua perasaan yang ada.
Mungkin budaya kita lebih menekankan untuk menerima dan merasakan perasaan-perasaan positif saja, dan menekan perasaan-perasaan negatif. Namun, nyatanya, semua perasaan itu penting untuk diterima dan dirasakan agar dapat membentuk pola pikir dan kepribadian yang lebih bijak.
Tidak hanya membahas cara menangani depresi, buku ini juga memberikan sudut pandang yang begitu luas akan kebiasaan cara berpikir kita yang selama ini keliru. Bagaimana hanya berfokus pada keburukkan, pesimistis, dan rendah diri, malah menjadikan depresi semakin menjadi-jadi. Bukan cuma sekadar tutur kata yang mudah dipahami, dr. Jiemi juga menghadirkan bagan, ilustrasi, sampai tips interaktif, agar pembaca bisa lebih mengerti akan seluk-beluk depresi.
Pembahasan yang tidak kalah penting juga adalah bagaimana depresi sering kali memicu pikiran untuk bunuh diri. Hal ini dipaparkan dengan begitu baik dalam buku ini dan bagaimana cara kita untuk menghindari serta menghapus keinginan tersebut. Terakhir, yang tidak kalah penting dan menarik adalah bagaimana dr. Jiemi juga memberikan perspektif bagi Caregiver untuk lebih mampu memahami cara berpikir orang depresi melalui penanganan yang tepat, alih-alih menghakimi.
Secara keseluruhan, Merawat Luka Batin adalah buku yang sangat lengkap dan mudah dicerna oleh siapa saja yang ingin memahami isu terkait depresi. Gaya bahasa dan tulisan dr. Jiemi begitu sederhana sehingga beberapa istilah medis yang disebut pun tidak begitu sulit untuk dimengerti. Hadirnya beberapa ilustrasi pun semakin memudahkan pembaca untuk paham bagaimana depresi itu terjadi. Bisa dibilang buku ini tidak hanya lengkap dan padat, tapi juga mampu mencerahkan pembaca agar tidak sembarangan mendiagnosis diri maupun orang lain dengan kata depresi.
Secara spesifik, buku ini mengenalkan depresi dan beragam seluk beluknya. Mulai dari mekanisme berpikir orang dengan depresi, bagaimana memperbaiki pola pikir itu, latihan mindfulness untuk menenangkan pikiran, cara menangani kecendungan untuk melukai diri, hingga bagaimana menjadi seorang caretaker pengidap depresi.
Dengan bahasa yang mudah dicerna, buku ini membedah depresi dari sudut pandang ilmu psikiatri dengan cukup komprehensif. Saya menyukai pembahasan seputar perasaan dan pikiran. Bagaimana pola pikir yang diterapkan seseorang dapat memengaruhi perasaannya sehingga menumbuhkan persepsi tertentu, yang pada kasus depresi, sering kali keliru.
Buku ini cocok dibaca oleh siapa saja yang ingin mengenal depresi dengan lebih baik: mereka yang rentan stres atau mudah mengalami stres tinggi agar tidak terjerumus ke dalam pola pikir depresi, mereka yang terdiagnosis depresi, dan para pendamping pengidap depresi.
Persebaran informasi saat ini dipermudah dengan adanya internet dan sosial media. Awareness terkait mental health pun semakin meningkat, tak jarang kita menemukan salah persepsi atau yang paling buruk yaitu self-diagnose. Merawat Luka Batin bisa disebut "The Guide to Mental Health 101". dr. Jiemi dengan fasih menjelaskan apa itu depresi, pemicunya, latihan mindfulness, cara menghadapi keinginan menyakiti diri, dan pencegahan kekambuhan.
Ada 3 hal baru yang saya pelajari dari buku ini:
1. Depresi adalah penyakit serius dan perlu segera ditangani.
Reading experience :
Entah mengapa hampir semua gambar dalam buku ini triggering bagi saya. Mungkin untuk kebanyakan orang, gambarnya normal-normal saja. Tapi menurut saya semua gambarnya sangat intens menggambarkan depresi. Well I don’t know if it is a good sign or way around.
Saya juga menemukan banyak typo yang mengganggu pengalaman membaca. Sering kali saya membaca satu kalimat berulang kali supaya bisa meneruskan baca kalimat selanjutnya. Tetapi ngga bisa dipungkiri kalau isi buku ini padat dan daging semua. Saya pribadi tidak merekomendasikan buku ini kepada teman-teman yang berjuang melewati depresi berat karna takutnya fokus ke negative words yang ngga dr. Jiemi perhalus di buku ini. Disisi lain, sangat merekomendasikan buku ini kepada caregiver untuk bisa memberikan dukungan maksimal.
Awalnya beli buku ini pengen cari tahu reparenting teh kayak apa kalo dari sudut pandang dokter. Eh ternyata ini buku isinya agak berat, rada klinis dan pembahasannya mostly tentang depresi. Tapi buku ini bisa jadi bahan belajar buat orang yang merasa dirinya dikit-dikit overthinking kayak aku karena di dalamnya dibahas seputar apa itu pikiran, bagaimana menyikapi pikiran, dan bagaimana menempatkan pikiran. Sama bagian terfavorit adalah memaknai emosi sebagai sesuatu yang tercipta dengan tujuan. Jadi emosi bukan untuk ditekan dan dihilangkan melainkan sebagai alarm karena ternyata setiap emosi itu ada manfaatnya. Beda emang perspektif ekspert ya ges. Tercerahkan meski keluar dari tujuan awal wkwk. Anyway bab 6 sampai 8 agak aku skip karena kontennya trigerring seputar depresi berat dan bunuh diri. Tapi kalo kalian caregiver tiga bab tadi akan sangat membantu cara membersamai keluarga yg sedang depresi. Happy reading 💗
This entire review has been hidden because of spoilers.
At first i thought this book will be about how to heal ourselves-based on the title. But right at the first chapter, it tells us about what depression is. Yes we can actually "heal" ourselves after reading this book but professional help is actually needed.
The layout of this book isn't that good. Sometimes the transition between one topic and another is off. But yeah it was still okay.
This book won't talk about how to actually heal ourselves. It talks more about what depression is, how to oversome, what are the signs, and another mental health topics. It also includes some pratices that we can use in our daily lifes to live a better life.
Read this book if you want an introduction about mental health, depression, mindfulness practice, and all the basic things about our mental. Not only practically, but scientifically proven facts are also given.
Memahami perasaan memang ga mudah, apalagi disaat merasa buruk. Kegiatan jadi terganggu, bikin tingkat kepercayaan diri yang udah rendah ini makin terjun bebas ke dasar laut.
Untungnya papasan sama akun bapak Jiemi di twitter, beliau suka nulis tweet tentang kesehatan mental yang mudah dipahami dan relatable. Pas tau beliau sedang nulis buku, ga pake babibu sih langsung ikut PO.
Buku ini sukses melekatkan beberapa mantra yang bakal jadi jurus gw ketika merasa buruk (sometimes or 24/7 idk, depends...)
Yang paling inget adalah Perasaan bukan sepenuhnya kenyataan, perasaan juga tidak menentukan siapa diri kita secara utuh, dan perlakukanlah segala perasaan yang hadir dengan sikap lebih menerima, in the end they will passing by and our job to make them as lesson.
Buku ini insightful banget karena selain membahas apa itu depresi, pembaca juga disuguhkan tentang pikiran-pikiran apa yang timbul pada orang depresi. Ada juga panduan untuk berlatih mindfulness, bagaimana merespon dan menemani orang dengan depresi, serta bagaimana cara menjadi caregiver.
Bahasanya mudah dimengerti karena pendeskripsiannya yang sederhana. Disertai juga contoh-contoh fiksi di setiap pembahasan. Buku ini tuh bagi aku semacam pedoman sederhana untuk merefleksikan proses berpikirku dan menjadi caregiver untuk teman atau anggota keluarga yang menjadi penyintas depresi.
Basically about depression, what it is, why could be happened to everyone, why it is a serious disease, how to cope it, etc about depression. I love it how the author gave us information with easy way to comprehend in a simple explanation, and why the depression itself is important that people must aware if someone suffering on depression. Yet, there are many typos approaching the ending but the contents well conveyed❤️
Sebelumnya, saya bisa tahu tentang dr. Jiemi Ardian dari akun Twitter-nya yang sering membahas tentang penyakit mental. Lantas, ketika ia menerbitkan buku tentang penyakit mental atau depresi, saya pun tertarik. Benar saja, di buku ini, saya jadi bisa mendapatkan sudut pandang baru dalam memahami dan menyikapi depresi berdasarkan ilmu kedokteran.
Bukunya bagus bgt. Isinya lebih banyak memberikan why dan how to solve a problem. Beberapa tips menurut saya cukup bagus untuk diterapkan dalam kehidupan sehari hari. Kalo lg ngerasa galau, stress, atau bahkan depresi, buku ini bisa jadi opsi bacaan yang tepat.
𝘋 𝘦 𝘱 𝘳 𝘦 𝘴 𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘧𝘦𝘯𝘰𝘮𝘦𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘰𝘮𝘱𝘭𝘦𝘬𝘴, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘥𝘦𝘳𝘩𝘢𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 '𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬'." Hal 29 - Merawat Luka Batin Dr. Jiemi Ardian, SpKJ Penerbit Gramedia Cetakan ke-2 Juni 2022 Tebal 326 Halaman Pinjam di @perpusberjalan - Buku ini sungguh luar biasa. Begitu dalam memaparkan bagaimana merawat luka batin yang menjadikan momok menakutkan akan penyakit mental yang muncul ketika kehidupan tak lagi sejalan dengan yang diharapkan. Seperti yang penulis ungkapkan bahwa manusia adalah makhluk yang emosional. Setiap hari diwarnai banyak perasaan yang hadir. Kadang tiap masalah bisa mendewasakan tiap individu untuk belajar menghadapi problematika hidup. Baik kejadian baik dan buruk datang silih berganti. Ketika dihadapkan dengan kejadian yang sulit, tidak jarang terkendala mengekspresikan emosi sampai kesulitan untuk bernapas. Kebalikan dengan situasi menyenangkan yang mudah diekspresikan dengan rasa bahagia. - Tanda dan gejala d e p r e s i terbagi menjadi dua, tanda psikologis dan tanda fisik. Penulis menjabarkannya dengan amat detail tiap bagiannya. Menilik sang penulis adalah dokter dan spesialis kedokteran jiwa yang berbagi pengalaman dari buku ini kepada semua pembaca untuk memahami, mengenali, dan mengobati luka batin tanpa lagi dipenuhi oleh pikiran yang berlebihan. Sisi gelap manusia dengan semua pikiran yang carut marut juga bisa menakutkan ternyata. Aku juga menyadari hal itu. Seperti sebuah kejadian yang terjadi di depan mata dan dilihat banyak orang. Pikiran tiap orang selalu berbeda dalam menanggapinya. Ada baik dan buruk. - Ternyata memang pada dasarnya tiap manusia sering tidak menyadari bagaimana luka batin itu muncul perlahan-lahan. Datangnya bisa karena sebuah masalah, atau bahkan masalah tersebut bukan yang jadi pemicunya. Aku tidak lagi terkejut ketika penulis menjelaskan kalau d e p r e s i juga bisa diwariskan secara genetik. Masalahnya jarang yang sadar kalau genetik d e p r e s i itu diturunkan dari mereka terdahulu. Ini sama kayak pola asuh nggak sih? - Penulis pun menjelaskan kalau d e p r e s i bisa disembuhkan. Bagian ini yang aku suka karena penjelasannya amat detail. Salah satunya adalah, apakah kita menyukai diri kita, mampukah berhubungan sehat dengan orang lain? kebiasaan berpikir seperti apa yang jadi pola sehari-hari. Membaca buku ini membuka pikiranku kalau semua hal bisa berubah jadi negatif atau positif. Kembali ke cara berpikir. Yang mana pikiran dan perasaan adalah dua hal yang bertolak belakang. Walaupun buku ini bisa menjadi alternatif lain dalam membantu untuk menelaah luka batin. Akan tetapi, tetap mengharuskan pergi ke psikolog atau psikiater bila kondisinya cukup berat. Harapannya agar bisa meminimalisir hal buruk bagi individu itu sendiri. Buku mental health yang apik. Jadi recommended banget buat teman-teman baca.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini bagus banget!! Yah, sejauh ini buku yang aku tulis reviewnya memang bagus sih (menurutku), tapi untuk buku ini rasanya worth it aja gitu ngeluarin duitnya💸🥹
Apakah cocok dibaca orang yang tidak depresi? Cocok banget!
Menurutku, penjelasan buku ini cukup detail dan komprehensif mengenai depresi. Buku ini menjelaskan depresi secara teoretis, membantah stigma “depresi = kurang iman”, menjelaskan faktor risiko depresi, cara mengelola diri jika diri sendiri yang depresi, cara menjadi caregiver orang lain yang depresi, dll. Semua pemaparannya tidak hanya berhenti sampai di teori, tetapi juga menyertakan saran-saran praktis.
Jadi gini, penyebab depresi itu kompleks, mencakup biopsikososial (interaksi faktor biologis, psikologis, dan sosial). Perincian faktor biopsikososialnya secara terpisah juga dituliskan sih, di buku ini. Beberapa hal tersebut di luar kendali kita, tetapi banyak juga yang di dalam kendali kita.
Secara umum, buku ini menjelaskan dan memberi saran (pencegahan dan upaya penanganan depresi) dari semua(?) sisi biopsikososial-nya, tapi sisi psikologis (yang mana besar kendalinya di kita) dijelaskan detail sekali🥹🫶
Buku ini pun menjabarkan cara berpikir “tidak sehat” yang bisa mencetus atau memperparah depresi. Ternyata cara berpikir tidak sehat tersebut umum terjadi di sekitar kita, mungkin terjadi di kamu juga. Baca buku ini berasa dikasih kacamata yang memperjelas pandangan kita soal hidup yang masih sering bias dan tidak realistis. Tidak hanya menjelaskan, penulis pun memberikan saran-saran praktis. Menurutku applicable dan tidak menggurui.
Tata bahasanya juga bagus banget. Penulis memvalidasi emosi bahkan kekeliruan berpikir kita, meluruskan pandangan tsb tanpa membuat pembaca merasa kecil, tetapi maknanya tetap tersampaikan dengan sangat baik dan tepat sasaran. Penulisnya berilmu dan empatik.
Orang yang tidak depresi pun bisa membaca ini, karena ilmu-ilmunya jika kita terapkan bisa menjadi upaya pencegahan depresi.
Banyak insight yang aku dapet, mungkin kalian juga bakal dapat banyak insight . Tapi menurutku, pembaca dengan latar belakang pendidikan psikologi bisa dapat insight yang lebih banyak lagi.
Ps. ini aku copas dari instagram pribadiku ya, tapi kalimatnya aku ubah-ubah dikit.
"untung mendapatkan kebahagiaan, kadang kita perlu belajar melepas sesuatu, yaitu harapan akan kesempurnaan."
udah penasaran banget sama buku ini sejak nonton podcast penulisnya, dr. jiemi ardian, sp.kj bareng raditya dika. penjelasan beliau di podcast itu ringan dan mudah di mengerti sama orang awam, jadi gua berekspektasi di buku ini pun demikian. dan ternyata ekspektasi gua terpenuhi.
buku ini di bagi jadi 8 bab, yang semuanya mengupas tuntas tentang depresi. dari penjelasan apa itu depresi, perasaan-perasaan yang muncul ketika kita depresi dan gimana cara untuk "mentralkannya" penjelasannya pun ringan, nggak pakai bahasa yang "berat abis" sampai bikin orang awam gagal paham. cara penulisannya juga enak di baca, gua pribadi ngalir aja bacanya tanpa hambatan dan ini lumayan langka kalau buat non-fiksi, karena kebanyakan non-fiksi udah topiknya berat penulisannya pun berat, jadi pas baca pusing. tapi buku ini enggak, meski pembahasannya berat tentang depresi, tapi penjelasannya ringan dan mudah di pahami, terus gaya penulisannya juga ngalir dan enak di baca.
banyak banget ilmu baru yang gua dapet tentang buku ini, terutama tentang depresi ya. terus banyak juga tips-tips berguna tentang mengenal perasaan lebih dekat. bab yang gua suka di buku ini bab 5, berlatih mindfullness. banyak juga sebenernya kutipan yang gua suka, tapi ada 1 yang paling berkesan.
"'manusia adalah makhluk sosial', kita memahami kalimat itu sejak SD. namun, hanya sedikit dari kita yang memahami apa makna di balik kata-kata ini. manusia tumbuh dan berinteraksi sejak lahir dalam dukungan sosial, dalam hal ini lingkungan sosial terkecil adalah keluarga. seorang anak tidak bisa tumbuh dan berkembang dengan sehat tanpa dukungan penuh dari keluarganya. orangtua bukan hanya sumber makanan bagi anaknya, tapi keamanan dan kenyamanan."
kayaknya gua butuh dr. jiemi mengupas tentang trauma masa kecil, trauma antar generasi, dan segala tetek bengeknya karena topik ini menarik banget. beliau juga sempat ngomongin soal ini di podcastnya bang radit kemarinn, welllll, kalau di tuangkan dalam bentuk buku mungkin akan lebih detail.
🍊 Menurutku buku ini tuh isinya daging sekali, jelas sih karena ditulis dari ahlinya. Buku ini membahas tentang depresi secara lebih dalam, dimana disebutkan bahwa depresi adalah interaksi yang kompleks, bukan hanya sekedar gangguan pada perasaan, tetapi juga otak dan tubuh yang munculnya bisa jadi karena sebuah masalah, tetapi bukan itu penyebab utamanya [hlm. 3]. Nah gimana tuh???
🍊 Terus di buku ini penulis juga memaparkan dengan detail terkait proses berpikir sehingga pembaca akan diajak untuk mengenal lebih dalam bagaimana diri sendiri berpikir selama ini dan membentuk pikiran yang otomatis. Contoh : Saat tidak lulus ujian dan merasakan sedih karenanya, lantas otak otomatis berpikir bahwa diri selalu gagal dan tidak akan pernah sukses. Padahal realita tidak begitu, tapi dikarenakan ada kejadian-kejadian sebelumnya yang telah dialami, diri jadi bias dan akhirnya terbiasa memiliki pikiran otomatis begitu.
🍊 Setelah mengenalkan bagaimana pikiran otomatis, penulis juga mengajarkan bagaimana "mengarahkan cara berpikir dengan tepat" tanpa mengabaikan emosi yang dirasakan yang dilengkapi dengan contoh kasus sehingga lebih jelas untuk dipahami.
🍊 Dengan memahami "proses berpikir" ini, sebagai pembaca aku menjadi sadar bahwa ternyata aku juga suka melakukan generalisasi, delesi, dan distorsi dalam berpikir yang jadinya membuat diriku kadang terluka dan menjadi lebih paham mengapa penyintas depresi bisa mengalami keruwetan dalam berpikir sehingga berpengaruh pada sikap dan tindakannya yang berujung pada pilihan menyakiti diri hingga bunuh diri.
🍊 Oh iya, penulis juga membagikan tips praktis yang bisa diikuti atau dijadikan pegangan untuk memperbaiki keadaan depresi mulai dari memperbaiki gaya hidup, berlatih mindfulness, dan cara dan hal penting yang bisa ditempuh dalam membersamai seorang penyintas depresi. 📝 Secara keseluruhan penulisan di buku ini mudah dipahami, sangat membantu sekali. 🌻
Tentu sangat recommended untuk dibaca dan juga dimiliki ❤✨
Judul : Merawat Luka Batin Penulis : dr. Jiemi Ardian, Sp.Kj Penerbit : Penerbit Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit : 2022 Jumlah halaman : 312 Genre : Self Improvment
Jadi aku sudah lumayan ngikutin pak dokter dari lagi rame-ramenya buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki” karyanya Baek Se Hee. Dan ternyata pak dokter rilis buku jugaa😭
Buku ini sebagian besar menjelaskan tentang depresi. Apa itu depresi, apa saja pencetus depresi, mindfulness, Efek depresi dan juga ada cara-cara dan tips untuk pengidap depresi maupun caregiver agar bisa lebih kolaboratif untuk menangani depresi.
Gaya penulisannya eksposisi. Di buku juga banyak penjelasan-penjelasan medis mengenai depresi. Ada beberapa contoh dari studi kasus juga mengenai depresi dan stress.
Bab favorit aku yaitu tentang mindfulness. Buat aku yang selama ini bingung kalau cemas harus bereaksi seperti apa, susah tidur, galau, sedih, dan lain-lain. Di materi mindfulness banyak banget tips-tips yang bisa diikutin buat semakin memperbaiki diri (dalam hal gaya hidup dan kesehatan pikiran).
Dan cukup ada perubahan yang aku alamai setelah baca buku ini, terutama mengenai pikiran, perasaan dan emosi. “Pikiran hanyalah pikiran. Pikiran bukan realitas”, kalimat tersebut yang buat aku ga perlu lagi kuatir dan cemas bahkan sampai overthingking. Ketika sedih ya udah, sedih. Tapi bukan berati kehidupanku menyedihkan.
Pokoknya, buat semua orang yang sedang berusaha berdamai, yang sedang mencoba menerima diri, untuk yang sedang stress dan depresi. Ga papa banget kalau kalian ngerasa demikian! Pasti perasaan campur aduk banget kan. Yuk, temuin orang yang kalian percaya dan sharing ke mereka. Bisa ke dokter spesialis, sahabat, keluarga, pacar. Kalian SEBERHARGA ITU buat tetap hidup dan menjadi manusia terbaik!🤍
"Tidak ada yang baru di masa lalu, tidak ada yang pasti di masa depan. Yang kita miliki adalah saat ini, di sini."
Bukunya benar-benar berisi pengetahuan yang daging semua. Aku rasa gak harus buat kita yang mungkin kena depresi, tapi buku ini juga ngasih pencerahan ke kita buat gimana caranya bisa menolong orang-orang terdekat sekitar yang mungkin memang butuh bantuan untuk kita kasih dukungan secara emosional. Karna depresi bisa dialami oleh siapa pun. Bahkan, jangan lagi adanya stigma negatif bagi mereka yang ngalami. Itu point penting yang mungkin aku rasa harus ditangkap oleh semua pembaca dari buku ini.
And then, aku nyelipin 3 insight penting yang secara pribadi aku mau kalian tahu di slide. Ini sesuatu pengetahuan baru untuk aku juga.
Secara keseluruhan yang aku tangkap adalah gimana kita hiduplah secara fleksibel aja. Kalau mau sedih ya sedih, kalau mau senang ya senang. Jangan membatasi kebebasan kita dalam mengekspresi emosi kita. Apalagi sampai membiarkan emosi itu larut berdiam diri dalam batin sampai kita gak sadar akan akibat terburuknya. Gimana nanti kalau sewaktu-waktu justru malah jadi boomerang gak cuma untuk diri sendiri tapi juga untuk orang-orang yang benar-benar jelas sangat sayang dan mencintai kita.
Jika kita mengalami gangguan perasaan, berarti ubahlah perasaan itu dengan mengubah cara kita berpikir. Kita gak punya saklar kalau mengubah perasaan. Sebab, perasaan di luar kendali kita. Tapi, cara pikir kita dalam merespon sebuah masalah yang terjadi itu bisa kita kendaliin.
Nah, gimana ngendaliin cara pikir kita terkait berbagai masalah, baca aja buku ini sampai habis. ✨
So, mari peluk diri kita dengan luka-luka yang ada dan mari mempercantik luka itu dengan menjadi versi terbaik dalam diri kita. Sebab, pantang untuk kita menyerah 🌷
Buku yang membahas depresi, mindfulness, dan bunuh diri. Buku yang isinya “daging” semua. Temanya berat namun dikemas dengan ringan (walaupun ujung-ujungnya tetap terasa berat sih). Beberapa pembahasan yang saya suka dalam buku ini adalah sebagai berikut: - Perbedaan berkabung dan depresi (h. 12) - Lima fase berkabung (h. 21) - Penyakit faktor resiko depresi (h. 32) - Cognitive Behavioral Therapy (CBT) (h. 62) - Monkey mind (h. 85) - Mitos perasaan (h. 88) - Perfeksionis (h. 126) - Melawan perfeksionisme dengan menjadi fleksibel (h. 130) - Kebiasaan menghukum diri (h. 143) - Perbedaan bersiap dengan worst case scenario dan hidup dalam worst case scenario (h. 147) - Kebiasaan berpikir personalisasi (h. 152) - Kebiasaan berpikir tenggelam dalam emosi (h. 157) - Kebiasaan berpikir melompat ke kesimpulan (h. 163) - Ruminasi (h. 168) - Latihan mencatat pikiran (h. 180) - Sleep hygiene (h. 192) - Pernapasan Teratur 4-7-8 (h. 198) - Rumus TUAS (h. 200) - Pola makan pencegah depresi (h. 202) - Pola pikir doing dan being (h. 217-218) - Mindfulness (h. 226) - Menghadapi dorongan menyakiti diri sendiri (h. 247) - Harga diri rendah, putus asa, dan pikiran bunuh diri (h. 259) - Kunci mencegah kekambuhan (h. 264-265) - Membantu orang dengan depresi (h. 289) Buku yang direkomendasikan bagi anda yang ingin mempelajari kesehatan jiwa. Sebagai bekal ilmu menghadapi dunia yang semakin menantang ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Merawat Luka Batin sangat padat informasi dimana buku ini menjelaskan apa itu depresi dari sisi ilmiah, tentang apa saja penyebab terjadi, apa faktor pemicu utama, bagian-bagian apa saja yang membedakan depresi dengan keadaan mental lainnya, serta kiat-kiat agar terhindar dari rasa stress yang memungkinkan depresi jika tidak segera diatasi dan dibiarkan berkepanjangan.
Selain itu dijelaskan pula secara ilmiah tentang pikiran dan perasaan manusia yang kompleks dimana pikiran memberikan makna tertentu pada hal-hal disekitar. Hal ini terjadi karena, pertama, setiap orang memiliki interpretasi unik tentang suatu peristiwa berdasarkan pengalaman pribadi yang menentukan emosional. Kedua, orang yang sama dapat bereaksi berbeda terhadap kejadian serupa pada kesempatan yang berbeda.
Terdapat pula uraian terkait perasaan, dimana perasaan bukanlah kebenaran, bukan pula sesuatu yang objektif, tidak peduli seberapa nyata perasaan itu bagi kita. Begitupun realitas yang mana tidak peduli apa yang kita rasakan, realitas tetap berjalan pada jalurnya sendiri.
Didalamnya juga menjelaskan akan ragam kebiasaan berpikir, diantaranya kebiasaan berpikir melompat pada kesimpulan membuat seseorang lebih cepat melakukan penghakiman bahkan tanpa melihat latar belakang yang menjelaskan suatu kejadian. Saya suka karena setiap pembahasan akan diberikan contoh kasus dengan pemaparan ringan sehingga membuat pembaca lebih mudah memahami buku ini.
Sebuah buku yang bersifat edukatif terkait dengan perihal Depresi. Dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami, dokter Jiemi menceritakan latar belakang, contoh di kehidupan sehari-hari, menjelaskan ciri khusus, bahkan hingga memberi saran kepada seorang caregiver yang perlu menghadapi dan membantu seseorang dengan Depresi untuk melalui masa masa sulitnya diiringi dengan badai, petir dan langitnya yang gelap. . Saya pribadi banyak menahan napas, sedikit tercekat, serta sesekali mual ketika membacanya karena banyak emosi familiar yang terbawa ketika membaca buku ini. Buku ini menemani saya dalam menganalisis diri saya sendiri, menemani saya diperjalanan dan menembus hari hari yang sepi. Buku ini membuka wawasan saya lebih luas lagi terkait dengan Depresi dan kesehatan mental. . Orang yang mengalami depresi membutuhkan bantuan kita. Mereka membutuhkan orang yang dapat menjadi pendengar yang baik. Untuk dapat menghadapi orang yang mengalami depresi, kita juga perlu sadar sepenuhnya akan diri kita sendiri dan tidak melupakan hakikat terhadap diri sendiri. Buku ini dapat memberikan harapan bagi orang banyak. Well done, dokter Jiemi!!🙏💯💯✨✨
Buku ini berbagi tentang perspektif depresi dari psikolog/psikiater. dibagian awal disuguhi sama banyak bgt teori yg awalnya bikin aku cukup jenuh krn isinya daging semua, kayak apa itu depresi, penyebab, faktor dll. semakin ke tengah penulis udah mulai pake bahasa yg gampang kita mengerti. secara garis besar dijelasin tentang cara berpikir orang yang punya kecenderungan depresi. banyak bgt yg dibahas di buku ini tapi satu hal yang aku inget yaitu bahwa pikiran kita tidak menentukan siapa diri kita. ketika kita melabeli diri kita "aku orang gagal" "aku tidak berharga", itu tidak sepenuhnya benar karena pikiran itu bisa jadi hanyalah asumsi kita aja bukan realitas. emgnya kita "selalu" menjadi orang gagal, manusia pasti pernah gagal dan pernah berhasil tapi tidak selalu gagal atau selalu berhasil. jadi disini kita bener-bener disadarin buat bedain asumsi sama realitas, karena kalo kita gabisa bedain keduanya kita bakal terus-terusan menyalahi diri kita sendiri. baca buku ini serasa dingertiin bgt asli, serasa konseling gratis aja sih HAHAHAHA. cukup tebal bukunya sekitar 300 halaman aku selesaiin sekitar semingguan, worth to read.
Bukunya ngebahas tentang depresi: mulai dari pengertian, penyebab, mitos-mitos, beberapa cara yg dipercaya bisa bantu nyembuhin depresi, cara berpikir mindfulness, gimana nanganin pikiran ingin bunuh diri, dan gimana cara caregiver bantu proses sembuhnya orang depresi🙌🏻
❤️Bukunya lengkap banget buat belajar tentang depresi menurut gue.
❤️Cara bukunya ditulis tuh persis banget kayak cara dr @jiemiardian ngomong, ilmiah tapi ramah dan menenangkan.
❤️Isi bukunya juga okee bgt! Mungkin beberapa orang akan ngerasa "oh ini relate bgt sih sama kondisi sekarang!"
🙏🏻Kurangnya, menurut gue bukunya rada redundant. Jadi banyak hal yang sama beberapa kali diulang. Kemungkinan besar karena emang mau nekenin hal tersebut, tapi jadi rada ngebosenin di akhir-akhir
🙏🏻Ada beberapa contoh dan penanganan masalah di contoh tersebut yg terlalu disederhanakan dan idealis menurut gue.. Padahal aslinya kayaknya complicated
🙏🏻Pembagian bullets per chapter gaada, padahal kayaknya akan lebih sistematis kalo dipoint-in hehe
Saya seorang dengan borderline personality disorder dan depresi moderat. Membaca buku ini membuka banyak cakrawala pengetahuan yang sebelumnya bahkan tidak saya sadari saya sedang mengalaminya. Bergelut dengan luka batin bertahun-tahun memanglah tidak enak, apalagi lukanya berasal dari salah satu orang terdekat.
Dokter Jiemi dalam buku ini lebih memiliki intonasi seperti dosen saya ketika menjelaskan tentang suatu bab dalam perkuliahan. Tidak menghakimi, tidak neko-neko, langsung to the point. Bab per bab dibuat untuk memahami secara sadar bagaimana depresi itu ter-develop dalam diri seseorang. Walaupun beberapa istilah dan penjelasan medis menurut saya agak sulit dipahami oleh orang-orang awan seperti saya, namun buku ini kurang lebih sudah dapat menjelaskan bagaimana cara untuk mengidentifikasi, mencegah, dan mengubah cara pandang seseorang dengan depresi. Tak hanya itu, buku ini juga memberikan petunjuk atau guidelines untuk caregiver bagi orang terdekatnya yang memiliki depresi.
Salut untuk dokter Jiemi. Salam sehat dok, terima kasih
Jika kamu berekspektasi dan mengharapkan buku ini adalah buku yang heart-warming, terasa seperti dipeluk, atapun sejenisnya, siap-siap untuk kecewa. Buku ini, bisa dibilang, lebih memberikan pengetahuan baru terkait dunia kesehatan mental terutama depresi.
Dalam buku ini, dr. Jiemi membawakan topik depresi dan dibahas secara spesifik dengan bahasa yang menurutku lebih mudah diterima oleh orang awam/non-kesehatan namun tidak menghilangkan keilmiahannya. Apa itu depresi, penyebabnya, dan bagaimana cara menghadapinya, bagaimana mengubah pola pikir penyebab depresi, semuanya dibahas secara sistematis dan jelas di buku ini.
Buku ini membantu pembaca untuk memahami perasaan, emosi, depresi, dan cara berempati pada orang yang mengalami depresi dengan melihat dari sudut pandang orang yang mengalami depresi. Namun, perlu diingat, buku ini bukanlah pedoman mutlak untuk menyembuhkan depresi. Sesuai dengan judulnya, buku ini hanya membantu untuk merawat luka batin, selebihnya tentu saja perlu konsultasi ke psikolog/psikiater.
Buku yang memuat paparan teknis tentang depresi..cukup insightful, disertai gambar dan grafik dari beberapa jurnal ilmiah. Bab paling menarik adalah bab tentang memersepsi realitas, disana kita diajak untuk membedah kebiasaan berpikir. Bab tentang mindfulness berisi tentang beberapa latihan yang mengingatkan saya tentang latihan saraf serotonin di buku 'Teknik Menghilangkan Stress dari Otak' oleh Prof. Arita Hideho. Buku ini memvalidasi kita bahwa kita bukanlah orang yang lemah jika mengalami gejala depresi, menemui psikiater dan rutin mengkonsumsi obat. Buku ini juga memuat beberapa saran tentang apa yang harus kita lakukan jika ada orang terdekat kita mengalami gejala depresi.
Overall ini buku yang bagus untuk dibaca, jangan terlalu banyak menyalahkan diri sendiri dan segera temui psikiater/psikolog jika jika mengalami gejala depresi dan jangan takut mengkonsumsi obat yang diberikan oleh psikiater, depresi bukanlah sebuah aib.
Menyelesaikan buku ini jadi tantangan tersendiri buatku karena sepanjang membaca rasanya kadang sesek di dada, kadang lega, kadang ikut berpikir. Bukunya totally bagus banget, serius. Dalam buku ini kita dipandu untuk memahami bagaimana itu depresi, termasuk di dalamnya ada panduan buat para caregiver depresi juga. Bagiku buku ini mungkin bisa jadi panduan atau screening awal tentang diri sendiri karena setelah selesai baca aku buat notes sebagai catatan kalo mau minta bantuan profesional. Tapi tentunya bukan buat self diagnosed ya. Banyak bagian dari buku ini yang jadi gentle reminder buatku, beberapa lainnya juga sekaligus tamparan tapi alus hehe, dan di beberapa bagian ngerasa dingertiin banget sama tulisan-tulisan Dok Jiemi. Meski di awal Dok Jiemi udah bilang kalo buku ini bakal deskriptif dan mungkin membosankan, somehow menurutku justru buku ini asik. Tapi memang di beberapa bagian agak bingung dan butuh waktu untuk memahami. But overall I recommend you guys to read this book!
Tadinya mau kukasih 5 bintang, tapi rasanya ada yang kurang sreg bagiku sebagai seorang introvert - atau mungkin orang yang ga nyaman dengan pesta.
Ya, ada satu contoh kasus dimana seseorang yang ga suka keramaian malah disarankan ikut ke pesta siapa tau bisa menikmatinya. Hello? Kenapa ga perlahan dari kumpul kecil-kecilan dulu sih? Aku tau ya kita perlu lah melebarkan zona nyaman, tapi ga seekstrim itu juga kali.
Oh, sama ada typo nama yang bikin puyeng.
Tapi di luar itu, buku ini oke dalam membedah masalah pikiran dan cara untuk mencegah datangnya pemikiran menyakiti diri, dsb dsb. Rekomendid!