Tentang seorang pelancong yang ingin menanam biji mawar di bibir perempuan di bawah Jembatan Lempuyangan. Seekor naga yang tersimpan di mulut perempuan, kemudian menjadi saksi akan hubungan toxic dengan kekasihnya. Sebatang pisang yang tumbuh di meja, lelaki yang tergila-gila dengan kueni, hingga lelaki yang terus-terusan mencari aroma kekasihnya. Cerita-cerita dalam Arum Manis membaurkan batas antara yang realis dan surealis, kisah berlatar rural dan urban, pertanyaan kesetiaan dan kegairahan cinta satu malam.
***
"Bayangkanlah andaikata semua orang tidak suka bergunjing, semua orang diam dengan urusannya masing-masing, dan tidak peduli terhadap urusan orang lain. Kehidupan akan sangat membosankan, tanpa gairah, tanpa warna. Karena itu, masyarakat yang suka bergunjing, memata-matai urusan orang lain, lalu menyebarkan kebobrokan orang lain ke berbagai pihak setelah dibumbui sensasi, justru dianggap masyarakat yang normal. Tampaknya masyarakat yang normal inilah incaran ketajaman imajinasi Teguh Affandi." BUDI DARMA
Penulis banyak memakai metafora tetumbuhan dalam dua puluh dua cerpen ini. Barangkali inilah yang menjadi ciri khas tulisannya. Beberapa cerpen terawal menyoroti topik yang hampir sama, yakni kehidupan bertetangga dan bermasyarakat. Perlahan-lahan, isu beralih ke hal yang lebih sensitif, yakni seksualitas dan agama. Meski beberapa cerpen sudah cukup liar, saya yakin penulis masih bisa mengekspresikan pikiran dan suara hatinya ke tingkat yang lebih sinting.
Arum Manis; Cerita Bukan Tentang Cerita Kita, oleh Teguh Affandi. Gramedia Pustaka Utama, 2022.
Kumpulan cerpen Arum Manis terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, Saya, lebih merupakan kejadian yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti kehidupan bertetangga yang tak pernah lepas dari gunjing-menggunjing. Tetapi cerita favoritku, Arum Manis, merupakan kisah manis yang berujung pahit.
Bagian kedua, Anda. Dalam bagian ini, walau masih tak lepas dari isu-isu sosial, tapi cerita-cerita dituturkan dengan bergaya satir/metaforis yang elok dan misterius. Tidak semua cerita berhasil kutafsirkan artinya, tapi tak mengapa, karena bagiku yang terpenting dalam membaca cerita semacam ini bukanlah memahami maknanya, namun kenikmatan yang kuperoleh dari gaya bertutur cerita sang penulis. Cerita favoritku terutama Tuhan Bermalam di Rumah Melly, berkisah tentang Tuhan yang bertandang ke rumah seorang pelacur yang memiliki anak yang sedang sakit. Tak hanya menyembuhkan sang anak, Tuhan bahkan menginap di rumah Melly. Hal ini membuat murka penduduk setempat, terutama Kyai Toha sang pemuka agama yang sangat dihormati penduduk desa. Anggapan mereka, Tuhan seharusnya berkunjung ke masjid, musala, atau ke rumah orang suci seperti Kyai Toha, bukan ke rumah pelacur. Penduduk desa akhirnya membakar rumah Melly agar Tuhan tak bisa lagi bertandang ke rumah pelacur. Sayangnya, mereka lupa memastikan apakah Tuhan sudah keluar dari rumah itu sebelum membakarnya…
Bagian ketiga, Dia. Dalam bagian ini, tokoh utama adalah ‘Dia’, kekasih yang tidak terjangkau. Isu terutama menyinggung orientasi seksual dan transgender, dengan cara yang sangat halus nyaris tak terbaca, sehingga aku baru paham justru di bagian akhir cerita. Ada satu cerita unik, tentang seorang kutu buku yang jatuh cinta pada sesosok manusia yang sering mengunjungi toko buku bekas tempatnya tinggal. Sang kutu terutama terpesona pada ketiak si manusia, yang dibayangkannya hangat dan lembap, tempat paling cocok untuk seekor kutu.
Beberapa cerita dalam buku ini mungkin topiknya terkesan sederhana, tidak istimewa, tapi justru terasa dekat. Aku terutama sangat suka pada gaya bercerita Teguh; bahkan dalam cerita bergaya satir pun bahasanya tetap ringan tanpa menggunakan metafor yang berlebihan. Caranya menuturkan emosi karakter-karakternya pun halus namun mengena. Secara keseluruhan, kumpulan cerpen ini memikat.
“Cinta pertama kali tumbuh dari pandangan mata lantas merasuk ke dada. Namun setelah menikah, cara jitu melanggengkan cinta adalah menguasai persoalan perut (dan sedikit di bawah perut), lantas naik dan kekal abadi dalam dada.” -hal. 13.
“Warna hijau dari pohon adalah warna harapan yang tak kunjung pupus. Mata lelah mendadak sirna melihatnya.” -hal. 73.
“Kutuklah perbuatannya. Sebagaimana pembaca tak bisa menyalahkan wartawan yang menulis berita kejahatan yang merusak suasana pagi, tapi salahkan orang jahatnya.” -hal. 82.
“…selain wajah Rio saya tertarik dengan bahu dan lipatan ketiaknya. Sebagai serangga yang menyukai hal-hal yang terimpit, saya jatuh cinta.” -hal. 110.
“…nelangsa adalah komplemen dari bahagia bila kita sedang dirundung rasa cinta.” -hal. 129.
Satu cerita dalam buku ini menyoroti seorang minoritas yang secara personal membuat saya tidak nyaman. Alih-alih mendukung (atau setidaknya memberikan kenetralan), si tokoh dibingkai buruk sehingga lebih mudah diterima oleh khalayak pembaca. Si tokoh jadi terkesan buruk, salah, dan mesti menerima akibat keji. Cukup lama saya memikirkan nasib si tokoh. Saya harus sudahi ini agar tidak terus-terusan bercokol di kepala saya. Saya lalu membuat kesimpulan sendiri bahwa mungkin memang bukan di situ isu yang ingin diangkat pengarang. Saya mungkin terlalu kritis.
Sebagian ceritanya mengambil tema keseharian yang dekat namun tragis. Hanya saja terkesan main aman dan mirip antara satu dengan yang lain karena berformat "bikin ledakan di akhir", mengingatkan saya pada teknik yang kerap dielu-elukan pada umumnya kelas-kelas menulis cerpen.
Terlepas dari itu semua, saya tetap menikmati cerita-cerita di sini. Metafora-metafora flora yang bermunculan pada beberapa cerita sepertinya menjadi ciri khas pengarang; saya baru menemukan yang seperti itu di cerpen-cerpen dalam buku ini.
Butuh setahun utk selesai baca kumcer tipis ini. Rencananya dieman-eman sampe penulis launching buku baru lagi. 🤣
Kumcer ini berisi 22 cerpen dengan beragam genre. Mayoritas tentang keseharian yg nano nano rasanya. Kebanyakan getir tapi ada juga yang manis (sedikit!)
Dari sini aku jadi sadar kalo aku makin jarang baca karya sastra sejak SMA (halo, pembaca balai pustaka!) karena memang tujuan membaca kebanyakan untuk hiburan, selain menambah informasi baru.
Pilihan kata dan metaforanya Teguh, menambah kosakata baru. Bikin pengen liat lagi catatan Bahasa Indonesia. Kumcer ini menjadi pengingat bahwa Bahasa Indonesia itu kaya.
Aku suka beberapa cerpen dengan majas personifikasi. Selebihnya cukup membuat tertegun karena Teguh mengangkat tema yang cukup berani dan bikin mikir yang iya-iya. 😆 (Tolong ya adek-adek, kumcer ini ratingnya 17+++++)
Cerpen favoritku tentu saja Arum Manis. Oh, ini bukan tentang mangga, tapi tentang Arum Manis a.k.a permen kapas yang ternyata menyimpan cerita duka seorang remaja.
Ini buku sastra yang terdiri dari 20 cerita fiksi yg menurut saya agak "Blur" untuk dipahami, sebab perlu bagi saya baca ulang maksud dari cerita yg dikisahkan oleh si penulis agar bisa paham🤭😆 Ini cerpen sastra yg mengarah pada adagium "Dulce et utile", artinya Menyenangkan sekaligus bermanfaat😃
Ada beberapa kisah pada buku ini yg bikin kita tertawa, gemes, sedih, kaget & oh ya udahlah 😅😆🤣 Si penulis mengajak kita sebagai si pengamat cerita tanpa harus ikut masuk hanyut ke dalam kisah, bisa diibaratkan Pembaca seolah sedang menyaksikan sebuah akuarium kehidupan lain yang Tidak ada kaitannya dengan kita semua 😃😘 Jadi kita bisa dgn mudah keluar dari satu cerita menuju ke cerita lain tanpa merasa melekat 🤣🤣
Ada 22 cerpen dalam kumpulan cerpen ini. Yang menarik adalah sampulnya dengan ilustrasi mangga itu. Saya pikir tadinya Arum Manis ada hubungannya dengan mangga itu, ternyata dalam cerpen yang berjudul Arum Manis bercerita tentang manisan gula pasir merah jambu. Yang menyinggung soal mangga malah dijumpai pada novel Perut Kueni.
Saya suka cerpennya. Hanya saja sebagian besar cerpen dalam buku ini rasanya kayak selesai begitu saja. Saya terkadang terkecoh dengan berharap masih ada lanjutannya, namun begitu membalik halaman sudah berpindah ke cerpen yang lain.
Saran: jangan membaca pengantar dari Budi Darma sebelum menuntaskan membaca seluruh cerpen dalam buku ini.
Sejak kenal dengan @teguhafandi di Instragram rasanya saya tidak pernah kekurangan asupan rekomendasi karya kumpulan cerpen yang bagus. Sedangkan perjumpaan lainnya lewat karya-karya sastra yang disuntingnya. Ketika kabar menggembirakan buku kumcer pertamanya akan diterbitkan, secara otomatis langsung jadi daftar teratas untuk dibeli dan dibaca. Saya menikmati kesuluruhan cerita dalam buku ini, terlihat sekali aura kesenangannya untuk bercerita sana-sini dilepaskan satu per satu. Ciri khasnya pun mewujud berupa metafora tumbuhan, binatang, benda-benda sekitar disematkan dalam kerumitan hubungan antar manusia. Bagaimana emosi dalam suatu peristiwa dimampatkan dalam beberapa halaman cerita saja.
Ketika ditanya apa buku yang jadi inspirasinya pada satu diskusi bulan lalu, jawabannya adalah Pistol Perdamaian (Kumpulan Cerpen KOMPAS 1996). Jadi paham mengapa pada beberapa cerita mengambil cuilan dari tokoh-tokoh dari cerpen sastra Indonesia terdahulu misalnya dari Suparto Brata, Seno Gumira Ajidarma dan Hamsad Rangkuti. Juga rasa tulisan maestro Budi Darma terasa pada beberapa cerpennya. Langka kecil dedikasi dan apresiasi ini yang menjadikan karya lama abadi.
Dari keseluruhan cerita, satu cerpen favorit saya adalah ‘Redian dan Kulkas Barunya’. Cerita sendu dan melankolis lewat keberadaan kulkas. Saya bisa membayangkan adegan per adegan dan rasa sesak yang ditimbulkan setelahnya. Seandainya ada sineas yang membacanya, ini adalah materi untuk film pendek yang ciamik. Untuk cerita-cerita lainnya sudah dikupas dengan cukup detail oleh Pak Budi Darma lewat Kata Pengantar di halaman depan.
Satu catatan khusus yang diberikan untuk saya sekaligus melengkapi tanda tangannya di buku adalah “bahwa cerita dan derita sungguh tipis perbedaannya”.
Derita belum akan usai, sehingga butuh cerita-cerita selanjutnya, ya.
Buku berjudul Arum Manis ini bersampul hitam gelap bergambar anatomi tubuh manusia dengan paru-paru berupa mangga arum manis. Lalu saat saya membuka halaman buku, terselip pembatas buku dengan ilustrasi jajanan kapas arum manis. Spontan sukses membuat saya menebak-nebak, arum manis mana nih yang dijadikan tema cerita?
Kemudian di bagian awal, terdapat pengantar dari penulis kesukaan saya, Budi Darma. Namun sengaja saya baca sebagai gong terakhir setelah membaca keseluruhan isi buku, supaya pikiran saya tidak terpengaruh dengan ulasan beliau.
Ada 22 cerpen yang terbagi menjadi 3 bagian : saya, anda, dia.
S A Y A Di bagian ini terdapat tujuh cerpen yang kisah-kisahnya sering saya dengar, lihat atau baca yang merupakan realita kehidupan di sekitar kita. 1. Tembok Apartemen yang Bicara Ketika Jena, anaknya menangis saat sakit, tetangga apartemennya mengetuk pintu dan membantu menenangkan. Semenjak itu mereka bersahabat, namun ternyata si tetangga hobi bergunjing. 2. Aroma Dapur Tetangga Demi penghematan, Mastur dan Denayu tinggal di rumah kontrakan yang berhimpitan dengan rumah induk pemilik kontrakan. Aroma terasi, ikan asin, dan sebagainya, dari dapur sebelah yang menusuk hidung membuat mereka sering terganggu dan jengkel. 3. Yarasia Di umurnya yang ke 46, Yarasia masih sendiri dan tak pernah berpikir untuk menikah. Maka ia cukup heran ketika Kunita menitipkan anak-anaknya padanya selama beberapa hari. 4. Peristiwa di Kedai Kopi Sembari menanti Maina, selingkuhannya disebuah kedai kopi, ia mengobrol dengan Randy, pria yang duduk sendirian didepannya. 5. Jemini dan Tuan Busu Klarten Jemini, asisten rumah tangganya akan menikah. Tuan Busu Klarten bingung, jika Jemini menikah siapa yang mengasuh anaknya nanti. 6. Arum Manis Cerpen ini pernah menjadi Juara 1 Sayembara Cerpen Majalah Femina 2014. Bercerita tentang seorang anak yang setiap hari menanti penjual arum manis lewat depan rumahnya. 7. Aroma Kenanga Dia menikahi Gisa lantaran tergila-gila dengan aroma kenanga yang ada di dadanya.
A N D A Ada 8 cerpen yang kisahnya aneh, khayal dan tentunya tidak relate dengan kehidupan di sekitar kita. Ini bagian yang penuh kejutan, seru sekali membacanya. 1. Hujan Mawar di Lempunyangan Dia membawa biji mawar dari Pasadena untuk ditanam di bibir perempuan yang ia temui di bawah Jembatan Lempuyangan. 2. Perut Kueni Setelah 4x pernikahannya gagal, Gadung menginginkan perempuan yg bisa menumbuhkan pohon kueni diperutnya dari benih-benih yang ia simpan. 3. Naga Dalam Mulut Kartika Sebelum suaminya berangkat perang ke Palestina, Kartika dititipi sang suami telur naga. Telur tersebut disimpan dalam mulutnya, lalu menetas, membesar memenuhi mulut Kartika. 4. Pohon Pisang di Meja Makan Yemima, istrinya punya permintaan aneh. Dia ingin menanam pohon pisang di meja makan. 5. Perjamuan Serigala Seusai pertunjukan terakhirnya sebagai penyanyi di kafe, Bismut bergegas menghadiri undangan perjamuan serigala di rumah Astatia. 6. Kekasih Amoeba Rayya menjuluki suaminya dengan amoeba. “Dia lihai membelah diri. Tidak setia dan melupakan keluarga.” 7. Tuhan Bermalam di Rumah Melly Ketika Nosa, anak Melly menggigil karena demam berdarah, pintu rumahnya diketuk. Melly tahu, yang mengetuk pintu itu tiada yang lain, kecuali Tuhan. 8. Kematian Calon Pengarang Meniru Roro Jonggrang yang minta seribu candi, Lucila minta dibuatkan seribu cerpen. “Kalau sudah menyelesaikan hampir seribu cerita, kamu bisa menghubungiku.”
D I A Di bagian ini terdapat 7 cerpen yang kisah-kisahnya mengenai kehidupan LGBT. Menurut saya di bagian ini ceritanya penuh drama. 1. Redian dan Kulkas Barunya Redian, mantan kekasihnya menelponnya untuk segera datang. “Tadi pagi Kibo, kucing kita mati. Aku menyimpan tubuhnya di dalam kulkas. Aku harap kamu ikut menguburkannya. Anggaplah kali ini salam terakhir.” 2. Rio Menjadi Serangga Sebagai serangga kutu buku di sebuah toko buku, ia jatuh cinta pada Rio, pengunjung tetap yang seorang manusia. Suatu hari Rio membeli buku tentang serangga, ia bahagia lalu merasakan harapan untuk dicintai Rio. 3. Batal Berangkat Kerja Dia tahu pertemuan ini beresiko, sudah sering ia bertemu dengan lelaki di aplikasi kencan yang menyodorkan harapan maya. Namun kali ini ia menawarkan untuk bertemu untuk menjawab rasa penasaran. 4. Olfaktori Dia telah mencoba menemukan aroma itu di tubuh 27 teman kencan yang dia bawa ke ranjangnya. Namun tak satupun yang memiliki aroma sama dengan aroma kekasihnya. 5. Angin Tak Dapat Membaca Pertengkaran hebat semalam membuatnya bergegas mengemas barang. Dia hanya ingin segera naik kereta api dan meninggalkan Jakarta secepatnya. 6. Hidangan Bergizi Cerpen ini pernah menjadi Juara 1 lomba cerpen Tangga Pustaka. Berkisah tentang kekecewaan Tari. Friska dan Agus yang sudah sepenuhnya ia percaya justru menghujamkan lara. “Kamu lebih memilih waria ketimbang aku, Agus!” 7. Pohon Pu Tao Tua Pohon pu tao yang berumur sama dengan Borneo ingin ditebangnya. Pohonnya sudah tua dan tidak pernah berbuah. “Percuma ayah menanam pohon ini, cuma jadi penanda kebusukanmu.” “Apa tidak menikah itu busuk, bu?”
Saya, Anda, dan Dia. Bagian inilah (mungkin) yang jadi alasan mengapa sub judul dicantumkan demikian: Cerita Bukan tentang Cerita Kita. Alenia ketiga pengantar Budi Darma barangkali membenarkan ungkapan tersebut, bahwa "pembaca berada di luar semua cerita". Di sinilah pembaca memperoleh kebebasan untuk menikmati Arum Manis ini dan berhak menyimpulkan 'rasa-nya'.
"Peristiwa di Kedai Kopi" adalah salah satu cerpen yang berhasil mengejutkan saya. Randy memulai, Nicolas mengakhiri. Simpel, padat, dan cukup mengesankan. "Arum Manis" juga tak kalah menarik. Saya dibuat menaksir kondisi Leafi setelah membaca habis halaman 41. Taktik serupa juga saya temui di "Pohon Pu Tao Tua" dan "Angin Tak Dapat Membaca". Alurnya tidak mudah diprediksi meski 'habis' di ending cerita.
Yarasia, begitulah judul cerpen sekaligus tokoh yang sukses membuat perasaan saya campur aduk. Antara gelisah, kesepian, atau marah yang tertahan. Ia mengingatkan saya dengan tokoh utama "Redian dan Kulkas Barunya" (yang jika boleh saya beri judul, "Kulkas Dua Pintu"—hanya karena tiga kata itulah yang terngiang dalam kepala setelah membaca cerpen ini). Walaupun menyandang status sosial berbeda, saya kira nasib keduanya tak jauh beda. Uniknya, Teguh Affandi kerap menggunakan sudut pandang perempuan. Inilah salah satu kelebihannya.
Sebagai pembaca yang belum banyak tahu karya-karya Teguh Affandi, saya cukup mengimani pengantar Budi Darma, "Pembaca seolah-olah menyaksikan sebuah akuarium kehidupan lain yang tidak ada kaitannya dengan kita semua. Inilah detachment: kita dalam cerpen mungkin muncul dari kehidupan kita, tapi kehidupan dalam cerpen itu sama sekali bukan kehidupan kita," begitulah kalimat penutupnya.
Tutur bahasa dan cara berceritanya itu, loh, enak sekali untuk dinikmati.
Dari awal saya sudah curiga, buku berjudul Arum Manis tapi kok sampulnya gelap begini. Mengangkat isu-isu sosial yang dekat dan akrab, mulai dari bertetangga hingga berkeluarga (pembuka dan penutup yang ciamik!), pencarian tambatan hati hingga perselingkuhan, buku ini pengingat akan banyak hal dalam hidup. Kebanyakan menyisakan rasa getir di hati dan akhir yang cukup nendang, maka bersiaplah.
Cerita-cerita awal topiknya masih hal-hal biasa saja. Bisa dinikmati secara santai seperti membaca salah satu rubrik koran. Tapi ya itu, saking enaknya dibaca, terus-terusan halaman dibuka dan tidak terasa menuju akhir. Semakin ke belakang, saya terasa semakin tegang dan semakin penasaran menghadapi cerita selanjutnya. Saya juga merasa, Mas Teguh seperti menuliskan cerita-ceritanya tanpa kesusahan saking mulusnya. Seperti teman bercerita apa adanya.
Hal yang menarik, Mas Teguh ini senang bermain simbol-simbol dan sering lewat tumbuhan. Bunga di dada dan bibir perempuan, pohon mangga di rahim, tanaman buah di meja makan. Beberapa bikin berpikir keras akan maksudnya. Sesekali bisa ditebak, juga banyak yang bikin terkejut karena tidak siap. Menyenangkan.
Saya suka sekali "Perjamuan Serigala" dan "Hidangan Bergizi" (balas dendam yang mantap!), serta "Rio Menjadi Serangga" (sedikit karena tokohnya adalah kutu buku—artian harfiah). Bonus kartu Angka Kecukupan Gudrids (AKG) dari pra pesan bukunya, ada di gambar ketiga, memudahkan saya melacak kembali perasaan-perasaan saat membacanya, dan membuat saya menggenapkan hitungan menjadi sangat suka.
Kumpulan cerita pendek macam ini, tentu bisa dibaca dengan urutan bebas. Tapi membacanya secara urut, memberikan sensasi naik turun yang mendebarkan.
Sedari membaca kisah pertama, saya sudah merasa tertampar.
Saya tersadar kembali bahwa kisah yang bagus itu tak selalu harus 'wah' ataupun bombastis. Sebuah kisah bisa tetap memikat walau sederhana dan membumi.
Hal-hal yang terjadi dalam sebagian kisah di dalam buku ini sangat dekat dengan keseharian kita. Tetangga yang usil dan genit, gosip, kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, cinta yang tak bisa memiliki, kisah kasih sesama jenis, dan hal-hal lainnya. Semuanya ada dan nyata, dan tiap kisahnya menarik untuk dinikmati.
Sebagian kisah lainnya sureal, kaya akan metafora. Sangat menarik karena sebagian besar berkaitan dengan pepohonan dan buah-buahan, Baik karakter, setting, maupun alurnya. Saya terkesan akan pengetahuan Teguh di dunia tumbuh-tumbuhan. Serta bagaimana dengan cerdas dia menggunakannya di dalam kisah-kisah di buku ini.
Secara keseluruhan, ini adalah buah karya yang luar biasa. Matang dan disajikan dengan apik. Cheers untuk buku pertamanya, Kak Teguh.
Side Note: ------------------ Terus terang saya tidak terlalu menikmati cerpen-cerpen dengan metafora tumbuhan dan buah-buahan di dalamnya. Tentu saja bukan karena kisah-kisah di dalam cerpen itu kurang menarik, juga bukan karena penokohan, setting, dan alur yang tidak solid.
Ini semata-mata karena saya tidak bisa mengenyahkan pikiran menyeramkan kala membayangkan adegan sureal yang terjadi di dalam kisah-kisah tersebut.
Meskipun saya tahu semuanya adalah simbol, tetapi membayangkan hal-hal Seperti menanam biji kueni di perut, menanam bunga di bibir, maupun menghirup aroma kenanga yang tumbuh di dada, tetap membuat bulu tengkuk saya meremang. -------------------
Ini bukan buku pertama Teguh, mungkin aku saja yang baru pertama kali membaca karyanya. Sad. Saat membeli, aku berangkat dengan ekspektasi, oke aku mau belajar menghilangkan ketidaknyamananku dengan kumcer (pendapatku pribadi saja yang merasa “dendam” karena kena tanggung para kumcer, huhuhu). Ya, ya, eeeh salah malah aku dikejutkan.
Cerita Bukan tentang Cerita Kita. Bukan tentang pembaca, ataupun penulis (yhaaa, who knows sih). Aku tertampar satu kali. Jangan berharap yaaa pembaca untuk selalu berelasi dengan suatu buku, sesekali kamu berjarak. Monggo, dipersilakan berada di luar cerita dan simpulkan sendiri, apakah kamu akan ambil pelajaran atau terusik karenanya.
Buku ini terbagi tiga bagian, pertama “Saya”: gejala sosial, privasi, kebebasan, dan relasi kelas sosial dalam kehidupan sehari-hari, with a twist. Di sini cerpen favoritku berjudul “Rumah Yarasia” tentang seorang perempuan yang memutuskan hidup sendiri dan tenang, sampai kedatangan dua anak kecil yang dititipkan padanya, mencipta riak. Bagian kedua “Anda”: analogi tumbuhan dan asosiasi bebauan yang membuat otak mediumku ini bekerja maksimal, wtf, hahaha.
Jujur, aku banyak terusik dengan bagian ketiga “Dia”, ketidaknyamanan yang sulit aku jelaskan, gejolak aneh di perut - aku menemukan perasaan sama ketika baca mayoritas cerita pada Muslisat Musang Emas - kumcer Yusi Avianto Pareanom. Ada rasa berterima kasih karena diperkenalkan pada abstaksi realita, tetapi tak sampai mau membaca ulang. Demikian, dariku reviewer suka-suka ini, rasanya ingin gabung klub baca yang mau nerima anggota gemar gibah untuk membahas banyak hal, terutama mengkaji interseksualitas di sini lebih lanjut. Ada yang mau?
Rasanya sudah lama sekali tidak membaca buku dengan jenis seperti ini, cerita pendek.
Awal membaca tidak banyak menaruh ekspektasi akan seperti apa isinya. Ternyata buku ini benar-benar diatas ekspektasiku tentang buku yang berisi cerita pendek. Sebagian besar cerita pendek di buku ini diluar pemikiran akan berakhir seperti apa, walaupun ada sebagian cerita yang terkesan gantung tapi aku cukup mengerti bahwa ada beberapa cerita yang cukup berakhir dengan seperti ini. Walaupun ada beberapa cerita yang cukup membuat aku kepikiran berhari-hari di waktu senggangku akan jadi apa akhirnya kalo nggak berhenti sampai disitu.
Setiap cerita selalu berhasil membuatku penasaran akan berakhir seperti apa tapi aku cukup bersabar untuk membaca paragraf tiap paragraf tanpa langsung melompat ke bagian akhir.
Aku suka pemilihan semua nama dalam buku ini, sepertinya bacaanku masih kurang banyak. Banyak nama-nama yang sangat asing di telingaku tapi menarik untuk diketahui.
Bacaan ringan untuk menemani di waktu sepi dan nggak perlu waktu panjang untuk memahami setiap kalimat yang disajikan di buku ini. Aku suka sekali dengan segala pemilihan diksi di buku ini. Tipe buku yang jika aku punya waktu panjang untuk membaca, tentu saja akan aku habiskan dalam sekali waktu. Buku ini seperti adiksi yang memaksa untuk cepat diselesaikan.
Pun buku fisiknya bagus, dengan cover yang menarik dan massa bukunya yang ringan untuk dibawa kemana saja.
Saya berhutang maaf pada Mas @teguhafandi. Gara-gara HP main hujan, foto yang dibuat untuk melengkapi catatan atas bukunya ikutan raib. Butuh waktu lama untuk mau mencari ide foto lagi. Padahal coretan ini sudah siap saat launching kemarin.
Banyak kisah memukau yang bisa ditemukan dalam buku ini. Tiap kisah yang disajikan, membutuhkan seni tersendiri untuk menikmatinya. Buka pikiran untuk menikmatinya. Seperti kata Budi Darman, Fiksi bisa "tidak masuk akal" karena pengaruh imajinasi pengarangnya, dan bisa juga "masuk akal" karena pengarang tidak lain adalah produk berbagai permasalahan sosial.
Jika dicermati, banyak metafora yang akan ditemui. Mas Teguh mempergunakan aneka buah dan sayuran. Bahkan pada tiap awal bagian, terdapat gambar apel, atau jeruk ya, serta pisang pada beberapa bagian.
Kelebihan lain adalah kisah yang ada dalam buku ini memiliki kemiripan dengan kehidupan sehari-hari. Mungkin tidak semua, namun bagi saya lumayan mengalami beberapa hal. Hayo tebak yang mana he he he.
Secara keseluruhan, selain membuat perasaan saya membaca naik-turun seperti roller coaster, buku ini membuat saya melanggar beberapa aturan yang saya buat sendiri untuk menikmati sebuah buku.Dimulai dengan membaca secara berurutan, padahal biasanya untuk buku jenis ini saya akan mulai membaca dari judul kisah yang diambil menjadi judul buku
Judul Buku: Arum Manis. Cerita Bukan tentang Cerita Kita Penulis: Teguh Affandi Penyunting: Mirna Yulistianti Penerbit: Gramedia ISBN: 9786020661964
Kumpulan cerpen dengan sarat metafora? Buku inilah jawabannya. Berisi 22 cerita pendek yang terbagi atas tiga bab: Saya, Anda, Dia. Penulis menyuguhkan cerita yang banyak dibalut dengan metafora flora dan fauna.
Tanpa berlebihan, metafora yang disajikan pun memberikan kebebasan kepada pembaca untuk menghadirkan sejumlah interpretasi. Penulis mampu meramu kejadian sehari-sehari , peristiwa-peristiwa nyata yang berkembang di masyarakat, dengan hikmah yang diselipkan pada setiap cerita.
Cerpen "Tembok Apartemen yang Bicara" sudah menarik pembaca untuk tenggelam bersama keresahan sang tokoh. Kepiluan Yarasia dalam cerpen yang berjudul serupa pun sangat jelas terasa. Hingga keresahan Denayu pada cerpen "Aroma Dapur Tetangga" tersaji lengkap dan menawan pada bab pertama.
Pada dua bab selanjutnya, pembaca menemukan banyak isu sosial yang diangkat secara halus. Repetitif pola metafora flora dan fauna, banyak terdapat pada bagian ini. Sebut saja cerpen " Rio Menjadi Serangga" dan "Perut Kueni".
Saya sependapat dengan kalimat Pak Budi Darma dalam kata pengantar: "Inilah detachment: kita dalam cerpen mungkin muncul dari kehidupan kita, tapi kehidupan dalam cerpen itu sama sekali bukan kehidupan kita.
Lucu sekali buku ini diawali dengan quotes dari Paman Patrick Star dalam kartun Spongebob:
jangan biarkan hatimu berjalan menjauh, kecuali pikiranmu memiliki kaki dan mengikutinya
Bukan quotes-nya, tapi tokoh-tokoh dalam kumcer ini memang sekonyol rakyat Bikini Bottoms. Aku gak paham makna sampul buku ini. Tapi itulah, semakin gak paham, semakin aku penasaran. "Arum Manis" di cover itu mangga, sementara "Arum Manis" kesukaan Leafi semacam gulali yang juga sering ada di pasar malam.
22 cerpen. Tidak sedikit. Ada nuansa hitam seperti warna sampul, tapi bukan pada gaya kepenulisannya, melainkan pada temanya. Teguh Affandi benar-benar pemuda masa kini yang gak ketinggalan berita ter-update dari mulai gosip gak penting selebriti, trending topic twitter, hingga isu-isu sosial serius.
Aku suka dengan ide Budi Darma bahwa Teguh Affandi memakai gayanya sendiri pada apa saja tema yang ia angkat. Beberapa ending cerpen mengecewakan menurutku ('mengecewakan' banyak versinya, ya). Beberapa lagi berhasil menggelitik imajiku. Yang pasti, gak butuh energi dan waktu khusus untuk menyelesaikan cerpen-cerpen ini.
aku suka beberapa yang paling depan dan paling belakang, tengahnya asdfghjkl. satuan kalimat2nya terasa terlalu compact dan penuh sama makna, untuk cerita2 yang segitu pendek dan banyak dan tak berkaitan, jadi ngga enak alurnya/untuk dibaca rasaku. tapi cerita2 di awal dan akhir terasa beda dan lebih relaks. cuma aku kecewa karna ternyata persoalan gosip cuma sedikit di awal (padahal tema ini yang kucari dari kumcer ini), sisanya seperti melenggang ke sana kemari. aku sangat ngga suka juga bagian2 yang tokohnya laki2 menjijikan (dan ini surprisingly hampir jadi mayoritas, kalau bukan memang mayoritas). aku juga lebih suka cerita2 di awal dan akhir itu karna lebih 'grounded' dan 'worldly' menurutku. banyak fokus ke senses daripada abstraksi atau metafora yang mungkin bicara soal isu2 sosial tertentu. cerita2 yang banyak disebut review lain "metatoris" bunga2 dan tanaman juga cukup painful dibaca untukku, karena bagiku cringe dan ga masook dan aku suka ga paham ini ngomongin apa. akhir kata, bab favoritku kayanya bab terakhir, "Dia...". cerita2 di sini terasa sentuhannya, dan ingin kuingat, sementara cerita2 di dua bab sebelumnya bagiku ngga. anyway i'm glad i didn't dnf it!
Setelah sekian lama, akhirnya ketemu lagi sama buku kumcer yang berbobot sekaligus menyenangkan dalam waktu yang bersamaan. Arum Manis, sungguhlah memikat hati. Tidak hanya tema yang diangkat cukup dekat dengan realita namun juga tata bahasa yang mengalir dan mudah dipahami maknanya.
Dengan tidak mengacu pada suatu tema tertentu, menjadikan Arum Manis punya banyak ragam cerita dan juga pesan moral untuk disampaikan kepada pembacanya. Dari tema-tema yang cukup sederhana seperti pedasnya gunjingan para tetangga, hingga tema-tema kompleks seperti dinamika dalam berumah tangga, keluarga yang tak selalu bersahaja, perselingkuhan dengan plot twist yang bikin geleng kepala, hingga kisah-kisah yang banyak menggunakan metafora.
Setiap cerita yang ada memiliki alur dan energi yang berbeda-beda. Tapi memiliki satu kesamaan yaitu mengisahkan keresahan manusia. Dari sekian judul favorit saya adalah tentu saja Arum Manis, dan 2 lainnya yaitu Hujan Mawar di Lempuyangan serta Hidangan Bergizi.
Dari kumcer ini, cerita yang paling saya nikmati adalah dua pertama, yaitu “Tembok Apartemen yang Bicara” dan “Aroma Dapur Tetangga”. Meskipun kedua ceritanya tidak mengambil isu baru, namun serasa hangat karena kisah yang disampaikan berelasi dengan kehidupan yang terjadi di sekitar kita. Ada juga beberapa cerita yang menggunakan metafora flora, namun tidak dapat saya sesapi dengan bergelora di dalam pikiranku.
Anyway, perkenalan saya dengan buku ini adalah ketika saya iseng membalas snapchat Instagram Mas Teguh yang berfotokan buku impor yang sedang ia tunggu sebagai self-reward atas ulang tahunnya (kalo tidak salah ya). Waktu itu saya menanyakan masalah seputar pengiriman buku dari Book Depository. Mas Teguh menjawab dengan baik semua pertanyaan saya, meskipun kami tidak saling kenal satu sama lain. Akhirnya, saya membeli buku ini sebagai bagian dari rasa terima kasih saya. 😊
Mas Teguh ini seimbang menurut saya.Beliau bisa menjaga kualitas sebagai seorang editor buku yang baik dan ternyata juga bisa membuat cerita yang baik.
Di buku pertamanya inj saya seperti bisa melihat apa yang bakal menjadi topik obrolan jika bersua dengannya. Pengamatannya terhadap orang kota. Pengalaman hidup di daerah jawa tengah yang membuat saya nostalgia. Dan tentu saja pengalamannya mengikuti seni budaya Indonesia seperti buku sastra, sinetron, bahkan iklan. Semua digarap menjadi cerita yang mengalir.
Cerita favorit saya Aroma dapur tetangga, peristiwa di kedai kopi, dan Tuhan bermalam di rumah Melly.
kumpulan cerpen yang disajikan dalam buku ini bersifat surealis yang diambil dari sesuatu yang realistis, dikemas pula dengan diksi yang cantik dan mudah dinikmati. aku suka dengan tema-tema yang dibawa dalam setiap cerpen, ada beberapa cerita yang rasanya tuh... JLEB banget. kadang kaget pula dengan bagian akhir cerita.
bagian pertama lah yang buat aku jadi tertarik dengan bagian-bagian selanjutnya, dan jujur aku senang. membaca buku yang aku beli randomly pas ke Gramedia satu ini adalah pengalaman yang cukup menyenangkan <3
Kurang lebih setuju sama pengantar yang diberikan Pak Budi Dharma. Mas Teguh kayak sedang mengambil alih lambe turah melalui kumcer ini. Dari yang rasanya dekat, sampai yang sebetulnya nggak ada hubungannya sama kita, tapi ya tetep aja nggak kepengin ketinggalan ceritanya.
Cerpen favoritku, cerpen pertama. Karena ya, perkumpulan ibu-ibu itu bagai dua mata pisau. Kadang membantu banget, kadang ya ampun kok takut sama dramanya :D
Bagian awal dan sepertiganya buku ini sebenernya nggak terlalu surprising buat gue. Tapi mencoba bertahan karena penasaran, ada nggak sih cerpennya yang bakal gue suka? Ternyata ada juga yang gue suka. Jujur, ini selera sih, tapi gue selalu suka cerpen yang bagian akhir cerpennya bener-bener bikin kaget sampe melongo yang "Hah?! Kok gini?!" gitu. Jadi dari pertengahan sampai yang akhir-akhir, gue baru menemukan cerpen yang gue suka.
Kurasa, sebagian dari cerita di buku ini misogyny dengan menempatkan perempuan hanya sbg obyek saja dan tidak diberi kesempatan untuk melawan, ditempatkan sbg pihak yg lemah dan butuh lelaki sbg savior. Altho ada beberapa cerita yg aku juga suka, seperti Batal Berangkat Kerja tentang pertemuan singkat dari 2 lelaki tapi sangat membekas dan jadi baper, juga Olfaktori yg mempersonifikasi manusia dengan kelinci yg mendamba aroma susu. Keduanya diceritakan dg luwes dan berkesan
Ternyata buku kumpulan cerita ini penuh dengan cerita menarik, terasa banget Mas Teguh ini banyak banget bahan bacaannya. Banyak isu juga yang diangkat dalam cerita-ceritanya.
Judul favorit: - Arum Manis - Perut Keuni - Naga dalam Mulut Kartika - Kekasih Amoeba - Tuhan Bermalam di Rumah Melly - Kematian Calon Pengarang - Rio Menjadi Serangga
Metafora fauna dan floranya asyik, nggak terkesan memaksakkan bahasa. Topik soal gosip dan masyarakat urban juga kerasa segar, walau sebetulnya bukan hal baru dalam cerita-cerita penulis lain.