Kota Hwayang yang adem ayem mendadak kacau setelah wabah mata merah menyerang. Satu kota di-lockdown, imbauan untuk stay at home, orang-orang pada panic buying, jam malam, dalam sepekan satu rumah sakit harus ditutup karena nggak sanggup lagi menampung pasien. Sampai akhirnya, tenaga medis semakin berkurang karena banyak yang terinfeksi, dan pasien pun dirawat di satu-satunya rumah sakit rujukan yang tadinya adalah gedung pusat olahraga.
Terdengar familier?
Aku masih nggak percaya kalau novel ini ternyata terbit pertama kali tahun 2013. Kukira ini berangkat dari situasi pandemi Covid-19 dong. Soalnya tiap-tiap kejadiannya benar-benar relate. Hanya saja, wabah di sini lebih horor dan tingkat kematiannya 100% (?)
Dua kata untuk yang menurutku mewakili buku ini: horor dan tragis. Beberapa kali aku pengin berhenti merasa nggak sanggup baca karena. Tapi dengan buku ini juga, fix, JYJ kujadikan salah satu penulis autobuy-ku. Horor, karena banyak gambaran penyiksaan anjing. Bagian inilah yang paling bikin aku pengin berhenti baca 😭 Sadis, karena buku ini menggambarkan dengan gamblang kekacauan sebuah kota saat harapan mulai hilang. Sebagian besar warga mati karena wabah, yang nggak kena wabah juga mati karena saling bunuh, dibunuh aparat, digigit anjing yang kelaparan karena ditelantarkan, dll. Ngilu kalau dipikirkan.
Aku selalu suka cara penulis mendeskripsikan sesuatu. Sangat detail, tapi bukan detail yang ngebosenin gitu (menurutku ada penulisan detail yang terasa ngebosenin, dan uniknya, aku merasakan itu waktu pertama baca buku JYJ, Tujuh Tahun Kegelapan). Di novel ini ada banyal sudut pandang: Seo Jae-Hyong (mantan atlet kereta salju yang jadi dokter hewan dan isi pikirannya cuma gimana nyelametin anjing-anjingnya😭), Kim Yun Ju (reporter sembrono yang menerbitkan tulisan ngawur tanpa konfirmasi kepada narasumber dan akhirnya menyesali tindakan itu), Park Dong-Hae (psikopat gila nyeremin), Su-Jin (perawat yang sejak awal merawat korban wabah--kayaknya dia sendiri kebal dengan virusnya), Han Ki-Jun (Ketua tim 119 yang wara-wiri ngangkut korban dan kayaknya juga kebal), Ringgo (anjing keturunan serigala yang hidup tanpa tujuan sampai akhirnya dia jatuh cinta pada Star--lupa dia anjing jenis apa. Alaskan Malamute?)
Mungkin karena tokohnya banyak, penulis nggak bisa terlalu masuk secara emosional dan mendalam ke masing-masingnya, kayak di buku The Good Son--gila, di buku itu aku ngerasa dipaksa berpikir sebagai psikopat. Tapi menurutku tetap bisa menyampaikan pemikiran dan karakter masing-masing tokohnya sih. Ada review yang bilang kalau buku ini lebih kayak format film. Menurutku itu akan jadi masalah kalau ceritanya nggak bisa tersampaikan dengan baik. Nah, kalau di buku ini menurutku nggak masalah, karena meski kayak format film, ceritanya tersampaikan dengan baik.
((Spoiler))
Sampai di akhir buku, wabah mata merah nggak pernah terjelaskan itu apa, bagaimana, dan solusinya apa. Awalnya aku agak terganggu dengan ini, tapi setelah kupikir-pikir, mungkin memang bukan itu yang pengin disampaikan oleh penulis, melainkan lebih ke bagaimana sebuah wabah bisa mencabut struktur dalam masyarakat, ketidaktahuan, kengerian, kemarahan, yang akhirnya membuat manusia kehilangan sisi manusianya. Jadi lebih ke efeknya gitu.
Intinya sih, terlepas dari rasa ngerinya, aku sungguh menikmati buku ini. Semoga penulis sehat selalu dan terus mengeluarkan buku-buku baru.