Perjalanan sejarah Islam di Indonesia, selama lebih setengah abad Indonesia merdeka adalah merupakan hal yang tidak dapat dilupakan begitu saja oleh umat Islam khususnya dan mereka yang berkepentingan terhadap Islam sendiri.
Dimasa lalu dua regim yang pernah berkuasa di Indonesia, Orde Lama dan Orde Baru telah memperlakukan Islam tidak sebagaimana mestinya dengan melakukan tekanan, rekayasa negatif, serta menganalisasi dan menjadikan umat Islam yang mayoritas sebagai golongan ekstrim dan subversif. Bila sesekali ada upaya mendekati segolongan dari umat itu, tiada lain hanya bersifat sementara atau untuk maksud-maksud tertentu. Tumbangnya kedua regim yang pernah berkuasa di Indonesia itu, adalah merupakan akibat yang ditimbulkan oleh mereka sendiri, karena mabuk kekuasaan, korup dan perlawanan dari umat Islam menuntut tegaknya keadilan.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan HAMKA yang pernah dimuat di Majalah Panji Masyarakat periode 1967-1981, yang dikenal dengan rubrik Dari Hati Ke Hati. Prinsip Istiqamah dalam kehidupannya melatari pemikiran HAMKA dalam menyikapi segala permasalahan politik, sosial, agama yang terjadi di era tersebut, melalui tulisan-tulisannya ini. Ungkapan bijak yang mengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik, menjadi alas an utama penerbitan buku ini. Dengan harapan agar dapat mengambil manfaat dari pendahulu yang memiliki sikap istiqamah dalam penegakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, known as Hamka (born in Maninjau, West Sumatra February 17, 1908 - July 24, 1981) was a prominent Indonesian author, ulema and politician. His father, syekh Abdul Karim Amrullah, known as Haji Rasul, led and inspired the reform movement in Sumatra. In 1970's, Hamka was the leader of Majelis Ulama Indonesia, the biggest Muslim organizations in Indonesia beside Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah. In the Dutch colonial era, Hamka was the chief editor of Indonesian magazines, such as Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, and Gema Islam.
Buya Hamka adalah barometer Indonesia pada masa hidupnya. Membaca buku yang satu ini bagaikan membuka kembali lembaran-lembaran sejarah kehidupan di negeri ini dan memandangnya dari kaca mata Islam. Ada kerusuhan SARA di Makassar, ada kongres umat beragama, ada pemaksaan tafsir Pancasila yang sekuler, ada kemunafikan berbalut toleransi, dan seterusnya. Semua peristiwa itu direkam dalam tulisan-tulisan Buya Hamka yang diterbitkan secara teratur dalam Majalah Panji Masyarakat.
Buku ini mampu memukau kita dengan keluasan wawasan dan kedalaman ilmu penulisnya. Buya Hamka adalah teladan bagi umat Muslim Indonesia pada jamannya, namun ia tidak pernah berdiri jauh dari umat. Sebaliknya, justru semua orang merasa dekat dan mudah menjangkau dirinya, sehingga tepatlah sebutan 'Buya' baginya. Orang banyak mengadukan masalah dan meminta fatwa darinya. Itulah sebabnya beliau bisa dianggap sebagai barometer Indonesia. Nikmatilah sejarah dari catatan-catatan beliau ini.
buku ini mengingatkan saya bahwa jika seseorang yang shalih, berilmu, dan mencintai bangsanya dengan memberi kontribusi nyata, maka ia akan mampu memberi nasihat pada generasi selanjutnya atas apa yang terjadi dan kita hadapi hari ini. jika ditanya tentang Indonesia dan muslim negarawan, maka Buya Hamka adalah salah satu orang pertama yang selalu muncul di benak saya.
Sejarah berulang, membaca catatan Buya Hamka yg satu ini, rasa-rasanya Indonesia hanya seperti mengulang sejarah sekian tahun yang lalu.. buku ini sangat recommended untuk semua kalangan yg sedang berusaha menjadi seorang negarawan
Ternyata, sejarah yang berulang itu berada dalam satu kitaran yang sama. Hanya aktor dan masa itu sahaja berbeda. Terima kasih kepada HAMKA di atas peringatan dan penceritaan yang dibangkitkan di dalam karya ini.