Oktober 1994, Taliban, kelompok yang dianggap menyuarakan islam radikal, mengkampanyekan pergerakan mereka dan mulai menyerang kompleks Persatuan Bangsa-Bangsa di Afghanistan. Tiga tahun setelahnya berlanjut dengan perang antara Afghanistan dan Pakistan sehingga memunculkan konflik terutama di daerah perbatasan antara Pakistan dan Afghanistan. Berlanjut lagi ke tragedi 11 September 2001 yang memicu konfilk lebih besar lagi antara Amerika dan Afghanistan. Bertahun-tahun. Beribu korban. Desingan senjata dimana-mana. Yang terpikir hanyalah bagaimana menyelamatkan nyawa diri sendiri dan keluarga.
Di tengah-tengah masa suram itu, Greg Mortenson tersesat dan hampir menjemput maut dalam perjalanan pendakian K2, puncak tertinggi kedua di dunia di pegunungan Karakoram, Pakistan. Greg sempat terdampar di sebuah desa bernama Korphe. Disana, ia tinggal di rumah kepala desa bernama Haji Ali, dan dijamu dengan sangat baik. Ketika ia berjalan-jalan ke sekitar desa itu, di sepetak tanah terbuka ia menemukan sekelompok anak-anak yang menulis dengan ranting yang dicelup dengan lumpur ke sebuah papan. Ada juga yang langsung menggores-gores ranting di tanah. Guru yang datang tiga minggu sekali dan berbagi dengan desa tetangga. Menerima kenyataan itu dan membandingkan dengan pendidikan yang ada di negaranya, Greg bertekad untuk membangun sekolah di desa itu. Bahkan di kemudian hari, dari mimpi kecilnya yang hanya membangun sekolah di desa kecil bernama Korphe, tantangannya berlanjut untuk mendirikan sekolah-sekolah di wilayah perbatasan yang dirundung konflik.
Membangun sebuah sekolah dan sistem pendidikan di daerah-daerah konflik dan perbatasan bukanlah suatu hal yang mudah. Pengalaman Greg mengajarkan bahwa jika kita punya mimpi untuk membangun sebuah sekolah tidak semerta-merta kita datang ke tempat itu dan membangun sekolahnya. Bahkan, ia terkoneksi dengan segala hal dan faktor yang ada di lingkungan daerah itu. Mulai dari budaya, keadaan lokasi, nilai-nilai sosial. Greg pun di awal, sebelum membangun sekolah, ia dituntut harus membangun jembatan sebagai akses yang mempermudah menuju ke lokasi. Tentu saja, satu hal yang paling penting adalah dana. Greg harus kembali ke negara asalnya dahulu, mati-matian mencari dana untuk kehidupan pribadinya sendiri dan mimpinya membangun sekolah. Greg pun harus berkali-kali berhadapan dengan kelompok-kelompok radikal yang bisa saja mengancam nyawanya.
Tapi, menurutku, sepertinya Tuan Greg kurang tepat memberikan judul bukunya. Tadinya aku mengira "Amira dan Three Cups of tea" menceritakan kisah perjalanan Amira mungkin dari kecil sampai ia dewasa dalam mengikuti perjalanan Bapaknya untuk membangun sekolah di perbatasan. Tapi kenyataannya, sang Amira yang kutunggu-tunggu tidak juga muncul sampai pertengahan buku ketika Amira lahir itupun hanya diceritakan dengan porsi sedikit. Walaupun di akhir ada dialog tanya jawab dengan Amira, tapi bisa dibilang sudah di luar cerita dari bukunya.