Hanya gara-gara kesalahan kecil, Uji dipecat dari kantornya yang mentereng bahkan sebelum masa percobaannya selesai. Kini Uji tidak punya sumber pendapatan selain jasa desain lepas di Twitter. Masalahnya, permintaan klien kerap kali ajaib, mulai dari minta selesai satu malam sampai minta harga teman, padahal nggak kenal. Beruntung Uji punya dua teman yang suportif, Julian dan Boshi. Mengikuti jejak Uji, dua cowok tersebut keluar dari kantor mereka demi mengejar mimpi baru: buka usaha social media strategist bareng. Begitulah MercusuArt lahir. Namun, usaha ini mengundang masalah baru. Seperti biasa, banyak klien minta harga teman. Pertemanan mereka diuji karena buka usaha bareng menyebabkan mereka sering bergesekan. Pandemi membuat MercusuArt terancam layu sebelum berkembang. Belum lagi orangtua Uji kurang sreg melihat putri mereka tidak kerja kantoran. Akankah Uji terbebas dari jebakan harga teman sambil tetap mempertahankan persahabatannya?
Debora Danisa adalah penulis pemula kelahiran Juli 1994 yang mengandung komposisi: - Ambivert - Nokturnal - Strong di luar, soft di dalam - Overthinking malam-malam - Banyak makan tapi tetap kurus - Penggemar musik multigenre
Selain menulis cerita fiksi, sehari-hari ia dikejar deadline menulis berita faktual di media massa. Tak perlu mencarinya di berita-berita yang Anda baca. Cukup mampir ke akun Instagram-nya: @deboranulis
Anjenglah... Kalau ngikutin kata-kata Uji yang kasar dan nggak ada sopan-sopannya, ya komentar gue kayak gitu doang. Haha.
Kurang lebih masih sama seperti yang ada di sini -> https://www.instagram.com/p/Ce-dPiYv3yJ/, tapi gue mau nambahin beberapa poin lainnya. Di Instagram, caption nggak bisa panjang-panjang. Jadi, tambahan informasi ulasan buku ini, ada di sini yak.
Okeh, selain nilai plus dari kedalaman masing-masing karakternya yang beneran kayak semua itu punya peran penting dalam kehidupan Uji, gue suka sama kedalaman konfliknya juga. Konflik batin seseorang di masa krisis seperempat abad itu macem-macem, salah satunya adalah kayak judul bab dua (apa tiga ya? gue lupa) yang bunyinya, "Nggak mau pulang, maunya di kota." Itu relate banget sama gue dan mungkin sama perantau lainnya. Perantau kayak gue, nggak akan mau pulang sebelum sukses. Meskipun kadang harus nahan perih kurang makan karena sebenarnya udah gak punya kerjaan di Jakarta. Baru dipecat, baru resign, atau emang nganggur aja. Wkwkwk.
Semua konflik anak rantau itu, juga alasan rantau mungkin karena kabur dari "berisiknya" orang tua di rumah, sangat RELATE, setidaknya dengan gue.
Gue juga suka cara Debora meramu percintaan yang sebenarnya bisa dibikin sederhana, tapi bakat-bakat overthinking para tokoh ini yang membuat semuanya ribet. Juga dinamika kehidupan percintaan orang kaya yang kelihatannya apa aja mudah, bisa dibikin susah juga. Ternyata memang semua orang punya batas privilese mereka tersendiri. Cewek kaya, ternyata simpanan om-om, padahal dia bisa aja mau cari orang lain. Orang yang biasa aja, temenan sama dua cowok dan terlibat hubungan platonik, eh sebenarnya ada baper-bapernya.
Intinya, ini novel yang penuh banget. Selain karena tebalnya 400 halaman, isinya juga sarat makna dan tetap nggak membosankan. Narasinya nggak kering, nggak kaku, bahkan cenderung dekat dengan kehidupan sehari-hari. Gue sampai suka berkecil hati dan berkecil diri, karena merasa bahwa tulisan gue sendiri malah kadang-kadang masih kering. Gue ingin sebebas Debora dalam MetroPop ini.
Karakternya nggak ada yang gue benci sama sekali, kecuali Adam sih. Dia sok misterius hahaha. Namun, melihat gimana cara Debora membangun tokoh Adam, ya gue maklum aja. Namanya juga anak senja puitis doyan kopi kayaknya. Kebanyakan emang begitu, sok-sok idle, sok anonim. :)) Wajar kok dan memang ada, walau terus akhirnya dia bukan favorit gue.
Favorit gue tetap Julian dan Boshi. Sebagai cowok-cowok, mereka ngehargain dan sayang banget sama Uji sebagai sahabat. Gue soalnya pernah ngerasa nyaman banget sama persahabatan dengan cowok-cowok, yang kadang bisa jujur banget kalau kasih komentar atas curhat dan bikin gue membuka mata.
Konflik dengan keluarga pun dibuat sederhana, tapi tetap membuat kita merasa "senasib". Gue nggak tahu kalau kalian, tapi gue pribadi sih senasib sama Uji.
Banyak lelucon-lelucon yang bukan ngelucu sebenarnya, tapi itu muncul dari kejadian sehari-hari yang bikin gue ketawa. Kayak Uji cepirit, atau Uji kampung foto-foto depan neon box BTS gede di MRT, dan sejuta keanehan Uji lainnya. Dia bener-bener cewek yang nyata, bukan yang MetroPop-nya barang branded mulu. Dia kayak kita-kita yang suka ngehalu. Makanya gue suka.
Terlepas dari masalah masih nemuin beberapa typo, gue sih nggak masalah. Toh, gue lancar aja pas membacanya. Malahan 400 halaman jadi nggak kerasa. Gue sampai bingung pas udah kelar baca, aduh bisa banget ini 400 halaman nyeritain macem-macem tapi kita nggak merasa mual setelahnya.
Keren lah.
Rating 4.8 tapi gue bulatin ke 5 (abisnya ga bisa pas). Wkwkwk. Semangat, Debora! Gue tunggu karya-karya selanjutnya yang sesegar ini.
Kalau disuruh nyari apa yang seharusnya nggak aku suka dari buku ini, lumayan banyak. Misalnya, endingnya. Sebenernya aku suka inti endingnya, tapi aku nggak suka proses menuju ke inti ending ini. Terlalu bertele-tele, sekaligus terburu-buru, dan jadinya telling (ya mungkin udah 400 hal juga sih). Terus, aku juga nggak paham sama relationship Uji-Adam itu. Kenapa tiba-tiba Uji mikir Adam terlalu baik buat dia. Aku nangkep sih maksudnya Uji, cuma aku nggak habis pikir aja kenapa dia mikir begitu. Gimanapun alasannya, Adam ini kan udah ...... (baca sendiri aja deh). Jadi menurutku si Adam ini agak gaslighting juga. Terus ada juga bagian-bagian yang menurutku kurang penting dan nggak ngaruh sama perkembangan cerita (contohnya yang bagian laporan tentang keluarga Uji. Aku paham di sini keluarga jadi poin penting juga, tapi menurutku bagian itu nggak ada pun gak ada pengaruh apa2). Oh ya, aku juga agak nggak sreg dengan pergantian sudut pandangnya. Awalnya kukira ini konsisten POV 3 dari sisi Uji. Eh tiba-tiba muncul dari sisi Julian, Boshi, Sunny, dengan kadar yang nggak imbang.
Tapi, so what? Aku nggak peduli. HAHAHAHAHA
Hal-hal di atas ternyata nggak mengurangi keasyikanku baca novel ini. 400 halaman kubaca pelan-pelan dan kunikmati setiap bagiannya. Mulai dari dunia kerjanya (ini paling seru sih), karater Uji yang manusiawi ngenesnya (di bagian-bagian awal itu aku ikut nyesek sih, dan paham kenapa Uji pilih menarik diri dari dunianya alias left grup), tarik ulur perasaan Uji-Julian (lumayan bikin kupu-kupu di perut nih), interaksi trio Julian-Uji-Boshi (hahahhaa lucu bangeett mereka tuuuhhh), side story Boshi dan Sunny (meski aku gak suka perubahan sisi POV yang terkesan gak imbang, aku tetap menikmati kisah sahabat Uji ini kok), penokohan ketiga orang itu (I really love it. Gimana penulis menggambarkan Uji, Julian, dan Boshi yang meskipun sering main ke night club dan mabuy, tapi mereka juga ibadah dan saling ngingetin satu sama lain. Bukannya apa-apa, ini manusiawi banget karena aku punya beberapa temen yang kayak mereka 🤣🤣), gaya penceritaannya (lumayan mengalir, lincah, dan mengundang tawa).
Karakter Uji menurutku cukup konsisten sampai akhir. Labil, minderan, dan hati-hati banget. Oh ya, Uji bukan sosok cewek impulsif dan sembrono. Karakter Julian ... yah, so-so lah. Tipe karakter utama pada umumnya. Aku justru paling tertarik sama karakter Boshi, dedek unyu, si cowok batak yang lembut 😍
Anyway, meski aku suka interaksi Uji-Julian, menurutku chemistry mereka itu kurang. Gimana yaa .... Seru sih, tapi aku nggak menangkap sesuatu yang lebih spesial dari interaksi Uji-Julian daripada Uji-Boshi. Yaah mungkin karena mereka emang sahabatan deket banget bertiga sih. Tapi perjalanan Uji-Julian tetep bikin gemes kok.
Kesimpulan. Recommended!
P.S. Tiga buku terakhir yang kubaca jebolan gwp (kalo gak salah sih), dan ketiga-ketiganya menyenangkan. Jadi pengin main ke sana nih😁
Mixed feeling kelarin buku ini. Aku suka sama cara penulis bikin emosi karakternya nggak datar-datar aja, apalagi banyak drama. Kayak bagian Uji yang diplesetin jadi acara-acara TV lokal. Lucu aja (dan variatif) gitu.
Awal-awal baca berasa nonton drakor heuheuheu. Terus mengenai harga teman itu sendiri. Ya, gemes sih kalau ada yang nawar dagangan kita (jasa include) nggak pakai mikir harganya, apalagi pakai embel-embel, "Harga teman." Ughhh! Cuman, lucunya lagi, kadang suka nggak sadar nggak mau dimintai harga teman, tapi beli bahan baku (misalkan) nawarnya juga bawa2 harga teman xD
Buku ini seru, sih, mau dibilang bisa dibaca sekali duduk, tapi halamannya 400 banget hiks. Isinya tapi ringan, cocok buat selingan. Ada beberapa hal yang sangat aku sayangkan. Pertama, pelanggaran pov atau pergantian "kepala". Serius, aku nggak mau jadi cerewet soal ini dan lagi, kenapa harus protes kalau bisa dapat banyak insight dari semua karakter? Yah, itu pertanyaan yang nggak bisa kujawab di satu sesi, tapi yang pasti perpindahan pov gini bikin aku pusing huhu. Awalnya kukira bakal fokus ke Uji, terus mendadak melesat ke Boshi. Kupikir, okelah, aku tertarik juga sama latar belakang keluarga masing2, apalagi hubungan Boshi sama temannya Uji 👀
Kedua, bagian Uji angkat telepon dari pelanggan di apartemen sarang jantan itu. Apa dia nyalain loudspeaker? Kenapa Boshi bisa tahu apa yang diomongin sama pelanggan resenya Uji itu? Apa Uji nyeritain lagi sama 2 sahabatnya? Mungkin aku yang kurang fokus atau bagian penjelasan itu kelewat. Ketiga, ada beberapa bagian yang perpindahan latarnya kurang smooth gitu, tapi ora opo2, aku tetap paham 👍🏻
Keempat, alasan lain mixed feeling-ku adalah alasan Uji keluar grup sampai disamperin ke Dieng. Nggak tau, rasanya agak aneh bin ajaib aja, hiks. Mana endingnya dia tetep nggak bisa bertahan. Kelima, closure Uji sama Adam itu ... aduh nggak ngerti daku. Adam bukannya udah pacaran sama si cewek-entah-siapa-itu? I mean, pas ketemu Julian manggilnya, "Yang." Terus ngakunya cuma punya perasaan doang lagi, aduh 😭 mana sempat minta vi-ci-es. Oke kalau Uji memang memaafkan, tapi dia bisa tahan nggak ngamuk atau marah besar ke Adam, lho, huhu, sabarmu gede banget, Ji!
Terakhir, endingnya emang merasa dikebut, sih. Enggak kaget kalau akhirnya mereka barengan, tapi aku cuma menyayangkan kenapa bagian ter-epic (a.k.a pas Julian akhirnya bertekuk lutut) di-skip 🙈 kayaknya ini kebanyakan fokus jadi pas sampai akhir nggak merasa lega karena ketemu ujungnya, tapi lega karena akhirnya selesai baca. Astaga, kayaknya rewel banget daku jadi pembaca. Ampun penulis 🙏🏻
Beberapa bagian ini relatable parah, soal qlc, terus Uji yang merasa 2 temennya bales singkat2 tapi langsung sadar kalau mereka sibuk (dan dia kan pengangguran), sama waktu Sunny dikenalin ke 2 jantan. Duh, kepengin peluk dia. Kamu hebat bisa lewatin itu semua, Ji!
Aku mau appreciate penulis yang udah bikin buku setebal dan konflik sebanyak ini. Also, halo, Mbak Carat! Bangga sekali ada Sebong's things nyempil di buku ini <3
This entire review has been hidden because of spoilers.
Uji dipecat dari kantornya hanya karena salah pasang logo partai pada layout profil. Belum cukup setahun bekerja sebagai desainer grafis, Uji jadi pengangguran. Akhirnya Uji mengandalkan open comission di akun twitternya. Tapi klien yang masuk kebanyakan minta harga yang murah alias harga teman. Setidaknya ada satu klien yang bisa menghibur sekaligus menghargai kerja kerasnya. Adam, cowok yang menjadi kliennya itu, sepertinya potensial juga dijadikan calon pacar Uji.
Julian dan Boshi, kedua sahabat sekaligus mantan rekan kerjanya, akhirnya memutuskan untuk resign dan mendirikan usaha Social Media Specialist. Mereka mengajak Uji bergabung. Lahirlah MercusuArt yang menolong Uji untuk tetap bertahan hidup di Jakarta. Meski orangtuanya sudah memintanya pulang kampung, masih banyak mimpi di Jakarta yang belum dipenuhi Uji. Sayangnya, pandemi covid datang dan menghantam MercusuArt.
Novel debutan ini menarik karena menyorot tentang bagaimana pekerja kreatif di Ibukota yang berusaha bertahan di masa sulit pandemi. Bukan hanya itu, novel ini seakan mau menjelaskan perjuangan menjadi pekerja kreatif yang sering dipandang sebelah mata oleh kebanyakan pengguna jasa mereka. Uji, Boshi dan Julian mewakili pekerja kreatif itu.
Saya suka dengan karakter Uji. Tidak seperti tokoh sentral novel metropop yang biasanya digambarkan sebagai wanita urban yang tangguh, Uji adalah gambaran pekerja wanita urban dengan segala kekurangannya. Ngekost di tempat yang lumayan jauh dari kantor demi harga terjangkau, nasib jomlo dari lahir di usia seperempat abad, juga dengan otak yang selalu overthinking menghadapi segala persoalan.
Kemudian ada kisah cinta Uji dan Julian yang terdistraksi oleh kehadiran Adam dan deretan wanita mantan Julian. Ditambah bumbu kisah Boshi dan Sunny. Romansanya pas, ga berlebihan, tapi tetap terasa manis.
Ohya, novel ini juga ada komedinya. Persahabatan trio MercusuArt yang selalu membuat tertawa, juga kebanyolan keluarga Uji. Kalau ada yang agak ganggu sih adegan ala-ala kuis Family 100 itu. Tapi ya mungkin memang buat lucu-lucuan aja sih.
“Oh nggak free ya? Katanya freelance, harusnya kan free. Gratis.”
“Kadang dibayar minuman atau voucher doang. Paling sedih cuma dibayar gomawo saranghaeyo.”
Jadi pekerja kreatif kelihatannya emang masih sering dipandang sebelah mata di Indonesia. Sialnya, Uji salah satu yang udah khatam beratnya kehidupan bekerja di bidang design. Berawal dari kesalahan "kecil" namun fatal lupa ngedit logo partai di baju salah satu kader dan udah keburu naik cetak, Uji harus ngucapin selamat tinggal ke statusnya sebagai budak kaporat profesional.
Mengisi waktu luang—dan demi memenuhi kebutuhan hidup agar tidak disuruh pulang ke gunung, Uji pun jadi freelance nyediain jasa design yang seringnya dapat klien dedek dedek gomawo saranghae di Twitter. Untungnya, kedua temannya dari perusahaan sebelumnya, Boshi dan Julian, mengajaknya merintis MercusuArt, but little did she know, sebenarnya Uji perlu mempertanyakan apakah pilihannya ini masih bisa dikatakan untung atau malah buntung.
***
THIS BOOK IS TOTALLY A SITCOM!!! 😂
Melihat gimana hidup Uji, ngebuat aku mikir kayaknya ini yang namanya quarter life crisis. Tiba-tiba kehilangan pekerjaan, tiba-tiba merasa udah beda jalan sama teman, tiba-tiba merasa kesepian, tiba-tiba mempertanyakan what we do for a living ini beneran bisa diandalkan kah.
Sekalinya ada koneksi, bukannya bantu dapat posisi di tempat kerja baru, malah nutup pintu rezeki. Tapi uniknya, ngelihat hal itu semua terjadi di hidup Uji dalam kedipan mata, perasaan kasihan sih ada, tapi bawaannya kayak nonton sitkom pengen ketawa aja, soalnya dia ngelaluinnya juga ya misuh-misuh sih iya tapi masih dibungkus sama guyonan yang Uji banget deh, natural aja gitu nggak berusaha ngelucu tapi emang lucu aja jadinya 🤣
Berada di lini metropop, Harga Teman nggak lantas menyajikan kehidupan glamor tokoh utama pada para pembacanya, jutsru pembaca yang ngerasain kehidupan rantau bakalan merasa dekat dengan keseharian Uji. Apalagi Harga Teman mengambil timeline sebelum dan setelah pandemi terjadi. Aku waktu baca tuh beneran flashback gimana paniknya kita saat dunia dipaksa mengalami penyesuaian secara serentak karena pandemi kemarin. Mulai dari panic buying, parnoan dikit-dikit cuci tangan, mau ke mana-mana mesti ribet ngurus segala macam izin, sampai yang anak rantau disuruh balik kampung dulu sama orangtua. Semua memori itu masih melekat banget dalam ingatan tapi tanpa kita sadari, itu udah tiga tahun yang lalu lho. Aku suka aja gimana penulis memasukkan kondisi ini di ceritanya, seakan jadi tribute bahwa we've been there dan kita udah ngelaluin itu.
Kembali pada judulnya, Harga Teman: Design, Resign, Redesign mengantarkan kita pada curahan hati atau pengalaman-pengalaman Uji yang pasti udah sering juga kejadian di teman-teman yang ahli dalam bidang desain kreatifitas visual. Mulai dari diminta buatin desain tapi mintanya besok udah jadi, minta revisi tapi seakan-akan kerjainnya cuma satu kedipan mata udah bisa selesai, sampai yang minta "harga teman" dengan kedok "ah gitu aja kan gampang". Uji tuh sampai punya list 8 jenis klien versi dia! 😂 Interaksi Uji dengan klien-kliennya nih lucu-lucu banget, apalagi kalo udah ketemu dedek dedek gomawo saranghae, seperti yang kubilang tadi ya buku ini emang aslinya sitkom kehidupan Uji aja, yang paling lucu kalo Uji udah mulai kpopers deh, dari mulai ngegalau pakai Ulgo Shipji Ana sampai ngaku-ngaku jadi jodoh Jimin.
Baca buku ini ngebuat aku sering soudzon, segala hampir semua tokoh aku mau soudzonin karena semuanya mencurigakan aja gitu, mencurigakan yang takut aja tahu-tahu mereka bikin kecewa 😂. Aku suka banget relationship antara Uji-Boshi-Julian, tipikal friendship where they can lean on to each other. Tapi yang nggak aku suka tuh karakter Adam, sejak awal penulis nggak bikin karakter yang stabil dan Uji juga seakan-akan cepet banget nerima kehadiran dia. Terus aku juga merasa sedikit annoyed dengan karakternya Edi—sorry not sorry.
Overall, Harga Teman ini cocok banget buat kalian yang lagi pengen bacaan ringan, nggak kaku dan bisa naikin mood. Ini pertama kalinya aku baca karya penulis ini (pilihnya random pula bermodal lagi kangen baca metropop terus milih ini karena judul dan covernya), tapi setelahnya aku mutusin bakalan nungguin karya-karya Debora Danisa selanjutnya.
Yaampuuun di luar dugaan banget ternyta seru bukunya, wkwkw. Awalnya iseng-iseng aja baca karena ternyta buku ini bisa kubaca di GD, terus pas baca satu chapter malah keterusan, wkwkwk.
•Pros:
1. Suka bangeeeet sama cerita yang relate kayak gini. Tentang Uji yang galau karena abis dipecat, yang minder sama kesuksesan temen-temennya, keinginan-keinginan Uji. Rasanya baca ini kek mengungkapkan kalau, nggak semua orang yang kerja di ibukota itu kaya raya, wkwk. Ada orang-orang kayak Uji-Julian-Boshi juga. Terus ceritanya kocak banget. Aku tuh ketawa terus baca ini. Apalagi kelakuan trio ini yang bikin ngakak banget.
2. Aku juga suka pertemanan trio ini. Dinamika mereka, mereka yang beda-beda tapi sama. Jokes mereka yang receh tapi tetep bikin ngakak.
3. Aku juga suka sama karakterisasi Uji. Gimana perubahan dia, gimana akhirnya dia tahu apa yang dia mau. Kayak, aku nemenin perjalanan Uji aja gitu. Dan semuanya tercover dengan baik, sih menurutku. Mulai dari masalah dia sendiri, masalah keluarganya yang sebenernya simpel dan banyak ditemui dan banyak dirasakan semua orang. Nggak perku bikin konflik berdarah-darah untuk akhirnya bisa menghargai hidup, wkwk. Mungkin itu kenapa ya buku ini lebih terasa dekat. Dan nggak lupa juga dengan masalh percintaannya juga.
•Cons:
1. Terlalu banyak kepalaaaa. Awalnya kupikir ini bakalan fokus di Uji, tahunya malah ada orang lain juga yang bikin ceritanya terlalu menclok-menclok dan nggak rapi. Padahal bagian-bagian yang ada POV lain nggak penting-penting amat buat perjalanan Uji. Bukunnya terkesan mau menceritakan semua orang dari sudut pandang semua orang. Jadi sebenernya bukunya bisa lebih tipis kalau yang nggak pentingnya pada dibuang. Kayak Boshi-Sunny. Itu sub plot yang sebenernya ngak ngaruh juga sama perjalanan hidup Puji. Maksudnya nggak sepenting itu sampe harus dapet spot khusus. Buat yang Julian masih okelah karena dia di sini jadi love interest. Nah ini yang jdi kekuranganku yang kedua.
2. Julian sebagai love interest-nya nggaj dieksplor terlalu banyak. Jadi terkesan numpang lewat. Aku dapet kok chemistry mereka dan aku juga suka endingnya cuman yaaaa menurutku kurang aja.
3. Kuis 101 family. Enggak ngerti. Ini maksudnya buat apaaaaa. Kek buat jokes? Interlude? Intermezzo? Kek apa ya, sumpah nggak penting, wkwkwk. Kalau buat jokes pun menurtku rada cringe. Buat seleraku sih. Kalau masih di platfirm sih aku paham ada baimgian kayak gini, tapi di buku cetak? Tapi ya sudahlah. Beda selera aja.
4. Cheating. Udahlah ya. Aku kan paling males ada beginian. Seuprit tapi kek bikin muter mata. Dan sekali lagi, terlalu dibuat2 juga sih seakan-akan kayak mau nunjukin masalah yang berlayer, tapi ya gitu, nggak dieksplor. . . .
Overall aku tetep suka dan tetep nungguin karya penulisnya lagi kalau ada lagi yang terbit. Agustian sama Septian kayaknya udah ada ceritanya juga yak.
Aku kasi 5 bintang karena aku suka banget sama pertemanan uji, boshi, julian belakangan tambah sunny. Aku kasi 5 bintang krn aku juga suka banget dunia design grafis... Salut sama orang orang yang punya imajinasi banyak2 gitu ya.. Aku suka uji, segala yg di uji mewakili banget.. Ya sifat pekerja keras nya, rada ngelawan ortu juga (tapi bukan yg kategori durhaka ya) gimana2nya ke adam ataw ke julian.. Suka deh.. Suka juga sama boshi sunny alhamdulillah penulis mengabulkan permohonan ku dr awal baca spy mereka disatuin hihihi... Juliaaan.. Awas aja kalo g jadi sama uji.. Ya ampun .. Pengen brenti baca deh di bab terakhir,, untung g jadi.. Kalo jadi nyesel dah.. Buat Edi yg sabar yaaa Edi..🙂..
I'm about to give 4 of 5 stars tapi jadi 3,5 of 5 stars karena alasan sepele: ga klik sama nama tokohnya🥲🥲🥲 Nama tokoh adalah salah satu hal yang membantu dalam memvisualisasikan si tokoh dan cerita, makanya poin ini cukup menjadi perhatian saya setiap membaca novel.
Tapiii, to be fair, ceritanya oke, kok! Memang ada hal kecil yang membuat saya bertanya-tanya, contoh: if I'm not mistaken, pas transisi ke dunia saat dilanda C-word, ada ditulis bahwa temen-temen kosannya Uji akan banyak membantu selama masa tsb. I forgot the exact sentence, lupa juga halaman berapa, tapi intinya begitu. Tapi abisitu Uji langsung pulang??? Terus, ada hal yang kayanya bisa di explore tapi di skip (contoh: Fix Ending). Mungkin karena takut repetisi karena udah pernah dibahas? Dunno, tapi somehow karena di skipnya lumayan jauh (dalam hitungan tahun!), jadi ya agak ‘lah?’ walaupun sebenernya udah ketebak.
To be very honest, awalnya ngerasa novel ini agak bertele-tele dan ngerasa rada kesel sm tokoh utamanya, soalnya mainnya kabur-kaburan dan block-blockan wkwk:( Tapi makin kebelakang, khususnya setelah Uji pulang ke rumah, ceritanya jadi lebih page-turning. Kinda reminds me of Ngeri-ngeri Sedap actually, walau dengan konteks yang sama sekali berbeda. Tapi sama-sama heartwarming, suka deh:)
In sum, ini novel oke bgt untuk opsi bacaan ringan dan sangat memungkinkan untuk dibaca sekali duduk krn page-turning.
Well done, Ka Debora! Semoga terus berkarya, yaaa!
Harga Teman bercerita tentang Uji (kependekan dari Puji) yang dipecat dari kantornya di akhir 2019. Sebagai desainer grafis, ia pun cari-cari job untuk menyambung hidup sampai akhirnya membuat usaha bersama dua rekan kerjanya yang memutuskan untuk resign setelah kontrak habis.
Singkatnya gitu. Aku rekomendasikan untuk baca versi panjangnya karena fix ini best fiction I've read this year.
Persahabatan Uji, Boshi dan Julian is one that you envy. Seru banget menyimak obrolan mereka bertiga mulai dari yang serius sampe yang nggak penting. Bagian klise tentang sahabat tapi naksir nya juga nggak membosankan sama sekali. Bagian kisah cinta anak mudanya tipis tipis TAPI KOK BERKESAN BANGET (buatku).
Setting pandemi dan kota Jakartanya terasa nyata, sama juga kayak obrolan fan account twitter nya (
Salah 1 buku yg mengadopsi trope friend-to-lover yg berhasil di gue. Romantic developmentnya pelan tapi lucu, meskipun sering bikin gregetan juga. Karna engga konsisten, sebentar2 romantis sebentar2 candaan-pertemanannya agak kasar. Ditambah karakter Uji yg juga sama engga konsistennya dan suka berubah2 dalam sekejap.
Untuk gaya penulisannya menurut gue agak kurang rapi. Dan perpindahan scene-nya kurang smooth. Tapi apalah gue, bukan tipe pembaca yg suka merhatiin teknis. Selama alur ceritanya seru, aspek2 lain engga terlalu ngefek banyak ke level akhir kepuasan gue terhadap suatu bacaan.
Sebenernya, masih mau ngomongin bagian menuju endingnya. Karna gue lumayan terkejut sampai sedikit kecewa pas baca haha. Apakah gue masih kecewa atau happy dengan endingnya? Haha. Spill 1 kata aja bisa jadi spoiler kayanya. So, begitulah pokoknya...
Suka deeeh novel yg latarnya pas pandemi hahahaha jadi ga merasa "jauh" gitu. Ini cari sahabat macam Boshi & Panjul dmn ya?
Karakter ketiganya nih mayan kuat yak. Di karakter Sunny aja rada ada dan tiada. Persona Julian yang fakboi ga terlalu kenceng. Emang endingnya ya 🤣 ok buat hiburan sekaligus pengingat anak rantauu diluar sana. Apasih yg dikejar? 🥹
Harga Teman adalah bacaan yang sangat menyegarkan untuk dibaca di akhir pekan. Ceritanya super-duper light. Dan yang pasti membuat aku ikut-ikut kesemsem sama tingkahnya Panjul. Lumayan untuk menghibur hati para jomblo diluaran sana, hehe.
seruu! terasa ringan meskipun masalah yg dihadapi tiap karakter itu berat. aku suka banget penulis suka ngebanyol dan ngeguyon hahaha. mungkin karena itu ceritanya jadi terasa ringan.
bercerita tentang uji, yang baru aja diputus kontrak sama perusahaan tempat ia bekerja. padahal, perusahaan itu idaman uji banget. uji anak rantauan. dann bisa bayangin kan gimana reaksi bapak ibunya saat tau uji pengangguran.
uji punya 2 teman sekaligus rekan kerja, julian dan boshi. yup, uji bersahabat dengan 2 orang lelaki. konon katanya uji dijauhi perempuan2 saat kuliah karena uji mudah berteman dengan laki laki.
menurutku uji, julian, boshi, dan sunny bukan cuma sekedar tokoh fiksi. mereka terkesan 'hidup'. mungkin karena ada sifat2 yg dicomot dari orang2 di sekitar penulis yaa (ini disebutkan di ucapan terima kasih)
mereka ... kompleks. tentunya bisa overthinking dengan serentetan masalah hidup yg mereka alami. bisa berubah pikiran dalam sepersekian detik. bisa melakukan hal spontan.
hal unik yang kutemukan di buku ini: diselipkan curhat dengan gaya ala ala mata najwa, juga kuis semacam family 100 HAHAH lucu banget! jadi semacam selingan gituu
aku suka banget sama cara penulis bercerita dann karena hal ini, kak debora masuk ke jajaran penulis favorit aku! aku bakalan nunggu karya2 selanjutnya dari kak debora 🫶
First of all, tema yang diangkat quite promising, dan dieksekusi dengan cukup baik. Harga Teman yang memiliki makna ganda sebagai maksud dari tema yang sebenarnya. Interaksi antar-mereka nggak kaku dan bener-bener ngalir, terus juga ngegambarin pergaulan liar khas ibu kota entah tanpa pandang agama tertentu. So nggak ada romantisasi kalau si A, B, C itu suci karena agamanya X.
But, terlalu banyak hal yang dimasukkan ke dalam cerita even ini udah 400 lembar. For example POV yang nggak fokus ke satu tokoh. Okelah kalau mau bagi ke tokoh lain, tapi proporsinya jomplang sampe kadang terasa beberapa part nggak perlu ada hal ini. Harga teman yang diusung juga not too deep, permasalahan Harga Teman ini kebanting sama kehidupan perantauan Puji. Dan lagi, beberapa adegan yang sebenarnya nggak perlu. Untuk pendalaman karakter juga sayangnya kadang bikin garuk-garuk kepala, kok dia bisa berpikirna gitu, kok dia bisa gini padahal gitu.
Namun dari celah-celah kecil itu semua, bacaan ini lumayan ringan dan sangat menghibur untuk dibaca. Selipan-selipan treatment yang dibuat penulis juga menambah warna baru dalam novel ini!
Puji atau yg biasa dipanggil Uji, tidak diteruskan kontraknya alias dipecat. Bertahan di ibu kota dg freelance design nya di twitter, tidak seberapa, tapi bisa dipake jajan. Julian dan Boshi, dua rekan kerjanya sekaligus bestie menawarkan untuk membuka usaha bareng, mereka namain MercusuArt, ini brilian banget sih menurutku namanya. Naik turun dapat klien ada yg minta revisi terus ada yg nawarnya kebangetan. Jatuh bangun yg relate adalah pas pandemi. Uda resign dr kantor, buka usaha, eh malah pandemi makin merosot pula hidup Uji. Kisah cintanya juga tak begitu indah, berkenalan dg Adam lewat twitter eh iseng2 sering chat, ketemu, jadian, tapi kok kurang sreg yaa.. Ada pula Sunny, si cantik plus kaya temen si Uji yg punya rahasia dan si wibu. 4 orang ini bersahabat, punya kisah masing2, dan cinta memang tidak bisa ditebak ya. Bisa kecantol temen sendiri. Aku suka cerita ini, terasa nyata karena karakter di dalamnya juga terasa temanku sendiri yg mengalaminya.
Bisa selesai juga dua hari baca ini. Kisah yg menarik, walau agak kaku dalam alur dan penokohan.
Sebenarnya saya agak bingung, ini cerita romans yang muncul akibat saka kulino dgn teman kerja, atau kisah para teman kerja yang salah satu bumbunya adalah cinta yg naik turun grafiknya. Kelihatannya cenderung yg kedua, sih.
Awal cerita ada tiga anak muda teman sekantor di Jakarta, sama-sama di bidang grafis: Uji-Boshi-Julian. Ketidakcermatan Uji menyunting foto tokoh partai bikin dia dipecat dan luntang-lantung mengais sesuap rezeki. Beberapa bulan berselang, Boshi dan Julian keluar kantor sukarela, dan mengajak Uji membangun bisnis Social Media Specialist bernama MercusuArt. Usaha baru yg masih tertatih mencari klien langsung ditabrak oleh pandemi Corona. Hidup semua orang makin kacau, merambah ranah pribadi dan ketakutan akan masa depan.
Tokoh utama kita Uji, alias Puji, perempuan 25 tahun yg selama ini dekat dgn para cowok tapi belum pernah punya pacar. Tau-tau ia tertarik pada seorang kliennya, yg tidak minta "harga teman" pada jasa desain yg ditawarkannya. Klien ini, Adam, seorang novelis debutan, dan tanpa berlama-lama mereka pun jadian.
Masa pandemi dgn PSBB-nya membuat Uji pulang kampung ke Wonosobo. Berbagai ujian datang mulai dari situasi rumah, LDR dgn Adam, pekerjaan MercusuArt yg jadi sulit dipegang, juga hubungan yg makin canggung dgn Julian.
Akhirnya memang ini macam office romance, tapi bukan antara bos-anak buah. Kantornya pun cuma di rumah/apartemen, menyesuaikan dgn kondisi pandemi. Aktual lah dgn kondisi saat buku ini terbit, Mei 2022. Akhir cerita ya, begitulah. Mudah diterka sejak awal meskipun ada sedikit pelintiran plot.
Cuma ya, plotnya agak kaku buat saya, misal saat penceritaan berpindah dari sudut orang ketiga menjadi candaan Kuis Famili 101 atau sesi talkshow Uji dan Sunny, sahabat lamanya. Mungkin biar agak lucu, buat selingan.
Secara umum buku ini menarik, karena tema minta "harga teman" masih sangat berlaku di masyarakat kita jika memesan produk/jasa dari pihak yg rasanya sudah kita kenal. Minta harga diskon barang atau desain kadang sampai bikin penjual/ desainernya mengucap istighfar.
Hal lain, kehidupan asmara Sunny yg problematik, menyentak kesadaran ttg banyaknya pasangan yg abusif, walau tampak ideal dari luar.
Dari sisi penokohan, metropop kali ini tidak menyodorkan tokoh utama mbak-mbak SCBD cantik glowing berdandan lengkap dgn OOTD ala desainer ternama yg orang tuanya kaya raya dan sering berlibur ke luar negeri. Tokoh utama kita Uji ini tomboi dan K-Popers yg hobi nonton drakor dan kerap berkhayal jadi istri Jimin BTS. . Nah, di sini saya jadi ingat novel mbak Ken Terate yg tokoh utamanya juga kebanyakan "orang biasa".
Selamat untuk buku debut Mbak Debora, terus menulis yg seru seperti ini ya, Mbak!
Cerita berliku yang sama sekali tidak membosankan. Adegan-adegannya sungguh kaya dan terasa padat. Endingnya berasa di-fast forward, sih. Kukira buku ini akan kasih happy ending yang nggak biasa, ternyata ya... tetep pasangan utamalah yang berlayar.
Secara cerita buku ini keren banget. Plot, karakter, gaya nulis. Paket lengkap lah. Cuma aku berasa gedhek aja dengan penggambaran para Jakartanese ini. Uji Islam tapi suka clubbing, minum alkohol, dan suka lupa salat. Julian minum alkohol dan pergaulan bebas. Sunny dan Boshi Kristen dan digambarkan pernah mabuk juga. I know ini cuma potret bahwa ada orang-orang yang gaya hidupnya seperti itu. Apalagi di Jakarta. Buku ini hanya menyodorkan fragmen yang jujur. But still... Hahaha. Rasanya gimana gitu. Hmm....
Baca buku ini rasanya menyenangkan sekali. Alur di bagian awal lumayan lambat tapi menjelang akhir, alurnya mendadak melaju dengan cepat. Topik yang diangkat rasanya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Apapun jenis usahanya, pasti pernah ditodong harga teman.
Aku suka bagaimana karakter Uji berevolusi. Lambat tapi pasti. Dari si overthingking, menjadi menjalani kehidupan saja. Karakter Uji juga menjadi pengingat kalau kita tak perlu menjadikan orang lain sebagai patokan kesuksesan. Toh, setiap orang punya timelinenya masing-masing.
Karakter favoritku, tentu saja Boshi. Meski digambarkan sebagai orang batak, rupanya aku kesulitan membayangkan Boshi sebagai orang batak. Romance yang ditampilkan tipis-tipis tapi justru bikin geregetan.
awalnya, pas baca part part terakhir udah langsung sedih duluan karna ngiranya uji bakalan jadi sama edi. kesel soalnya. ngerasa mereka gapunya kemistri buat jadi pasangan. tapi ya tetep aja lanjut baca ke halaman halaman berikutnya berharap bakal kejadian yang sebaliknya. dan ternyata beneran hihihi senengg deh.
oke, bintang satu buat covernya yang colorful bintang kedua buat persahabatan boshi julian sama uji bintang ketiga karna uji sama panjul ended up together.
buku ini bacanya apa yaa page turner gitu jadi pengennya baca mulu, yaudah deh diberesin ga nyampe sehari buat 400 halaman :')
This entire review has been hidden because of spoilers.
Dari judulnya buku ini tuh memang mengajak kita masuk ke dalam cerita para pekerja di dunia desain. Itulah kenapa 'harga teman' masuk dalam kalimat yang cukup berada dalam masa ini. Masa di mana harga teman = mintanya murah.
Cerita dimulai sejak Puji atau Uji resign dari kerjanya di sebuah majalah. Lalu menekuni menjadi pembuat desain macem-macem yang ditawarkan melalui Twitter. Bermacam bentukan klien pun diterimanya, mulai dari yang maunya besok kelar, maunya harga murah banget sampe berharap gratis. Kocak memang cerita Uji ini. Ditambah lagi pertemanannya dengan 2 sobat kental Boshi dan Julian.
Seluk beluk pekerja lepas terkait desain sangat diceritakan menarik, lucu dan memang kekinian. Metropop disematkan dalam buku ini karena memang 'Jakarta banget', berbalut cerita pandemi dan sedikit setting Dieng.
Obrolan tim MercusuArt ini memang lucu, Boshi, Panjul dan Uji memang bisa jadi tim yang kompak, tapi sisi lain ceritanya yang sepertinya diambil secuil secuil gitu. Misal kekerasan dalam pacaran, disinggung dikit. Trus pacar minta vcs, disinggung juga dikit. Bagian Edi dan membangun desa di Dieng juga sebenarnya menarik banget, tapi gak diceritakan lebih banyak karena lebih banyak membangun kekocakan di dalamnya.
Salah satu bacaan ringan namun membuat kita banyak berpikir tentang pekerjaan, nasib, intinya tentang life quarter crisis.
Buku ini menceritakan tentang seorang gadis yang berusia 20an awal dan merupakan seorang graphic designer yang bekerja di sebuah majalah yang terkenal. Namun, karena kesalahan kecil ia kemudian dipecat dan terpaksa harus mencari beribu akal untuk mencari uang.
Sejak itulah ia menemukan lika-liku menjadi seorang graphic designer tapi harus dibayar dengan harga teman. Ia pun membuka sebuah startup bersama dua sahabatnya yang kemudian memutuskan resign dari tempat kerjanya. Tentu saja banyak pengalaman dan suka-duka yang mereka rasakan. Mulai dari susahnya mencari client hingga masalah pribadi yang kemudian mengganggu kinerja masing-masing.
Tidak hanya menceritakan soal pekerjaan, buku ini juga menceritakan berbagai hal yang selalu dipikirkan para remaja beranjak dewasa ini seperti pasangan dan keluarga. Melalui sudut pandang orang pertama, kita lebih mampu memahami pemikiran orang-orang berusia 20an awal dan segala lika-liku kehidupan mereka. Kita jadi paham bahwa terkadang, keputusan mereka yang dianggap seenaknya dan kekanak-kanakan sebenarnya memiliki 1001 alasan kuat yang tidak pernah diketahui.
Saya sebagai seorang graphic designer juga sangat relate dengan seluruh cerita dalam buku. Mulai dari harga teman, kisah percintaan, lelahnya bekerja di bidang kreatif terutama jika menjadi satu-satunya graphic designer di kantor atau pekerjaan utama, hingga kesusahan-kesusahan yang dialami jika kita buka freelance.
seru banget page turner 😭😭 endingnya ada di akhir2 bgt kenapasih nyebelinnn wkwkwk ceritanya relate bgt sama kehidupan, realistis, apa adanya dan menggambarkan hubungan pertemanan di dunia nyata, ga jayus, ga cringe, worth to read guyss
Novel ini KOCAK BANGETT, dari awal udh senyum-senyum sendiri wkwk. Awalnya aku mikir Uji dan Julian ngga ada apa-apa sih, kupikir ini cerita tentang persahabatan dan ngga ada romance antara ketiganya. Menurut ku, penulis jago banget nyembunyiin 'rasa' yg dimiliki uji dan Julian, dan karena itu aku ngerasa novel ini bagus bangettt! Kebetulan juga lagi baca novel yg endingnya biasa aja dan pasti ketebak diawal, tapi di cerita ini rasanya dibikin seolah aku harus mikirin 2 ending wqwq Sejujurnya aku agak ngang ngong sama ending nya sih, kenapa ngga diperjelas aja gitu, dan aku ngga ada masalah karena aku mikirnya ini beda sih dari yg lain, beda dari novel yg aku baca sebelumnya, jadi terkesan ada 'udara' baru.
Minusnya sih cuma agak bertele-tele dan ada beberapa bagian yg seharusnya ngga ada atau diganti yg lain. selama ceritanya kocak dan masih nyambung sama tokoh ya ngga apa-apa lah, yg penting ngalir aja cara penulisannya.
Oh yaa, novel ini menurut ku masih menyisakan satu pertanyaan, yaitu ketika uji pengen ngajakin temen-temennya, terus mereka pada ngga bisa, eh ternyata Jul malah ujug2 jadi bisa, dia ngga jadi sama pacarnya dan milih ngajakin uji balik. Disini ngga dijelasin alasannya secara rinci sih jadi agak bingung, atau mungkin aku ketinggalan yaa... Ku pikir pas bagian itu tuh karena Jul perhatian sbg teman gitu, atau kalo ngga gitu karena mereka berdua sama-sama 'menderita'.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ketika sebuah buku berhasil bikin aku peduli dan sayang sama karakter-karakternya, maka buku itu patut kuberikan lima bintang. Mungkin karena aku juga pekerja lepas yang buka commission kayak Uji, aku jadi kerap merasa relate sama apa yang dialami Uji, terutama waktu dimintai harga teman. Hehe.
🍭Pertama kali baca buku ini, langsung ngerasa klik sama ceritanya. Gaya penulis menceritakan kisah antara Uji, Julian, dan Boshi ini bikin gemes. Bahasanya santai, kisahnya related banget sama kondisi kita beberapa waktu lalu.
🍭Ya, kisah ini terinspirasi dari pandemi covid-19 beberapa waktu lalu. PHK besar-besaran, WFH, PSBB yang sampai berjilid-jilid, larangan keluar masuk daerah tertentu, rapid test, dan tentu saja kondisi yang berbeda antara orang kota dan desa (yg kota parnoan banget, yang di desa selebor kayak nggak ada apa-apa 😄).
Jujur, itu aku alami banget sih. Pas di Bandung parno-nya tuh kerasa bgt, sampe suami pulang perlu di semprot dulu di luar rumah, eh pas pulang ke rumah ortu, pasarnya rame banget sama orang yg tumpah-ruah. Wkwk
🍭Kisah ini juga mengangkat tentang dunia bisnis dan pekerjaan yang pada seret ketika Pandemi terjadi. Start up pemula atau bisnis yg baru berkembang ngap-ngapan. Ya iya, bisnis besar aja ada yg gulung tikar. Terlebih, pekerjaan design mendesign yang masih banyak orang gak paham dimana letak mahalnya. Seenak udel bilang, "Design gitu doang, murah aja lah. Harga temeen,"
Ada yang pernah ngerasain itu? Kalau pernah, baca deh buku ini, karena pasti related bgt.
🍭Tapi yang selalu bikin seger suatu cerita, itu terletak di kekuatan karakter tokoh-tokohnya. I Love Boshi, yang meskipu paling muda diantara trio MercusuArt tetapi jadi yang paling realistis dan dewasa. Uji keren sih, cuma denial sama perasaannya itu lho!! Ya Ampun. Julian? Emmmmm he is a bad boy, but i love him. Wkwk. Yg sengklek itu biasanya lebih mudah bikin jatuh cinta. 🧡 jangan lupakan karakter keluarga Uji yang ruarr biasa, Bapak, Ibu, Paris, dan Piero. Juga Edi bin Susilo yg PD nya luar biasa. Tapi salut sama Edi yang setia banget sama persahabatannya bareng Uji.
🍭Menghibur sekali, tetapi jadi banyak belajar juga. Kisahnya bener-bener berwarna seperti covernya. 🧡
Kalian pasti pernah ngerasain minder sama temen satu circle yang kehidupannya lebih enak dan kamu ngerasa udah ga pantes berada di circle itu lagi. Nah hal itu yang diangkat oleh penulis melalui tokoh Uji.
Di circle Uji ada Uji, Julian dan Boshi. Semua sama-sama desainer grafik. Awalnya enak-enak aja hidup Uji sampai dia dipecat gegara salah masukin warna partai. Dan mulailah secara krisis hidup dan overthinking Uji. Kehadiran temannya malah bikin makin minder. Keluarganya lebih ga membantu. Malah Uji disuruh cepet kawin. Nyoba kerja freelance, permintaan clientnya ga masuk akal. Terus apa yang akan dilakukan Uji? Apa sebaiknya dia menghilang aja dari bumi?
Buku berfokus pada krisis hidup yang dialami Uji. Mulai dari masalah kerjaannya sebagai desainer grafik yang dikira cuma tukang gambar dan permintaan aneh clientnya yang minta desain bagus tapi harga nego ga mikir pake otak, circle pertemanannya, kisah cintanya dan keluarganya yang menjunjung tinggi patriarki.
Berat juga ya temanya wkwk. Tapi ga kok, buku ini penuh komedi. Dijamin deh pasti ngakak. Komedinya dapet, life valuenya lebih dapet.
Metropop ga luput dari kisah cinta. Menurutku romansa di buku ini hanya selingan saja dan ga yang wow banget karena aku yakin uji pasti bakalan sama Julian walau diputer-puter.
Seiring kubaca ternyata Uji ini masih ikut arus . Tidak ada sebuah gebrakan dan berontakan berarti yang dibuat Uji. Endingnya pun terasa monoton. Tapi tetep buku ini merupakan bacaan ringan terutama yang sedang di posisi Uji saat ini.