Pernah tersesat karena lebih percaya Google Maps ketimbang tanya warga lokal?
Pernah merasa mati gaya karena internet down semalaman?
Pernah tergopoh-gopoh meninggalkan kerjaan rumah demi menyambut kurir paket?
Era digital menawarkan kemudahan. Namun, era ini juga merenggut banyak kemampuan dan kebebasan kita. “Manusia” dalam diri ini terkikis bahkan nyaris lenyap. Akibatnya, perilaku manusia dalam berkomunikasi dan bersosialisasi turut berubah, yang dari kacamata akal sehat, jadi tampak konyol. Membaca buku ini menyadarkan kita betapa kocaknya polah tingkah manusia pada era digital. Dan percayalah, tidak ada yang lebih nikmat selain tertawa sekaligus tertohok.
Membaca ini seperti ditabok bolak-balik. Pembaca (saya) dipaksa menguliti diri sendiri karena begitu getol dengan media sosial dan internet—dua hal menjadi hidangan utama pada buku ini. Dan menurut penulis ini merupakan masalah genting; peradaban manusia (di judul disebut dengan Sapiens yang terus terang amat brilian karena orang pasti merujuk pada karya nonfiksi fenomenal yang satu lagi) sudah di ujung tanduk.
Berisi esai-esai pendek nan menggugah, ini kali pertama saya membaca karya penulis yang sebenarnya tidak punya kapasitas dan ilmu akademik apa pun terhadap topik ini. Hanya saja, ia mengakuinya secara terbuka dan jujur dan bahkan di beberapa esai ditulis bahwa topik seputar ini bukanlah kapasitasnya. Penulis bahkan menyatakan bahwa hanya seorang praktisi media sosial dan aktivis Facebook—yang sebenarnya kita semua pemilik medsos juga bisa dikatakan seperti itu. Pada satu esainya, penulis mengaku media sosial merupakan rumah keduanya.
Namun anehnya, ya enak saja begitu mengikuti opini-opininya. Keciri sekali penulis bukanlah esais abal-abal, argumennya selalu mashook dan pasti ada satu-dua hal penting yang bisa kita dapatkan dari setiap esainya: entah itu fakta/trivia ataupun pesan moralnya.
(Saya masih berpikir keras bahwa harga tanah di Jogja naik terus itu merupakan ulah kenangan manis yang selalu diberikan oleh kota ini. Mau nggak percaya tapi kok ya ada benarnya.)
Pertama kalinya baca buku dari mas Iqbal gara-gara baca snapshot instagram temen. Tulisan essay nya beneran relatable dengan kondisi "bermasyarakat di era digital pre dan post covid". Baca essay-essay nya nano-nano, antara ngikik, ngerasa ditabok karena ada bagian tulisan yg beneran menohok jabarin yg sering dilakukan user-user digital di sosmed dan internet, dan juga gaya tulisan mas iqbal yg mengalir jadi baca nya ngga berat serasa kayak diajak ngobrol ngalor-ngidul di angkringan.
Sekumpulan esai yang menyentil kehidupan kita sebagai manusia yang berinternet dan bermedsos. Tulisan-tulisannya mengalir, enak dibaca, kadang bikin terbahak dan sering menohok. Esai-esai dalam buku ini mengajak kita merenungkan kembali hubungan kita dengan internet, medsos, dan teknologi digital, karena hal-hal tersebut sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari diri kita sebagai manusia modern. Begitu saja reviewnya, tidak usah panjang-panjang. Setiap orang Indonesia yang aktif berinternet dan bermedsos, menurut saya harus membaca buku ini.
P.S.: untuk kawan-kawan akademisi, bacalah esai berjudul "Orang Pintar, Menulislah di Ruang Digital!" yang ditulis khusus untuk anda sekalian. 🙏
Buku ini berisi 30 kumpulan essai penulis dengan beragam topik mulai dari sosial media, buzzer politikus, google maps dan bagaimana pandemi merubah cara kita (orang Indonesia) dalam menggunakan Internet.
Ditulis dengan bahasa yang sederhana, berisi beberapa kritik tajam tapi tetap ada humor yang diselipkan.
Good book....must read...(Indonesian language) Ini buku layak dibaca oleh kita, karna tulisan Mudah dipahami oleh para pembaca😃 Baca buku ini syaratnya kita GAK boleh baper sebab si penulis memaparkan sesuai dgn hasil pengamatan di lapangan saat ini jadi wajar kita akan terasa "Mak Jleb" tertampar saat baca tulisan yg disampaikan 😆😅 Tapi setelah itu kita akan manggut-manggut sambil dalam hati bilang "Iyaa...ya bener juga....ahh dasar kita mahluk Homo Sapiens yg harus Adaptasi di era Digital." 🤣🤣🤣
Disisi lain ternyata era digital juga Melemahkan kemampuan otak Homo Sapiens kita yg sebenarnya Lebih Canggih, hanya saja karna harus belajar Adaptasi sesuai perkembangan teknologi ahkirnya otak kita jadi terbiasa lakukan program & berubah jadi lemah 😱👀😬 (sebab alami ketergantungan)
Udah dechh ....itu aja hasil review buku ini dari saya...bagi yg penasaran Silahkan beli & baca sampai habis....hingga merasa tertawa geli sendiri baca karya buku si penulis yg ngomong sendiri dgn gaya mbanyol...🤣🤣🤣🥳🎉🇮🇩
Sebuah resensi untuk buku Sapiens di Ujung Tanduk karya @iqbal.aji.daryono, penerbit @bentangpustaka
Oleh: @didaytea
Walaupun hanya 160 halaman, tapi buku ini baru bisa saya selesaikan setelah beberapa hari, 1 restoran, dua cafe dan 2 taman karena lebih lama foto-fotonya dibanding membaca bukunya. Kalau tidak percaya, foto-foto di posting ini adalah buktinya.
“Monyet ngagugulung kalapa” adalah peribahasa di dalam bahasa Sunda yang artinya kurang lebih “seseorang yang memiliki sesuatu tapi tidak tahu cara memakainya”. Saya menjadi seperti monyet itu ketika tiba-tiba dan semua jejaring sosial selain Twitter tidak bisa dipakai. Itu pun sama saja karena ternyata internet memang sama sekali mati. Hampir setengah hari itu saya seperti “monyet ngagugulung kalapa”. Handphone bulak-balik saya restart dan saya langsung bayar tagihan bulanan internet yang sudah nunggak satu bulan, karena haqqul yaqin itu adalah penyebabnya. Padahal ternyata bukan.
Tanpa internet, Handphone di tangan saya terasa seperti sebongkah batu atau sebutir kelapa yang hanya bisa dilempar. Tanpa internet beberapa jam saja, jiwa saya serasa sudah hilang separuhnya dengan tidak adanya tang ting tung notifikasi like atau komen di Instagram dan Facebook. Tanpa melihat video-video lucu hahahihi atau trivia-trivia keren yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat di Tiktok beberapa jam saja, itu sudah membuat saya seperti manusia purba yang hanya bisa garuk-garuk kepala dengan batu.
Begitulah kita, manusia digital yang terlalu terikat dengan media sosial di zaman internet. Zaman ketika manusia sudah menjadi budak koneksi, penghamba jaringan dan umat sosial media.
Mas @iqbal.aji.daryono dengan jenaka dan cakap serta gegap gempita menyajikan fenomena-fenomena absurd dan tingkah laku ajaib manusia di era sosial media.
Dia adalah kita yang pernah disuruh belok kanan ke jurang oleh Google Maps padahal belokannya ke kiri, atau disuruh lurus terus ketika di depan kita adalah gundukan pasir. Dia adalah kita yang pernah ribut gelut dengan orang yang entah siapa dan di mana hanya karena perbedaan pilihan ketika Pilpres dan Pilgub. Dia adalah kita yang hanya mau membaca berita yang kita inginkan, bukan kita butuhkan. Dia adalah yang menjadi budak “pakeeet!” pembawa kiriman online yang harus kita datangi tergopoh-gopoh, kapan pun dan apa pun yang sedang kita lakukan. Dia adalah saya yang jengkel dengan netizen terhormat yang sangat kurang literasi media dan tidak peduli kelengkapan berita, sehingga jarang sekali cover all sides ketika berita-berita viral muncul. Kita yang bingung ketika mereka semua menjadi pakar-pakar yang menyalahkan semua yang berbeda pandangan dengan mereka. Dia adalah kita yang jengkel ketika kasus-kasus kriminal baru ditangani ketika sudah viral di mana-mana dan diposting oleh selebgram, Tiktoker, Youtuber, Influencer dan sejenisnya. Dialah juga yang khawatir dengan akan seperti apa kehidupan generasi Corona di masa depan, walau pun seharusnya tidak perlu karena setiap generasi pasti akan menemukan caranya sendiri untuk meluncur menempuh ganasnya zaman dan peradaban di masa depan. Seperti Keripik Beling, buku ini sangat ringan dan renyah tapi penuh dengan lapisan kritik pedas yang menampar pembacanya, dan lebih umumnya untuk netizen yang jempolnya pedih dan tajam tak bertulang.
Membaca kumpulan esai ini membuat saya merenungi dan menambah pemahaman saya tentang peran media sosial yang sudah begitu masif kepada kehidupan manusia. Kita bisa sesuka hati berpendapat dan berdebat tentang suatu hal dengan manusia lain tanpa dibatasi oleh waktu dan tempat. Meskipun begitu, kita juga perlu hati-hati supaya jempol yang kita gunakan untuk mengetik tidak seenaknya mengeluarkan kata-kata yang kurang pantas, yang akhirnya malah dianggap melanggar hukum.
Selain itu, di buku ini Iqbal juga menceritakan efek pandemi Covid-19 yang membuat orang semakin leluasa untuk bekerja atau belajar di tempat yang berbeda. Sebagai contoh di judul 'Ruang-Ruang yang Tak Lagi Dicintai'. Istri Iqbal yang berprofesi sebagai dosen menceritakan pengalamannya tentang seorang mahasiswa yang kuliah di Yogyakarta, asal Surabaya, tetapi memilih indekos di Bali. Sebabnya? Karena saat itu masih terjadi pandemi dan para mahasiswa bisa sesuka hati memilih tempat di mana ia nyaman melakukan perkuliahan secara daring. Namun, kekurangannya--Iqbal berpendapat--para mahasiswa tidak akan memiliki kenangan terhadap kampus di mana ia belajar dan berinteraksi dengan orang lain.
Itu hanya sedikit tema yang ada di buku ini. Sebab, masih ada banyak lagi tema lain yang berkaitan tentang manusia dengan dunia digital.
Sapiens di Ujung Tanduk berisi kumpulan esai dari Iqbal Aji Daryono, yang membahas perilaku manusia a.k.a Homo sapiens di dunia internet, secara khusus di media sosial. Membaca beberapa esai pertama, penulis lebih banyak menyinggung Facebook (FB) yang memang menjadi sarana utama bagi penulis untuk berkarya. Salah satu topik yang menggelitik saya diangkat dalam esai berjudul "Teman Medsos yang Bukan Teman". Ada kalimat yang berbunyi demikian... "Apakah benar hanya karena berteman di medson dengan seseorang, lantas kita turut menanggung segenap amal perbuatan yang dilakukan "teman" kita itu?" Hari sekarang, mungkin "teman"medsos kita lebih banyak dibandingkan teman yang sebenarnya ada di sekeliling kita. Entah itu terlibat dalam alumni tertentu, atau ketertarikan terhadap satu hobi yang sama. Seringkali rasa "berteman" yang sesungguhnya lebih kena di medsos daripada teman yang dijumpai secara nyata.
Oh ada satu esai lagi.... tentang kekuatan dahsyat yang diakibatkan oleh kurir pengantar paket. Entah apapun kesibukan kita, mendengar kata "pakeet", semuanya bisa terhenti seketika. Hehehe....
Esai-esai ini menyenangkan dibaca sebagai pengingat bahwa kita masih manusia.
Saya membaca buku ini sebenarnya karena selewat di Twitter, dan trus pada pengantar ada Mas Damar yang turut menulis. Ya wes akhirnya beli ebooknya di Google Playbook. Saya baca diperjalanan udara biar gak bosen-bosen ama film yang belum ada judul baru.
Kumpulan tulisan Iqbal Aji Daryono ini sebenarnya bisa aja diterbitkan di tahun tahun sebelum pandemi, karena memang topiknya gak ada perubahan dari 5 tahun lalu katakanlah. Tentang bagaimana sosial media memviralkan ini dan itu untuk tujuan yang baik, media yang menggiring opini ini dan itu, cuma bedanya ada tambahan hal-hal yang memang kerap terjadi saat pandemi, soal banyaknya webinar, tentang selebgram yang duitnya lebih banyak daripada penulis jurnal akademis.
Hal-hal yang diceritakan Mas Iqbal di sini menurut saya gak ada yang baru dan gak menggali lebih dalam beberapa masalah yang ada dalam dunia digital di Indonesia secara khusus. Sepertinya yang ditulis memang yang di atas permukaan saja. Saya berharap tadinya ada tulisan mendalam tentang banyak hal yang jadi masalah sapiens terkait dengan dunia digital, tapi ya ternyata gak gitu.
Sudah cek screen hour kalian? Atau rata-rata dalam sehari habis berapa lama untuk nongkrong di sosmed? Banyak? Iya saya juga. Hahahaha…. . Buku ini adalah untuk para manusia budak sosial media. Semacam sekumpulan artikel tentang keresahan penulis terhadap kecanduan manusia pada sosmed. Tua, muda, balita, semua! . Facebook, Instagram, Twitter, TikTok, Linkedin. Pokoknya yg sejenis begitu dah. . Dibuat ringan dan menyenangkan untuk dibaca. Lumayan nyentil sih. Keresahan yang dialami banyak orang. . Judulnya lumayan provokatif sih juga. Cocok untuk dibaca sambil santai. Sekali duduk abis.
Buku ini terdiri dari 30 esai tentang dunia digital, media sosial, tulisan dan hal-hal yang menyerempet ke arah sana.
Aku membayangkan buku ini cocok dijadikan sumber diskusi di ruang-ruang kelas anak sekolah. Tiap anak membaca bab demi bab dan mendiskusikan bersama.
Dari semua esai, paling suka dengan bab Dari Angkringan ke Medsos. Karena aku ga pernah nongkrong di angkringan, takjub aja ternyata bisa ya terjadi percakapan ngalor ngidul dengan orang ga dikenal di tempat itu. Aku pikir bab ini juga bab yang memuat intisari buku ini sehingga bikin penasaran apa lagi hal yang dibahas sang penulis.
Buku kumpulan esainya mas Iqbal ini serasa asyik sekali memotret fenomena masyarakat digital dengan bahasa ringan dan lugas. Enak untuk diselami, menohok, pun menimbulkan kesan mendalam bagi pembaca untuk merenungi dampak digital bagi keseharian kita.
Diksi yang digunakan tidak terlalu njlimet bahkan cenderung ringan dengan pilihan kata sederhana --terkecuali bahasa Jawa--. Sehingga pembaca terasa dekat dengan gagasan yang ingin disampaikan penulis. Saking ringannya, seolah-olah, ini semacam obrolan ringan tapi penuh kesan di sela-sela aktivitas ngopi. Enaklah pokoknya.
Sebagai seorang lulusan sastra Jepang yang tidak bisa bahasa Jepang, Iqbal Aji Daryono adalah seorang penulis online yang cukup sukses. Buku Sapiens di Ujung Tanduk ini adalah sebuah buku kumpulan status facebooknya yang lumayan rame. Di sini, Iqbal banyak bercerita dan mengomentari apa saja yang terjadi pada era PSBB dan PPKM kemarin. Bagaimana teknologi telah mengubah kebiasaan dan berbagai tradisi kita sebagai "Sapiens".
selalu senang membaca isi pikiran mas iqbal yang sudah jadi tulisan begini. persis di status facebook-nya (untuk versi pendek) dan ngobrol langsung (versi yang lebih marem). dar der dor, detail, dan apa adanya. tentu dengan kemasan yang tidak mboseni sama sekali.
✅ Tiada hari tanpa scrolling medsos ✅ Suka nyimak berita viral (apalagi kalau pernah viral) ✅ Punya cita-cita jadi content creator
Berarti kamu cocok baca SUT awkwkwk 😆👍🏼
📌 Buku ini memaparkan peranan dunia digital yang belakangan semakin mengambil alih bahkan sampai melemahkan ketajaman proses berpikir dan berbudaya kita. Cara penulisnya membandingkan situasi lampau dan situasi modern asyik buat diikuti. Kadang bisa bikin kepingkal sendiri karena ngerasa relate.
📌 SUT menjabarkan opini-opini sang penulis yang lahir dari renungan serius akibat meledaknya era digital. Walau topiknya agak serius, pembahasannya pakai diksi yang asyik ala-ala bapak-bapak Facebook intelektual. Pas dibaca kalimatnya ngalir banget. Pun diselipin banyak guyonan konyol dan sarkas yang nyentil perut sampai bikin mulas.
📌 Kebanyakan mengkritik para kaum intelektual, politikus, oknum korban situasi (entah itu masyarakat biasa atau profesional worker kayak polisi, jurnalis, atau guru) serta para content creator yang kadang setengah-setengah kalau ngasih informasi. Kemungkinan ada topik yang bakalan bikin kita ngerasa; "Weh buset, ini gue lagi disindir!"