Final untuk maju ke pertandingan sepak bola tingkat Provinsi Jawa Timur tinggal sebentar lagi. Ngatemin dan teman-teman satu timnya giat berlatih agar bisa menjadi wakil Kecamatan Wlingi dalam pertandingan tingkat provinsi itu. Meskipun harus berlatih dengan sepatu lawas dan kekecilan, tidak menghalangi kelihaian Ngatemin dalam menggiring bola menuju gawang lawan dan mencetak gol. Dia bahkan dijuluki Lionel Minsi dari Desa Beru! Untungnya teman baru Ngatemin, Aji, mau meminjamkan sepatu bolanya untuk dipakai Ngatemin bertanding di final nanti. Namun saat perjalanan pulang sehabis berlatih, Ngatemin dihadang oleh anak-anak dan mereka mencuri sepatu Aji! Berhasilkah Ngatemin mengejar anak-anak itu? Bagaimana cara Ngatemin mengganti sepatu bola Aji yang dicuri?
adalah seorang penulis buku Indonesia tahun 70 hingga 80-an. Dia dikenal sebagai penulis buku fiksi-ilmiah seperti seri Penjelajah Antariksa (Bencana di Planet Poa, Sekoci Penyelamat, Kunin Bergolak), Jatuh ke Matahari dan sekuelnya, Bintang Hitam. Selain menulis buku fiksi-ilmiah, Djokolelono juga dikenal sebagai penulis buku anak-anak, seperti seri Astrid, dan beberapa cerita wayang. Djokolelono juga adalah seorang penerjemah. Buku-buku yang ia terjemahkan antara lain Petualangan Tom Sawyer dan karya Mark Twain yang lain, seri Pilih Sendiri Petualanganmu, seri cergam Mimin, seri Mallory Towers dan buku-buku Enid Blyton yang lain, dan seri Rumah Kecil Laura Ingalls Wilder[1]. Karya-karyanya diterbitkan oleh Pustaka Jaya (PT Dunia Pustaka Jaya), Gramedia, dan BPK Gunung Mulia.
Eyang memang lahir di Beru, jadi fasih sekali mendeskripsikan lokasi desa tempat Ngatemin berada. Suka juga membaca eyang menarasikan Ngatemin: meski miskin tapi tetap semangat belajar dan main bola, apalagi ke mana-mana Ngatemin itu bukan cuma jalan kaki tapi juga berlari.
Kemudian ada anak baru tajir, pintar dan piawai main bola juga. Apakah Ngatemin iri? Awalnya sih iya.
Kemudian juga ada kejuaraan sepakbola. Dan di sini Ngatemin diuji: ada seseorang yg menawarkan uang dalam jumlah cukup banyak, asal Ngatemin jangan memasukkan bola ke gawang lawan!
Bacanya lancar mengalir, keselnya iya, sedihnya iya, tapi senengnya juga iya. Pokoknya, Eyang aku padamuuuuu 💙💙💙
Sejauh ini kami sudah membaca tiga novel anak karya Djokolelono. Ketiganya sama-sama berkesan, sama-sama hampir tidak ada bagian yang membuat kami ingin melompati dan mempercepat bacaan. Sama-sama sulit tertebak kemana arah cerita akan berjalan dan berakhir.
"Sepatu Bola Ngatemin" adalah buku yang ketiga.
Jika Anda pernah atau sering menonton acara "Bocah Pejuang" di TV dulu (dan sekarang masih bisa ditonton di Youtube), pasti latar dan tokoh-tokoh di buku ini bisa dengan mudah dibayangkan. Cerita di buku ini berlatar di desa Wlingi, kabupaten Blitar, di mana "gubuk" tempat tinggal keluarga Ngatemin berdiri di pinggir kali Lekso, terpisah dari rumah-rumah lain, dengan kabel listrik yang ditarik dari kelurahan.
Ayah Ngatemin sudah meninggal, jadi Ngatemin bersama seorang kakak perempuan dan ibunya bekerja keras untuk bertahan hidup. Di pagi hari Ngatemin berjalan ke sekolah bertelanjang kaki karena sepatunya kekecilan, sambil membawa jajanan ibunya untuk dijual di sekolah, lalu siangnya mencari tambahan uang dengan memanjat pohon-pohon asam setinggi 10 meter demi telur burung blekok dan buah asam untuk dijual. "Bocah Pejuang" banget, menurut saya...
Di bab awal, cerita sudah menarik dengan munculnya seorang murid baru pindahan dari kota, dengan kualitas seperti Ngatemin: pintar pelajaran dan pintar sepak bola. Bedanya dengan Ngatemin, anak ini kaya. Kami kira itu menjadi konflik utama cerita. Ternyata....
...ternyata silakan Anda baca sendiri saja 😄. Yang jelas ini termasuk tipe cerita yang membuat saya harus menahan diri membaca kalimat demi kalimat tanpa melirik ke halaman berikutnya karena penasaran. Dan tulisan djokolelono yang ini kali ini tipe ceritanya hangat dan mengharukan. Bintang 5 😄🙏.
Sebagai org dewasa, membacanya juga ikut merasa tegang meski mudah menebak endingnya.
Novel ini ditulis dan dicetak dgn teliti, karna g'menemukan 1 typo pun. Penyajian tampilan beneran bikin mata enak membacanya.
Pesan moral di novel ini adl ajakan kepada pembaca agar memiliki semangat juang, tidak goyah memilih yg instan meski diiming-imingi uang atau sesuatu yg menggiurkan, juga ajakan utk memiliki sikap tanggung jawab terhadap kepemilikan orang lain.
Sangat bagus dibaca untuk anak-anak ❤️
Rata-rata 4,5/5
This entire review has been hidden because of spoilers.