Kamu merasa takut akan sesuatu, tapi pada saat bersamaan, semesta ternyata memberikan jawaban atas ketakutanmu itu dengan hadirnya seorang teman. Yang tanpa diminta, tanpa disuruh, melakukan “tugasnya” dengan sangat baik. Hingga dirasa, semuanya lebih dari sekadar teman. Hingga lambat laun percaya bahwa dia adalah sosok yang tepat. Tapi, bukankah semua sudah ada waktunya? Kehadirannya, termasuk kepergiannya? Di situlah waktu terus berjalan, dan kita tetap membuat cerita yang tak tahu kapan berakhirnya. Kita dan waktu. Tentang indahnya “rasa”. Tentang menyayangi yang masih ada. Tentang mengikhlaskan yang sudah pergi. Juga tentang merawat ingatan itu sendiri.
no star pinjam baca dari rak Jakarta Bookhive MRT Blok M
hmm, sepertinya akan jadi cara baru me-rating untuk buku-buku non-fiksi: 5 bintang untuk yang mmeberikan impact (sekecil apa pun) dan no star untuk yang nggak ngasih apa-apa.
jujur, pinjam dan pengin baca buku ini karena kayaknya bisa selesai dibaca sekali duduk (dan memang bisa) karena isinya pun kadang satu kalimat, lebih banyak gambarnya, dan bukunya kecil saja. awalnya lumayan up-lifting karena dari pov "aku" cukup relatable: introvert, hard to love, dan sering menyalahkan diri sendiri, menemukan seseorang out of the blue dan lalu balblabla tanpa runutan apa pun. maafkan, tapi buku ini nggak memberikan apa pun buatku.
The day when i finally met her, before she arrived, i was reading this book that i found on the bookshelf in Taman Literasi. I usally donate to this shelf, a lot of books, and sometimes i took one book each time i visit Blok M. That time, at that specific day, i chose this book: „Kita dan Waktu.“ It took me not a long time, very short time indeed, to finished this book.
She arrived, and i said, „It‘s really nice to finally being able to see you after 4 years of us becoming an online friend.“
Next year i‘ll fly to Germany to start my study, and i think i realize there was this complicated feeling that i had about her, and i think she felt it too, i know she can‘t be friends with me, i don’t know why exactly, but i suppose, she doesn’t want anymore online interactions no more. So i chose to gave her the book, with my notes written on the very front of the page: „Semoga dalam setiap kebaikan, kita akan selalu berani membawa perubahan dan menghadapinya.“
That day was the first and last day i met her, it was nice to know that i had such a great friend like her.
Bacaan sekali duduk yang secara tak langsung menyadarkan perihal 'aku dan kamu—kita, tercipta karena adanya waktu'.
Selama membaca rasanya menyenangkan bisa sambil menikmati potret langit yang seolah menambah kesan dalam tiap kalimat yang dibawakan penulis.
Meski begitu aku merasa kalau ada beberapa kalimat yang kurang efektif, mungkin karena niatnya ingin membuatnya jadi puitis. Aku juga bingung dengan pandangan dari topik yang disampaikan, singkat kata kurang klop di aku.
Ini bagian-bagian yang kusuka: — "Sesederhana pintaku pada semesta, aku hanya ingin kamu pulang."
— "Sulit sekali menggapaimu, terlalu jauh, bagai memetik bintang di langit."
— "Karena aku akan baik-baik saja."
— "Selamat menjaga apa yang masih ada, dan merelakan mereka yang sudah pergi."
Mungkin cukup, sampai jumpa! 💛
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku dibaca sekali duduk. Dimanjain banget gambar-gambar aesthetic yang 'mungkin' diambil sendiri oleh penulis-Nya. Tulisannya tersirat namun juga tersurat. Tentang hal yang kita sukai sekaligus yang kita benci. Tentang faktor penting dalam kehidupan, Kita & Waktu.