17 cerita pendek dalam buku ini menyajikan penjelajahan atas keberagaman tersebut dengan pendekatan yang kaya. Para penulis buku ini berasal dari berbagai latar belakang, seperti novelis, aktivis Queer, penerjemah, peneliti, dosen, guru, karyawan swasta, sineas, praktisi yoga, dan mahasiswa pasca sarjana. Mereka menulis ragam cerita mengangkat isu gender dan seksualitas-yang mencakup, tetapi tidak terbatas pada-lesbian, biseksual, gay, dan transgender (LGBT), melainkan juga pelbagai kemungkinan relasi identitas, dan keberadaan diri yang melampaui label-label tersebut.
Membaca sekumpulan kisah pada buku KumCer memang tidak perlu terburu-buru, karena setiap kisahnya akan memberikan pengalaman yang berbeda. Sama halnya dengan buku ini, dengan mengusung tema yang bisa dibilang masih jarang diangkat oleh penulis kebanyakan, menjadikan setiap kisahnya begitu semarak layaknya sebuah parade dan lebih terasa otentik.
Berisikan 17 judul, keseluruhan ceritanya secara garis besar mengangkat konsep dasar tema yang sama yaitu tentang isu gender dan seksualitas. Dimana dalam faktanya seringkali menjadi perbincangan yang sensitif, bahkan tabu sekalipun.
Dari semua judul yang ada, favorit saya yaitu Sabur Limbur karya Awi Chin. Dalam beberapa bagian bahkan saya sempat larut dalam emosi para tokoh. Penulis begitu lihai "mix and match" isu gender, agama, suku ras dan budaya dalam satu frame Cerpen yang memiliki ruang gerak yang sangat minim dan terbatas, namun masih bisa memberikan penggambaran yang cukup detail dan kaya akan makna.
KumCer ini seperti pengejawantahan dari kegelisahan para penulis tentang isu gender dan seksualitas di sekitar kita yang pada faktanya sudut pandang tentang hal-hal semacam itu sangat dibatasi dan dijaga atas nama "kewajaran". Pembatasan tersebut juga merupakan dampak dari "sosial" yang gemar sekali mengelompokan dan menyeragamkan dengan dasar asumsi yang seringkali mengandung unsur kepentingan suatu pihak tertentu dan sering kali karena mereka mempunyai label "kelas superior".
Kayak nano-nano, manis asam asin ramai rasanya hehe. Beberapa cerpen favorit di sini: 1. Darah Muda, Darahnya Para..., Kepada OT di Suatu Tahun yang Tak Kau Harapkan Datang, Ejuk, Sabur Limbur, dan Pesta Pernikahan. Khusus yang terakhir jadi cerpen paling favorit karena....euphoric, reading that, I'm not gonna lie.
antologi cerpen yang dijahit secara rapi dan mengaduk” perasaan ttg kelompok minoritas (keberagaman gender dan seksualitas serta hidup dgn disabilitas di Indonesia)
dipenuhi lika liku dan kejutan di plotnya!! asli bikin senyum, nyesek, hingga sedih bacanya karena pertentangan pengaruh ajaran agama, etnisitas, kelas hingga budaya
Membaca antologi ini sungguh memuaskan. Lebih memuaskan lagi karena saya menuliskan kesan pembacaan setiap cerita pendeknya di tempat yang lebih privat (alias notes ukuran saku yang memang dikhususkan untuk notulensi pembacaan).
Tujuh belas cerita pada buku ini menarik dan menggugah. Saya seolah diajak berkelana ke mana-mana, dari semesta utopia hingga ke dalam mobil travel yang sedang menuju daerah Sinjai. Tema yang diangkat pun beragam, dari isu utama tentang gender dan seksualitas, persoalan stigmatisasi masyarakat, hingga kelindan hubungan keluarga inti.
Sebuah suguhan warna-warni dari berbagai pengarang dengan latar belakang dan profesi berbeda. Beberapa pengarang sudah saya amat kenali melalui karya-karyanya. Di antaranya ialah Asri Wulandari (Ulan), Cyntha Hariadi, Ratri Ninditya, Hendri Yulius, Emil Amir, Rio Johan. Kekhasan penulisan mereka masih terjaga di sini dan itu memberikan perasaan familier yang menyenangkan saat membacanya.
Saya sempat berpikir setiap pengarang mencoba terlalu keras untuk unjuk gigi. Kesan ini muncul karena beberapa cerita memang terlalu panjang untuk disebut cerpen (bahkan ada yang sampai lebih dari 30 halaman). Tapi, kemudian saya menyadari bahwa mungkin justru itulah intinya. Pengarang-pengarang dalam antologi ini ingin membuktikan bahwa mereka ingin menampilkan karya terbaik milik mereka untuk bisa tampil maksimal di parade ini.
Sekiranya tidaklah berlebihan kalau saya ambil lima cerita favorit dari total 17 cerita di dalam buku ini. Berikut daftarnya. - Cerita ke-I - Cerita ke-IV - Cerita ke-IX - Cerita ke-XII - Cerita ke-XVII
Untuk mencari tahu judul-judul cerpen favorit saya di atas, tentu kamu harus mencari tahu (alias membaca) antologi ini. Mari melenggang bersama di parade ini!
baca ini kayak jumpalitan secara emosional. habis dibikin cekikikan tiba-tiba bengong tiba-tiba nangis. suka banget sama darah muda darahnya para, terkutuklah aristophanes yang telah sewenang-wenang mencetuskan bahwa pada mulanya ada tiga jenis kelamin manusia, ciuman terakhir, dan sabur limbur. boleh request gak sih kalau ada antologi queer berikutnya diperbanyak cerita sapphic/wlw 😓
Salah satu cerpen favorit saya di buku ini adalah karya Anggun Pradesha yang berjudul Koma. Buku yang menarik, dengan berbagai perspektif mengenai isu yang juga sama menariknya
Membaca buku ini layaknya melihat sebuah parade, sesuai dengan judulnya! Tiap penulis punya cara bercerita yang berbeda dan membuat buku ini semakin asyik dibaca karena kita nggak akan tahu apa yang akan terjadi di bab selanjutnya. Minusnya memang akan ada beberapa cerita yang kurang nyantol dan nggak masuk selera jadi sekedar lewat aja. Buatku, 4 judul ini jadi favoritku: -. Darah Muda Darahnya Para... -. Petualangan Gay Tobat -. Terkutuklah Aristophanes -. Ciuman Terakhir
"Tangan-tanganmu, garis lekuk tubuh yang mengeras menyimpan sebuah kekuatan magis yang meleburkan energi maskulin dan feminin. kau memang tidak kaku dijamah oleh pengkotak-kotakkan antara laki-laki dan perempuan; berlaku aktif dan pasif. Kau melebur, memosisikan dirimu ke dalam hubungan versatile tanpa meninggalkan esensinya sebagai identitas keperempuanan yang kau hayati dalam hidupmu. Di setiap langkahku mewawancarai orang-orang yang terpinggirkan, semakin besar rasa cinta dan hormatku pada mereka." -hal. 286, Lela oleh Jane Maryam.
Budiman memiliki masalah kulit wajah yang kronis, namun saat ia meminta saran di medsos, seorang lelaki malah menjawab, 'laki nanya skincare? Ga sekalian nanya rekomendasi pembalut?' Akhirnya ia memberanikan diri bertanya kepada salah satu geng perempuan di sekolahnya, geng yang suka membaca buku-buku keramat, pencarian hantu, dan buku Panduan Penyihir Purnawaktu. Mereka menyarankan agar Budiman mencuci muka dengan sabun salicylic acid yang dicampur 1-2 tetes darahnya sendiri. Seketika wajahnya berubah semulus pantat bayi. Ia pun berbagi tips ini di medsos, namun lelaki yang dulu mengejeknya malah memaki-makinya karena tips itu gagal untuknya (rupanya dia juga berjerawat parah). Saat Budiman bertanya, kenapa tipsnya tidak manjur untuk lelaki itu, para perempuan itu menjawab, '...darah lelaki dengan fragile masculinity tidak bisa dipakai.' -hal. 15.
Cerita kocak di atas merupakan cerita pertama yang langsung membuatku semangat melanjutkan buku ini. Cerita lain yang jadi favoritku: Pesta Ulang Tahun Terakhir oleh Minanto. Bercerita tentang Eks yang terlahir dengan kelamin ganda, dan pada usianya yang ketujuh belas, ia dipaksa untuk memutuskan jenis kelaminnya dan menghilangkan kelamin satunya demi status lelaki/perempuan di KTP. Cerita ini bagiku menyedihkan, karena kenapa sih status lelaki atau perempuan begitu penting dalam kehidupan bermasyarakat?
17 cerita dalam buku ini membahas tentang seluk-beluk keberagaman gender yang jauh melampaui batasan label jenis kelamin dan bahkan seksualitas dan segala problematika yang menyertainya.
Jika kamu ingin menambah bacaan fiksi dengan tema LGBTQIA, buku ini bisa menjadi rekomendasi. Buku ini terdiri dari 17 cerpen yang ditulis oleh para penulis Indonesia yang pastinya memberikan perspektif baru.
Ke-17 cerita di buku ini hendaklah dinikmati secara perlahan. Setidaknya saya melakukannya dengan demikian.
Berisikan 17 antologi cerpen tentang lika-liku kehidupan queer di Indonesia. Diselipi adegan erotis dan jenaka hangat, para penulis mampu mangangkat isu mengenai LGBTQ+ (lesbian, gay, bi, trans, queer, etc) dan menuangkan imajinasi liarnya ke dalam cerita tanpa menyudutkan atau mengagungkan pihak mana pun.
Antologi cerita pendek ini menjadi pengingat akan keberadaan kaum queer sebagai minoritas yang sering kali diabaikan dan dianggap rendah karena mereka menantang norma sosial dan ajaran agama. Lebih dari sekadar kumpulan cerita, buku ini mengajak pembaca untuk merenungkan peran dan posisi mereka dalam struktur sosial yang kompleks. Dengan memberikan ruang untuk refleksi, terutama bagi kaum queer, antologi ini mendorong kesadaran akan pentingnya solidaritas dan identitas politik dalam perjuangan hak-hak mereka.
Sesuai judulnya, kumpulan cerita ini seperti parade yang tak akan pernah usai: ‘mereka’ ada dan akan selalu ada di antara kita.
Cerpen favorit saya di buku ini : 1. Darah Muda Darahnya Para... 2. Petualangan Gay Tobat: Sebuah Liputan Khusus tentang Gerakan Eks-Gay Indonesia 3. Terkutuklah Aristophanes, yang Telah Sewenang-wenang Mencetuskan Bahwa pada Mulanya Ada Tiga Jenis Kelamin Manusia 4. Sabur Limbur (in the Wake of a Dawn Prayer) 5. Ketika Koma
This.. is actually really good! Review to come (? Maybe?) tapi karena lebih sering akhirnya lupa or males, baiknya kulist dulu cerita2 favoritku di kumcer ini: - Darah Muda Darahnya Para... (Asri Pratiwi Wulandari) - Petualangan Gay Tobat (Hendri Yulius Wijaya) - Kepada OT di Suatu Tahun yang Tak Kau Harapkan Datang (Cyntha Hariadi) - Terkutuklah Aristophanes, ... (Rio Johan) - judulnya panjang banget, maaf 😅 - Cap Ular (Ratri Ninditya) - Simulasi Kedua (Ninus Andarnuswari)
If someone asks a futile question and it's addressed to me is "what book did you take home immediately after the author read it directly in front of you?"
This book. Ejuk and his lover behind the curtain of their midnight black coffee always spotted the slight stilly whisper of the whole race in my blood that night.
Buku “Parade Yang Tak Pernah Usai” adalah kumcer berisi 17 cerita yang merasuk ke kisah-kisah perjalanan hidup komunitas queer. Menurutku ini kayak queer yang mewujud jadi sebuah buku sendiri. Penuh warna, penuh cerita; dengan segala kisah dan gejolak emosi, of things I've never feel or think about. Kayak nano-nano sih, rame rasanya. Some stories are rather quirky, unique, and some are even a little hard for me to grasp, but also very very interesting. Meskipun nggak banyak cerpen dari kumcer ini yang bikin aku, "WAAHH SUKA BANGET!!!" tapi emang menarik banget menelusuri kisahnya satu per satu. Ada yang bikin ketawa, bikin hati aku rasanya sedikit pilu, ada juga yang rasanya kayak baca cerita hasil efek hallucinogenic (hyperbole, but u get it 😭)
Cerita favoritku: "Darah Muda Darahnya Para..." oleh Asri Pratiwi Wulandari, "Ejuk" oleh Maria Pankratia, dan "Sabur Limbur" oleh Awi Chin.
tambahan:
Oh iya, karena tokoh-tokoh di buku ini diambil dari banyak latar belakang, ini melawan stigma yg bilang LGBT itu efek barat atau influence sosmed dll karena queer people ada dimana-mana, selalu ada dimana-mana, sejak kapanpun — bahkan sampai ke orang-orang yang nggak terpapar "western effect" itu.
an indonesian queer anthology, consisting of 17 short stories from various authors. it's not everyday you find queer indonesian books and i have been meaning to read this book for years :D
my favourites in no particular order: tirai jalak merah kepada OT ejuk cap ular sabur limbur pesta pernikahan menemukan pelangi sepatuh jodoh
i hope this book can help bring more queer voices to indonesian literature. huge thank you to the publisher!