Sepanjang yang aku tahu Nadir itu artinya langka dan jarang ada, harus aku akui dia memang unik dan termasuk pria langka di kampus tapi Nadir juga berarti titik yang paling rendah.
Kepada aku yang selalu suka ketinggian dan puncak, aku tidak yakin bisa menyukai titik rendah itu.
“…, hubungan ini hanya menghasilkan kamu yang tersesat dan aku yang tenggelam, Dir.”
Buku ini bercerita soal kisah romansa antara dua manusia yang sama-sama keras kepala.
Dibilang keras kepala karena memang ceritanya begitu. Sama-sama mengharap setara, tapi tidak pernah saling mengerti dan berlomba-lomba dalam kepanikannya sendiri.
Ini pengalaman pertama kali saya membaca karya penulis, sebelumnya saya tidak pernah baca karyanya di wattpad maupun twitter seperti kebanyakan pembaca mengenalnya.
Walau hanya sebagai bumbu saja di antara tema utama. Saya salut karena penulis berani mengangkat isu-isu sensitif dalam bukunya dengan terang-terangan.
Ada sedikit saran dari si pembaca… saya melihat ada beberapa kekeliruan dalam ketik dan tanda baca yang membuat saya secara pribadi terganggu. Mungkin, lain kali bisa lebih teliti lagi untuk editornya atau yang mengurus naskah sebelum diterbitkan akan terlihat lebih rapi dan nyaman dibaca.
Pertanyaan juga sempat muncul dalam benak saya saat membaca perihal bagian Lembah Ramma dan Pohon Harapan. Tetapi, jawabannya bisa saya temui dari sudut pandang Nadir yang melengkapi.
Terima kasih sudah menuliskan cerita yang bisa membuat saya sesak sendiri. Kebetulan cerita dua manusia keras kepala yang mengharap bahagia ini mirip dengan kisah lampau yang ujungnya sedikit berbeda. Semoga sehat selalu Nadir dan Widji.
Based on true story Ini adalah novel pertama yang aku baca dari kak winjo. Aku tahu ada project Nadir dari video promosi di aplikasi sebelah. Serius, baru sekali lihat udah ngerasa 'WAHHH' 'Novel kah?' 'MAUUU' 'Harus dapet'.
Aku semangat banget nungguin novel ini. Baru dateng pun udah gak nunggu lama buat baca karena sepenasaran itu.
Dan ternyata ekspektasi bener-bener kebayar! Aku seneng banget bisa baca novel ini, garis cerita yang sederhana tapi bermakna. Banyak banget hal yang aku dapetin dari novel ini, mulai dari secuil pengetahuan umum mengenai pemikirian kiri, ada beberapa ilmu filsafat yg disampaikan melalui diskusi antara Nadir dan Widji dikemas dengan apik dan rapi. Serasa aku ikut berkecimpung di diskusi mereka.
Hal yang paling mengusik emosiku waktu tragedi amarah! bener-bener rasanya pengen marah, ikut hancur juga, sekejam itu politik negara waktu itu? Kebawa suasana, jadinya nangis waktu baca part tragedi itu.
Aku suka ending dari ceritanya! Bukan sad ending, tapi ini perfect ending buat mereka berdua. Hubungan mereka berdua menurutku udah gak sehat, gaada komunikasi, masalah gaada yang diselesaiin dengan cara mereka. Ahh pokoknya aku ikutan kesel waktu Nadir yg selalu menjadikan hubungannya seolah baik-baik saja, padahal mereka berdua sama-sama sakit. Sebenernya sayang sih, but yeahh what can we do? 🙊😞
Karena novel ini based on true story malah bikin aku semakin penasaran, penasaran dengan kehidupan mereka, namun bagaimanapun juga privasi mereka juga harus kita jaga kan? kalian yang penasaran, jangan usik kehidupan mereka ya! kasihan lohh, Nadir gak nyaman jadinya.
Hal yang paling saya susah maafin ialah penulisan "lo-gue" di latar belakang Makassar. Dia bilang nulis novel ini pake bahasa universal tapi lo-gue? Kek aneh banget. Bayangin Laskar Pelangi pake "lo-gue." Nggak masuk logika sama sekali. Yapi aku cukup apresiasi untuk angkat isu politik karena hal itu sensitif.
I can't describe my feeling, after i read this book (╥﹏╥) campur aduk pokonya, sedih, seneng, kecewa, ngga rela, aduhh semuanya deh hahaha nano-nano pokonya. Kaya naik rollercoaster, diawal kalian agak dibuat gregetan dan merinding, di pertengahan kalian dibuat salting dan ketawa, dan di akhir kalian akan dibuat nangis. (ini pendapatku)
Ini novel fiksi sejarah kedua yang aku punya, dan berhasil aku tuntaskan. Tanpa buku ini aku ngga akan pernah tau kalau pernah ada AMARAH, yeah sedikit banyak aku belajar dari buku ini.
Genre buku ini romance tapi dengan sedikit bumbu-bumbu sejarah. Bisa dibilang 85%nya romance si.
Seperti kata kak Windy, buku ini tentang dua orang partner yang kemudian saling jatuh hati. Aku suka banget pendapat Nadir tentang, suka, sayang dan cinta. Widji we're same here, I like man with a sexy brain too.
Konflik yang ada dibuku ini sedikit berat karena ada beberapa isu politik yang dibawa, dan tragedi yang pernah terjadi, khususnya di Makassar. Kak Windy berhasil menyampaikan sejarah dengan cara yang menyenangkan hahahah kerennn kak Windy💗💖
Untuk konflik didalam hubungan Nadir dan Wijdi sendiri sudah pas si menurutku. Cemburu, kurang percaya, sibuk satu sama lain, kemakan ego masing-masing, dll.
Eh tapi aku sempet nggak terima karena palung dan puncak itu ngga bisa bersama(༎ຶ ෴ ༎ຶ)🥀 tapi yaa oke, mencoba ikhlas lagian juga ini kan kisah 10 tahun lalu, mereka pasti sekarang sudah bahagia dengan caranya masing-masing (༎ຶ ෴ ༎ຶ)
aaaaa kak Windyy tulisanmu kerennnnn (ಥ_ಥ) love banyak banyak 💖
p.s. : Nadir keren banget dah, just because Widji bilang "aku suka lihat kamu di kampus", langsung lanjut S2 doang🧎🏻♀️mantull mantull (eh tapi Nadir emang mau belajar si, cuma kalimat Widji salah satu pendorongnya juga)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Oke, karena baru selesai baca kemarin malam, jadi aku nulis review-nya pagi ini aja biar lebih rileks (soalnya kemarin masih agak cekat-cekit setelah baca hahaha)
Bagi aku pribadi, sebenarnya aku mau kasih bintang 4.7. Tapi, berhubung di goodreads nggak bisa kasih koma-komaannya, maka aku kasih 5. Kenapa aku kasih 4.7 dan bukan 5?
Secara alur, setting, dan ceritanya sebenernya 5 untuk aku. Cuman terdapat cukup banyak typo yang bikin aku agak terganggu pas baca. Padahal narasinya lagi bagus-bagusnya. Buatku, genre romance dengan latar perkuliahan ditambah hal khas mahasiswa (aksi demonstran) bikin aku jadi semangat baca dari awal sampai akhir. Apalagi opening ceritanya yang berhasil bikin aku senyam-senyum di sepuluh halaman pertama. Penulis juga udah keren banget karena bisa menggambarkan peristiwa-peristiwa aksi mahasiswa dalam ceritanya. Aku jadi ikut masuk dan terbawa dalam alur.
Peristiwa-peristiwa yang ada di novel ini juga membuka wawasanku. Ternyata, nggak cuma di Pulau Jawa aja ada aksi pemberontakan besar-besaran. Aku juga belajar banyak soal pandangan-pandangan dari tokoh-tokoh filsafat. Thanks to Nadirsyah and his sexy brain. Hidup mahasiswa!
Meskipun ekspetasiku kepada tokoh utama ternyata nggak terpenuhi, tapi aku cukup puas dengan akhir yang seperti itu. Overall, aku suka dengan buku ini walau memang ekspetasiku untuk tokoh utama nggak sesuai.
Kalau dilihat dari akhir kata penulis ini cerita dari kisah nyata seorang teman atau mungkin penulis sendiri? yang digambarkan sebagai Nadirsyah dengan pasangan nya semasa kuliah yang disamarkan menjadi Widji. Ini bukan cuma cerita cinta biasa, banyak pelajaran yg bsa di ambil dlm novel ini. Kalau saja Mas Nadirsyah yang asli membaca review saya saat ini saya cuma mau blg kalau kalian berdua itu sama-sama egois haha, saya kesal sekali setiap membaca masalah dlm hubungan kalian yg sbnrnya bisa diselesaikan hari itu juga jika saja ada yg mau mengalah. Tapi saya kira itu kan kisah lama jd sekarang mas Nadir dan mba Widji sdh jadi pribadi yg lebih baik lagi, pasti. Terima kasih ya sdh mengijinkan kak Windy Joana menceritakan kisah kalian dlm sebuah tulisan, walaupun memang ada yg dipercantik kisah kalian benar-benar membekas dan cukup tragis sebenarnya hahah, hati saya ikut sakit melihat akhir kalian yg seperti ini. Tapi saya senang karena menurut saya sebenarnya kalian memang tidak ditakdirkan untuk bersama tapi ditakdirkan untuk bertemu dan bertumbuh memberi pelajaran hidup untuk satu sama lain. Sekali lagi terima kasih. Terima kasih karena sdh berjuang sampai ke titik akhir. Ada beberapa typo yg kurang nyaman untuk di lihat untuk lovrinz semoga lebih teliti lagi yaa. Salam kasih dari saya!
aku bukan penulis review yang handal, tapi izinkan aku menulis perasaanku sehabis baca buku ini, yaitu ... kacau banget. gimana ya. kak windy berhasil banget buat hatiku terkoyak sakit kayak habis diterkam serigala tanpa adanya plot kematian chara. ini sakit banget asli. soalnya di real life, aku juga ngerasain gimana rasanya merelakan orang yang dicintai, bagaimana kita akhirnya hanya bisa menatap sebuah puncak dari pos terakhir seperti nadir yang menatap widji dari kejauhan tanpa memiliki. ah sial, nyeseknya masih kerasa sampai sekarang.
selain itu, thanks, karakter widji dan nadir keren banget. aku jadi lebih terbuka tentang dunia. juga mulai banyak-banyak baca pemikiran filsuf keren kayak socrates. hehe aku ikut jatuh cinta sama perkataan socrates yang, “saya hanya tahu satu hal—yaitu saya tidak tahu apa-apa.” kalau kata nadir, damn socrates! kelasssssss.
btw thanks juga semangatku lebih membara. besok aku seleksi masuk balairung dan aku harap aku bisa menulis dan melakukan perlawanan demi kemerdekaan rakyat!
MERDEKA. LAWAN!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Romansa masa muda dan gairah akan politik. Udah itu aja. Aku lumayan menikmati ceritanya. Ada salah satu peristiwa yg sempat dihighlight di sini, yaitu peristiwa Amarah (April Makasar Berdarah) 1996. Ternyata ada kaitannya dengan ML di novel ini. Nah, pas part ini, aku salut sama authornya yg bisa bikin aku ngerasain sedihnya yg dirasain ama Nadir.
Interaksi Widji dan Nadir menurutku ya tipikal young adult banget lah. Masih ada sisi labilnya dan terkadang bisa jadi sama2 dewasa. Karena Widji sibuk di organisasi kampus, interaksi dan komunikasi antara keduanya jadi kurang baik. Sehingga kurang waktu untuk mereka bertemu dan saling memahami satu sama lain. Makanya, konfliknya gak jauh2 dari ini.
Mungkin karena emang bukan lagi fasenya, bagi aku ada yg agak cringe sih. Ini hanya di beberapa part aja, gak semua juga. Tetapi gak bohong kalo novel ini lumayan bikin aku throwback ke masa2 jadi anggota organisasi pas waktu kuliah dulu.
gak pinter me-review novel, tapi aku mau coba kali ini. first of all, aku gak pernah deh kecewa sama karya-karya dari kak winjo, dari dulu sampai sekarang, gaya penulisannya sangat aku sukai.
di novel kali ini konfliknya cukup rumit sih(menurut aku). pada akhirnya mereka nih gak bisa bersatu aja karena beda pemahaman dan pola pikir—dari awal malah, hahaha. yang aku suka dari novel ini tuh cara kak winjo menggambarkan sudut pandang dan pemikiran masing-masing tokoh jelasss banget. jadi konfliknya tuh memang wajar begitu, kesannya gak maksa lah.
terlepas dari endingnya yang memang bikin nangis semalaman(iya aku baca di kamar malam-malam sampai kantung mata hitam & sembab), novel ini punya ending yang memang paling masuk akal menurutku.
aku lumayan lupa minus dari novel ini apa aja karena baca ini tuh beberapa bulan yang lalu dan keingetnya yang bagus aja. tapi novel ini nemang patut dapat 5 bintang dari aku sih.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Solid ten stars from me. I couldnt say anthing at alllll, aku sukaa sukaa sukaaaa bangeeeeet walaupun emg butuh berhari hari buat ngelupain endingnya dan move on untuk baca buku baru t______t aku suka bagaimana cara nadir mendeskripsikan widji dan sebaliknya, aku jg suka cara author merangkai kata di buku ini hihihi aku udh dibuat nangis berkali kali ibaratnya udh diterbangin jauuuuuh dijatohin lagi, tapi dibuat terbang lagi trs dijatohin lagi HAHAHAHAHA
fyi, titik nadir itu buku pertama yg based on AU karna sebelumnya aku ragu bgt kalau baca buku yg based on AU (sooorrrryy) tapi karna buku ini aku jadi penasaran sama buku2 based on it lainnyaa hehehe
kalau bisa, aku mau lanjutan dari kisah nadir dan widji. Entah mereka yang balik dan coba buat memahami satu sama lain atau cerita kelanjutan hidup mereka masing2 tanpa satu sama lain ;)
Novel yang rasanya sangat beruntung aku temukan dan sangat layak mendapat bintang 5 Ada beberapa bagian yang membahas sedikit mengenai sejarah Indonesia, dan berhasil membuatku menangis saat membacanya. Tokoh Nadir dan juga Widji disini sangat membuatku greget luar biasa, dannnn aku dibuat kagum sama tokoh Widji. Ambisinya ngebuat dia jadi keren banget dimataku haha.. Lain Widji, lain pula Nadir. Aku sampai heran, ada ya manusia semacam dia di dunia ini wkwkwk Tapi, sama dengan Widji, aku ngefans banget sama Nadirrrr. Pengen punya teman diskusi seperti Nadir, tapi takut juga didebat sama dia hahahah Novel ini bagiku sangat realistis dari segi jalan cerita dan ending. Well done, thank you atas karyanya kak Joooo Will always waiting for your another storyyyy
Nadirsyah Priadi, anak bungsu yang merantau ke kota buat cari ilmu. Ketemu Widji Santika Atma, di kelas per-rolling-an. Mereka sama-sama mahasiswa politik, sayangnya banyak yang beda. Mulai dari beda pendapat setiap diskusi di kelas, semakin lama hubungan mereka yang diharapkan biasa saja dan lebih lama, berubah.
Nadir dan Widji punya cara mereka masing-masing buat berjuang. Setelah baca buku ini, banyak dibuat jatuh cinta, patah hati, dan sakit hati. Dan semua itu terjadi dalam waktu yang tidak lama-lama.
Senang, tapi sedihnya ada juga. Ada hal-hal baru dan ini bukan cuma tentang mereka berdua sebenarnya. Buku sampul merah ini isinya 'mahal' dan aku mau lantunkan itu ke semua orang!
Sebetulnya masih banyak bagian yg ku suka dari Titik Nadir, ceritanya keren karena Indonesia bgt, hehe. Ini beneran novel tapi karena banyak nyebut konsep2 gitu jadi berasa jurnal juga wkwk, bacanya sambil nulis laporan magang.
Salah satu buku yang masih aku omongkan ke banyak teman-temanku, soal perlawanan ada, tapi tentang cintapun ada. Waktu mendekati akhir dalam hati langsung bilang, "udahlah ini sih pasti selesai.". I mean gak ada yang bisa mengalah, pandai debat di waktu yang salah.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini menceritakan kisah Nadir dan Widji yang tidak berhasil bekerja sama untuk mencapai titik tujuannya, membuat mereka tersesat, dan akhirnya memutuskan untuk melanjutkan jalannya sendiri.
Cerita mereka berdua adalah cerita yang mengingatkan tentang pentingnya meluangkan waktu untuk duduk bersama, berbincang, dan mencoba memahami satu sama lain. Konflik yang ada diantara mereka kebanyakan disebabkan oleh dua orang keras kepala yang terlalu sibuk untuk mengungkapkan perasaan masing-masing hingga terjadi kesalahpahaman which leads them to draw conclusions yang menyakiti hubungan mereka.
Love this book so much.This book have a beautiful painting in the last page....And i love about how nadir trying to be a good boy to Widji.But sometimes i really hate how nadir avoid Widji.And Widji too how she trying to be a good girlfriend to Nadir.But they have wrong relationship,a relationship must be a happy not to hurt each other.If this relationship can be together again,i hope they can be a happy relationship.
pas baca buku ini tuh agak reading slump gituloh, jadi mungkin ga terlalu terasa feelnya. tapi nanti mau aku re-reading. agak kagum si sama nadir yang pikirannya terbuka, meskipun agak egois dikit si (based on joue opinion ya)
jatuh cinta sama narasinya yang cantikkkk T__T jujuurr aku agak kesel sama karakter nadir disini kayak *PENGEN NONJOK* kisah mereka terlalu cantik hingga berakhir, AKU GATAU MAU NULIS APALAGI INTINYA AKU SUKA TULISAN KAK WINJO CANTIK CANTIKK BANGETTTTT ☹️❤️❤️❤️
Membaca buku ini rasanya hangat sekali seperti kembali mengingat romantisme masa kuliah, pun juga tentang pergerakan mahasiswa dan bumbu kisah cinta para tokohnya
Setelah baca Lontara, akupun terpincut sama Titik Nadir dari kak Winjo apalagi kemarin sempat panik karena katanya mau stop terbit dan aku belum beli😭 untuk akhirnya kebeli sih wkwkwk
Oke kita ke reviewnya...
Dari segi narasi, aku suka karena narasinya ngalir gitu aja, kerasa ringan walaupun beberapa kali sempat bahas tentang politik, tapi bahasa dari narasinya kak Winjo bisa aku ngertiin dengan baik! 🤩 terus untuk alurnya, aku suka sih alurnya yang dimulai dari meet cute-nya Nadir dan Widji di kelas, mereka akhirnya dekat dan berakhir dengan pacaran. Alurnya juga apik sih, ngalir juga dan kerasa obrak-abrikin perasaan ini karena konflik-konflik yang ada dalam cerita ini bikin gregetan sih🤧
Untuk romance-nya, bisa dibilang aku menikmatinya walaupun ketika konflik mulai bermunculan, aku mulai sebel sama beberapa sikap tokohnya. Kayak Widji yg meragukan alias trust issue sama Nadir dan Nadir yang suka insecure gitu, sikap mereka yang gak baik ini ditambah komunikasi yang kacau, makin buat semuanya runyam menurutku. Tapi justru di sini letak unik penokohannya kak Winjo, baik Nadir maupun Widji, mereka sama-sama tokoh antagonis for each others & sikap mereka pun aku sebagai pembaca ngerasa kalo dari mereka berdua, gak ada yg bisa dibela, dua-duanya punya salah🥹
Aku suka pelajaran yang aku dapet dari buku ini, tentang bagaimana pentingnya komunikasi karena tanpa komunikasi, masalah sekecil upil bisa jadi sebesar gunung😭🙏🏻 selain itu aku juga dapet pengetahuan tentang peristiwa AMARAH (April Makassar Berdarah) yang terjadi pada 24 April 1996 dan masih banyak lagi pengetahuan sejarah dan politik di buku ini.
Narasinya cantik banget sih menurutku, tapi ada beberapa kata typo yang cukup menganggu. TAPI overall baguuus banget aku suka. Mulai dari narasi, plot, dll aku suka bangeeet huhu😍😍😍😍
Soooo, berawal dari rekomendasi orang beserta review2 yg aku baca akhirnya aku memutuskan beli buku ini secara impulsif (karena takut kedepannya ga produksi lagi dan ga kebagian) tanpa pernah aku baca karya2 kak Winjo sebelumnya baik d Twitter atau d Wattpad, wkwk. And I don't regret it.
Hal pertama yg mau aku bilang adalah 'WHO HURT YOU?'. Alias gtau kenapa ni cerita kerasa tragis & sakit aja gtu. Bahkan aku sempet on-hold pas baca karena ngerasa sedih bgt. Sbenernya yaaa, menurutku yg blom pernah pnya hubungan romantis, ni masalah Nadir Widji tuh bisa diselesaikan saat itu juga klo ga pada egois. Kurasa ga ada tokoh yg bner2 nyebelin selain kedua tokoh utamanya. Tapi ya udahlah yaaaa.
Yg keren dari buku ini menurutku adalah pembawaan ceritanya ituuuuu. Menurutku plot ceritanya berpotensi jadi cerita biasa aja klo ngga dibawakan secara oke (walau semua cerita juga kyk gitu sih sebenarnya). Bumbu2 kehidupan mahasiswanya jg terasa, terlebih lagi i love a story with a 'Smart Couple' trope so much.
Aku juga suka tampilannya (?). I mean, layout-nya pas (ngga terlalu padat atau longgar), ukuran font pas, cetakannya rapi (liat dari samping, atas, dan bawah buku), mudah dibuka dan dibaca (bukunya kyk agak letoy tp ga bikin rusak). Pkoknya gtu, susah jelasinnya :')
Unfortunately, aku masih menemukan beberapa salah pengetikan baik tanda baca, space, or typo(s). Character development yg aku harapkan juga ngga tercapai. Tp lagi2, ya udahlah yaaaa.... Emg cerita mereka harusnya begitu aja.