Jump to ratings and reviews
Rate this book

Filsafat Periode Socrates

Rate this book
Pada periode Socrates, kehidupan politik Yunani sedang tumbuh intensif, khususnya di Athena yang demokratis. Warga bebas memainkan peran apa pun, dalam hal apa pun, dan jika ingin terjun ke dalam politik, mereka mengikuti semacam pendidikan. Namun pendidikan dengan cara lama sudah tak cukup untuk memenuhi itu. Bentuk ideal aristokrat lama, entah lebih unggul dari cita-cita baru atau tidak, tak mampu memenuhi tuntutan demokrasi yang sedang berkembang. Ada sesuatu yang lebih dibutuhkan, dan kebutuhan ini dipenuhi oleh kaum Sofis.

Kaum Sofis menempatkan pelatihan teoretis sebagai pengganti pelatihan praktis. Mereka adalah profesor keliling yang berjalan dari kota ke kota, mengumpulkan banyak pengetahuan dan pengalaman berharga. Mereka memberi instruksi tentang berbagai hal, termasuk tata bahasa, penafsiran penyair, filsafat mitologi, dan lain sebagainya. Namun, di atas semua itu, mereka mengaku mengajarkan seni Retorika, yang mutlak diperlukan untuk berpolitik.

*

Buku Seri Filsafat diterjemahkan dari karya termahsyur Frederick Charles Copleston, seorang pendeta Yesuit Inggris, yang sebelumnya diterbitkan dalam sembilan jilid antara tahun 1946 dan 1975. Sebagaimana dicatat oleh The Encyclopedia Britannica, karya ini adalah "teks dasar pengantar filsafat untuk ribuan siswa universitas, khususnya dalam edisi paperback AS-nya."

108 pages

Published January 1, 2020

7 people are currently reading
8 people want to read

About the author

Frederick Charles Copleston

310 books301 followers
Frederick (Freddie) Charles Copleston was raised an Anglican and educated at Marlborough College from 1920 to 1925. Shortly after his eighteenth birthday he converted to Catholicism, and his father subsequently almost disowned him. After the initial shock, however, his father saw fit to help Copleston through his education and he attended St. John’s in Oxford in 1925, only managing a disappointing third in classical moderations. He redeemed himself somewhat with a good second at Greats in 1929.

In 1930 Copleston became a Jesuit, and, after two years at the Jesuit novitiate in Roehampton, he moved to Heythrop. He was ordained a Jesuit priest at Heythrop College in 1937 and soon after went to Germany (1938) to complete his training. Fortunately he made it back to Britain before the outbreak of war in 1939. The war made it impossible for him to study for his doctorate, as once intended, at the Gregorian University in Rome, and instead Copleston was invited to return to Heythrop to teach the history of philosophy to the few remaining Jesuits there.

While in Heythrop Copleston had time and interest to begin the work he is most famous for, his "A History of Philosophy" - a textbook that originally set out to deliver a clear account of ancient, medieval and modern philosophy in three volumes, which was instead completed in nine volumes (1975). To this day Copleston’s history remains a monumental achievement and stays true to the authors it discusses, being very much a work in exposition.

Copleston adopted a number of honorary roles throughout the remainder of his career. He was appointed Visiting Professor at Pontifical Gregorian University in Rome, spending half of each year lecturing there from 1952 to 1968. He was made Fellow of the British Academy (FBA) in 1970, given a personal professorship from his own university (Heythrop, now re-established in the University of London) in 1972 and made an Honorary Fellow of St. John’s College, Oxford, in 1975. He was Visiting Professor at the University of Santa Clara between 1974 and 1982, and he delivered the Gifford Lectures at the University of Aberdeen between 1979 and 1981. His lectures were published under the title Religion and the One, and were largely a metaphysical tract attempting to express themes perennial in his thinking and more personal than in his history. Gerard J. Hughes notes Copleston as remarking "large doses of metaphysics like that certainly don’t boost one’s sales".

He received honorary doctorates from a number of institutions, notably, Santa Clara University, California, University of Uppsala and the University of St. Andrews (D.Litt) in later years. He was selected for membership in the Royal Institute of Philosophy and in the Aristotelian Society, and in 1993 he was made CBE.

Copleston’s personality saw him engage in the many responsibilities bestowed upon him with generous commitment and good humour.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (19%)
4 stars
9 (42%)
3 stars
6 (28%)
2 stars
1 (4%)
1 star
1 (4%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Nina Majasari.
136 reviews1 follower
February 8, 2024
Buku ini merupakan salah satu rangkaian dari seri filsafat yang ditulis oleh Frederick Charles Copleston dan diterjemahkan oleh penerbit Basabasi. Kalau nggak salah ada 18 buku, jadi saya pikir boleh juga nih kalau tiap bulan baca 1 buku.

Nah, tentunya saya membaca urut dari no 1, yang diawali oleh Periode Socrates. Covernya berwarna ungu dengan ilustrasi wajah Socrates, lalu di bagian bawah terdapat kutipan terkenal dari Socrates, “Orang bijak adalah ia yang mengerti bahwa dirinya tidak tahu apa-apa.”

Pada periode Socrates, kehidupan politik Yunani sedang berkembang, rakyat Yunani dibebaskan jika ingin terjun ke dalam politik sehingga banyak dari mereka yang mengikuti semacam pendidikan. Namun lama-lama pendidikan dengan cara lama tidak mampu memenuhi tuntutan demokrasi yang sedang berkembang.

Lalu muncullah kaum Sofis. Mereka adalah profesor keliling yang berjalan dari kota ke kota, mengumpulkan banyak pengetahuan dan pengalaman berharga. Mereka berhasil memikat para pemuda yang antusias tentang berbagai hal, seperti tata bahasa, penafsiran penyair, filsafat mitologi dan seni retorika. Namun ajaran mereka perlahan-lahan merusak tradisi dan kepercayaan religi, yang membuat penganut tradisi lama memandang kaum Sofis dengan penuh curiga.

Kaum Sofis sebetulnya rada nanggung, mereka tidak memberikan hal yang benar-benar baru dan stabil sebagai pengganti keyakinan lama. Bahkan banyak dari mereka bicara dan menulis demi menerima upah dan keuntungan semata, bukan dasar ingin membantu.

Di dalam buku ini disebutkan beberapa Sofis, yaitu Protagoras, yang didakwa melakukan penistaan karena bukunya tentang dewa. Lalu ada Prodicus yang berpandangan bahwa penyembah agama berlebihan. Selain itu ada Hippias, yang membuat daftar pemenang Olimpiade menjadi dasar sistem penanggalan Yunani. Dan yang terakhir ada Gorgias, yang memperkenalkan seni sugesti untuk tujuan praktis, baik ataupun buruk.

Socrates yang mempelajari teori kosmologi Timur dan Barat di usia 20-an, mengalami kebingungan dan tidak sepakat dengan berbagai teori kaum Sofis.

Sempat Socrates mendapatkan pencerahan dari Anaxagoras yang berbicara tentang pikiran sebagai penyebab dari semua hukum dan tatanan alam. Lalu ia pun berharap pikiran lambat laun bisa menjelaskan kerja alam semesta, namun setelah lama tidak membuahkan hasil, Socrates kecewa dan meninggalkan filsafat alam.

Masalah Socrates adalah memastikan apa tepatnya ajaran filosofisnya. Sampai akhirnya ia memperkenalkan filsafat manusia dan menemukan metode praktis, yaitu mengambil bentuk “dialektika” atau percakapan. Ia akan berbincang dengan seseorang, mengajukan pertanyaan, membiarkan orang lain mendominasi pembicaraan, tapi tetap menjaga pembicaraan di bawah kendalinya.

Dialektika ini tentu agak menjengkelkan, bahkan membingungkan atau memalukan bagi mereka yang ketidaktahuannya terekspos atau kejanggalannya dihancurkan. Namun tujuan Socrates untuk menemukan kebenaran demi kehidupan yang baik.

Socrates bukan sekedar ahli logika. Ketika ia mengkritik dan mengekspos pandangan dangkal dan asumsi tanpa pertimbangan, bukan berarti ia memamerkan kecerdasan dialektik superiornya, tapi ia mendorong lawan bicaranya untuk merenungkan diri mereka sendiri, sampai timbul pemikiran penting dalam merawat jiwa mereka.

Bagi Socrates, ini adalah misi hidup, tugas untuk membuat manusia menjaga kemuliaan yang dimilikinya.

Pemikiran Socrates mempengaruhi muridnya yaitu Plato dan kemudian ke Aristoteles yang merupakan murid Plato. Setelah Socrates dihukum mati, muncullah beberapa “Mazhab Socratik Minor”. Sebetulnya Socrates tidak mendirikan mazhab tertentu, ia tak mengumpulkan murid-muridnya untuk mendapat warisan doktrin tertentu. Namun ternyata banyak pemikir Athena yang melanjutkan teorinya sampai ke dunia Barat.

Buku tipis dengan 103 halaman, saya baca lumayan cepat. Terjemahannya juga enak, tampaknya ditulis sesederhana mungkin dengan pemilihan kosakata yang mudah dimengerti. Ada beberapa typo, namun buat saya nggak terlalu mengganggu.
Profile Image for Tamira Bella.
179 reviews2 followers
October 21, 2024
Sesuai judulnya buku ini menjelaskan filsafat yang ada pada periode Socrates, seperti yang kita tahu Socrates ini merupakan seorang tokoh filosuf Yunani Klasik yang mendobrak keterbelakangan corak berpikir bangsa Yunani yang cenderung bersikap nihilisme karena pengaruh filsafat sofistik.

Bukunya tipis, kurang lebih 100+ halaman namun isinya cukup padat, bahasanya juga lumayan berat, cukup banyak perenungan yang saya lakukan saat membaca buku ini,

karena bukunya tipis saya tidak ingin banyak mengulasnya, namun saya ingin membagikan kutipan favorit saya pada buku ini yang ada pada halaman 64, dimana:

"intelektualisme etis" Ini tampaknya pada pandangan pertama bertentangan dengan fakta-fakta kehidupan sehari-hari.Apakah kita tak sadar bahwa kita sendiri terkadang dengan sengaja melakukan apa yang kita tahu salah, dan apakah kita tidak yakin bahwa orang lain bertindak dengan cara yang sama?

Ketika berbicara tentang seseorang yang bertanggung jawab atas tindakan buruk, bukankah kita menganggap ia melakukan tindakan itu dengan pengetahuan atas kejahatan? Jika kita memiliki alasan untuk mengira bahwa ia sama sekali tak mengetahui keburukannya, kita tidak menganggapnya bertanggung jawab secara moral.
Profile Image for livvyy.
4 reviews
October 24, 2022
This is the first time and the first book in the philosophy genre that I have read. so far i like it and one thing that amazes me about Socrates is when he chose to stand firm in his convictions even though he knew what punishment he would get instead of taking the opportunity to escape. At least but not last, I will definitely read more about it
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Hanif Nurrahman.
51 reviews2 followers
June 6, 2024
Bacaan bagus untuk menilik sejarah era Socrates, terjemahannya masih kasar dan banyak typo.
Displaying 1 - 4 of 4 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.