"Emosi harus dikeluarkan, karena jika tidak, pada akhirnya emosi tersebut hanya akan menggerogoti dirimu. Kesedihan itu layaknya tubuh yang akan menggemuk meski hanya memakan air mata.”
Yeon Jeoung mengungkapkan rasa sakit yang dialaminya melalui tulisan yang penuh kejujuran. Dengan kalimat yang tidak dibuat-buat, membuat tulisannya lebih tertanam dalam hati. Ini adalah buku yang dapat membuat pembacanya bersimpati dan menjadi penyemangat bagi orang-orang yang hidup dengan kesedihan serupa.
Buku ini diterjemahkan dari Bahasa Korea (itu di cover ada judul aslinya). Covernya item doang. Mnrtku isinya sekelam covernya wkwkwk.
Kyknyaa buku berisi esai mengenai pengalaman penulis gini cukup banyak ya di Korea? Entahlah sejujurnya not my cup of tea sihh. Entah karena isinya yang (mostly) muram dan menyedihkan atau emang ga cocok aja—aku baru pertama baca buku begini.
Seperti yang aku bilang, isi bukunya adalah esai pendek (ada puisi (?) juga sih) yang menceritakan pengalaman-pengalaman penulis. Kebanyakan emang bukan pengalaman yang menyenangkan sih. Menurutku tulisannya personal bgt sih kyk baca diary org. 1 tulisan tu seingetku paling banyak 3 halaman, itu juga ga full gituloh jadi emang singkat-singkat banget. Menurutku si penulis bener2 mencurahkan seluruh perasaan dia, kesedihan dia, ke dalam tulisan-tulisannya. Aku bisa ikut ngerasain kesedihannya, makanya aku bilang buku ini muram bgt. Oiya kyknya hal itu juga didukung terjemahan buku ini yg menurutku enakk jadi ga kerasa aneh pas baca + maknanya juga tetep nyampe ke pembaca.
Ok in conclusion, buku ini tuh bagus tapi not my cup of tea—mungkin karena aku ternyata kurang suka jenis buku yg kyk gini atau karena terlalu sedih aja. Tp aku tetep merekomendasikan buat kalian yang suka jenis buku begini atau kalian yang mungkin lagi bersedih/terpuruk gituu biar kalian ga merasa sendirian menghadapi itu🤗❤️
"Kita harus mengucapkan selamat tinggal dengan baik pada hal-hal yang memang seharusnya pergi."
----------
Sama seperti cover nya yang berwarna hitam, isi buku ini juga cukup muram menurutku. Well, kayaknya buku-buku dengan genre personal essay begini memang cukup populer ya di Korea.
Buku ini bisa dibilang berisi essay-essay pendek tentang pengalaman personal dan catatan perasaan penulis tentang kehidupan sehari-hari. Beberapa bahkan terasa terlalu personal, jadi kesannya kayak membaca diary penulis sih. But, aku merasa cukup relate dengan beberapa catatan yang ditulis. Berbagai perasaan penulis tercurah di sini. Mulai dari perasaan sedih, bersyukur, cerita tentang keluarga, teman, kekasih, perhitungannya saat hendak membeli sesuatu, hingga cerita penulis mencari pertolongan untuk menyembuhkan lukanya pada psikiater.
Well, walau sebagian besar tulisan di sini bukan tentang hal yang 'menyenangkan', tapi menurutku buku ini cukup ringan untuk dibaca. Selain karena tipis, terjemahannya juga oke banget sih menurutku.
All in all, buku ini sedikit banyak mengajarkan kita tentang bertahan hidup. Dan mungkin bisa menjadi teman yang memeluk kita saat sedang merasa down. Membuat kita berpikir bahwa kita nggak sendirian.
Aku baca review dari bbrp orang sebelum beli bukunya dan membacanya.
I like this book, I feel like I am connecting to the words I read for some reasons. I might gonna reread this book if I have to cry a lot and reminding what I've been through and gaining the new buckets of happiness🥹
P.s. I finally understood why some ppl cant relate to this book cause they didnt feel the same way.
Buku ini bisa di bilang seperti kumpulan prosa atau puisi yg seru bgt buat dibaca. Seorang karakter yg pergi ke psikiater tp gak mau nemberitahu temen2 lain
Kita semua tahu jika kita masih diberi nafas tentu saja esok hari kita masih bisa melihat matahari terbit. Sayangnya yang menjadi masalah adalah ketika waktu berubah menjadi malam, keadaan menjadi sunyi apalagi orang terdekat kita sedang terlelap. Tak ada satu pun yang menemani kecuali berbagai pikiran yang berkecamuk yang memang sengaja hadir di malam hari. Lalu bisakah kita bertahan melewati satu malam demi malam dengan baik? Nah itulah tujuan penulis membuat buku ini.
Jika kalian merasakan hal yang sama denganku, tentu saja itu tidak dirasakan oleh aku dan kamu, tapi juga penulis dari buku. Malam adalah waktu yang begitu menyiksa dimana harusnya kita bisa terlelap dengan tenang tetapi pikiran kita dibawa kemana-mana bahkan dada terasa sesak seakan ditimpa beban berton-ton.
📝 Buku yang dibagi dalam 4 bagian yang berisi esai dan membahas kehidupan penulis. Bagian pertama dibuka dengan hidup penulis yang serba sulit dan kekurangan dalam segi ekonomi yang tentu saja membuat penulis harus berhemat. Bagian kedua merupakan perjalanan penulis menyembuhkan dirinya melalui konseling.
Bagian ketiga membahas tentang cinta dan relasi dan ditutup bagian keempat yang menceritakan keluarga dan orang terdekat penulis. Dan beberapa surat untuk penulis sendiri, pembaca, dan orang terdekatnya.
Jika kalian mencari buku Self Improvement yang lebih ke “hugging book” tentu saja bukan ini jawabannya. Karena buku ini terasa muram, depresif, bahkan kesedihan penulis jelas tergambar di dalamnya. Tapi beberapa bagian juga memberikan kehangatan tersendiri seakan kita memiliki orang yang jauh disana yang juga merasakan hal yg sama.
Buku ini tidak akan menjadi penghibur hebat, tetapi buku yang bisa menggapai sudut bantalmu ketika kamu tidak bisa tidur di malam hari.
Buku memang bisa datang di saat yang tepat. Nggak disangka, saya menikmati sekali membaca buku ini.
Buku ini muram dan menyedihkan. Begitu kesan awal tentang buku ini. Pun harus beradaptasi membaca buku semacam ini untuk pertama kali. Di akhir, saya senang menyelesaikannya. Ada perasaan nyaman dan entah apa yang membuat saya lega.
Diterjemahkan langsung dari Bahasa Korea, “Esok Matahari Akan Terbit Kembali Tapi Bagaimana dengan Malam Ini?” bercerita tentang kesedihan-kesedihan yang dialami penulisnya, Yeon Jeong. Dia tidak serta merta memberikan cara-cara untuk menghadapinya. Lebih ke arah hal-hal yang dia pikirkan dan tuangkan, dalam bentuk percakapan, kadang larik puisi, atau, ya, sekadar menuliskan perasaan. Mungkin itu yang bikin cocok.
Membacanya seperti membaca buku harian teman atas izinnya. Alih-alih melanggar privasi, malah terasa diketemukan dengan hal-hal yang akrab. Kadang terasa seperti dibantu dituliskan perasaan-perasaan yang saya. Syukurnya, hal-hal sedihnya tidak semuanya saya alami (boleh, kan, bersyukur?).
Atau, ya itu tadi, buku ini datang di waktu yang pas.
Saya rasa, bisa berhenti sejenak untuk membiarkan diri merasakan dan mengendapkan kesedihan adalah sebuah keistimewaan sendiri. Terkadang, saya merasa tidak ada kesempatan dan waktu untuk merasakan kesedihan. Juga lebih memilih tidur, biar tidak capek saat terbangun dan harus beraktivitas lagi. Tentu itu bukan hal yang sehat. Menghadapi kesedihan dan kerisauan sepertinya memang perlu dipelajari dan diusahakan.
Buku yang menarik. Kalau kamu perlu bacaan yang bisa menemani perjalanan sembari menelaah perasaan. Bisa juga sebagai pengingat bahwa kamu tidak sendiri. Meski mungkin perlu hati-hati kalau perasaan dan keadaan kamu sedang sangat tidak baik-baik.
Sesuai kovernya yang hitam, buku ini terasa sangat muram. 'Esok, Matahari Akan Terbit Kembali tapi Bagaimana dengan Malam Ini?' merupakan kumpulan esai yang sangat personal.
Buku ini terdiri dari 4 bagian. Bagian 1 berisi esai yg banyak membahas soal hidup penulis yg harus hemat dan mengalami kemiskinan. Bagiku pribadi agak triggering bahasannya karena pernah merasa harus sehemat itu juga.
Bagian 2 merupakan perjalanan penulis menyembuhkan dirinya. Mulai dari pengalaman buruknya konseling pertama kali hingga dia menemukan tempat konseling yg cocok. Meski banyak cerita yg menghangatkan hati, banyak jg bagian yg terasa muram dan depresif.
Bagian 3 banyak membahas soal cinta dan relasi. Ada tentang hubungan cintanya yang harus diakhiri hingga masalah keluarga. Meski tetap terasa muram, penulis menuliskan dengan yakin kalau dia percaya di masa depan dia layak mendapatkan cinta (dan pasangan yg baik).
Bagian 4 ini terdiri dari kisah soal keluarga penulis dan surat-surat. Surat untuk mantan penulis, keluarga, diri sendiri, pembaca, hingga harapan masa depan.
Buku ini kayaknya gak masuk tipe nonfiksi 'hugging book' Korea yang populer deh. Isinya jauh lebih muram dan gak sedikit yg terasa depresif. Kayaknya lebih ke diary yg sangat jujur dan lewat kejujurannya itu penulis berusaha menyentuh hati pembaca yg bisa jadi merasakan hal yg sama. Swipe aja buat baca beberapa bagian yg aku tandain.
Personally aku agak hate-love pas baca buku ini. Bagian 1 itu sangat depresif buatku 🥲 tapi masuk Bagian 2 aku suka. Senang bgt melihat perjalanan penulis menyembuhkan dirinya. Aku jg suka bagian akhir buku ini. Rasanya hangat gitu pas baca. 👍
I take a lot of time to finish this book. Just because i have a lot of things to do lately.
Thanks to Seungkwan Seventeen for recommend it to us. Kumpulan esai dari penulis Yeon Jeong. Menceritakan tentang pengalaman hidupnya dan orang-orang terdekatnya.
Dengan bahasa yang hangat dan mudah dipahami. Membaca buku ini membuat tubuh menjadi relax. Karena bukan bacaan yang tidak berat jadi buku ini cocok untuk menemani waktu sebelum tidur, sesuai dengan judulnya “Esok Matahari Akan Terbit Kembali, tapi Bagaimana dengan Malam Ini?”.
Kisah-kisah yang diceritakan cukup ringan dan relate dengan kehidupan sehari-hari. Sedikit overthinking berkurang berkat membaca esai penulis. Dengan kesedihan yang diungkapkan ini, membuatku tidak merasa sendiri. Aku seperti punya teman curhat yang saling berbagi sedih dan suka.
Terima kasih telah menemaniku di waktu yang singkat ini ~~
Secara ngga sengaja aku akhir-akhir ini baca 3 buku yang semua temanya adalah self-improvement, termasuk buku ini, dan kesimpulannya, unfortunately, buku ini ada di urutan terakhir menurut preferensi pribadiku.
Awal mula tertarik buku ini karena sebagian besar review mengulas kalau buku ini begini dan begitu, impactful, bikin ngerasa relate, dsb. Tapi ternyata ngga ngena aja di aku, dan aku ngga ngerasa relate, makanya mungkin itu sebabnya rating personalku pun hanya 2.5 dari 5 poin.
Kalau ada yang penasaran, boleh dicoba baca, mungkin di kalian bisa relate dan bisa menyentuh hati seperti kata beberapa reviewer. Good luck!
Satu kata untuk buku self improvement ini adalah sendu. Gaya bahasanya benar-benar mengalir. Terjemahannya pun nyaman dibaca.
Buku ini sederhana, tetapi menurutku penuh makna. Kalimat-kalimatnya indah. Beberapa bagian bahkan terasa seperti puisi. Menarik 'kan?
Hatiku tenang saat membaca buku ini. Dan kalian tahu apa yang ajaib? Rasanya seolah ada awan mendung yang menemaniku.
Akan lebih cocok membaca buku ini di pagi hari atau malam hari sekalian. Di saat-saat hati tengah merasa sentimental. Mungkin bisa juga dibaca sambil menikmati secangkir teh dan roti.
Buku ini cocok untuk dijadikan bacaan sekali duduk. Tidak hanya sekadar dibaca, akan tetapi akan menyuguhkan kita sendu yang tidak berkesudahan. Penulis benar-benar luar biasa!
3.5 stars! One thing about personal essay : sometimes it gets a little too personal. Banyak narasi yang relate sama kehidupan aku, terutama keinginan untuk jadi orang yang “biasa” aja. Kata-katanya menyentuh, tapi kembali lagi di beberapa essay terasa terlalu personal (ya namanya personal essay, what did you expect?) sampai rasanya seperti lagi baca buku harian seseorang. But still a good read indeed.
Buku rekomendasi ❣️Seungkwan❣️yang dia baca pas In The Soop, versi terjemahan Indonesia. Berisikan tentang kisah-kisah yang dialami oleh penulis dalam kesehariannya.
Buku ini menurut aku tuh simpel dan sangat relatable banget. Penulis mampu menyampaikan pikiran dan perasaannya dengan cara yang mudah dipahami.
*kumpulan tulisan-tulisan pendek *akan sedikit terasa seperti diary dari si penulis *entah karena gap bahasa (sulit diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia) jadi ada pesan yang tidak bisa langsung dicerna *berisi berbagai macam “kegalauan”, mulai dari kegalauan hidup, keluarga, dan kekasih *cocok buat bacaan selingan karena tipis
Baca buku ini jujur karna direkomendasiin sama Seventeen Seungkwan. Uniknya, I read it at the time when I needed it the most. Baca buku ini seperti liat diary entry orang lain. Beberapa judul ada yg bikin "Oh, orang lain juga ngalamin hal kayak begini" dan kita bisa loat different POV dari diri sendiri. In a way, it is comforting.
Membaca buku ini selama proses penyembuhan dan harus bolak-balik ke rumah sakit tuh beneran healing, aku dulu sempat tidak suka baca buku self-improvement, tapi buku ini punya caranya sendiri menggerakkanku untuk membacanya sampai habis.
Melalui personal essay yang ia tulis, Yeon menceritakan bagaimana malam-malam yang dia lalui begitu sulit dan menyakitkan, tapi dia juga tidak lupa menunjukkan bagaimana dia menyikapi itu semua dengan cara yang membuatnya lebih kuat dari keadaan sebelumnya.
Buku ini bagus karena meski membahas tentang kesedihan dan rasa sakit dia membahas cara bertahan dari semua itu dalam satu paket. Yeon seperti mencoba mengatakan pada kita bahwa menjadi sedih itu tak apa, semua orang juga pasti pernah merasa sedih dan kita tidak perlu merasa malu akan itu, tidak perlu takut, karena seperti halnya luka luar, luka batin pun bisa sembuh ketika kita mengobatinya.
Buku yang ditulis dengan hangat dan jujur sekali. Isinya tentang catatan-catatan perasaan tentang hidup sehari-hari. Penulis menuliskannya dengan begitu lugas dan menurutku cukup banyak bagian yang related.
Bagian terbaiknya, penerjemah pengartikan kalimat per kalimatnya dengan baik pula, sehingga menjadi enak dibaca meski bukan dalam bahasa aslinya. Jadi, aku merasa tak masalah memberikan bintang 5. Selain suka isi dan narasinya, aku suka terjemahannya.
Isinya ada berbagai macam, baik tentang perasaan sedih, bersyukur, cerita tentang keluarga, hingga cerita pergi ke psikiater dan pertolongan pertama pada hati.
Singkat dan cocok dibaca sambil nunggu mobil selesai dicuci, atau nunggu antrian salon, atau mungkin hanya karena ingin bacaan ringan di akhir pekan.
4.5/5! Baca buku ini kesannya kaya lagi baca diary. Isi bukunya tentang penulis yang mengalami depression & cara dia buat sembuh💖 so heartwarming! bagian paling berkesan menurut aku ada di the last part buku ini: tulisan yang akan kubaca ketika ingin pergi ke permandian umum. Kisah ini tentang penulis dan mama penulis. Bener" terharu pas baca "... tiba-tiba mataku berkaca-kaca. Aku sadar bahwa punggung yang kuusap ini suatu hari akan melengkung dan menjadi kurus." Sejujurnya, ada banyak cerita di buku ini yang relate sama aku, ceritanya pun ringan.
Cocok buat kalian yang mau baca essay terkait depression, mental health, dan yang lagi cari motivasi hidup💖 Maybe it's the book that you guys are looking for!
This entire review has been hidden because of spoilers.