"Orang dewasa yang hebat bukanlah mereka yang sempurna tanpa kesalahan, tetapi mereka yang belajar dari kesalahannya dan maju perlahan."
Ada hal-hal yang baru disadari dalam proses pertumbuhan menjadi dewasa. Ada banyak hal di dunia ini yang membuat orang dewasa ingin menangis. Jauh lebih banyak daripada saat kita masih kecil, yang menangis hanya karena terjatuh.
Banyaknya luka yang terukir di dalam hati selama hidup bukan makin berkurang, justru makin bertambah, hingga pada akhirnya perasaan ingin menangis itu muncul saat diri kita terusik akan hal yang sepele sekalipun. Meskipun luka yang lama telah mengeras menjadi koreng, tetapi saat muncul goresan baru di bagian yang lain rasanya akan sangat sakit.
Menjadi Dewasa Tanpa Tahu Apa-Apa merupakan buku self improvement Korea berupa esai yang ditulis oleh penulis berdasarkan pengalaman hidupnya ketika memasuki fase dewasa.
Buku ini dibagi ke dalam empat bagian. Dua bagian pertama fokus membahas hal-hal yang kita alami sebagai orang dewasa. Sedangkan dua bab selanjutnya lebih fokus membahas mengenai hubungan antar manusia, tepatnya lebih ke hubungan dengan pasangan.
Begitu baca buku ini aku langsung ngerasa tersentuh, karena apa yang ditulis oleh penulisnya beneran relatable. Aku ngerasa perasaan-perasaan aku di validasi, bahwa aku gak sendirian merasakan hal-hal itu ketika memasuki fase dewasa dalam hidup.
Dulu waktu kecil rasanya pengen banget cepet dewasa, kayanya dunia orang dewasa itu enak, penuh kebebasan. Tapi ternyata bersama kebebasan itu juga datang tanggungjawab.
Saat dewasa rasanya dituntut untuk kuat dan bisa menyelesaikan masalah sendiri. Gak boleh nangis bahkan untuk hal sepele. Harus tau apa yang mau dilakukan.
Nyatanya gak kaya gitu. Semakin dewasa tantangan hidup justru semakin berat. Kadang gak tahu apa yang harus dilakuin. Merasa sepi karena teman udah punya dunianya masing-masing jadi gak bisa sering ketemu.
Belum lagi menghadapi kegagalan demi kegagalan. Merasa lelah dengan semua dan rasanya cuma pengen diam aja.
Jadi dewasa bukan berarti harus tahu segala hal, selalu berhasil dan baik-baik aja. Gak apa-apa loh kalau emang lagi merasa lelah dan pengen nangis, gak apa-apa kalau gagal nanti bisa coba lagi, gak apa-apa kalau kamu masih belum tahu apa yang mau kamu lakuin dalam hidup. Kira-kira itu pesan yang ingin disampaikan penulis.
Asli sih baca buku ini berasa lagi curhat sama teman soal keluh kesah jadi orang dewasa. Kenyataannya jadi dewasa tuh emang serba membingungkan. Wk
Untuk pembahasannya sendiri aku lebih suka dua bagian pertama, dua bagian terakhir kurang merasa relate.
Buku ini menurut aku cocok dibaca kalau kamu udah memasuki usia 20an, karena bakalan relate sama apa yang dibahas. Kalau masih remaja mau baca bisa juga, sebagai gambaran sebenernya nanti kalau dewasa itu kaya gimana.
mnrtku recommended bukunya. Cocok buat kalian yang mau coba baca nonfiksi karena ringan + ada gambar lucu hehe. Cocok juga kalo kalian mau baca yang ringan. Terjemahan bukunya enak mnrtku.
Tapi kalo kalian butuh nasihat2 praktikal atau mau baca nonfiksi yang agak 'serius' aku rasa kurang cocok sih hehe.
"Kita melarikan diri ke sana dan kemari dengan alasan 'masih belum' siap atau 'masih belum' sempurna. Padahal nyatanya kita hanya dihantui rasa takut."
----------
Dulu sewaktu masih kecil, aku kepingin cepat-cepat jadi dewasa supaya bisa 'bebas' dan kelihatan keren waktu melakukan apa yang diinginkan. Sekarang waktu udah benar-benar menginjak 'dunia dewasa', aku malah kepengen bisa balik jadi anak kecil yg cuman pusing mikirin ulangan matematika 🥺 Kenyataan memang nggak pernah seindah yang dibayangakan, bestie. Jadi dewasa itu sulit. Dan membingungkan. Huhuhu.
Makannya begitu aku lihat buku ini, aku langsung tertarik sama judulnya karena relate banget dengan yg aku rasakan. Menjadi Dewasa Tanpa Tahu Apa-Apa berisi essay-essay personal penulis tentang perjalanannya menjadi dewasa. Semakin jadi dewasa, semakin besar pula tanggung jawab dan tuntuan untuk kita. Karena 'udah dewasa' jadi dianggap harus udah tahu apa yang mau dilakukan. Padahal, nggak pernah ada tuh guideline tentang 'cara menjadi orang dewasa' 🥲 Nggak jarang juga merasa lost dan kesepian karena teman-teman udah pada punya dunianya masing-masing.
Isinya relatable parah sih buatku! Ada cerita tentang struggle dalam pekerjaan, insecurity, merasa diri nggak bisa melakukan apa-apa, takut dengan kegagalan, mengejar standard kebahagiaan, masalah hubungan dengan pacar dan teman, jenuh dengan rutinitas hidup yang itu-itu saja, dan masih banyak lagi. Nggak kehitung berapa banyak bagian yang kutandai di buku ini saking relatablenya. Belum lagi ada illustrasi-illustrasi gemas dan terjemahannya juga luwes dibaca.
Buku ini rasanya bisa jadi teman yang memeluk dan mengingatkan kalau kita nggak sendirian. Pada dasarnya, masih ada sosok anak kecil dalam diri setiap orang dewasa. And it's okay to embrace that little kid in us. It's okay kalau pengen menangis saat merasa lelah, it's okay kalau kamu gagal, it's okay kalau belum tahu apa yang mau dilakukan dalam hidup. Jadi dewasa itu sebuah proses pembelajaran via trial and error, bukan tujuan akhir.
ernah nggak sih merasa "aku ini ngapain sih?" ketika sudah terjun ke masyarakat?
Saat melepas status pelajar/mahasiswa dan jadi kaum produktif, sampai saat ini, kadang aku masih merasa begitu. Bingung sebenarnya "gimana jadi dewasa itu?"
Paling mudahnya adalah ketika harus ngurus pajak atau hal administratif sebagai warga negara. Pusing 😭 Nggak ada yang ngajarin padahal penting. Di google ada sih, tapi tetap aja masih pusing 🥺
Selain itu, tentunya ada juga hal-hal lain. Apalagi terkait masa depan. Khawatir apakah udah ambil keputusan tepat, apakah di masa depan gpp, apakah aku udah jadi manusia dewasa yang baik? Mana ketika dewasa tuh terasa banget seorang diri. Sahabat masih ada, cuma nggak kayak dulu yang 24 jam bareng.
Buku "Menjadi Dewasa Tanpa Tahu Apa-Apa" ini berusaha merangkul kita. Lewat buku ini, penulis merefleksikan perjalanannya menjadi dewasa yang relate dengan pengalaman kita sendiri. Ibaratnya kayak dengar teman curhat gitu. Kekhawatiran kita ketika dewasa juga divalidasi lewat cerita dan esai penulis.
Ditulis dengan bahasa yang lugas dan akrab, buku ini cocok buat jadi teman ketika kamu merasa bingung di perjalanan menjadi dewasa. Ada 4 bagian di buku ini, 2 bagian awal berkaitan dengan diri kita dan 2 bagian akhir lebih banyak membahas soal hubungan relasi (khususnya dengan pasangan).
Aku pribadi suka tulisan-tulisan di 2 bab awal. Mungkin karena nggak relate aja dan aku lebih banyak galau (serta overthinking) soal masa depan. Terus ada juga ilustrasi kucing yang menghiasi di beberapa esai. Cute banget.
Secara keseluruhan buku ini kayak pelukan teman yang meyakinkan kita terkait segala ketidakpastian menjadi "orang dewasa". Aku rekomendasikan 👍
Saya senang mengikuti intuisi untuk mengambil buku ini di rak toko buku. Tulisannya begitu sederhana tapi banyak memberi makna, tanpa sedikit pun menggurui. Malah pengalaman-pengalaman penulis dan kesadaran yang muncul menyertai pengalaman itu mirip dengan apa yang saya alami. Saya jadi merasa, ternyata menjadi dewasa dengan berkesadaran itu ya memang begini prosesnya. Tulisannya yang santai membuat saya seolah sedang bercerita dengan teman dekat.
Pertama tahu buku ini karena muncul di vlog @xuminghao_o yang lagi pulkam. Kayanya dia beli buku ini di bandara buat dibaca waktu ditengah-tengah penerbangan, karena waktu aku beli di jastip pun, buku ini ada sabuknya (yang warna putih itu), dan tulisannya semacam promo kalo buku ini bakal jadi bacaan yang pas buat dibaca selama penerbangan. Mungkin entah topiknya menarik, atau pembahasannya ringan. (Dan ternyata beneran menarik).
Karena pandemi dan gabut, bingung mau ngapain lagi, maka dibelilah buku yang belum ada terjemahan Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesianya ini. Waktu itu tujuannya sekalian belajar Bahasa Korea, biar lebih fasih bacanya dan nambah-nambah kosa kata.
Ternyata ended up baca pake Google Translate karena mager 😆
Hasil terjemahannya masih sangat bisa dipahami dan setuju sih kalo ini buku yang enak dibaca buat nemenin perjalanan di atas awan, apalagi yang belasan jam.
Ini masih buku yang temanya self-reflection dan masih sama asiknya dengan buku Haemin Sunim, tapi bedanya, penulis buku ini lebih ke sharing. Dia berbagi pengalaman dan perasaan, juga cara dia mengolah emosi. Jadi kalau kamu merasa butuh pencerahan gimana sih mengolah rasa kecewa dan menerima fakta bahwa hubungan sama temen makin ke sini makin renggang itu hal yang lumrah, atau gimana cara menyikapi manusia-manusia aneh yang kita temui saat kita beranjak dewasa (dan supaya kita ga ikutan jadi manusia dewasa aneh), buku ini bisa jadi pilihan.
Overall, baca buku ini rasanya kayak sharing sama temen yang kira-kira umurnya ngga beda jauh, atau sama-sama lagi discovering how to be an adult yang waras dan ngga too stressful.
Di postingan ini juga kushare beberapa bagian yang ngena di aku, dan karena dia hasil terjemahan mesin, harap maklum kalau ada beberapa kalimat yang "hah gimana sih???", tapi intinya masih tetep bisa dipahami.
Yang minat, sekarang uda ada terjemahan Bahasa Indonesianya, jadi ngga perlu akrobat sepertiku yang tawaf Google Translate - Buku - Repeat 👍
Sesuai dengan judul bukunya, “menjadi dewasa tanpa tahu apa-apa” berisikan kumpulan tulisan esai tentang bagaimana rasanya menjadi orang dewasa. How does it feel to be a grown up person. Being an adult and all that mature things. Walaupun umurku 18 (eighteen), itungannya masih remaja lah, ya 😅, masih ada kata “teen” nya, aku masih bisa nyambung dengan beberapemaparan di buku ini. Karena aku juga bukan anak-anak lagi, masih masa transisi gitu, deh 😆😁. Tapi kalau kamu udah diatas 20 tahun, khususnya sudah kerja dan tidak lagi tinggal dengan orangtua, pasti relatable banget, hehe.
Hal pertama banget yang aku notice, gaya ceritanya santai banget 🥰, kayak lagi dicurhatin atau dinasihatin sama sahabat 😄. Penulis menyebut dirinya sebagai “aku”, sehingga tidak terkesan formal dan kaku. Pun menggunakan kata “kita” untuk merujuk kepada pembaca, jadi rasanya memang seperti temen deket 😅.
Tiap awal sub bab menceritakan pengalaman pribadi penulis. Ada banyak hal yang dari masa kecil terjadi, saat dewasa juga terjadi, tapi beda bentuknya, jadi lebih ke struggle dan kekhawatiran, jadi dicompare gitu. Contohnya, saat masih kecil, kita lebih bebas berekspresi, mengatakan “aku sayang mama”, tapi saat dewasa, malah jadi pelit mengungkapkan rasa kasih sayang ke orang terdekat. Atau saat anak-anak, banyak hal yang ingin dilakukan dengan kebebasan, tapi saat dewasa, keinginan bebabs tersebut disertai tanggung jawab.
Buatku buku ini menjadi penenang dikala overthinking 😅. Bikin kita, tuh, merasa okey untuk merasa tidak kompeten, merasa tidak baik-baik saja, suka emosional, ada di fase malas, sensitif, dll. Bahkan dikasih solusi untuk itu semua, ada alasan rasionalnya dan penjelasannya. Aku juga suka bagian-bagian terakhir banyak membahasa hubungan antar manusia, disertai contoh-contoh dan cara menghadapinya 😉. Ini bukan tipikal buku life changing yang bisa aku kasih 5 bintang, tapi buku ini bisa dijadikan teman!❤️
Saya merasa telah melalui banyak proses menuju dewasa sebelum membaca buku ini. Membaca ini seperti membaca beberapa refleksi hidup saya.
Bukan buku yang memberikan penjelasan dalam konteks psikologi, mengenai sebab-akibat misal, dan juga lebih ringan. Semacam cerita; curhat, seseorang dalam sudut pandang mulai menyadari tentang apa yang terjadi dalam proses pendewasaannya selama ini.
Dimulai dari kisah-kisah tentang kejadian yang dia alami ketika kecil dan remaja, misal moment ketika mencintai seseorang. Penulis kemudian mengungkapkan hal-hal yang “kupikir masa depan; masa dewasa akan begini” tapi tidak semua berjalan sesuai keinginan.
Penulis menjelaskan bahwa posisi dirinya bukan manusia super, yang punya kemampuan untuk berpikir sangat logis, yang dibekali penuh dengan semangat dan kepercayaan diri, bukan. Ia adalah bagian dari kebanyakan manusia biasa yang juga banyak salah dan mencoba untuk “trial and error” menghadapi dunia dewasanya, tanpa pernah tahu apa-apa sebelumnya.
Buku ini penulis peruntukkan untuk orang-orang yang masih ‘terjebak’ dalam tubuh orang dewasa, tapi jiwanya masih anak-anak. Anak-anak, masih ingin bebas, tanpa beban. Sementara waktu terus berjalan tanpa bisa dihentikan. Akibatnya, terkadang ada banyak kesalahan yang dilakukan dalam : bagaimana menyikapi situasi yang dihadapi di usia itu.
Pada akhirnya, penulis selalu menutup setiap cerita-ceritanya dengan uraian singkat “oh, ternyata begini loh untuk bisa hidup dengan baik” di dunia dewasa. Menemukan kenyataan bahwa dunia dewasa tidak seenak yang dibayangkan, tidak semudah angan-angan, orang dewasa juga bisa menangis dan tertekan seperti anak-anak. Yang membedakan, mereka punya alternatif jalan keluar untuk berdamai dengan banyak situasi. So, menjadi dewasa tidak menenakutkan itu.
Terdengar menye mungkin, tapi begitulah rasanya. Ada suatu tekanan untuk menjadi dewasa harus begini begitu tapi kok agak susah ya dijalani. Tolong, bilang ini adalah perasaan yang normal (dan bisa diperbaiki?) 🙃
"Menjadi Dewasa Tanpa Tahu Apa-Apa" adalah cerita dan pemikiran penulis tentang menghadapi "tekanan" menjadi dewasa itu. Permasalahan yang berganti, hal-hal tentang menjadi anak-anak yang bikin kangen, kekhawatiran-kekhawatiran, tentang hubungan, dituliskan semua di buku ini. Buku ini menemani kita untuk memikirkan itu semua.
Bagian tentang menjalani hari-hari yang begitu-begitu saja, duh!! Bikin bertanya-tanya, untuk apa sih sebetulnya hidup? Dari judul prolog “Menjalani Hidup dengan Berpura-Pura (tahu bagaimana) Menjadi Dewasa” dan bagian satu “Orang Dewasa Juga Punya Hari Ketika Mereka Ingin Menangis Sejadi-Jadinya” dan saya langsung merasa tersentil.
Diselingi gambar-gambar gemas komik kucing sederhana dan dengan halaman berwarna, membuat permasalahan di buku ini sedikit lebih ceria. Agak bikin muram soalnya kalau sedang terlalu banyak berpikir hal-hal itu.
Meski, semakin ke sana saya agak kurang cocok dengan cara berceritanya. Sepertinya penggunaan "kita" yang membuat seolah-olah saya punya pengalaman yang sama dan generik agak mengganggu--walau kadang-kadang ya betul juga. Ini saya yang selera membaca non-fiksinya susah, sih, memang.
Secara keseluruhan, buku yang menarik untuk menemani berpikir tentang kehidupan.
Setelah sebulan penuh sibuk dengan berbagai kegiatan, buku self improvement ini menyelamatkan aku dari reading slump. Sampul sederhana dengan warna manis, ilustrasi kucing gemas, dan kalimat-kalimat dalam buku ini betul-betul menenangkan sekaligus menjadi perenungan bagiku.
Menurutku buku ini ringan karena gaya bahasa yang digunakan penulis begitu luwes dan sama sekali tidak terkesan menggurui, terjemahannya juga bagus. Seringkali ketika membaca, dalam benakku terbesit kalimat, "Ah iya, benar juga." Sebab memang banyak hal yang dipaparkan di sini, hal yang pada kenyataannya selalu kita sembunyikan atau bahkan sengaja tidak dipedulikan.
Dari buku Menjadi Dewasa Tanpa Tahu Apa-Apa, aku menyadari bahwa jangan berharap dan terlalu bergantung pada sesuatu yang tidak pasti, jangan pernah menyerah, kita perlu menerima dan merelakan apa yang sepatutnya pergi, kita memang tidak bisa memutar kembali masa lalu, tetapi kita bisa memperbaiki masa depan.
Jadi, aku merekomendasikan buku ini bagi siapapun yang ingin menikmati ketenangan dalam riuhnya kepala, hiruk pikuk sibuknya dunia, agar sejenak merehatkan diri hingga nantinya bisa bangkit lagi.
“Menjadi dewasa bukan tentang menjadi sempurna tapi tentang membiasakan diri”
Buku yang menghibur kita yang telah bertahan dan hidup sebagai orang dewasa, kalimat-kalimat yang disampaikan cukup pas dan jelas untuk dimengerti bukunya juga dilengkapi dengan gambar ilustrasi kucing yang lucu🐱karna penulisnya sendiri merupakan illustrator & penggemar kucing. Buku ini seperti teman yg sedang mendengarkan curhatan & berempati dgn kita.
i would like to recommend this book buat orang-orang yg ga begitu familiar/cepet bosenan sama buku non-fiction tpi pengen bgt baca buku non-fiction nah kalian bisa mulai dgn baca buku ini karna buku ini ringan bgt untuk dibaca dan gabosenin soalnya ada gambar-gambar gemesh 😊
oh iya buku ini dibaca 💁🏻♀️ The8 “seventeen” juga loh 🤭
Pernah gak kalian menyadari bahwa hidup di usia dewasa ini semakin banyak masalah yg datang silih berganti? Dan kita sebagai manusia 21+ dituntut bisa menentukan pilihan terbaik, dengan resiko paling minim, dan tidak boleh luput dr tanggung jawab. Berbeda dengan masa kanak-kanak kita tidak dihadapkan oleh hal-hal rumit, hanya memikirkan hari ini dan semuanya akan berjalan baik-baik saja.
Buku yg ditulis berdasarkan pengalaman hidup dari Ulnyangyi, yg sepertinya akan related pada kita yg berusia 20an, hidup yg menuntut agar kita selalu sempurna menjalankan peran, memiliki banyak pencapaian, tapi menyimpan banyak luka di dalam hatinya. Buku ini dibagi menjadi 4 bagian, 2 bagian pertama fokus pada hal-hal yg related dengan orang dewasa dan masalahnya. Sedangkan 2 bagian selanjutnya membahas hubungan antar manusia.
Buat aku pribadi, buku ini beneran relatable dan apa yg ditulis membuatku gak merasa sendirian. Dan aku pun yakin banyak dari teman-teman yg sama seperti aku, yg sedang berada di fase belajar menapaki kehidupan dewasa yg dulunya kita anggap bebas dan bisa mengeksplor banyak hal ternyata...... Ternyata banyak resiko dan tanggung jawab juga di setiap pilihannya. Karena usia dewasa dituntut kuat dan gak boleh menangis apalagi untuk hal sepele.
Tapi, buku ini juga menenangkan kita yg hidupnya seakan-akan dikejar untuk sukses di usia 20an. Jadi dewasa kamu gak harus tahu banyak hal, jadi dewasa kamu juga gak harus selalu kuat, jadi dewasa kamu masih boleh menangis, jadi dewasa juga boleh gagal, jadi dewasa gak papa merasa sepi asal terus belajar memeluk diri sendiri.
Asli buku ini akan menjadi penenang bagi kalian yg sedang menapaki usia dewasa, karena kalian gak akan merasa sendiri lagi. Selain itu, ilustrasi-ilustrasi lucunya menjadi poin plus buku ini. Jangan lupa masukkan ke dalam wishlist!!!
Menjadi Dewasa Tanpa Tahu Apa-Apa memiliki format buku yang dibagi menjadi empat bagian besar, yang masing-masingnya berisikan tulisan-tulisan pendek.
Selesai membaca buku ini, gue melihat ada pattern yang berulang muncul di buku ini: Tulisannya didominasi dengan cerita personal penulis, pertanyaan, atau langsung ke pernyataan. Lalu diakhiri dengan kalimat-kalimat yang mungkin ditujukan untuk memotivasi pembaca. Transisi dari titik A ke titik B-nya menurut gue bumpy. Jadi saat baca, yang muncul di benak gue malah: ini yakin masalah yang tadi udah beres? Ngedadak gini berubah mindset-nya, beneran udah beres nih ya? 😅
It feels like I was reading someone's diary. Cerita personal penulisnya bisa jadi akan relate untuk banyak orang, karena apa yang diangkat penulis memang lumrah dialami dan manusiawi: struggle di pekerjaan, relasi, punya insecurity, nggak bisa menemukan motivasi, takut dengan kegagalan, merasa gak istimewa dan bosan dengan rutinitas hidup yang itu-itu saja.
Tapi buat gue, dosis bitter dan self-pity di tulisan-tulisannya berasa kebanyakan. Seperti membaca orang yang kaget melihat realita saat dewasa. Gue jujur jadi penasaran, ini penulisnya terlalu polos atau terlalu lugukah?
Agak bingung juga dengan cara menulisnya. Kadang pakai "aku", lalu kadang pakai "kita" sehingga tiap baca "kita" memunculkan dorongan ingin gue debat 🙈
Kalau mencari buku non-fiksi dengan penjelasan yang lebih dalam dan ada practical tips-nya, nggak bakal ketemu di buku ini. Tapi kalau nyari buku yang bisa merepresentasikan suka-duka proses pendewasaan, yang bikin lo nggak ngerasa sendirian dan memvalidasi yang lo rasakan itu wajar karena dialami orang lain juga, mungkin akan ketemu "teman" di buku ini.
“Kenapa menjadi dewasa itu sangat melelahkan?” Banyak orang memiliki ketakutan spesifik mengenai fase menuju kedewasaan. Banyak hal abstrak yang di luar ranah kita termasuk apa yang terjadi di masa depan serta kegagalan-kegagalan baru yang menghantui. Semuanya masih tidak jelas dan kita dipaksa hidup dalam hal-hal yang menggantung tersebut. Buku yang membahas bagaimana cara hidup lebih tenang dengan sedikit ekspektasi dan penggambaran impian yang lebih realistis terhadap kehidupan. Menjadi orang dewasa bukan berarti membuat kita kehilangan mimpi dan cinta justru waktunya kita mengejar apa yang sekiranya belum kita dapatkan sewaktu kecil. Ada anak kecil di dalam tubuhmu yang menunggu dipeluk dan diperhatikan. Pemenuhan kasih sayang yang kurang dari orang tua menjadi faktor utama seorang anak kesulitan menyesuaikan diri di lingkungan masyarakat. Nyatanya dalam hidup kita memang harus selalu belajar sepanjang waktu. Berbeda zaman berbeda pula tantangan hidup yang dihadapi. Semua orang jelas mengalami fase dewasa namun tak semua orang mengerti cara untuk tetap waras dalam menjalaninya. Selalu ingat menjadi dewasa tidak semengerikan itu. Selalu ingat bahwa berjalannya waktu dan usia tak pernah bisa kita hentikan. Jangan pernah menyerah atas apa yang sudah kamu mulai. Tidak ada yang lebih baik selain pekerjaan yang selesai.
This book really bearing my mind. Right after finishing the book I was a little "emotional". This feeling of being touched.
Berbagai diskusi tentang berpura-pura menjadi dewasa, proses pertumbuhan dari pola pikir seorang anak menjadi dewasa, juga tentang pengalaman cinta, kesedihan dan kebahagiaan dalam hidup sebagai orang dewasa. Keberanian dan kemandirian penulis adalah angin segar yang terukir di hati saya, untuk lebih yakin dengan apa yang saya inginkan.
Penulis membagikan pengalaman, pemikirannya dengan sangat hangat dan sederhana. Buku yang tidak terlalu berat untuk menemani malam sebelum tidur atau waktu-waktu senggang.
Ohya, bagi Carat penggemar seventeen. Buku ini dibaca oleh the8!
Dari judulnya udah relate banget gak sih? Ada tekanan sendiri kalau jadi dewasa harus ini, harus itu, menjadi begini, menjadi begitu, tapi kok ya gak segampang itu🥲
Dibagi empat bagian, buku ini berisi tentang esay atau pemikiran si penulis. Setiap bab berisi permasalahan yg berbeda-beda yang mungkin kita semua pernah ngalamin. But menurut aku ini kinda boring.✌🏻
Pola penulisannya selalu sama jadi bisa ketebak apa yg ditulis selanjutnya, juga buku ini ditulis dari sudut pandang orang pertama yg menurut aku ada beberapa bab yg terlalu menyudutkan orang lain.
Tapiii, buku ini diselipin ilustrasi-ilustrasi kucing yg lucu wkwkwk. For me 2/5 dari buku ini.
Akhirnya bisa baca buku wishlist yang belum punya fisiknya. Aku baca dari akhir Juni lalu karena pinjam di perpus.
Buku ini cukup menghibur diri yang pernah terluka karena masa kecil atau dewasa kini. dengan bacaan yang super enak narasinya dari bab ke bab seperti baca diary, hampir tiap hari merenungi beberapa bab yang isinya heartwarming dan meringankan beban pikiran sejenak. Misalnya bab 1-2 dan setengah bab 3an cukup perlahan mengerti gimana penulis menyampaikan berbagai topik di buku ini.
Ada bab yg gak relate mengenai cinta ke pasangan atau tentang mengalami terluka karena cinta atas hubungan yang terkait itu contohnya bab 4 ke bab menuju endingnya.
Aku merasa kaya ada beberapa hal di keempat bab yang ada itu berulang-ulang ditulis, walaupun tatanan bahasanya berbeda, tapi inti dari apa yang dia tulis sebenernya sama aja, tapi, ini buku juga bikin aku mikir kalau kita, sebagai orang dewasa, itu boleh banget tetep ada sisi anak kecil, dan boleh untuk memvalidasi banyak rasa yang barangkali ketika kita dewasa kita tuh mikir “Kayanya aku nggak boleh merasa begini deh.”, di buku ini dijelasin, kenapa kita boleh merasakan itu, kenapa dan bagaimana seharusnya kita menanggapi hal-hal dan perasaan-perasaan yang selalu bikin kita mikir begitu. Buku keren!
Menjadi Dewasa Tanpa Tahu Apa-apa (아무것도 모른 채 어른이 되었다) karya Ulnyangyi ini direkomendasikan oleh salah satu member Seventeen, yaitu The8!
Menurutku, terjemahannya mudah dipahami dan nggak kaku sama sekali! Enaaak buat dibaca pas lagi santai atau teman untuk perjalanan jauh. Ditambah ilustrasi yang dibuat penulisnya makin bikin buku ini terlihat menarik buat aku pribadi. Isinya tentang masalah-masalah yang dialami orang dewasa, ada beberapa bagian yang cocok dengan keadaanku daaaan aku bisa mengambil pelajaran dari pengalaman si penulis.
Satu kutipan di buku ini yang paling aku suka dan ingat adalah: “Ada kalanya kita terlalu terobsesi pada rasa sedih dan sakit karena kehilangan apa yang kita miliki, hingga membuat kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang baru.”
hmmm sepertinya aku terlalu menaruh ekspektasi yg tinggi sama buku ini karna aku pikir bakal banyak yg relatable sama aku dan ngena. ternyata setelah selesai baca ngga se-ngena yang aku pikir tapi banyak yg relatable sih sama kehidupanku. so i’ll give 3,5/5 star for this book. 0,5 nya karna ilustrasi kucingnya lucukkkk
I recommend you to read this when you feel adulting is hard. It is very comforting because the whole book is about accepting the hard situation and not being too hard on ourselves. What I didn't like about this book is sometimes the vibes of the story are very "menye-menye" (sorry, I don't know the appropriate word in English). I think this is just about the perspective of the readers.
Buku ini mengajak pembaca untuk berpikir positif disegala aspek. Hanya saja buku ini cukup subjektif, karena kurang didukung literatur penguat dari setiap pemikiran penulis. Sejalan dengan itu, penulis menggambarkan pemikirannya dalam buku itu seperti halnya autobiografi. Jadi pembaca seperti membaca buku diary penulis yang terbitkan.
aku beberapa kali nangis baca buku ini, karena melihat apa yang ditulis dibuku sedang terjadi sama aku. penulis dan penerjemahnyaaa bagus bgtt.. terjemahannya enak dibaca, ga bikin pusing atau bingung.. iloooveee this book
Surprisingly, semua babnya bener-bener related dengan kehidupanku dan ngena banget. Buku ini juga cocok dibaca di saat senggang ataupun reading slump karena pembawaan ceritanya se "tenang" itu dan ngga bikin bosen. Apalagi ditambah ilustrasi kucing yang gemes banget jadi poin plus buat aku ahaha 🐾
There are 4 chapter and each one consists of short essay. One of my best purchase this year. Some of the stories are things that commonly happen in our life. The advice given at the end of each essay is not judgy and easy to accept. Very recommended especially for people in their 20s.
Bagus bukunya sangat relate dan terjemahan nya juga bagus mudah dipahami, baca ini enak bgt kaya lg flashback dan enak dibaca sebelum tidur untuk refleksi terus tidur nyenyak ❤️