Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sukreni Gadis Bali

Rate this book
Written in the 1930s by Anak Agung Pandji Tisna, prince of the Balinese state of Bulelang, this novel presents a powerful indictment of the commercialization of Balinese society

76 pages, Paperback

First published January 1, 1965

Loading...
Loading...

About the author

Anak Agung Pandji Tisna

3 books4 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
29 (17%)
4 stars
58 (34%)
3 stars
60 (35%)
2 stars
20 (11%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 19 of 19 reviews
Profile Image for Whitaker.
299 reviews585 followers
April 14, 2021
Morality tale with the heavens eventually wrecking revenge on behalf of the victim. Interesting perspective, for me, of the use of karma to justify why bad things happen to bad people (it's their punishment), and bad things happen to good people (it's their fate). I guess no one really has a handle on this intractable problem. :-)

The article at the end placing the novel within the context of Balinese play/drama traditions and explaining the cultural resonances of the characters for the Balinese was truly the icing on the cake.
Profile Image for Rumaizah Bakar.
Author 6 books19 followers
August 7, 2016
I got the English translation (The Rape of Sukreni) but I preferred the original title. This was the Balinese author's first book that I read. I loved it! His sharp narrative made his characters and settings so alive and vivid. They jumped off the pages. I felt transported to the old Bali, to all the villages that the characters moved around in. However, I did not like the main message conveyed in the novel, but I noted that this was written a long time ago, and societies and values were different then.
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
136 reviews85 followers
January 2, 2016
PENGUSAHA

MENJADI pengusaha adalah mimpi banyak orang. Majalah The Economist dalam esai berjudul What exactly is an enterpreneur tertanggal 16 Februari 2014 menulis bahwa pengusaha adalah “pahlawan favorit setiap orang” di abad 21 yang serba cepat—juga bagi politisi, dan bagi buku-buku teks sekolah. Klub pengusaha adalah klub paling populer di universitas-universitas. Satu televisi di Amerika menyebut program mereka yang menghadirkan para pengusaha dengan nama yang penuh api: Dragon’s Den—“Sarang Naga”.

Kolom Schumpetarian di The Economist itu lalu menyebutkan dua pandangan khusus tentang pengusaha. Pandangan pertama adalah pandangan populer: pengusaha adalah orang yang menjalankan kompani mereka sendiri, atau orang yang punya bisnis kecil. Pandangan kedua adalah pandangan Joseph Schumpeter: pengusaha adalah seorang inovator yang datang dengan ide, dan mewujudkan idenya dalam perusahaan yang terus tumbuh besar. Yang terakhir ini rasa-rasanya cocok dengan judul “Sarang Naga”.

Dari pandangan itu Schumpeter membedakan apa yang replikatif (yang mulai dengan bisnis kecil seperti bisnis-bisnis kecil lainnya) dan yang inovatif (yang merusak cara-cara eksis untuk melakukan sesuatu) dari diri seorang pengusaha. Juga membedakan antara bisnis yang kecil dan perusahaan yang “tumbuh besar”—beberapa bisnis inovatif tetap kecil. Kebanyakan orang yang mengukur seberapa wirausahawan suatu masyarakat adalah mereka yang mencoba mengukur memakai tipe yang pertama. Perhitungannya menghasilkan hasil yang bertentangan: Mesir yang punya lebih banyak pengusaha kecil-kecil bisa disimpulkan lebih entrepreneurial ketimbang Amerika, sementara negara dengan banyak perusahaan kecil seperti Mesir punya ekonomi yang cenderung stagnan. Pengusaha tak terlihat mendorong penguatan ekonomi.

Mengapa? Sebuah alasan disebutkan: mereka, pengusaha tipe pertama, memiliki usaha karena tidak ada peluang. Sementara keberhasilan pengusaha tipe kedua secara tidak terlihat menghancurkan rival-rival kecil mereka, yang kebanyakan pengusaha tipe pertama. Sedikit contoh yang diberikan The Economist: Walmart menjadi besar karena menggantikan ratusan toko kecil. Atau Amazon yang meraksasa dengan menggiring ratusan toko-toko buku keluar dari bisnis. Mereka, Walmart, Amazon, melakukan cara-cara baru. Hal itu tidak terlalu sulit, barangkali karena pengusaha tipe dua lebih peduli edukasi: 45 persen pengusaha Amerika memiliki gelar yang maju, dan fokus pada teknologi tinggi dan keuangan.

Dengan begitu bisnis kecil seakan-akan upaya cari duit yang fleksibel dari situasi miskin peluang. Para pengusaha bisnis kecil tidak berbicara dengan bahasa serigala untuk menjadi serigala: yang memburu, mencengkeram, dan menghabisi. Mereka tidak bicara bagaimana Asia mulai mendekati Silicon Valley.

Dan memang tidak semua orang ingin berada di lingkungan serigala atau hidup di Silicon Valley. Kita ambil contoh: angkringan.

Di dalam area gerobak itu, yang biasanya dilindungi tenda sederhana, lampu teplok menyala kecil di atas kaleng biskuit Kong Guan yang berkarat dan peyok-peyok akibat hukum alam. Corong kaca teplok cukup tinggi, rupanya, agar orang yang duduk tak sesak karena asap yang terlalu rendah. Permukaan gerobak yang tak luas dibagi dua: seperempat bagian untuk memanaskan ceret; tiga perempat lainnya, di atas nampan beralas koran, untuk tempat menaruh tahu bacem, ceker ayam, goreng-gorengan, dan sate-satean. Di atasnya lagi, di atas apa pun: ada capit. Niat awal supaya pembeli bersih dan steril saat mengambil menu-menu (orang tidak tahu penjualnya tadi menata goreng-gorengan itu hanya pakai tangan kosong yang entah habis memegang apa dan entah mencucinya atau tidak).

Di dalamnya tak ada nafsu serigala. Yang ada hanya pembeli yang kalau sedang ada uang akan bergaya sedikit: menabung 50 ribu di penjual yang kemudian habis lalu malah berhutang terus dan terus. Atau ada pembeli yang bicara pop mie di kereta yang dua puluh dua ribu, kopi sepuluh ribu, dan es teh delapan ribu—tentu dia mau bilang: lebih murah di sini, di angkringan. Juga ada golongan pembeli yang pendiam, duduk di depan arang yang menyala, yang kalau ada yang memanggang sate pasti sedikit terganggu tapi memasang ekspresi tidak: tidak apa-apa, saya tidak kepanasan. Barangkali orang semacam itu tengah fokus menyimak obrolan tiga orang yang duduk di pojok lain gerobak.

Di angkringan, sambil mengobrol, para pria kebanyakan perokok. Dan bagi mereka menenteng dua bungkus Marlboro atau U-mild adalah tanda kemakmuran. Sambil merokok salah satu bercerita tentang jualan hari ini yang untung seribu-dua ribu—bukan satu-dua miliar. Di hadapan api yang malas benar untuk menyala, yang lain bicara apa saja, juga sampai masalah klenik dan Lekra. Atau tentang kesaktian Sultan Hamengku Buwono IX yang kerap menggunakan ilmu ke mana saja, atau tentang Merapi dan Mbah Maridjan. Di tengah cerita seorang ibu-ibu datang menghentikan obrolan, memilih-memilih sate kulit dan tahu bacem untuk makan malam keluarga, dan dengan digdaya sebagai menteri keuangan keluarga ibu-ibu itu mengeluarkan enam belas lembar seribuan penuh lekukan dari dompetnya yang besar, panjang, dan merah.

Tak jarang ada pembeli yang kurang ajar: seorang laki-laki yang duduk anteng, ambil satu demi satu tempe goreng, lalu lupa jumlahnya dan membayar dengan jumlah lebih sedikit dari harga gorengan yang ia santap. Penjualnya maklum, dan besok-besok akan mencatat saja dalam hati—tidak punya niat menghabisi, tidak punya niat memburu keadilan lima ratus-seribuan.
Meskipun selalu laris, tapi tetap angkringan adalah tempat yang seperti itu-seperti itu juga. Tidak dibangun dalam ruangan kaca, tidak dipercantik dengan ukiran-ukiran Jepara, supaya pelanggan yang biasanya orang-orang bawah tidak sungkan untuk datang. Tendensi seperti ini, saya kira, sudah ada sejak zaman dulu. Dalam Sukreni Gadis Bali karangan A.A. Pandji Tisna, yang diterbitkan pertama kali tahun 1936, diceritakan tentang kedai Men Negara dan anak gadisnya yang cantik, Ni Negari, yang bertambah bagus sejak Ni Negari berhasil memikat Menteri Polisi I Gusti Made Tusan. Duit gaji menteri itu diperas untuk memperbarui kedai: “Meja kotor dan tungkuk yang dari tanah liat itu telah berganti dengan meja serta dapur yang terbuat dari semen. Lampu yang diputihi dengan kapur telah berganti dengan lampu yang bercat air emas berkilat-kilat. Botol arak dan tuak tidak terletak di atas meja lagi, tetapi ditaruh di rak yang terdiri di sebelah meja kedaian dengan beraturan. Pagar yang menutup halaman itu sudah dibongkar, lalu tampaklah kedai yang diperbarui itu dengan jelas dari jalan kecil itu.”

Tempat rapi dan bersih semacam itu menjadi tidak berguna bagi “tukang panjat atau orang rodi” yang malu karena kotor dan tidak biasa duduk di kursi. Dalam roman Bali karangan A.A. Pandji Tisna itu, para rakyat kelas bawah akhirnya memilih duduk “di bawah lumbung Men Negara yang penuh sesak dengan padi”.

Angkringan, meniru Sidik Nugroho menyebut warung kopi dalam bukunya yang terbit tahun ini, adalah “surga kecil”. Surga kecil itu tidak hanya menjual tempe, tahu, dan kopi. Dalam remang-remang cahaya lampu teplok, dan bukan gelora api besar hembusan sang naga, surga kecil itu memberi nilai-nilai: kesederhanaan, keramahan, dan hidup santai—karunia kebebasan tanpa bertekun-tekun dengan buku, mengejar target esai, atau bicara serius tentang sajak.

Surga kecil dengan secangkir teh, tape ketan, atau kopi dua ribu rupiah—persetan dengan Kriek Boon, Guinness, atau Jäegermeister.
Profile Image for Suzanne Brink.
Author 2 books6 followers
April 9, 2026
Een jaar geleden in maart 2025 bestelde ik dit boek op Amazon. Bezorgdatum zou september 2025 zijn, maar ik kreeg mijn geld terug want het was niet leverbaar. ik verwachtte er niets meer van, maar nu kreeg ik het toch via managementboek.nl. En het was het wachten waard. The Rape of Sukreni komt uit een andere wereld. Het is in 1936 gepubliceerd en door een Balinese vorst geschreven die afstand van de troon heeft gedaan. Hij ging graag met gewone mensen om en wat hem ook tegenstond was dat hij als koning speelbal was van het Nederlandse koloniale bewind. Moet je dit allemaal weten om het te lezen? Dat moet niet, maar het maakt het boek nog interessanter. Het boek draait om een eettentje in Noord-Bali, warung zou ik zeggen, maar die Indonesische term valt niet in de Engelse vertaling. De grote aantrekkingskracht van de warung is de bloedmooie dochter van de vrouwelijke uitbater. Mannen komen speciaal naar de warung om een glimp van haar op te vangen. Ze brengt geld in het laatje. Dit verdienmodel komt in gevaar als een nog mooiere vrouw opduikt, Sukreni. Het mondt uiteindelijk uit in een bloedbad. In de toelichting wordt verteld hoe deze novel gebruik maakt van de Balinese vertel- en en theatertraditie. In de warung komen ook mannen die bomen inklimmen om kokosnoten te kappen en natuurlijk is er altijd eentje tussen die zich drukt als de boom te hoog is. Het roept ook weer veel vragen op. Het gaat om gerechtigheid maar er komt weinig magie en hekserij in voor. Is dat omdat de schrijver geen Hindoe is, maar zich tot het Christendom heeft bekeerd? Eerder las ik het fascinerende kinderboek I Bontot en I Koese van Pandji Tisna die dat samen met de Nederlandse schrijver Jef Last schreef. Actueel weetje: historicus Anne-Lot Hoek, die een boek schreef over de koloniale wreedheden op Bali, kreeg de ring van Pandji Tisna die hem ooit cadeau had gedaan aan een Nederlandse zendeling en zij schreef daar in augustus 2025 een prachtig verhaal over in de Groene. (Ook mooie podcast van.) Zij leerde van de ring: Dingen gebeuren nooit zomaar.
Profile Image for HanungWL.
17 reviews1 follower
June 23, 2019
Tipikal novel yang bisa selesai dalam sekali duduk! Alur yang dipilih penulisnya luar biasa “mind blowing” kalau istilah kekiniannya.

Saya tidak menyangka novel sebagus ini bisa saya lewatkan selama 5 tahun (re: tergeletak di rak tanpa pernah menyentuhnya😭)

Begini singkat ceritanya:

Di satu desa, ada ibu yang punya warung namanya Men Negara. Punya anak cantik namanya Ni Nagari. Si cantik ini jadi panglaris alias warung jadi rame karena ada dia.

Suatu hari dateng ke situ si Sukreni. Lebih cantik dan Ni Nagari merasa tersaingi. Apa lagi I Gde gebetan Ni Nagari suka banget sama Sukreni, tetapi bukan cuma karena cantik.

Jahat betul Men Nagara. Waktu Sukreni balik ke desa itu nyariin I Gde (yang waktu itu ke luar kota) disuruhlah Sukreni nginep. Tapi dibiarinin I Gusti Made Tusan perkosa si Sukreni. Supaya perempuan itu “rusak” dan gak saingin lagi anaknya.

Habis itu Sukreni kabur dan ganti nama. Hidup sengsara jadi ART di mana-mana. Sampe akhirnya sakit dan gabisa lagi kerja karena ternyata hamil hdu kek gak putus dirundung malang.

Selama itu I Gde mencari. Tetapi, akibat mengganti nama, sangat sulit untuk berjumpa. Setahun kemudian ketika sudah lahir anaknya, baru mereka bisa berjumpa dan ia tetap menerima Sukreni dengan segala yang telah menimpanya.

Kalimat fav dari I Gde:

“Sudahlah, Sukreni, jangan engkau menyesali diri. Aku tidak membedakan engkau sekarang dengan dahulu, karena hal itu bukan kemauanmu. Kodrat dari yang MahaKuasa telah menjadikan engkau begini. (...)

Jangan menangis jua, Reni. Engkau tak bersalah engkau tetap suci padaku.” (Tisna, 1991: 83)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Riski Oktavian.
486 reviews
June 25, 2022
Bisa kubilang judul ini adalah semacam novela karena jumlah halamannya tidak terlalu banyak. Dan buku ini masuk ke salah satu karya klasik dari Indonesia, especially bersetting di Bali.

Ceritanya tentang sebuah desa yang bernama Bingin Banjah dan juga kehidupan yang terjadi di sana. Dan di desa itu diceritakan ada dua kedai gitu yang mana mereka ini semacam bersaing. Di sini ada sosok menteri polisi (aku nggak tahu kalau di jaman sekarang sebutannya apa, karena bisa saja sudah berubah) suka singgah ke kedai milik wanita bernama Men Negara.

Sementara saudara (atau ipar ya, aku juga agak lupa) pengawal dari menteri polisi ini memiliki kedai yang mana menjadi saingan kedai Men Negara tersebut. Dan pengawalnya ini tidak terlalu menyukai kedai Men Negara karena ia menggunakan anak perempuannya sebagai semacam penarik perhatian pembeli terutama yang laki-laki dan muda.

Jadi ya gitu aja sih. Dan di sini ada tokoh baru yang akan sedikit memercik konflik di mana anak dari tokoh ini bernama Sukreni.

Aku sebenarnya agak kurang tahu apa message dari buku ini dan juga mengenai tokoh Sukreni sendiri yang bahkan tidak dibahas terlalu banyak. Tokoh Sukreni hanya muncul di tengah dan itu porsinya juga sedikit, dan tidak menjadikannya tampak seperti tokoh utama.

Cerita ini juga berakhir dengan tragis yang juga tanpa kehadiran tokoh Sukreni di situ. Jadi.. aku bingung nih kenapa judulnya menggunakan nama Sukreni. *emoji mikir
Profile Image for Sri.
897 reviews39 followers
September 5, 2018
Buku tipis yang lama sekali kuselesaikan karena diselingi mood naik turun saat hamil melahirkan dan akhirnya kadung baca buku-buku lain. Buku ini penuh tragedi kemanusiaan. Ibu 'mbunuh' anaknya, anak mbunuh bapak, bapak mbunuh anak. Cinta yang pupus. Harapan yang mati.
Ini bisa jadi buku yang panjaaaang jika masing-masing tokoh diperdalam lagi ceritanya, perasaannya. Di awal-awal alur terasa pelan tapi di akhir terlalu cepat. Jika tempo di awal tetap dipertahankan sampai akhir mungkin akan lebih menarik.
Profile Image for Lev.
41 reviews87 followers
May 2, 2018
This book is as colourful as it is insightful - it provided a looking glass into the Balinese society of past. The characters were all vibrantly portrayed, similar to the styles of Balinese theatre. Religion and karma stood front and center of the story, where it comes full circle in an act of divine retribution at the end.
Profile Image for Amishi Agrawal.
39 reviews10 followers
April 19, 2020
Beautifully written and heart-wrenching story straight from the heart of Balinese theatre and story-telling traditions! Also, this is one of the books that makes the most sense when you read the translator's note and the epilogue. Finally, the message about the vices of capitalism should resonate well with most people.
Profile Image for Aldi Pahlevi.
3 reviews
June 4, 2024
Reading Sukreni Gadis Bali was like stepping into a different world, rich with cultural nuances and historical context. It's a beautifully written novel that not only tells a personal story but also critiques the broader societal norms of the time
Profile Image for Gus Dirga.
4 reviews
July 15, 2019
If only the story ends before 17 years later...
I will give 4 stars
Profile Image for GIA.
16 reviews
February 26, 2026
One of the first Balinese literacy that I read! Enjoy all the flow of the stories all the twist that's written so neatly.
Profile Image for Windy hapsari.
54 reviews9 followers
June 25, 2008
one of old literatur, the way AA Panji Tisna write about Bali at the past time is very explicit. the greed always led us to the destruction. a litle bit cliche, but the interaction issue is more prominent here. at the end this book told us that if you worship the wealth more than anything, you'll be crazy if you lose them in a blink of an eyes.
Profile Image for Johnathon Yeo.
66 reviews3 followers
May 9, 2013
It has been a while since I picked up something so simple to read yet so packed with drama and character. You will end the book pondering about Baliness culture and theatre.
Profile Image for Audiah Ulfah.
3 reviews2 followers
July 30, 2013
it's a good book, the writer has a strong style in narrating the plot. but...the story just make me depressed, really depressed "-__-"
Displaying 1 - 19 of 19 reviews