Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tubuh Yang Tak Ingin Lagi Bersamaku

Rate this book
Tubuh Yang Tidak Ingin Lagi Bersamaku mengumpulkan 43 sajak Cahaya Jais yang ditempah pada tahun-tahun pandemik.

"Tidurku dipenjara tanda tanya. Aku hidup tetapi mati. Aku kehilangan aku dalam aku."

94 pages, Paperback

First published February 1, 2022

Loading...
Loading...

About the author

Cahaya Jais

2 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (50%)
4 stars
3 (50%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Adrian Surya.
77 reviews
Read
May 25, 2026
Hari kedua Pestapora 2025 banyak penampil yang memutuskan cabut dikarenakan Freeport diselipkan sebagai sponsor. Rekah adalah salah satu yang mengambil keputusan tersebut, padahal spesial set Berbagi/Kiamat sudah jadi agenda. Beruntung, tidak pendek akal, mereka secara cekatan memindahkan lokasi gelaran tersebut ke Krapela. Meskipun pada akhirnya kapasitas penonton harus dibatasi. Beruntung, saya adalah satu yang bisa menyaksikan gelaran tersebut. Sebab, rasanya akan sial betul kalau pada akhirnya sudah menyempatkan waktu dan menyisihkan uang untuk jauh-jauh ke Jakarta tetapi pesta yang diangan-angankan untuk dihadiri ternyata bubar sebelum dimulai: porak-poranda.

Anehnya, manuver agenda yang terasa seperti mengakali maut itu terasa begitu ajaib. Kerumunan kecil yang berisi oleh orang-orang yang memilih untuk tak menghadiri Pestapora di waktu tertentu itu seakan benar-benar menyayangi dan menggandrungi Rekah. Yang digandrungi bukan hanya musik mereka yang emosional, bukan hanya lirik mereka yang sentimental, melainkan juga pandangan politik yang radikal: khusus pada saat itu adalah membangkang turut serta dalam opresi sistemis.

Menarik diri dari Krapela, meskipun para penampil yang minggat masih silih berganti tampil di sana, pada malam di hari yang sama saya justru melangkahkan kaki ke Pos Bloc. Bukan, bukan, untuk menonton Silampukau yang pun juga mangkir, tetapi sekadar mencari makan malam.

Anehnya, setelah berkeliling rasanya tak ada yang menggugah selera dan, sialnya, perut lapar adalah pemicu yang baik bagi munculnya impuls belanja secara serampangan. Maka di sana, di Patjar Merah, pada rak di sudut yang paling dekat dengan kasir, sampul pink ini bersinar lengkap dengan judulnya yang begitu mengundang bagi peminat Rekah yang sudah separuh sekarat seperti saya: Tubuh yang Tak Ingin Lagi Bersamaku.

"Buku itu diantar sendiri oleh penulisnya ke sini," kata penjaga toko. Pernyataan yang mungkin saja tidak memiliki nilai spesial jika penulisnya tidak berasal dari negeri jiran.

Lalu berbulan-bulanlah saya tenggelam dan berusaha makin tenggelam seraya memahami Bahasa Melayu yang begitu akrab tetapi juga begitu asing dalam puisi-puisi di buku ini.

Pada akhirnya, semuanya memang tidak semudah itu. Bahkan, mungkin saya tidak akan pernah benar-benar menangkap secara pasti maksud dari si penulis.

Yang saya tahu hanyalah bahwa tiap-tiap puisi dalam buku ini memunculkan rasa sesak di dada melalui kerinduan-kerinduan pahit yang dimuat bersamaan dengan dendam-dendam yang diselipkan dalam hari-hari yang berisi catatan kebingungan sebuah jiwa yang terdisosiasi dari tubuh yang mewadahinya.

Namun, bukankah yang sebaik-baiknya dihantarkan puisi adalah rasa?
Profile Image for Aliff Awan.
Author 6 books19 followers
June 29, 2022
Antara buku sajak terbaik yang dibaca sepanjang 2 tahun ini. Cahaya sempat kasi kita meneroka frasa-frasa baru secara bersahaja dan tak nampak terlalu memaksa. Dan esei ringkas di belakang, sangat membantu.
Profile Image for Sanhura Zainal.
4 reviews
November 16, 2024
Saya beli di Areca Books , ternyata tangan saya tak salah mengambil buku. Penulisnya sangat romantik dalam berbahasa. Saya suka ! disarankan beli yaaa ! rugi kalau tak baca karya Cahaya.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews