Jump to ratings and reviews
Rate this book

Gula, Gula, Gula

Rate this book
... kami kembali ke Berlin dan aku balik menjalani hari seperti biasa. Tinggal di hostel, beli makanan di kedai Turki, dan terus mempromosikan jasa pijatku melalui aplikasi-aplikasi. Ketika hari benar-benar sepi dan aku tidak mendapatkan satu pun booking-an, aku menghubungi kembali para pelanggan lamaku dan menawarkan apakah mereka tidak merindukan pijatan dariku?

Gula, Gula, Gula merupakan sekuel dari novel Bukan Perjaka dan terjemahannya Not A Virgin (2019). Adalah sebuah kisah mengenai golongan minoritas kelas pekerja di Indonesia.

440 pages, Paperback

Published June 6, 2022

6 people are currently reading
161 people want to read

About the author

Nuril Basri

11 books87 followers
Nuril is an Indonesian writer. He writes tragicomedy in form of autofiction, bildungsroman, and offbeat stories. His characters range from being very lonely, to queer and subtly eccentric. His works have been translated into English, French, and Malay.

Nuril was awarded a grant by the National Book Committee of Indonesia to complete a residency in the U.K. in 2017, then received a grant from Robert Bosch Foundation and The Literarisches Colloquium Berlin to conduct research for a novel in Germany. He is also the scholarship recipient to the AIR Litteratur program held by the Vastra Gotaland region to write his novel in Sweden in 2022

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
29 (23%)
4 stars
61 (48%)
3 stars
32 (25%)
2 stars
1 (<1%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 30 of 34 reviews
20 reviews
November 30, 2024
BEST‚ BEST‚ BEST

-Betullah kata orang‚ belum tentu semua orang gay dan pondan itu sekepala. Nuril Basri punya cara yang begitu kreatif dalam meniupkan karakteristik dalam watak-watak novelnya. Kedua-dua Jajang dan Yusuf punya sifat yang sama- Homoseksual‚ Bencong. Tapi apa yang membezakan mereka adalah pola pemikiran mereka kepada dunia‚ cara mereka menerima dan memberi response kepada dunia ternyata begitu jurang sekali. Jajang bilang pondan-pondan yang radikal mengekspresikan diri mereka di tempat umum itu murahan dan kampungan. Tetapi Yusuf lebih kepada menerima seadanya‚ dia tidak peduli kalau pondan-pondan itu bertelanjang sekalipun‚ asal tidak menggangu kelangsungan hidupnya.

-Buku ini lucu‚ penuh ironi dan satira. Sumpah‚ jenaka-jenaka dalam buku ini begitu mengena (Menurut saya).

-Sesuai untuk bacaan santai tanpa perlu mengerutkan dahi walaupun Nuril Basri begitu cemerlang dan halus menyelitkan polemik-polemik sosial sepanjang naratifnya.
Profile Image for Andika.
31 reviews9 followers
October 5, 2022
Gula, Gula, Gula konon merupakan sekuel dari Bukan Perjaka. Saya belum pernah membaca Bukan Perjaka, meski begitu nggak kesulitan mengikuti bergulirnya cerita dalam Gula, Gula, Gula. Tokoh utama sekaligus narator dalam Gula, Gula, Gula bernama Yusuf. Ia mengawali ceritanya dengan mengingat kembali hari-hari bahagia ketika ia dan teman-temannya sesama santri kerap mengunjungi kelab gay bernama Starlight, tempat ia pernah ikut kontes Miss Bencong, menjadi kucing yang bermanja-manja dengan gadun-gadun yang memberinya uang jajan. Namun kebahagiaan mereka seketika berakhir ketika kelab tersebut tiba-tiba diserang ormas. Yusuf dipukuli sampai hampir mati. Temannya Paris, panggilan dari Muhammad Farisyi, dipukuli sampai benar-benar mati*. Sejak itu Yusuf berhenti melakukan hal-hal yang membuatnya merasa bisa dan bahagia jadi diri sendiri. Ia kembali rajin mengaji di pesantren. Kiai dan kakaknya, Ali, lega. Namun nggak perlu waktu lama bagi Ali, yang sangat menyayangi Yusuf, untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang telah hilang pada diri adiknya. 


Yusuf dan Ali jarang bicara secara mendalam dari hati ke hati. Sifat dan hal yang membahagiakan mereka berbeda. Jika Yusuf pernah merasa menjadi dirinya sendiri di dunia malam, maka dunia malam-nya Ali adalah beribadah dan mengaji. Namun, kebahagiaan Yusuf merupakan bagian tidak terpisahkan dari kebahagiaan Ali. Mereka 'dititipkan' ke pesantren saat masih berusia kanak-kanak setelah ibu mereka meninggal. Sejak itu mereka seolah nggak punya orang tua. Hanya Ali yang bisa mengerti tangisan Yusuf ketika adiknya merengek, "Pengin beli Bapak," seolah orang tua merupakan jajanan yang bisa dibeli di warung. Maka ketika Yusuf mengutarakan keinginannya untuk keluar dari pesantren, Ali tidak mengatakan apa-apa untuk menahannya. Padahal waktu itu Yusuf belum tahu apa dan ke mana tujuannya. Tahu-tahu, suatu hari ketika pesantren sedang disibukkan kegiatan bersama, Ali menemui Yusuf diam-diam dan memberinya bekal uang supaya Yusuf bisa memulai perjalanannya.


Rangkaian kejadian tersebut mungkin terasa berat, tapi cara Yusuf/Nuril Basri menuturkannya ringan saja, seperti seseorang yang bersepeda santai di jalanan yang mendatar. Padahal perjalanan Yusuf setelah keluar pesantren juga nggak selalu mulus. Sebagai seseorang yang kebetulan lulusan SMA, yang kebetulan dibesarkan dalam lingkungan pesantren, yang kebetulan gay, yang kebetulan pernah mengalami kejadian traumatis karena identitasnya sebagai gay, yang kebetulan tinggal di 'sini' pada 'saat ini', nggak mudah untuk menemukan sudut kehidupan di mana dia bisa menjadi dan mengembangkan diri sendiri. Setelah keluar dari pesantren, Yusuf mengerjakan berbagai hal demi bisa bertahan dan melanjutkan hidupnya. Dia bertemu dengan beberapa orang; ada yang jadi kawan, ada juga yang jadi lawan. Dia melakukan beberapa perbuatan yang dia sesali. Namun sepanjang perjalanan Yusuf nggak pernah bersikap seolah dia ingin menjadi orang lain selain dirinya sendiri. Yusuf mungkin tidak setampan Nabi Yusuf yang konon hidupnya juga penuh rintangan, tapi sebagai pembaca saya tidak bisa tidak menjagokan Yusuf ketika dia menghadapi segala keterbatasannya. Bagaimana tidak? Dalam situasi paling menyedihkan sekalipun, ia tidak bersikap seolah hidup berutang apa-apa kepadanya.


Menurut saya, situasi paling menyedihkan dalam Gula, Gula, Gula adalah saat-saat di mana orang-orang yang sebetulnya berbagi identitas dengan Yusuf, sebagai gay, saling menyakiti sesamanya. Idealnya ketika seseorang memahami kesulitan yang dialami sesamanya, ia akan berusaha membantu meringankan kesulitan tersebut. Pada praktiknya, sifat manusia seolah ingin selalu lebih baik–atau paling tidak kelihatan lebih baik–daripada sesamanya. Beberapa orang laki-laki bisa sama-sama berbagi identitas sebagai gay, tapi tujuan hidupnya, nilai-nilai yang dianggap baik, belum tentu sama. Bisa jadi tujuan dan nilai itu terbentuk dari latar belakang masing-masing orang, baik kelas ekonomi, lingkungan di mana mereka dibesarkan, maupun pengalaman personalnya. Latar belakang setiap orang mau nggak mau berpengaruh kepada kesempatan yang didapatkan masing-masing, dan perbedaan kesempatan itu bisa menimbulkan ketimpangan relasi. Namun, itu nggak selalu disadari oleh orang-orang yang terlibat dalam relasi tersebut.


Dalam Gula, Gula, Gula, sifat Yusuf yang apa adanya, kelihatan kontras dengan sifat sahabatnya Jajang. Yusuf dan Jajang sama-sama gay, sama-sama berkekurangan secara materi. Namun, karena satu dan lain hal, Jajang punya ambisi untuk naik ke strata sosial yang menurutnya lebih terpandang daripada yang dipijaknya saat ini. Jajang ingin mendapatkan pasangan yang berasal dari latar belakang yang dianggapnya lebih baik daripada latar belakangnya sendiri. Dia lebih senang bergaul dengan cowok gay nggak ngondek, nggak kampungan, tampan, well-groomed, dan berpendidikan tinggi. Cowok-cowok yang memenuhi standar Jajang kebanyakan berasal dari kelas ekonomi yang berbeda dengan kelas ekonominya, dan dengan berbagai cara, Jajang berusaha untuk mengikuti gaya hidup mereka, sekalipun dengan berbohong dan membohongi diri sendiri. Tapi, siapa yang berhak menghakimi Jajang? Saya pikir, sebagaimana Jajang, kebanyakan orang beranggapan bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang sejahtera secara materi, kehidupan yang dibagi bersama pasangan yang rupawan (terlebih jika tampang sendiri sudah tidak bisa diapa-apakan lagi), atau malah kehidupan yang seimbang antara intelektualitas dan religiusitas(?) Tapi apa iya semua orang punya kesempatan yang sama untuk mencapai kehidupan macam itu? 


Menurut saya tidak. Tentu saja tidak. Dan ketika saya menyadari bahwa masing-masing orang mendapatkan kesempatan yang berbeda di dalam hidupnya, keinginan untuk merasa lebih baik daripada orang lain terasa irasional. Karena ya sudah mah kesempatan yang didapatkannya berbeda, apa yang dianggap baik oleh masing-masing juga berbeda. 


Judul 'Gula, Gula, Gula' sedikit banyak mengingatkan saya dengan judul 'Crazy Rich Asians'. Saya tahu ada buku Gula, Gula, Gula ketika tidak sengaja membaca kiriman bersponsor di IG. Kiriman itu mengungkapkan bahwa Gula, Gula, Gula bercerita tentang kehidupan sugar baby, saya kira ceritanya bakalan seputar kehidupan yang sensasional dan cukup adiktif; tentang kekayaan materi. Saya sempat menduga bukunya bakal mencakup kiat menjadi sugar baby, serta adegan seks yang kinky antara sugar baby dan sugar daddy-nya. Namun saya salah, dan saya selalu senang setiap kali dugaan asbun saya terbukti salah. Setelah menamatkan Gula, Gula, Gula, saya pikir memang ceritanya menyangkut hal yang bernilai, dan perjalanan memahami hal itu. Namun apa yang sungguhan bernilai, mungkin nggak selalu sama dengan apa yang sebelumnya dianggap bernilai. Jadi apa dong yang bernilai? Sulit menjawabnya, dan buku Gula, Gula, Gula barangkali tidak memberikan jawaban manis yang tinggal ditelan saja. Namun, sebagaimana cerita dalam buku-buku lain yang berkesan, cerita dalam Gula, Gula, Gula seolah mendorong saya 'membaca' lagi cerita hidup saya sendiri dengan cara yang berbeda.

___

*Setelah ulasan ini ditulis, saya membaca Bukan Perjaka yang diterbitkan di Malaysia dengan judul Dosa. Ternyata saya salah tentang penyebab kematian Paris. (6 Oktober 2022)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Aldy.
46 reviews3 followers
March 16, 2024
Behind all of these humors, the narrative delivers such an irony and dark turn.
Profile Image for Lia.
255 reviews1 follower
March 17, 2023
3.5/5⭐

Sebuah cerita menarik yang mengangkat POV dan kisah hidup seorang gay bernama Yusuf. Yusuf yang besar di pesantren, suatu hari memutuskan untuk kabur dan mencari kehidupan yang sesuai dengan jati dirinya. Dari situlah hidup baru Yusuf berjalan. Yusuf bertemu dengan Jajang yang juga seorang gay dan menjadi teman kos + teman baiknya. Mereka mulai bekerja sebagai SPB di mall dan di waktu senggang berjualan online cd porn bajakan. Meski menjalankan bisnis seperti ini, Yusuf nggak lupa untuk salat dan tetap anti makan-minuman yang haram.

Suatu hari saat mereka sedang liburan di Bali, mereka bertemu dengan sugar daddy dari Jerman. Pertemuan dengan sugar daddy tersebut membawa Yusuf tiba di Jerman dan memulai kisah hidup baru di sana.

Kisah yang ringan, menghibur dan fresh. Menyajikan sudut pandang dan cerita yang belum pernah aku baca sebelumnya. Jalan ceritanya sederhana sekali, tapi cukup bikin penasaran akan kelanjutan kisahnya (page turner banget!). Alurnya cepat sekali, nggak berasa baca buku setebal ini. Narasinya ringan, ada juga diselipkan bahasa-bahasa banci, kalimat-kalimat dalam bahasa inggris dan beberapa kata dalam bahasa Jerman. Sayangnya, beberapa kata dalam bahasa Jerman ini tidak disertakan juga artinya di buku sehingga perlu membuka kamus sendiri jika mau tahu artinya.

Oiya, bukunya nggak ada cerita tentang hubungan sex atau sejenisnya, jadi ramah untuk dibaca bagi orang yang menghindari adegan-adegan seperti ini di novel.
Profile Image for alif.
5 reviews
June 19, 2024
4.5/5 ⭐ habis dalam masa 2 hari. sudah lama rasanya saya tidak menghabiskan pembacaan secepat ini; tandanya buku ini sangat sangat bagus. memang benar telahan saya bahawa saya akan lebih suka dengan sekuel (kepada/daripada DOSA) ini 😩 i don't care if im being exaggerated but this book was so! fucking! fun! and wild!

it gives similar vibes to RASA (my favourite book, also by nuril basri) and maybe that's the reason why i enjoy reading this. karakter nya pula OH-EM-JI! seringkali terhibur apabila membaca dan mengimaginasikan lelucon mereka yang entah apa apa termasuk Jajang yang menurut saya agak sial orangnya. juga, part di mana Bagus mengadu kepada Volter SANGAT LUCU sehingga membuatkan saya gelak terbahak bahak dicampur dengan rasa amarah yang membara kerana sakit hati. ada banyak lagi momen momen yang mencuit hati, membuatkan saya tersenyum dan blushing sendiri dan tidak kurang juga menyayat hati; tetapi saya tidak akan bercerita dengan lebih lanjut, biar anda sendiri yang membaca dan merasainya.

pengakhirannya? bagi saya pengakhirannya bukanlah sesuatu yang saya dambakan. jangkaan saya jauh sekali meleset. tetapi apabila mengenangkannya semula, mungkin buku ini ada sambungannya. mesti ada. memikirkan mengenainya membuatkan saya langsung teruja. nuril basri tidak akan membiarkan kita tergantung, bukan?

(ps : sekarang saya tau kenapa buku ini dinamakan Gula. oh nuril basri, how i love the way your mind works)
Profile Image for Mor.
210 reviews7 followers
July 28, 2023
•[⭐ 3.5/5 ⭐]•



[ "Buat apa cinta kasih yang murni dan tulus, itu sih mitos. Yang penting aku bisa berangkat ke Jerman." ]



Aku baru sadar buku ini tuh sekuel dari novel Nuril Basri yang lain, yaitu "Bukan Perjaka," tetapi novelnya yang "Gula, Gula, Gula" ini masih bisa dinikmati tanpa baca buku sebelumnya 😁👍

Buku ini adalah satu buku bertemakan LGBTQ+ di Indonesia yang menggambarkan kerasnya dunia queer, baik dari luar maupun dalam komunitasnya itu sendiri.

Berawal dari seorang santri bernama Yusuf yang baru saja kehilangan temannya karena kelab gay yang biasanya ia datangi diserang oleh Ormas. Ia pun meninggalkan kehidupannya yang lama dan kembali ke pesantren tempat ia dibesarkan. Di pesantren tersebut, ia murung dan terlihat seperti kehilangan sebagian jiwanya. Karena tidak tega melihat Adiknya tidak bahagia dan sedih berlarut-larut, Ali pun berinisiatif untuk membantu Adiknya kabur dari pesantren tersebut.

Menggunakan uang yang telah diberikan Ali, Yusuf pun memulai babak baru di kehidupannya dengan bekerja sebagai SPB di suatu mal. Ia pun dipertemukan dengan Jajang, Dian, Chris, dan para homoseksual lainnya.

Kita diajak Yusuf berkenalan dengan komunitas queer pada zaman itu dan stigma sosial yang melekat padanya. Melalui Yusuf, kita diperlihatkan bahwa tantangan tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam, seperti bagaimana halnya para queer yang saling bersaing dan menjatuhkan untuk mendapatkan posisi atau strata yang lebih tinggi dalam komunitas tersebut. Perjalanan Yusuf tidak berhenti di seputaran Tanggerang saja, ia juga sampai terdampar di Jerman yang dipenuhi dengan perbedaan yang kentara dari Indonesia.

I LOVEEEEEEE AN EYE-OPENING BOOK. Selama baca buku ini, aku kek... wah... a whole new world. I'm a queer too, a bisexual to be precise, but i've never experienced something like THAT before. No one ever villiainized me for being different and i realized that it was because the environment that i live in is so much different than Yusuf's, i live in a much more progressive world with supporting friends and this book give me a new perspective of my own community. Aku jadi sadar betapa banyaknya privilege yang aku punya dan aku harap dengan baca buku ini, banyak orang yang lebih berempati terhadap orang lain, terutama para queer di Indonesia👍

Nah, apa yang aku suka dari buku ini tuh bahasanya yang sangat amat kasual, bahkan banyak diselingi bahasa "Bencong," jadi terasa personal. Rasanya kek aku sendiri yang bersahabat dengan tokoh utamanya, si Yusuf. In short, it's like reading his diary.

Selain itu, aku suka banget dengan karakteristik para tokohnya yang beragam. Perbedaan antara Yusuf dan Jajang juga menarik karena meski sama-sama dari kampung dan homoseksual, cara mereka memandang keduanya sangat kontras. Jajang yang sering menganggap rendah para gay lain dengan menilainya kampungan dan Yusuf yang tidak mau mengambil pusing hal-hal yang tidak bersangkutan dengan dirinya saling melengkapi satu sama lain.

This book sets in 2010s, so it's like a time capsule for things that i didn't understand back then because i was still a little kid LMAO. Very nostalgic~

Honestly, there's nothing that irks me off except for how long it takes for the book to get my full attention. Di 200 halaman awal, aku bingung dan kebanyakan bosan karena gak dapet gambaran plotnya mau dibawa kemana. Banyak deskripsi yang menurut aku gak relevan dengan ceritanya dan lebih baik di-skip aja. I thought this book is going to have a prominent plot with self-discovery as the main theme but yeah... it's still good though...

To wrap things up, i have to say it's an okay read because most of Indonesian LGBTQ+ books that i read is not as good as this 👍 Bagus kok, walau dari sinopsisnya keliatan berat tapi pas bacanya ngalir aja, so, yeah, silakan dibaca~
Profile Image for Regina Ibrahim.
39 reviews9 followers
December 3, 2023
Dosa karya Nuril Basri diterbitkan pada tahun 2012 dengan Fixi Malaysia. Terjemahan dari tajuk asal Bukan Perjaka. Bertolak dari situ beliau secara aktif telah menghasilkan 4 lagi novel bersama Fixi Malaysia membawa kisah pelbagai dalam pautan komedi tragedi melalui novel Romantis, Enak, Sunyi dan Rasa.
Gula jika di Gramedia Indonesia membawa tajuk Gula, Gula, Gula.
Sebagai penutur Bahasa Indonesia (termasuk lingo jaksel) saya fikir Julie Anne telah melunaskan tanggungjawab terjemahan dengan baik. Ada glosari aksen salon dan akronim disediakan jika pembaca Malaysia tertanya tanya.
Pembaca dipermudahkan dengan sinopsis asal dari Dosa 2012 setelah kematian Paris dan penutupan Kelab Starlight setelah dirazia pemerintah. Watak YUSUF dikembalikan untuk menggalas tugasan bercerita. Pulang ke sekolah pondok, menjalani kehidupan keagamaan yang tidak disenangi dalam diam, jiwa mudanya meronta ronta mahukan kehidupan yang jauh lebih mencabar.
No Spoiler Review:
Yusuf berpetualangan lagi, kali ini jauh lebih menarik dalam kadar masa tahun 2015 saat perubahan telefon bimbit BBM bertukar kepada i-phone.
Menemukan watak watak sederhana latar ekonomi tetapi bercita cita pada jalur hidup hadapan meriah. Melibatkan pelbagai kejadian trial & error.
Penemuan pekerjaan dan penempatan sewa baharu, teman teman lembut, persoalan kelas, harapan dan cita cita sehinggalah mereka berhimpun di Bali dan menemukan peluang baharu untuk menuju ke negara Jerman (di sana ada cerita baharu menanti Yusuf) – membawa semangat kembara.
Setiap bab dalam buku 318 halaman ini mengundang senyuman, kelucuan dan sesekali memintas fikir tentang dosa dan kelaku manusia. Melalui candaan antara watak watak terpilih – Janjang yang mahukan kehidupan berkelas selaras zaman medsos, Dian yang aktif berniaga, Ali abang Yusuf yang terus menghambakan hidup di sekolah pondok. Anton yang menjaga maruah agar tidak diketahui lembut. Volker jejaka berusia dari Jerman yang mengoda.
Nuril pintar menjadikan pembacanya berfikir dalam tawa. Menyusun persoalan hidup melalui interaksi sesama watak watak terpilih. Isi hati tergambar melalui pemerhatian. Dialog dialog spontan sesama watak memperlihatkan kekalutan watak watak lelaki lembut berinteraksi dengan alam mereka. Kerap bersoal sambil mempertikai. Zaman awal tahun 2 ribuan di Jakarta dirakam dengan baik oleh penulis (kisah muatnaik video haram, VCD bajakan, torrent, kerim pemutih, keciwian terhadap hidup mewah, dunia medsos pelbagai demi perkenalan: Grindr, MenJam dan lain lain).
Meskipun berkisar tentang lelaki lelaki lembut, garapan secara tidak lansung memperlihatkan struktur ekonomi, pendidikan, gaya hidup, nilaian moral, adab budaya, ketakutan dan penilaian hidup serta isi hati manusia manusia yang sunyi tercari cari secara harfiah.
Penulis memilih untuk mengangkat Yusuf sebagai pelihat pada watak watak hebat (sambil menilai kekurangan diri dan pembinaan keberanian). Teknik penceritaan santai ini sebenarnya membawa banyak konotasi serius tentang kehidupan jejaka jejaka lembut.
Segala hafazan kitab dan Al-quran mampu hilang jika kamu terlalu banyak menonton porno!!!
Buku ini lucu dan membawa fikir serta lamunan panjang. Dipersembahkan dalam nada yang TIDAK mengada ngada.
LOVE IT.
NOTA:
Di tahun 2023 Nuril Basri telah memenangi hadiah sastera melalui Le Rat d’egout di Perancis.Grand Prix Award (karya terjemahan) di Perancis.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
293 reviews6 followers
September 19, 2022
Gula,Gula,Gula... yang awalnya kukira menyajikan kisah manis penuh canda tawa, tapi faktanya justru lebih banyak kisah satir dan tragis bahkan beberapa meninggalkan luka. Bercerita tentang sepenggal perjalanan hidup seorang pemuda bernama Yusuf, yang sedari kecil sudah piatu dan tinggal dipesantren bersama abangnya. Selepas masa SMA, ia memberanikan diri untuk mengadu nasib dengan menjalani hidup di luar dari lingkungan pesantren. Bersama kawannya Jajang dan Dian,ia bertualang seturut kemana angin takdir meniupnya. Hingga pertemuannya dengan Volker di Bali, yang kemudian mengantarkan Yusuf melanglang buana hingga ke Berlin dan berjumpa sosok Karl yang ia kagumi serta juga Gunter seorang yang bagi Yusuf akan terus ada.

Buku ini merupakan buku lanjutan dari buku pertama yang berjudul Bukan Perjaka. Namun, novel ini masih bisa dinikmati secara terpisah karena penokohannya hanya spesifik pada beberapa tokoh saja, dan sudah dijelaskan oleh penulis dengan sangat baik.

Menurut sy penulis menyajikan kisah/cerita ini dengan persiapan yang matang, melalui karakteristik para tokoh yang beraneka ragamya ia menyampaikan kegelisahannya dengan cara yang elegan

Berikutnya, sehubungan dengan tema dari buku ini cukup spesifik dan bahkan di Indonesia masih tergolong tabu, alangkah baiknya sebelum membaca posisikan diri kita (sebagai pembaca) adalah dalam keadaan baik, netral dan pemikiran yang terbuka.
Profile Image for Mas Alif.
175 reviews3 followers
September 2, 2024
Mungkin aku kurang suka dengan endingnya. Kok tiba-tiba jadi Trhiller gini. Tapi, overall, aku lumayan suka dengan tragicomedy yang di tawarkan.

Banyak hal tabu yang di sampaikan dengan sentuhan komedi, membuatku merasa yang awalnya illfeel dan kaget eh malah ketawa dan sejenak sadar ini hanya fiksi.

Gula Gula Gula menceritakan petualangan Yusuf yang naik turun dalam menjalani kehidupan setelah keluar dari pesantren. Menjalani kehidupan minoritas yang sungguh serba tiba-tiba. Mulai dari jadi SPB lah, Penjual VCD porno lah, dan yang paling out of the box jadi Sugar Baby untuk kakek-kakek usia 70 tahun.

Yusuf gak sendiri. Ada Jajang yang paling ngebet ingin mengubah diri jadi high class, malah kejebak dalam harapan palsu. Sementara itu, Yusuf malah harus hidup lontang-lantung di Berlin karena di usir sama Sugar Daddy nya. Tapi, perjuangannya untuk bertahan hidup membawanya ke dua orang teman baru disana.

Tapi?

Yah, balik lagi meskipun sarkas dan penuh slapstick comedy dan ironi yang lucu. Novel ini kurang bagus di ending. Dan banyak typo yang mengganggu. Kayak nama jajang ketuker sama Yusuf atau typo lainnya.
Profile Image for N.  Jay.
242 reviews9 followers
May 30, 2025
Bacaan yang lumayan cepat selesainya, serasa baca komik berseri, ringan, nagih, tapi menyenangkan juga melihat karya queer rupanya masih eksis terbit di sini meski memang termasuk sedikit.

Membaca pola penulisannya sedikit banyak mengingatkan era penulis berbasis halaman blog pribadi, yang banyak di antaranya menulis cerita yang mengarah ke genre BL atau tidak subtema YAOI (yang cukup banyak dilakukan kala itu dan masih dipertahankan sebagian di media kepenulisan lain).
Bukan hal buruk, tapi memang membuatnya terasa lebih akrab, dan terasa seperti sajian film popcorn yang bikin gampang tandas.

Karakternya memang menarik sih, tapi yang beneran hidup kayaknya Jajang sama Yusuf, yang lain tak begitu kuat fondasinya, terutama tokoh yang berselisih dengan mereka.

Lalu, ada masalah terkait penataan tulisannya yang banyak kekosongan setelah paragraf pembuka di beberapa bab, agak mengganggu.

Sebetulnya sih ngarepin kalau kultur gay di Jermannya lebih terasa, tapi sepertinya memang seperlunya saja berpadu dengan interaksi karakter di sana. Dan romantisnya boleh juga, tapi entah kenapa kentang aja.
Profile Image for Bayuu Haikalson.
159 reviews2 followers
February 17, 2025
Kalau aku tahu dari awal karya ini sambungan daripada karya DOSA.. memang aku baca dari awal lagi.. tak guna betul lah. Hahaha


Buku ini bagi aku sedap nak mampus.. semalam baru ada free time nak belek dan baca sampai habis. Memang page turning juga lah. Membaca buku ini membuatkan aku terkenang waktu remaja.. dari proses peralihan telephone itu. Haha. Kenangan betul lah.

Emosi bagi aku di dalam karya ini bersahaja.. tidak mengambarkan apa-apa.. senada sahaja. Tapi jalan penceritaan itu membuatkan aku terpesona dan membuatkan aku ingin tahu lahi dan baca lagi dan plot twists banyak sangat. Aku memang tak boleh agak apa yang akan terus terjadi lagi.

Disebalik dugaan itu terselit bahagia nya. Tapi aku macam kecewa Yusuf tak bertemu dengan abang nya lagi selepas dia kembali dari Jerman.

Adakah ada kisah sambungan Yusuf nya? Kalau ada aku mahu lagi sih..

p/s : Cover buku depan ini macam ada double meaning je ekk. 😜
Profile Image for Tirani Membaca.
126 reviews1 follower
February 2, 2023
Aku tertarik untuk membaca ini karena menceritakan tentang kehidupan teman-teman LGBTQ di Indonesia. Memang sejak awal kita dihadapkan pada kecamuk batin dan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh tokoh utama dan teman-temannya yang juga bagian dari LGBTQ. Beberapa kali juga disinggung tentang betapa sulitnya hidup sebagai LGBTQ di Indonesia. Namun, agak kecewa karena hal tsb tidak lagi dieksplor lebih lanjut.

Selain itu, ada beberapa typo juga dalam novel ini yang membuat saya agak bingung. Bagas atau Bagus?

But overall, ini novel yang menarik dalam memotret kehidupan LGBTQ di Indonesia dan kompleksitas di dalamnya. Banyak pengetahuan baru juga yang kudapatkan dari novel ini. Not to mention, karena novel ini aku jadi tertarik buat baca tulisan-tulisan Kak Nuril Basri lainnya. Semoga segera bisa didapatkan secara legal untuk novel-novel lainnya.
Profile Image for Azril Noor.
313 reviews5 followers
May 28, 2025
Merupakan sambungan kepada Dosa, Gula membawa aku melayari kehidupan Yusuf meneroka dunianya yang lebih luas dan lebih jauh. Tiada lagi Ricky, Paris dan Oscar, namun Yusuf kini ditemani oleh Jajang dan Dian - kehadiran mereka berdua ni sangat lucu dan riuh, mengisi ruang sunyi Yusuf. Awalnya setelah apa yang terjadi dalam Dosa, aku yakin Yusuf akan lebih berhati-hati, namun apakah daya. Aku ingat dia akan berjaya melanjutkan pelajarannya ke peringkat lebih tinggi, aku dah tersalah rupanya. Disekolahkan dengan kehidupan yang lebih mencabar. Kehadiran teknologi baru, betul-betul membuka ruang untuk Yusuf mencuba sesuatu yang baru. Harap masih ada lagi kisah Yusuf sebagai penutup.
Profile Image for Laaaaa.
208 reviews5 followers
July 1, 2025
buset ngebut banget aku nyelesaiin baca novel ini. abisnya seru banget kayak ga bisa ditinggal, apalagi di bagian menuju ending. seneng banget pas baca kehidupan yusuf di jerman, bikin pengen ke sana deh hehehhe

ending-nya oke juga, abis gw kesel banget sama si anton. dia tu kenapa sih aslinya ga jelas banget jadi manusia.

point pentingnya adalah ceritanya ngalir aja, kalimatnya asik karena beneran pake bahasa sehari-hari yang casual aja gitu, santai. terus tiap chapter-nya tu ga banyak halaman jadi ngerasa lebih cepet aja bacanya. bagus lah ceritanya
1 review
August 7, 2023
Buku ini cukup “realistis” untuk jamannya dan beberapa juga masih relatable untuk jaman sekarang. Walaupun pembawaannya cukup ringan, masalah yang diangkat berat dan tergolong banyak sekali isu yang diangkat. Alur dari cerita ini juga sangat rollercoaster. You just never know where they’re going to bring you. It’s full of surprises even till the very end. Overall it’s a really nice book, it’s just not my cup of tea because how heavy and how the story flows
Profile Image for Fathiyah.
7 reviews
August 13, 2023
jarang-jarang saya cepat menamatkan buku dengan 300 halaman lebih, karena saya memang tipikal yang malas membaca, tapi buku ini benar-benar membuat saya tertarik untuk terus membacanya entah itu karena alurnya atau apapun itu, penggunaan bahasa sehari-hari dan slang yang digunakan Yusuf dan teman-temannya membuat saya sedikit lebih paham jalan pikir seorang yang mengidentifikasi dirinya sebagai seorang gay, apik.
3 reviews
August 26, 2025
Rasanya seperti membaca thread Kaskus di era 2010-an. Dengan approach yang ‘membumi’, mudah rasanya untuk bisa bersimpati kepada Yusuf dan cerita hidupnya.

There are a lot of social critiques about how metropolitan gay’s standards of life; and it comes from two person’s perspective: the one who doesn’t want to get involved in it and the one who wanted to fit in. Manis, asam dan pahit.

Not a big fan of the ending, but if the shoes fit? why not.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Maizal Walfajri.
23 reviews2 followers
May 1, 2024
Nuril memberikan perspektif kaum marginal secara detail dalam karyanya ini. Walau sangat nyeleneh tapi maknanya sangat dalam dan membuat pembaca akan menyadari bahwa semua orang layak dinilai sebagai manusia bukan antribut yang melekat pada dirinya. Ini akan sedikit trigger bagi beberapa orang sebenernya.
Profile Image for Ical Digidoy.
33 reviews1 follower
September 23, 2025
bahasanya mengalis dengan sangat lancar dengan karakterisasi yang jelas dan membuat simpatik. alurnya sangat mudah diikuti (bahkan bisa dijadikan studi untuk yang baru maumulai menulis) dan reasonable. kekurangannya hanya ada di beberapa holes penyebutan istilah2 yang populer hari2 belakangan ini, sedangkan latarnya di tahun 2010an(?). tapi secara umum, well done.
Profile Image for Venus.
9 reviews
August 29, 2023
Penuh keseruan dan cerita yang jarang terlihat ataupun diketahui masyarakat mengenai kehidupan dari sisi seorang yang sering tidak diterima oleh masyarakat. Pembawaan cerita yang asik dan karakter utama yang membawa pembacanya ke dalam masalah menarik membuat novel ini menyenangkan untuk dibaca!
Profile Image for Canly.
36 reviews
May 30, 2024
After I finished the book, I found out that it is a sequel to Bukan Perjaka, so this book certainly can stand on its own. That's why this Yusuf character doesn't feel like . I understand that for example distibuting porn videos ilegally, I don't know, maybe it doesn't have to correlate
23 reviews
September 23, 2022
An interesting look into Indonesian gay community and the prejudice that follows. The slangs make it very funny but the story is a bit slow pace at some points.
Profile Image for Amelia.
5 reviews
September 29, 2022
Membaca buku ini rasanya seperti sedang mendengarkan seorang teman yang curhat
Profile Image for Rahman Rasyidi.
102 reviews26 followers
August 5, 2023
Dengan cerita keseharian di buku ini, rasanya seperti lagi denger temen deket lagi curhat haha. Very easy read, also very relatable like what?? :o
Profile Image for cipel.
67 reviews7 followers
December 4, 2023
BAGUS BANGET🥹 nangis dan tertawa bareng yusuf. jadi pengen baca karya nuril basri yang lainnya
9 reviews
January 4, 2024
first chapter reaction: 😧😯😮🫨🫨🫨

last chapter reaction: 😯😮😲🫨🫨😵😵‍💫😫😭😠😡
Profile Image for Jayenim.
162 reviews1 follower
June 10, 2024
Bener-bener deh. Ga nyangka bakal se unputdownable itu. Sekali baca pengen lanjut terus sampai habis. Walau bahasa ringan dan jalan cerita yang mudah dicerna, tapi sama sekali tidak ada kesan jenuh saat baca. Harusnya bisa 5 bintang kalo ending ga gantung kyk begitu.
Profile Image for Valentines Risma.
70 reviews8 followers
June 9, 2024
Bukunya rame banget dan celetukan Yusuf hampir selalu berhasil bikin ngakak karena enteng banget kalo komentar sesuatu.

Ayo segera ada lanjutannya!
Displaying 1 - 30 of 34 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.