Jump to ratings and reviews
Rate this book

Aku Hendak Pindah Rumah

Rate this book

86 pages, Paperback

First published January 1, 2008

7 people are currently reading
256 people want to read

About the author

M. Aan Mansyur

19 books1,092 followers
a father of four

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
36 (29%)
4 stars
47 (38%)
3 stars
34 (27%)
2 stars
3 (2%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 23 of 23 reviews
Profile Image for ahmedoank.
75 reviews2 followers
August 13, 2012
Sederhana, mungkin itu yang akan terucap
ketika membaca sajak sajak yang ada

Engkau dan Sajakku

Engkau selalu sengaja memilih busana yang sederhana
Agar kecantikanmu tidak karam ke dalam kemewahan
Aku selalu sengaja memilih bahasa yang bersahaja saja
Agar makna sajakku tidak lenyap di perangkap ungkapan


tapi dibalik kesederhanaan kata - kata yang ada
begitu nikmat, untuk sekedar dikunyah, bahkan ditelaah

sajak sajak tentang Wanita / Ibu, melihat kecintaan seorang anak terhadap wanita atau ibunya dan juga rasa dendamnya dan kehilangan yang dalam terhadap sang ayah

Mata Ibu
matamu hulu kali

airnya lelehan cermin
menggenangi pipi, telaga tempat ikan-ikan
berenang; anak-anak yang engkau lahirkan
dan tumbuh dewasa lalu melepaskan
siripnya di antara batu-batu buta
.........


Mencari tubuh ayah

aku berenang berhari - hari, tetapi laut luas dan buas sekali.
setiap pulau yang kudatangi tidak menyimpan tubuh ayah.

aku memanjat tinggi punggung - punggung gunung, tetapi setiap tangga
menuju arah yang salah.


14 januari

seberapa jauh kuda waktu
mampu membawaku di pelana?


sesaat membaca sajak Aan, seakan membawa sebentar saya, lepas dari rutinitas yang ada

Dunia yang lengang

sebuah usaha, agar orang-orang
lebih banyak bicara dengan mata,
pemerintah membuat aturan ketat:
setiap orang hanya berhak memakai
seratus tiga puluh kata per hari, pas.

Profile Image for ella.
66 reviews14 followers
August 31, 2021
aku tidak terlalu paham soal sastra, namun puisi-puisi m. aan mansyur bagiku itu seperti masakan buatan ibuku, pas di lidah dan sesuai seleraku.

tema-tema yang diangkat dalam puisi ini pun lebih spesifik lagi bagai rendang dan seblak buatan ibuku; rasanya berbeda dari resep umum kebanyakan dan sangat enak, seperti ada bumbu dan resep pamungkas rahasia. m. aan mansyur seperti punya itu dalam puisi-puisinya.

aku juga suka setiap kata dan majas yang digunakan. bagaimana m. aan mansyur mampu merangkai hal-hal kritis, pelik, sakit, dan haru menjadi bait yang sederhana namun sampai ke hati.

aku tidak bisa menyebutkan puisi mana yang menjadi favoritku, karena hampir semuanya, terutama yang membahas keluarga, alam, kehidupan urban dan kritik pemerintah.


aku tidak tahu apakah buku yang ada di goodreads ini dan buku yang aku baca sama, tetapi judulnya sama, dan aku beli dari katakerja langsung, namun lembar di buku yang aku baca jauh lebih sedikit dari goodreads.
Profile Image for Maulana Achmad.
26 reviews8 followers
September 23, 2008
Saya termasuk orang yang beruntung sebab pernah berada di satu ruangan yang teduh untuk berpuisi bersama Aan Mansyur..

Selalu saja aku menemukan yang indah dari kalimat-kalimat Aan, walaupun ketika itu dia "menangis".

Selamat daeng ! Buku daeng memang patut masuk diantara 10 nominator penerima KLA Award
Profile Image for kinu triatmojo.
288 reviews3 followers
April 17, 2008
Aan Mansyur adalah penyair muda yang spesial. Kalau saja di Indonesia ada rumah judi William Hill, saya akan memasang taruhan buat Aan Mansyur sebagai kandidat penyair penting setelah era Jokpin, atau HAH :D
Profile Image for Nanto.
702 reviews103 followers
November 22, 2008
Suka!!!

Suka yang pendek-pendek. Suka membuka sajak pertamanya sebagai prisma bagi saya dalam menelusuri sajak-sajak Aan di buku ini.

Engkau dan Sajakku

ENGKAU selalu sengaja memilih busana yang sederhana
agar kecantikanmu tidak karam ke dalam kemewahan.
Aku selalu sengaja memilih bahasa yang bersahaja saja
agar makna sajakku tidak lenyap di perangkap ungkapan


Kesederhanaan kata. Itu bekal saya.

Lembar-lembar halaman terlewati. Beberapa sajak lewat tanpa saya cecap sedikitpun. Didesak kinerja teknis, sajak Aan malah membuka rahasia yang paling telanjang. Rahasia yang telanjang membuat saya terbang. Menerobos pintu-pintu sajak di buku ini. Lamat di pintu pertama, sayup di pintu ke dua. Di pintu ke tiga: derak-mengentak dengan tidak meninggalkan kesayupan di pintu sebelumnya. Terus terbang menghembus buluh pikir saya yang penat dengan hal-hal analitik. Saya yang ingin merasa, dibuai terbang melintasi tiap pintu menuju ujung halaman belakang buku puisi ini. "Don't analyse!" Teriakan Dolores O'Riordan dan rekan-rekan Cranberries yang pernah menjadi soundtrack saat diuber tenggat skripsi kembali mengingatkan saya, "Gak usah banyak mikir, nikmati saja!"

A poem is an utterance, begitu kutipan entah di halaman buku mana pernah saya baca. Sajak Aan yang katanya sederhana, tetap mengandung rahasia di ungkapannya yang sederhana. Kerahasiaan yang telanjang itu tetap mengundang gelitik di belahan kepala saya. Menghembus lamat, sayup, dan lesat ingin segera menamatkan.

Lain itu, letih kerja yang disela jeda membuka halaman buku ini, membuka imaji komikal atas beberapa sajak Aan. Telur Dadar, mengingatkan saya untuk segera menamatkan buku Nanang R. Hidayat, sekaligus sadar saya telat makan siang. :D Interogasi mengingatkan saya akan muak pada kultum salah alamat di subuh ramadhan dua tahun lalu. Sajak Interogasi juga menerbangkan saya kepada jerit dawai gitar Totok Thewel dan jerit parau Iwan Fals di lagu Orang Kalah.

Sajak Aan menerbangkan saya dengan hembusan angin yang sayup. Lepas sebentar dari jerat kerja yang suntuk.

Belum tamat memang, karena saya tidak ingin digesa membacanya. Karena saya akan kembali, usai kerja yang wajib ini.

Ada saatnya sajak dikunyah, ada saatnya sajak ditelaah. Saya mengunyahnya barusan. Rasa kopi phoe nam spesial barusan.
Profile Image for Muhammad Muhsin.
54 reviews20 followers
June 21, 2021
Sebagaimana judul & cover bukunya, puisi ini memang banyak bercerita soal "rumah", sebuah entitas yang lebih mirip "suasana", terutama suasana "nyaman" meski di satu sisi kadang "menyiksa".. bisa juga ia mewujud menjadi entitas lain, seperti "kau", "pelukan ibu", atau "gerbang pohon di kampung".. sepanjang buku kita akan disuguhi betapa "cairnya" entitas bernama "rumah"..

Buku ini juga memiliki judul "Aku Hendak Pindah" yang sepanjang buku termanifestasi jadi "gejolak dalam diri", "gejolak dalam perantauan/perjalanan", "gejolak dalam kenangan", "gejolak dalam keinginan untuk.." & akhirnya menjadi "puisi".. puisi yang bisa menjadi gejolak, tapi juga dapat menjadi rumah dengan imajinasi uniknya...

Aan Mansyur membuka buku ini dengan petikan keraguan yang mengawali perjalanan puitiknya "seluruh yang bertumbuh.. di permukaan tidak bernama, bukan milik siapa-siapa"..

Keraguan/gejolak ini pun kemudian mulai mencari "rumah" itu.. kemana-mana.. mulai dari "pelukan ibu", "gerbang pohon di kampung", "memori ponsel", "pelukan istri yang diharapkan-nya menjadi gurita", atau "kata-kata".

Saya sendiri termasuk yg terpukau dengan 2 puisi terakhirnya, bahwa hal sederhana seperti "lubang ibu jari pada kaos kaki", juga dapat menjadi "rumah".

Jujur, buku ini berhasil membuat saya semakin mencintai "rumah", baik yang nyaman dalam hidup saya, maupun yang membuat saya bergejolak. Baik itu pelukan ibu, maupun tempat tunggu stasiun yang jadi saksi saya pernah berpisah.

Semoga kita masih nyaman berada di rumah, dan kelak menjadi rumah yang nyaman bagi orang lain.
Profile Image for literautres.
291 reviews27 followers
June 11, 2022
semua kata yang dulu indah di mata telinga
telah menyembunyikan dirinya entah di mana.
sementara waktu telah pula mempercepat langkah
seperti diburu bermacam-macam masalah

....

kalimat sudah tidak punya tangan
sejak dilukai poster-poster kampanye
calon presiden dan gubernur.
sementara air mata tidak lagi manjur
menyembuhkan rasa sakit atau luka.

(sebuah sajak yang tidak indah, hlmn. 54 - 55)


hehe akhirnya baca kumpulan puisi aan mansyur lagi ;___; senang. aku suka kumpulan puisi ini soalnya banyak tentang kota, ibu, terus ada beberapa puisi yang manisss banget kayak 'menelponlah, kekasih' terus 'lubang untukmu' sama 'sajak buat istri yang buta dari suaminya yang tuli'. beberapa puisi tentang kota yang aku suka ada 'di sajak ini ada kota besar terbakar' sama 'mengejar kaki-kaki kota' (plis iya aku juga pengen lebih banyak libur haha). puisi-puisi tentang ibu bikin aku pengen nangis dan kangen ibuku padahal ibuku di ruang depan aja.

seperti kumpulan-kumpulan puisi aan mansyur lainnya, aku suka banget kumpulan puisi ini huhu rasanya pas di kupingku (aku kalo baca puisi meski dalam hati ada suaranya gitu di kepala) dan kata-kata aan mansyur kayak selalu tepat pada porsinya huhu gitu deh aku gak bisa jelasin (yha) - 'sebelum sendiri' remains my favorite collection from mas aan tapi aku juga suka ini! aku baca yang cover baru yang dibikin sama sukutangan tp gaada di goodreads ya edisinya huhu sedih deh padahal covernya yang ini edisinya bagus.... nggak penting tapi gapapa. aku mesti inget-inget mau beli yang 'tokoh-tokoh yang melawan kita dalam satu cerita' hwhw.
Profile Image for Evan Dewangga.
309 reviews37 followers
September 16, 2022
Makna rumah dalam sajak Aan Mansyur begitu luas, begitu dekat, dan sesaat, begitu pahit. Hangatnya mata ibu, telepon kekasih yang tak mau lepas, hingga desa tumpah darah, semuanya rumah. Melalui tarian kata buku ini, saya memaknai bahwa ibu kota yang sesungguhnya adalah desa. Desa setiap hari menghadirkan bangkai peternakan dan sawah di piring mewah kota, dari sana kota dibesarkan. Tapi kota menikah dengan orang asing, dan lahirlah masyarakat urban yang pandir dan kikir. Masyarakat yang paling sibuk di dunia, tak mengenal hari Minggu dan libur nasional. Terasing di rumah baru dan terngiang rumah sesungguhnya, senyuman ibu, yang menyimpan pahitnya kesepian.

"seluruh yang bertumbuh
di permukaan tidak bernama

bukan milik siapa-siapa."

Sajak pertama ini merangkum keseluruhan isi buku ini, yang saya sederhanakan menjadi: rumah sesungguhnya adalah tempat kita memiliki diri sendiri.
Profile Image for Bepeen Sakmadya.
10 reviews
March 31, 2023
Saya selalu menyempatkan dan melambatkan dalam membaca karya-karya mas Aan Mansyur. Termasuk ini. Lihai sekali dalam meracik diksi seolah saya ingin kembali ke universitas untuk masuk mengambil dan menekuni sastra seolah batasan orang tua saya tidak pernah ada.

Menyukai puisi Indonesia di saat-saat seperti ini memang sangat menantang. Banyak hilir mudik pasangan-pasangan puisi luar negeri yang mampir. Tapi, sependek jangkauan mata minus saya, puisi-puisi ini benar-benar bukan saja mengejawantahkan hal-hal yang subtil tentang topik-topik domestik dengan proksimitas terdekat dengan pembaca semacam saya namun juga menawarkan keleluasaan pikir atas politik.

Banyak kesalihan yang saya saksikan dalam helai-helai baitnya. Salah satu buku puisi singkat yang sangat rugi jika hanya singkat kita menghabiskannya. Endapkan. Lalu baca. Lalu lanjut terus demikian.
Profile Image for Sylwty.
72 reviews
September 2, 2021
Aku Hendak Pindah Rumah karya M. Aan Mansyur

Buku ini tipis, wkwkwk. Rencana mau dihabiskan akhir minggu. Tapi udah abis tadi pagi. Ada banyak penyair di negeri ini. Salah satu yang membekas adalah puisi-puisi Aan.

Aku suka gaya berceritanya, kadang suka mikir: apa yang dialami penulis sampai punya kata-kata seindah sekaligus membingungkan. Narasi-narasi dalam buku ini kadang gagal kupahami, tapi di situlah letak membekasnya, wkwkw

Puisi yg kusuka adalah _tiga catatan kecil sebelum tidur_, _kepalaku: kantor paling sibuk di dunia_, _pelukan_, _kota: anak desa yang kurang ajar_.

3
sekarang kita sepakat saja
ingatan terkubur di balik debur tidur. seluruh yang bertumbuh di permukaan tidak bernama

bukan milik siapa-siapa

4,8🌟
Profile Image for ranilagi.
9 reviews
August 25, 2022
Sebagai penulis, mas Aan selalu berhasil membuat pembacanya merasa dekat dengan beliau melalui puisinya. Frasa-frasa dan majas yang dipilih begitu jujur dan bulat. Rasanya seperti membaca sesuatu yang baru ditulis dan tidak disunting. Buku ini berisi puisi tentang segala macam yang kita sebut "Rumah". Tentang semua keadaan "Rumah" yang bisa jadi terkadang pilu dan sendu. Buku ini saya rekomendasikan kepada semua orang yang sedang merindukan rumah, atau seperti judulnya hendak pindah rumah.
Profile Image for Siraa.
260 reviews3 followers
June 12, 2021
Akhirnya saya mendapatkan buku ini hasil cetak ulang dari JBS sepaket dengan buku lama aan yang lain. Dari ketiga buku yang ada, hanya buku ini saja yang bisa saya mengerti dan meresap dengan cepat ke sela ingatan sedangkan dua buku sisanya lebih butuh dipikirkan lebih banyak
Profile Image for lita.
440 reviews68 followers
November 27, 2010
Engkau selalu sengaja memilih busana yang sederhana
Agar kecantikanmu tidak karam ke dalam kemewahan
Aku selalu sengaja memilih bahasa yang bersahaja saja
Agar makna sajakku tidak lenyap di perangkap ungkapan

Engkau dan Sajakku, hal. 19

Sungguhkah aku mencintainya
atau mencintai rasa sakit mencintainya?

Di Dadanya Kamar Tidurku, hal. 30

BAIKLAH, sekarang kita sepakat saja
ingatan akan terkubur dalam tidur kita
dan seluruh yang tumbuh di atasnya
tak bernama dan bukan milik siapa-siapa

Sebelum Tidur, hal. 42

Aku jatuh cinta dan bersedih karena matanya bagai ruang hampa
tapi tak ada yang bisa mengubah posisi dan arah menghadapnya
sungguh-sungguh sebuah waktu di masa lalu jadi segala baginya

Empat Soneta Satu Perempuan, hal. 48

Apakah kau mau tahu untuk apa cuaca dingin diciptakan?

Agar yang terpisah direkatkan.

Riwayat Dinding dan Dingin, hal 66
Profile Image for Shelin.
69 reviews
July 4, 2024
Bisa dibilang sejauh ini, dari buku-buku Aan Mansyur yang sudah saya baca, buku ini menempati urutan kedua paling favorit setelah Melihat Api Bekerja. Puisi-puisi dalam buku ini tetap berhasil menyampaikan perasaannya dengan permainan kata walau dengan diksi yang sederhana.

Dalam buku ini juga, saya berkali-kali ikut merasakan betapa sakitnya sosok ibu yang digambarkan Aan Mansyur. Hal ini mungkin karena saya pernah mendengar cerita Aan tentang Ibu dan keluarganya di sebuah Podcast. Membuat saya berpikir selalu ada yang lebih patah hati dari yg patah hati.
Profile Image for Ni Nyoman Anna M.
3 reviews4 followers
May 7, 2008
389310 Saya senang membaca suatu karya yang juga saya kenali penulisnya.. dan buku AHRP ini seolah membaca kehidupan MAM yang terkadang dalam kehidupan non fiksinya seolah fiksi dan karya non fiksinya yang seolah fiksi..
Salut buat MAM.. kebetulan saya penggemar beratnya dan pengoleksi karya-karyanya yang beberapa kali menjadi pembaca pertamanya sebelum diterbitkan sekaligus pencela yang tak ragu-ragu padanya.

Profile Image for Haifa Chairania.
158 reviews7 followers
March 30, 2025
Kumpulan puisi Aan Mansyur ketiga yang kubaca, dan akhirnya aku menemukan keintiman dengan tulisan beliau Setelah baca ini, aku merasa "penuh" dengan rasa kesepian menjalar, cinta tak sampai, negeri yang mencari tumpuan, dan kisah para manusia yang mengarungi lautan suka-duka. Puisinya menggigit, tapi juga merengkuh dengan hangat :)
Profile Image for Inez.
24 reviews13 followers
September 6, 2008
saya termasuk yang menggemari sajak-sajak Aan. sajak-sajak yang terang, sederhana, jernih dan unik.
Profile Image for chaula.
58 reviews
July 18, 2008
Kiriman.
Dengan pesan pengantar berbahasa inggris yang tidak bisa saya terjemahkan.
Puisinya mas Aan memang sederhana tapi banyak ngejitak. hehehe.
Profile Image for Stebby Julionatan.
Author 16 books55 followers
September 5, 2008
keren abis.

well, membaca sajak-sajak bang aan mansyur, seakan melihat kecintaan seorang anak terhadap wanita. ibunya. dan juga rasa dendamnya terhadap sang ayah. benarkah seperti itu???
Profile Image for Nurliah.
26 reviews2 followers
May 31, 2011
Selalu menyukai puisi2 MAM. Tak hy membaca pd buku kumpulan puisiX jg sgt menanti ketika terbit di koran.dalam buku ini sgt suka dgn Hujan Pagi
Displaying 1 - 23 of 23 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.