Saya mengerjakan buku ini selama hampir empat bulan (pastinya, banyak hari yang bolong :P) dan menghabiskan 27 halaman F4 bekas untuk catatannya. Tidak betul-betul mengerjakan sih.
Pertama, ada tabel-tabel yang disarankan untuk dikerjakan yang bagi saya terlalu menjelimet sehingga malas hahahaha. Buku ini menyarankan untuk menetapkan 1-3 aktivitas exposure per hari sedangkan pada praktiknya bagi saya 1-3 aktivitas exposure per minggu saja sudah cukup wkwkwk. Soalnya, saya sudah punya sistem sendiri untuk merancang keseharian. Kalau ternyata ada sebagian kegiatan dalam sistem tersebut yang masih saya hindari untuk melakukannya, itu lebih karena bosan, capek, malas, dan sejuta alasan semacam, atau simply karena keterbatasan waktu dan tenaga.
Kedua, masih ada perlawanan terhadap sebagian isi buku ini atau dengan kata lain pembenaran terhadap perilaku-perilaku yang dianggapnya termasuk bentuk avoidance. Apalagi saya cenderung konservatif, memandang bahwa banyak di rumah itu baik, tidak mengemudi kendaraan bermotor itu baik, tidak pergi keluar malam-malam itu baik, dst. Perilaku-perilaku tersebut ada sisi positifnya dan bukan berarti sama sekali tidak produktif. Banyak kegiatan yang bisa dan memang perlu untuk dikerjakan di rumah. Mengemudi kendaraan bermotor terutama di kota besar hanya menambah macet dan polusi. Keluar malam-malam rentan kena begal. Dst. Selain itu, tidak banyak berinteraksi dengan orang juga mengurangi peluang untuk berbuat dosa seperti gibah atau saling menyinggung perasaan. Lebih lanjut lagi, apa salahnya pergi ke tempat hiburan seperti bioskop atau karaoke pada jam-jam hemat? :P
Ketiga, buku ini sekadar pemantau exposure atau upaya melakukan aktivitas-aktivitas positif yang dihindari dan tidak hendak menyelami maupun mengatasi akar permasalahan. Lagi pula, apa pun akar permasalahannya, sepertinya sudah tersedia banyak buku tersendiri untuk itu. Mungkin saya perlu menyelami lagi soal depresi, self-esteem, dan sebagainya.
Keempat, mengetahui arti exposure yang kurang lebih berupa pemaksaan diri untuk melakukan berbagai aktivitas baru atau yang menimbulkan keresahan atau sebagainya, saya menyadari bahwa saya telah melakukan itu sejak dahulu tapi relapse dan relapse lagi begitu terus polanya sampai belakangan. Saya tahu bahwa hal-hal yang pada awalnya terasa tidak mengenakkan itu pada akhirnya tidak mesti terbukti buruk, tetapi tetap saja berat untuk terus-menerus dijalankan. Upaya-upaya yang dilakukan tidak menjadikan terbiasa atau merasa ringan malah melelahkan dan akhirnya patah, juga menambah lebih banyak kenangan buruk yang membebani pikiran. Rasanya seperti selalu kembali ke titik nol bahkan minus, lagi dan lagi. Memang buku ini mengatakan "support, not forceful push". Mungkin tanpa disadari forceful push itulah yang membuat saya patah, tapi kalau bukan oleh saya sendiri maka akan ada orang lain (atau ketentuan hidup itu sendiri) yang melakukannya kepada saya. Mesti ada kerelaan diri untuk menerima segala kesulitan. Seems being a masochist is the key. Expect that life will become harder and harder and this is not the hardest yet. This isn't gonna be any easier. Bahkan sekalipun telah makin berani menghadapi segala situasi, penurunan fungsi fisik dan mental tak dapat dielakkan. Malah yang tersulit justru baru tiba pada saat sakaratul maut? Don't expect for change, but constant, little but bearable battle against your default risky nature.
Kelima, buku ini menyarankan untuk tidak menggunakan (salah satunya) teman sebagai penopang dalam melakukan exposure. Ini juga tidak bisa saya terima mentah-mentah. Banyak hal yang dapat saya tempuh sendirian, tanpa merengek-rengek minta ditemani. Ketika sekalinya saya ingin kawan, malah dianggap ----- Itu justru menjadi faktor penyebab untuk menghindari orang--sikap dingin dan penolakan yang bertubi-tubi. Buku ini tidak mencakup sampai cara menangani imbas-imbas seperti itu.
Keenam, buku ini sepertinya baru lebih berguna atau relevan setelah terjadi perubahan situasi dalam kehidupan saya, yang untuk sementara waktu ini belum dapat saya ubah sendiri. Sekarang ini saya sekadar mengantisipasi faktor eksternal pengubah hidup tersebut yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Ketujuh, rasa tidak suka atau tidak enak itu masih jauh lebih mendominasi daripada bayangan akan possible rewards in the future. Rasanya seperti sudah apatis betapapun upaya-upaya exposure ini dikatakan dapat mendatangkan peluang positif di kemudian hari. Yang penting hanya feel good here and now. I no longer care about what I'll find at the end. The end berarti isdet, pilihannya cuma: husnulkhatimah atau suulkhatimah. Jadi, ketika membayangkan untuk menjalankan suatu aktivitas, dalam benak saya ada perhitungan samar tapi menjelimet mengenai besar energi yang akan dikeluarkan, potensi salah ucap atau salah buat sama orang yang bakal menghantui saya sesudahnya, rasa insecure yang otomatis timbul karena hal tak terduga atau membandingkan hal sepele saja. Seakan-akan ada peperangan yang terjadi dalam benak hanya untuk menunaikan satu aktivitas dan itu semua terasa traumatis.
Bagaimanapun juga, buku ini tetap berguna dalam memberikan banyak petunjuk evaluasi diri.
Pertama, mesti rajin mencatat--mengidentifikasikan dan mengurai--emosi-emosi negatif yang dialami khususnya selama melakukan exposure, bagusnya, sampai intensitasnya berkurang. Setelah itu, kita mesti tahu cara mengatasinya dan membuat rencana perlu melakukan apa sekiranya pengalaman itu terjadi lagi.
Kedua, mesti memahami pentingnya mengakhiri perilaku menghindar. Bukan cuma soal survival selama dikasih nyawa di dunia, melainkan makin banyak orang yang kita pergauli dengan baik, kemungkinan akan makin banyak doa untuk keselamatan kita--syukur-syukur di antara yang banyak itu ada yang saleh dan diijabah. Exposure dapat merupakan upaya untuk beramal baik kepada sebanyak-banyaknya orang.
Ketiga, buku ini memberikan ide-ide dan pastinya dorongan untuk mencoba berbagai cara menemukan aktivitas exposure yang dapat dinikmati. Bagi saya pribadi, aktivitas exposure berarti yang dilakukan: 1) bersama orang lain, dan atau 2) di luar rumah. Ini bisa berarti menelepon atau texting (bersama orang lain tapi masih di dalam rumah), joging (sendirian tapi di luar rumah), atau bertemu teman-teman di mal dsb (bersama orang lain di luar rumah). Kalau tidak bersama orang lain dan atau tidak di luar rumah, betapapun positifnya aktivitas tersebut, misalnya berkebun, saya tidak menganggapnya sebagai exposure. Kalaupun buku ini menganggapnya termasuk, bagi saya backup plan saja.
Keempat, salah satu tipe avoidance adalah thought avoidance. Kita tidak bisa menghindar dari pikiran buruk, termasuk kenangan tak menyenangkan. Salah satu trik yang diajukan dalam buku ini adalah "write out and repeatedly record the narrative" atau "narrative writing" yang serta merta saya kaitkan dengan hobi menulis. Bisakah mengarang fiksi menjadi suatu bentuk thought exposure? Misal, pengalaman tidak menyenangkan itu dipaparkan kembali melalui tokoh rekaan. Macam memindahkan penyakit ke kambing kalau dalam pengobatan alternatif :P tapi yang ini memindahkan pengalaman tidak enak itu menjadi pengalaman orang lain (tokoh rekaan). Untuk itu, pengarang mesti live through it, experience it once again untuk dapat menyajikannya secara hidup lagi meyakinkan. Kalaupun lagi miskin imajinasi, menuliskannya secara apa adanya saja dalam sebentuk catatan harian untuk dibaca kapan-kapan mungkin memadai? Sebetulnya buku ini menerangkan caranya secara terperinci yang tidak persis seperti itu, cuma itulah yang biasanya saya lakukan :P Memang kenyataannya cara tersebut tidak selalu efektif; namun, tidak melakukannya juga tidak menghasilkan hal lain yang lebih berarti. Kegelisahan itu tetap ada; bukan untuk disangkal, melainkan dibina--diarahkan. Saya juga tidak sepenuhnya setuju dengan "the sharing of your traumatic or highly unpleasant thoughts or memories with others can be a very powerful and effective approach to defeat thought avoidance", karena sepertinya tergantung pada konteksnya. Kalau dalam kasus sebagaimana yang ada dalam buku ini sih (mengenai veteran Perang Vietnam), bisa dimengerti. Namun kalau kasusnya menyangkut keburukan diri sendiri, sepertinya lebih baik disembunyikan saja ketimbang diumbar. Bagi orang beriman, tiap kali lintasan negatif itu muncul, sebetulnya bisa memanfaatkannya sebagai alarm untuk beristigfar ketimbang membatin atau memaki.
Kelima, variasi aktivitas itu penting. Meskipun jadwal sudah penuh dengan hal yang betul-betul perlu atau ingin dikerjakan, tetap butuh jeda sekali-sekali. Kata buku ini, "The key to success with positive emotional exposures is in the diversity and frequency of choices (just try a lot of things) and in the scheduling of activities."
Keenam, buku ini memberikan panduan mengevaluasi sleep hygiene walaupun tetap saya kritisi karena tidak melulu sesuai dengan kondisi saya. Misal, aturan no nap at all dan penggunaan noise generator. Bagi saya, tidur siang itu tidak haram asal tidak kebablasan dan noise generator sama sekali tidak diperlukan.
Ketujuh, tabel-tabel yang disediakan dalam buku ini bisa disesuaikan untuk muhasabah diri secara spiritual. Hidup adalah ujian. Mau berhasil atau gagal, keduanya sama-sama bisa menimbulkan penyakit hati. Kalau berhasil, bisa timbul ujub dan melihat yang belum berhasil jadi sombong. Kalau ada yang memberi perhatian, bisa tumbuh riya. Kalau gagal, bisa putus asa, dan ketika melihat yang berhasil, timbul hasad. Mau ke sini atau ke sana dalam hidup ini, bibit-bibit penyakit itu menanti untuk hinggap dan berkembang dalam jiwa.