In Plantation Life Tania Murray Li and Pujo Semedi examine the structure and governance of Indonesia's contemporary oil palm plantations in Indonesia, which supply 50 percent of the world's palm oil. They attend to the exploitative nature of plantation life, wherein villagers' well-being is sacrificed in the name of economic development. While plantations are often plagued by ruined ecologies, injury among workers, and a devastating loss of livelihoods for former landholders, small-scale independent farmers produce palm oil more efficiently and with far less damage to life and land. Li and Semedi theorize “corporate occupation” to underscore how massive forms of capitalist production and control over the palm oil industry replicate colonial-style relations that undermine citizenship. In so doing, they question the assumption that corporations are necessary for rural development, contending that the dominance of plantations stems from a political system that privileges corporations.
Salah satu buku terbaik yang saya baca pada 2022 ini. Tania dan Pujo menyibakkan dengan jelas bagaimana perkebunan kelapa sawit bekerja, terutama dalam hal relasi manusia yang hidup dan menggantungkan hidupnya di industri perkebunan tersebut. Dua perkebunan sawit di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat yang diteliti mereka berdua ini menjadi suatu prototipe yang sangat otentik untuk melihat, dalam bahasa mereka, ketidakefisienan yang terus menerus dipelihara dan dipertahankan oleh industri tersebut. Sehingga dari kondisi seperti itu, yang terjadi adalah semua manusia yang hidup dari sawit, mulai dari tingkat paling atas seperti manajer dan mandor kebun hingga para pekebun dan kuli-kuli harian, "dipaksa" menjadi predator yang memangsa apa yang bisa dicaplok dari kebun sawit.
Meski tidak hidup dalam perkebunan sawit, saya merasa amat sangat paham dengan keadaan yang terjadi di dalamnya. Lahir dan tumbuh besar di tengah-tengah perkebunan karet di Lampung membuat saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri apa yang digambarkan Tania dan Pujo di buku tersebut 11:12 dengan apa yang terjadi di tempat saya tinggal. Dan penelitian etnografi tersebut mewakili apa yang saya lihat dan rasakan sendiri.
Sebuah karya yang benar-benar apik, membuka mata bahwa ada begitu banyak problem dan silang-sengkarut yang terjadi di dalam industri perkebunan tersebut. Kepada negara dan korporasi-lah kita mesti protes untuk mengubah keadaan yang sudah nyaris sekarat tersebut. Padahal ini masih isu sosial-ekonomi dan relasi antar manusia, belum masuk ke pembahasan soal dampak-dampak lingkungan yang ditimbulkannya.
Pada hakikatnya perkebunan adalah konstruk kolonial, yang dibangun berdasar asumsi petani kecil tidak mampu berproduksi dengan efisien. Asdfghk🤯🤬😤 Dominasi perkebunan sebenarnya bukan didukung oleh keunggulan agronomi atau efisiensi produktif, melainkan oleh dukungan politik: ekonomi politik, teknologi politik, dan rezim impunitas yang memang merupakan ciri khas lingkungan politik Indonesia. Like🥴
Tak hanya itu, perseturan antara orang Dayak dan Madura juga terpapar dibuku ini akibat pergesekan politik nasional di tahun 1998. Akar permasalahan yg berantai, kompleks dan begitu banyak tumpang tindih kepentingan berbagai pihak yg mana aku sbg pembaca kaget tp tidak begitu kaget, if you know, you know. 😶🌫️ Kedatangan perkebunan di pedesaan Indonesia telah mendegradasi hak warga negara pendudukan desa, memapankan praktik mafia, dan menabur benih ketimpangan kemakmuran, pemiskinan, dan kekacauan sosial. Disinilah wajah sehari-hari dimana pendudukan perusahaan tidak hanya mengena pada wilayah konsesi yang di tanami sawit tetapi juga menerjang berbagai praktik, proses dan hubungan sosial di seluruh kawasan perkebunan.
Di sebutkan pula pada kawasan perkebunan, para peneliti menemukan bagaimana hukum tidak dibekukan tetapi juga tidak konsisten dijalankan; keadaan ini meciptakan titik cekik yang dijadikan gerbang palak; keadaan ini melindungi perusahaan tetapi sekaligus menjadikan perusahaan sebagai sapi perah; dan keadaan ini juga meghasilkan suatu bentuk tatanan dimana hak2 rakyat sebagai warga nergara masih dinyatakan utuh tetapi hanya di atas kertas. 📝
Sebuah karya penelitian yang sangat padat dg penjabaran nya terkait dunia agraria yg kompleks dan kritis. Tidak ada yg bisa luput dari lingkup dunia raksasa ini dari kalangan bawah hingga atas bahkan diatas lagi. 😮💨
Membawa buku ini dalam keadaan tersegel ke London, agar dapat membacanya ketika sudah mencicipi pengalaman menjadi mahasiswa antropologi, hahaha.
Tania dan Pujo dengan jeli sekaligus kritis menelaah kehidupan manusia-manusia yang hidup bersama "raksasa" perusahaan perkebunan sawit di Kecamatan Tanjung, Sanggau, Kalimantan Barat. Raksasa ini membuat manusia-manusia yang ada di sekelilingnya bersiasat untuk hidup, utamanya dengan cara "mencuri". Hampir semua manusia di semua lapisan dalam buku ini akhirnya jadi pencuri untuk bertahan atau setidaknya mendapatkan kemajuan hidup. Kita pun tidak bisa menuding mereka atas kesalahannya sebab ia ada pertama-tama sebagai konsekuensi kehadiran raksasa yang rakus itu.
Tania dan Pujo menghimpun banyak sekali pemahaman manusia di sekeliling raksasa tersebut sehingga dapat menyebut perusahaan sebagai bala pendudukan, dimana mereka mengambil alih lahan dengan strategi hukum dan kekerasan, merendahkan hak-hak warga negara, dan menyulap warga ke dalam "tata kehidupan baru yang tidak dapat mereka kendalikan." Dengan perspektif ekonomi politik dan teknologi politik, Tania dan Pujo sampai pada argumen bahwa impunitas berperan penting dalam keberlangsungan perusahaan. Walaupun hasilnya justru tak hanya melemahkan keluar, tetapi juga ke dalam perusahaan. Raksasa ini sesungguhnya sangatlah rapuh, tapi ia dilindungi oleh negara.
Kehadiran raksasa ini sebenarnya tidak diperlukan dari awal; berbagai kerusakan yang hadir atasnya tidak perlu terjadi. Bagi Tania dan Pujo, kebutuhan atas kehadirannya didasari pada "puing-puing imperialisme". Argumennya adalah baik pemerintah atau petani kecil sama-sama tidak mampu menciptakan kemakmurannya sendiri, sehingga perusahaan perkebunan lah yang dianggap mampu melakukan "pembangunan" tersebut. Padahal, dilihat dari kemampuan dan efisiensinya, perkebunan kecil yang dikelola secara subsisten oleh para petani kecil justru tetap dapat hidup, bahkan hidup dengan lebih baik. Kini, kehadiran raksasa justru melenyapkan kesempatan para petani untuk hidup sesuai dengan jalan hidup yang dulu sempat jadi pilihan--sebelum raksasa itu menggerogoti semuanya.
Buku ini membuatku semakin percaya pada kekuatan etnografi. Bahwa ia dapat menilik erat dan longgarnya simpul-simpul kehidupan manusia, untuk menemukan serta menjawab mengapa simpul tersebut hadir. Tarikan garis selanjutnya untuk melihat gambaran yang lebih besar adalah perkara ketajaman analisis dan refleksi--yang mana keduanya sedang kupelajari pelan-pelan.
Oh no I just realised that I never logged this book when I finished it but anyways I LOVED IT. I mean it does hark back to a lot of what we already know: plantations are terrible for the people haunted by it on an everyday basis, but it is interesting to see how people deal with it and in some instances grow to appreciate it. Probably the strongest part of the book is the last bit where it analyses the limitations of existing solutions that have been proposed, puts forth new ones, and also does a bit of a cross-comparison with other industries like rubber and mining. Really appreciate the authors for their long-term commitment, all the students who helped, and for not being "just another researcher/journalist who pops by for a few days and then leaves".
I just read the Indonesian translation, and I could give this book 5 stars because of the research and comprehensive look at the marginalized citizens near the palm plantation of 2 big companies in Kalimantan.
Melalui buku ini semakin sadar kalau hubungan negara-perusahaan-warga juga tidak sehat. Mengizinkan perusahaan membangun perkebunan demi "sebesar-besarnya kemakmuran rakyat" juga tidak sesuai dengan faktanya.
Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana: Kehidupan macam apa yang terbentuk di wilayah perusahaan sawit raksasa beroperasi? Namun, jawaban atas pertanyaan ini sama sekali tidak sederhana. Dengan menggunakan studi kasus dua perkebunan sawit di Kalimantan Barat, satu milik negara dan satu milik swasta, Tania Li dan Pujo Semedi menemukan sebuah bentuk kehidupan kompleks yang serba kontradiktif.
Perusahaan sawit datang dengan narasi "puing-puing imperialisme" yang memandang rendah penduduk desa dan masyarakat adat Kalimantan sebagai orang terbelakang dan perlu "dimodernisasi" hidupnya. Namun, janji-janji modernisasi itu tak kunjung terwujud tatkala perusahaan mencengkram tanah-tanah Kalimantan. Hal yang terwujud justru sebaliknya, yaitu berbagai ketidakefisienan yang terus dipertahankan karena segelintir orang mendapat keuntungan besar darinya. Ketidakefisienan itu tentu memakan korban, yakni tidak lain adalah penduduk desa dan masyarakat adat yang dirampas tanahnya dan hanya diberi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan subsisten.
Dengan menggabungkan pendekatan ekonomi politik dan teknologi politik, Li dan Semedi menemukan relasi yang dialektis antara subjek dan struktur yang bernaung di bawah perkebunan. Subjek penguasa yang meraup untuk dari perkebunan terus-menerus membangun jejaring kolutif antara pejabat-pengusaha-politisi dan menciptakan suatu rezim impunitas yang memelihara keberlangsungan perkebunan dengan segala ketidakefisienannya. Sementara itu, subjek yang dirugikan dari adanya perkebunan melakukan suatu bentuk perlawanan spesifik yang disebut oleh James Scott sebagai "perlawanan orang-orang kalah". Bentuk perlawanan ini adalah perlawanan-perlawanan individual-sporadis yang bertujuan untuk mengeruk untung dari sistem yang menguasai suatu subjek. Bentuk spesifik perlawanan tersebut, dalam buku ini, adalah tindakan pencurian, pemerasan, pemalakan, dan tindakan-tindakan lain yang berpotensi merugikan perusahaan. Dengan demikian, perusahaan menciptakan suatu kehidupan yang memaksa orang-orang di dalamnya untuk menjadi predator, saling memangsa satu sama lain.
Karena rezim impunitas yang terbentuk oleh kolusi pejabat-pengusaha-politisi, ketidakefisienan dan kehidupan predatoris yang terbentuk dalam perusahaan dapat diabaikan. Berbagai fakta telah menunjukkan bahwa perkebunan merusak keanekaragaman hayati, mengabaikan hak warga negara, dan membuat rakyat kehilangan banyak tanah. Namun, rezim impunitas yang terbentuk lagi-lagi melindungi perusahaan. Harga minyak sawit juga kerap membuat perusahaan hampir lumpuh. Namun, negara dengan sigap menyuntikkan dana investasi untuk menyelamatkannya. Dalam bahasa Li dan Semedi, perusahaan bagaikan angsa emas. Ia harus terus-menerus dibuat hidup karena ada segelintir orang yang mendapat untung darinya.
Buku ini mampu menyajikan pola kehidupan kompleks, penuh kontradiksi, dan penuh bahaya di bawah pendudukan perkebunan sawit. Analisis ekonomi politik dan teknologi politik yang dikombinasikan dengan etnografi yang serius membuat buku ini tidak hanya menyajikan deskripsi, tetapi juga terus bertanya mengenai asal-usul dan struktur penopang suatu bentuk kehidupan tertentu. Hal ini tentu menjadi catatan penting bagi peneliti etnografi pada masa mendatang, yang perlu secara tegas menentukan kacamata dan keberpihakan spesifik dalam melakukan penelitiannya.
Kekurangan buku ini adalah kurang mendalamnya analisis ekonomi politik dalam menjelaskan kehidupan di bawah pendudukan perkebunan sawit. Li dan Semedi mungkin dapat menjelaskan secara spesifik kekuatan kolutif gabungan antara unsur ekonomi dan politik yang dimiliki perusahaan untuk membentuk rezim impunitasnya. Namun, dalam memandang dan menganalisis masyarakat subjek pendudukan perkebunan, Li dan Semedi gagal menjelaskan diferensiasi kelas antara satu individu/kelompok masyarakat dengan individu/kelompok masyarakat lainnya. Diferensiasi kelas ini penting karena relasi ekonomi politik dalam rezim kapitalis yang eksploitatif tidak sesederhana oposisi biner antara perusahaan dan proletar. Sebuah analisis kelas spesifik diperlukan untuk membaca rantai produksi macam apa yang membentuk rezim kapitalis di suatu konteks spesifik, baik secara spasial maupun historis.
Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata sawit?
Tanah? Kebun? Lahan? Komoditas? Hukum adat?
Perkebunan sawit yang tergambarkan di sini bukan semata-mata itu saja. Buku ini ditulis oleh dua orang antropolog yang menjadikannya kaya akan kajian etnografis. Bagaimana pengaturan spasial dan politik perkebunan sawit? Bagaimana sejarah pemerintah kolonial mulai memberikan konsesi perkebunan kepada pemilik modal asing? Bagaimana komoditas dibentuk oleh dinamika politik dan ekologinya? Bagaimana potret para petani di Sumatra dan Kalimantan yang bersemangat mengadopsi budidaya karet? Semuanya dikupas tuntas.
Buku ini berlandaskan dua pendekatan, ekonomi politik dan teknologi politik. Ekonomi politik memaparkan bagaimana tanah, modal, dan sumber daya manusia diolah menjadi keuntungan perusahaan. Teknologi politik menjelaskan bagaimana wacana maupun praktik membentuk subjek dan kondisi kedua perusahaan tersebut.
Penulis juga secara terbuka menyampaikan keterbatasan kajiannya yang hanya meliputi perusahaan Priva dan Natco. Kendati demikian, saya menyukai bagaimana Tania dan Pujo terus membuka jalan, mempertanyakan, dan membedah studi kritis lainnya. Membuat saya sebagai pembaca mengulik lebih dalam tentang berbagai informasi yang relevan, contohnya data perkebunan sawit tahun 2020-2022 di BPS. Gaya penceritaannya pun mengalir begitu saja, padahal ini hasil temuan riset. Tak terasa, tahu-tahu sudah selesai dibaca.
Muak. Itu yang saya rasakan terhadap negara ini dalam memperlakukan rakyatnya, khususnya kelompok marjinal.
Sulit dipahami kebijakan yang diambil oleh negara ini seringkali dilakukan sepihak, tanpa melakukan riset dan melibatkan masukan dari masyarakat yang terdampak. Sembarangan saja memberikan tanah masyarakat kepada pendatang.
Buku ini membuka pandangan saya bahwa program transmigrasi, yang dimaksudkan untuk pemerataan, justru berpotensi memicu konflik horizontal. Bukannya menjadi pengayom dan penjaga keharmonisan, negara malah menciptakan peluang bagi pertikaian.
Ternyata, negara ini tidak hanya berbisnis dengan rakyatnya tetapi juga, secara tidak langsung, menjajah warganya sendiri. Penguasa tampaknya enggan menuntut pengusaha untuk berkontribusi bagi masyarakat lokal di sekitar lahan perkebunan yang dikelola. Ketika tanah masyarakat habis, tetap saja izin konsesi lahan sawit tidak dibatasi. Perubahan hutan menjadi perkebunan sawit pun seolah dilakukan tanpa batas.
Pertanyaan besar masih membayangi, setelah berpuluh tahun warga sekitar perkebunan sawit mengalami kesulitan, mengapa tidak ada pejabat yang mengambil tindakan? Entah sampai kapan negara ini dikelola oleh orang-orang sialan.
Jika membela Palestina dari penjajahan Israel bisa dilakukan dengan cara boikot, apa yang bisa kita lakukan untuk membela rakyat Indonesia dari penjajah yang berasal dari negeri sendiri?
Studi etnografi yang sangat bermakna, menunjukkan ketimpangan, ketidakadilan, korupsi, dan kesewenang-wenangan yang begitu nyata di wilayah perkebunan kelapa sawit. Hasil riset yang konprehensif ini mesti dibaca oleh para pemangku kepentingan jika mereka masih punya hati, perasaan, dan wawasan ke depan untuk Indonesia yang lebih baik.
Menceritakan tentang kehidupan di sekitar perkebunan yang bukan hanya peluang, tapi hidup bersama raksasa- berada dalam sistem yang dikendalikan oleh perusahaan yang memengaruhi tanah, pekerjaan, identitas, pilihan hidup. Apakah perkebunan benar benar membawa kemajuan atau membuat masyarakat semakin kehilangan kendali atas tanah dan masa depan mereka.
Excellent research on palm oil plantations with well-written, coherent, and easy-to-digest arguments. I loved how they divided each chapter with simple a question as the introduction, as the question made you focus on what they were trying to explain and dissect further. 10/10.
A comprehensive study that close to home. As a land-owner granddaughter from Dayaknese family, I’m glad I came across this book and spent time to read it
if you have interest in public policy, anthropology, agrarian specifically palm oil, this is a great reference for you. Bagaimana negara dengan undang-undangnya dijadikan legitimasi oleh perusahaan sawit untuk mengelola lahan dan "memaksa" masyarakat di sekitar perkebunan untuk hidup bersama "raksasa". Kekerasan struktural yang dilakukan negara melalui UU Penanaman Modal dan Perkebunan, undang-undang mendukung perusahaan dengan memberi akses untuk mendapat lahan dengan subsidi kredit, dana talangan, dan berbagai bentuk perlindungan kesejahteraan perusahaan (mandat perusahaan). How structural violance work in oil palm plantations.