Empat puluh tahun sejak Sukarno meninggal, nama serta wajahnya tidak pernah benar-benar lumat terkubur. Kampanye puluhan tahun Orde Baru untuk membenamkannya justru hanya memperkuat kenangan orang akan kebesarannya.
Sukarno tak pernah berhenti menjadi ikon revolusi nasional Indonesia yang paling menonjol—mungkin seperti Che Guevara bagi Kuba. Di banyak rumah, foto-fotonya, kendati dalam kertas yang sudah menguning di balik kaca pigura yang buram, tidak pernah diturunkan dari dinding meski pemerintahan berganti-ganti.
Ia dicinta sekaligus dicaci. Tidak seorang pun dalam peradaban modern ini yang menimbulkan demikian banyak perasaan pro-kontra seperti Sukarno. “Aku dikutuk seperti bandit dan dipuja bagai dewa,” demikian Si Bung dalam Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Kisah Sukarno adalah satu dari empat cerita tentang pendiri republik: Sukarno, Hatta, Tan Malaka, dan Sutan Sjahrir. Diangkat dari edisi khusus Majalah Berita Mingguan Tempo sepanjang 2001–2009, serial buku ini mereportase ulang kehidupan keempatnya, mulai dari pergolakan pemikiran, petualangan, ketakutan, hingga kisah cinta dan cerita kamar tidur mereka
Tidak banyak yang diceritakan di sini. wajar saja, toh sudah banyak buku tentang Soekarno dengan isi yang lebih lengkap atau bahkan sangat lengkap. Konten buku ini justru lebih sederhana dibandingkan dengan seri lain yang sudah saya baca. Diantara isinya banyak menceritakan hal-hal kecil pribadi dibandingkan dengan pergerakan politik dan perjuangannya. Namun, beruntung juga. Karena ada lembar-lembar khusus yang menyajikan beberapa referensi lain. Baik buku-buku tentang Soekarno, ataupun buku-buku yang ditulis oleh Soekarno. Jadi, bagi yang tertarik untuk mempelajari sosoknya lebih lanjut, hal ini pasti akan sangat membantu.
I read this book on August 17th; how apt as it's also Indonesia's independence day!
I enjoyed it, but I didn't feel like I learned much. Perhaps it's just because Sukarno is such an important figure in Indonesian history, so I already knew a lot. But perhaps this book is just lacking 🤷♀️
Isi buku ini tidak sedetail Seri Tan Malaka. Lebih kepada hubungan Bung Karno dengan para istri, anak, dan dengan orang-orang selama ia menjabat presiden. Pemikiran-pemikirannya hanya diceritakan secara singkat. Ada beberapa kejadian konyol yang menggelitik dicantumkan dalam buku ini. Seperti ketika Bung karno beserta Bung Hatta sedang naik pesawat pengebom dari Jepang ke Jakarta yang tanpa kursi dan toilet. Kemudian Menteri Keungan yang memakai sapu tangan palsu, yaitu celana dalam untuk boneka.
Minat dan bakat anak-anak Bung Karno dari Fatmawati juga dijabarkan singkat di buku ini. Saya jadi tahu bahwa Bung Karno menanamkan pendidikan politik sejak dini. Bung Karno juga pembaca yang ulung. Sampai-sampai di toilet dipasang rak khusus buku. Megawati pun pernah kena strap gara-gara ia mengambil buku yang sedang dibaca sang Ayah dan lupa mengembalikan serta lupa pada halaman berapa buku tersebut terbuka.
Bung Karno juga penikmat seni yang konsisten. Ia suka seni lukis realis. Ketika dalam masa pembuangan, ia juga membuat naskah teater.
Buku Nonfiksi yang renyah dan tidak bikin pusing untuk dibaca.
Buku kecil ini semakin meyakinkan saya pada kekurangan terbesar Bung Karno: megalomania.
Andai Bung tak melihat dirinya sebagai pemimpin tertakdirkan juga Ratu Adil, niscaya ia akan punya kbh sedikit musuh.
Kesalahan terbesar Bung adalah membubarkan Konstituante. Hanya karena tak sabar melihat gaduhnya suasana politik multipartai. Padahal itu keniscayaan dalam proses demokrasi. Persis seperti yg dialami Indonesia pasca 1998.
Saya membayangkan jika Konstituante dibiarkan bekerja, akan terciptalah konstitusi apik yg mengatur pembagian kekuasaan, mekanisme saling kontrol, pembatasan kuasa elit pejabat, juga aturan suksesi yg paling adil dan sesuai kehendak rakyat.
Andai Konstituante tidak dibubarkan, kita akan sudah belajar berdemokrasi sejak 1959, bukannya 1998. Freeport tak perlu mengeruk Papua, negara tak butuh terlalu menyusu barat, dan yg terpenting: Soeharto tidak pernah berkuasa.
Sukarno adalah paradoks. Disatu sisi ia meneriakkan kemerdekaan bangsanya, sementara disatu sisi ia justru sempat terjerumus membelenggu kemerdekaan bangsanya sendiri.
Sukarno adalah paradoks. Ia merumuskan Pancasila, sementara ia pun sempat menggoyahkan salah satu sila didalam Pancasila yang ia rumuskan sendiri.
Sukarno adalah Sukarno. Besarlah jasanya, besarlah perannya, sementara kita terus berdoa, besarlah bangsanya.
Sukarno adalah Sukarno. Ia manusia besar, dengan berbagai sisi manusiawinya. Dan ya. Ia adalah paradoks. Tapi begitu pula kita. Sebagaimana seluruh manusia pun yang tak pernah luput dari kesalahan. Begitu pula Sukarno.
Sukarno adalah paradoks. Ia dikutuk seperti bandit, dipuja bagai dewa.
Memang benar seperti yang dijelaskan di kata pengantar, masih terasa glorifikasinya. Nyaris setengah tentang Megawati juga, dan tentang Bung Karno jadi cuma setengah sisanya.
Baca ini di ipusnas karena rekomendasi akun twitter wrongindogov. Sebetulnya saya udah punya seri yg Muh. Hatta tapi belum pernah dibaca heheee.
Sebagai yang ngakunya suka sekali pelajaran sejarah dan ingin mempelajari sejarah secara lebih mendalam, saya sebetulnya belum banyak membaca. Bacaan tentang sejarah Indonesia hanya sekali-sekali saya baca melalui artikel kalau sedang mood saja. Selain dari itu, pengetahuan saya tentang sejarah Indonesia hanya saya dapat dari buku pelajaran sekolah. Dan itu membuat saya menyadari bahwa pelajaran sejarah di sekolah negeri betul-betul sudah dipoles sedemikian rupa agar "edible" bagi anak sekolahan, yang nasionalismenya masih harus dipupuk dan yang perlu dilindungi dari cerita-cerita triggerring seperti kekerasan yg eksplisit dan pengkhianatan yang sadis (? apa deh nop). Karena dari buku ini saja sangat banyak hal yg bikin saya membatin "Lho ini dulu ga pernah diceritain di pelajaran sejarah". Selain itu, pelajaran sejarah yang saya dulu terima juga sebatas hanya mempelajari fakta-fakta yang ada saja, seperti siapa pemimpin gerakan ini, kapan tanggal peristiwa anu, dll. Jarang sekali bahkan tidak pernah murid diajak mengemukakan pendapatnya soal suatu peristiwa atau soal keputusan yang diambil oleh suatu tokoh. Tools nya sudah ada, di buku pelajarannya sih selalu ada soal-soal yang menuntut jawaban esai tentang opini murid. Tapi mungkin gurunya kurang di-encourage untuk mengimplementasikan itu, sehingga pelajaran sejarah di sekolah jadinya hitam putih melulu, melulu mengenai kamu tau gak siapa yang jahat siapa yang baik dan mereka berantemnya tanggal berapa? Itu pengalaman saya ya. Kalau kamu mengalami pelajaran sejarah yang lebih baik dari itu, kamu beruntung.
Di kata pengantar bisa ditangkap bahwa ini bukan murni biografi, soalnya sudah banyak yang bikin. Dan kalau mau baca biografi-biografi itu, di buku ini banyak disebutkan referensinya. Hal-hal yang saya baru ketahui mengenai Sukarno dari buku ini di antaranya: 1. With all due respect, he's a fuckboy. We all know about him being a Casanova or whatever but the details about the wives and mistresses are worse than what's known publicly. Izin nikah lagi saat istrinya baru 2 hari melahirkan? There's a mistress that died of suicide? It doesn't negate what he's done for this country, but I still think we have to acknowledge this part of him.
2. Beliau dan Bung Hatta in someway turut bertanggung jawab atas tragedi romusha. Ini seingatku ga ada di buku pelajaran.
3. Betapa tidak demokratisnya beliau di masa-masa akhir pemerintahannya. We got the gist of it sih, melalui "Soekarno presiden seumur hidup".
4. Beliau sepenuhnya memahami bahwa nasakom yang selalu digaungkannya sebenarnya saling bertentangan namun memang salah satu ciri khas beliau adalah istilahnya ngambil yang bagus-bagus aja dari ideologi-ideologi dari berbagai sumber dan bikin ciptaan punya beliau sendiri. Kalau di buku ini (agau di kolom yang ditampilkan di buku ini), ideologi-ideologi itu beliau ambil sebagai tujuan perantara saja.
5. He's a narcissistic, he's a gemini, he was born on the same year as Edward Cullen.
Okay bye I'm off reading the next book in the series..
Not as good as what I expected, but this book is good as the first door step to get knowing about Bapak Proklamasi dan Penyambung Lidah Rakyat.
Berawal dari saya membaca sejarah G 30 September 1965 dan peristiwa itu menjadi awal kejatuhan Sukarno, saya jadi penasaran bagaimana cara dia berpikir, yang tentu akhirnya menentukan sejarah yang sudah tertulis. Saya berharap akan menemukan pandangan Sukarno tentang politik negara Indonesia di saat itu, tapi ternyata saya ngga menemukannya di buku ini. Hampir setengah isi dari buku ini malah menceritakan kisah asmaranya dengan istri-istrinya, dan tentang cara Megawati yang merintis karir politiknya.
Tapi saya menemukan fakta baru dari buku ini, yaitu tentang pertanggungjawabannya terhadap romusha. Ini justru yang menarik bagi saya dari buku ini. Saya belum pernah membaca tentang sejarah bagian ini di buku pelajaran sejarah saya dulu ketika sekolah. Dan tentang julukan Sukarno sebagai "man for all season" yang ternyata memiliki banyak makna dibalik sosoknya yang selama ini dikenal tegas dan tangguh.
Saya berkesimpulan, kalau memang ingin melihat bagaimana seorang manusia tidak putih atau hitam, melainkan abu-abu dengan kepekatannya masing-masing, bacalah buku tentang pahlawan nasional.
Pada awalnya tidak terlalu berharap banyak pada buku ini. Karena secara fisik terlihat lebih tipis dibandingkan dgm seri buku tempok bapak bangsa yg lain yg jauh lebih tebal. Saya sesungguhnya berharap membaca kisah hidup bung besar yang jauh lebih tebal dan kompleks itu. Ketika akhirnya mulai membacanya benar saja, yg ada hanyalah sekelumit kisah hidup yang serasa di-fast forward dari awal. Berbeda sekali dgn kisah Tan Malaka misalnya. Diramu dengan begitu bnyk kisah betapa Bapak Proklamator ini tidak konsisten dlm hidupnya, kesalahan-kesalahan yg pernah beliau lakukan dan fatal akibatnya. Ada satu bab yg menceritakan sedikit anekdot bung Karno yg rasanya jg sdh ckp bnyk ditemukan di artikel lain. ditambah kumpulan buku yg beliau tulis semasa hidup dan buku2 tentang dirinya yg ditulis org lain. Ekspektasi tinggi saya utk mendapatkan kisah lengkap Bung Besar rasanya berlebihan. Mgkn bs mencari di buku yg lain..
The Myth, The Legend, The Paradox. Itu yang selalu muncul di kepala saya ketika bicara tentang Bung Besar, begitu banyak ahli sejarah menyebutnya.
Dia adalah pemimpin yang dibutuhkan untuk menyatukan Indonesia ketika itu. Seorang orator handal, yang terbaik mungkin yang dimiliki negeri ini. Bukan hanya negarawan, tetapi simbol kemerdekaan. Simbol semangat persatuan. Hingga kini.
Dia juga manusia dengan segala dilemanya. Kecintaannya pada perempuan yang tidak membuat saya setuju. Paradoks nya pada demokrasi, tetapi (memaksa) menjadi presiden seumur hidup. Perjuangannya pada kemerdekaan tapi kerap membungkam media. Kecamannya pada imperialisme Barat tapi perampasan Irian Barat nampak tak sejalan.
Tetap saja, kemerdekaan Indonesia dia perjuangkan. Pancasila dia rumuskan. Dia juga pembaca yang sporadis. Mulai dari ideologi politik, philosophy, revolusi, agama dan spiritual, epos, dan humanisme.
Ada dua hal menarik yang saya dapatkan setelah membaca Sukarno: Paradoks Revolusi Indonesia. Pertama, Sukarno ternyata pernah keder juga sewaktu dipenjara. Dia mengirim surat ke Pemerintah Hindia Belanda meminta maaf dan berjanji tidak akan berpolitik lagi. Kedua, Sukarno pernah menulis drama dan menjadi sutradara drama teater sewaktu dia dalam pengasingan di Ende.
Dan selesai membaca ini semakin menguatkan hipotesis saya bahwa kekuasaan itu melenakan dan bisa mengubah seseorang. Sukarno adalah salah satu contohnya.
saat pembelajaran literasi saya tidak membawa buku dan akhirnya saya memutuskan untuk mencari buku di ruang guru. mata saya langsung tertujuk pada buku ini karena tokoh terkenal di indonesia yang menjadi bapak proklamator serta presiden pertama Indonesia ini menjadi judul dari buku ini. Dari awal saya membaca buku ini, saya langsung mudah memahami silsilah keluarga sukarno dalam 1halaman. Buku ini juga menceritakan fun fact kehidupan sukarno seperti mempunyai banyak istri dan sukarno yang menyukai artis karya seni yang terkenal jaman dulu.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Jadi, aku berharap mendapatkan sejarah lengkap dari buku ini. Sayangnya, entah kenapa sejarah lengkap itu gak ada di sini. Cuma time-line, garis besar, dan mungkin potongan-potongan artikel yang pernah diterbitkan majalah TEMPO.
apakah kalau buku saku memang gak lengkap? Apa kalau beli buku yang besarnya itu lebih detail? I don't know. Mungkin akan kucari tau, kalau nanti udah bisa pergi ke toko buku lagi. Haha.
Sebagai presiden Republik Indonesia yang pertama, beliau patut kita apresiasi akan torehan prestasi yang di ciptakan dalam memerdekakan bangsa ini dari para penjajah bersama para founding fathers lainnya. dan buku ini menyajikan biografi sang bapak revolusi secara baik dan menarik untuk kita baca dengan mudah. naas saja di akhir cerita ketika beliau memimpin republik ini di tutup dengan kudeta pergantian rezim yang membuat posisi karir politiknya remuk redam hingga akhir hayatnya.
This isnt quite a legit bio, seeing that the biography series are more about good or bad publicity to the politicians. Its such a shame seeing what Kompas did to Soekarno compared to Hatta, he was a great leader but kompas put him way too much of a power hunger womaniser leader. This company is def backed up by some opposition politicians party, what a shame
Pembacaan ringan. Bagi saya Sukarno adalah seorang istimewa setingkat dengan Che, Castro dan banyak tokoh2 Non-Alliance dimasa itu. Buku perkenalan ini kurang berhasil memperkenalkan kekomplexitynya.
Dari buku ini saya jadi tau banyak tentang Sukarno. Buku ini mengupas tentang sukarno dari sudut pandang yang berbeda, saya jadi lebih tau tentang bapak proklamator satu ini
Not his die hard fans nor his admirer. I don't believe in zodiac but let me join the trend by writing my thought about this book in a single line: pantesan problematik, ternyata gemini~
Memang tidak menjelaskan secara komprehensif seperti buku soekarno yang lain. Namun dalam buku ini terdapat sisi humanis dan hal lain yang belum terkuak dari bapak proklamator Indonesia tersebut.
"Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia!" Halaman 3
Yahh Soekarno siapa Penduduk Indonesia yang tidak kenal dengan Presiden RI pertama ini. Beliau dilahirkan di Surabaya, 6 Juni 1901 dari pasangan Ida Ayu Nyoman Rai Srimben dan Raden Soekemi.. *seriously, orang2 pahamnya beliau lahir di Blitar karena dimakamnkan di Blitar dan baru tahu juga Ibu beliau dari Bali :O
Banyak sekali yang diceritakan secara singkat dalam buku ini mulai sepak terjang beliau dalam politik, kenegaraan dan bahkan wanita. Baru tahu juga saya kalau Presiden RI pertama kita ini memiliki sembilan istri selama hidupnya. *wahhh Don juan sekali yahh namun sayangnya kebanyakan istrinya tidak bisa memberikan anak kecuali Fatmawati
Akhir nasib hidup beliau cukup tragis dipenjara dan tidak bisa keluar kemana-mana bahkan untuk mengobati penyakitnya pun kesulitan.. Tapi yang saya salutnya saya respect sekali sama beliau ketika beliau menyatakan mundur dari keanggotaan PBB.. Indonesia yang satu2nya berani keluar dari keanggotaan PBB?? dan saya sangat angkat jempol yang pelaksanaan Konferensi Asia Afrika di Bandung, 18-15 April 1955 merupakan pencetus negara-negara Asia-Afrika untuk memerdekakan diri..
Sejujurnya, buku adalah buku yang sangat tipis untuk menceritakan tokoh sebesar dan sekontroversi Bung Karno. Saking tipis, saya melahap buku ini hanya dalam waktu 1 malam. Bagaimana pun buku ini cukup untuk memberikan saya gambar awal terkait tokong Bung Karno. Sesuai prinsip Seri Buku Tempo yg hadir dengan fakta baru, saya benar-benar mendapatkan banyak Fakta baru tentang Pak Sukarno. Mulai dari jumlah istrinya yg sembilan, Ibu Fatmawati yg lahir dri rahim keluarga Muhammadiyah, dan bahkan ulang Bung Karno yg buang kecil di pesat tampa toilet sampai membuat rombongan di dalam pesawat (termasuk Pak Hatta) harus merasakan sensasi di guru air seni Pak Presiden. Dengan segala kontroversi ttg kehidupan Pak Sukarno, saya rasa buku ini cukup objektif dalam menceritakannya. Fakta ttg keterlibatan Pak Sukarno dengan "penyumbangan" nyawa pribumi untuk pekerja Romusha Jepang pun diangkat tampa melupakan jasa beliau sebagai Presiden Pertama Republik Kepulauan ini.
Soekarno/Bung Karno, sesuai dengan judulnya yaitu "Paradoks Revolusi Indonesia" memang dapat kita yakini bahwa memang seperti itulah adanya, seorang bapak bangsa yang memimpin bangsa ini, yang ia sebut sebagai bangsa yang sedang menjalani "revolusi ala Indonesia".
Kehidupannya ialah cermin dari sebuah paradigma, membentur disatu sisi namun menyatu disisi lainnya, itulah yang saya tangkap dan tergambar secara sepintas ketika membaca seri terbitan TEMPO ini, ia adalah satu sumber mata air dari segala macam upaya, ikhtiar, siasat perjuangan bangsa, ia terlahir sebagai penerang bagi rakyatnya, namun berakhir didalam sunyi yang membunuh, dijauhkan oleh rakyat yang ia cintai dan juangi...
Mengutip dua sisi kepribadiannya yang begitu menarik, ia pernah berkata bahwa "Aku dikutuk seperti bandit dan dipuja bagai dewa"
Buku yang aku selesaikan tidak sampai satu hari, tipis sekali. Buku biografi yang menceritakan garis besar, time-line juga dari artikel-artikel yang memang diterbitkan majalah TEMPO. Banyak buku biografi beliau yang lebih lengkap untuk dibaca. Setelah baca ini juga sadar buku ini lebih banyak cerita tentang masalah pribadi beliau dibanding pergerakan politiknya dan ada beberapa bagian yang menceritakan beliau dari sisi ibu Megawati. Buku ini kurang berhasil untuk memperkenalkan beliau sebagai tokoh Indonesia, IMO. Namun, dari buku ini juga kita tahu sisi lain beliau dan lumayan banyak fakta baru yang aku ketahui tentang beliau.
terlalu sedikit. itulah yg saya pikirkan. buku ini membahas detail-detail dari banyak sumber, tentang sukarno yg tak banyak orang tahu.
sayangnya, bagi saya yg terbilang awam sejarah, detail yg menarik itu terasa kurang berkesan karena, menurut saya, hal-hal umum tentang sukarno malah terlewat. terkesan sambil lalu.
mungkin lain kali saya harus mencari referensi yg lain.
tapi secara keseluruhan saya suka buku ini. sisi negatif tak bisa dipisahkan dari sosok pemimpin, sorotan itu sejelas sinar mentari saat fajar. pada putra sang fajar.