“Gua bukan konten lo, Men!” Kalimat itu terucap secara lugas dari mulut Jason Ranti. Dia merasa, banyak wawancara yang dilakukan terhadap dirinya sekadar basa-basi. Jason Ranti lebih menghargai wawancara yang dilakukan dengan hati, dalam rangka membangun komunikasi antarmanusia. Buku ini mengungkap jauh kehidupan Jeje, panggilan akrab Jason Ranti, dari sisi kreativitas hingga spiritualitasnya yang tidak mudah dimengerti. Dia mengakui, lagu-lagunya bukan untuk dipahami, melainkan untuk menyentuh perasaan lewat bunyi. Tersingkap juga gugatannya yang blak-blakan terhadap otoritas negara, agama, dan sejumlah sendi kehidupan yang kedodoran, juga bagaimana dia memandang dosa dan kesucian. Hampir semua karya Jeje di pintu toilet, dapur keluarga, piagam, tanda jasa, kertas, dan kanvas yang lahir di studionya selama masa pandemi disertakan untuk melengkapi. Lewat buku ini, kita diajak bercakap-cakap untuk menggugat, mencari, dan menemukan pegangan hidup yang sungguh-sungguh kita percayai. Kitab Pink Jason Ranti adalah jilid perdana seri “Beginu: Bukan Begini, Bukan Begitu”, yang mengupas mimpi, harapan, dan kecemasan anak manusia dalam zamannya.
Saya setuju dengan Jeje, kita terlalu terbebani dengan pencarian makna hidup. Padahal hidup mah dijalani aja ya, tiap hari terlalu banyak kejadian jika harus dimaknai satu-satu mah. Ya sudah, saya nyerah buat nyari-nyari makna, kalau makna jumlahnya bisa jutaan ya, tiap orang punya makna hidupnya sendiri.
Buku kedua yang aku baca di Januari ini, membahas tentang sisi-sisi yang jarang diketahui oleh publik perihal seniman cum musisi Jason Ranti. Beberapa misalnya adalah perihal bagaimana proses kreatifnya dalam membuat lirik-lirik lagunya sendiri, seperti judul lagu "Nina Bobo", "Jalan Ninja", "Manhattan & Blok M", hingga "421". Lagu yang terakhir ini ia rilis 2 tahun lalu, ketika situasi awal-awal pandemi menghantui.
Hal yang menarik, selain membahas proses kreatif dalam bermusik, dominan dalam buku ini membahas pula proses pengembaraan Jeje (sebutan Jason Ranti) dalam mencari pembermaknaan hidupnya sendiri, tanpa pakem, dan tanpa berpacu pada doktrin manapun. Hidup layaknya Gipsi, yang ia gambarkan sebagai pengembaraan, proses pencarian makna yang benar-benar merdeka.
Aku ingin merdeka Tak ingin diatur Tak mau mengatur Aku harus jujur
(Aku ingin merdeka - dalam album Jalan Ninja, 2022)
Buku ini juga bisa merefleksikan kepada semua pembaca tentang bagaimana hidup selayaknya dihidupi. Mengapa manusia cenderung menghakimi? Hanya sebatas memahami perihal kesucian, tanpa pernah mengernyitkan dahi kita bahwa mengapa kita hanya hidup selayaknya orang suci, hingga hidup hanya sebatas surga-neraka. Bukankah kita berbuat baik tidak lebih atas nama manusia?
Selamat menghidupi hidup kalian dengan bebas! Barokah Alwayss!
"Kayak orang kecenderungannya lebih sering jadi hakim untuk orang lain ketimbang jadi JPU (Jaksa Penuntut Umum) buat diri lo sendiri." (hlm.15) . Bagiku quote di atas bener banget sih. Tanpa disadari, orang lebih gampang men-judge orang lain tanpa terlebih dahulu "menilai" dirinya sendiri. Dan quote itu pun yang membuat aku agak waswas mereview buku ini (toh aku belum pernah membuat satu buku pun. Jadi, apakah aku berhak "menjudge" buku ini bagus atau tidak? 🙈) . Sejak awal aku kepo sih dengan buku ini. Judulnya dan warna covernya itu loh yang "ngepink" banget. Lalu ilustrasi pun yang membuat diriku semakin menerka-nerka siapa sih Jason Ranti ini. . Sejujurnya sebelum membaca buku ini, aku tidak mengenal sosok Jason Ranti (mungkin karna sosoknya bukan dari "dunia" yang aku sukai). Namun setelah itu, aku mulai diajak mengenal siapa itu Jasob Ranti, bahkan mulai memahami seperti apa sosoknya bila dilihat dari pandangan hidupnya, kata-kata yang diucapkannya selama "diwawancara" dan beberapa karya lukisannya yang ada dalam buku ini. . Ah, jangan tanyakan seperti apa "penilaianku" tentang sosok dalam buku ini. Lebih baik kamu mengenalnya sendiri dengan membaca buku ini 😊 . Secara keseluruhan, aku suka sih buku ini. Banyak ilustrasi menarik yang mewarnai "Kitab Pink" ini. Banyak juga pemikiran dari mas Jeje yang bisa kita ambil hikmahnya dan relate dengan kita.
I wasn't expecting to finish this book for less than 2 weeks. My first impression about this book was, “Hold up, Jason Ranti wrote a book? Let's see how wacky his writing is.” I was wrong, the book wasn't written by Jeje himself but Wisnu Nugroho the chief editor of Kompas.
The book was marked as a self-improvement book, but after I skim through the jumbled up words and pictures inside, this book was aptly described as a mini biography.
Contains a brief interview about Jason Ranti’s life during global pandemic, this book is a page turner. Using a simple and relaxed choice of words, the author did a good job describing Jason Ranti’s stories and worries during pandemic.
In a nutshell, Jason was bored and decided to turn his garage into a make-shift studio where he take refuge and birthed countless number of uncomventional artwork. He paints, he strums, anything a Jason Ranti could ever do.
His whimsical outlook on life puts me in awe. One of his perspectives on life that dwells deep in my mind was, “Humans tend to judge others. They are inclined to be the judge of others rather than prosecutor of themselves.”
If you need an easy to read book to get you out of reading slump, this book is recommended to kill time.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Aku adalah orang yang kuper, kudet dan nggak tahu siapa itu Jason Ranti. Mungkin orang ini adalah seorang seniman lukis sekaligus musisi. Namun, cover dan sampel dari buku ini di Gramedia Digital membuatku tertarik untuk membacanya. Tulisan di dalamnya terasa lebih merupakan sebuah monolog yang agak edgy dan tidak terlalu koheren, namun sesungguhnya buku ini adalah hasil sebuah sesi wawancara. Secara keseluruhan, sebagai orang awam aku bisa menikmati buku ini secara universal.
Agak kasihan juga membaca tentang aftermath dia setelah setuju masuk podcast deddy kokbuzet. Ya lagian.
Buku ini tipis, tak sampai seratus halaman tapi isinya tebal. Padat. Obrolan antara Jeje alias jason Ranti dan Beginu alias mas Wisnu Nugroho. Diselingi coretan-coretan Jeje dan beberapa lirik lagunya serta inspirasi saat menulis lagu itu.
Obrolannya ya seputar kenapa Jeje begitu, padaha begini. Lulusan psikologi itu pola pikirnya memang tidak di jalur orang jamak sepertinya.
Sekali waktu dalam sehari habis sih membacanya. Tapi nyatanya sambil bergumam, iya juga ya, Jeje toh hidup dalam dunianya, dan survive. Masa kita tidak?
obrolan ngalor ngidul antara Mas Wisnu sama Jeje, makna dari obrolan mereka apa? cari sendiri lah, orang mereka lagi ngobrol doang bukan ngajarin lu di ruang kelas filsafat.
lukisan-lukisan super abstrak Jeje juga ada dimasukan ke bukunya, Je aduhhh haha serah lo dah. Intinya dibuku ini gua cuman belajar isi sebagian dari pola pikir lo doang, gapapa lah ngeliat sudut pandang orang lain juga kan ilmu