“Meski dari luar aku terlihat sukses, aku masih punya gunung untuk kudaki dan juga lautan untuk kuselami sekuat tenaga.”
Bisnis kue tanpa gluten didirikan Seong-rye melalui pencarian yang membutuhkan waktu. Pernah melewati masa menjadi penyanyi, berjualan barang-barang Korea di Amerika, lalu kuliah bahasa dengan perasaan ‘sepertinya ini bakatku’. Namun, Seong-rye merasa, “Aku punya banyak hal yang kusukai, tapi kenapa tak ada satupun yang bisa kulakukan dengan baik.” Perasaan gelisah dan bingung akan menjadi apa dirinya terus membebani pikirannya bahkan ketika Seong-rye sudah menggeluti dunia bakery. Pertanyaan, “apakah ini jalan yang benar untukku?” masih menggelayuti.
“Aku pernah enggan melakukan apapun karena merasa tidak punya mimpi dan hanya menunggu sambil berharap suatu keajaiban terjadi. Lalu aku tersadar, itu adalah tindakan terbodoh yang kulakukan.” (hal 150)
“Aku sudah jatuh bangun dalam proses mencari sesuatu yang kusukai hingga mampu menekuninya. Semua itu bukan hanya masalah keberuntungan dan bakat luar biasa. Hingga saat ini pun aku masih terus berjuang.” (Hal 32)
Sebenarnya bakery menjadi aktivitas yang Seong-rye sukai sejak kecil tetapi sempat terlupakan seiring banyaknya aktivitas yang ingin dicobanya. Namun, kegemarannya menonton acara baking membekas dalam dirinya. “… aku memang menonton (acara baking) karena ingin makan kue, tapi setelah melihat acaranya, aku jadi lebih suka melihat proses pembuatan kuenya daripada hasil kue yang telah jadi, dan merasa proses pembuatan kue lebih menghibur daripada memakan kue itu sendiri.” (hal 11)
Proses inilah yang akan banyak dibagikan dalam buku ini, bagaimana Seong-rye ‘menikmati’ tangis-tawa menemukan dan menjalani Sunny Bread.
Menjalani bisnis sesuai dengan passion bukan lantas membuat Seong-rye hanya melulu bersenang-senang, masih ada kekhawatiran jika di kemudian hari aktivitas bakery menjadi tidak semenyenangkan sebelumnya karena berbagai tekanan dalam berbisnis. “Pekerjaan yang kita sukai sekalipun tetap memberikan stres dan beban yang sama besarnya. Mungkin melakukannya terasa lebih ringan daripada melakukan pekerjaan yang tidak kita sukai, tapi tidak lantas membuat kita menjadi seperti Superman.” (Hal 99)
Buku ini juga menjadi pengingat untuk orang-orang yang cenderung hanya melihat seseorang ketika kesuksesan sudah melekat. tetapi minus menelusuri perjuangan apa yang telah dilakukan. Di balik kesuksesannya, Seong-rye juga pernah berada di titik terendah, mempertanyakan kemampuannya? Kesanggupannya? Kelelahan fisik dan emosi hingga membuatnya kosong karena saking banyaknya emosi negatif yang menyerbu.
“Katanya seseorang harus merasakan jatuh terlebih dahulu agar terlihat bagaimana sosok aslinya. Saat itu aku benar-benar runtuh. Apa aku bisa menyelesaikan hari ini dengan baik?” (Hal 50)
Momen ini diceritakan ketika Seong-rye hanya menatap kosong rotinya yang gagal, di sisi lain hati ingin berteriak. Dalam kondisi penat Seong-rye harus memaksa tubuh terus bergerak karena tanggung-jawab untuk segera mengirimkan pesanannya.
Namun, perjuangan untuk tetap bertahan menghadapi segala emosi menjadikan Seong-rye semakin mengenali dirinya, memahami situasi dan emosinya, mengetahui kapan berhenti sejenak dan kapan menekan tombol ‘on’. Kuncinya hanya teruslah bertahan dengan apa yang sudah menjadi impian, dirinya yakin bahwa bakery adalah dunianya, “… karena itulah aku selalu merasa berterimakasih pada proses baking yang senantiasa menghiburku.” (Hal 41)
“Aku merasa terlalu dingin dan keras kepada diri sendiri. Sekarang aku memang lebih baik, tapi aku sangat bangga dan berterimakasih kepada diriku di masa lalu yang sangat lugu dan lemah, namun memilih untuk tidak menyerah dan sampai di titik ini.” (hal 52)
Begitu bisnisnya berjalan dan mulai menikmati prosesnya, muncul ujian perasaan bernama iri. Melihat bisnis yang sama menjamur di sekitar, memantau akun toko lain yang selalu tampak lebih bagus dan ramai, membuatnya minder dan tidak bersyukur. “Akupun berpikir bagaimana mungkin usaha orang lain dapat berkembang pesat seperti itu, sedangkan milikku hanya segini saja.” (Hal 83)
Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau, hingga Seong-rye menemukan jawaban di balik kemauannya untuk mematahkan rasa iri dengan menjalin komunikasi dengan pesaingnya.
Ujian Seong-rye tidak sekadar berasal dari dalam dirinya, tetapi berseliwerannya ekspektasi, penilaian, dan pendapat orang di sekitarnya, cukup mengganggu pikirannya. Karakter dirinya yang mudah terpengaruh dengan pendapat orang lain, menjadikannya butuh waktu untuk bisa menghadapi dan menanggapinya dengan masa bodoh. Tidak mudah, tetapi Seong-rye berusaha selalu yakin dengan kemampuan dirinya.
“Aku percaya dengan hidup seperti ini, aku akan menjadi orang yang mampu menjaga diriku pada suhu yang tepat lebih dari siapa pun, tak peduli seberapa banyak gangguan dan perubahan lingkungan yang kudapatkan.” (Hal 93)
Dari buku ini kita bisa belajar bagaimana Seong-rye memilah emosinya, karena tidak semua emosi perlu untuk ditanggapi, begitupun tidak semua pemantik di sekitarnya yang memancing emosinya juga perlu dipikirkan. Tong Sampah Emosi menjadi tips Seong-rye untuk mengatasinya. Kemampuan seperti ini akan terasah seiring dengan kebijakan kita menyikapi apapun yang terjadi dalam diri kita. Kuncinya, jangan menyerah, ketika penat, ambil jeda, istirahatkan pikiran dan hatimu, karena kehidupan adalah tempat untuk belajar semakin mengenal diri.
“Kalau dipikir sekarang, memang waktulah yang akan menyembuhkan perasaan yang khawatir. Lebih baik mengakui kesalahan dan menghibur diri, daripada terus menyalahkan diri sendiri. Pengakuan dan penghiburan semanis kue itulah yang membuatku mampu bermimpi kembali.” (Hal 36)
“Menjalaninya membuatku melihat diriku yang tadinya kukira lemah ternyata mampu berlari dan bertahan tanpa ragu. Aku menemukan diriku yang tak kuketahui sebelumnya, dan melihat sosokku bertumbuh. Aku menjadi orang kuat, yang mampu mencari kebahagiaan di tengah kesulitan yang kualami.”