Jump to ratings and reviews
Rate this book

Rezim Kerja Keras dan Masa Depan Kita

Rate this book
Di abad ke-21 ini, pemerintah Indonesia punya ambisi untuk menjadi “negara berpendapatan tinggi”. Ambisi tersebut selambat-lambatnya hendak dicapai pada 2045, bertepatan dengan 100 tahun proklamasi kemerdekaan kita sebagai bangsa yang berdaulat. Boleh jadi, hal tersebut membanggakan kita semua. Namun, apakah ambisi ekonomi itu sungguh dapat terlaksana dengan mewujudkan kesejahteraan bagi tiap warga negara tak terkecuali? Apa artinya pembangunan itu bagi masa depan orang muda kita?

244 pages, Paperback

13 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (25%)
4 stars
3 (25%)
3 stars
3 (25%)
2 stars
1 (8%)
1 star
2 (16%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Dewi Michellia.
Author 12 books105 followers
August 3, 2022
Secuplik kesan saat membaca buku ini:

Harga properti melangit, harga kebutuhan pokok senantiasa meningkat, dan dengan laju ekonomi yang kian cepatnya, kita sampai kewalahan mengejar. Dengan “kerja, kerja, kerja!”, kita tidak punya waktu untuk keluarga dan teman, apalagi untuk diri sendiri. Boro-boro untuk berserikat. Padahal, kita jelas-jelas tahu bahwa kita tidak sendirian menghadapi pola pembangunan ekonomi yang demikian menghempas kita semua. Sesama perempuan prekariat digital dapat kita temukan dengan sejentikan jari di layar, profesi mereka beragam: dari buruh kreator konten untuk fintech hingga wirausaha yang mengelola laman dagang di marketplace. Jenis-jenis pekerjaan yang sepuluh tahun lalu tidak terpikirkan, kini kian menjadi godaan bagi anak-anak muda hari ini—anak muda yang nongkrong di Discord, nge-stream di Twitch, dan cari cuan dari Roblox.
Kita tahu bahwa kita tidak sendiri, tapi bagaimana kita dapat menyadari bahwa selain “kita tidak sendiri”, “kita dapat bergerak bersama”?

Buku ini menawarkan uraian atas perubahan-perubahan sosial-politik yang terjadi selama 20 tahun terakhir ini. Masa yang penuh dengan hingar-bingar, dan seakan penuh optimisme karena “bonus demografi” Indonesia. “Anak muda sebagai harapan bangsa! Nomor satukan generasi milenial dan Gen Z! Beri panggung pada anak muda!” Tapi, optimisme itu berjalan di seutas tali rafia, seperti kenyataan anak-anak sekolah kita yang mesti bergelantungan melewati jembatan tali, setiap harinya.

Menyadari itu, buku ini juga menawarkan agar kita—generasi yang kepo sejarah kita sendiri sebagai bangsa yang bekerja keras—berani “mengubah dunia”. Optimisme yang berdasarkan pengalaman generasi sebelum kita. Optimisme yang diperoleh dari refleksi pelajaran bangsa lain. Optimisme yang diletakkan sesuai porsinya, dan bukan propaganda resmi pemerintah.
Profile Image for naabilaputri.
26 reviews53 followers
August 30, 2022
[CUAN-CUAN YANG MAKIN NGGAK RELEVAN]

Pernah nggak sih kalian mikir, kerja keras hustle sana sini, dapet duit trus impulsif beli sesuatu atas nama self reward buat apa?

Atau, generasi sandwitch yang kerap kita denger, bahwa anak adalah investasi, semakin membebani kerja sehari-hari?

Giliran mengeluh, kita dianggap lemah, lembek dan berbagai tanggapan dari “ok boomer” lainnya.

Belum lagi momok millenial yang terancam nggak punya rumah. Mau menyerah aja, tapi kita working class, kalo nggak work, nggak akan naik kelas.

Dari buku ini, aku jadi aware kenapa 1 Mei adalah hari yang penting buat para buruh, buruh pabrik, buruh kerah putih bahkan buruh teknologi informasi macem kita.

Melalui bab-babnya, penulis menyinggung sejarah serikat buruh di Indonesia selama dua dasawarsa terakhir.

Mulai dari apa aja yang diperjuangkan sampai tuntutan mereka yg nggak jauh berbeda dengan kondisi serupa di zaman sekarang.

Walau penjelasan perjuangan serikat buruh terasa berlompat-lompat dari satu bab ke bab lainnya, tapi ide penulisan mudah ditangkap dengan kalimat pendek dan nggak bertele-tele.

Hal itu juga yang membuat aku semakin sadar, banyak “oknum” nakal dibalik UU Ciptaker menjadi cukup berbahaya bagi kami para working class, apalagi dengan hadirnya pekerja lepas yang jam kerja bahkan upahnya jauh dari kata layak.

Hmmm, jadi ingin bertanya kembali kepada si pembuat pernyataan kalo semakin kesini generasi kita semakin lemah dan lembek.

Dari semua kondisi inflasi yang terus naik pesat, harga bahan pokok yang ikut memanjat, namun nilai tambah UMK yang kadang ngadat.

Menciptakan lingkaran setan yang terus membuat kita tersesat.

Apakah cuan-cuan yang kami kejar ini, alhasil tak ada lagi artinya?
Profile Image for Ivana.
77 reviews
October 16, 2022
Buku yang memberi cukup banyak wawasan sejarah dan sedikit solusi mengenai permasalahan buruh. Saat membeli buku ini saya berharap untuk memperoleh ulasan dan diskusi tajam mengenai dunia perburuhan, namun sayang buku ini lebih berisi kumpulan artikel yang membahas permasalahan buruh di level dasar sekaligus kurangnya koheren di masing-masing topik.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.