Buku ini adalah kumpulan catatan harian Gernatatiti, salah seorang fasilitator Sanggar Anak Alam (SALAM) jenjang SMA. Ia merekam dengan cukup detail bagaimana para remaja di SMA SALAM berproses menemukan ketertarikan mereka terhadap sesuatu hal dan mempelajarinya dengan proses riset yang mereka rancang sendiri kerangkanya. Semua tidak muncul secara tiba-tiba. Para fasilitator berkewajiban menstimulus dan menemani para siswa memperdalam topik-topik yang mereka minati dan dipelajari, tanpa mereduksi kompleksitas setiap siswa sebagai manusia yang merdeka. Sekolah tanpa jurusan ini memberi ruang seluas-luasnya bagi para remaja yang punya keingintahuan akan sesuatu, untuk mencari, mengkritisi, menyerap, dan mereproduksi pengetahuan-pengetahuan berharga.
Buku ini bercerita tentang proses pendidikan dan pembelajaran anak-anak di sebuah "sekolah" di Kampung Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta, bernama Sanggar Anak Alam (SALAM). "Sekolah" ini dilaksanakan mulai dari jenjang kelompok bermain (KB), SD (dibuka mulai tahun 2008), SMP (mulai tahun ajaran 2013/2014), dan SMA (2017).
Pendidikan di SALAM ini sifatnya eksploratif, memfasilitasi dan membimbing anak-anak sesuai keingintahuan dan minat mereka masing-masing. Buku ini lebih merupakan catatan-catatan penulis, yang juga merupakan seorang fasilitator di sana, terkait semua hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran di sana, mulai dari persiapan, ketika pembelajaran berlangsung, hingga proses evaluasinya.
Saya tertarik untuk membaca buku ini lebih lanjut setelah membaca esai pengantar yang ditulis oleh Pak Roem Topatimasang yang berargumen kalau catatan-catatan seperti ini umumnya dapat dikategorikan sebagai buku 'etnografi pendidikan', sebuah istilah yang dipopulerkan oleh seorang arkeolog dan antropolog asal Britania Raya bernama Sara Delamont. Pak Roem juga membandingkan keberhargaan catatan-catatan seperti ini dengan catatan-catatan lapangan Alfred Russell Wallace dan Charles Robert Darwin di bidang biologi dan catatan pelayaran dari seorang tetua Bugis bernama Ammana Gapapa, yang bersama dengan 'asas laut bebas'nya Hugo Grotius, menjadi salah satu landasan penyusunan hukum laut internasional 'UNCLOS 1982'.
Namun, selama membaca buku ini dari awal hingga selesai, ada satu pertanyaan saya yang belum terjawab dalam pembahasan buku ini, yaitu terkait "latar sosial masyarakat di Kampung Nitiprayan seperti apa yang membuat proses pendidikan SALAM di sana bisa diterima dan berkembang". Saya yang sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang Kampung Nitiprayan, tentu penasaran. Satu bab terpisah di bagian awal akan sangat membantu sebelum masuk ke dalam pembahasan-pembahasan pendidikan di sana.
Apa apa buku tentang pendidikan anak anak pasti akan menarik minat saya. Membeli buku ini ketika trip hari lahir di Yogyakarta. Tajuk buku ini juga menarik minat saya untuk membacanya. We all know sekolah atau universiti pasti ada jurusan, aturan serta silibusnya. Jadi, bagaimana sekolah tanpa jurusan?
Buku ini mengandungi catatan seorang 'cikgu' yang digelar fasilitator di SMA Sanggar Anak Alam (SALAM) di Yogyakarta. Konsep sekolah ini adalah tanpa silibus dan tidak mengikuti pendidikan arus perdana.
Anak anak muridnya diberikan pilihan untuk memilih satu topik atau subjek yang mereka suka dan subjek tersebut akan dikerjakan sehingga semester akhir. Contoh subjek yang dipilih seperti cara bermain drum, cara memasak kue dan sebagainya. Makanya, murid murid perlu melengkapkan research berkenaan subjek yang dipilih sepanjang persekolahan.
Saya paling tertarik dengan konsep cara kesemua fasilitator dan murid mengerjakan research mereka di dalam kelas. Banyak diskusi dan wawancara bersama fasilitator dan juga orang luar. Tujuan utamanya adalah untuk mengasah soft skills murid murid.
Di sela sela masa juga mereka ada aktiviti tambahan like, living in session yang kesemua murid dan fasilitator diambil handphone dan hidup selama berhari hari without it. Ada juga aktiviti masak bersama dengan menggunakan apa sahaja bahan yang ada.
Antara yang dapat dipelajari adalah, ibubapa dilarang sama sekali untuk memilih topik atau subjek untuk murid kerana ada murid yang tidak sepenuh hati mengerjakan subjek yang tidak diminati.
Antara persoalan yang saya terfikir adalah, bagaimana mereka menyiapkan murid murid ini selepas persekolahan. The soft skills are intact, but how about in the future they want to venture new things? And when i think back, they can use the same method they used at this school la kan? Like, no matter where life brings you to, you definitely can survive.
Dan sekolah ini juga tidak memilih murid, ada juga murid yang autistic dan down syndrome (he picked to play drum, and berjaya!). So salute to the facilitator!
Teringin juga melawat sekolah ini dan melihat sendiri how the fasilitator conduct their classes.
Sekolah Tanpa Jurusan berisi kumpulan catatan harian Gernatatiti seorang fasilitator sekolah Sanggar Anak Alam (SALAM) untuk jenjang setara SMA. Catatan ini berisi tentang pengalaman dan proses belajar di SMA SALAM, yang tidak memiliki jurusan atau mata pelajaran tetap, melainkan mengikuti minat dan ketertarikan masing-masing siswa. Buku ini bercerita tentang bagaimana para siswa di SMA SALAM melakukan riset sendiri, berdiskusi, berkolaborasi, dan bereksplorasi dalam berbagai bidang ilmu dan kegiatan. Buku ini juga menggugat sistem pendidikan formal yang seringkali mengabaikan potensi dan keunikan setiap anak.
Ada kata pengantar oleh Roem Topatimasang (seorang akademisi dan aktivis pendidikan) yang sangat menggugah buat para pendidik dan fasilitator. Sindiran terkait kurikulum merdeka sangat-sangat menohok, yang mungkin juga dirasakan oleh guru-guru sekolah. Jadi penasaran baca karya beliau 👀
Aku suka gaya penulis yang jujur, lugas, dan inspiratif. Dan tentunya Sekolah Tanpa Jurusan juga memberikan wawasan dan alternatif tentang pendidikan yang lebih demokratis, kreatif, dan humanis yang sayangnya sekolah semacam ini tidak banyak hadir di kota-kota di Indonesia.
Kalo kamu seorang orang tua yang butuh insight terkait pendidikan alternatif, buku ini bisa jadi salah satu rujukan atau kamu seorang guru?, mungkin kamu bisa mencontoh cara penulis memperlakukan para anak didik.
"Peraturan bisa jadi diselenggarakan untuk melanggengkan kemapanan." –Gernatatiti.
Pusat pembahasan buku ini adalah sistem pendidikan di Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta, yang dihimpun dari jurnal harian salah satu fasiliatornya sekaligus penulis buku. Awalnya, aku tertarik dengan buku ini karena membaca review dari Roem Topatimasang di sampul belakang buku yang udah cukup sering menyuarakan opini satire tentang sistem pendidikan. Dan ternyata isinya bener-bener semenarik reviewnya!
Tulisan-tulisan di dalam buku ini mau nggak mau menyulut pembacanya untuk bikin komparasi antara makna "merdeka" di sekolah SALAM dengan "merdeka" pada kurikulum baru yang sedang gencar diimplementasikan. Rasanya kurang bijaksana meneriakkan kata merdeka jika dalam kenyataannya kurikulum itu sudah dipetakan dan disiapkan oleh tim khusus –para pakar, bukan oleh pelaku praktik pembelajarannya sendiri, yang bahkan sudah cukup sering bergonta-ganti. Akibatnya, sekolah yang sesungguhnya merupakan sebuah proses dialogis justru berganti kesan menjadi penjejalan satu arah.
Membaca kegiatan anak-anak di sekolah SALAM rasanya bikin iri, gimana anak-anak usia belasan tahun udah bisa merancang kurikulum sendiri dengan metode pembelajaran berbasis riset yang akan mereka laksanakan selama proses belajar dalam satu semester. Kurikulum yang melekat pada masing-masing pembelajar itu sendiri, yang dapat melahirkan pengetahuan dari rasa keingintahuan.
Buku ini bisa jadi salah satu referensi untuk guru untuk membuat desain pembelajaran yang (nggak cuma) asyik, (tapi) juga bermakna buat peserta didik. Bahkan bagi orang tua yang berencana bikin desain program homeschooling di rumah buat pendidikan anak-anaknya, bisa juga ngintip catatan-catatan penulis di buku ini. Selain rinci, detil, dikemas dengan tuturan bercerita yang mengalir.
buku dokumenter yg bagus bgt utk para guru dan orang tua. bagaimana memberikan pendidikan kpd anak dari sisi yg berbeda dari sekolah formal pd umumnya.
Sebuah kumpulan catatan harian dari fasilitator di Sanggar Anak Alam (SALAM), Yogyakarta, yang menyingkap sebuah praktik pendidikan nonkonvensional—dimana siswa didorong menjalankan riset mandiri berdasarkan ketertarikan mereka. Buku ini tidak hanya menawarkan refleksi mendalam tentang proses belajar, tapi juga membangunkan modalku untuk menulis catatan harian sendiri—bahkan tentang hal kecil sekalipun.
Buku Nonfiksi pertama yang gue baca sekali duduk. Ini cerita tentang sekolah alam di Jogja. Murid-muridnya ga belajar kayak di sekolah umum, mereka nentuin sendiri apa yang mau mereka pelajari tergantung dengan minat dan passion masing-masing.