lumbung/lum·bung/ n: tempat menyimpan hasil pertanian (umumnya padi), berbentuk rumah panggung dan berdinding anyaman bambu; rangkiang;
-- desa tempat menyimpan berbagai hasil usaha desa;
-- pangan tempat atau bangunan untuk menyimpan padi atau bahan makanan lain untuk menghadapi masa paceklik
Lumbung, dalam buku ini, merupakan perlambang gotong-royong dan kebersamaan (duh sangat PPKn sekali). Cerita-cerita Lumbung memuat cerita-cerita pendek dan esai dari 7 penulis dari negara berbeda dengan cerita khas mereka sendiri tentang 'lumbung': bertema gotong-royong dan kebersamaan yang bisa dibilang sudah terlupakan bahkan mungkin punah (dalam tulisan Yasnaya Elena Aguilar Gil, konsep lumbung atau tequio dalam bahasa Meksiko baru bisa berjalan lagi setelah terjadi bencana iklim yang memusnahkan sebagian besar umat manusia).
Pada masa Operasi Militer Aceh, seorang dukun sekaligus pawang harimau bernama Leman diburu oleh Kopassus karena sederhana saja, ia kerap membagikan salep buatannya yang manjur mengobati luka tembak dan nyeri kepada para gerilyawan pemberontak. Kesulitan menangkap Leman, Kopassus menyandera seekor harimau betina, Baiduri, yang dicurigai peliharaan sang pawang. Mereka juga menangkap sekelompok penggergaji kayu untuk memastikan apakah benar Baiduri adalah harimau milik Leman. Satu per satu, para penggergaji ini dilempar ke kandang Baiduri untuk melihat apakah sang harimau mengenali mereka. Namun mereka semua berakhir di perut sang harimau betina hingga dari kelompok penggergaji kayu itu tinggal tersisa Syahdi.
Kehidupan Syahdi yang tinggal bersama kelompok penggergaji Abu Neh menyiratkan kisah lain: eksploitasi Hutan Maja oleh pemerintah Indonesia (dan raksasa kapitalis di belakangnya?). Suatu hari tiba-tiba saja di tengah hutan dibangun stasiun radio dan panglong, kilang pengolahan kayu, besar, gelondongan kayu yang tak habis-habis dihanyutkan di sungai, dan aktivitas Abu Neh dan rekan-rekannya sesama penggergaji kayu menjadi ilegal.
Namun tak semua kisah dalam buku ini sekelam kisah Syahdi dan Baiduri sang harimau betina. Rerumputan Kering dan Hijau karya Nesrine Khoury, penulis dari Suriah, bercerita tentang panen zaitun di kebun kakeknya. Panen ini lebih merupakan perayaan dan pesta syukuran karena melibatkan hampir semua penduduk desa, dan semuanya akan mendapatkan hasil panen yang sesuai dengan kerja keras mereka. Cerita lain yang juga memikat datang dari Meksiko, karya Yesnaya Elena Aguilar Gil, tentang seorang ilmuwan riset yang mendapat penemuan tentang masyarakat Igra Utara, kelompok masyarakat yang mempertahankan konsep hidup timbal-balik (tequio) di tengah-tengah kapitalisme yang mendorong umat manusia menuju jurang kehancuran mereka.
Dari cerita-cerita ini aku mendapatkan gambaran unik tentang kelangkaan konsep lumbung dan merajalelanya kapitalisme dalam kehidupan bermasyarakat saat ini. Kumpulan karya berharga yang sangat menggugah.