Maka kau adalah samar, ya, Semar. Janganlah kau samar terhadap kegelapan, jangan pula kau samar terhadap terang. Hanya dengan hatimu yang samar, kau dapat melihat terang dalam kegelapan, kebaikan dalam kejahatan. Hanya dengan hatimu yang samar pula, kau dapat melihat kegelapan dan terang, kejahatan dalam kebaikan. *** Anak-anak Semar karya Sindhunata berkisah tentang Semar sebagai pembawa harapan dan pengingat akan nilai-nilai serta akar budaya di tengah zaman yang bergerak begitu cepat. Dalam buku dengan ilustrasi lukisan karya Nasirun ini, wajah Semar kerap berubah-ubah. Kadang ia disebut Sang Pamomong, sosok yang selalu melindungi rakyat kecil dan tertindas. Lain waktu, ia juga seperti pohon rindang yang dengan samar bayangannya bisa memberikan keteduhan bagi siapa pun yang ada di dekatnya.
Dr. Gabriel Possenti Sindhunata, SJ, or just simply call him Romo Sindu is an Indonesian Catholic priest, also an editor for local culture magazine "Basis". He also worked as journalist for national newspaper, especially for commenting football review and culture issues. His famous work was "Anak Bajang Menggiring Angin".
Bibliography: * Segelas Beras untuk Berdua, Penerbit Buku Kompas (2006) * Dari Pulau Buru ke Venesia, Penerbit Buku Kompas (2006) * Petruk Jadi Guru, Penerbit Buku Kompas (2006) * Kambing Hitam: Teori Rene Girard (2006) * Ilmu ngglethek Prabu Minohek(2004) * Mengasih Maria: 100 tahun Sendangsono (2004) as editor * Air Kata-kata (2003) * Jembatan Air Mata: Tragedi Manusia Pengungsi Timor Timur (2003) * Bola di balik bulan: Catatan sepak bola Sindhunata (2002) * Long and Winding Road, East Timor (2001) * Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman: Pilihan Artikel Basis (2001) - as editor * Membuka Masa Depan Anak-anak kita: Mencari Kurikulum Pendidikan Abad XXI (2000) * Menggagas Paradigma Baru Pendidikan: Demokratisasi, Otonomi, Civil Society, Globalisasi (2000) - as editor * Sumur Kitiran Kencana: Karumpaka ing Sekar Macapat Dening D.F. Sumantri Hadiwiyata (2000) * Sakitnya Melahirkan Demokrasi (2000) * Bisikan Daun-daun Sabda (2000) * Tak Enteni Keplokmu: Tanpa Bunga dan Telegram Duka (2000) * Bayang-bayang Ratu Adil (1999) * Menjadi Generasi Pasca-Indonesia: Kegelisahan Y.B. Mangunwijaya (1999) - as editor * Pergulatan Intelektual dalam Era Kegelisahan: Mengenang Y.B. Mangunwijaya (1999) - as editor * Cikar Bobrok (1998) * Mata Air Bulan (1998) * Sayur Lodeh Kehidupan: Teman dalam Kelemahan (1998) - as editor * Sisi Sepasang Sayap: Wajah-wajah Bruder Jesuit (1998) * Semar Mencari Raga (1996) * Aburing kupu-kupu kuning (1995) * Nderek Sang Dewi ing Ereng-erenging Redi Merapi (1995) * Hoffen auf den Ratu-Adil: das eschatologische Motiv des "Gerechten Königs" im Bauernprotest auf Java während des 19. und zu Beginn des 20. Jahrhunderts (1992) - disertasi * Baba Bisa Menjadi Indonesier: Bung Hatta, Liem Koen Hian, dan Sindhunatha, Menyorot Masalah Cina di Indonesia (1988) * Anak Bajang Menggiring Angin (1983) * Bola-Bola Nasib: Catatan Sepak Bola Sindhunata
Bukan sekadar cerita, buku yang indah penulisannya ini penuh dengan pembelajaran tentang nilai-nilai yang luhur. Penulis sungguh menjadi pembawa kabar baik bagi semua pembaca.
Setelah membaca buku Anak Bajang Menggiring Angin dengan bahasa yang sangat indah, membaca buku Rm. Sindhu kali ini terasa berbeda.
Filosofi kehidupan yang dilukiskan dalam banyak perumpaan di Anak Bajang Menggiring Angin, berbeda dengan potret kehidupan di Anak-Anak Semar.
Walaupun disamarkan dengan kisah Semar, dan dalangnya, tetapi perjalanan sejarah bangsa dan peta kekuasaan yang digambarkan dalam buku ini, tetap dengan mudah dipahami.
Rm. Sindhu bahkan memotret peta perjalanan politik serta perebutan kekuasaan yang terjadi di Indonesia, dengan sangat cermat.
Potretnya tentang kemenangan anak muda masa kini, yang dianggap tidak tahu apa-apa tentang politik, kebenaran dan keadilan, terhadap keputusan MK mengenai batas umur yang hendak dianulir Dewan Rakyat, sangat menarik dan memberi secercah harapan.
Namun, walaupun kisah yang digambarkan kali ini berbeda, ada banyak pesan yang layak untuk direnungkan, 'separo kerusakan di dunia disebabkan oleh orang-orang yang merasa penting, separonya lagi akibat ulah orang yang serakah.
Membaca buku Rm. Sindhu kali ini membuat saya merenung, dan bergidik membayangkan akhir dari goro-goro ini.
Salah satu buku menarik yang saya baca bulan ini adalah Anak-Anak Semar karya Sindhunata. Bukan tipe novel dengan satu kesatuan cerita yang utuh melainkan buku yang berisikan nilai-nilai filosofis terutama tentang budaya Jawa. Sebagai orang Jawa asli, saya merasa senang bisa membaca buku ini. Di dalamnya terdapat banyak sekali ilmu dan nilai tentang kehidupan. Dikisahkan Semar, tokoh Samar dalam buku ini. Samar berarti tidak terlalu kelihatan. Bisa terang bisa gelap, bisa pagi bisa malam, atau di antaranya. Perwujudan Semar di buku ini bisa digambarkan oleh berbagai wujud. Dan yang menarik lagi, buku ini bercerita tentang sejarah dan kondisi bangsa ini dalam kiasan yang sangat indah. Saya kurang tahu apakah buku ini bisa dinikmati oleh selain orang Jawa. Tapi sekali lagi sebagai orang Jawa asli saya bersyukur sekali dipertemukan dengan buku ini. Karena buku ini membuat saya yg seorang perantau ini ora ilang Jawane.
Buku yang isinya mengenal Semar lebih dalam, dimulai dari lahirnya Semar sekaligus filosofinya yang melambangkan perlindungan, kebijaksanaan, kesederhanaan, sekaligus bentuk dari kesengsaraan dan penderitaan rakyat kecil yang tertindas. Selain mengenal Semar, buku ini merupakan kritik betapa manusia selalu dibutakan oleh harta, tahta, dan kabar burung yang belum tentu benarnya. Sembari memberi kritikan, buku ini juga memberi nasihat agar selalu mawas diri.
Sebenarnya, di beberapa bagian itu bikin ngantuk bacanya. Cuma yang aku suka dari buku ini itu pesan tersiratnya. Semar di buku ini dideskripsikan sebagai simbol perdamaian, ketenangan, dan penjaga. Uniknya, sosok Semar ini tidak lekang oleh waktu dan relevan dengan zaman mana pun. Keren banget.
Kerennn banget, begitu banyak filsafat Jawa yang masuk, dan bahkan banyak pemikiran yang bisa berseliweran dengan iman Kristiani. Bikin pengen baca buku2nya yang lain.