Menikah, tidak dimulai dari memilih jodoh atau pendekatan dengan satu dua orang. Menikah dimulai dari menata hal-hal dalam diri: memaafkan ayah, memaafkan ibu, lalu, memaafkan diri sendiri. Itu semua dilakukan sebagai persiapan batin. Proses selanjutnya, setelah semua luka berhasil dibasuh, maka kita baru dapat memasang cita-cita sebagai patokan awal ke mana pernikahan akan diarahkan.
Setelah persiapan batin selesai, maka kita memasuki persiapan yang lebih besar lagi. Kita mencari guru, untuk membimbing aspek keagamaan kita. Kita menghafal dan terus menghafal Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup. Kita bebaskan diri kita dari jerat utang, dan juga potensi riba sekecil apapun. Lalu, terutama, kita menjauh, sejauh-jauhnya, dari peluang berzina, meskipun sebenarnya kita pernah melakukannya, tapi kita harus segera berpaling.
Menikah, sebenarnya adalah proses mencari orang tua bagi anak-anak kita. Kita berusaha mencari calon ibu yang tuntas, calon ibu yang selesai dengan dirinya sendiri. Kita juga berusaha mencari calon ayah yang mampu menafkahi, dan juga hatinya penuh dengan harapan serta cita-cita besar. Ada sejumlah ciri dan kriteria yang harus kita pasang, agar jangan sembarang orang kita terima. Ciri-ciri inilah yang menjadi patokan dasarnya.
Setelah semua proses itu dilalui, kita sekarang siap taaruf. Kita siapkan data diri, kita siapkan mental, dan kita siapkan untuk pertemuan dengan calon pasangan kita. Jika taaruf berujung penerimaan, maka khitbah akan menjadi ujungnya. Di masa-masa inilah titik krusial dari sebuah persiapan menikah.
Khitbah, tinggal selangkah menuju akad nikah. Ada batasan-batasan yang harus dijaga untuk menjamin proses pernikahan berjalan baik dan aman. Kita jangan membuka peluang untuk melakukan dosa, atau mengorek hubungan kita di masa lalu dengan seseorang yang haram. Ini karena, khitbah memang sesuci itu.
Di dalam buku ini, kita akan melalui enam tahap pernikahan itu dengan perlahan dan tertib; agar pernikahan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Sebuah persiapan, agar pernikahan tak jadi bercanda. Itulah tujuan utamanya.
"Menikahlah dengan rencana bahagiamu sendiri". (hal. 194)
Seringkali ketika dihadapkan dengan rencana menikah, kita gamang dalam melangkah, seolah jalan menjadi kabur dengan beragam tebakan dan prasangka.
Maka buku yang ditulis oleh Ustadz Amar menjadi paket lengkap yang cukup detail dan runut untuk meredakan dan membantu kita mempersiapkan diri berproses menuju pernikahan.
Bagian awal buku ini dimulai dari pertanyaan "Apakah ini saatnya aku menikah?" Pertanyaan yang kemudian membuat kita menjeda, apakah benar aku sudah berdamai dengan masa lalu dan siap melangkahkan kaki menuju rumah tangga. Apakah sudah luas ruang penerimaanku terhadap apa yang telah terjadi, agar tak terbuka lagi ruang kesalahan yang sama.
Bagian kedua adalah "Sebelum Kisah Ini Benar-Benar Dimulai". Bagian ini banyak memaparkan terkait bekal persiapan menikah seperti mencari guru, mendekatkan diri dengan Al-Qur'an, menengok rumah tangga para sahabat Rasulullah juga hal-hal yang perlu untuk diwaspadai.
"Ketika sepasang muslim dan muslimah menikah, alangkah bahagianya kalau pernikahan itu didasari dengan ilmu." (hal. 71)
Bagian ketiga yaitu tentang kriteria dan berbagai selipan pertanyaan yang cukup membantumu untuk meyakinkan diri, apakah proses yang sedang dijalani berlanjut atau terhenti.
Bagian keempat adalah tentang seluk beluk proses ta'aruf. Ada banyak hal yang dijelaskan secara rinci di bagian ini, penulis juga menambahkan tabel biodata sebagai gambaran untuk menyusun biodata ta'aruf.
Ada beberapa pengingat yang aku suka dari buku ini, "Ya. Silakan cari orang-orang terbaik, tetapi tetaplah sadar, bahwa mereka adalah manusia yang Allah sembunyikan aibnya." (hal. 135)
"Engkau yang bahkan gagal menata ibadahmu sendiri. Jangan pernah berharap menata ibadah orang lain." (hal. 164)
Buku ini ditutup dengan bahasan terkait komitmen sepanjang hidup. Penulis sangat apik dalam menuliskan berbagai realita dalam proses menuju rumah tangga. Sehingga judul buku yang dipilih sangatlah mewakili keseluruhan isi buku, "Karena Menikah Tak Sebercanda Itu".
Menenangkan! Berasa diajakin ngobrol heart to heart. Penulisnya ngertiin banget ketakutan, trauma, kemalasan, hingga kebiasaan buruk para single, lalu memberi nasihat-nasihat terkait dg bahasa yang adem dan gak menggurui. Lebih seperti self-help book dan banyak fokus ke "diri", bagaimana cara mempersiapkan dg banyak memperbaiki . Sesederhana memperbaiki kelapangan hati kita dg memaafkan orang tua, mungkin orang tua kita pernah berantem dan akhirnya bikin kita takut nikah. Memperbaiki hubungan kita dg Allah lewat Al-Quran , shalat tepat waktu dst . Memperbaiki 24 jam kita dan keberkahan aktivitas2 yg kita lakukan. Ringan namun esensial. Setelah baca ini bakal banyak mikir dan merenung.
Alhamdulillah, ada kesempatan baca ini di waktu yang tepat :) Penulisannya mudah dipahami, jadi semakin yakin bahwa menyatakan diri untuk "siap" tidak hanya dari ucapan, melainkan kesiapan ilmu, finansial, dan mental.
Trauma atas pola asuh orang tua di masa kecil mungkin menjadi ketakutan tersediri, akankah kita kelak seperti itu kepada anak? Memaafkan ayah dan ibu adalah awal mula kita bisa berdamai dengan masa lalu, toh nantinya suami dan istri akan memulai peran sebagai orang tua untuk pertama kali dan bersama-sama saling mengingatkan, jadi kenapa harus takut?
Insya Allah banyak ilmu yang bisa diambil dan direnungkan, selamat membaca :)
Buku ini sangat indah, terasa seperti nasihat seorang sahabat perihal pernikahan kepada sahabatnya yang ingin menikah. Walau begitu tidak melulu hal-hal yang indah yang dibahas di sini, juga disajikan potret-potret kesulitan dan masalah-masalah yang sangat mungkin terjadi dalam urusan rumah tangga. Ini buku yang sangat baik untuk dibaca jika mau dapat gambaran umum bagaimana persiapan menikah yang baik dalam hukum islam, seperti bagaimana menentukan calon dan kriteria calon pasangan yang baik, bagaimana berdamai dengan diri sendiri, apa-apa saja yang harus menjadi perhatian kita menjelang pernikahan. Dan juga disini dibahas istilah-istilah seperti nazhor, taaruf dan khitbah, kita diberi gambaran umum mulai dari proses persiapan sampai menuju akad. But the best part of this book is Penulis tidak lupa menyajikan ayat, hadist serta kitab-kitab rujukan ditiap topik bahasan di buku ini, sehingga memudahkan kita untuk mengkaji lebih dalam lagi dari tiap gambaran umum dan ide yang sudah disajikan. At the end this book really worth to read, terutama untuk kita yang sudah menginjak umur 20-an dan sebagai awal dari persiapan diri menuju pernikahan yang ternyata tak sebercanda itu.
"Bersabarlah. Berpuasalah. Menyepilah dulu dan renungkan dulu, apakah engkau itu sudah siap menikah, atau baru sekedar ingin dan bisa menikah saja, Karena bisa menikah, berbeda dengan siap menikah."
Di dalam buku ini, Amar Ar-Risalah berusaha menjelaskan secara ringkas, jelas, dan realistis mengenai pernikahan. Dimulai dari bagaimana caranya untuk mempersiapkan ke jenjang pernikahan, dari urusan finansial, mental, emosional, ilmu, dan hal-hal lainnya. Sampai ke tahap benar-benar akan menikah melalui proses ta'aruf, khitbah, sampai akad.
Kenapa saya sebut buku ini realistis, pasalnya pembahasan di dalam buku tidak mengawang-ngawang terlalu tinggi dan tentunya bisa diikuti oleh semua Muslim yang berniat untuk menikah. Entah bagaimanapun keadaan dirinya. Kaya, atau miskin. Jelek, pun rupawan. laki-laki, maupun perempuan. Setengah kebelet nikah, atau malah ga ada niatan buat nikah. Trauma, ataupun tidak.
Buku ini dilengkapi dengan berbagai contoh-contoh ril yang tentunya bisa kita impelementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Semisal tabel prioritas pelunasan utang, format cv untuk taaruf, dan contoh-contoh kasus lainnya yang menurut saya jatuhnya malah ke pengembangan diri secara umum. Selain dilengkapi contoh-contoh ril, salah satu hal yang saya suku dalam buku ini juga membahas perkara-perkara teknis, bahkan ke dalam hal yang seringnya dianggap "tabu" sekalipun. Hal-hal teknis seperti kapan waktunya menikah? Bagaimana taaruf berlangsung? Kita harus apa agar bisa meminang dirinya? Apa yang harus kita siapkan? Lalu selanjutnya bagaimana? Apa yang harus kita obrolkan saat nazhor? Apa yang harus kita lakukan sebelum khitbah? Dan hal-hal lainnya.
Betul, buku ini mendorong kita lebih ke bersemangat dalam mengembangkan diri dengan arah langkah yang jelas. Berusaha keluar dari zona nyaman dengan tujuan yang mulia.
Salah satu perhatian dalam buku ini adalah gagasan yang Amar sampaikan bahwa, ketidaktahuan seringnya membuat manusia itu takut. Dan disinilah peran buku ini sangat berdampak. Buku ini menceritakan perkara-perkara yang belum jelas bagi jomlowan dan jomlowati, agar mengerti. Lantas setelah mengerti mereka jadi memiliki gambaran dan bisa dijadikan pertimbangan-pertimbangan selanjutnya secara matang.
Dari buku ini saya mendapatkan insight bahwa menikah itu tidak melulu dimulai dari memilih jodoh atau pendekatan dengan satu-dua orang. Menikah itu dimulai dari menata hal-hal dalam diri. Dimulai dari proses memaafkan sebagai upaya persiapan batin. Meninggikan cita-cita mulia. Mengisi diri dengan ilmu. Serta mengamalkannya untuk mencari rida-Nya.
Karena buku ini bercerita berbagai aspek yang dibahas untuk menuju jenjang pernikahan dan bagaimana pernikahan itu berlangsung. Maka pada akhirnya kita mengerti kenapa buku ini dinamakan "Karena Menikah Tak Sebercanda Itu"
• Isinya bagus tapi pemilihan kalimatnya terlalu hiperbola dan berlebihan. Padahal dengan kalimat yang sederhana, pesannya juga bakal tersampaikan. Isi bukunya opini penulis tentang hal-hal yang harus disiapkan sebelum menikah, kirain bakal nemu opini yang mindblowing ternyata isinya standar kayak opini-opini pra nikah yang berliweran di timeline. Ga tau dulu beli buku ini karena apa, tiba-tiba ada di keranjang oren
Beberapa opini yang menarik menurutku: • Perbedaan karakter, status sosial, dan lain sebagainya terbukti membuat pernikahan Zaid bin Haritsah dan Zainab binti Jahsy tidak langgeng. Padahal yang memerintahkan pernikahan mereka adalah Rasululloh • Apakah kita juga telah punya cukup waktu menyandarkan lagi diri yang lelah ini kepada Allah sehingga kita tidak mudah bersandar pada cinta yang rentan dan salah? • "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, aku berlindung dari fitnah Dajjal, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan lilitan hutang. • Bersabarlah. Berpuasalah. Menyepilah dulu dan renungkan dulu, apakah engkau itu sudah siap mrnikah atau baru sekedar ingin dan bisa menikah? Karena bisa menikah berbeda dengan siap menikah. • Sakinah akan datang kepada semua lelaki yang menjaga penadagannya, yang mencukupkan diri atas apa yang Allah berikan padanya. Sakinah akan tiba di hati perempuan yang puas dengan segala ketetapan Allah dan selalu gagal menemukan keluhan atas segala pemberian-Nya. • Sakinah akan selalu senang berdiam di dalam hati mereka yang menahan mulutnya dari meragukan nikmat Allah, atas cinta. • Engkau berhak atas kebaikan tubuh dan paras pasanganmu. Pasanganmy juga berhak untuk itu. Bergeraklah. Berolahragalah. Seraplah udara pagi dan syukurilah sinar matahari yang hangat dan segar. • Syukurilah nikmat Allah berupa rezeki ini dengan memakan sesuatu yang baik-baik. • Usaha untuk memperbaiki keadaan tubuh menuju pernikahan adalah sebuah fitrah. • Setelah menikah, tak ada waktu istirahat lagi. Kau akan terbangun di dunia nyata tanpa tidur siang. • Tak ada perempuan yang tersiksa saat menikah dengan laki-laki yang kalah pada dirinya sendiri. • Aisyah, ia tak butuh lelaki untuk sekedar masuk surga.
Belum banyak buku yang membahas tentang persiapan untuk menikah, apalagi ditulis dengan bahasa yang sederhana dan menargetkan kaum muda generasi milenial dan gen-Z. Dan buku ini adalah salah satunya. Tulisan dalam buku ini sangat menarik untuk dibaca sebagai pemantik rasa keingintahuan mengenai hal-hal apa saja yang harus direncanakan dalam membangun rumah tangga khususnya dalam perspektif keislaman.
Kamu takut untuk menikah? Kamu memiliki trauma masa kecil terkait pernikahan? Kamu takut tidak bisa menjadi suami/istri yang baik? Kamu takut tidak bisa menjadi ayah/ibu yang teladan? Kamu takut tidak bisa mendidik anakmu dengan sempurna? Maka, semoga semua ketakutan tersebut dapat kamu temukan jawabannya dalam buku ini.
Buku ini tersusun atas lima bagian yang merangkum perjalanan untuk memulai merencanakan pernikahan. Mulai dari proses untuk mengenali diri sendiri dan memaafkan masa lalu, hal-hal yang perlu dilakukan sebelum mencari pasangan hidup, kriteria apa yang harus dipertimbangkan terkait mencari calon suami/istri, bagaimana proses taaruf yang baik dan benar, serta bagaimana menjaga komitmen antara khitbah hingga akad pernikahan. Semua hal tersebut disampaikan dengan bahasa yang sangat mudah dipahami, tidak terkesan menggurui, namun tetap berbobot karena disertai dengan berbagai dalil dari sumber yang shahih dan referensi perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.
Hal yang menurutku paling menarik dalam buku ini adalah cara penulisannya yang banyak menggunakan dialog dan pembaca yang disapa dengan sebutan "Sahabat". Metode tersebut berhasil membuat aktivitas membaca buku ini rasanya seperti mengobrol dengan kawan sebaya. Pertanyaan -pertanyaan yang tertulis sangat mewakili kegundahan yang selama ini terpikirkan terkait pernikahan. Dan jawaban-jawaban yang tersajikan bukan hanya menjawab dari segi agama, namun juga dilengkapi dengan pendekatan psikologis sehingga lebih menyentuh hati pembacanya.
Jadi, jika kamu sudah masuk dalam fase galau memikirkan pernikahan, atau merasa awam dan ingin belajar tentang persiapan pernikahan, maka buku ini sangat cocok menjadi temanmu untuk memulai perjalanan tersebut.
Baca buku ini terasa seperti sedang diajak ngobrol dengan kakak atau sahabat dengan nasihat yang tidak menggurui, realistis, dan terasa begitu dekat.
Sering kali kita meraba-raba bagaimana proses pernikahan itu terjadi. Darimana memulainya? Bagaimana langkah-langkahnya? Buku ini ringan di baca, tapi tidak dengan isinya. Yaa, daging semua MasyaAllah. Cukup detail dan runut dalam menggambarkan pernikahan dalam perspektif islam dan membantu kita berproses menujunya.
Tersusun dari 5 bagian yang setiap babnya disertai sumber yang shahih. Bagian awal buku ini mengajak kita menilik jauh ke dalam diri kita dulu sebelum memulai perjalanan ini. Ya, menikah itu dimulai dari menata diri sendiri yang merupakan tanggung jawab kita masing-masing. Mari kita usahakan selesai dengan diri kita sendiri dulu. Jangan jadi egois, karena kelak akan ada pasangan yang harus kita muliakan dan anak yang kita kasihi.
"Engkau tidak akan bisa memeluk anakmu, mencium pipinya kelak dengan luka-luka yang masih basah dan rasa kosong dalam dadamu, karena masa kecilmu belum usai engkau lewatkan."
Sedari bagian awal buku ini saja, membuatku berada dalam perenungan panjang.
"Bersabarlah. Berpuasalah. Menyepilah dulu dan renungkan dulu, apakah engkau itu sudah siap menikah, atau baru sekedar ingin dan bisa menikah saja, karena bisa menikah, berbeda dengan siap menikah."
Setelah membaca buku ini, timbul banyak perenungan dan kesadaran. Terima kasih Ust. Amar sudah menulis buku sepenting ini. Pada akhirnya, kita tau setelah dibahas tentang berbagai aspek proses pernikahan, mengapa buku ini berjudul "Karena Menikah Tak Sebercanda Itu"
Aku terlalu sering berucap males/mager terhadap sesuatu yang harus kuselesaikan. Tapi, tidak akan ada yang selesai dikerjakan jika menuruti malas, dan juga... "Hanya kau yang tahu seberapa penting kaulawan kemalasanmu itu. Ingatlah, tak ada rumah tangga apa pun yang pantas bagi orang malas." (hal. 57)
Aku terlalu takut untuk memulai menggali ilmu pernikahan. Takut dicap sebagai seseorang yang kebelet nikah. Tapi... "... pengakuan manusia sangatlah sementara. ... pengakuan dan persahabatan manusia atas dasar selain Allah selalu berakhir dengan rasa sakit dan permusuhan." (hal. 196)
dan juga... "Ketika sepasang muslim dan muslimah menikah, alangkah bahagianya kalau pernikahan itu didasari dengan ilmu." (hal. 71)
Bayangkan jika menikah tanpa ilmu pernikahan... "Berkeluarga dengan insting saja itu sangat mengerikan. Komunikasi antara dua manusia yang berbeda itu sangatlah melelahkan kalau tidak disertai pemahaman mengenai masing-masing fitrahnya. Bekerja sama sebagai keluarga itu sangat sulit kalau tidak paham apa tugas keluarga dan apa yang diinginkan Islam dari keluarga umarnya." (hal. 42)
Buku ini seperti buku pengantar tentang ilmu pernikahan bagiku. Penulis berhasil mengemas ilmu pernikahan yang dipelajarinya dari berbagai sumber dengan bahasa yang sederhana namun tegas. Bagian-bagian pada isi buku juga runut. Buku tentang ilmu pernikahan yang sangat nyaman untuk dibaca.
Oke. Baru banget kemaren sore awal baca buku ini. Ga nyangka bakal selesai juga kemaren malam juga, hweee karena memang sengalir itu buku ini oi. Ust. Amar gausah diragukan lagi lah ya soal tulisannya. Sederhana tapi berkesan dan ngena banget! Wajib sih baca buku ini, beneran mah.
Bukunya bukan cuma ngomongin soal pernikahan kok. Tapi juga gimana kita bisa mengenali diri kita sendiri, berdamai dengan diri sendiri, orang tua, masalah-masalah yang kita punya, lingkungan dan lainnya. Banyak banget pelajaran yang bisa diambil terutama bagaimana hubungan kita sama Allah. Apakah kita selama ini benar-benar melakukan atau meninggalkan sesuatu karena Allah?
Banyak proses-proses sebelum pernikahan yang dibahas di buku ini. Tulisannya ga menggurui dan bener-bener kaya dinasehatin sama orang terdekat kita. Pokoknya kudu baca dah, ntah kalian yang emang udah punya niat nikah atau belum. Bahkan yang udah nikah. Rekomen!
Maju mundur mau baca ini, tapi karena merasa udah waktunya jadi membulatkan tekad untuk membacanya sebelum terlambat wkwk. Pas bukunya dateng langsung ngerasa 'oh ngga setebal yang dibayangkan ya' karena cuma 200an halaman, tapii karena bacanya di sela2 kesibukan duniawi jadi selesainya agak lama. Bukunya bagus, isinya daging semua, cukup mengenyangkan perut yang lapar karena kekosongan. Bener2 ngerasa dibimbing dari meluruskan niat, mencari dan menjadi calon, sampai tahap pernikahannya juga dijelasin secara runtut. Di bab-bab awal ngerasa dibuka matanya, dibuat amaze sama beberapa hal yang selama ini luput dari perhatian, walaupun pas menuju akhir agak kikuk sendiri wkwk. Katanya, menikah dimulai dari menyadari bahwa kita sudah dewasa, disusun dengan rencana bahagia kita sendiri, diarahkan ilmu, dibina guru, dan dipertahankan dengan terus berusaha bersama menjadi manusia yang matiinul khuluq.
Membaca buku ini seperti sedang hadir dalam pengajian pekanan dan bang Amar menjadi gurunya. Buku ini melebihi perkiraan saya, yang mengira segala persiapan menikah hanya berkutat bicara pada materi dan beberapa ilmu agama. Lebih dari itu, banyak sekali hal yang perlu disiapkan, dimulai dari berdamai dengan diri sendiri.
Bagi mereka yang terbiasa membaca konten-konten bang Amar, akan didapati tulisan beliau yang khas itu. Sangat direkomendasikan buat dibaca, meskipun masih ada jarak 1 tahun atau lebih dari rencana menikah. Sebab isinya pun memberi penyadaran untuk segera mempersiapkan diri dari jauh hari.
Gaya tulisannya nyaman untuk dibaca, khas tulisannya Bang Amar. Berasa ‘dipeluk’ baca buku ini. Isinya bener-bener sesuai realita, tanpa bumbu-bumbu manis, tapi juga gak menghakimi. Butuh waktu cukup lama untuk bacanya karena, jujur ada trauma akan pernikahan, jadi butuh kesiapan mental tersendiri untuk baca ini.
Buku yang sangat cocok untuk dihadiahi ke semua kalangan. Karena menikah itu betul-betul tak sebercanda itu. Isinya gak manis melulu, tapi ya gak semengerikan itu.
Karena Menikah Tak Sebercanda Itu, maka perasaan saling cinta saja tidak cukup ! Cinta dengan landasan ilmu akan mengeratkan perasaan itu.
Karena Menikah Tak Sebercanda Itu, maka menikah bukan sekadar hidup hanya berdua ! Tentu akan lahir anak² yang harus dirawat dan dibesarkan dengan ilmu pula.
Karena Menikah Tak Sebercanda Itu, maka rumah tangga tak melulu soal mabuk asmara ! Akan ada pasang surut masalah yang diselesaikan dengan ilmu juga.
Menikah adalah gabungan visi sepasang suami dan istri dengan misi yang disepakati bersama untuk memajukan kehidupan manusia dengan berpegang pada agama Allah SWT. Bekali diri kita dengan ilmu agar rumah tangga menjadi sumber kebahagiaan, kedamaian, keterangan, dll bagi kita dan anak² kita nantinya.
Pesan² dalam buku ini disampaikan dengan bahasa yang sangat bersahabat, tidak menggurui dan tidak pula menyudutkan kita. Dilengkapi dengan berbagai tahapan dasar (memahami diri sendiri, memaafkan masa lalu), awal (menimba ilmu, menyusun rencana dan cita² pernikahan), pertengahan (ta'aruf) dan akhir (khitbah serta akad).
Review ini ku tulis sebagai pengingat ke diri sendiri ❤️❤️❤️
Ga expect bakal seenjoy itu bacanya hehe Ringan tp ttp berisi dan lbh memfokuskan dan menitikberatkan pada diri sendiri daripada menuntut calon pasangan. Btw ini buku lbh ke persiapan pernikahan ya bukan kajian2 pas udh nikahnya. Alur dan diksinya cantik. Luv it.
Buku ini banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul terkait dengan proses pernikahan yang islami. Penjelasannya cukup detail tapi dengan bahasa yang mudah dipahami.
Buku pranikah yang harus dibaca semua orang. Bahasanya ringan, mudah dipahami, tapi isinya sangat bermanfaat. Penulis memposisikan dirinya ditengah, adil, tidak berpihak pada salah satu gender.
Berasa sedang diajak ngobrol dari hati ke hati sama penulis. Tiap baca kata per kata membuatku merenung, membuatku berpikir, bertanya-tanya pada diriku sendiri, sudah siapkah aku?
Buku ini cocok untuk teman-teman yang hendak menambah ilmu soal pernikahan. Semoga dengan membaca buku ini semakin meningkatkan keimanan dan semakin kehilangan rasa takut untuk menikah 🤗✨ Habis juga baca setengah sisanya buku Bang Amar Karena Menikah Tak Sebercanda Itu.
Setengah sisanya lebih praktis, seperti bagaimana membuat CV juga penjelasan soal proses dari taaruf menuju akad. Adapun poin-poin menarik yang aku peroleh lebih jelasnya meliputi,
- Milikilah pandangan jauh kedepan. Sesederhana, "Rumah tangga seperti apa yang kuharapkan?" Kemudian darinya jabarkan kriteria seperti apa pasangan yang diperlukan. Tidak perlu menurunkan standar, apalagi jika dalam waktu bersamaan kau terus menaikkan value dirimu sendiri. Aku percaya, kebaikan yang kau upayakan tak akan kemana-mana selain kembali padamu atau syukurnya meluas kepada yang di sekitarmu. In syaa Allah.
- Adalah hak orang tua untuk mensyaratkan jodoh anaknya tidak membawa anaknya terlalu jauh dari dirinya. Maka tulislah CV setelah berbincang dengan orang tua. (Hal. 131)
- Komunikasi dengan orang tua sepenting itu dalam proses menuju pernikahan. Sebab menikah bukan hanya tentang kau dan dia, tetapi juga keluarga, saat tanggung jawab dari ayah sang perempuan berpindah pada lelaki yang baru saja meminangnya. Orang tua adalah tempat pulang sebenarnya sebelum engkau pulang ke rumah lain yang adalah rumahmu sendiri, sebelum engkau menjadi tempat pulang bagi anak-anakmu. (Hal. 177)
- Perempuan tetap memiliki catatan amalannya sendiri meski setelah menikah. Lelaki hadir untuk membimbingnya, membersamainya. Sebaik apapun suaminya dalam beribadah dan mengajak pada kebaikan jika tak ada kesadaran dalam diri sang istri maka itu adalah kesia-siaan. Sehingga, biasakanlah ibadah-ibadah itu.
- Jika engkau bersuamikan seorang nabi sekalipun yang bebas dari dosa, tak ada jaminan engkau bida begitu saja mematuhinya. Jika engkau bersuamikan seorang Firaun sekalipun, tak ada jaminan engkau akan masuk neraka. Karena engkau, wahai muslimah, dimerdekakan oleh Islam, dari manusia lainnya, semerdeka-merdekanya. (Hal. 173)
- Tidak ada yang salah dengan alasan dari kebutuhanmu untuk menikah. Mungkin bagi beberapa orang terdengar receh atau mungkin diri sendiri yang mengecilkan alasanmu. Sesederhana secara psikologis butuh seseorang di sampingmu maka itu sudah termasuk pada butuh akan pernikahan. Namun, sebagai individu dengan mimpi besar untuk umat tentu saja alasan itu tak cukup. Selamat merajut mimpi sendiri dahulu, semoga kau jumpai individu yang juga memimpikan hal yang sama—setidaknya jika berbedapun tetap mau berkolaborasi—dan berkomitmen untuk berjalan bersama.
#Karenamenikahtaksebercandaitu by #Amararrisalah @linimasabooks
Non-fiksi 196 hal ★★★★☆ ___________________________________
"Ya Allah, capek. Pengen nikah aja!!😩🤲" Kata seorang anak yg tengah dikejar deadline skripsi atau seabrek pekerjaan..
Pernah dengar kalimat di atas? Atau pernah sambat kalimat di atas?🤭
Belakangan banyak post di media sosial yg menampilkan orang-orang yang lelah akan hidupnya, ntah karena skripsi atau pekerjaan, dan mengeluh pengen nikah aja...
Percayalah teman, MENIKAH TIDAK SEBERCANDA ITU..
Begitu banyaknya potret kemesraan pasangan suami istri di media sosial sering membuat kita merasa 'semua masalah akan hilang saat kita menikah'.
Tentu saja jawabannya adalah BIG NO!! *testimoni dari orang orang yg udah nikah*
Yup.. dari judul buku ini aja udah bikin aku tertarik dan isinya beneran membuka mata hati ini bahwa modal nikah gak hanya Uang, Taqwa, dan Kesiapan diri (A.K.A ILMU)
3 hal diatas of course PENTING DONG, Tapi ada satu hal yg selalu luput dari kebanyakan orang dan tentu saja aku, yaitu Guru!! Pembahasan yg paling aku highlight dibuku ini..
Seperti yg kita tau, menikah itu ibadah yang paling panjang dan paling berat.. godaan setan enggak tanggung tanggung... Ujiannya dari segala aspek:") itulah sebabnya sangat penting kita memiliki sosok yang bisa kita ajak diskusi perkara rumah tangga..
"Kan bisa diskusi sama orang tua"
Jangan salah, diskusi masalah rumah tangga sama orang tua itu salah satu sumber yg bikin masalah makin runyam.. ya emg ga semua org tua begitu, ada yg mmg bijak..
Karena orang tua mana sih yang mau anaknya disalah-salahin, malah kita dikira engga bersyukur dan ditakutkan lagi malah mencampuri hal-hal krusial dan bikin makin pusing.. but, lucky you kalau emg punya orang tua yg bisa sekalian dijadiin guru.. Masya Allah
So, dengan adanya guru, kalau sudah melenceng dari jalur ada yg narik kitaa biar lurus lagi:")
(2/2) . Selain itu, masih banyak lagi pembahasan daging perkara rumah tangga yg dibahas dibuku ini, apa aja yg perlu dipersiapkan. Bahasanya juga mudah dipahami. Buku ini juga menegaskan bahwa gaada pasangan yang sempurna.. kita beriman dan bertaqwa bukan supaya kita tidak diuji atau diberi masalah. Tapi, KITA BERIMAN DAN BERTAQWA SUPAYA KITA DIBERIKAN KESABARAN DAN KEIKHLASAN DALAM MENGHADAPI UJIAN DARI SANG KHALIK. . siapa sih kita, rumah tangga manusia yang paling mulia dan sahabat-sahabatnya saja diberi ujian. Apa lagi kita, manusia penuh dosa dan yg punya kesabaran cuma setipis tisu ini. . Semoga Allah kuatkan dan Allah mudahkan dalam mengarungi bahtera rumah tangga ini yaa. Dan selalu diberikan kebahagian!! . So, aku rekomendasiin buku ini buat yang lagi mempersiapkan pernikahan atau pun yang sudah menikah karena isianya bisa merefresh ilmu kita lagi..
Diusia 20 tahun keatas ini, sudah jadi semacam rutinitas tersendiri ditanya "kapan nikah?" Pun kalau tidak ditanya 'kapan' apa-apa saja dalam keseharian selalu disangkut pautkan dengan pernikahan. Kayak "nanti kalau kamu punya suami blablabla ya," "kok gitu? Gimana nanti kalau sudah menikah" ughh dan masih banyak lagi, dosisnya itu sudah super overdosis kalau untukku pribadi 🤣
Berangkat dari keresahan itu, timbul berbagai pertanyaan. Mulai dari betulkah usia sekarang sudah selayaknya menikah? Sepenting itukah menikah? Dan pertanyaan lainnya.
Hingga akhirnya, bertemulah dengan buku ini. Buku yang kukira akan banyak menyampaikan petuah-petuah sebagai istri yang baik seperti apa pun petuah menjadi layaknya suami yang baik seperti apa. Ternyata.. melesat.. isi buku ini jauh lebih mendalam dari apa yang kuekpektasikan.
Buku motivasi islam yang berisi 5 bab ini, membahas tentang persiapan yang perlu dilakukan jauhh sebelum menikah. Kenapa jauh? Sebelum sibuk memikirkan bagaimana menjadi suami/istri yang baik, sebelum mulai menyiapkan menjadi ayah/ibu yang baik kita terlebih dahulu diajak melihat jauh ke dalam diri kita. Mulai dari melihat masa kecil kita yang barang kali ada 'luka' yang belum selesai kita sembuhkan, pun melihat sosok ayah dan ibu kita yang barang kali dalam mengasuh kita meninggalkan luka yang belum kita maafkan :)
Gaya bahasa lembut penulis diiringi dengan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadist yang menyentuh hati menjadi daya tarik tersendiri untuk buku ini. Selain itu, karena buku ini fokusnya adalah persiapan sebelum menikah, banyak tips-tips yang diberikan penulis untuk beberapa permasalahan yang kerap kali dihadapi sebelum menikah. Semisal bagi yang ingin taaruf, penulis membagikan bagaimana cara menyusun biodata taaruf yang benar. Atau bagi yang masih punya hutang dan ingin terbebas dari hutang sebelum melangkah ke pernikahan, penulis juga membagikan cara mengatur keuangan agar bisa melunasi hutang.
Satu buku yang menurutku bisa jadi bekal yang baik untuk membantu menyiapkan diri menuju pernikahan juga membantu menilai sejauh mana kesiapan diri untuk mengarungi bahtera rumah tangga.
visualnya oke banget, siapa yang ga setuju? isinya jawaban dari pertanyaan-pertanyaanmu. walaupun pembawaan penulisnya mah sering bercanda di media sosialnya, tapi buku ini isinya literally nggak sebercanda itu. you'll need it. trust me.