Dimabuk cinta, Pipit mengangguk sambil tersipu saat pacar tampannya mengajaknya menikah. Pipit masih SMA, tapi dengan gembira meninggalkan sekolah demi menjalani angan hidup indah bersama laki-laki yang ia sayangi.
“Cinta adalah soal hati, bukan usia.” Bukankah ada lagu yang bilang begitu?
Pipit yakin Pongky akan menjaga, melindungi, dan memenuhi semua kebutuhannya. Kalaupun tidak, cinta pasti akan menguatkan mereka dalam kondisi apa pun. Benarkah begitu? Pipit mulai bertanya-tanya setelah bulan madu berlalu. Tinggal di rumah mertua yang kekurangan air tapi kelebihan makian, memikirkan cicilan kompor gas... membuat dunianya jungkir balik nggak karuan.
Apakah cinta muda yang menyebabkan kekacauan ini? Apakah menjadi pengantin remaja berarti mimpi Pipit berhenti sampai di sini?
Yaampun yaampun yaampuuuun!!! Ini kudu banget dibaca sama semua oranv yang pingin nikah muda. Harusnya ada baca bareng ini nih di SMP SMA. Apalagi buat di kampung2 kayak daerahku ini yang anak2 sekolahan pada milih nikah karena katanya lebih enak. Ujung2nya tingkat perceraian, kawin cerai juga mkin bnyak.
Huft.
Aku yang bukan remaja aja kek belajar banyak sih dari sini. Kek beneran bikin mkir juga bukunyaa.
Ceritanya sendiri super duper realistis dan nggak menjual mimpi. Semua karakter di sini juga kuat semua. Characters' arc buat Pipit itu super duper keren banget. Dan yang perlu diingat emang nggak semua manusia itu bisa berubah. Ya kita liay ajalah Pongky dan Atin dan Nona. Pipit, sebagai MC di sini tuh beneran jatuh bangun. Pokoknya on point banget nih karakterisasinya Pipit.
Buat plotnya sendiri rapi banget. Dan emosi sepanjang baca karena greget sama Pipit dan pingin ceburin Pongky. Yaampuuun.
Intinya suka bnget sama buku ini. Walaupun bukan tipe buku yg bakaln kubaca ulang krena bakalan emosi lagi, wkwkkw.
Eh, aku juga suka deh sama sindiran2 di buku ini. Apalagi secara gk langsung nyindir2 cerita yg meromantisasi ke-toxic-an dalam hubungan, wkkwkwkw.
Kalau ada yang tanya rekomendasi buku horor tanpa hantu, alien, zombi, vampir, dan sejenisnya—buku ini adalah jawabannya.
Gila. Aku CAPEK BGT baca buku ini. Kayak hidup Pipit tuh suram banget, dan 90% adalah akibat dari kebodohannya sendiri.
Keluarga yang underprivileged, lingkungan yang nggak mendukung untuk berkembang--termasuk lingkungan sekolahnya, Pipit adalah pelaku sekaligus korban untuk semua tragedi di hidupnya. Meskipun ngeri setengah mati, harus aku akui banyak dari kejadian di buku ini terjadi di kehidupan nyata.
Aku selalu suka tulisan Ken Terate. Nyaman banget untuk dibaca. Dialognya apik, disertai dialek Jawa yang nggak bikin canggung ketika dibaca. Tapi di buku ini aku ngerasa plotnya yang maju mundur cenderung... berantakan? Mungkin sengaja dibuat berantakan. Cara bercerita ini juga bikin kechaosan di hidup Pipit lebih ngena. Tapi jadi banyak adegan yang overlapping dan kesannya repetitif.
Tokoh-tokoh di buku ini juga bisa dibilang realistis dan nggak mutlak dikasih peran hitam-putih. Pongky yang haram jadah gitu bisa juga manis-manis sama istrinya walaupun balik lagi ke default bajingan-_- Nona yang SINTING plus ndableg itu juga bisa baik ke Pipit, meski menurutku sih dia musti ke psikiater kayaknya. Atin juga dengan segala sikapnya yang mandiri, girlboss, realis, dan lain-lain, toh tetep punya hobi macarin suami orang..
Yah, singkatnya kalau kamu takut tambah dewasa, baca buku ini nggak bikin kamu bakal better :')
“Belajar, Pit,”— “Kamu sudah menikah. Nggak bisa kayak dulu lagi. Perlu lebih banyak sabar. Lebih rajin. Lebih kuat. Lebih tahan banting. Hidupmu bukan untukmu lagi. Saat menikah, kamu nggak hanya menikahi satu orang. Tapi menikahi seluruh keluarganya. Keluarga besar malah.” (Hal 112). . Selesaiiiii! Dan sukaaa 🤩🤩🤩. Selalu suka sama tulisan Kak Ken Terate meskipun aku baru baca lima novelnya tapi semua temanya beda menurutku 👏🏼. Setelah Minoel, novel ini wajib dibaca untuk semua perempuan baik dari remaja sampai ibu rumah tangga. Laki-laki juga wajib loh baca novel ini agar tidak seperti bapaknya Pipit 😑. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah Pipit. Karena selain tentang pengantin remaja, juga ada bagaimana Pipit menyesali kesalahannya, menjalani masa kehamilannya, Pipit yang kurang bertanggung jawab, kurang dewasa terlalu banyak denial dan gampang luluh tapi ya realistis sih soalnya usianya masih muda juga cuman sungguh bikin gregetan buat yang baca sampai perubahan Pipit yang lebih oke. ‘Semua memang ada waktunya. Mungkin Tuhan memang memintaku menunggu’. Untung Pipit punya Atin dan Ibuk yang selalu ingat untuk menyelipkan apem hangat buat Pipit 🥺. Menurutku pribadi pengantin remaja ini atau bolehkah disebut pernikahan dini bisa diselipkan dalam pelajaran di sekolah agar para siswa-siswi tau apa saja yang mungkin terjadi dan terlewatkan nantinya dari usia remaja mereka apabila memilih menjadi pengantin remaja karena tidak seindah bayangan mereka ataupun seindah konten yang mereka nonton di sosial media. Dan emosi disaat pernikahan yang usianya belum tepat (contoh bisa dibaca sendiri kisah Pipit dan Pongky) akan berbeda dengan usia yang lebih matang. Menurutku lagi novel ini wajib ada diseluruh perpustakaan sekolah maupun ruang tunggu juga kafe. Pokoknya baca deh 👌🏼. . Kesalahan. Siapa yang tidak pernah melakukannya? Yang membedakan hanyalah apakah kita belajar dari kesalahan itu atau tidak— tetapi aku memilih untuk belajar dan akhirnya, hari ini, tanpa menunggu orang lain untuk memberi, aku bisa menciptakan kebahagiaanku sendiri. (Hal 375).
Sumpah daaaah. Astaghfirullaaaah. Cerita fiksi itu hiperrealistis. Tapi kuyakin orang seperti Pongky dan Pipit ini ada banyak di dunia yang udah edan ini. Kawin cuma karena nafsu dan tanpa perencanaan. Menjalankannya pun dengan awur-awuran. Stres rasanya aku baca novel ini. Mbak Ken Terate sungguh tajam dalam mengolah konflik dua manusia norak, Papoyi dan Mamoyi. Tiap Pipit dan Pongky saling memanggil dengan panggilan norak itu, aku rasanya kepingin muntah. Enegnya nggak tahan. Allahuakbaaar!
Seperti Dark Love, buku ini pun penting untuk dibaca dan dimiliki oleh anak sekolah. Di tengah gempuran cerita Wattpad dan Webtoon yang menjual mimpi-mimpi roman picisan itu, perlu adanya cerita-cerita yang menyuguhkan kehidupan dengan apa adanya seperti ini.
Sebagai seorang guru, kurasa para guru yang meremehkan kemampuan otak Pipit turut punya andil dalam membentuk Pipit jadi anak yang tidak menyukai sekolah dan tidak mementingkan pendidikan. Anak-anak seperti Pipit harusnya selalu dimotivasi dan diangkat harga dirinya. Karena hidup tanpa pendidikan yang layak itu adalah hidup yang sangat keras dan menyakitkan. Seperti yang dialami Pipit ketika dia tinggal di rumah keluarga Pongky yang amburadul. Ngeri.
Another must-read from Kak Ken Terate after Minoel. This book is recommended for any teenager out there because it teaches you that marriage or even relationships aren't always about happiness.
Ya kira-kira sebalnya semacam itu lah. Banyak sebal karena seperti yang pernah aku sebut di reviu Minoel, kisahnya realistis. Iya, emang keadaan ekonomi yang serba ngepas menghasilkan perkara semacam ini. Karena fokus cari duit buat bertahan hidup, masalah di aspek lain jadi terlupakan.
Aku bisa bilang apa ya ke Pipit, emosi? Jelas. Dia terlalu bucin. Yah, namanya masih bocah, pikirannya masih suka main, senang2, explore hal2 yang baru dan menarik minat. Anak usia 18 tahun, lho. Astagaaa. Yang terparah dari akibat nikah cepat ini adalah orang tuanya malah mendorong. Bapaknya Pipit sih, motifnya kelihatan. Emaknya Pongky juga kelihatan, tapi after tragedy. Oh, jelas pernikahan Pipit ini tragedi karena nggak seharusnya terjadi.
Trait yang dari Minoel mengikuti adalah cowoknya yang nggak nggenah. Lanangan koplo. Puas banget pas Pipit maki Pongky pake nama hewan wkwkwk sorry, emang dia gugujmk banget, sih. Mau enaknya aja, hidup suka2, kerja ya kalo enak terusin, kalo enggak ya putus. Iyalah, prinsip Pongky asal dilayani dan bisa bebas. No tanggung jawab.
Bagian paling miris, Pipit bahkan nggak tau apa2 soal kehamilan. Rasanya kepengin jedotin kepala dia. Lakinya juga edan, nggak pakai pengaman, enaknya gituan doang. Pengin nampar bolak-balik, serius. Ini mah, udah kayak halalin cuma buat begituan. Mamoyi-Papoyi apa sih, ew. Kalo ada maunya aja manis banget itu mulut. Waktu Rodiyah bilang Pipit harus ke rumah sakit karena ibu hamil wajib ke sana, dia jawab dalam hati, "Iyakah?" shit, ini nggak ada yang ngarahin dia, ya? Apa pada sibuk sama urusannya sendiri2? Well, Pipit juga ndableg, sih, ngeyelan, nggak mau dikasih tau.
Di salah satu bab menuju akhir aku udah jengah banget sama kelakuannya. Terlebih karena Piput masih menanggapi suami begundalnya itu. Astaga, kehadiran Alicia nggak bisa mengubah banyak karena memang, balik lagi ke individunya. Semua ini keputusan Pipit dan tbh ambil keputusan di usia segitu pun nggak mudah. Hey, dia aja kelabakan waktu awal2 nikah, nggak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, dan terus lari.
Masih nggak terima sama ending-nya, tapi kalau dipikir-pikir itu udah yang terbaik. I mean, Pipit memperbaiki apa yang dia tinggal demi mendapat nafkah. Hidupnya memang nggak mudah, masih banyak cobaan dan masalah yang datang, tapi memang manusia selalu diadang masalah, kan? Kan, masih hidup 😶 yah anyway, congrats buat Pipit (and Pongky, huahahahaha welcome to the 2nd jungle, bung!).
Oh ya, Atin di sini banyak bantu Pipit secara nggak langsung. Walaupun caranya mungkin agak cuek dan sedikit kasar, dia tetap banyak berkontribusi. Lebih banyak porsinya malah ketimbang suami Pipit sendiri. Terus alasan dia suka sama orang yang lebih tua tuh emang valid. Aku lupa pernah baca di mana, tp anak yang punya luka batin dan nggak terlalu terikat sama ayahnya (atau bisa aja benci), biasanya cenderung menyukai sifat sejenis dari pasangannya kelak. Kalo dipikir-pikir, hidup Atin juga nggak mudah, dan yang paling aku syukuri, dia sayang sama Rai.
Buku ini persis menggambarkan kehidupan Pipit yang diawali dengan kesalahan karena sikap gegabahnya dan sederet pengalaman hidup yang dia dapat berkat pilihannya itu, sampai mencari kebahagiaannya sendiri tanpa pernah lagi bergantung dengan orang lain.
AAAKKKKKK I OPEN THIS ONE WITH NO EXPECTATION!! Tapiii ternyata sepertinya akan jadii salah satu best readku di tahun ini yang akan membekas sampek 10 tahun ke depan!! Saking sukanya aku tuh cuman butuh 2 hari buat ngabisin ini, bayangkan!! Kedodolan Pipit, kepongahan Pongky, sabarnya Ibuk, ceplas ceplosnya Atun, ke-absurd-an nya si Nona, pokoknyaaa semuanya tuh membekas bgttt yaa Allah! Ngangenin paraaah hixxxx. Padahal baru tamat buku ini kemareeen woyy tapi pas lg nulis reviewnya malah kangen lagi, bikin pengen baca ulang T-T GIMANESIKKKK . Btw buku ini tuh nyeritain si Pipit, anak SMA yg lagi puber-pubernya dan juga pacarnya- si Pongky- yang 3 tahun lebih tua tapi ga lebih dewasa dari Pipit. Bisa dibilang mereka berdua sama dodolnya . Tapi si Pongky ini tahap kegablekannya sampe bikin kita pengen ngeremasss mulutnya yg ARGH ituu!! Nah kan emosyen lagee haha . Ok jadi gini mereka berdua tuh bocah (ekonomi menengah ke bawah) yg sangat meromantisasi nikah muda! Yang mikirnya tuh 'yuk nikah aja sekarang biar kita tiap hari bisa enak-enak. Aku bangun bs langsung liat kamu. Kita bs pelukan and cipokan tiap detik menit. Pokoknya kits bs ena2 tiap saat deh!!' . Pokoknya gak usah pusing apa itu financially stable, apa itu kontrasepsi, setelah nikah mo tinggal di mana, mo makan apa, urusan rumah gimana pembagiannya. Pokoknya mereka gas aja nikah sat set sat set. Nah giliran udah nikah tuh mantap dah tuh, masalah demi masalah muncul satu per satu gada abis2nya!! Ya cekcok dengan mertua lah, ya suami ga betah di rumah lah, ga cocok sama ipar lah, orang ketiga lah, ih pokoknya banyak bgtt deh!! Tapi justru di situu serunya, kita akan diliatkan se-real-real-nya apa yg terjadi di dunia nyata. . Semua tokoh yg ada di sini kuatttt bgttt karakterisasinya. Setting tempatnya juga jelas! Pokoknya bagus deh!! Yg punyaa anak/adek remaja yg kebelet nikah (pdhl keliatannya masih blm sanggup mengarungi bahtera rumah tangga yg berombak ini) fixx kalian harus kasih buku ini ke merekaaa, SURUH BACAAAA!!! Biar gada lagi Pipit-Pongky yg bertebaran di muka bumi :(((((((((
I think, the reviews in here said it all dan udah mewakili opini gue tentang buku ini. Insight buku ini sangat bagus, meskipun cover dan judulnya lumayan menipu karna isi di dalamnya bikin bergidik ngeri, lol.
Rekomen buat remaja2 nowadays yg pengen buru2 nikah, dijamin setelah baca buku ini bakal mikir ulang 2x untuk nikah di usia muda, haha.
Pipit dan Pongky yang usianya belum genap 20 tahun ingin menikah hanya karena ingin enaknya saja dan berlindung di balik pernyataan, "memangnya pacaran mau ngapain lagi? kan memang tujuannya untuk kawin." Orangtua Pongky juga sama aja ga beresnya, minta anaknya cepat-cepat menikahi Pipit karena katanya Pipit yang paling cocok dengan mereka dibanding mantan-mantan Pongky sebelumnya.
Di sisi lain, Pipit memang remaja bulol alias bucin tolol. Dia bahkan rela bolos sekolah banyak kali hanya demi bertemu dengan Pongky. Sebelum Pongky mengajaknya menikah, Pipit sudah beberapa minggu tidak masuk sekolah, sampai guru agamanya datang ke rumah. Ternyata, kabar bahwa Pipit akan menikah sudah sampai di telinga gurunya itu yang konon mendapatkan kabar dari Rodiyah, salah satu teman baik Pipit di sekolah.
Gurunya itu mencoba membujuk Pipit untuk kembali ke sekolah dan menyelesaikan pendidikannya dulu yang masih tersisa satu setengah tahun, tetapi Pipit menolak. Ia kekeuh ingin tetap menikah saja dengan merelakan pendidikannya, padahal sang guru sudah mengatakan bahwa setidaknya di zaman ini, kita memiliki ijazah SMA agar mudah ketika mencari kerja. Pipit tidak mau mendengar itu, yang berkelebat di kepalanya hanya perkataan Pongky bahwa yang penting kerja keras, tidak peduli dengan ijazah tingkat apa kek.
Bapaknya Pipit juga sama aja ga beresnya, malah menyuruh Pipit untuk segera menikah karena, "daripada zina" 🙂 di sisi lain, sebenarnya masih ada tokoh yang rada waras di sini, yaitu ibunya Pipit yang pada awalnya menentang keras pernikahan Pipit dengan Pongky, tapi ya mau bagaimana, Pipit dan bapaknya sudah mau-mau saja.
Akhirnya pernikahan mereka tetap dilangsungkan dengan segala keribetan dan emosi yang tertuang di sana. Ternyata, pernikahan tidak seindah yang dibayangkan oleh Pipit dan Pongky. Sisanya, bisa dibaca sendiri supaya emosinya makin kerasa. Dari awal sampai akhir konsisten bikin misuh👍👍👍
Akhirnya Ken Terate kembali bikin novel gini, setelah Minoel, buku ini yang hampir mirip dengan cerita Minoel. Pengantin Remaja adalah cerita pernikahan Pipit dan Pongky, yang kata Atin, masih bayi kok ya udah nikah.
Bagi orang di daerah, masih banyak yang memang menikah muda. Tapi Pipit yang belum selesai SMA udah ngebet kawin sama pacarnya si Pongky. Kayaknya saya mau muntah dengan segala lagak dan cerita manis Pipit soal Pongky. Umur 17 Pipit nikah dan meninggalkan sekolahnya. Tentu saja dia gak tahu apa yang akan terjadi dalam pernikahan. Suaminya jadi beda, keluarga sang suami yang kayak iblis, apalagi keributan dengan mertua, masalah keuangan, sifat asli pasangan, sampe eh hamil dan punya anak.
Banyak hal diceritakan dengan detail dalam buku ini. Bagaimana keluarga Pipit, sang ibuk yang sudah mengingatkan agar ia tidak menikah buru-buru, eh ya si bapaknya yang terkesan mendorong hal itu. Banyak juga yang nikah muda, ya gak kayak Pipit juga hidupnya. Mungkin karena dari keluarga berpunya, atau memang dapet pasangan yang gak sebrengsek Pongky.
Ken Terate menggambarkan dengan suram pernikahan muda yang tanpa persiapan, yang cuma bermodalkan cinta, tanpa tahu sifat pasangan kita, bagaimana menikah itu, hingga kesiapan mempunya anak dan menjadi orang tua. Sangat realistis. Bagian akhir, mungkin kita dihadapkan dengan happynya Pipit, tapi mungkin saja di luar sana banyak yang akhirnya depresi gak bisa melakukan apa-apa dengan hidupnya. Setidaknya buku ini mampu menuturkan banyak hal dari sisi Pipit dan remaja saat ini. Bagus banget buat dibaca para teenlit dan juga para orang tua tentunya.
Selain "Minoel", buku ini juga perlu nangkring di rak perpustakaan sekolah-sekolah.
Alasanku beli ini utamanya karena aku suka "Minoel"—ceritanya, narasinya yang bisa bikin cekikikan sesekali, dan pesan yang mau disampaikan. Buku ini juga bagus, walaupun aku lebih suka "Minoel". Oh iya kedua buku ini sama-sama berkutat dengan toxic relationship, bedanya dalam buku "Minoel" masih dalam tahap pacaran, sedangkan dalam buku "Pengantin Remaja" kedua tokoh utama sudah menikah.
Judul buku ini udah menggambarkan ceritanya secara garis besar. Di buku ini kalian akan berkenalan dengan Pipit dan Pongky, dua sejoli yang rasanya pengen nempel terus. Pipit merupakan siswa SMA, sedangkan Pongky beberapa tahun di atasnya—berprofesi sbg pekerja bengkel. Mereka bertemu di laundry milik keluarga Pipit kemudian jatuh cinta dan menjalin hubungan. Kemudian, Pongky melamarnya di bawah pohon jambu. Pipit sempat bimbang soalnya dia masih sekolah juga, tapi Pongky agak 'memaksa'. Dia bilang dia mau memiliki Pipit seutuhnya, kalo Pipit nolak lamaran dia maka hubungan mereka juga akan berakhir. Akhirnya, Pipit iyakan. Meski udah ditentang sana sini, pernikahan mereka tetep berjalan.
Pipit sudah membayangkan bagaimana kehidupan pernikahan romantis yang akan menantinya, seperti yang ja lihat di TV atau di media sosial. Nyatanya? Semua yang dialami Pipit berkebalikan dari hal tsb. Pongky jauh dari kata romantis dan bertanggungjawab. Bahkan setelah mereka punya anak.
Pipit terpikir utk cerai ga? Iya. Tapi dia gatau gimana caranya. Dan dia merasa ga punya duit utk itu. Ketika udah kepengen cerai pun, Pipit ga semudah itu lepas dari hubungannya dengan Pongky. Laki-laki ga guna itu selalu aja punya cara buat dateng lagi dan bikin Pipit luluh.
Namun, untungnya, setelah beratus-ratus halaman dibikin kesel sama tingkah Pipit (dan Pongky beserta keluarganya, tentu saja), akhirnya tokoh utama kita ini ada perkembangannya juga. Di usianya yang semakin bertambah, pola pikir Pipit juga semakin matang. Ending buku ini pas banget buat mengakhirinya.
Nah, sekarang mengenai review bukunya. Jujur aku ga banyak comment dah sama ni buku. Aku udah klik sama gaya nulis penulisnya, plotnya udah oke, semuanya juga oke. Ketebalan halamannya agak bikin kaget (karena "Minoel" ga setebel ini wkwk kupikir sama) tapi ternyata bisa dilahap dalam satu hari saking serunya buat dibaca.
Pesan paling penting yang ingin disampaikan buku ini adalah mengenai pernikahan. Nikah tu ga hanya indah-indahnya aja kyk yang ditampilkan di media, banyak hal gak terlihat lainnya dan tentunya selain cinta ya juga butuh uang. Makanya, kalo mau menikah harus siap secara finansial juga. Selain secara finansial ya harus siap secara emosional juga supaya gak egois macem si Pongky yg ongkang-ongkang kaki ga bantuin Pipit, malah melihara burung merpati yang entah untuk apa, kerjapun males. Dan siap dalam hal-hal lainnya juga. Nah kesiapan itu butuh umur yang mateng juga. Memang usia ga menentukan kedewasaan, tapi apalagi kalo emang masih usia remaja kyk si Pipit? Ya makin gak dewasa lagi dong? Makanya stop deh romantisasi nikah muda, terlebih yang usianya terhitung masih remaja, apalagi kalo ga siap apa-apa. Apalagi kalo belum teredukasi dengan baik mengenai pernikahan dan kehamilan (kyk si pipit yg planga plongo kebingungan sendiri pas lagi hamil, dan pongky masih jadi cowo ga guna yang ga merasa pemeriksaan kehamilan itu penting... orgil!!)
Kalo pesan-pesan yang tadi udah obvious banget sih ya. Selain itu, ada pesan lainnya yang gak kalah penting yaitu: never settle for the less—jgn kyk pipit yang merasa ga dicintai siapa-siapa lagi jadi yaudahlah walaupun pongky begitu dia akan tetep menerima. Lalu, jangan menggantungkan kebahagiaan kita sama orang lain atau sama hal lain. Bikin kebahagiaan untuk diri sendiri dulu :)
Udah sih ini kalo dijabarin lebih lanjut bakal ga kelar-kelar reviewnya. Singkatnya, buku ini recommended banget! Semoga kisah Pipit & Pongky ini bisa menginspirasi supaya gaada Pipit-Pipit yang lain!
meski marah-marah, sedih, miris dan beristigfar berkali-kali tapi banyak pelajaran yang bisa diambil, gatau kenapa dari 2 bab menuju ending udah nangis-nangis. mungkin karna ikutan engap, stress baca cerita Pipit dan disuguhkan ending yang cukup memuaskan (bagiku) jadi terharu.
Kalau Minoel mengangkat kekerasan dalam pacaran, Pengantin Remaja mengangkat tentang pernikahan usia dini. Kayaknya aku harus membuat warning kalau buku ini akan buat kamu kesal dan marah-marah, karena rasa kesal aja yang aku rasakan selama membaca. Pengantin Remaja ini rasanya seperti paket lengkap; selain mengangkat pernikahan dini, buku ini juga menyorot dampak patriarki dan misoginis terhadap perempuan.
Kita diajak mengikuti cerita Pipit, seorang remaja yang putus sekolah demi menikah. Umurnya masih 17 saat ia dilamar oleh pacarnya dan memutuskan untuk menikah. Apa Pipit menikah karena hamil duluan? Oh tidak, Pipit justru menikah karena begitu mencintai Pongky, meskipun berkali-kali ia memaparkan bahwa ia sendiri belum paham menikah itu untuk apa dan setelah menikah harus bagaimana.
Alih-alih mendapatkan kisah cinta bak sinetron, Pipit harus menelan sendiri tidak enaknya kehidupan setelah menikah. Ditambah lagi, Pongky yang kian terus memanipulasi dan bertingkah kasar terhadap Pipit sepanjang pernikahan mereka. Puncaknya adalah ketika Pipit hamil namun Pongky dan keluarganya sama sekali tidak membantu persalinan. Jangnkan mengirimkan dana persalinan, jengukin anak-cucu aja enggak!
Pengantin Remaja menampilkan realita yang--sayangnya--masih sering ditemui di Indonesia. Minimnya informasi dan edukasi serta budaya menikahkan anak untuk mengurangi 'beban' keluarga masih menjadi faktor terjadinya pernikahan usia dini. Ibu dan bayi yang akan mendapatkan dampak negatif dari pernikahan usia dini ini, sebagaimana dipaparkan juga oleh Mbak Ken Terate lewat buku ini.
Terlepas dari buku yang menurutku cukup 'berbobot', sayang saja penokohan dalam buku ini menurutku agak kurang. Pipit hampir tidak ada character development dari awal buku sampai 3 bab terakhir. Karakter Pipit ini terkesan stagnan dan dua dimensi. Berbeda dengan karakter Minoel yang cukup kuat dengan character development yang juga baik.
Beberapa poin yang dapat diambil dari buku ini: 1. We should never settle for less. 2. Kesiapan pernikahan itu tidak hanya ditandai dengan akil baligh saja, tapi juga kesiapan mental, fisik, juga edukasi yang cukup tentang pernikahan. Termasuk dengan edukasi seksual. 3. Ibu dan bayi yang akan merasakan dampak negatif paling besar dari pernikahan usia dini. 4. Menikahkan anak untuk menghindari zina hanya akan menciptakan dosa dan masalah yang baru di kemudian hari. Pun tidak dapat menjamin anak akan 100% terhindar dari zina setelah menikah.
Aku berharap, buku ini dapat ditemukan oleh para remaja di seluruh Indonesia dan orangtua yang ingin menikahkan anak di bawah umur.
Saat membaca buku ini aku keinget sinetron tahun 2000an & soundtracknya Pernikahan Dini🙈 Iya.. yg pemainnya Agnes Monica & Sahrul Gunawan😂 Bedanya ini ceritanya nggak percis gitu & tentu saja ini bukan tentang si Dini & Mas Gun🤣
Kisah ini milik Pipit & Pongki, dua insan yang di mabuk asmara sampai-sampai enggak bisa berpikir jernih. Mengatasnamakan cinta padahal mau ehem-ehem🙈 Mengatasnamakan ibadah padahal mau ena-ena😅 padahal sih usia mereka usia produktif untuk menuntut ilmu di bangku sekolah & kuliah.
Hal yg aku sukai adl beberapa dialog antara Atin dan Pipit yang terkesan blak-blakan, khas pembicaraan teman ke teman yg mana omongannya nggak ada saringan tapi bener. Terkesan kasar tp sebenarnya di real life sering kita jumpai. Atin adl kita yg misuh-misuh liat teman atau keluarga yg ndablek perkara cinta buat orang jadi bucin tanpa make otak🤬 sepanjang membaca buku ini, perasaanku terwakilkan dgn adanya Atin wkwk. Lopyu Atin😘🤣 Lalu persoalan anak mudanya jg membumi.. khas bgtlah seputar kuota internet, game online, tiktokan.
Kalau baca buku ini,berkali-kali kita akan dihadapkan dgn kondisi miris akibat pernikahan dini. Banyakan sih isinya: berantem-tobat-berantem-tobat-berantem-berantem-berantem-berantem.. ya gitu aja terus.. penulis seolah menunjukkan bahwa merubah karakter seseorang tuh gak semudah membalikkan telapak tangan, jd guys..hati-hati memilih pasangan hidup!
Alih-alih kita memaki Pipit dgn kalimat: “Bego lu Pit!”— Penulis gak ngebiarin kita buat asal ngejudge, ya kita dibuat memahami dgn orang yg pikirannya pendek soal pernikahan. Bisa saja orang itu ada konflik keluarga,semisal kurang diperhatikan orangtuanya.Utk anak perempuan, peran kasih sayang seorang Ayah kpd anak perempuannya berperan besar dlm mendidik pola pikir si anak.Jd berimbang ygy sebab akibatnya.
Ohya, sblm membaca buku ini, aku sempat nonton live penulis bareng penerbit. Jd, aku cukup tau bahwa #PengantinRemaja ditulis krn maraknya persoalan menikah muda belakangan ini. Aku salut, penulis berani menuliskan konflik yg cukup kontroversional ini dgn bahasa yg ringan & enjoy buat dibaca.
Terimakasih kpd #KenTerate yg sdh menulis buku ini, aku menikmatinya💕
My first book in 2023. Lumayan cepet bacanya, dan lumayan dapat feel kesalnya dengan Pipit dan Pongky. Menurutku buku ini bacaan wajib buat semua remaja terutama remaja cewek dan yang ngebet pengen nikah dan putus sekolah.
Ceritanya tentang Pipit yang saat itu masih sekolah namun sudah dilamar pacarnya Pongky. Keluarganya menentang, mengatakan itu terlalu cepat. Setidaknya menunggu sampai lulus dan mendapatkan ijazah. Hanya Bapak Pipit yang tidak peduli. Dan siapa yang bisa benar - benar melarang pasangan yang sedang di mabuk asmara?
Diusianya yang masih sangat muda, Pipit akhirnya menikah dan putus sekolah. Pipit berpikir setelah menikah selain bisa bebas melakukan apa saja dengan suaminya dan tidak dianggap berzinah, dia juga akan diperlakukan bak putri oleh Pongki suaminya. Siapa sangka alih - alih diperlakukan seperti putri, Pipit malah dijadikan bak babu bagi keluarga Pongki. Menyesal? Sudah terlambat!
Perasaanku campur aduk baca buku ini. Di satu sisi, aku kasihan dengan Pipit yang gampang terbuai dengan rayuan, Pipit terlalu polos, bego atau bodoh menurut Atin. Terlalu banyak menonton sinetron menurutku. Jadi pikirannya tidak realistis. Pengalaman adalah pelajaran yang sangat berharga, jadi petiklah hikmah dari pengalaman Pipit. Sekolah itu penting. Jangan pernah tinggalkan sekolah untuk ajakan menikah dari pacar. Jika dia memang mencintaimu, dia pasti akan menunggu. Jika dia tidak sabar dan ingin putus, SEGERA PUTUSKAN DIA! Yakinlah, dia tidak layak untukmu. Jalanmu masih panjang, jangan mengorbankan masa depanmu untuk laki - laki, terutama yang manipulatif. Tentu dia akan terus membujuk dan merayumu, itulah pentingnya untuk mendengar nasehat dari keluarga, terutama ibumu.
Dengar, jangan pernah menggantungkan kebahagiaanmu pada orang lain. Andalkan dirimu sendiri. Kalau lo pengin punya duit banyak, cari sendiri. Jangan nunggu duit dari orang. Kalau lo pengin merdeka, jangan nunggu dikasih sama orang. Merdekakan dirimu sendiri." - Atin
PS : buku ini selain cocok untuk remaja, cocok juga untuk para ibu yang punya anak perempuan. Bacalah buku ini setidaknya sekali dalam hidupmu. Kamu akan mengerti nanti.
Novel ini mengangkat tentang pernikahan dini dan kemiskinan struktural. Seorang anak remaja yang putus sekolah dan memilih menikah pada usianya yg ke 17 tahun. Menurutnya setelah menikah hidup dia akan bahagia berdua dengan sang kekasih seperti di sinetron-sinetron yang suka ia tonton di TV.
Punya rumah mewah, mobil, pergi kemana saja berdua, makan berdua tidak ada yang menghalangi dan halal. Tapi kenyataan hidup tidak seperti itu. Setelah menikah ia malah merasa sengsara dan suami yang ia bayangkan ternyata sangat berbeda saat masih pacaran.
Ditambah lagi masalah ekonomi dan juga masalah keluarganya yg tidak ada habisnya membuatnya jatuh terperosok semakin dalam membuat hidupnya benar-benar berubah dan berakhir pada penyesalan mengapa dia dibutakan oleh cinta dan memilih berhenti sekolah.
Hampir semua karakter dalam novel ini menyebalkan tapi penggambaran ceritanya sangat relate dengan kehidupan masyarakat kita. Nyesek dan miris.
Aku sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh para remaja khususnya yang menganggap pacaran lebih menyenangkan dibandingkan belajar. Remaja yang lagi di mabuk cinta menjadi salah mengambil keputusan hidup yang malah membuat terjerumus dan berakhir menjadi penyesalan.
Dari judulnya aja kita tahu, kalo ini bakal nyeritain tentang pengantin remaja.
Di awal buku aku lumayan geregetan sama Pipit 🙂 dari awal udah dilarang buat menikah sama ibunya, eh dia malah ngambek dan kabur sama pacarnya. Tapi setelah baca lumayan jauh, aku jadi sadar kenapa pipit nekat mau nikah. Salah satu alasannya karena pacarnya manipulatif, juga dia kurang kasih sayang dari orangtuanya, aku jadi lebih memahami si Pipit ini.
Baca penderitaan Pipit selama menikah juga ga kalah bikin ngeri dan capek :( point problem di buku ini adalah Pipit yang menikah terlalu awal sedangkan usianya belum matang, tapi gabisa menyalahkan Pipit juga, mau nyalahin Pongky? Ibu Pipit? Atau lingkungan Pipit? Seakan semuanya tu memberikan dampak pada Pipit gabisa nyalahin satu pihak aja :(
Buku ini ngajarin aku banyak hal, tapi aku ga merekomendasikan baca buku ini kalau kalian takut nikah (kayak aku) karena sekarang aku jadi ngeri banget buat nikah. Tapi ambil sisi positifnya, ini bikin aku sadar kalau nikah itu tentang banyak hal, bukan tentang aku dan dia aja tapi juga banyak hal lainnya, kalau belum siap mental, fisik, dan materi jangan menikah, atau nanti malah ngerepotin orangtua dan orang-orang sekitar.
Walaupun narasinya maju mundur kayak setrikaan ibunya Pipit, aku nggak terganggu sama sekali. Aku malah terganggu sama betapa akuratnya deskripsi kehidupan yang digambarkan penulis di buku ini. Ini rasanya kayak nguping gosipnya ibuku+tanteku+nenekku! Aku suka banget gaya-gaya ngejek dan sarkastisnya. Dan meskipun tokoh utamanya bebal, ndablek, drama queen, tapi seneng juga akhirnya dia berubah meskipun harus melewati berbagai kepahitan hidup dulu.
SEBEL WOY, capek baca buku ini. Gregetan sama pipit ponky😠👊🏻 Tapi karya ken satu ini ditutup dgn melegakan. Penulisan konflik dan alur yg dibuat realistis worth to read untuk remaja maupun orang tua
Setelah membahas isu kekerasan dalam pacaran (KDP) dalam Minoel, di buku ini Ken Terate membahas tentang pernikahan dini yang dialami Pipit. Pipit berpacaran dengan Pongky yang terus-terusan ngajak nikah, padahal Pipit bahkan belum lulus SMA! Ibu Pipit yang merupakan "pengusaha" laundry, menentang mati-matian keputusan Pipit untuk menikahi Pongky yang bahkan untuk mengurus dirinya sendiri saja gak becus (ya iya, ibu mana yang rela anaknya nikah sama cowok macam Pongky!) tapi bapaknya malah setuju untuk menikahkan anaknya dengan dalih mengurangi biaya rumah tangga. Pipit yang katanya punya tujuan hidup untuk bahagia bersama Pongky seorang, akhirnya setuju untuk menikah dan mengabaikan larangan ibunya. Tapi nyatanya setelah menikah bukan bahagia yang didapat Pipit melainkan neraka di atas bumi. Pipit harus pindah ke rumah Pongky yang sempit dan tinggal bersama adik ipar yang super rese dan mertua yang gemar memperlakukannya seperti babu. Pongky yang selama pacaran menjanjikan Pipit ini itu ina pun mulai menunjukkan sifat aslinya yang bikin aku menghadeuh terus-terusan. Ckck
Pipit mulai misuh-misuh, mulai sebal, kesal, dan akhirnya balik ke rumah orang tuanya. Tapi orang tua Pongky tentu tidak rela kehilangan babu yang ia dapat dengan membayar mahar seharga 5 juta jadi dijemput lagi Pipit dan gitu aja terus sampai seantero kampung tahu prahara rumah tangga Pipit dan Pongky. Atin yang merupakan sepupu Pipit yang merantau ke Jakarta tidak pernah bosan untuk ngata-ngatain keputusan Pipit untuk menikah muda. Aku pun jadi pingin ikutan ngata-ngatain juga. Huh..
Sepanjang 300 sekian halaman, aku diajak mengikuti dunia Pipit yang jungkir balik setelah menikah. Pernikahannya tidaklah seindah yang dilihat Pipit di sinetron (ya jelas!). Keadaan diperparah setelah Pipit tahu bahwa dirinya hamil! Sungguhlah aku perlu kesabaran ekstra buat "menghadapi" si Pipit ini karena mbok ya ditinggal aja atuh suamimu yang begajulan begitu sampai selingkuh terang-terangan juga di depan matamu, Pit 😩😩
Waktu ikutan diskusi buku ini bareng Santai Ngobrolin Buku dan penulisnya (yang bikin aku bisa baca buku ini karena menang GA nya. Terima kasih..) rasanya seru banget membedah masalah remaja yang kebelet kawin tanpa tahu tanggung jawab sebenarnya dari menikah tuh apa dan tanpa tahu juga kalau masih ada dunia yang lebih luas kalau mereka gak nikah muda. Tapi ku rasa perkara menikah muda ini adalah isu sosial yang seperti gunung es. Seperti dalam buku ini, keputusan Pipit untuk menikah muda dipengaruhi beberapa faktor seperti ia yang gak paham pentingnya pendidikan tinggi dan gak punya gambaran tentang masa depan dan juga dikelilingi oleh orang-orang yang serupa karena tinggalnya di kampung (orang yang merantau dan bisa sukses di ibu kota ibarat anomali). Faktor kemiskinan pun menjadi faktor pendorong pernikahan dini karena para orang tua menganggap jika putrinya menikah maka tanggung jawab mereka secara finansial berkurang satu, padahal belum tentu yang nikahin putrinya itu sudah mapan.
Pipit yang menikah muda dalam kondisi belum dewasa dan juga kondisi keuangan yang jauh dari kata mapan seolah menjadi potret dari kemiskinan struktural yang terjadi di masyarakat, terutama masyarakat di kota kecil dan perkampungan. Aku suka dengan closure yang diberikan untuk Pipit di akhir cerita yang membuatnya bisa sadar bahwa hidup itu gak seperti sinetron. Tapii.. meski begitu, aku merasa kalau konflik di buku ini terlalu "riuh" karena semua tokoh di dalam buku ini pasti ada-ada aja tingkahnya yang bikin kehidupan Pipit yang udah muram makin "terlihat" butek. Doh.. Seolah semua konflik kehidupan diborong semua sama si Pipit :') Aku juga sering bingung dengan alur ceritanya karena ada beberapa bagian yang terasa "tau-tau begitu" sampai aku harus membalik halaman-halaman sebelumnya karena ku pikir ada yang terlewat.
Dan lagi aku jadi berpikir-pikir, di Indonesia ada berapa banyak remaja yang kebelet kawin kayak Pipit dan ada berapa yang akhirnya bisa punya kesempatan yang lebih baik kayak Pipit.. Secara keseluruhan, aku merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh lebih banyak orang, terutama remaja yang perlu diberi tahu bahwa masih ada banyak jalan menuju masa depan yang (lebih) cerah selain menikah dini.
“Dengar, jangan pernah menggantungkan kebahagiaanmu pada orang lain. Andalkan dirimu sendiri. Kalau lo pengin punya duit banyak, cari sendiri. Jangan nunggu duit dari orang. Kalau lo pengin merdeka, jangan nunggu dikasih sama orang. Merdekan dirimu sendiri.”
“Belajar, Pit. Kamu sudah menikah. Nggak bisa kayak dulu lagi. Perlu lebih banyak sabar. Lebih rajin. Lebih kuat. Lebih tahan banting. Hidupmu bukan untuk mu lagi. Saat menikah, kamu nggak hanya menikahi satu orang. Tapi menikahi seluruh keluarganya. Keluarga besar malah.”
“Kesalahan. Siapa yang tidak pernah melakukannya? Yang membedakan hanyalah apakah kita belajar dari kesalahan itu atau tidak. Aku mungkin gagal, tetapi aku memilih belajar dan akhirnya, hari ini, tanpa menunggu orang lain untuk memberi, aku bisa menciptakan kebahagiaanku sendiri.
Bahwa setelah melakukan kesalahan, aku bisa bangkit dan memulai awal baru.”
Sumpaaaah.. selama membaca novel ini bener-bener bikin aku emosi. Aku benci sama bapaknya Pipit yang menurutku nggak berguna dan malah menjerumuskan Pipit buat nikah muda. Aku benci sama si Pipit, nih bocah polosnya kebangetan dan jatuhnya lebih ke bego. Terus gitu bebal banget, dinasihati nggak mau denger. Aku benci si Pongki, lelaki lakn*t yang suka umbar janji tapi minim tanggung jawab. Aku juga benci sama keluarganya Pongki yang kayak set*n semua.
Duuuh.. Bener-bener nguras emosi baca kisahnya Pipit ini. Rasanya pengin banget Aku jambak atau nampar si Pipit biar dia tuh sadar gitu lho. Greget banget soalnya sama dia. Ya, walau di sisi lain aku juga kasihan sama dia. Ku acungi jempol buat mbak Ken terate karena sudah berhasil membuat pembaca hanyut dalam arus cerita. Sehingga pembaca bisa ngerasain gimana ruwetnya kehidupan Pipit dan keluarganya
Jujur ya, pas pertama lihat cover. Pikirku ini novel bakal sweet, yang ceritaiin kisah cinta remaja yang akhirnya memilih menikah muda, menikah setelah lulus SMA gitu. Nggak tahunya... di luar ekspektasiku. Aku sampai bertanya-tanya kenapa mesti harus pake seragam SMA di sampulnya, nggak nyambung banget dong. Dan, rasa penasaranku baru terjawab entah di halaman berapa—aku lupa, kenapa gambar cowok-cewek di cover pake seragam SMA.
Ya.. walau kisahnya nggak sweet, tapi apa yang ditulis mbak Ken Terate ini bener-bener realistis. Kita sering menjumpai kehidupan seperti kehidupan yang dijalani oleh Pipit ini di dunia nyata. Banyak sekali remaja yang nekat menikah hanya dengan modal cinta. Mereka nggak tahu, nikah nggak cukup hanya dengan cinta. Mereka nggak tahu gimana ruwetnya kehidupan rumah tangga. Yang mereka pikirin cuma indah-indahnya saja. Ya maklum lah.. namanya juga lagi di mabuk asmara. Yang dipikirin ya cuma cinta doang. Nah kalau udah kejadian kayak si Pipit gini baru tahu rasa.
Ini novel rekomen banget sih buat dibaca, khususnya untuk para remaja. Karena kisah Pipit ini bisa dijadikan pelajaran, sehingga akan berpikir seribu kali untuk memutuskan menikah muda. Biar nggak nyesel dikemudian hari kayak si Pipit.
Aku kasih 4/5 🌟 untuk novel ‘Pengantin Remaja’ ini. Ceritanya bagus. Endingnya juga memuaskan. Aku suka dengan perkembangan Pipit, dia jauh lebih berpikir dewasa. Dia berani memilih untuk mengakhiri hubungan toxic-nya dan memilih untuk bangkit dari keterpurukannya.
*FYI: Tokoh favoritku di novel ini tuh Ibunya Pipit, si Atin sama Alicia. - Ibunya Pipit yang sabar tapi tegas. Dia selalu jadi garda terdepan buat Pipit. - Si Atin yang orangnya ceplas-ceplos dan blak-blakan tapi setiap nasihatnya selalu bener. Dia yang selalu ada buat menolong Pipit. - Lalu si Alicia, dia ini majikan yang baik banget. Dia memberikan wawasan serta mengarahkan Pipit pada kebaikan. Setiap nasihatnya tidak pernah menggurui, dia membiarkan Pipit untuk mencari tahu jawabannya sendiri.
Akhirnya ketemu novel remaja yang memang remaja. Novel teen/YA yang nggak cuma nyorot anak-anak kota, tapi juga anak-anak urban yang gembleng:) Sebagai penikmat realistic fiction, ini yang aku cari. Isu sosial keangkat, cerita apa adanya, pelajarannya nendang, edukatif. Komplit!
Jadi ini bukan novel dengan alur yang progresif. Memang alurnya maju--mundur beberapa adegan--tapi bukan cerita yang lebih menekankan pada alur signifikan. Pengantin Remaja ini lebih kayak menyajikan alur yang ada kepada pembaca. Ibarat kata, sebanyak 388 halaman itu, isinya tentang pait kecutnya para remaja yang kebelet nikah padahal nggak siap apa-apa (pendidikan, ekonomi, duit, pengetahuan, sampe nggak siap mental). Jadi dengan lusinan masalah yang ada, kita sebagai pembaca disuapi dengan seabrek kenyataan pahit yang menggunung (kayak tumpukan laundrynya emak Pipit). Misal masalah duit, dipaparin gimana riwehnya, ruwetnya, capeknya ngebahas masalah duit yang nggak stabil pemasukannya. Masalah mertua masing-masing, dliatin sampe ikut ngerasain kena omelan mulu. Masalah suami jadi bang toyib, hamil, frustrasi, semuanya dilempar-lempar ke pembaca sampe sepanjang cerita tuh aku cuma dibuat ngelus dada.
Geblek banget sama tingkah Pipit yang pengen kena jitak plus Pongky yang aduuuuuh bikin pusing!! Untung Rodyah, Noni, sama Atin bikin mood naek dengan tingkah sablek mereka:)
Dan kerennya, hal yang digambarin--semua keruwetan ini--memang benar adanya! Sebagai makhluk yang tinggal di wilayah pedesaan di pinggiran Palembang, banyakkk banget aku nyaksiin fenomena pengantin remaja ini. Dan emang kurang lebih nasibnya kayak Pipit sama Pongky ini (tahan napas aja). Bahkan aku ngeliat sendiri ada yang tengkar sama suami/istrinya lewat status facebook dan WA, persisssssss bgt kayak Pipit dan Pongky.
Respek banget sama ceritanya. Memang pendidikan sepenting itu gengsTT entah endingnya masih jadi ibu rumah tangga ya tetep, perlu edukasi dan pengetahuan yang baik sekadar untuk menjadi ibu yang baik. Ngasuh anak kucing aja perlu banyak hal-hal yang di antisipasi, apalagi anak sendiri. Dan klimaksnya diakhiri dengan baik. Andaikan banyak anak-anak di sekitar tempat tinggalku yang bisa berkembang kayak gini--meski alhamdulillahnya sekarang generasi di bawahku pada punya minat kuat untuk ngelanjutin pendidikan stinggi mungkin TT
Salut sama cerita ini! Super Duper Highly Recomended!!!
Aku sebenernya nggak tau harus review novel ini kayak gimana. Padahal udah banyak kalimat bada$$ yang kutandain pake sticky notes seputar isu-isu sosial. Macem kuliah Cross Cultural Understanding gitu.
Well, kalo pengen tau progres baca a.k.a spoiler tipis², bisa ke twit-ku di sini. But still, I don’t want to spoil your fun in figuring out the whole things. Jadi, aku bakal ngejabarin kesan-kesanku selama baca dan apa aja yang kurasain selama ngikutin perjalanan cinta Pipit.
Awalnya, aku dapet kesan novel ini mirip Minoel, cuman vibe-nya lebih ringan dan “fun”. Banyak discourse tentang isu sosial di sini, mulai nikah muda, cowok yang ga bisa tanggung jawab dan cuma bisa males-malesan, permasalahan rumah tangga, tetangga yang kelewat kepo... banyak deh. Rasanya kayak baca gosip soal orang satu kampung sepanjang buku 🙈🙈🙈
Sepanjang baca, aku ikut ngerasain apa pun yang dialami Pipit. Kadang aku kasihan, tapi kadang pengen ngapok-ngapokin juga. Pas bagian menuju ending pun, aku masih sempat bereaksi gini saking gemesnya:
Satu yang bikin aku mikir. Mungkin sebenernya pelaku nikah muda kurang privileged tentang pengetahuan dan kesadaran soal nikah, punya anak, bahkan keamanan selama berhubungan seks. Nah, masyarakat, orang-orang sekitar, yang lebih tahu dan lebih aware, justru ga bisa kasih saran atau wejangan dari hati ke hati. Bisanya cuma nge-judge, nyalahin, dan muasin ego sendiri buat ngapok-ngapokin.
Iya, yang salah tetep pembuat keputusan yang gegabah dan berakhir messed up, cuman mungkin masyarakat yang kurang berempati juga punya andil tersendiri bikin si pelaku (kayak Pipit) makin clueless dan merasa masalahnya semakin runyam. :")
Intinya, aku seneng selama baca. Aku juga puas sama akhirnya. Semua punya closure-nya masing-masing. Aku juga suka adegan pas Semoga lebih banyak lagi novel lokal yang ngangkat isu keren kayak gini. The world needs to know kalo nikah semasa SMA ga cuma sekadar uwu-uwuan semua beres, tapi juga harus dikasih tau realita yang sungguh asghhskjdsjk ini, wkwkwk. ( ̄ w ̄)🍝🍝🍝["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku yang nyeritain kalau nikah itu bukan cuman sekedar cinta doang. MAKAN TUH CINTA. Nikah itu pokonya harus siap finansial, ilmu baik agama maupun parenting, dan mental. Nikah ngga tentang kamu dan aku, tapi juga keluarga besar. Buku ini menjelaskan betapa mirisnya salah pergaulan. Tapi kalau ditelusuri sebab akibat semua ini adalah faktor kemiskinan, bullying, dan ilmu agama. Pipit sebagai tokoh utama dia adalah korban bullying di sekolah. Pipit yang lugu, labil dan bodoh menurut guru dan teman-temannya merasa menjadi spesial setelah Pongky hadir di hidupnya, dia merasa wah ada yang bikin gue seneng nih. Pipit emang ngga punya prinsip hidup dia juga emang korban broken home duh. Pipit kemakan bujuk rayu Pongky yang bakal buat dia bahagia jika menikah dengannya. Kenyataan ngga seindah yang di sinetron, nasib udah jadi bubur.
Si Pongky ini gue rasa dia juga dapet tekanan sosial karena di nyinyirin tetangga, dia juga sih ngga mikir terlalu jauh kalau nikah itu ngga seenak yang dibayangkan akhirnya dia ngga bisa bertanggung jawab dan malah playing victim.
Gue sakit hati banget pas Pipit ngelahirin anak dan dia kayak tidak menginginkan anaknya, kayak berapa kali dia mau mencoba membunuh bayi yang tidak berdosa yang kalau bayi itu bisa ngmg gue juga ngga mau dilahirin. Kasus ibu membunuh anaknya juga banyak kan di Indonesia.
Perang status WA buat umbar aib laki atau bini sendiri. Duh, bocah banget kan :'( ya relate banget dah sama jaman now.
Cekcok sama mertua, menggunakan dalil agama buat nafsu hingga pertengkaran yang terjadi karena tidak mau ngalah ini relate banget.
Pokonya penulis keren sih, berani nulis secara gamblang kayak udah bukan aib lagi. Semua yang ditulis 99,9% bener banget. Narasi, dialognya apik.
sepanjang cerita greget banget sama pipit :) untungnya di akhir dia taubat, walaupun proses berkembangnya dia jadi lebih baik itu diceritain singkat sih. hampir satu buku itu nyeritain dinamika-nya pipit (remaja) yang lebih milih untuk menikah dibandingkan lanjut sekolah. prosesnya pipit ituloh, yang kadang sadar, tapi dia malah 'tutup mata' atau dia yang terlalu positive thinking hingga lagi-lagi 'kebobolan'. ya memangg gitu sih secara umum juga, gak bakal dalam sekali 'diingetin' langsung sadar. greget nya dapet. tapi di satu sisi gak bisa menyalahkan pipit seratus persen juga. ya.....permasalahan sistemik sih ini :)
selain masalah pernikahan remaja, buku ini juga membahas mengenai patriarki. ada line yang aku suka banget disini, ketika ibuk bilang ke pipit kalau perempuan itu malang-mujurnya cuman sekali. ya kalau dapat suami baik artinya akan untung terus. kalau dapet suami yang gak baik, ya apes sudah. dan disitu pipit mikir, kalau untung malangnya perempuan cuman sekali, berapa kali untung-malangnya laki-laki? pertanyaan yang tentu saja gak bisa aku jawab karena aku juga perempuan HA HA :)
aku bisa ikut ngerasain capeknya pipit sebagai istri, pipit sebagai ibu dan ibuk-nya pipit. pengalaman yang sayangnya umum buat banyak perempuan. capek banget ya ternyata jadi perempuan :) semangat untuk perempuan-perempuan di luar sana yaa...
"Dengar, jangan menggantungkan kebahagiaanmu pada orang lain. Andalkan dirimu sendiri. Kalau lo pengin punya duit banyak, cari sendiri. Jangan nunggu duit dari orang. Kalau lo pengin ke Dufan, berangkat sendiri. Jangan nunggu ada yang ngajak. Kalau lo pengin merdeka, jangan nunggu dikasih sama orang. Merdekakan dirimu sendiri." - Atin (p. 156)
Salah satu buku yang cocok dibaca sekali duduk karna ceritanya ngalir. Tapi siap-siap aja deh bakalan pusing pas baca karna isinya orang-orang suka ribut haha, saya juga kesel sama semua karakternya walaupun memang dibuat realistis. Character development-nya juga oke cuma penyelesaiannya terburu-buru aja dan tiba-tiba.
Saya suka pesan yang mau disampaikan penulis lewat kisah Pipit ini, dimulai dari edukasi tentang pernikahan (terutama nikah muda) dimana kita harus pertimbangin secara matang-matang saat kita mau menikah dengan seseorang dan buat reminder kalau setiap orang pasti ada waktunya untuk berubah dan bertumbuh kalau orang tersebut memang ada keinginan menjadi lebih baik.
Dari judulnya, kirain ini novel YA alay ala2 Wattpad yang nama tokonya aneh2 dan ga realistis banget jalan ceritanya. Yang meromantisasi pernikahan dini, betapa indahnya hidup bersama ayang, dan another shit yang sering ada di cerita2 remaja. Dannnn ternyata it's not. Buku ini membahas kebalikannya. Kisah remaja yang nikah muda, ga kelarin sekolah dan lebih memilih untuk berumah tangga, dan bagaimana kehidupan mereka menjalani pilihan tersebut. Ceritanya disusun dengan plot realistis, dan menyelipkan pesan2 dengan sangat soft.