Mungkin saya terkesan kejam memberikan penilaian bintang 2 di buku ini, mengingat betapa banyaknya penilaian bintang 5 untuk buku ini di Goodreads dan besarnya animo komunitas literasi di Twitter tentang buku ini (dan karena hype dari komunitas itulah yang akhirnya membuat saya memboyong buku ini dengan ringannya).
Tapi memang seharusnya kita beli buku jangan atas dasar viral wkwk (sebuah pelajaran hidup yang muncul setelah membaca buku ini).
Dua bintang yang saya berikan pun karena apresiasi saya terhadap nilai-nilai yang diberikan kepada buku ini tentang:
1. Sorot kehidupan bagi para keluarga yang ditinggalkan orang-orang yang dihilangkan paksa;
2. Perjuangan keluarga orang-orang yang dihilangkan paksa demi menguak kebenaran;
3. Tokoh perempuan seperti Kinan dan Asmara yang punya pendirian (Anjani sengaja enggak saya libatkan, kisah Rama dan Sita-nya saya anggap membuat dia cuma tokoh perempuan sok feminis).
3 bintang yang luput dari penilaian yang sangat subyektif ini akan saya jabarkan sebagai berikut.
Penulisan
Menurut saya pribadi, buku ini akan lebih mendebarkan apabila ditulis tidak dengan alur maju mundur. Karena di Prolog, kita sudah disuguhi dengan adegan Laut yang dibunuh dengan cara ditenggelamkan di laut. Seandainya adegan Laut dibunuh ini diletakkan di akhir, sepanjang kita membaca cerita, kita akan terus membalik halaman karena ingin tahu apa yang terjadi dengan nasib Laut. Masalahnya, karena dari awal saya sudah tahu Laut dibunuh, alasan saya bersabar membalik halaman sampai akhir adalah saya ingin tahu keseruan buku ini di bagian apa, dan bagian mana yang membuat buku ini diklaim oleh komunitas literasi di Twitter sebagai buku sastra terbaik dan wajib dibaca. Yang ternyata, bagi saya, adalah suatu pernyataan yang overclaimed.
Masih tentang alur, menurut saya, kalau pembaca dibikin bersimpati dengan kisah kehangatan keluarga dan persahabatan Laut di bagian awal, kemudian secara bertahap dilanjutkan dengan perjuangan membantu petani lalu adegan penyiksaan, pembaca akan lebih terenyuh mengenang hidup Laut yang dia tinggalkan saat menghadapi penahanan. Tapi karena alurnya maju mundur, baru saja kita mendapat gambaran soal siksaan, tahu-tahu dilanjutkan soal kisah acara makan malam mingguan bersama keluarga, lalu dilanjutkan penyiksaan lagi, lalu dilanjutkan soal kisah percintaan dan persahabatan lagi. Kita enggak diberikan kesempatan untuk menyelami setiap perasaan di buku ini.
Selanjutnya kita beralih ke bagian pace buku ini. Lambatnya bukan main. Saya bahkan beberapa kali kehilangan lini masa kejadian dalam buku ini dan membacanya skimming (apalagi bagian tengah dan belakang buku). Saya menguap beberapa kali.
Di beberapa bagian, Bu Leila S. Chudori pandai merangkai kata-kata, tapi sebagaimana jurnalis/wartawan, ada beberapa bagian yang diceritakan terlalu kaku seakan-akan saya bukan sedang membaca sebuah karya fiksi, melainkan laporan yang diketik jurnalis. Gaya bahasa Laut dan Asmara pun tidak ada perbedaan yang signifikan, seakan saya sedang membaca cerita dari orang yang sama.
Lalu di beberapa bagian yang lain, banyak informasi yang tidak penting di dalam buku ini, yang tadinya saya pikir akan menambah pembangunan jalan cerita. Tapi sampai akhir, ternyata informasi yang berlebihan ini tadi hanya sepintas lalu, tidak memberikan aspek yang berarti terhadap jalannya cerita. Yang saya ketahui, naskah novel biasanya mengalami pemangkasan ketika mau diterbitkan, dan saya membayangkan seberlebihan apa buku ini sebelum menjadi buku yang layak diluncurkan di toko buku (karena bentuk akhirnya saja bertele-tele).
Saya juga mengerti bahwa karakter fiksi harus punya latar belakang sehingga terasa hidup bagi para pembaca. Masalahnya, Bu Leila memperkenalkan tokoh-tokohnya yang sangat banyak ini sekaligus dalam narasi deskriptif berlembar-lembar. Saya pribadi enggak merasa karakter-karakter dalam cerita ini melekat karena ya bagaimana mau mengingatnya kalau setiap karakter diperkenalkan langsung dalam satu bab? Bahkan untuk karakter utama sendiri, Laut Biru Wibisana, tidak melekat bagi saya. Ditambah lagi, kita mengenal tokoh-tokoh lain di sekitar Laut bukan karena kita melihat dari tingkah laku mereka, atau kebiasaan mereka, tapi karena Laut bilang kawannya yang satu feminis, yang satu lagi tukang debat, yang satu lagi bawel. Teori "Show, Don't Tell" tidak berlaku di buku ini.
Tema yang diangkat padahal bagus sekali. Tapi saya pikir buku ini akan menjadi cerita tentang Laut Biru yang heroik, patriotik, nan berkobar-kobar melawan rezim pemerintahan yang korup. Ternyata, alih-alih heroik, patriotik, nan berkobar-kobar, buku ini lebih bernada melankolis. Itulah kenapa saya mengapresiasi buku ini untuk bagian perjuangan keluarga orang-orang yang dihilangkan.
Ke-astagfirullah-an Buku ini
Saya sebenarnya bingung apa yang mendasari Laut menjadi aktivis. Maksud saya, iya saya tahu Laut jadi aktivis karena ketemu Kinan di tempat fotokopi yang lagi mau menggandakan buku Pramoedya Ananta Toer dan dikasih pemahaman soal harus melawan pemerintahan ini, tapi menurut saya, itu bukan alasan yang fundamental untuk bisa menarik simpati saya kepada Laut. Bagi saya, Laut ini semacam mas-mas yang mau jadi aktivis karena kebetulan dia adalah mahasiswa yang suka baca buku saja. And Mas Laut, mentioning Pramoedya Ananta Toer and Gabriel Garcia Marquez thousand times doesn't make you automatically a cool, heroic, and poetic person. Mas-mas sok edgy aja beliau ini bagi saya.
Interaksi antara Laut dan teman-temannya juga kurang mendalam. Saya juga bingung kenapa mereka disebut sahabat. Percakapan mereka kebanyakan kurang penting, baru lumayan penting saat mereka ditahan saja. Dan kisah romansa Laut sama Anjani? CRINGE AS HELL.
Anjani dan Laut tidak semendalam itu kisah romansanya, tapi kok bisa-bisanya Anjani jadi depresi berat setelah Laut menghilang? Asmara dan Alex juga kurang lebih (tapi masih agak mendingan lah koneksi Asmara dan Alex).
DAN ADEGAN SEKS DI BUKU INI????? KENAPA HARUS ADA? ITU TIDAK MENAMBAH ASPEK KEDALAMAN APA PUN DALAM CERITA INI, APALAGI DIMASUKKAN KE DALAM MOMEN-MOMEN YANG ENGGAK PAS????? Soal Laut yang habis babak belur terus tiba-tiba ciuman sama Anjani, dan tiba-tiba Laut TERANGSANG??? I nearly throw away this book honestly. Dan yang lebih mengherankan lagi, saya ingat bagian Asmara lagi cerita kebahagiaannya bahwa dia diterima residensi sebagai dokter bedah forensik, sebuah cita-cita yang menurut saya sangat keren dan sangat membuat saya bangga. Terus tanggapan Alex? Dia ngucapin selamat, mendadak ciuman sama Asmara, DAN MEREKA NGESEKS. Pada saat itu mereka juga sudah putus. I screamed out of frustration during that part. Kalau saya punya pacar yang langsung ngajak ngewe setelah saya mengumumkan prestasi saya, I'll kill that man.
Buku ini entah kenapa doyan sekali menceritakan soal makanan. Bahkan bisa berparagraf-paragraf panjangnya. Dan sedetail itu. Bagi saya, saya tidak memerlukan detail semacam itu. Harusnya detail yang digali adalah apa langkah-langkah yang dilakukan Laut sampai dia dijadikan Sekjen Winatra (adakah disebut? Seingat saya kita cuma dikasih tahu bahwa dia Sekjen, tanpa tahu alasannya), segagah apa pergerakan Winatra dan Wirasena sampai dianggap sebagai organisasi terlarang oleh pemerintah, seberapa taktis aktivitas mereka sampai akhirnya dapat perhatian dari pemerintah, dan seberapa berbahaya tindakan-tindakan Laut bersama kawan-kawannya.
Lalu kita sampai pada bagian akhir cerita. Padahal, kalau cerita ini ditutup cukup sampai adegan berdoa bersama di laut oleh keluarga para mahasiswa yang hilang, ditambah dengan gambaran keikhlasan dan ketegaran mereka menghadapi ketidakpastian, this book will end perfectly and gracefully. But the author chose to ruin it by adding ikan pari loncat-loncat ngasih kode Morse ke Asmara. I never closed a book as fast as I did like this one. (Oh iya, kenapa mereka berdoa di pantai ya? Kan belum tahu pasti kalau gentong yang dibuang ke laut dan tulang manusia yang ditemukan di pesisir itu asli punyanya para aktivis yang hilang?)
Bagian Terbaik
Saya masih berusaha menemukan hal terbaik dari buku ini (tenang, saya tidak sekejam itu). Saya salut pada saat kita diajak menyelami perasaan kehilangan yang dirasakan oleh keluarga Laut (detail seperti piring yang selalu disusun empat, gulai tengkleng yang selalu hadir di akhir pekan, buku-buku yang tersusun di kamar Laut). Karena saya juga punya anak, saya bisa melihat kegamangan orangtua Laut yang diceritakan dengan kacamata Asmara. "Merawat kenangan atas orang yang telah hilang tak tahu rimbanya" adalah sebuah kalimat yang pas untuk menggambarkan kerisauan itu.
At the end of the day, ini juga sebuah kesalahan saya yang meletakkan ekspektasi terlalu besar kepada buku ini. Saya bukan sekali ini bercengkerama dengan karya Bu Leila S. Chudori; saya sudah sering membaca cerpen-cerpen buatan beliau di seri Kumpulan Cerpen Kompas, yang selalu membuat saya takjub dengan cara menulis Bu Leila dan topik yang beliau angkat. Itu sebabnya ekspektasi saya semakin besar. Dan sayangnya ini akan jadi buku pertama dan terakhir yang akan saya baca dari beliau (kalau cerpen mungkin saya masih akan baca).