"Jodoh itu memang misteri. Ada yang sudah mencari ke mana-mana, eh ternyata jodohnya tetangga sendiri. Itu bukan hal yang aneh.”
***
Menuntut, mengamalkan, dan mengajarkan ilmu yang dimiliki adalah sebuah kebahagiaan bagi Ridho. Ia bertekad untuk selalu menjadi pengabdi bagi para pencari ilmu dengan membuka pesantren di tanah kelahirannya, Way Meranti. Namun dengan semakin bertambahnya santri di pesantren tersebut, muncul banyak permintaan untuk membuka pesantren putri agar anak-anak perempuan pun dapat menimba ilmu di sana. Jelas, tanggung jawab ini di luar kemampuannya.
Di sisi lain Syifa, adik dua pupu yang selama ini jadi tanggung jawab Ridho, sudah diwisuda sebagai hafidzah. Dengan kemampuan bacaan Al-Qur’an dan suaranya yang indah, tak heran Syifa menjadi sorotan saat acara wisuda, bahkan hingga masuk koran daerah dan televisi nasional. Namun, cobaan terberat Syifa ada di depan mata. Sementara Ridho tak bisa mencegah hal buruk yang akan segera terjadi padanya.
Kang Abik, demikian novelis ini biasa dipanggil, adalah sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dikenal sebagai dai, novelis, dan penyair. Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. Karya-karya fiksinya dinilai kental nilai Islaminya dan mendorong semangat para pembacanya.
Selama di Kairo, kang Abik banyak menulis naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr.Yusuf Qardhawi yang berjudul ‘Alim Wa Thaghiyyah, 2000), Darah Syuhada (2000).
Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah ilallah (Era Intermedia, 2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004), dll.
Karya-karyanya: Ayat-Ayat Cinta (2004) Di Atas Sajadah Cinta (2004) Ketika Cinta Berbuah Surga (2005) Pudarnya Pesona Cleopatra (2005) Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007) Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) Dalam Mihrab Cinta (2007)
Sekelumit Tentang Isi “Jodoh itu memang misteri. Ada yang sudah mencari ke mana-mana, eh ternyata jodohnya tetangga sendiri. Itu bukan hal yang aneh.” Ridho kini telah berhasil memajukan pesantren di tanah kelahirannya, Way Meranti. Namun dengan semakin bertambahnya santri di pesantren tersebut, muncul banyak permintaan untuk membuka pesantren putri agar anak-anak perempuan pun dapat menimba ilmu di sana. Jelas, tanggung jawab ini di luar kemampuannya. Di sisi lain Syifa, adik dua pupu yang selama ini jadi tanggung jawab Ridho, sudah diwisuda sebagai hafidzah. Dengan kemampuan bacaan Al-Qur’an dan suaranya yang indah, tak heran Syifa menjadi sorotan saat acara wisuda, bahkan hingga masuk koran daerah dan televisi nasional. Sudah tiba bagi Ridho maupun Syifa untuk menentukan jodohnya untuk makin memantapkan jalan mereka dalam syiar agama. Namun, cobaan terberat Syifa ada di depan mata. Sementara Ridho tak bisa mencegah hal buruk yang akan segera terjadi padanya.
Seperti apakah akhir kisah Ridho dan Syifa ?
Tokoh dan Karakter - Tofik - Syifa - Santi - Bang Sahrul - Ridho - Lina - Yunus - Bang Tofik - Sita - Bu Rosma - Romo Kyai Mukhlas - Kakek Jirun - Nenek Halimah - Kyai Shobron - Nyai Fathiyyah - Diana - Fredi - Yunus - Kyai Mukhlas - Nenek Zumroh
Di Suluh Rindu kita akan bertemu dengan tokoh cerita yang cukup banyak. Saya sendiri sempat bingung dengan nama-namanya, untungnya untuk tokoh utamanya sendiri sebenarnya sedikit dan lebih mudah diingat. Ada Syifa, gadis bersuara merdu, pandai mengaji, dan hafal 30 juz Al Qur'an, baik hati, dan sholehah. Terkait tokoh Syifa ini agak membingungkan karena di awal digambarkan bijak, namun memasuki konflik ternyata ada karakter kurang tegas dalam diri Syifa yang menyebabkan dia menghadapi konflik besar pernikahan. Tapi mungkin di sini lah titik dimana kita bisa melihat sisi manusiawi sebuah tokoh cerita, dan lagipula Syifa melakukan itu dalam bentuk baktinya kepada sang nenek. Saya jadi penasaran, kalau dikaji dari sudut pandang ajaran Islam, lebih berat mana menghindarkan diri dari pernikahan dengan pria yang jelas-jelas akhlaknya buruk dengan melanggar petuah nenek.
Alur dan Latar Pov 3, alurnya maju dengan kecepatan sedang-cepat, berpindah-pindah latar lokasinya dari pesantren ke pesantren (pesantren Minhajus Sholihin, pesantren Kanzul Barokat Gisting), gunung Seminung, danau Ranau, Masjid Al Ihsan, masjid daerah Kembahan, masjid Al Azhar, rumah, kantor, restoran, apartemen, resort, dan lain sebagainya, di Liwa, Lampung, Sidawangi, Jakarta, Mesir, Yordania, Inggris, Malaysia, dll.
Konflik cerita cinta dan pernikahan, tentang Ridho yang dihadapkan pada keputusan untuk berumahtangga, Syifa yang harus mengambil keputusan terkait perjodohannya juga takdir pernikahannya kelak. Selain itu ada konflik warisan keluarga Lina dan Syifa, hubungan nenek dan cucu dan silaturahmi keluarga yang terkait. Kisah ini ber-ending tertutup.
Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini Salah satu buku yang ditunggu para pecinta novel religi tentu saja Suluh Rindu dari Kang Abik. Buku sekuel dari Kembara Rindu ini terjual 600 eksemplar pada event IBF 2022, dilansir dari republika. com. Saya yakin teman-teman yang lain juga pada penasaran dengan karya terbaru Kang Abik ini.
Sejak halaman pertama saya sudah suka scene di gunung Seminung yang banyak mengandung pesan tadabur alam. Di bagian awal cerita ada adegan dimana Ridho, Syifa, Bang Sahrul, Lina, Santi, Tofik, dan Lukman mendaki bersama. Mereka saling menyemangati dan membantu di kala melewati medan yang berat, tak lupa berdoa dan terus memuji kebesaran Allah SWT. Dialog mengalir seiring langkah kaki mereka makin tinggi mencapai puncak. Ada beberapa percakapan dan kejadian di gunung yang berkesan buat saya, misalnya tentang tas carrier milik Ridho yang bentuknya paling aneh, mirip keba yang dipakai Suku Dayak di Kalimantan. Tas itu kokoh, kuat, dan multifungsi. Selain untuk membawa barang, juga bisa difungsikan untuk mengevakuasi orang jika diperlukan. Karena saya penasaran, saya akhirnya mencari informasi lebih lanjut tentang tas ini, dan menemukan informasi di sebuah situs bahwa tas carrier ini memang ada, namanya Kebal 50L Black Borneo Series. Eiger membuat tas ini terinspirasi dari tas kerangka kayu sebagai alat angkut tradisional khas suku Dayak saat melakukan ekspedisi Eiger Black Borneo 2015. Bahkan untuk saya yang bukan pendaki gunung dan tidak punya hobi naik gunung, wawasan ini rasanya menarik karena sebagai orang awam yang saya tahu hanya tas carrier model biasa.
Suasana hujan di puncak dan adegan ngopi di tenda juga favorit saya. Rasanya memang syahdu, dan seketika jadi membayangkan suasana ngopi di puncak gunung di tenda sambil merenungkan alam semesta dan pencipta. Di dalam dialog ada disinggung tentang mengapa di gunung ada hujan meski musim kemarau yang jawabannya ternyata karena di gunung secara umum curah hujannya lebih tinggi sehingga hujan bisa turun kapanpun, dan itulah sebabnya ketika mendaki di daerah tropis harus membawa jas hujan. Sepele ya, tapi saya suka hal-hal sederhana seperti ini diselipkan di dalam dialog.
Di adegan yang sama juga di deskripsikan momen makan bersama dengan nasi yang mengepul, ayam rica-rica, tempe goreng, sambal terasi, dan kerupuk bawang, teh, dan kopi panas. Wow! Rasanya saya jadi lapar menyimak bagian ini dan memang di beberapa bagian lain dalam cerita, Kang Abik memunculkan adegan makan yang lahap bersama keluarga dan teman. Meski tidak dominan, tapi novel ini cukup membuat saya merasa lapar. Oh iya, ada di salah satu adegan juga disebutkan tentang kue sekubal dengan gulai ayam. Kue sekubal ini ternyata sajian khas Lampung, bentuknya seperti lontong berbahan dasar ketan dan santan kelapa. Uniknya kue sekubal bisa disajikan bersama pasangan makanan yang rasanya manis maupun gurih, dan salah satu makanan pasangan kue sekubal adalah gulai ayam.
Dari buku ini, saya juga baru tahu kalau kopi itu disebut sebagai minumannya para wali. Awalnya kopi adalah minuman penduduk Yaman lalu menyebar ke seluruh dunia, disebut sebagai minuman para wali karena dengan secangkir kopi para wali bisa mengusir rasa kantuk di malam hari sehingga mereka bisa bermunajat dan bermesraan dengan Tuhan setiap malam. Secangkir kopi bisa membantu para wali istiqamah dalam beribadah, juga membantu para ulama merenung, memecahkan banyak persoalan, serta menulis kitab berjilid-jilid jumlahnya. Penasaran ingin cari tahu soal ini lebih jauh, mari googling dan temukan satu artikel di republika.co.id yang menjelaskan kopi itu minuman para sufi. Sebagai yang suka kopi, hati saya senang membaca informasi ini.
Yang saya tahu penanganan pasca digigit ular itu seperti yang ada di film-film petualangan. Ikat di atas bagian yang digigit ular, lalu buat luka sayatan di bagian yang digigit dan sedot bisa ular keluar. Ternyata cara ini salah total ^^' . Mengingkat bagian tubuh apalagi menyedot bisa ular dari luka justru tindakan yang harus dihindari, demikian info yang saya dapatkan dari situs hello sehat. Di dalam adegan cerita, kedua hal itu juga tidak dilakukan. Tokoh Lina meminta Syifa yang digigit ular untuk tidak menggerakkan bagian yang tergigit sama sekali.
Tapi bagian yang paling saya suka dari adegan naik gunung ini adalah tips kesuksesan yang direfleksikan dari aktifitas naik gunung, bahwa mendaki gunung mencapai puncak bisa menjadi pelajaran bagaimana seseorang meraih cita-cita dan kesuksesannya. Keberhasilan seseorang naik ke puncak gunung karena didukung beberapa faktor, mulai dari adanya pembimbing hingga persiapan yang optimal baik fisik maupun mental. Harus paham ilmu seputar pendakian gunung, punya kemauan keras dan mau bekerja keras, disiplin, tidak mudah menyerah, fokus pada tujuan, berhati-hati dan berpikiran sehat, percaya diri dan antusias untuk suses, bertanggung jawab pada diri sendiri, tawakal pada Allah, dan waspada untuk tidak melakukan kecerobohan. Meraih impian seperti naik ke puncak gunung, ada mentor atau coach, butuh fisik dan mental, sedia bekerja keras, dll.
Satu hal lain yang menarik buat saya secara pribadi adalah kentalnya latar pesantren di Suluh Rindu. Dari novel ini saya mengenal yang namanya ujian hafalan riyadhoh, khatam tiap hari selama 40 hari, dengan begitu Al Qur'an seperti menempel di jiwa. Dan momen pamungkas khotmil Qur'an atau takhtim terasa epik buat saya yang orang awam ini. Di momen ini Syifa menyetorkan hafalan 30 juznya yang dengan detail diceritakan di novel ini, mulai dari suasana, tokoh-tokoh yang terlibat, ekspresi, respon, dan bagaimana Syifa menjalani ujian tersebut, misalnya ada maqam/irama Bayati, dan lain sebagainya.
Kebetulan tahun ini saya memasukkan putra saya di sekolah islam terpadu dengan program tahfidz Al Qur'an sehingga ketertarikan saya terasa semakin besar begitu membaca hal-hal seputar edukasi di pesantren yang ada di buku ini.
Sayang sekali memang bahwa pendidikan pesantren masih terdapat praktik senioritas yang berujung kekerasan seperti kasus yang baru-baru ini viral di salah satu pesantren besar di Indonesia memunculkan keraguan terhadap model pendidikan pesantren, padahal intisari ajarannya sendiri saya yakin baik. Dan yang saya suka dari buku ini adalah lewat kisah Syifa dan Ridho ada cerminan bahwa pendidikan pesantren itu bagus, dan orang-orang pesantren itu berpendidikan tinggi dan banyak yang melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Pesantren-pesantren juga bukan hanya sekolah tapi juga memiliki kegiatan bisnis yang maju dan modern. Misalnya di dalam cerita ada tokoh Ridho yang berbisnis ternak nila. Di buku ini bahkan disinggung sedikit tentang cara berternak nila yang ternyata tidak sembarangan. Dikatakan di dalam buku, meskipun budi daya ikan nila termasuk mudah, tapi baiknya diurus oleh yang berpengalaman supaya memperoleh hasil terbaik. Cara panen ikan nila harus apik, harus dilakukan dengan benar agar ikan yang didapat benar-benar berkualitas. Cara panen yang salah akan menghasilkan ikan dengan kualitas yang tidak maksimal dan itu mempengaruhi harga jual. Saat dipanen, ikan nila tidak boleh stress. Sebab kalau ikan stress, akan mudah mati. Karenanya sehari sebelum dipanen, ikan dipuasakan terlebih dahulu agar tidak stress selama proses panen dan distribusi. Waktu panen juga harus diperhatikan serius. Ikan nila sebaiknya dipanen di pagi atau sore hari ketika cuaca tidak panas. Agar ikan tidak stress karena suhu tinggi. Waktu sore hari dianggap terbaik karena udara cenderung lebih rendah. Kolam ikan juga bisa dibuat dengan menggali tanah atau di atas tanah sehingga lebih praktis dan menghemat lahan. Info yang menarik ya :D, terutama untuk saya yang memang suka bercocok tanam dan berternak meski dengan luas rumah di komplek yang terbatas, hobi ini belum sepenuhnya tersalurkan.
Dari novel ini saya juga baru mendengar tentang silat Kumango yang dipelajari oleh santri putra, sedangkan Perisai Diri sudah familiar buat saya sebelumnya. Silat Kumango adalah salah satu silat khas dari tanah Minang yang diciptakan dan dikembangkan oleh Syekh Abdurrahman Al Khalidi, seorang ulama tarekat dan pendekar dari Tanah Datar, Sumatera barat. Langkah dan gerak silat ini diwarnai ajaran tauhid khas kaum sufi. Penamaan gerak dan langkah khas silat Kumango berbeda dengan silat lainnya. Dalam silat Kumanggo memakai istilah islami, yaitu langkah alif-lam, lam-ha, mim-ha, dan mim-dal. Sesuatu yang khas lokal tradisional dalam unsur cerita selalu menarik perhatian saya.
Sudah tertebak sampai di sini barangkali, bahwa di Suluh Rindu banyak tersebar kutipan-kutipan bijak, misalnya yang saya ingat itu tentang pekerjaan atau aktifitas seberat apapun kalau direncanakan dan disiapkan dengan baik akan jadi ringan dan menyenangkan *halaman 20. Akan banyak ditemukan pula refleksi kehidupan dan keislaman, misalnya tentang memilih jodoh dengan tidak melupakan shalat istikharah.
Bahwa harta bukan segalanya seperti yang diucapkan Syifa kepada Lina, bahwa dia tidak mau menuntut hukum hak warisan meski secara hukum ia yakin menang karena baginya harta bukan segalanya, dan lebih mengutamakan menjaga tali silaturahmi, bahwa ia yakin rejeki dan kasih sayang Allah itu melimpah ruah di mana-mana sehinggga tidak perlu risau dengan masa depan. Btw, konflik warisan ini adalah bagian yang saya suka juga karena seru, ada rasa penasaran seperti apa ujung cerita warisan ini dan apa taktik Lina dalam menghadapi kakaknya yang mencuranginya saat pembagian harta.
Ada pula nasihat untuk tidak menunda shalat karena shalat itu akan menjadi cahaya bagi pemiliknya ketika ia berada di alam kubur dan juga ketika berada di hari Kiamat. Shalat juga akan menjadi bukti bahwa seseorang itu benar-benar taat kepada Allah. Amal yang pertama kali dihisab di hari kiamat adalah shalat. Jika baik shalatnya maka seluruh amal ibadah seseorang dianggap baik. Jika buruk shalatnya yang lain dianggap buruk. Ada pula penjelasan tentang kenapa orang yang tidak menjaga shalatnya akan dikumpulkan di neraka bersama Qarun, Fir'aun, Haman, dan Ubay bin Abi Khalaf. Kalau ingin tahu lebih banyak tentang penjelasan topik ini, teman-teman silakan baca sendiri bukunya. :)
Untuk topik yang lebih serius, ada sentilan tentang tokoh yang sembunyi dan lari dari tanggung jawab. Dikisahkan waktu itu Ridho mengunjungi salah satu gurunya dan Romo Kyai ini menyampaikan kalau ia mengusulkan Ridho untuk masuk komisi fatwa atau komisi pendidikan yang mana ditolak dengan halus oleh Ridho. Lalu Romo Kyai menimpali dengan kekhawatirannya akan sosok yang penuh potensi tapi tidak mau duduk di kepengurusan MUI. Kalau tokoh-tokoh yang punya kapasitas, kapabilitas, dan integritas memilih sembunyi dan lari dari tanggung jawab keumatan, maka tokoh-tokoh tidak jelas yang akan mengisinya. Ini relate dengan salah satu ingatan saya dimana salah satu desa tempat saudara saya tinggal pernah dipimpin oleh ketua preman lantaran saat pemilihan kandidat yang bagus-bagus justru memilih mundur. Thought provoking.
Ada pula sentilan-sentilan pada pemerintah, soal koruptor, hingga literasi Indonesia. Wawasan ini ada di adegan dimana Ridho berkunjung ke rumah Romo Kyai Mukhlas, kyai kharismatik di Lampung Barat. Di situ Ridho membaca majalan yang diterbitkan oleh sebuah ormas Islam keluaran terbaru. Di sana ada opini dari seorang cendekiawan tentang literasi di Indonesia. Berikut saya kutipkan narasinya di bawah ini
Cendekiawan itu menulis bahwa tingkat literasi di Indonesia sangat memprihatinkan. Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini menempati rangking ke 62 dari 70 negara terkait tingkat literasi. Ini berarti Indonesia masuk dalam golongan 10 negara terbawah dengan tingkat literasi rendah. Literasi sendiri pada pemahaman awalnya adalah kemampuan membaca dan menulis. Kini literasi dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam memahami dan mengolah informasi ... *85
Narasi tentang literasi dan perpustakaan tersebut mengingatkan saya pada satu obrolan dengan dua orang teman yang tinggal di luar negeri, di Finlandia dan Amerika. Teman saya bercerita di Finlandia itu program membaca sangat marak dan mencapai lingkup sosial paling kecil, setingkat RT dan RW kalau di-Indonesia-kan. Sekolah-sekolah juga memiliki program membaca dan menulis yang terintegrasi dalam kurikulum secara solid dan konsisten. Teman saya yang di Amerika bercerita betapa senangnya dia dengan perpustakaan di sana yang tersedia dimana saja, mudah diakses, tanpa biaya, dan lengkap koleksinya. Kita bahkan bisa memesan buku tertentu yang tidak ada di cabang perpustakaan terdekat, lalu diinformasikan ketika bukunya sudah tersedia. Begitu difasilitasi bacaan karena negara paham penduduk yang melek literasi dan teredukasi jauh lebih mudah 'diatur' dan dikembangkan kearah kemajuan bersama.
Tapi benang merah cerita memang ada di topik cinta dan pernikahan, tentang jodoh yang merupakan rahasia-Nya, wajib didoakan, di istikharahkan, diupayakan dan dijemput dengan jalan yang berkah. Selama ini mungkin banyak yang masih awam atau hanya tahu sedikit-sedikit tentang proses perjodohan secara Islam dengan tahapan taaruf dan lain sebagainya. Dan tidak menutup kemungkinan banyak yang skeptis dengan cara ini atau memandang Islam itu kaku dalam soal perjodohan, apalagi di dunia modern seperti ini. Melalui kisah Suluh Rindu rasanya mata ini terbuka bahwa pernikahan dalam Islam memang dijaga kebaikannya, keberkahannya, dan keutamaannya. Lamaran yang diajukan kepada si calon istri bukan serta merta harus diterima, tapi semuanya dikembalikan keputusannya kepada yang bersangkutan. Tidak ada pula mementukan jodoh seperti membeli kucing dalam karung, karena masing-masing dipersilahkan untuk saling bertemu dahulu atau lewat foto. Sedangkan untuk mengetahui karakter, bisa diupayakan dengan mencari informasi dari teman, keluarga, atau memang kedua orang ini sudah mengenal karena ada di lingkungan sesama pesantren yang saling berinteraksi kegiatannya.
Cinta didefinisikan dengan mulia dan indah di sini. Membacanya saja membawa ketentraman di dalam hati saya, ketika cinta tidak hanya dikaitkan dengan nafsu semata. Jangan keliru memahami dan meletakkan kalimat cinta dalam membangun rumah tangga. Lihatlah, betapa banyak rumah tangga yang katanya dibangun atas dasar saling mencintai setelah pacaran sekian lama, tapi ujungnya bubar. Apakah itu cinta? Dan berapa banyak rumah tangga yang awalnya kata cinta seperti tersembunyi, dasarnya adalah takwa kepada Allah dan saling percaya. Rumah tangga dibangun atas dasar ibadah bersama. Pelan-pelan cinta itu tumbuh dan mengakar. Semakin lama semakin kokoh. Akarnya menghujam ke bumi. Pohon cinta itu subur disiangi air mata pengorbanan, kesetiaan, tanggung jawab, saling percaya, saling menambal kekurangan, dan saling menjaga di jalan keridhaan Tuhan. Ujungnya membuahkan kelezatan iman dan kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat dalam naungan rahmat dan cinta-Nya. Itulah cinta yang murni. Cinta yang sebenar-benarnya cinta." Halaman 57
Pada akhirnya yang paling saya suka dari Suluh Rindu adalah muatan agama Islam yang terkandung di dalamnya, juga beragam wawasan dan isu yang diangkat. Saya juga suka latar pesantrennya yang menurut saya berhasil dibangun dengan baik dan terasa kental di dalam cerita dengan perjuangan Syifa sebagai hafidzah 30 juz Al Qur'an. Untuk unsur-unsur cerita, meski ending kisah cinta ini menurut saya terlalu tiba-tiba dan 'mudah', tapi saya suka konflik warisan keluarga Lina dan konflik Syifa dengan pernikahan dan dengan neneknya serta penyelesaian ketiga konflik tersebut.
Buku ini saya rekomendasikan kepada semua pembaca yang mencari novel islami dengan topik cinta dan pernikahan, dengan latar pesantren yang kental. Banyak wawasan dan isu yang diangkat di sini. Konflik ber-layer, internal dan eksternal. Ending tertutup.
Judul: Suluh Rindu Penulis: Habiburrahman El Shirazy @kangabik Penerbit: Republika @bukurepublika Dimensi: iv + 594 hlm, 13.5x20.5 cm, cetakan kedua Agustus 2022 ISBN: 9786232791503
#Buku ini adalah sekuel dari dwilogi pembangun jiwa. Buku pertamanya berjudul Kembara Rindu. Secara fisik, jauh lebih tebal buku kedua ini. Menceritakan #perjalanan #rasa Ridho dan Syifa. Dulu, saya merasa tidak paham dengan maksud #novel pembangun jiwa. Namun, setelah membaca karya kesekian kang abik ini, benar-benar bikin jiwa tergugah sih. Detail perjuangan tentang #menghafal Al Quran, mencapai sanad, hingga menuntut ilmu terdeskripsikan dengan baik.
Meski secara konflik sebenarnya sederhana dan amat bisa ditebak, tapi detailnya membuat tidak bosan. Apalagi melihat keadaan Palestina, tokoh-tokoh yang digambarkan penulis amat saya yakini ada hanya sedikit jumlahnya. Betapa saya jadi ingin nyantri, merasa banyak hal yang saya ilmui sejauh ini masih kurang tentang agama dan persiapan akhirat.
Melalui Syifa dan kenaifannya pun, saya bisa memahami pengambilan keputusan dan latar belakangnya. Setelah merasakan jadi istri dan ibu, terutama dengan background ilmu agama, saya yakin ada banyak Syifa yang bertahan dalam rumah tangganya demi ridha Allah. Namun, dengan kecerdasannya mereka pun memiliki batasan, yang bila dilanggar maka cerai menjadi jalan akhirnya. Bisa menentukan sikap tanpa jadi korban toxic relationship.
Pun dengan Ridho dan kehilangannya, tentu tak semudah itu melanjutkan hidup tanpa kekasih hati, ditambah #amanah 2 anak. Selain kisah mereka, #kisah tokoh pendukung lainnya pun menarik dan memberi banyak pembelajaran agar kita benar-benar husnudzan dan taat sama Allah. Perlahan-lahan mimpi dan doa kita terwujud, meski jalannya tidak mudah sebagaimana Nabi Yusuf.
Meski ada beberapa typo terkait nama seperti tertukar antara Syifa dan Lina, juga kedudukan Diana yang bungsu tertulis sulung, tapi tidak begitu banyak dibanding jumlah halaman seluruhnya.
. "Menjadi muslim yang baik itu mudah. Asal seseorang itu tidak melakukan sesuatu yang tidak ada faedahnya, itu adalah ciri muslim. Asal seseorang itu bisa menjauhi segala yang sia - sia, itu ciri muslim yang baik. Dan, sebaliknya, orang yang masih terbiasa bergumul dengan perbuatan yang tidak ada faedahnya, perbuatan yang sia - sia, maka boleh dikatakan itu bukan muslim yang baik, kalau dia seorang muslim". - Kambara Rindu (P.207).
. -Kembara Rindu buku ke 1 dari Dwilogi Pembangun Jiwa-
Mengisahkan Ridho dengan liku - liku kehidupannya. Ada Syifa gadis kecil, saudara Ridho yang rela membanting tulang dan bikin pembaca merinding habis - habisan bahkan metitihkan air mata. Semangat Syifa luar biasa hebat. Banyak permasalahan yang muncul dan tentunya tidak sederhana. Namun, semua dilewati dengan doa dan keyakinan akan Allah.
. Berasa diajak tour ke pesantren - pesantren mulai Cirebon hingga Lampung. Kampung - kampung hingga kebun kopi, berasa menelusuri tempat baru yang menarik.
. -Lanjut dengan buku ke 2 "Suluh Rindu"-
Dalam "Suluh Rindu" kadaan Ridho dan Syifa yang awalnya bisa dikatakan buruk lebih membaik. Di bagin ini justru memberikan semangat lebih kepad pembaca kalau kesusahan itu akan bisa dilewati meski perlu banyak peluh. Allah selalu bersama orang - orang yang berusaha juga rajin berdoa. Lalu, kadaan kampung halaman Ridho, Way Meranti pun jauh lebih baik dari berbagai sisi.
. "Dwilogi Pembangun Jiwa" tersebut memberikan banyak pesan moral untuk pembaca. Salah satunya, untuk tetap tegar dan semangat menghadapi hidup. Tetap berusaha diikuti banyak doa karena Allah selalu ada di setiap saat. Dan, suka sekali karena diajak keliling Lampung. Yup! Daerah yang belum pernah saya kunjungi.
Suka! Suasana pesantren dan Lampung disini benar-benar hidup! Semuanya dideskripsikan ngan begitu indah dan nyata. Dari kulinernya, ada sate tuhuk khas Krui yang terbuat dari ikan blue marlin, kue sekubal yang mirip lontong, ikan mujair kumbang khas Danau Ranau, juga tempat-tempat yang aku kira fiktif ternyata beneran ada, seperti rumah panggung khas Lambar di cover Kembara Rindu, Masjid Bintang Emas, dan masih banyak lagi.
Seperti diajak berkelana, apalagi ketika mereka mendaki Gunung Seminung, jadi ikut tadabbur alam. Bagian mendaki ini, saking realistisnya, bikin aku makin gakmau naik gunung, kelihatannya ribet dan beresiko, takut dipatok ular ehhehe.
Buku kedua ini lebih tebal dan intens. Setting ceritanya juga bertambah, bukan hanya di Pekon atau Desa Way Meranti, Lampung dan Sidawangi saja, namun juga Mesir dan Yordania. Dan dimana cerita bertempat, selalu ada kuliner yang disebut.
Kehidupan pesantren disini sangat menyegarkan, menginspirasi dan menyentuh hati. Bagaimana ta'dzimnya mereka terhadap guru, kecintaan dan pengorbanan mereka terhadap ilmu dan Al-Quran, qiraat, kitab-kitab apa saja yang dibaca dan dipelajari di pondok, bahkan dijelaskan juga mana yang cocok dibaca santri pemula, sampai silat Kumango dari Minang yang diajarkan disana.
Pelajaran yang paling ngena di hatiku dibawakan melalui Syifa saat mondok. Iri dan tersentuh akan interaksi Syifa dan teman-teman dengan Al-Quran, seperti aturan riyadhah mengkhatamkan Al-Quran selama 41 hari agar lebih mutqin. Terharu!
Banyak hikmah yang bisa diambil dari buku ini, sangat banyak.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Bukunya bagus dan seru banget😭 Baca buku ini dapet banyaak banget reminder. Karakter masing-masing tokoh juga keren. Perjuangannya, pengorbanannnya, tawakalnya, inspirational banget.
Perjuangan Ridho mencari nafkah sekaligus menghidupkan Masjid di Way Meranti. Usaha Syifa menghafal Al-Qur'an 30 juz. Pengorbanan Lina untuk terus berada di jalan Allah. Pokoknya mashaAllah🥲
Buku ini mengajarkan tentang Takdir. Buku ini mengajarkan tentang pelangi yang datang setelah hujan. Buku ini mengajarkan tentang kebaikan yang didapat atas keikhlasan. Dan buku ini mengajarkan tentang sebaik-baik pembuat rencana hanya Allah🖤
Membaca tulisan Habiburrahman sering membawa kita mengembara ke beberapa negara dan pesantren.
Kali ini pembaca dibawa menjengah kehidupan dan pengurusan di beberapa pesantren dan pengalaman para pengusahanya.
Saya tertarik dengan pendedahan mengenai kaedah menghafal Al-Quran yang diamalkan dan bagaimana cara untuk memastikan hafalan itu terus melekat dan dihayati oleh para hafiznya.
Habiburrahman sering bermain dengan plot twist di saat-saat yang tidak dijangkakan dan itu antara daya pengikat untuk terus membaca novel beliau.
Ada sisipan juga dengan kisah pengajian di Mesir dan kelebihan belajar di sana. Begitu juga dengan nama Malaysia dan beberapa institusi termasuk USIM yang disebut-sebut juga dalam novel ini.
Novel yang dibaca dengan pantas, semakin ke hujung, semakin tidak sabar untuk mengetahui bagaimana penulis mahu menamatkannya.
Buku ini merupakan lanjutan dari "Kembara rindu", Buku ini saya baca kurang lebih 7 hari, buku ini terdiri dari 27 bab, buku ini bercerita tentang jodoh, pembagian waris, takzim seorang santri pada guru, menjaga hafalan Al-Qur'an, dan lezatnya mencari ilmu. Berikut review lengkapnya⤵️
Latar tokoh, tempat dan waktu dijelaskan sangat jelas dan padat. Penempatan diksi pada kalimat yang ditulis sangat bagus dan mudah di pahami. Alurnya maju.
Buku ini banyak menjelaskan tentang indahnya mencari ilmu dan mengamalkannya, pentingnya khidmat kepada guru, nikmatnya hidup bersama Al-Qur'an dan jodoh serta kematian.
Buku ini banyak mengajarkan kita sebagai pembacanya bahwa setiap pekerjaan yang kita lakukan harus senantiasa melibatkan Allah SWT.
Kutipan Favorit : Buku-buku itu sejatinya bukan benda mati seperti anggapan banyak orang. Buku itu sesungguhnya bernyawa. Buku itu hidup. Buku bisa mengajak bicara. Buku bisa mengajak bergembira, sedih, dan juga berpikir. Buku bisa mengajak untuk memecahkan persoalan-persoalan rumit. 📖Hal.503
Buku adalah asisten paling setia dalam segala pengembaraan intelektual. Buku adalah jimat paling sakti untuk mengubah nasib sebuah bangsa. Bukankah sejarah umat manusia ini berubah dari gelap menuju cahaya karena kehadiran sebuah buku bacaan nan suci, yaitu Al-Qur'an? 📖hal.504