John Musiciante kehilangan gitarnya karena ulah kriminal amatir. Hidup pria itu langsung luluh lantak. Bagi musisi legendaris seperti dirinya, gitar itu punya nilai sentimentil yang tak bisa digantikan dengan uang sebesar apa pun. Pada saat itulah, Brianna dan Bottomwise, detektif kenamaan yang cerdik dan karismatik, terlibat ke dalam pusaran arus pencarian gitar legendaris yang penuh kejutan.
Sementara itu, Sadman si musisi telinga kuali akhirnya berhasil mengumpulkan uang dari berjualan tauco untuk mewujudkan impiannya: menghidupkan band lama dengan kawan-kawannya yang juga buta nada dan turut memeriahkan dinamika orkes Melayu di kampung asalnya. Sadman tidak sendirian. Banyak musisi lainnya, tua-muda, jujur-korup, yang juga ingin mengukuhkan keberadaan mereka lewat musik. Dan, gitar legendaris itu
Under a bright sunny sky, the three-day Byron Bay Writers’ Festival welcomed Andrea Hirata who charmed audiences with his modesty and gracious behavior during two sessions.
Andrea also attended a special event where he and Tim Baker, an Australian surfing writer, spoke to a gathering of several hundred school children. During one session, Andrea was on a panel with Pulitzer Prize winning journalist from Washington, DC, Katharine Boo, which he said was a great honor.
The August event for the school children was very meaningful to Andrea, the barefooted boy from Belitung, as he made mental comparisons with the educational opportunities of these children, compared to what he experienced.
And now his own life story is about to become even more amazing, as his book Laskar Pelangi (The Rainbow Troops) is being published around the world in no less than twenty-four countries and in 12 languages. It has caught the eye of some of the world’s top publishing houses, such as Penguin, Random House, Farrar, Straus and Giroux, (New York, US) and many others. Translations are already on sale in Brazil, Taiwan, South Korea and Malaysia.
All this has come about because of the feeling of appreciation that the young Andrea felt for his teacher, Muslimah. He promised her that he’d write a book for her someday. This was because for him and his school friends, a book was the most valuable thing they could think of.
Andrea told a story that illustrated this fact. When royalties flowed in for him he decided to give his community a library. He spent a lot of money on books. He left the village headman in charge of administering the library. However, when he came back several months later, all the books were gone. People loved the books, but they had no concept of how a lending library functioned.
“Some of them could not even read, but they just loved to have a book, an object of great value and importance, in their homes. We will restock the library with books and this time it will be run by our own administration,” he laughed.
Andrea told this story as we sat in the coffee shop adjoining a Gold Coast City Library, one of 12 scattered around the city. One of the librarians, Jenneth Duque, showed him around the library, including the new state-of-the-art book sorting machine, for processing returns located in the staff area. As he saw the books being returned through pigeonholes by the borrowers and the computerized conveyor belt sorting them into the correct bin for reshelving, the sight made him laugh and prompted the telling of that story.
Andrea wrote the book for his teacher while in the employ of Telkom, but the completed manuscript was taken from his room, which was located in a Bandung student accommodation community. Whoever took the manuscript knew enough to send it to a publisher and that’s how Andrea, an unhappy postal service worker who had studied economics in Europe and the UK, became the accidental author of the biggest selling novel in Indonesia’s history.
He has since written seven more books.
Fast forward to 2011 and Andrea was in Iowa, the US, where he did a reading of his short story, The Dry Season. He was approached by an independent literary agent, Kathleen Anderson. They talked, but for six months there was no news until an email arrived telling him that one of the best publishers in the US, Farrar, Straus and Giroux, had accepted his book.
Then every week, more publishers said “yes” and now he has 24 contracts from the world’s leading publishers.
Andrea worked with Angie Kilbane of the US on the English translations of Laskar Pelangi and its sequel Sang Pemimpi (The Dreamer). Translators from several other countries have visited his home village in Belitung to do research.
“For a long time I wondered what was the key to the enormous success of my book,” Andrea said.
“I think there’s no single right answer. Perhaps people are fed up with writing focused on urban issues or esca
"Mereka salah kaprah, membunyikan alat musik--gampang, menimbulkan bunyi musik dari alat musik--perkara yang sama sekali berbeda."
Salah satu cuplikan kalimat dalam novel baru Pak Cik yang berjudul Brianna dan Bottomwise. Novel dengan cover dominan berwarna merah ini mengambil tema utama tentang musik. Tentang sebuah alat musik lebih tepatnya. Sebuah gitar elektrik milik seorang musisi ternama di benua Amerika bernama John Musiciante.
Cerita bermula saat gitar tersebut dicuri dan sang pemilik gitar merasa depresi. Pencarian gitar ini lah yang menyambungkan kalimat demi kalimat menjadi novel ini. Muncul detektif yang menjadi tokoh utama seperti judul novel ini. Brianna dan Bottomwise. Kemudian muncul banyak tokoh-tokoh lain yang dijanjikan akan muncul dalam novel kedua dalam dwilogi ini. Musisi-musisi yang muncul dan bersinggungan dengan gitar ini. Ameru, si pemuda Jakarta yang menemukan bakatnya saat bermain gitar ini. Alma, si gadis pengalah yang tinggal di pulau senyap yang menemukan jati diri dan bakatnya sebagai musisi setelah membeli gitar tersebut di toko bekas Marjoli. Ada Pak Mu, lelaki tua yang bekerja di sebuah sirkus keliling yang hanya ingat wajah ayah dan ibunya saat memainkan gitar tersebut.
Bukan Andrea Hirata kalau tidak menyelipkan komedi-komedi satir khas pulau belitong atau Sumatera. Perkenalkan ada Orkes Melayu Kami Mau Lagi yang beranggotakan Sadman, sebagai ketua orkes tersebut. Kemudian anggotanya ada Nasa, Sekonder, Jamindin, Kembar Tarobi 1 dan 2, yang mewakili kaum proletar. Kaum naas yang dijuluki bertelinga kuali karena sedikitpun tak mengerti musik namun nekat membentuk orkes melayu bersama. Bahkan undangan tampil pun hanya sebagai undangan sisa. Namun semua berubah di akhir cerita
Ada pula, Pak Boss dan Tilap sebagai orang jahat tapi bukan antagonis di cerita ini. Mereka pelengkap layaknya bumbu dalam masakan. Kehadirannya pas saat memang dibutuhkan sedikit cerita menengangkan dan kejahatan karena memang pada intinya novel ini bercerita tentang hilangnya gitar musisi legendaris yang melibatkan detektif
Seperti dalam buku-buku sebelumnya, Andrea Hirata kembali mengangkat para orang yang kurang beruntung menjadi pemenang dalam ceritanya. Sarat makna mendalam yang dikemas apik dalam kata-kata menjadi uraian kalimat. Penyampaian bersahaja, dalam namun tidak menggurui. Tentang kejujuran, tentang keterbatasan para orang pinggiran dan kaum proletar. Komedi satir yang lucu namun sebenarnya menyinggung pihak tertentu.
Berikut beberapa cuplikan kalimat yang saya suka dalam buku ini : "...bahkan banyak, orang yang cenderung berperilaku minimalis dan pragmatis di dunia ini. Mereka adalah orang-orang yang asyik membebaskan diri dari segala bentuk attachment pada benda-benda. Mereka menolak jadi korban iklan dan nafsu memiliki yang tak pernah bisa dipuaskan. Mereka kaum efektif efisien yang murah hati menyumbangkan atau membuang benda-benda yang tak mereka pakai." (Hal. 118)
"Pelajaran moral nomor 33: Kejujuran adalah sifat paling baik di dunia ini sekaligus paling brutal." (Hal.151)
"Mengapa anak-anak sangat berbakat selalu anak-anak miskin?" (Hal.182)
"...karena dia tahu muara kejujuran tidaklah selalu--bahkan kerap bukan--kekayaan, namun pasti keindahan." (Hal.197)
"...untuk pengalamanmu-aku gurumu, untuk harapanmu- aku rekan kerjamu, untuk egomu-aku musuhmu...Katakan padaku, di mana posisimu, Brianna? Di mana?" (Hal.241)
Brianna & Bottomwise berkisah tentang sebuah gitar Vintage Sunburst 1960 milik John Mucisiante yang hilang. Detektif swasta pun dikerahkan untuk mencari gitar yang sangat berharga bagi John itu. Apakah John mendapatkan kembali gitarnya?
_________________ Baru lagi baca novel Andrea Hirata setelah bertahun-tahun yang lalu baca tetralogi Laskar Pelangi dan jatuh cinta sama karyanya tersebut, dibaca ulang berkali-kali, sampai saat ini membekas sekali kisahnya.
Membaca Brianna & Bottomwise kembali menyadarkan aku betapa rindunya aku membaca karya Andrea Hirata.
Gaya berceritanya masih khas seperti dulu. Ceritanya mengalir dan membuat penasaran. Karakter setiap tokohnya yang unik selalu menarik untuk diikuti.
Seru banget ngikutin nasib gitar Vintage Sunburst 1960 ini, terpisahkan dari pemiliknya lalu berpindah dari tangan ke tangan dengan berbagai kisah yang mengikutinya. Menurut aku, gitar inilah tokoh utama di dalam kisah ini. Sampai akhir aku dibuat penasaran sama gitar ini nasib akhirnya bakalan gimana.
Baca novel ini perasaan dibuat campur aduk juga. Aku suka jokes yang ada di novel ini, benaran bikin ketawa.
Cuma aku merasa tokoh Brianna dan Bottomwise yang merupakan detektif swasta yang membantu John mencari gitar ini tuh kurang menarik dan plot mereka kaya kurang gitu.
Overall, aku menikmati membaca kisah ini. Penasaran juga sama kelanjutannya. Bagi penggemar Andrea Hirata tentu saja gak boleh melewatkan baca novel ini!
Saat membaca bab-bab awal, Penulis cukup menekuk alisnya karena merasa cukup bingung dengan latar waktunya. Ternyata, latar waktunya memang tidak linier ala film Dunkirk. Selain itu, tidak ada keterangan tahun seperti yang bisa ditemukan di novel Laut Bercerita.
Seperti yang sudah Penulis singgung di atas, fokus utama dari novel ini adalah perjalanan gitar milik John Musiciante yang dicuri. Oleh karena itu, Penulis sedikit merasa heran mengapa kedua nama detektif di novel ini yang menjadi judul.
Kalau boleh jujur, Penulis justru merasa kalau peran mereka di novel ini tidak terlalu signifikan. Hampir nol. Memang mereka pergi ke banyak tempat untuk menemukan gitar tersebut, tetapi konklusi novel ini membuktikan kalau upaya mereka sia-sia saja.
- Konklusi yang Mengecewakan
Di bagian akhir novel, spoiler alert, gitar tersebut pada akhirnya berada di tangan Sadman dan ia menyadari siapa pemilik gitar tersebut setelah membaca majalah bekas. Dengan keluguan dan kejujurannya, ia pun mengirimkan gitar tersebut ke London, Inggris.
Apakah ada campur tangan Bottomwise dan Brianna atas kembalinya gitar tersebut? Tidak! Tanpa mereka pun, Sadman akan tetap mengirimkan gitar tersebut. Peran mereka hanyalah mengambil gitar tersebut dari London dan mengembalikannya ke Musiciante.
Konklusi ini cukup mengecewakan Penulis. Bisa dibilang, ini adalah pertama kalinya Penulis merasa kecewa setelah membaca novel karya Andrea Hirata. Apalagi, jeda waktu dari novel terakhirnya hingga novel ini rilis cukup banyak, sehingga ekspektasi Penulis menjadi tinggi.
Apalagi, terdapat semacam plot hole karena Sadman bisa mengirim gitar tersebut ke London dengan mulus. Ia adalah orang kampung yang tidak punya banyak uang, bagaimana bisa ia punya uang untuk mengirim benda tersebut ke London?
Padahal, bagian akhir novel ini selalu menekankan terjadi di era-era krisis moneter tahun 1998, sehingga logikanya biaya pengiriman pun akan menjadi mahal dan tidak kondusif. Namun, Sadman sama sekali tidak memiliki kendala tersebut.
Andrea Hirata seolah-olah terburu-buru dalam menuliskan klimaksnya. Padahal, perjalanan Sadman mengembalikan gitar tersebut bisa menjadi cerita tersendiri. Bisa jadi dalam perjalanan tersebut, ia bertemu dengan Alma, Pak Mu, atau Ameru.
- Sisi-Sisi Positif Brianna dan Bottomwise
Sebagaimana novel-novel karya Andrea Hirata, Brianna dan Bottomwise tetap menghadirkan nuansa melayu dan komedi satir yang khas, meskipun tidak sepedas novel Guru Aini. Hirata tampak nyaman menggunakan karakter yang lugu dan jujur di setiap novelnya.
Buku ini banyak memberikan hikmah yang bisa kita petik. Tentang kejujuran, tentang meraih mimpi, tentang ikhlas melepaskan. Semuanya dibalut dengan nuansa yang tidak menggurui, seolah hanya terselip di balik kata-katanya.
Selain itu, buku ini juga banyak sekali menyebutkan penyanyi/band rock zaman 70 dan 80-an. Sayangnya, pengetahuan musik Penulis, terutama untuk musik jadul tidak seluas itu, sehingga banyak yang tidak mengerti.
Satu hal yang patut diacungi jempol dari novel ini adalah kita bisa merasakan bagaimana Hirata benar-benar memahami tentang kota-kota di Amerika Serikat serta musik rock. Mungkin ia telah melakukan riset mendalam, sehingga bisa terlihat begitu menguasainya.
Secara pribadi Penulis paling menyukai kisah Alma yang cukup memilukan. Ia langsung jatuh cinta dengan gitar milik Musiciante, dan dipaksa pula berkorban gara-gara ayahnya. Gara-gara itu, ia sempat tidak mau mendengar musik sama sekali.
Novel dengan tema musik sudah menjadi ketertarikanku tersendiri semenjak membaca buku Rapijali. Siapa, sih, yang ngggak dengerin musik dan lagu?🙈🤓. Musik bisa mengubah kehidupan seseorang, termasuk dalam kisah di buku ini.
#VioReads2023
Buku Brianna dan Bottomwise mengisahkan gitar yang hilang dari musisi terkenal John Musiciante. Gitar tersebut dicuri dan dijual, kemudian berpindah-pindah tangan hingga sampailah ke pulau Sumetera, Indonesia. Musiciante strees banget, sampai sewa Private Investigator (PI) yaitu Bottomwise serta asistennya Brianna.
Sebagai pembaca aku langsung dibuat penasaran gimana nasib gitarnya 😫😭🖐🏻. Karena setelah dijual, gaada yang tau gitar itu langka dan the most wanted. Yang nemuin gitar itu bakal dapat puluhan milyar 😳. Lucu juga menyaksikan gitar Vintage Sunburst 1960 diperjualbelikan. Mulai dari yang iseng ingin belajar, dijadikan gadai, pinjaman sementara, dianggap sial, sampai ada juga ke tangan si Alma kecil yang berbakat dan suka sekali dengan gitarnya!
Ada 2 latar lempat, di Amerika dan di Sumatera. Aku notice kalau perbedaan latar ini terasa banget. Aku suka setiap latarnya di Indonesia, pak cik Andrea menghadirkan unsur musik orkes Melayu serta aksen dan bahasa percakapan dalam buku ini pun masih ada unsur Melayu. Dan saatnya PI beraksi, langsung berasa latarnya di Amerika 😁. Jago deh membangun suasana latarnya, walaupun tiap bab ganti-ganti POV.
Tokoh dalam buku ini buanyak!! Tapi masing-masing ada ciri khas dan menjadi pembedanya. Aku suka sama Sadman dan kawan-kawan, karena dia orangnya kocak tapi humornya garing 😭😭 (aku malah tetep ketawa HAHAH). Dan tentu saja mereka semua berhubungan di akhir cerita 😉.
Beberapa kekurangan dalam buku ini adalah Brianna dan Bottomwise kurang banyak beraksi/ditonjolkan (padahal mereka menjadi judul buku dan seharusnya punya peran penting). Ada istilah-istilah atau kata yang asing buatku dan mungkin untuk beberapa orang, boleh banget tambahin footnote. Dan menurutku ada beberapa part yang terlalu lebay, tapi tidak mengurangi kesenangan membaca kok!😁
Overall buku ini page turner abis!! Ceritanya nggak berat tapi menghadirkan berbagai pengalaman membaca, sekaligus belajar banyak karakter dan watak manusia yang unik-unik lewat pencarian gitar nan istimewa ini 😃🙏. Btw, aku jadi penasaran bagaimana suara dari gitar ini🤓😝😝.
“Mereka yang melupakan mimpi-mimpi mereka akan selalu bangun tidur dalam keadaan kalah”
“Pelajaran moral nomor 33: Kejujuran adalah sifat paling baik di dunia ini sekaligus paling brutal”
Buku pertama dari dwilogi Brianna dan Bottomwise ini mengajak kita melihat jejak perjalanan gitar Vintage Sunburst 1960 kesayangan John Musiciante yang dicuri dan berkelana dari Amerika sampai ke Indonesia, berpindah dari tangan ke tangan, yang singgah berteduh dari atap ke atap, yang tersakiti berkali-kali, sampai kembali kepada pemiliknya. Brianna dan Bottomwise adalah detektif swasta yang dibayar sang musisi dalam pencarian gitar tersebut.
Seruuu!!! Akhirnya bisa menikmati gaya bahasa khas Pak Cik dan guyonannya lagi sambil menerka-nerka nasib gitar itu selanjutnya bakalan sampai ke tangan siapa, rasanya mau cepet baca sampai akhir. Awalnya sih aku agak bingung karena tokohnya yang berbeda dan alur bolak-balik gitu, tapi pas tau ternyata mereka berkaitan karena gitar tersebut bikin aku antusias ngikutin alurnya. Gak lupa sama kentalnya budaya Sumatera dan Melayu seperti buku-buku beliau sebelumnya bikin buku ini tambah berkesan.
Terhibur banget sama kisah grup Orkes Melayu Kami Mau Lagi dan kemuculan singkat Si Kembar Terong, ada-ada aja yang bikin ketawa. Tapi hatiku sakit banget pas baca kisahnya Alma. Terus juga masih penasaran banget banget sama Pak Mu
Di kisah yang membahas tentang musik ini, bisa dilihat bagaimana musik bisa merubah hidup banyak orang dan ada pelajaran hidup tentang kejujuran dan ketekunan yang bisa diambil.
Hmm kira-kira di buku kedua membahas tentang apa lagi yaa??
This entire review has been hidden because of spoilers.
Pertama, banyak terima kasih buat @dabelyuphi yang sudah ngehadiahin buku ini buat saya *peluuuuk*.
Kedua, saya beneran speechless habis baca buku ini. Bagus bangeeeet 😍. Karena baru-baru ini saya habis baca Guru Aini, bawaannya jadi kepingin ngebandingin, ehehehe 🤭
Di Guru Aini, saya merasa relate banget karena ada matematikanya. Saya suka matematika. Di Brianna dan Bottomwise, saya juga merasa relate, relate sama Sadman, sama-sama ga jago musik, wkwkwkwk.
Saya bahkan tidak bisa mendendangkan do re mi fa sol la si do. Saya bingung setengah modar saat guru seni waktu SMP saya bilang kalau nyanyi itu suara bisa dikeluarkan dari dada, perut dan diafragma. OMG bagaimana caranyaaaaa? 😱 . Saya sama sama sekali tak paham 😂.
Bertahun-tahun kemudian saya baru paham bagaimana caranya. Saat ikut lomba paduan suara waktu kuliah. Selama itu waktu yang saya perlukan untuk paham. Sementara waktu pelajaran seni vokal selama 3 tahun di SMP saya lewatkan dengan mempermalukan diri sendiri, menyanyi dengan nada yang "larut". Begitu kata guru seni saya 😂.
Brianna dan Bottomwise mungkin kurang kocak dibanding guru Aini. Tapi tetap ada kocaknya yang bikin ngakak. Terutama tingkah laku Sadman dkk 😂😂😂.
Brianna dan Bottomwise menceritakan tentang hilangnya gitar legendaris dari seorang pemusik ternama Amerika. Bagaimana gitar itu berpindah dari tangan yang satu ke tangan yang lain. Dari satu benua ke benua lain.
Bagaimana sang gitar memberikan efek kepada si pemegang. Pemegang yang punya bakat musik, yang bakat musiknya standar dan yang tidak punya bakat musik sama sekali 😂 Brianna dan Bottomwise sendiri adalah pasangan detektif perempuan ternama Amerika yang ditugaskan untuk mencari gitar tersebut.
Perjalanan si gitar penuh suka duka dan juga pesan moral nomor kesekian yang tampaknya merupakan lanjutan kisah moral yang sudah muncul di buku Laskar Pelangi. Ada banyak pertanyaan tentang kehidupan yang membuat saya merenung setelah membaca buku ini, *tetibajadisokbijak*
At last, beneran bingung mau ngomong apa lagi. Buku yang bagus, kocak, mengharukan dan penuh pesan moral. Ga sabar nunggu buku berikutnya. 5 dari 5 bintang, it was amazing 🤩🤩🤩🤩🤩.
bercerita ttg john musiciante yg kehilangan gitar kesayangannya yakni gitar sunburst 1960. dicuri oleh pencuri yg tidak ngerti soal gitar. dikiranya itu barang rongsokan pdhl gitar musisi terkenal 😩 lalu ia meminta tolong detektif untuk mencarinya (bottomwise dan brianna)
jujur di awal aku agak bingung krna aku gak terlalu ngerti ttg alat musik. tp ya aku gas aja ngerti gak ngerti. oh ya sama bahasa melayunya aku agak kurang ngerti meskipun aku hidup di daerah yg banyak orang melayunya juga wkwk
di awal cerita aku juga bingung ini buku mengarah ke siapa kah toko utamanya?? krna banyak karakter" yg muncul selain si bottomwise dan brianna. tapi selang berjalannya cerita akhirnya ngerti kenapa karakter" itu dimunculkan. menurutku bottomwise dan brianna karakter nya muncul dikit aja. ini lebih ke si gitar itu sendiri yg jd karakter utama. but i really enjoy the plot!!! rasanya pengen cepet" nyelesain krna kepo banget ini gitar bakalan dibalikin sm siapaa
sayangnya aku masi nemuin banyak yg typo di buku inii. semoga di cetakan selanjutnya typo nya bisa di revisi. oiya buku ini juga diselipkan humor" oleh si penulis jd bukunya gak bikin bosen. selalu ngakak liat tingkah laku sadman sama kawan"nya 😭😭
((aku males nulis review tp ini bbrp catatanku atasnya))
Meneropong Brianna dan Bottomwise
Brianna dan Bottomwise adalah buku pertama dari trilogi Brianna dan Bottomwise karya Andrea Hirata. Buku ke-14 Hirata ini bercerita tentang sepasang private investigator yang mencari gitar seorang musisi dunia yang terkenal, John Musiciante. Gitar Vintage Sunburst 1960 antik itu tiba-tiba dicuri dari rumah Musiciante di California, dan selama beberapa tahun gitar itu terombang-ambing mengitari dunia, tangan ke tangan —dari USA sampai ke Indonesia, lalu kembali lagi ke USA. Bottomwise dan asistennya, Brianna, mengemban sebuah misi untuk mencari gitar tersebut di manapun ia berada. Buku ini adalah buku pertama Hirata yang bergenre detektif, dan juga buku pertamanya yang terlebih dahulu ditulis dalam bahasa Inggris.
Setelah membaca buku ini dan berdiskusi dengan orang-orang, saya menyimpulkan ada beberapa hal yang layak untuk di-point out dari buku ini. Pertama-tama, tentu saya hendak berbicara dulu terkait gaya menulis Andrea Hirata yang membuatnya terbilang ‘khas’ dan berbeda dengan penulis lain:
Identitas Kultural Melayu
Andrea Hirata lahir dan berasal dari Belitong. Dalam buku-bukunya, ia selalu konsisten menonjolkan unsur budaya Melayu di dalamnya. Unsur budaya itu, bisa berbentuk fisik, atau dalam bentuk yang tidak terlihat, seperti karakter dan tuturan orang Melayu. Di dalam Brianna dan Bottomwise, faktor identitas kultural itu disampaikan melalui eksistensi Orkes Semenanjung Melayu, yang cukup memiliki peran penting dalam keseluruhan alur cerita. Di sini, dikisahkan bahwa Orkes Semenanjung Melayu adalah Orkes Melayu terakhir. Ini, barangkali, hendak menyampaikan pesan bahwasanya kebudayaan Melayu yang satu ini mulai banyak ditinggalkan dan digantikan dengan alternatif hiburan lain yang lebih modern. Dalam kasus ini, eksistensi Orkes Melayu sudah mulai digantikan oleh organ tunggal yang cenderung lebih efisien, praktis, dan tidak seribet Orkes Melayu yang memerlukan beberapa personel dengan alat musik yang berbeda-beda. Kemunculan dan kepopuleran awal organ tunggal di Indonesia dimulai di awal 2000an, pas dengan timeline cerita di buku ini —ketika Orkes Melayu perlahan ditinggalkan, organ tunggal yang lebih ‘modern’, datang.
Akses dan Keterjangkauan Pendidikan
Karya-karya Hirata identik dengan tema pendidikan. Kita tidak akan bisa melupakan Laskar Pelangi, Orang-orang Biasa, Edensor, dan novel-novelnya yang lain –yang keseluruhannya mengangkat tema pendidikan. Di dalam Brianna dan Bottomwise, meskipun tema itu tidak ditulis seeksplisit dalam karya-karyanya yang lain, unsur itu tetap dapat dilihat dengan jelas. Namun, di buku ini hal itu berhubungan dengan akses tiap tokoh kepada musik. Ameru dan Alma memiliki bakat musik yang sama hebatnya, namun keduanya memiliki akses yang berbeda dalam menjangkaunya. Ameru berayahkan seorang auditor di perusahaan konsultan keuangan internasional, sedangkan Alma berasal dari keluarga yang ekonominya morat-marit. Adanya kedua karakter ini bisa saja diangkat karena penulis hendak membandingkan kesenjangan sosial yang ada, yang menyebabkan akses masyarakat terhadap beberapa hal akan berjarak, pula.
Terlepas dari itu, sepertinya Hirata secara personal punya kepekaan dan kesensitifitasan tersendiri untuk hal pendidikan ini. Laskar Pelangi, dahulu juga dipersembahkan untuk gurunya. Kesannya terhadap isu pendidikan pasti meninggalkan sesuatu yang berarti di dalam dirinya sehingga tidaklah aneh melihat motivasi ini selalu digaungkan dalam karya-karyanya yang lain.
Tokoh-tokoh yang Optimistik
Hirata membangun tokoh-tokoh yang optimistik dan tidak menyerah akan keadaan yang dialaminya. Mereka adalah tokoh-tokoh yang memiliki mimpi tinggi dan somehow dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, dapat menggapai keinginannya —walaupun jika ditilik kembali, jalan cerita menjadi tidak begitu plausibel karena seringkali mustahil.
Seperti pada Maryamah Karpov, tokoh Lintang memiliki tekad yang tinggi untuk bersekolah di Paris. Orangtuanya yang tidak berada, ayahnya yang bahkan hanya seorang kuli, juga turut bersikeras untuk mewujudkan mimpi itu. Dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada, jalan sampai dia berhasil sekolah di Prancis itu seperti terlalu dipaksakan dan ‘tidak logis’, tetapi di situlah kuncinya: Hirata ingin menyampaikan pesan kepada pembaca bahwasanya segala hal bisa menjadi ‘mungkin’ apabila tokoh-tokohnya optimis dan berusaha. Hal yang sama terjadi pula pada tokohnya yang lain. Spesifik di dalam Brianna dan Bottomwise, optimisme itu dapat dilihat melalui tokoh Alma, Ameru dalam karier gitarisnya , Sekonder dan Sadman dengan orkesnya, Brianna dan Bottomwise dengan obsesi penemuan gitarnya.
Humorisasi Narasi sebagai Parodi terhadap Realita
Ciri khas lain dari buku-buku Hirata adalah bagaimana ia seringkali menyampaikan ironi terhadap realita dengan humor. Misal, dalam buku ini, saat Orkes Melayu Semenanjung hendak menentukan nama, Tarobi 1 mengusul:
“Baiklah, kalau begitu Orkes Melayu Urusan Belakangan,” sara Tarobi 1 lagi.
“Maksud?”
“Kita main musik saja, bakat urusan belakangan, macam segala hal lainnya di negeri ini,”
Hirata menyampaikan kritik dengan bahasa yang humorik, seolah-olah itu hanya bagian dari candaan yang tidak asing. Kesemipopuleran bahasa yang ia gunakan juga terlihat dari situ; bagaimana Hirata tidak melanjutkan kritik dan tetap menahan narasi dalam keringan bahasanya.
Bahasa yang Semipopuler dengan Bahasan yang Lebih Dalam
Ini yang bikin kita sering mikir, “novelnya biasa aja yah. Whats so special bout this,” soalnya this is exactly what i thought pas pertama kali selese baca. But then i discussed this bersama beberapa temen di Basindo UGM dan it widened my eyes. Hirata mencoba nulis kritiknya dalam bahasa sesederhana mungkin jadi ketika kita pertama membacanya, itu terlihat sangat populer. Tapi actually di balik itu, ceritanya nggak seringan itu.
Cara Hirata Berganti-ganti Sudut Pandang
Jika diperhatikan, pergantian cerita dari satu bab ke bab selanjutnya itu dari awal seolah-olah terpisah satu sama lain: Seperti misal, di buku ini, bab 1 menceritakan tentang Musiciante dan kariernya menjadi gitaris, bab kedua ia menceritakan awal mula Orkes Semenanjung Melayu. Dari kedua bab itu, tidak ada titik penyambungnya. Jadi kita nyaris hanya bisa menebak-nebak saja korelasi antara bab-bab itu. Di akhir, barulah kisah-kisah itu disambungkan satu dengan lainnya.
Beralih dari gaya penulisan Hirata secara general, sekarang kita beralih mengupas buku ini secara spesifik. Apa yang menyebabkan buku ini begitu berbeda dengan buku Hirata yang lain? Pertama, tentu pada tema yang ia angkat. Tema yang mengandung musikalitas ini tergolong baru baginya. Saya secara personal belum merasakan ‘nafas musik’ itu dalam buku ini dengan baik, namun penyajian datanya saya yakin sudah berdasarkan riset yang lumayan dalam. Selain itu, beberapa poin dalam buku ini yang dapat dipertimbangkan adalah:
Perbedaan Perubahan Latar
Buku-buku Hirata yang lain selalu mengambil latar dari Melayu. Tokoh utamanya pun berasal dari Melayu. Dari Melayu itu lalu cerita dibawa ke dunia luar. Dalam tetralogi Laskar Pelangi, cerita bertempat di Belitong, kemudian beralih kepada tempat-tempat lain, seperti Prancis seiring dengan berjalannya cerita. Berbeda dengan karya-karyanya yang sebelumnya, Brianna dan Bottomwise mengawali ceritanya dari California, Amerika Serikat. Buku ini berangkat 'dari luar ke dalam', seolah-olah penulis hendak memetakan Melayu di tengah kacamata dunia.
Katalisator Motivasi Tokoh atas Kepemilikan Objek
Tokoh-tokoh dalam buku ini memiliki katalisator berbeda-beda yang mendorong mereka berambisi memiliki objek (gitar Vintage Sunburst 1960). John Musiciante menginginkan gitar itu karena ia memiliki gejala psikologis di mana ia bergantung kepada objek tertentu. Ameru dan Alma menginginkan gitar itu karena melodinya yang bagus dan sesuai dengan hasrat, mimpi mereka dalam karier musik. Mafia Musik menginginkan gitar itu untuk uang. Tentu, motivasi masing-masing tokoh tidak bisa disamaratakan karena mereka memiliki dorongan yang berbeda-beda dengan keterbatasan yang berbeda pula. Penghambat yang berasal dari lingkungan di sekitarnya, juga berbeda. Dari sini juga dapat diperoleh narasi-narasi mengapa persepsi masyarakat terhadap musik berbeda-beda di tiap daerah. Ada yang menstigmatisasi bahwasanya musik itu mudah, sia-sia, namun mahal. Di samping itu, ada juga masyarakat yang menganggap bakat musik itu sungguh adalah anugerah yang tidak ada duanya.
Pendekatan Narasi Objek
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bab-bab di dalam buku ini seolah berjalan secara terpisah. Satu-satunya hal yang menghubungkan keseluruhannya adalah gitar Vintage Sunburst 1960 milik John Musiciante. Antara tokoh satu dengan tokoh lain bahkan tidak saling mengenal. Benang merahnya ada pada kepemilikan gitar yang berpindah dari tangan satu tokoh ke tokoh lain. Namun, objek di sini tidak dipersonifikasi. Objek murni hanya benda mati. Artinya, dia tidak memiliki sudut pandang tersendiri seperti misal Pintu dalam Dua Muka Daun Pintu-nya Triskaidekaman . Hal ini mungkin dimaksudkan agar pembaca dapat lebih fokus mengupas peristiwa demi peristiwa yang terjadi di masyarakat sekitar tokoh. Bagaimana terdapat perbedaan yang amat signifikan dari keadaan satu tokoh ke tokoh yang lain. Dengan pendekatan ini, kompleksitas suatu masyarakat dapat terpampang dengan jelas melalui keragaman tokoh itu (dan narasi yang tidak condong pada satu atau dua tokoh saja).
Percobaan Genre Detektif dan Misteri: Gagal atau Berhasilkah?
Novel ini adalah novel bergenre misteri —atau fiksi detektif pertama dari Andrea Hirata. Jika biasanya ia menulis novel dengan genre drama dan persahabatan, maka buku ini barangkali adalah buku pertamanya yang keluar dari jalur itu. Pertanyaan selanjutnya: berhasilkan Hirata dalam percobaan menulisnya yang satu ini?
Tentu penilaian ini subjektif. Menurut saya pribadi, dalam hal menuliskan detail teknis dan menambahkan suspense cerita, buku ini masih kurang dari harapan saya. Mungkin karena Hirata biasanya memang menulis genre drama sehingga pace-nya lebih slow dan kurang cocok disandingkan dengan cerita detektif. Bagaimanapun, itu yang membuat keseluruhan ini lebih mudah dibaca dan pembaca tidak dituntut untuk ‘harus fokus’ dalam membacanya. Alur cerita mengalir dengan santai dan tetap disampaikan dengan bahasa yang sederhana, dan pembaca dapat lebih memperhatikan detail tiap cerita.
Pertemuan dengan jurnalis sebagai pembuka bab kukira akan jadi sebuah jejak untuk bab-bab berikutnya, ternyata dialog mereka hanya sebuah taktik perkenalan tokoh bernama John Musiciante. Lanjut bab 2 hingga 7, selain pengenalan tokoh: Alma dan Sadman, berisi pula problema John Musiciante yang kehilangan gitar. Sampai di bab 8, pembaca tahu persis perbandingan Alma dan Sadman sangat menonjol, selain keduanya memiliki tekad kuat dalam bermusik.
Membuka bab 9, Brianna dan Bottomwise ditampilkan dengan obrolan ringan layaknya pertemuan dua orang yang baru saja berkenalan. Hampir saja saya percaya jika Bottomwise adalah detektif laki-laki sebab mengabaikan panggilan "Ma'am". Merasa akan ditemani Brianna dan Bottomwise sepanjang membaca buku ini, saya layaknya seorang detektif yang bersiap fokus menyimak detail kasus beserta solusinya. Namun, saya kehilangan jejak mereka sejak The Terong Brothers, Hamzah dan Baharudin menggantikannya. Saat itulah gitar vintage itu berpindah setting di Indonesia.
Loncat menuju halaman 238, saya mendapati Brianna dan Bottomwise kembali meski dengan perseteruan yang cukup menegangkan di antara keduanya. Di samping hal itu, saya selalu berharap buku ini akan menyajikan pemecahan masalah yang cerdas dan taktis. Namun saya merasa bahwa objek utama justru lebih terfokus kepada gitar milik John Musiciante berikut perjalanan dan singgahnya 'bersama' banyak orang.
Mengingat Brianna dan Bottomwise berlatar Amerika yang karib dengan aksen asing, saya menduga akan kehilangan unsur lokal ala Andrea Hirata. Tetapi dugaan saya keliru. Penulis dengan lincah menceritakan lokalitas sebagaimana novel-novelnya yang lain. Seasyik cara bertuturnya, Andrea Hirata punya energi membangun plot sehingga terbentuk keseruan cerita. Sehingga saya yakin, setebal apa pun buku yang ditulisnya, alih-alih merasa jenuh, pembaca pasti dibuat nagih hingga habis halaman terakhir.
Musik adalah sinar paling terang kefanaan, sebab ketika musik berbunyi, kemanusiaan menjadi terang-benderang. Dunia tanpa musik, macam hutan tak berhewan, macam sungai tak ber-ikan, macam awan tak berangin (hal. 268). Buku ini ibarat sajian: musik menu utamanya, detektif sebagai dessert. Yummyyy.. Selanjutnya, saya masih berharap buku kedua menjawab lebih banyak peran Brianna dan Bottomwise yang telanjur melekat sebagai judul.
Terima kasih, Pak Cik Andrea Hirata!
Ulasan panjang: dipublikasikan oleh Pikiran Rakyat edisi 27/08/22.
"Gitar ini membunyikan kepedihan, kerinduan, dan harapanku."
Gitar Vintage Sunburst 196o itu bukan gitar biasa. Gitar itu adalah milik John Musiciante, seorang gitaris tingkat dunia yang diakui sebagai salah satu gitaris paling berbakat di muka bumi. Di gitar itu terdapat guratan tanda tangan dari Jimi Hendrix! Tanda tangan yang didapat John saat ia masih begitu muda.
"Pemahamanku paling mula-mula tentang cinta dan musik berasal dari ibuku dan gitar ini. Tak dapat aku menulis lagu tanpa gitar ini. Saat memainkannya, aku merasa bercakap-cakap dengan ibuku."
Gitar itu adalah hadiah ulang tahun ke-12 dari ibunya yang harus berjibaku di antara tiga pekerjaan untuk membesarkan tiga anak seorang diri. Dengan gitar itu, John menorehkan tiga puluh tahun gemilang dalam sejarah musik. Diciptakannya banyak komposisi top dan dia menjadi lead guitarist salah satu grup rock paling berpengaruh di dunia. Tak pernah sekali pun ia memakai gitar lain. Karena itu bayangkan betapa hancurnya John saat gitar itu dicuri dari mobilnya ketika ia bertandang di kota Fresno, California. Keinginan bermusik bahkan keinginan hidupnya menguap sudah.
Manajernya, Beverly McKenzie, menyewa seorang detektif swasta bernama Angela Bottomwise selain bekerja sama dengan polisi. Angela Bottomwise berpengalaman mencari barang-barang hilang milik selebriti. Angela keliling Amerika, berpindah dari satu kota musik ke kota musik lainnya demi mencari gitar itu. Pada akhirnya dia merekrut Brianna, seorang gadis mantan pembuat kue wafel yang punya bakat sebagai detektif.
Karena terlalu kalut untuk menunggu hasil penyelidikan, Musiciante menjanjikan hadiah sebesar 20 ribu dolar bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi soal gitar itu. Dengan segera gitar Vintage Sunburst 1960 Musiciante menjadi gitar paling mahal di seluruh dunia.
Melalui perjalanan berliku yang sangat rumit, gitar itu terus berpindah tangan dari satu penadah ke penadah lain. Karena tampangnya yang sudah dimakan usia, kebanyakan tak mengira bahwa gitar tua itu adalah gitar kesayangan sang legenda. Pada akhirnya gitar itu sampai ke Indonesia, tadinya di Jakarta, hingga akhirnya ke pelosok Sumatera. Sebagaimana gitar itu telah mengubah hidup sang pemilik aslinya, gitar itu pun memberikan pengaruh yang sangat besar bagi setiap tangan yang pernah menjadi tuannya.
Mereka yang hidupnya diubah oleh gitar John Musiciante adalah:
Ameru, anak SMP di Jakarta yang bakat musiknya langsung berkembang setelah bermain dengan gitar John. Dari Amaya, kakak perempuannyalah gitar John Musiciante bisa masuk ke Indonesia. Gitar itu sayangnya dicuri setelah ia dan teman-temannya usai tampil di sebuah festival musik pelajar.
Alma, gadis SMP di Tanjung Pinang yang merupakan genius musik. Ibunya membelikan gitar itu dari Toko Barang Bekas Marjoli. Namun, ayahnya yang egois dan tukang judi meminta gitar itu untuk dijual agar bisa membayar utang.
Pak Mu, lelaki tua dengan ingatan tak utuh yang bekerja di sirkus. Rupanya sebelum terkena penyakit yang menggerogoti otaknya, ia adalah gitaris andal yang sering diajak para produser di Jakarta, Malaysia, dan Singapura untuk mengisi suara gitar di album artis-artis ternama. Di sirkus, dia hanya jadi pesuruh yang tak dipedulikan. Ketika seorang pemain band sirkus memainkan gitar Vintage Sunburst 1960 itu, sesuatu dalam diri Pak Mu bangkit. Sekejap dia mulai ingat wajah orangtuanya. Karena itu dia berusaha keras mengendap-endap agar bisa memainkan gitar itu. Namun, sayang, kemudian gitar itu dijual oleh pemiliknya.
Dan terakhir adalah Arsyad Amrullah bin Ahmadin Soelaiman alias Sadman, bujang lapuk dari Kampung Ketumbi. Si telinga kuali yang berambisi untuk mendirikan orkes Melayu Semenanjung meski ia tak punya bakat musik sama sekali. Telinga kuali adalah istilah orang Melayu untuk orang-orang yang tak berbakat musik. Sadman tak sendiri. Teman-teman sekelasnya, sesama telinga kuali, juga punya ambisi yang sama. Mereka adalah Nasa, Sekonder, Jamindin, dan Kembar Tarobi 1 dan 2. Impian itu baru terwujud setelah Sadman dan kawan-kawannya dewasa. Gitar itu dibeli Sadman karena gitar Sekonder rusak akibat ditimpukkan seorang wanita pada kepala mantan pacarnya di sebuah pesta. Tadinya mereka mengira gitar John Musiciante itu adalah gitar pembawa sial karena kejadian sial muncul bertubi-tubi begitu mereka memiliki gitar itu. Sadman sampai membawa gitar itu ke dukun untuk diamankan. Namun, Sadman kemudian mengetahui soal identitas asli gitar itu dari sebuah majalah musik yang diberikan penjual gitar padanya sebagai bonus.
*
Meskipun judul novel ini adalah "Brianna dan Bottomwise" si duo detektif swasta itu, novel ini lebih banyak menyorot kehidupan empat orang Indonesia yang hidupnya berubah drastis setelah memegang gitar John Musiciante. "Kamera" sudut pandang terus mengikuti para tokoh secara bergantian dengan sangat lincah. Pada awalnya aku dibuat bertanya-tanya soal bagaimana kisah para tokoh yang terkesan acak ini akan berkesinambungan. Benang merahnya adalah gitar tua John. Adakalanya gitar itu sulit dikenali di beberapa bab karena tampilan luarnya memang digambarkan semakin menyedihkan. Baru pada akhirnya ketika narasi soal identitas asli gitar tua itu dikuak, aku pun berseru, "OH!" dan semakin semangat menelusuri jalinan benang merah hingga sampai ke ujung cerita.
Pencarian gitar John Musiciante berakhir di novel ini, meski dengan cara yang tak masuk akal. Bagaimana si Sadman akhirnya bisa mengirim gitar itu ke Inggris dengan kondisi finansialnya yang kacau? Apakah ini akan dijelaskan di buku keduanya?
Aku masih akan menunggu buku keduanya karena menanti kelanjutan dari kisah Ameru, Alma, Pak Mu, dan Sadman.
*
Novel Sang Pemimpi dari tetralogi Laskar Pelangi yang memiliki kata-kata mutiara soal impian yang begitu menggetarkan: "Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu."
Dalam novel Orang-Orang Biasa, Andrea Hirata menambahkan kalimat itu jadi lebih panjang: "Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu. Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati."
Tampaknya Andrea Hirata memang tetap konsisten dalam mengangkat kisah tentang perjuangan impian yang nyaris mustahil dalam karya-karyanya. Dalam Brianna dan Bottomwise, Andrea Hirata memeringatkan pembacanya sekali lagi: "Mereka yang melupakan mimpi-mimpinya akan bangun tidur setiap pagi dalam keadaan kalah."
John Musiciante, seorang musisi rock dunia kehilangan gitarnya! Gitar yang membersamai sejak usianya 12 tahun, sejak dia belum menjadi siapa-siapa. Gitar itu adalah buah kerja keras ibunya, dibeli dengan uang hasil mengambil 3 pekerjaan sekaligus! Gitar itu juga ditandatangani oleh legenda rock dunia. Dan lebih dari apapun, gitar itu adalah definisi diri John Musiciante!
Tentu saja Musiciante sangat bersedih, depresi, kehilangan semangat hidup bahkan nyaris gila karena kehilangan gitar itu! Managernya lantas menyewa detektif swasta bernama Bottomwise untuk mencari gitar itu. Sayembara dimulai dengan hadiah 20 juta dollar bagi siapapun yang menemukannya!!! Lantas siapa yang berhasil menemukannya?
🎸🎸🎸 Siapa sangka, gitar itu justru mengembara ke berbagai tempat tak terduga. Menyebrangi lautan, dari negara satu ke negara lain, bahkan ke benua lain! Gitar itu juga menemui beragam orang dengan beragam karakter.
Gitar Musiciante menjadi saksi dari beragam kisah manusia! Dua remaja menyadari bakatnya dan tekun bermain musik karenanya. Sekelompok pemain orkes amatir menganggapnya pembawa sial. Pria tua demensia menemukan ingatan berharga darinya. Terdampar di toko barang bekas, pegadaian, hingga pengadilan!!! Masih banyak tempat dan kisah lainnya, namun akankah gitar itu kembali pada pemilik aslinya?🎸
🎸🎸🎸 baca review buku lainnya di IG ku @tika_nia
Membaca novel Brianna dan Bottomwise mengingatkanku pada beberapa hal: • Sesuatu menjadi berharga atau tidak tergantung pada bagaimana kita memandangnya. • Penghargaan datang dari hati bukan sekedar penilaian pada materi. • Dunia memang penuh berbagai rupa manusia, terlalu bising mendengar semua suara. Fokus saja pada mimpimu, suara hatimu sendiri ✨ • Terkadang saat kita terlalu lelah, ingin menyerah, mimpi itu justru mewujud menjadi nyata.
Page turner, imajinatif tapi juga logis dan penuh pesan moral!!! Karya Pak Cik yang ini berhasil membuatku jatuh cinta juga 😃
🎸🎸🎸 Ada yang bilang, karya Pak Cik ini berbeda dengan karyanya lainnya. Setelah membacanya aku juga merasakan hal yang sama. Rupanya itu karena awalnya Brianna dan Bottomwise ditulis dalam bahasa Inggris terlebih dahulu! Mungkin itu yang membuatnya berbeda. Mulai dari latar tempat yang setengahnya ada di Amerika dan negara sekitarnya. Juga tokoh utama (John Musiciante, Bottomwise dan Brianna) yang berasal dari Amerika mungkin membuatnya nampak berbeda.
Namun setengah bagian novel ini juga menggunakan latar tempat di Indonesia. Tokohnya juga orang Indonesia, sehingga pembaca dari Indonesia bisa realed.
Sudah lama tak membaca buku Indonesia, dan sudah lama tak membaca Andrea Hirata!
Asik, boi.
Membaca jalan cerita pada peringkat awal, saya pening dengan tiga perkara. Pertama, pemilihan perkataannya. Banyak yang saya terpaksa google kan, atau paling tidak bertanya pada 'Gemini'. Mujur faham juga akhirnya. Kau tahu organ tunggal maksiat dan non maksiat? Kah kah kah!
Kedua, ini sisi baru tentang Andrea Hirata. Pengetahuannya tentang muzik, bukan main, kawan. Siap dengan susunan not-not muzik, dan ahli-ahli muzik terkenal serata duni (baca: negara barat).
Ketiga, wataknya agak banyak. Seperti buku yang sebelumnya. Jadi, kalau membaca buku ini jangan ditinggal lama kalau berhenti. Takut-takut nanti dalam babak di belakang, kau sudah lupa watak yang diceritakan pada awal cerita.
Tulisan AH seperti biasa, lucu dan di luar jangka. Rasanya kali ini saya tertawa paling banyak ketimbang buku-buku beliau yang lain.
"Iblis juga ada istiadat!"
Kah kah kah!
Jalan ceritanya ada yang boleh dijangka, tapi tetap ada lanjutan yang penuh kejutan. Tak bosan membacanya, boi.
Rata-rata memberi pandangan nama watak yang dijadikan tajuk buku ini, tidak mempunyai "air time" yang ketara dan memberi kesan. Mulanya saya tak bersetuju, tapi menuju ke laman akhir, saya pun mula bertanya apa "sumbangan besar" si Brianna dan Bottomwise?
Bagi saya, yang mendominasi penceritaan ialah kisah Sadman dan orkestra melayunya, dan juga si Alma, anak penagih judi. Cerita mereka lebih mengesankan dalam buku ini.
Mungkin, peranan Brianna dan Bottomwise, penyiasat persendirian wanita ini akan lebih menyerlah di buku yang kedua nanti.
Ya, buku ini ialah dwilogi.
Sebenarnya saya ada mengharap sesuatu setelah membaca hal orkestra melayu itu.
Harap-harap, adalah nanti kisah Bang Zaitun yang menjadi idola Ikal dan Arai (dalam Sang Pemimpi).
Menurutku ini ceritanya bisa di katakan biasa saja tidak yang menantang dan seru² amat. menurutku adegan" Detektif nya kurang,Novel ini lebih banyak menceritakan latar belakang beberapa tokoh yang menurutku cukup menarik, sebuah gitar listrik vintage sunburst 1960 yang hilang di curi dari dalam mobil saat Jhon sang musisi tersohor sedang menyapa para penggemar nya dan di bawa kabur hilang entah kemana. Dan ia meminta tolong kepada detektif swasta bernama Bottomwise & Brianna dan seluruh penjuru untuk menemuka gitar yang paling berharga, siapapun yang menemukan gitar miliknya akan diberi imbalan sebesar 20 ribu dolar(lupa). kisah dan perjalanan si gitar listrik milik John Musiciante yang amat luar biasa untuk sampai ke tangan pemilik aslinya. Gitar ini sangat berarti baginya "Gitar ini menyembunyikan kepedihan, kerinduan, dan harapanku".
-saat membaca bagian ending, aku merasa agak nggak nyangka karena merasa kayak "oh, ini udh tamat toh? " Nggak nyangka tau² udh and. Karena aku merasa detektif nya nggak ngapa² in tau-tau udh bawa gitar dan di kembalikan ke musisi legendaris itu. :") -selebihnya untuk gaya bahasa tidak berat dan mudah di pahami, dll. -buku ini akan berlanjut ke Trilogi selanjutnya~
+Tokoh favorit ku di buku ini: -Alma -Brianna -Sadman
Aaah seneng bgt baca buku inii.. bacaan yg cocok buat yg suka misteri dan komedi. Tulisannya enak bgt dibaca.. Tokoh2nya juga menarik. Sepanjang buku ini kita diajak menyimak perjalanan Gitar dari Amerika ke Pulau Senyap, Sumatera.
Pak Cik mampu menghadirkan kearifan lokal masyarakat Melayu dan keunikan karakternya. Yang aku suka dari buku ini adalah Pak Cik menghadirkan buku yg menghibur dan juga sarat informasi perkembangan musik di masa orde baru.
Walaupun ada beberapa salah ketik, tapi tidak mengurangi keseruan ceritanya. Endingnya sudah bisa ditebak: masih bersambung. 😩
Ditunggu kelanjutan cerita Brianna, Bottomwise, Sadman, Sekonder, Jamindin, Nasa, Tarobi 1 dan 2, Alma, Ameru, dan John Musiciante yaa @bentangpustaka 📮
Buku ini menceritakan tentang hilangnya gitar dari seorang musisi, yaitu John Musiciante. Sejak gitarnya hilang, ia pun seperti kehilangan semangat hidup. Karena itu Brianna dan Bottomwise dikirim untuk mencari gitar yang hilang itu. Tapi, siapa yang menyangka bahwa petualangan mereka akan melewati puluhan negara dan melintasi ribuan kilometer samudra?
Meskipun judulnya Brianna dan Bottomwise, tetapi tidak hanya menceritakan tentang dua detektif itu. Diceritakan pula bagaimana gitar itu berpindah-pindah tangan dari satu orang ke orang lainnya, dan bagaimana gitar itu diperlakukan. Mulai dari disayang seorang anak yang masih empat belas tahun, di tangan pebisnis yang tak tahu apa-apa soal musik, seorang mantan musisi yang dianggap gila, dan masih banyak cerita petualangan lainnya.
Menurutku, buku ini menawarkan cerita petualangan realistis tentang pencarian sesuatu yang berharga. Aku menganggapnya seolah sedang mencari jati diri. Ketika sedang mencari jati diri, kita akan pergi ke mana-mana, mencari kesana-kemari, bahkan merelakan banyak hal untuk mencapai tujuan tersebut. Menariknya lagi, seperti karya Andrea Hirata yang lainnya, ia selalu menyelipkan komedi-komedi Melayu khas Sumatra, terutama Belitong atau kebudayaannya. Kali ini ia menghadirkan orkes Melayu yang banyak sekali diselipkan komedinya. Ini penting, karena buku jadi tidak monoton dan lebih berwarna.
Buku ini juga menyediakan banyak sekali kutipan-kutipan indah. Salah duanya ialah:
Pelajaran moral nomor 33: Kejujuran adalah sifat paling baik di dunia ini sekaligus paling brutal. (Hlm. 151).
"...mereka yang melupakan mimpi-mimpinya akan bangun tidur setiap pagi, dalam keadaan kalah."
Meskipun temanya adalah petualangan tapi bagiku buku ini menceritakan tentan pencarian jati diri dan upaya meraih mimpi. Baik dari cerita besar tentang pencarian gitar, maupun cerita-cerita minor yang terkesan seperti cerpen.
Judul : Brianna dan Bottomwise Penulis : Andrea Hirata Tahun : 2022 Tebal : 361 Penerbit : Bentang Pustaka
Seorang musisi ternama di Amerika Serikat mengalami peristiwa yang merenggut separuh hidupnya. Ia kehilangan sebuah gitar andalan, yang meskipun sudah tua dan usang, saat melipir ke pom bensin. John Musiciante, musisi itu, bertindak cepat dengan melaporkan kejadian itu kepada aparat kepolisian. Peristiwa kehilangan gitar yang dialami oleh sang musisi tersebar begitu cepat dan menggemparkan Amerika. Hampir semua orang, terutama penduduk Amerika, tahu kiprah dan karir Musiciante yang banyak dipengaruhi oleh gitar tua itu.
Konon, gitar itu adalah hadiah ulang tahunnya saat ke-13 dari sang ibu, seorang perempuan yang menjadi orang tua tunggal bagi Musiciante. Sang Ibu bekerja begitu keras untuk bisa membelikannya sebuah gitar. Selain karena gitar itu merupakan pemberian dari sang ibu, terdapat guratan tanda tangan seorang musisi ternama di badan gitar yang membuat gitar itu sangat berharga bagi Musiciante.
Aparat Kepolisian ternyata kalah cepat dengan sang perampok yang telah menjual gitar berharga itu. Perampok tak peduli seberapa berharga gitar tersebut, bahkan ia bukanlah orang yang paham betul mengenai gitar. Sang gitar begitu cepat berpindah tangan dari satu tempat ke tempat yang lain. Musiciante akhirnya menyewa seorang detektiff swasta, Bottomwise yang memiliki jiwa empati begitu besar. Ia bertekad dan berjanji pada Musiciante takkan berhenti melakukan pencarian sampai gitar itu benar-benar ditemukan. Dalam pencariannya, Bottomwise merekrut seorang detektif swasta untuk membantunya. Petualangan dimulai!
Perjalanan mereka mencari gitar milik sang musisi ternyata penuh teka-teki dan rumit. Gitar tersebut berpindah tangan begitu cepat. Ia berpindah dari satu penjual ke penjual lain dan tak seorang pun, saat melakukan tranksaksi tahu bahwa gitar tersebut adalah milik Musiciante karena mereka ternyata bukanlah orang yang memiliki minat pada musik. Padahal di sisi lain, ada seorang musisi yang sedang menanti kepulangan gitarnya dengan cemas.
Sang musisi juga mengadakan sayembara dengan menyiapkan uang senilai jutaan dolar bagi siapapun yang berhasil membawa gitar tersebut kepadanya. Perjalanan gitar tersebut mengajak para pembaca pada beberapa tokoh yang memiliki banyak mimpi dan kemampuan. Sebagaimana gaya penuturan yang khas dari Pak Cik, panggilan khas untuk Andrea Hirata, buku ini ditulis dengan gaya yang jenaka. Pembaca akan sangat terhibur.
Di belahan dunia lain, di ujung pulang Bangka Belitung, dikisahkan sekelompok kawanan yang berhasil membentuk sebuah grup Orker Melayu yang telah diimpikan oleh mereka selama ini. Sebenarnya, impian ini murni milik Sadman, seorang pedagang Tauco yang rela menabung bertahun-tahun untuk bisa mewujudkan impiannya ini. Setelah uang terkumpul, ia mewujudkan impiannya membentuk Orkes Melayu.
Perjalanan gitar sang musisi terus berlanjut. Bahkan dalam buku ini, terdapat beberapa ilustrasi yang menggambarkan perjalanan gitar dari Amerika hingga Indonesia. Perjalanan yang penuh teka-teki dan sulit ditebak. Sebagai pembaca, saya memiliki pengalaman yang seru, greget, sekaligus tergelitik saat membacanya.
Novel ini memperkenalkan para pembaca yang memiliki kedekatan spesial dengan musik Melayu. Bagi mereka, musik melayu adalah ruh mereka sendiri, sebagaimana yang digambarkan oleh Pak Cik juga pada karya-karya lainnya. Berlatar waktu Orde Baru, kisah di dalamnya beberapa kali menyebutkan pengaruh musik Melayu pada saat itu dan kebiasaan orang-orang Belitong yang kesehariannya menikmati lagu-lagu Melayu, terlebih saat hari-hari istimewa.
Pak Cik juga beberapa kulis menyebutkan beberapa lagu rock Barat yang dimainkan oleh para tokoh. Pada bagian-bagian inilah, menurut saya, pembaca akan memiliki pengalaman tersendiri saat membacanya. Saya pun mendengarkan semua lagu yang disebutkan dalam buku ini. Sepertinya, ini merepresentasikan kecintaan sang penulis pada lagu-lagu rock.
Pada akhirnya, gitar tersebut ditemukan oleh salah anggota grup orkes Melayu milik Sadman and The Gank yang kebetulan menemukan selembara berita dan pengumuman sayembara untuk siapapun yang menemukan gitar itu. Gitar itu telah berpetualang selama kurang lebih 2 tahun yang melibatkan banyak orang dan membuat mereka senewen. Tapi, ada kisah lain yang masih menjadi misteri. Ada pihak lain yang juga menemukan gitar dengan bentuk dan ciri yang sama persis. Lalu, manakah yang asli? Konon, novel ini akan berlanjut karena Pak Cik menuliskannya sebagai dwilogi. Buku yang sangat menghibur dan tentunya inspiratif. Mengajarkan kesetiakawanan, ketangguhan hati, kecintaan pada hidup, dan jiwa empati yang besar. Karya ini layak untuk dibaca!
Brianna dan Bottomwise (Bukan ulasan buku) Amaran! Sedikit spoiler.
Satu gitar vintage yang bikin gawat komuniti musik dan 2 komuniti yang tak bersahabat tapi punya hubungan rapat, manusia baik dan manusia jahat.
Fokus jalan cerita mencari gitar yang hilang dicuri daripada pemilik asal, gitaris dan musisi hebat John Musiciante.
Kepentingan budaya dan manusiawi, menyelamatkan nyawa dan musisi terbaik dari malapetaka. Alkisah John Musiciante jatuh sakit, semangat hilang hancur terus untuk main muzik lagi. Tak ada ubat dari toko apotek atau apa pun untuk penyembuhan. Perlu ketemu dengan kekasih gitarnya segera! John Musiciante berkongsi sentimental value atau 'roh' untuk terus hidup dari gitar sama seperti Pak Mu. Asal muasal Pak Mu dan takdir yang dia hadapi pun agak tragis, tapi aku sangat looking forward dengan bebenang merah yang mengikat semua watak dalam kisah ni.
Amaya, Ameru, Sadman dan ahli-ahli personil Orkes Melayu Kami Mau Lagi!
Arsyad Suleiman, panggilan singkat Sadman. Pilihan panggilan nama yang lucu tapi aku agak anxious ye pengakhiran nama dia ni akan berakhir sedih ke sebab aku tak ready untuk sad, mayn! Orang-orang baik yang sekaligus bebal dan keras hati ni akan buat kau rooting for them supaya tolonglah baik-baik saja. Perjuangan 17 tahun menabung untuk membangun Orkes Muzik Melayu walaupun too obvious tiada bakat tapi mereka mau! Satu signature Andrea Hirata bagi aku, percaya pada mimpi! Percaya pada diri walaupun seluruh semesta tak berpihak pada kau. Yang lain-lain tak usah kau hiraukan. Jadi hidup akan lebih berghairah.
Klimaks pada aku jatuh pada halaman 283. Pembakaran sakral menjauhi sialan yang paradoks. Seperti itu peri pentingnya bonus tambahan dalam jualan dagangan barang bekas. Jadi hati-hati kawan, hemat dengan teliti barangan lain yang datang sekali dengan belian barang bekasmu!
Watak favorite aku jatuh pada Sekunder, ahli personil Orkes Melayu Mau Lagi!, pemilik Happyness. Dari duduk tempat audiens, aku seperti mahu berteriak dan memberi tamparan kesedaran tatkala dia memilih kaca dari manikam. Tapi lantas terduduk diam, kerna aduh, Sekunder sesungguhnya perwakilan komuniti tuli musik, seperti aku. Itulah perlambangan Happyness, si ignorant yang bahagia.
Watak favorite inanimate thing (tiba-tiba aku wujudkan kategori ni) jatuh pada sudah tentulah gitar merek Vintage Sunburst 1960. Sebab watak dia paling tragis dalam kisah ni. Dan kita boleh mengagak-ngagak sendiri luahan hati objek tak bernyawa ni. Dan... Kamus alih bahasa Indonesia - Inggeris milik Sadman. Sungguh watak penting yang tak dijangka! Oh mayn!
Sementara itu, penampilan sesaat Mister Atap seperti artis yang tak perlukan perhatian tapi dengan halus melempar bom sembunyi tangan pada si Maling. Menyumbang bakat untuk sisi gelap dunia musik.
Aku sangat suka The Most Wanted Gitar ini sempat menjadi tuan punya Alma dan Ameru. Selayaknya pada mereka yang mempunyai sense of music yang sebenar. Dua gitaris dari dunia berbeza yang berkongsi euphoria gitar lagenda. Namun kesan kehilangan kawan, itu satu keparahan yang tak tertanggungkan.
Untuk kesemuanya, dalam keriuhan mengejar si gitar lagenda, tema musik itu diraikan. Baik si genius prodigy, latar kaya atau miskin, si tuli musik, generasi muda hingga ke tua, malahan sampai libatan si iblis tak tampak di pelusuk paling terperosok hutan tebal. Kenikmatan musik untuk semua raga kehidupan.
Buku ni aku syorkan jika ada edisi kedua dan ketiga, Pak Andrea harus sertakan sekali dengan satu cd soundtrack sebagai merchandise mungkin. Sebab buku ni penuh bunyi walaupun kau tuli musik. Atas sebab tuli musik aku berjaya hasilkan imagiBunyi. Masih meriah kawan. Pesta bunyi by yours truly.
Dan ini salah satu scammed dunia buku, kerana trilogi, jadi kita sambung kemudian hari.
Milik siapakah gitar yang paling dicari-cari ini akhirnya?
Tentang perasaan yang dipermainkan - Buku ini funny, banyak momen mencuit hati, jokes yang berhasil. Tak kurang adegan saspennya, sedih, aduh rawan juga. Resipi yang mengaduk hati dan perasaanlah.
Edisi pertama buku ini terbit dalam bahasa Inggeris. Dengarnya, Pak Andrea mengambil cabaran untuk menerbitkan buku dalam bahasa Inggeris sekaligus mengangkat tema musik. Agak menarik untuk mengintai edisi pertama ya, sebab bagi aku signature khas Andrea Hirata ialah spesifik penggunaan bahasa Indonesianya. Dalam menggambar hyperbola, lelucon dan latar kisah itu sendiri yang khas pada lokaliti. Penasaran juga.
Kesan: Apa susahnya mencari gitar? Rupanya kini tidak lagi. Kesan itu kini berubah menjadi: Mengapa mencari gitar begitu susahnya? -Hlm. 259
Kurasa kutipan tersebut merupakan ungkapan yang tepat menggambarkan isi buku ini, semuanya seakan berkutat pada satu kesimpulan yang sama: Apapun demi sebuah gitar.
Ide ceritanya unik dan menarik sekali. Sepanjang baca buku ini rasanya campur aduk, antara komedi atau ironi, mungkinkah salah satu diantaranya? Atau keduanya? Yang pasti, buku ini menggugah rasa penasaran terus menerus dan sangat page turner. Premis ceritanya kreatif, perihal pencurian gitar milik musisi terkenal yang jauh berada di Amerika sana, tanpa sengaja di bawa nasib entah bagaimana bisa sampai ke Pulau Senyap, Indonesia.
Pada bab-bab awal ketika mengisahkan bagaimana pencurian gitar itu dan mengambil latar luar negeri, aku merasa gaya penulisannya tidak terlalu mengandung komedi meskipun penulisan di buku ini tetap rapi. Akan tetapi, begitu perjalanan gitar itu terbawa sampai ke Indonesia barulah penulisnya mulai menyisipkan komedi yang membuat hati tergelitik, terutama pada kelakuan orang-orang amatir yang sama sekali tidak tahu menahu tentang seberapa berharganya gitar yang mereka pandang sebelah mata itu. Hal tersebut membuat di saat yang rasanya sangat miris karena tahu gitar itu bukan gitar sembarangan.
Selama baca rasanya jadi terhanyut dibawa keliling dari satu kota ke kota lain, dari pelabuhan ke pelabuhan lain, dari kapal ferry sampai ke pegadaian, dari tangan pencuri ke pengamen, dari pengamen ke tangan toko barang bekas, dari toko barang bekas dan melewati serangkaian cobaan hidup, hingga akhirnya jatuh berbuntut ke tangan musisi yang tidak berbakat musik sekalipun seperti tokoh Sadman. Percayalah, perpindahan gitar itu dari tangan ke tangan menghabiskan setengah alur cerita dengan adegan-adegan di luar nalar. Belum lagi perjuangan duo detektif Brianna & Bottomwise demi mencari gitar itu sangat patut diacungi jempol.
Sebagai salah satu dari 6 sekawan yang sama sekali tidak memiliki bakat musik, Sadman adalah tokoh yang menyenangkan untuk dibaca. Kegigihan dan kecintaannya pada musik terasa begitu mengesankan sekaligus menyedihkan. Begitupula pada tokoh bernama Alma, kendati disebut jenius karena bakatnya bermain gitar, malangnya nasib Alma membuatku bersimpati membacanya. Atau interaksi Ameru dengan kakaknya, maupun Pak Mu selaku musisi tua yang menderita demensia, lewat kehadiran gitar itu seolah memberi sejuta makna pada setiap tokoh di buku ini.
Sepanjang penulisnya menarasikan nasib menyedihkan gitar itu melalui berbagai cobaan di Indonesia, sepanjang itu pula penulisnya seakan ingin menggambarkan bagaimana mirisnya kenyataan. Tidak peduli seberharga apa suatu barang di suatu tempat, bisa saja sangat tidak bernilai di tempat lainnya. Kenyataan pahit akibat dari ketidaktahuan itulah yang membuat cerita ini sangat ironi. Enggak kebayang satu gitar itu melewati banyak sekali asam garam kehidupan di sepanjang perjalanannya.
Buku ini mengambil latar sekitar tahun 1997, yang dimana di Indonesia tengah berada di masa Orde Baru pada masa itu. Ada beberapa part di buku ini mengkritik tipis-tipis bagaimana rezim tersebut mempengaruhi segala lini kehidupan sampai ke pulau terpencil sekalipun. Di sisi lain, aku terpukau pada pengetahuan penulis terkait musik dan alat musik, terutama Okestra Melayu dan musik bergenre Rock. Sebagai pembaca yang sangat awam terkait musik apalagi jenis gitar, penulisnya terampil menggambarkan bagaimana rupa, sejarah, dan pengetahuannya terkait gitar Vintage Sunburst 1960 maupun musik rock dan melayu. Ini pengalaman baru untukku, tidak kusangka mengikuti alur cerita dari sebuah gitar yang dicuri ternyata bisa semenyenangkan ini.
Ending bukunya begitu menyentuh, padahal di dua bab sebelum bab terakhir aku masih tidak mampu mengira-ngira akan bagaimana penyelesaian konfliknya. Sungguh buku yang menarik, meski di akhir halaman aku baru tahu buku ini seri pertama dari triloginya, aku puas karena konflik utama terselesaikan dengan cara yang agak mencengangkan.
Jujurnya, ini karya pertama Andrea Hirata yang agak mengecewakan saya. Setelah sekalian banyaknya karya beliau yang saya baca, Brianna dan Bottomwise ini seolah-olah ditulis dengan tergesa-gesa. Begitu banyak watak yang dimuatkan, kemudian ditamatkan dengan begitu cepat.
Penulis juga seakan-akan menyumbat semua fakta dalam ruangan yang terhad ini. Begitu ghairah sekali beliau. Bukan itu sahaja, saya juga hairan mengapa Brianna dan Bottomwise yang dijadikan judul buku, walhal watak Sadman lebih menguasai medan penceritaan. Namun, saya yakin, tuan penulis ada alasannya yang tersendiri. Pengetahuan penulis yang begitu luas perihal musik juga dicurahkan ke dalam novel ini. Banyak juga terma-terma -musik- asing yang langsung saya tidak mengerti maksudnya apa.
---
Novel Andrea Hirata kali ini lebih ringkas dan fast-paced. Kisahnya bermula apabila John Musiciante, seorang gitaris dunia yang terkenal telah kehilangan gitarnya. Tanpa gitar, seorang gitaris umpama badan tanpa kepala. Maka, pencarian gitar ini bermula. Dua orang private investigator, Brianna dan Bottomwise berganding bahu menjejaki gitar ini. Namun, semakin keras usaha mereka berdua, semakin menjauh pula gitar ini daripada mereka. Bermula daripada Amerika, gitar ini kemudian berpindah ke Canada, Australia dan terakhir di Indonesia, atau lebih tepat Kampung Ketumbi, Sumatra.
Melalui novel ini, penulis masih utuh dengan identitinya; mengangkat kemiskinan sebagai gendala dan keresahan utama. “Mengapa anak-anak sangat berbakat selalu anak-anak miskin?”, pertanyaan yang dilontarkan oleh Marjoli, pemilik toko barangan terpakai. Beliau menyedari bahawa Alma ialah seorang anak muda 14 tahun yang berbakat sebagai seorang pemuzik besar, andai sahaja kemiskinan tidak membelengguinya. Bukan hanya Alma, gitar Muisiciante yang berlegar-legar ini turut mengubah kehidupan setiap mereka yang menyentuh dirinya. Ameru, Sadman, Sekonder, Pak Mu, Wak Dukun dan ramai lagi.
Awalnya saya ingin meletakkan karya ini sebagai karya dua bintang, namun terlalu kejam pula rasanya. Maka, tiga bintang dilihat lebih adil. Saya berharap karya Andrea Hirata yang lain, tidak seperi karyanya yang ini.
Oh, dan mungkin… satu hal lagi. Novel ini pada awalnya berbahasa Inggeris, kemudian diterbitkan juga dalam bahasa Indonesia. Mungkin… mungkin sahaja… andai dibaca dengan bahasa asal, lebih seru, orang bilang.
Title : Brianna dan Bottomwise Author : Andrea Hirata Genre : Fiksi, Musik Penerbit : Bentang Pustaka Rating : 4.3/5
Pernah ga sih kita stress berattttttt sampai depresi gara-gara barang yang kita sayang bangeetttt hilang atau diambil orang? Ini barang, yaaa, bukan kekasih hati. Wkwkwkwk
Itulah yang dialami oleh seorang musisi rock terkenal dari Amerika Serikat bernama John Musiciante. Hidup Musicinate luluh lantak karena separuh dari nyawanya – gitar Sunburst 1960 hilang, dicuri oleh kriminal amatir. Hadiah cuma-cuma sebesar 20.000 USD akan diberikan kepada mereka yang berhasil menemukannya. Di sinilah peran seorang detektif bernama Bottomwise dan asistennya, Brianna mulai masuk dalam pusaran cerita.
Gitar Sunburst menyusuri jalan yang teramant panjang dari 1 negara ke negara-negera lain, dari 1 kota ke banyak kota, dari Fresno, California hingga tanah Melayu. Mulai dari digadaikan, dianggap barang rongsokan, pembawa sial, hingga penyambung mimpi seorang anak berbakat. Barang vintage ini juga banyak digenjreng oleh tangan-tangan musisi lokal– tangannya Sadman dan Orkes Melayunya, digenreng pak Muh di took barang loaknya, sampai tangan Alma - seorang gadis muda yang berbakat yang sangat pandai bermain gitar, namun lahir dari keluarga yang miskin.
Ketika membaca novel ini agak bingung di bagian awal karena plot antar tokoh yang agak sedikit berantakan, perpindahan latar tempat yang begitu cepat, tapi lama-lama juga ikut mengalir dalam cerita, malah penasaran latar tempat mana lagi yang ada di bab selanjutnya. Sampai ceritanya tamat, belum ketahuan juga nasib gitar legend itu gimana, bisa jadi jawabannya ada di buku keduanya gasiiiii. Mungkin yaa.
Dari membaca novel ini, aku menjadi tahu beberapa istilah-istilah dalam permusikan duniawi meskipun sangat sedikit. Menurutku, kekurangan dari buku ini adalah kurang menonjolnya peran Brianna dan Bottomwise yang dikisahkan, padahal jelas-jelas judulnya menggunakan nama dua detektif tersebut. Pada awalnya, aku berekspektasi peran mereka akan mendominasi cerita, tapi ternyata tiddaaakkkkkak. Selain itu, banyaknya katalog buku dari sang penulis cukup menggangu karena ada 43 halaman sendiri. huhuhu
Secara kesuluruhan, novel ini termasuk bacaan yang ringan karena ada beberapa humor-humor garing yang krik-krik tapi ya tetep ngelanjutin baca wkwkwkw
📚 Judul : Brianna Dan Bottomwise ✒️ Penulis : Andrea Hirata 🖨️ Penerbit : PT. Bentang Pustaka 📆 Tahun : 2022 📖 Tebal : 360 halaman 🧕🏻Reviewer : Ummu Ainun 🔢 Nomor : 17 of 100 📝 Finish : 21 Maret 2023 🗓️ Halaman : 6.456 ⌛ F / NF : F
🎸🎸🎸🎸🎸🎸🎸🎸🎸
Novel Brianna dan Bottomwise adalah novel ke 14 karya Andrea Hirata. Buku pertama dari dwilogi Brianna dan Bottomwise.
Masih dengan ciri khas kehidupan di kampung ketumbi. Dan masyarakat melayu. Yang penuh dengan sisi humorisnya.
Bermula di Amerika, gitaris band rock legendaris dunia John Musiciante, kehilangan gitar kesayangannya yang dicuri dari dalam mobilnya. Gitar vintage sunburst 1960 bertandatangan "Bapak dari segala bapak gitaris rock, legenda rock mati muda" (halaman 2).
"Gitar ini membunyikan kepedihan, kerinduan, dan harapanku". (Halaman 1) John Musiciante mengalami kepedihan, kesakitan yang mendalam dan bersedia memberikan hadiah bagi siapa saja yang berhasil menemukannya.
Brianna dan Bottomwise adalah 2 detektif wanita yang bertugas mencari gitar itu.
Dari Amerika mengitari setengah dunia gitar ini sampai ke Indonesia dari Jakarta sampailah ke pulau Sumatra dan terakhir mendarat di pulau Senyap kampung Ketumbi, ketangan orang yang sakit gila nomor 34. Dalam perjalannya gitar itu mengalam hal-hal yang tidak menyenangkan dicuri dari satu pencuri ke pencuri lain, di gadai, dijual, masuk kantor pengadilan, di jadikan penggebuk kasur, dibongkar, disundut rokok, kepanas, kehujanan, bahkan, memukul mantan pacar, keluar masuk toko rongsokan, terakhir dibuang di hutan iblis. Karna membawa sial dan nahas.
Nun jauh di ujung pulau kecil di Indonesia di kampung ketumbi hiduplah Sadman bujang 31 tahun, penjual tauco bersama 5 orang temannya, tanpa bakat dan pengetahuan yang jauh dari permusikan, yang dijuluki telinga kuali membuat band orkes melayu "we one more". Berkelana dari panggung ke panggung sebagai band cadangan, dari band cadangan asli. Sadman bermimpi menjadi seorang orkesman yang terkenal. Karna siapapun yang melupakan mimpi-mimpinya akan banagun tidu, dalam keadaan kalah.
'Dalam ketukan, bunyi menemukan identitasnya; dalam tempo, bunyi menemukan temperamennya; dalam keduanya, Alma menemukan emosi, harmoni dan ekspresi. Bagi anak perempuan kecil itu, berat benda-benda mengetuk serasi tempo gravitasi, rembulan mengetuk serasi tempo laut pasang malam surut pagi, umak Melayu menumbuk bumbu gangan di dalam lumpang batu adalah perkusi.'
Brianna Dan Bottomwise adalah karya Andrea Hirata yang ke-14 dan pada asalnya ditulis dalam Bahasa Inggeris. Novel ini juga adalah novel pertama trilogi Brianna Dan Bottomwise. Bertemakan muzik, novel ini mengisahkan tentang sebiji gitar Vintage Sunburst 1960, milik gitaris terkemuka yang telah dicuri; gitar yang kemudiannya berganti milik oleh individu berlainan di benua berbeza, dimainkan oleh pemuzik yang pelbagai ragam dan bakat, diapresiasi oleh musisi yang mengerti dan tidak dihargai oleh mereka yang bertelinga kuali.
Sinonim dengan karya Andrea Hirata yang lain, novel ini lengkap dengan pelbagai sisi yang menarik minat pembaca untuk terus membaca. Walaupun tema muzik bukan tema yang 'common' di dalam karya fiksi- dan sejujurnya agak sukar difahami bagi mereka yang tidak cenderung atau tidak biasa memahami jargon-jargon bersifat muzikal - penulis berjaya berkarya sekali gus mengajak pembaca menghayati cerita dengan baik dan berkesan.
Watak Sadman dan Orkes Melayunya yang berbakat nihil namun bercita-cita tinggi menonjolkan sisi lucu dan bersahaja dalam novel ini. Watak Alma, gadis kecil yang digelar 'musical genius', berhempas pulas bekerja untuk memiliki sebiji gitar kesayangan di sebalik realiti kehidupan yang perit membuktikan bahawa mimpi mampu digapai biarpun seberapa tinggi. Nun jauh di benua Amerika, PI (Private Investigator) Bottomwise dan asistennya Brianna menjelajah seluruh pelosok Amerika dan Kanada, mengekori rapat jejak gitar vintage yang telah berkelana hingga ke Sumatra, tak lekang dengan harapan yang besar untuk menemukannya.
🌟4/5. Tema muzik memberi nafas baharu namun tidak mengurangkan kekuatan elemen lain yang sinonim istimewa setiap kali membaca karya Andrea Hirata.
First of all, terima kasih @bentangpustaka sudah memberikan aku kesempatan untuk bisa membaca dan mereview novel keren ini 😍
--- Buku ini menceritakan tentang perjalanan gitar legendaris milik John Musiciante yang telah dicuri oleh kriminal amatir. Untuk mencari tahu dimana keberadaan gitar tersebut, asisten Musiciante meminta bantuan detektif swasta bernama Bottomwise. Dalam pencariannya, kita akan diajak mengelilingi dunia. Mulai dari daratan Amerika hingga ke Indonesia dan sampailah di Sumatra.
Gitar Vintage Sunburst 1960 bukan hanya mengalami perjalanan yang panjang yang berpindah dari tangan ke tangan hingga sampai ke Sumatra, namun juga menyentuh kehidupan orang-orang yang sempat memilikinya.
Selama membaca perasaan ku seperti roller koster. Baru saja dibuat bahagia, tiba-tiba dibikin sedih trus tertawa terbahak-bahak. Ceritanya bener-bener menarik sih. Ada makna hidup yang tersirat dalam kisah ini.
Meski banyak tokoh dalam cerita ini, tapi entah mengapa aku tidak kebingungan dengan tokoh-tokoh yang ada. Semua terasa kuat. Apalagi dengan nama-namanya yang unik, jadi mudah untuk diingat 😍
Aaah pokoknya seru banget. Buat kamu yang Melophile atau Retrophile, ku yakin bakal suka dg cerita dibuku ini. Btw, selama membaca aku banyak mencari di google untuk mendapatkan gambaran mengenai alat musik seperti bass cekik, gambus, Vintage Sunburst. Juga mendengarkan musik dari judul lagu yang ada dibuku ini.
Setelah membaca ini, aku jadi teringat nasihat syeikh Thanthawi bahwa "Kita adalah orang biasa dlm pandangan mereka yang tidak mengenal kita, dan menarik dimata orang-orang yg memahami kita." Seperti nasib gitar legendaris yang diperlakukan berbeda, tergantung ditangan siapa dia berada.
"…. Kejujuran adalah sifat paling baik di dunia ini sekaligus paling brutal."___Hal.151 —- “Dunia tanpa musik, macam hutan tak berhewan, macam sungai tak ber-ikan, macam awan tak berangin”___Hal.268 . 🎶Brianna dan Bottomwise menceritakan bagaiamana gitar Vintage Sunburst 1960 kesayangan John Musiciante yang dicuri, dimana gitar ini sudah seperti bagian separuh diri John dan gitar John yg hilang ini telah berkelana dari Amerika sampai ke Indonesia, lalu berpindah kepemilikan dari satu tangan ke tangan lain, dari satu kota ke kota lain, terkadang disayang sebegitu besarnya, terkadang tersakiti berkali-kali, sampai suatu hari kembali lagi kepada pemiliknya, John Muciante. . 🎶Cerita ini diawali dengan pertemuan seorang jurnalis senior menjadi langkah mengenalkan setiap karakter yg ada dalam cerita hilangnya gitar John. Mulai dari Alma si gadis remaja berbakat musik, Sadman yg menyukai musik bercita-cita punya orkerta melayu tetapi tidak memiliki bakat musik, lalu Brianna dan Bottomwise merupan detektif swasta yang dibayar John si musisi melakukan pencarian gitarnya, Ameru, si pemuda Jakarta yang menemukan bakatnya saat bermain gitar John. Ada Pak Mu, lelaki tua yang bekerja di sebuah sirkus keliling yang ingat wajah ayah dan ibunya saat memainkan gitar John. Dan bagaiamana perjalanan gitar kesayang sang musisi sampai orang-orang ini dengan cerita dan memiliki pengaruh berbeda-beda dalam hidup mereka. . 🎶Pak Cik Andrea melalui “Brianna dan Bottomwise” menunjukkan bagaimana musik bisa mempengaruhi dan merubah hidup banyak orang dan disini pak cik juga mengajak pembaca mengenal musik melayu, banyak membahas musik pop-rock tahun 80-90-an. Auto ngelist penasaran dengar beberapa lagu🤭. Dan banyak sekali pesan moral dari cerita ini, seperti tentang kejujuran, tentang cita-cita, meraih mimpi, keiklasan, ketekunan tapi disampai dengan caranya sendiri tanpa menggurui siapa pun.
** spoiler alert ** Review buku Brianna dan Bottomwise | 314 hlmn
First of all, terima kasih @bentangpustaka sudah memberikan aku kesempatan untuk bisa membaca dan mereview novel keren ini 😍
--- Buku ini menceritakan tentang perjalanan gitar legendaris milik John Musiciante yang telah dicuri oleh kriminal amatir. Untuk mencari tahu dimana keberadaan gitar tersebut, asisten Musiciante meminta bantuan detektif swasta bernama Bottomwise. Dalam pencariannya, kita akan diajak mengelilingi dunia. Mulai dari daratan Amerika hingga ke Indonesia dan sampailah di Sumatra.
Gitar Vintage Sunburst 1960 bukan hanya mengalami perjalanan yang panjang yang berpindah dari tangan ke tangan hingga sampai ke Sumatra, namun juga menyentuh kehidupan orang-orang yang sempat memilikinya.
Selama membaca perasaan ku seperti roller koster. Baru saja dibuat bahagia, tiba-tiba dibikin sedih trus tertawa terbahak-bahak. Ceritanya bener-bener menarik sih. Ada makna hidup yang tersirat dalam kisah ini.
Meski banyak tokoh dalam cerita ini, tapi entah mengapa aku tidak kebingungan dengan tokoh-tokoh yang ada. Semua terasa kuat. Apalagi dengan nama-namanya yang unik, jadi mudah untuk diingat 😍
Aaah pokoknya seru banget. Buat kamu yang Melophile atau Retrophile, ku yakin bakal suka dg cerita dibuku ini. Btw, selama membaca aku banyak mencari di google untuk mendapatkan gambaran mengenai alat musik seperti bass cekik, gambus, Vintage Sunburst. Juga mendengarkan musik dari judul lagu yang ada dibuku ini.
Setelah membaca ini, aku jadi teringat nasihat syeikh Thanthawi bahwa "Kita adalah orang biasa dlm pandangan mereka yang tidak mengenal kita, dan menarik dimata orang-orang yg memahami kita." Seperti nasib gitar legendaris yang diperlakukan berbeda, tergantung ditangan siapa dia berada.
Re-read buku ini karena dulu belum sempat menghabiskannya. Bercerita tentang John Musiciante yang kehilangan gitar kesayangannya setelah pulang rekaman dari SPBU. Gitar itu adalah pemberian dari kerja keras ibunya sejak 30 tahun lalu.
John sangat mencintai gitar itu, bahkan dia rela memberikan reward tinggi kepada siapa pun yang menemukan gitar itu. John mengundang detektif swasta Bottomwise dan asistennya Brianna untuk menyusuri perjalanan si gitar.
Gitar itu melalang buana ke banyak daerah, pulau, hingga negara. Tersangkutlah gitar itu ke Pulau Sumatera. Babak baru dari kisah perpindahan gitar dari satu pemilik ke pemilik lainnya terasa kompleks dan lucu! Mulai dari pasar loak, pasar gelap, hingga Pulau Senyap.
Pembaca akan bertemu dengan sosok Sadman, yang bercita-cita menjadi penyanyi orkes Melayu bersama kawan-kawannya, namun sayang mereka buta nada atau telinga kuali. Lalu ada Alma si anak jenius dengan gitar, yang hanya berdiri di depan toko gitar setiap hari tanpa membeli gitar karena keluarganya hidup susah. Padahal aku suka part ini, tapi kurang ditelisik. Lalu ada Mafia Musik yang licik, seorang perempuan biduan (lupa nama) yang memukul mantan dengan gitar, dan tokoh lain yang mungkin belum kesebut karena saking banyaknya!
Setiap tokoh selalu punya kisah unik dengan gitar milik John itu. Contohnya: dipakai untuk gebuk kasur, mukul mantan, digadaikan, dijual murah, dianggap butut tak layak, dibawa ke pengadilan negeri sebagai barang bukti, atau dicap sebagai pembawa sial oleh dukun gara-gara nilai gitar itu 666 ribu. Kocak.
Saking nggak ketemunya itu gitar, John naikin uang reward sebanyak 200 miliar. Tidak tanggung-tanggung. Bisa kah itu gitar kembali ke tangan John dalam keadaan sehat wal afiat?
Penulisan dan cerita yang menarik khas Pak Cik Andrea Hirata. Setiap bab yang singkat membuat makin semangat buat menuntaskan novel ini. Humor yang bikin senyam senyum sendiri juga bikin betah bacanya. . Ceritanya sendiri soal gitar musisi legendaris, John Musiciante yang dicuri. Sayangnya, si pencuri tidak tahu dia berani mencuri dari siapa, gitar itu hanya dijual murah di pasar gelap, melintasi pulau bahkan benua ke Indonesia, dipindah tangankan satu ke satu orang lainnya. Sedangkan pemiliknya sendiri langsung mengutus penyelidik yang biasa menangani barang hilang artis, Bottomwise yang kemudian merekruit Brianna sebagai partnernya. Selain itu John Musiciante juga memberi imbalan besar kepada mereka yang bisa memberikan informasi maupun mengembalikan gitarnya. . POV dalam novel ini terbagi bagi, dari POV John Musicante, lalu Brianna dan Bottomwise, lalu Sadman, Pak Mu, Alma, dan banyak lagi yang memang terlibat dengan sang gitar. Ikutan gregetan dan penasaran sama perjalanan sang gitar. . Kekurangan novel ini cuman ada beberapa istilah pada awal novel yang aku kurang paham, tapi gaada footnote nya. Pun belakang novel ini belasan halaman akhirnya ternyata mencantumkan berbagai versi Laskar Pelangi di negara lain, yang menurut saya gausah memakan belasan halaman untuk iklan atau penjelasan. Oia, judulnya sendiri, Brianna dan Bottomwise sebenarnya tidak berasa menjadi tokoh utama krusial di novel ini. Entah karena ini masih buku 1, atau gimana. . Terlepas dari itu semua, buku ini aku nikmati, penulisan, penokohan, dan humornya juga aku selalu suka. Aku bakal menantikan buku keduanya.
Buku karya Pak Cik kali ini menceritakan perjalanan sebuah gitar Vintage Sunburst 1960 milik John Musiciante, seorang gitaris rock terkenal di Amerika Serikat. Gitar yang sangat berarti dan sentimental bagi Musiciante itu sudah mengalami bermacam-macam peristiwa.
Dari Benua Amerika sampai ke Kampung Ketumbi di Pulau Sumatra. Gitar itu telah dicuri, dijual, dilelang, digadaikan, berpindah dari tangan ke tangan, dan yang paling parah gitar itu pernah dijadikan alat gebuk kasur 😠😭
Kalian harus tau, kalo buku ini tuh memberikan nuansa membaca yang sangaaaatt menyenangkan. Selalu ada aja yang bikin ketawa, entah jokes dialog antar tokohnya, keputusan yang diambil sama para tokoh, bahkan sampai nama warung pun lucu.
Kita bakalan ketemu dengan karakter-karakter yang beragam di setiap babak. Salah satu karakter favoritku adalah Sadman, si telinga kuali!!! yang punya mimpi menjadi musisi orkes melayu bersama teman-teman SMPnya.
Tapiiii, sebenarnya alasan utama aku baca buku ini adalah karakter yang ada di judul buku ini. Brianna dan Bottomwise, aku ingin tau lebih banyak perjalanan mereka berdua sebagai detektif swasta yang mencari gitar kesayangan Musiciante. Sayangnya karakter mereka gak terlalu sering muncul dan kurang menonjol dibanding karakter lain.
Di akhir buku ini, baru aku tau kalau buku ini adalah buku pertama dari trilogi Brianna dan Bottomwise. Mungkin cerita mereka di buku kedua akan lebih ditonjolkan. Mari kita tungguu 🫵🏼😼
Kalo kalian suka musik, kisah perjalanan detektif, dan lagi butuh motivasi, aku rekomendasikan buku Brianna dan Bottomwise ini untuk kalian baca 🤩
Wow, selesai dalam sehari :’) kangen banget baca karyanya pak cik kayanya nih saya.
Jujur membaca buku ini rasanya menyenangkan sekali, khas gaya bahasa Andrea Hirata (kamu bahkan akan menemukan pesan moral nomor sekian sekian; yg ada sejak buku Laskar Pelangi).
Buku ini berkisah tentang perjalanan sebuah gitar legendaris milik musisi terkenal; yang hilang dicuri oleh orang yg tak tahu nilai gitar tersebut. Gitar tersebut berkelana hingga akhirnya sampai di Sumatera. Sebuah pulau yg asing bagi dua detektif yg dibayar oleh sang musisi untuk menemukan kembali gitar tersebut; Brianna & Bottomwise.
Walau banyak blurb yg menyebutkan kalau kisah ini berkisah ttg dua orang detektif (karena bold banget jadi judul buku), aku malah berharap teman-teman set zero expectations buat kisah ttg deduksi dan strategi detektifnya dalam menyelesaikan kasus. Dibanding hal tersebut, aku justru fokus pada perjalanan si gitar ini dari awal hingga akhir buku. Apa saja yg ia lewati, bagaimana ia bisa memberikan pengalaman-pengalaman yg berbeda bagi musisi; atau bahkan orang yg awam tentang musik.
Tokoh favoritku dibuku ini adalah Sadman dan Alma. I just can’t not love them after what they’ve been through. Ah, aku juga penasaran sama eksplorasi karakter Brianna dan Bottomwise sih, terutama Brianna, mengingatkan aku pada Robin di seri Cormoran Strike.
Bonus baca buku ini: bisa dapat khazanah kebudayaan Sumatera dan melayu seperti di buku-buku pak cik lainnya, pun bisa sedikit banyak dapat paparan tentang musik dan bagaimana musik bisa merubah hidup banyak orang.