Jump to ratings and reviews
Rate this book

Gerhana

Rate this book
AA Navis adalah satu diantara sedikit sastrawan Indonesia yang memiliki energi luar biasa dalam berkarya. Ia menulis Semua genre karya sastra; mulai dari puisi, cerpen, novel, drama, dan esai (ataukah kritik?) sastra. Dalam banyak karyanya, pengarang yang memilih tempat tinggal di tempat kelahirannya hingga wafat di tanah Minang ini selalu mengumandangkan suara manusia dengan segala bentuknya. Minangkabau memang kerap tampil sebagai laar tempat dan latar sosial cerita-cerita yang ia garap, namun sesungguhnya tokoh-tokoh yang ia hadirkan adalah manusia-manusia yang penuh pergolakan. Novel ini adalah salah satunya....

304 pages, Paperback

First published January 1, 2004

6 people are currently reading
83 people want to read

About the author

A.A. Navis

31 books97 followers
Ali Akbar Navis was a journalist and potential writer. He was a full time writer for Sripo and writes so many stories.

His famous books was “Robohnya Surau Kami” which became a monumental work for Indonesian literature. His last work is "Simarandang" a social-culture journal which been published on April 2003.

A.A. Navis passed away at age 79.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
13 (23%)
4 stars
12 (21%)
3 stars
23 (41%)
2 stars
7 (12%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for M Adi.
174 reviews17 followers
March 8, 2021
Ibarat merasa kehausan kemudian hanya diatasi dengan dua tetes air. Itulah yang dirasakan setelah membaca novel ini. Selayaknya pengenalan antar tokoh-tokoh, kemudian dibangun motif serta latar belakang kondisi sosial (serta kritik), perlahan-lahan berkelindan satu dengan lainnya yang menuju konflik kemudian (semoga) resolusi. Pada akhirnya, sebenarnya telah selesai sebelum yang diduga.
Profile Image for Ahmad Rofai.
62 reviews5 followers
November 6, 2017
membaca novel karya AA Navis ini; aku seolah diajak untuk menengok kiranya seperti apa budaya minang. aku iri kepada mereka yang lahir dari tanah ini.


Selain itu, banyak hal aku dapat. Tentu sebagai mahasiswa yang hampir (tidak pernah) mengikuti berbagai macam pergerakan; mendapatkan gambaran utuh bagaimana sebuah problemika kampus (korupsi, penyelewengan dan lain-lain) sebenarnya dihadapi bukan hanya oleh mahasiswa , tetapi juga dosen (konflik tergambar dengan jelas).

nampaknya, kompleksitas kisah dalam novel tidak cukup sampai disitu.
AA Navis juga menghadirkan dua perempuan (sebutlah Kartini dan Anna) yang mencari uang dari melayani laki-laki kesepian (tentu dengan tidak melakukan hubungan seksual).
Yanti, perempuan (tidak lajang) tapi dicampakan oleh suami, juga dihianati oleh perjaka yang dia sayangi. katanya; dalam hidup, ia sangat takut merasa kesepian.

Kartini dan Anna (cinta timbul diantara keduanya) di hampir akhir kisah dipisahkan oleh takdir perjodohan yang getir Kartini harus meninggalkan Anna, tanpa pesan.

dalam rasa sepinya.
Anna diperkosa; bunuh diri untuk tidak mati.
4 reviews
December 20, 2022
Tidak seperti cerita A. A. Navis yang biasanya.

Konflik-konflik yang disajikan dalam novel ini cenderung dangkal dengan tokoh cerita yang terlalu istanasentris. mungkin ini karena upaya bagaimana membawa pembaca dari satu tokoh ke tokoh lainnya.

Jika Anda mengharapkan cerita yang kompleks, mungkin novel ini cukup bagus. Namun jika Anda mengharapkan cerita ala A. A. Navis, jangan berharap terlalu banyak.

Profile Image for Speakercoret.
478 reviews2 followers
October 15, 2010
gw ud lupa pernah baca robohnya surau kami atau belum ya, jadi mo bandingin juga gak bisa

novel gerhana pernah jadi cerber di kompas pada tahun 1975.
novel ini menceritakan kehidupan ana dan kartini, 2 mahasiswi cantik di salah satu universitas di padang yang untuk memenuhi kebutuhan sehari2 mereka dengan cara menemani pria2 beristri jalan2 ke bioskop, klub, dll, Tapi jangan salah sangka, mereka "cuma" menemani. Bahkan tidak jarang mereka berteman dengan istri dari pria2 itu, seperti dengan Yanti istri dari Pak Darmo seorang polisi yang suka minta mereka menemaninya jalan2 keliling kota.
Novel ini juga menceritakan demo mahasiswa dengan tokohnya iskandar ketua dewan mahasiswa yang "memanfaatkan" pelecehan terhadap ana oleh Nur Rifai seorang dosen di universitas tersebut, untuk mengajak mahasiswa lain berdemo memprotes pihak kampus atas kebijakan2 rektor yang mereka nilai merugikan mahasiswa.

gw tidak menyangka di tahun 70an kota padang sudah "sebebas" itu.. atau mungkin A.A Navis membuat novel ini bukan untuk mencerminkan keadaan Padang pada waktu itu?
Dan ada yang bikin gw heran juga sama bapak A.A Navis di novel ini baik ben ( pacar kartini dan keponakan pak darmo, yang sempat juga menyukai yanti isri pak darmo) ataupun pak darmo kenapa kalau sedang menatap ana, kartini, atau yanti yang dibahas kok ketiak ya? :) kalo nggak salah inget sih 3 x hehehe... heran.. apa semua lelaki memang suka atau cuma lelaki pada zaman itu doang atau pak a.a navis doang :))
-----------------------------------------------

dah dilempar ke temanggung
Profile Image for Sanya.
90 reviews8 followers
January 11, 2017
Dua perempuan tokoh utama dalam novel ini memiliki nama yang menarik. Yang satu Ana Karina (saya langsung teringat “Ana Karenina”-nya Tolstoy) yang satunya lagi Kartini (saya langsung teringat salah satu perempuan yang dianggap pahlawan nasional Indonesia). Saya menduga-duga ada maksud dibalik pemberian nama tersebut. Terlebih ketika kisah hidup Kartini dalam novel ini nyaris sama dengan milik Kartini tokoh perempuan nasional.

Awal-awal membaca novel ini, saya sempat bosan dan mengira ini semacam novel populer dengan tokoh-tokoh yang agak sulit dipetakan. Awalnya. Tetapi semua mulai berubah ketika seorang polisi yang usianya sudah cukup tua, bernama Darmo, mengemukakan pandangannya soal polisi itu sendiri. Menjadi semakin menarik ketika terungkap kegelapan hubungan suami-istri Darmo-Yanti. Hanya saja, yang sejak awal mengganjal bagi saya adalah format dialog dalam novel ini yang bukan menggunakan tanda petik melainkan tanda garis. Entah ini efek dari penerbitannya atau penulisnya, Bapak AA Navis, sengaja membuatnya seperti itu, tetapi menurut saya, hal itu cukup mengganggu.

Dan, bisa dibilang, novel ini sangat Minangkabau-Padang-sentris. Seperti penulisnya ingin meneriakkan kepada para pembaca bahwa dirinya berasal dari daerah dan lingkungan adat tersebut.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Sweetdhee.
514 reviews115 followers
December 27, 2010
Ga tau kenapa baca buku ini yang kebayang tuh Roy Marten jaman dulu dan Eva Arnas..
Ampun dah..

***************************************************
obral matraman
ahaahahahaha, ini yang masukin covernya siapa ya?
ada label harga nya
hihihi
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.