Lebih buruk daripada yang kuingat dulu. Jualan utamanya tetap premise (yang sangat menarik buat saya), tapi ya udah itu aja.
Premisenya: mind-reader hero beating serial killers. Tapi mind-reading di cerita ini sangat sedikit. Yang ada pun penggambarannya sangat tidak menarik, cuma jadi tempelan aja.
Baca dalam bahasa aslinya agak lebih mending daripada dulu baca yang terbitan Gramed, tapi flaws nya jadi kelihatan lebih jelas.
Gaya bahasa amatiran dan mendikte pembaca. Telling, not showing. Perilaku karakter-karakternya, tokoh utama maupun tokoh background, sangat klise dan sering terlalu tidak realistis, yang kemudian diikuti oleh penjelasan bertele-tele tentang kenapa perilaku mereka seperti itu. Contohnya di saat adegan yang mestinya intens, penulis menggambarkan pikiran si tokoh utama (dalam POV third person) tentang penampilannya sendiri:
David rushed into the garage, headed for the upper level where his van was parked, but slowed as he passed the empty attendant's station and caught a glimpse of his reflection in the booth's glass. He was not a pretty sight. His entire face was swollen, bruised, scraped, and bloody. The right eye was puffed up, but his nose had suffered the worst damage. It pointed in an unfamiliar direction and was numb to the touch.
Buset dah. Masih sempat-sempatnya ngaca trus ngelamun tentang penampilannya.
Analisa situasi karakternya juga digambarkan dengan berandai-andai:
He wouldn't be like that. He wouldn't be alone. He'd have security guards with him.
Nggak ada penjelasan lebih lanjut. Just telling us what a hot shot bad ass the characters are. Beneran menjengkelkan.
Terakhir dan yang paling besar flaw nya menurutku adalah para cast of characters. Ada comedic relief, yang dalam kondisi normal aja udah gak cocok untuk cerita intens seperti ini, apalagi di sini karakternya terlalu mempengaruhi plot (Chester Pinyon). Berapa kali juga karakter serius dibuat lucu-lucuan. Semua comedic relief di buku ini gak ada yang lucu sama sekali.
Main villain gak jelas banget baik rasio dan motif yang melatarbelakangi kenapa dia melakukan apa yg dia lakukan, cara dia beroperasi, dan terakhir bagaiman dia menerima konsekuensi perbuatannya. Penulis telling dia adalah pejabat big shot ahli taktik yang dekat dengan White House dan Pentagon, tapi showingnya dia kayak amatiran yang gak bisa apa-apa, sangat goblok milih anak buah (termasuk comic relief yg disebut di atas, dan anak buah yang lain), hanya mengandalkan satu cara operasi yang kalau dipikir-pikir lemah dan sangat riskan dan melibatkan banyak orang (meski dibilang pake need-to-know basis) jadi penuh risiko kebocoran meski tanpa musuh mind-reader. Dia juga asal jahat aja tanpa motivasi yang jelas. Tema politik di buku ini saking gak maunya menyinggung siapa pun, jadinya nanggung dan gak jelas. Puncaknya bagaimana si main villain menemui azabnya di dunia, extremely unsatisfying.
Tapi yang paling parah imo, tokoh cewe romantic interest nya main character. Bener-bener lemah. Dia langsung bertekuk lutut klepek-klepek romantically sama MC sampe digambarkan kayak orang bingung harus ngapain di rumah karena ditinggal cowoknya keluar beberapa jam saja, saking kangennya. Itu tanpa ada ancaman penjahat atau apa pun. Itu pun dia baru kenal si MC baru beberapa hari!
Gila ini insulting banget tokoh utama cewe kyk gini (it has been told si cewe itu kuat blablabla, tapi showing nya bertolak belakang 180°) padahal si penulis juga perempuan.