SETIAP ORANG PASTI PUNYA KEINGINAN MENGUBAH KEPUTUSANNYA DI MASA LALU! Kalau Lasha diberi kesempatan itu, dia akan fokus masuk sekolah yang diincarnya agar masa depannya lebih baik, lebih banyak romantic experience agar tidak stuck di satu orang saja, dan … tidak bertemu Raeshangga. It’s funny how music could be a time machine. Ketika permohonannya dikabulkan dan dia berusaha memperbaiki jalan hidupnya yang nyaris sesuai harapan, dia melihat Raeshangga dari jauh. Jalan hidup cowok itu ternyata juga berubah tanpa kehadiran Lasha di sisinya.
Dulu tuh udah sempet baca juga d Wattpad sebenernya. Duluuuu banget, jadi udah lupa total. Makanya pas baca ini kayak baca baru aja walaupun ada dua scene yang aku inget juga.
• Pros:
Salah satu hal yg aku suka dari crta2nya Mbak Aqessa itu, tokoh2nya yang deket banget sama kita, jadi berasa kalau kita juga punya kesempatan buat dapetin happy ending versi kita sendiri. Tokoh2nya nggak yg sempurna dengan karir mentereng, ya biasa-biasa aja budak korporat yg struggle sama diri sendiri dan banyak hal lainnya. Intinya sih, ceritanya nggak ngayal babau, wkwk. Padahal buku ini ngayal banget kalau liat dari genre-nya yg magical realism.
Lasha ini ... aduh gimana aku ngomongnya, wkwkw. Bisa kali ya dibilang ego-nya selangit? Apa yang dia lakuin ke Rae dulu, apa yang dia lakuin ke Rae di kehidupan lain, dan apa yg dia lakuin ke Rae di masa sekarang-nya. Kalau liat dari sudut Rae tuh kek kuat banget ni cowok sama Lasha, wkwk. Dan hal yg aku suka adalah how she changed to be a better person by herself gitu. Dia sadar dengan apa yang dia lakuin tuh terasa berlebihan karena konsekuensi dari pilihan yang dia ambil, sih. Daaan aku suka cara penulis nge deliver itu ke pembaca.
• Cons:
Ada bagian yang aku ngerasa cringe parah, sih, wkwk. Bgian ngobrol di rumah, sebeleum Lasha ngobrol ma ortunya. Cringe banget sih sama Rae. Wkwk. Dan emang Rae ini cringe aja gombalannya emang. Even dari zaman SMA. 😂
Flow berceritanya di akhir2 sih jujur ya aku ngerasa tersendat2 aja. Mungkin krena mereka tuh terlalu exaggerating aja gitu. Tarik ulurnya bikin rada cape abac. Sebenernya ini in a good way sih, tapi akunya aja cape. 😂 Soalnya itu2 aja yg diributin, titik temuny lama bgt ketemunya.
Reviu ini mungkin bakal kebanyakan rant karena bukunya bukan jelas mangkukku. Entah dari segi karakter atau karakterisasinya sendiri.
Lasha putus dengan Raeshangga setelah menjalin hubungan selama 7 tahun. Suatu hari, teman dekat Lasha memberi info kalau Raeshannga sudah punya pacar baru, bahkan sudah saling mengenalkan orang tua masing-masing. Patah hati Lasha. Percintaan Raeshannga berlanjut, sedangkan dirinya malah kian terpuruk dan susah beranjak. Lasha menemukan iPod lamanya dan sebuah playlist misterius yang akhirnya membawanya ke kehidupan kedua. Kali ini, Lasha bertekad tidak akan mengenal Raeshangga agar tidak terjebak dalam kenangan yang sama. Tapi, masa depan mereka juga akan berubah, kan? Sebagai bagian dari konsekuensi karena mengubah masa lalu.
Pertama, konsep balik ke masa lalunya seru. I mean, siapa yang nggak mau balik ke masa lalu, mengulang kembali jalan yang berbeda. Tapi, konsekuensinya masa depan juga ikut berubah. Pas baca ini langsung kepikiran sama beberapa drama Korea yang pakai konsep time travel begini juga. Masalah terbesarnya pada karakter Lasha yang aduh, labelnya udah bukan kuning alias warning, tapi red flag, sih. Bukannya Lasha tukang selingkuh, manipulator, atau suka main tangan, tapi sikapnya amat kekanakan.
Kedua, membahas soal karakterisasi Lasha, kurasa dibilang konsisten memang iya. Lasha konsisten sampai akhir, menyebalkan. Sikapnya secara nggak langsung bikin kesal karena selalu mau ini dan itu tanpa bisa introspeksi diri sendiri dengan benar. Ada kalanya mau bisikin Raeshangga buat kabur aja. Tapi, kayaknya mustahil juga, sih, soalnya doi bucin abis sama Lasha. Aku nggak tahu apa yang memaksaku nggak dnf buku ini, tapi harus diakui, bagian akhir agak mending.
Ketiga, ada bagian-bagian yang kurasa agak berlebihan, seperti Raeshangga berteriak di halte. Kayak ... memangnya yang begitu lazim, kah, di kota besar? Toh umurnya bukan remaja lagi. Agak malu-maluin jujur xD apalagi respon Lasha kayak ada yang kurang. Entah ini karena emang pengaruh tulisan atau karakterisasi Lasha kurang kuat. Tbh, baik Lasha/Raeshangga, karakterisasinya setengah mengambang, walaupun memang konsisten.
Keempat, tulisannya, maksudku cara menulisnya nggak bisa jadi micin buat alur. Agak sayang sebenarnya karena premisnya bagus. Aduh, tapi karakter Lasha bikin jengkel kuadrat juga, sih. Yah, bukan seleraku aja.
Sempat mikir, Lasha siapa ya??? Ooooh adiknya Abi toh 🤭. Jadi buku ini ttg perjalanan cinta 7 tahunnya Lasha & Raeshangga yg berakhir putus. Karena Lasha merasa hanya dirinya yg berjuang selama itu. Setelah putus 3 taun, Angga jg udh putus dengan pacarnya setelah Lasha, namun Lasha tetap gtu2 aja. Single. Tiba2 Raeshangga datang lagi, bilang kalau dirinya akan study ke luar negri dan ngajak Lasha nikah. Nikah? Waaaaah. Lasha langsung naik pitam. Setelahnya, Lasha mencoba mengurai. Dmn letak salahnya? Kenapa ia begitu marah dengan kehadiran Angga yg tiba2? Sampai ia menemukan ipod lamanya, dan berakhir Lasha terbangun dan bertemu dengan paperina, kucingnya yg mati waktu ketika dia masih SMP. Ia pun kembali ke usianya setelah tamat SMP. Mencoba untuk memperbaiki masa lalunya dan berusaha memperlambat pertemuannya dengan Raeshangga. Berharap memiliki akhir yg berbeda. Time Turner.
“Bagian terburuk dari perpisahan adalah saat kita mengingat momen-momen dimana kita pernah membangun mimpi bersama-sama, dibandingkan satu momen yg menghancurkan semua mimpi itu. Karena apa yg pernah kita rasakan, kita miliki, itu nyata.” Hal 16
Baca buku ini bikin aku nggak pengen mutar balik watu. Sebelum baca ini aku pengen banget mutar balik waktu karena merasa banyak hal yang aku sesali, banyak hal yang membuat aku merasa akan lebih baik kalau aku milih jalan lain. Tapi akhirnya, aku sadar kalau aku mutar balik waktu dan memilih jalan yang lain, mungkin aku nggak akan sampai di titik ini, aku mungkin nggak bakal sekuat ini, aku mungkin nggak bakal punya kenangan ini, dan mungkin hidup aku akan berubah jadi lebih buruk. Mungkin juga hidup orang lain yang aku sayangi bakal berubah jadi lebih buruk juga.
Mungkin memang banyak hal yang aku sesali sekarang, tapi nggak menutup kemungkinan kalau aku mutar balik waktu aku nggak bakal menyesali hal itu juga.
Dan walaupun banyak hal yang aku sesali, tapi banyak juga hal baik yang pengen selalu aku kenang.
Udah lama banget ga baca bukunya kak Aqessa, dan tiba-tiba kepengen baca ini sebelum nanti sepertinya pengen mengulang baca Secangkir Kopi. Samar-samar ingat, beberapa tokoh di sini adalah tokoh di novel sebelum sebelumnya. Yang paling ingat adalah Ghilman dan Athaya.
Oke, balik ke Strange Playlist. Menceritakan Lasha, seorang budak korporat yang sudah putus dengan Raeshangga-biasa dipanggil Rae, tiba-tiba mereka bertemu kembali dengan segala pencapaian Rae dan mengajak menikah Lasha. Wow! Saya kira konfliknya akan berada di sekitar itu. Namun ternyata tidak.
Menceritakan dulu bagaimana Lasha berkenalan dengan Rae hingga mereka pacaran, dan apa yang membuat mereka akhirnya putus. Sampai tiba dimana Lasha kecelakaan, lalu dalam mimpinya-yang ternyata dia koma, dia diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu dan mengubah apa yang ingin ia perbaiki. Ia masuk ke beberapa fase terpentingnya dalam hidup melalui sebuah playlist asing yang terputar secara acak. Entah ini masuknya time travel atau bukan. Lasha bersikeras menghindari Rae di masa lalunya. Masuk SMA yang tidak sama dengan kehidupan aslinya, mencoba dekat dan berpacaran dengan selain Rae. Dan hal-hal lain yang tidak bersinggungan dengan Rae.
Saya suka dengan beberapa novel kak Aqessa, bahasanya yang enak, page turning. Namun, untuk yang ini sepertinya apa ya, agak datar konfliknya. Bagaimana Lasha dulu dengan segala egonya, mengkhawatirkan masa depan Rae-yang mungkin terkesan naif pada masa itu. Rae dengan segala pencapaiannya, yang ternyata itu membuat Lasha iri. Bagaimana Lasha harus memaafkan dirinya sendiri juga memaafkan Rae.
"Hidup ini memang berisi banyak pilihan. Dan setiap pilihan mengarah kepada pilihan lain. Selalu ada pilihan yang salah, tapi juga selalu ada pilihan untuk kembali ke jalan yang benar. Untuk memilih jalan itu, kita perlu melakukannya dengan kepala dingin. Untuk membuat kepala dingin, kita perlu menyingkirkan penyakit hati. Mulailah dengan berdamai dengan diri sendiri." -Page 283
4.5 Akhirnya bisa beneran baca buku tanpa ditunda. Suka sama ceritanya, lupa-lupa ingat sama yg di Wattpad, tapi sama-sama bikin "nangis" dibagian tertentu. Suka sama Rae, terutama dibagian cerita dia dan keluarganya. Menuju ending, agak g suka sama Lasha, tapi mungkin karena dia sedikit galau akan kedatangan Rae yg tiba-tiba. Terima kasih kak Echa untuk ceritanya, dan saya tunggu karya-karya selanjutnya.
Alwaysss ka echaaa 🥰🥰🥰 very love it, selalu suka sama pembawaan cerita ka echa yg easy going tp tetep kena bgt sama makna-maknanya. Cerita yg slalu ditunggu-tunggu krn ada sedikit bumbu fantasy tp ttp relate sama kehidupan juga. Yeokshiii!!
4,5✨ aku selalu suka ceritanya kak aqessa, alurnya pas, pembawaan ceritanya gampang dipahami gak berbelit atau bertele-tele, feel yg mau disampaikan jg dapat, aku rasa kalau ada extra chapter atau epilog kelanjutan hubungan lasha dan rae makin seru sih ✨🤣
Berhubung kita tidak punya kesempatan mengulang waktu, mungkin sudah saatnya merelakan apa yang telah terjadi dan belajar memaafkan diri sendiri. That's All learn from reading this cute romance novel
Yang aku rasakan selama baca ini adalah sebel. Iyap. Aku sebel, keki, greget bangeeet sama Lasha. Dia itu bawaannya meletup letup, gengsi, kadang labil, dan bener apa kata di Notes nya, kalau Lasha dipenuhi rasa iri dan marah. Khususnya terhadap Rae. Aku merasa kasihan sama Rae, tapi yaa kalau jadi Lasha yang tiba tiba diajak nikah sama orang yang udah lama nggak saling kontakan, pasti ngerasa kayak, apaan sih??
Aku awalnya agak bingung mau kasih bintang berapa. Soalnya, dari segi narasi tuh udah enak, dan aku juga cukup menikmati baca novel ini. Yang buat aku sedikit ngerasa terganggu tuh di saat saat menuju ending aja. Banyak konflik yang sebetulnya sederhana, tapi dibuat jadi belibet libet libet. Haha. Rasa sebelku mulai mereda setelah baca halaman 281 ke depan. Dan utungnya..untung banget si Lasha sempat baca catatan itu.
Tokoh tokoh di novel ini bukan tipe yang sempurna dan nggak memiliki celah. Karakter mereka dibuat sebagaimana manusia di kehidupan nyata. Bukan tipikal yang too good to be true gituu. Kalau untuk bacaan selingan, nggak yang berat berat, dan dengan jumlah halaman yang nggak banyak, coba baca ini.
' Beberapa kamu dapatkan, saat itu kamu merasa hebat, keren, kali ini kamu bisa berdiri tegak di depan Rae dan mengangkat dagumu dengan sombong. Tapi ada juga yang tetap nggak kamu dapatkan. Atau mungkin belum. Who knows? Lalu kamu mulai kecewa, apakah kamu memang sebodoh itu? Apa kamu memilih jalan yang salah? Kamu nggak sabar. Padahal jalan di depan masih penuh misteri.' (Halaman 282)
" Mungkin ... lo harus berhenti merasa berkompetisi dengan dia. Life is not a series of competition. Siapa duluan nikah, hamil, dan punya jabatan. Padahal tiap orang beda timing-nya. That's what our chicklit movies said, kan?" (Halaman 288)
Sukaaa!! Udah lama banget nggak baca cerita universe ini! Kangen banget sama karakter-karakternya >< Selalu suka sama cara kak Echa nulis, karakter-karakternya terasa hidup banget.
Konsep ceritanya saya juga suka BANGET. Selalu suka dengan konsep "what-if" tapi yang yaa akhirnya, harus bersyukur aja sama kehidupan sekarang, karena jalan lain yang kita tempuh, belum tentu lebih baik juga.
Saya juga nggak bisa berhenti nyambungin cerita ini sama Timeless-nya Taylor Swift karena AAAA cocok banget! "In another life, you still would've turned my head", "even in a different life, you still would've been mine, we would've been timeless" 🥺🥺🫶🫶
Salah satu hal yang saya kurang suka mungkin konflik Lasha-Raeshangga yang agak diulang-ulang dan mbulet terutama di akhir.
But overall sukaa banget! Jadi kangen baca tulisan-tulisan Kak Echa, mungkin kapan-kapan akan reread buku-bukunya yang lain hihi🤩
Penulis : Aqessa Aninda Penerbit : PT. Elex Media Komputindo, 2022 Detail : 296 hlm | Drama, Roman, Fantasi, Magical Realism Personal Rating : 4.3/5
“Hidup ini memang berisi banyak pilihan. Dan setiap pilihan mengarah kepada pilihan lain. Selalu ada piliha yang salah, tapi juga ada pilihan untuk kembali ke jalan yang benar. Untuk memilih jalan itu, kita perlu melakukannya dengan kepala dingin. Untuk membuat kepala dingin, kita perlu menyingkirkan penyakit hati. Mulailah dengan berdamai dengan diri sendiri”- hal. 283
“Nggak ada yang salah dengan dua jalan itu. Saat kamu memilih, kamu juga memilih mau jadi orang seperti apa. Kamu manusia, nggak perlu sempurna. Nggak apa-apa kalau nggak jadi keren, nggak apa-apa juga kalau nggak punya banyak teman. Semua ada konsekuensinya dan semua bisa bikin kamu bahagia. Kamu hanya perlu memilih, mau jadi seperti apa kamu.”-hal. 283
“Life is not a series of competition. Siapa duluan nikah, hamil, punya jabatan. Padahal tiap orang beda timing-nya.”-hal. 288
✨✨✨
Blurb : SETIAP ORANG PASTI PUNYA KEINGINAN MENGUBAH KEPUTUSANNYA DI MASA LALU! Kalau Lasha diberi kesempatan itu, dia akan fokus masuk sekolah yang diincarnya agar masa depannya lebih baik, lebih banyak romantic experience agar tidak stuck di satu orang saja, dan … tidak bertemu Raeshangga. It’s funny how music could be a time machine. Ketika permohonannya dikabulkan dan dia berusaha memperbaiki jalan hidupnya yang nyaris sesuai harapan, dia melihat Raeshangga dari jauh. Jalan hidup cowok itu ternyata juga berubah tanpa kehadiran Lasha di sisinya.
✨✨✨
Rasanya udah lama banget aku nggak dibikin nyesek sama buku, bahkan sampe hampir nangis. Terakhir kali, pas baca ‘Love, Hate, and Hocus Pocus’ karya Karla M. Nashar. Aku inget banget, waktu itu masih kelas 8. Minjem punya temen, giliran sama anak-anak. Apalagi, ending-nya dibikin gantung. Berasa pingin teriak tapi gabisa. Mau protes, ya mau protes ke siapa. Wkwk. Nyesek, bruh!
Lalu, sekarang kejadian lagi. Cuman, bukan pada ending-nya. Tapi pas adegan klimaksnya. Tangis-tangisan, berasa pingin nangis juga. Aku berasa lagi ada di sana, lagi ngerasain situasi yang ada di sana juga. Kayak, ah …, bisa nggak, sih, aku peluk kalian berduaaa (Lasha - Rae)? Kok, rasanya kesian banget sama perasaan kalian berdua, tuuh?
Lasha yang kayaknya rasa cintanya udah habis di satu orang--Rae, mulai berandai-andai. Andai aja dia bisa memutar waktu, dia mungkin nggak akan menghabiskan tujuh tahunnya hanya untuk disia-siakan buat satu orang aja. Mungkin, dia bakal fokus sama impian dan tujuannya di masa depan. Atau, dia akan lebih variatif dalam berhubungan dengan cowok lain. Tiba-tiba, pada suatu hari, pengandaian itu terkabulkan. Dia benar-benar kembali ke masa lalu melalui iPod-nya yang berisikan playlist aneh!
Pas baca, aku juga jadi berandai-andai. Haha. Kebiasaan. Kebiasaan bayangin diri sendiri jadi pemeran utama dalam novel! Wkwk! Ngaku, kalian semua juga begini, kan? Hayo?
Aku, kalo bayangin bisa balik ke masa lalu, pasti bakal berusaha membuang semua hal yang bikin aku menyesal udah milih pilihan itu dan berjuang sekuat tenaga mencapai apa-apa yang sebelumnya udah gagal kucapai. Berusaha menghindari seseorang yang berpotensi bakal bikin aku sakit bahkan hingga belasan tahun berlalu. Persis apa yang dilakuin Lasha. Ah, tapi terus buru-buru sadar. Ini fiksi, gais. FIKSI!
Pas Lasha balik lagi ke masa SMA-nya, terus diceritain gimana aktivitas sehari-harinya di sekolah, juga berasa bawa aku inget-inget lagi ke jaman SMA-ku. Ikut ekstra pramuka, berhenti di pos 1,2,3, dan 4, terus dihukum disuruh nyanyi sambil joget. Untungnya, sih, si Lasha bisa cepet adaptasi gitu, ya. Dia ambil lagu yang memang lagi hits waktu itu. Kalo aku, pasti udah khilaf. Mungkin malah bawain lagu Fatal Trouble-nya Enhypen yang bahkan pada saat itu si Sunghoon masih baru mulai masuk playgroup! Wkwk.
Karakter Lasha, visioner dan ambisius. Dia tahu apa yang harus dia lakukan dan inginkan di masa depan. Sementara, Rae sebaliknya. Dia santai, mengikuti arus, dan pokoknya bodo amat. Rae diceritakan sebagai laki-laki yang sederhana, jahil, petakilan, khas anak-anak SMA pada umumnya, lah. Nggak begitu fiksi macam tsundere, atau wattpad-able kayak kebanyakan karakter laki-laki idaman. Mungkin itulah alasan kenapa aku merasa dekat dengan si Rae meskipun nggak diceritain gimana kisah ini dari sudut pandangnya.
Satu lagi, gombalannya Rae maut! Nggak kuat aku, haha. Berasa ikutan balik ke ‘butterfly era’. Mainnya alus pisan, euy.
Cuman, ada hal yang aku sayangin. Dari awal, kisah ini ditulis pakai sudut pandang orang ketiga terbatas, berpihak pada sudut pandang Lasha. Tapi, nyampai di tengah, tiba-tiba pakai POV 3 serba tahu. Aku langsung kayak, ‘hah?’. Empati yang kubangun buat Lasha, berasa langsung ambyar. Mungkin, kalau di-switch POV 3 yang berpihak ke Rae, aku masih bisa terima. Tapi, kalau begini, rada ngangkat alis juga, meskipun kayaknya, tujuan dari bab itu tuh buat ngasih info buat bab selanjutnya.
Terus, tokohnya terlalu banyak. Aku sebenarnya paling males kalo karakternya dibikin hampir se-RT keluar semua. Bingung, bruh! Ini tadi siapa? Oh, ini tadi siapanya siapa? Oh, yang itu tadi, terus siapa? Lelah, Bestie. Lelah.
Tapi, overall, aku enjoy, sih, baca ini. Page turner banget. Nggak nyangka bisa berhasil nuntasin ini cuma sehari doang plus bikin reviunya. Biasanya, sampai berhari-hari, atau berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, wkwk. Buku ini rekomended buat kalian yang suka baca genre magical realism dan romance tentunya.
The Strange Playlist • Aqessa Aninda • 296 hlm. • @elex.novels • Edisi Digital, 2024. Baca di iPusnas
Tokoh utama di cerita ini amat manusiawi. Lasha salah mengambil keputusan, Lasha juga salah dalam berucap hingga hubungan 7 tahunnya dg Raeshangga harus berakhir. Terakhir, tdk munafik, Lasha jg merasa iri pada pencapaian Raeshangga yg pernah dipandangnya sebelah mata.
Putus setelah 7 tahun berpacaran dan hampir 3 tahun tdk saling berkirim kabar, Raeshangga tiba-tiba muncul di hadapan Lasha. Menunjukkan pencapaian hidupnya dan pria itu bahkan mengajaknya menikah.
Raeshangga yg dulu diputuskan oleh Lasha karena dianggap tdk punya mimpi, tdk punya ambisi, masa depannya suram karena kuliah yg terseok-seok akibat game DOTA, kini justru hidup di dunia yg diinginkan Lasha. Marah, gadis itu pun menolak mentah-mentah lamaran Raeshangga.
Karena sebuah kecelakaan, Lasha mendapat kesempatan kedua utk mengulang masa lalu. Lasha yg ambisius mengambil jalan yg berbeda dari kehidupan lamanya, berusaha mencapai cita-cita yg belum sempat tercapai di kehidupan lamanya. Dan juga, mati-matian menghindari Raeshangga karena tdk mau stuck di satu orang selama 7 tahun. Lasha pun mendapatkan pengalaman baru dan bertemu orang-orang baru di kesempatan kedua ini dan keputusan-keputusan yg diambil Lasha di kesempatan kedua ini ternyata berpengaruh pada kehidupan Raeshangga karena tdk ada kehadiran Lasha di dalam hidupnya.
Pada akhirnya, Lasha harus memilih kenangan di kehidupan mana yg ingin disimpannya. .
Aku suka bagaimana penulis membuat tokoh-tokoh di cerita ini terasa manusiawi dg kesalahan-kesalahan yg mereka perbuat. Bukan hanya itu, mereka juga berani mengakui kesalahan, berdamai dan memaafkan diri mereka sendiri, dan akhirnya mampu memaafkan orang lain.
Perkembangan karakter Lasha dan Rae tuh keren banget buatku. Di sisi lain, aku dibuat tdk suka dg watak Lasha yg plin-plan dan terkesan tdk dewasa di usianya yg seperempat abad. Dia main tarik-ulur, katanya marah pada Rae tapi malah sender-senderan. Ngambeknya juga terasa amat kekanakan. Tidak konsisten.
Dari segi ide cerita dan amanatnya aku suka banget, tapi di dalam cerita terlalu banyak "telling" dibanding "showing". Banyak dialog-dialog yg hambar dan adegan-adegan yg mubazir. Masa pacaran Lasha dan Rae semasa SMA pun diceritakan dg detail dari waktu ditembak hingga dialog-dialog rayuan gombalnya, yg aku rasa cukup diringkas dan diberi porsi showing aja. Tokoh-tokoh pendukungnya luar biasa banyak: teman-teman Lasha--dari dunia asli dan dunia pararel, sepupu-sepupunya, dll. Banyak banget dan nggak bisa dibedakan satu sama lain kecuali Ghilman dan Athaya yg memang penggerak cerita.
Romansanya manis banget. Endingnya cakep dan memuaskan, hanya saja ketika Lasha bangun dari koma kupikir udah tinggal ending aja rupanya masih dibuat muter-muter dg sikap marah-tapi-mau alias jinak-jinak merpatinya Lasha. Capeeekkk.
Lasha dan Rae sama-sama penggemar Harry Potter jadi akan banyak printilan soal Harpot di sini. Referensi musiknya juga beragam dan bikin aku penasaran sampai-sampai aku cari di Spotify :D Konsep memasukkan lagu dan tokohnya mengalami sendiri, relate dg lirik dalam lagu itu tuh menurutku cakep ya, aku suka bagian ini.
Overall bagus sih ini. Yang aku tangkap dari cerita ini adalah kita semua tdk sedang berkompetisi. Yang paling berambisi, yg punya banyak mimpi, yg paling terstruktur hidupnya, dialah yg menang, yg akan sukses dan bahagia di masa depan. Tidak seperti itu, masa depan nggak ada yg tau.
Punya cita-cita setinggi langit, sebanyak bintang dan berusaha keras menggapainya itu gapapa, sedangkan yg hidupnya nggak terlalu berambisi, ngalir aja dan terlihat menikmati hidup dg fun dan terkesan softy juga gapapa. Tidak ada yg lebih baik karena keduanya sama-sama baik.
"Nggak ada yg salah dg dua jalan itu. Saat kamu memilih, kamu juga memilih mau jadi orang seperti apa. Kamu manusia, kamu nggak perlu sempurna. Nggak apa-apa kalau nggak jadi keren, nggak apa-apa juga kalau nggak punya banyak teman. Semua ada konsekuensinya dan semua bisa bikin kamu bahagia. Kamu hanya perlu memilih. Mau jadi seperti apa kamu." - hlm. 283.
Cover dan judulnya yang menarik dengan gambar ipod itulah yang membuat aku penasaran dengan cerita yang disuguhkan penulis. __________ "Dapat pasangan yang supportif itu nggak gampang. Pilihan kita jadi terbatas emang, tapi kalau punya pasangan supportif dan lingkungan punya support system yang bagus, bukan nggak mungkin kita masih bisa tetap berkembang, but being a wife doesn't mean you sold your soul a man. Itu kan hal timbal balik. Lo memperlakukan baik, lo juga berhak diperlakukan baik."– Hal 277. ____________ Pacaran selama 7 tahun dan berakhir nggak baik-baik aja tuh rasanya bikin nyesek, itu yang dirasakan Lasha pada Raeshangga. Dan dia merasa semua sia-sia, karena dia sampai lupa bagaimana rasanya harus mengulang dari awal untuk pedekate dan dekat sama lelaki lain, yang circle temannya dia dan sang mantan itu sama. Sampai berpikir nggak akan ada yang suka sama dia, karena semua temannya adalah teman Rae juga. - Lalu diberikan kesempatan kedua untuk bisa mengulang waktu yang dianggap Lasha tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa bertemu orang lain selain Raeshangga. Di kesempatan itu Lasha banyak melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan, membuat pilihan-pilihan yang tidak ada Raeshangga di sana. - Dan pada klimaksnya sendiri aku memahami kalau Lasha itu terlalu denial. Egois sih sebenarnya, aku kurang suka dengan dia yang memaksakan orang harus bisa kayak dia, kesannya terlalu menuntut tanpa sadar sudah menyakiti. Itu juga hal yang membuat aku berpikir kalau Lasha ini tengah melakukan pencarian jati dirinya akan harapan-harapan yang harusnya sih bisa dia terima, tapi sayangnya itu terlalu denial, jadi geregetan pengen cubit hatinya Lasha, ehe. - Penulis berhasil memainkan sisi emosional pembaca dari karakter Lasha termasuk aku sebagai pembaca. Sejauh ini konfliknya ringan menurutku, jadi buat kalian yang suka bacaan ringan, ya ini cucok deh sambil dengerin musik juga seru tuh. Personal rate 3,7/5
Buku ini menggunakan trope yang paling tidak saya minati: kembali ke masa lalu. Tapi ini buku terbaru Aqessa Aninda, banyak yang minat, jadi...
Latarnya masih seputar dunia Jakarta buatan Aqessa: ada Ghilman, Athaya, dan Satrya. Tapi ceritanya menyorot hubungan Lasha dengan Raeshangga, yang sudah putus setelah 7 tahun pacaran. Alasannya karena waktu itu Rae sudah tidak acuh dengan kuliahnya, sedangkan Lasha sudah mau lulus dan siap mengejar cita-cita ke luar negeri. Jika visi masa depan mereka tidak selaras, maka untuk apa hubungan ini dilanjutkan?
Kemudian mereka dipertemukan kembali, dengan Rae yang mengabarkan bahwa dia mendapat beasiswa ke Belanda dan mengajak Lasha menikah. Lasha terkejut, marah, dan kecewa mengapa dia harus menghabiskan waktu selama itu dengan Rae hanya untuk menerima berita "tidak menyenangkan" itu. Lasha pun berharap bisa memutar waktu, kembali ke masa lalu yang tidak ada Rae.
Selebihnya pembaca diajak menyimak perasaan Lasha di masa lalu versi lain. Tetap ada Rae, dan Lasha menyaksikan dia tumbuh tanpa dirinya, menjadi orang yang berbeda. Lasha pun belajar memaknai dengan berbeda, walau dalam perjalanannya agak ruwet, seruwet penyangkalan Lasha terhadap perasaannya sendiri.
Seperti apa yang saya tulis di ulasan SKDPL, nilai yang diangkat penulis dalam buku ini cukup berbeda dengan nilai yang saat ini saya pegang. Barangkali ada pembaca lain yang merasa lebih terhubung dengan cerita ini, maka buat saya sih lebih ke "wah, orang lain tuh ada yang memegang nilai-nilai kayak gini".
novel wattpad tuh selalu punya ciri khas sendiri. lebih slow gaya bahasanya tapi tetep ngena plotnya. aqessa aninda jadi salah satu author favoritku jaman baca wattpad. konfliknya selalu konflik batin tapi selalu sukses bikin campur aduk perasaan.
⭐⭐⭐⭐
di awal2 halaman sampe menjelang halaman 80, alurnya cukup bikin aku bosen. terlalu banyak hal gapenting yg ditulis, bertele-tele dan bikin bingung. tapi pas udah masuk playlist, ada banyak hal yg menguras emosi. bikin aku mikir, apa jadinya aku kalau jadi lasha buat punya kesempatan mengulang waktu? emosiku dibikin naik turun, bikin nangis juga untuk beberapa momen. sebenernya alurnya simpel kok, putus sama mantan 7 taun dan akhirnya balikan lagi. tapi aqessa sukses ngebalut cerita ini tuh dengan banyak makna dan beragam emosi. tokoh lasha sama rae menurutku sama-sama egois, yg satu egois merasa bisa mengatur semuanya yg satu egois karena merasa direndahkan. padahal sebenernya niatnya ga begitu. aku cukup puas sama penyelesaian konfliknya walaupun di penghujung cerita masih bertele-tele. ohiya ada kesalahan nama di halaman 134 harusnya bukan malik tapi si lasha. but it's okay.
aku selalu suka tulisan author satu ini dan novel wattpad ini jadi novel dia yg pertama yg akhirnya aku baca versi novel cetaknya. good job, kak! see u in ur next story!
Buku ini tentang time travel dimana Lasha dikasih kesempatan buat mengulang kehidupannya dari dia SMA untuk menata dan memperbaiki keputusan yang telah dia buat di masa sekarang contohnya Lasha dikasih kesempatan buat milih jurusan impian dia dan dekat dengan orang lain selain Raeshangga, mantan Lasha yang paling membekas tapi ternyata di kehidupan kedua inipun tetep ada orng yg gak luput dari perjalanan kehidupan Lasha yaitu Raeshangga.
endingnya maaf tapi aku kesel sama Lasha harusnya km seneng gak sih kalo Rae sukses dan bisa menggapai mimpinya bahkan punya cita-cita inilah pentingnya sebagai perempuan menempatkan ego pada tempatnya (faham gak?😭) aku kalo jadi Lasha bakal seneng kalo pacar? mantan pacar aku takut gimana kalo kamu pada akhirnya gak kunjung nikah karena ego mu itu sha wkwkwk😭
kalau kamu sedang bertanya-tanya tentang keputusanmu di masa lalu, mungkin ini bisa jadi cerita yang tepat untukmu. Lasha yang "gagal move on" dari mantannya, mendadak kembali ke masa lalu setelang mantannya tersebut, Rae, mengajaknya kembali bersama dan melanjutkan hidup. Lasha pun bertekad untuk "memperbaiki" hidupnya yang menurutnya dulu hanya berputar di sekeliling Rae.
menurutku, ada pesan yang menarik tentang mengambil keputusan hidup dan menjalankan konsekuensinya. juga tentang memahami diri dan pasangan. Tapi, sejujurnya aku nggak expect akan ada fantasy twist nya 🙃 aku ngga terlalu paham aturan dari kembali ke masa lalu ini, jadi aku nggak terlalu menikmatinya. Selain itu, tokohnya banyak banget 🥲 untuk pembaca yang mengikuti universe-nya penulis, mungkin akan seru, tapi karena aku nggak, jadi aku agak bingung karena kenape kok kayak semua orang kenal satu sama lain 😂
This entire review has been hidden because of spoilers.
Aku suka buku ini! Bagus banget. Mengusung genre office-romance dng tema time travel, "bagus" bukan hanya karena ceritanya asyik, atau idenya menarik, tapi karena ada pelajaran hidup yang bisa diambil. Aku nggak nyangka ini buku fiksi tapi berbalut self improvement yang smooth banget.
Hidup Lasha mengingatkan pembaca bahwa : In your life today, there's nothing wrong about it. Seseorang terbentuk dari hal² yang terjadi dalam hidupnya. Pengalaman, pengorbanan, membentuk kita yang sekarang and it's really fine seandainya kita melihat dari sudut pandang yg lebih luas.
Pada bagian endingnya menurutku sedikit berat dan rumit, sulit untuk kuterima karena ada bagian dari diriku yang merasa iri dan marah seperti Lasha karena menyesali diri sendiri akan masa lalu dan pencapaian yang ga sesuai dengan bayangan. Ups, jadi curhat.
Tokohnya banyak tapi gak ada yang berkesan, mungkin karena cuma lalu lalang disebut trus yaudah pas si tokoh dengan nama nama itu disebut lagi saya yang baca juga udah lupa ini siapa sih. Si fmc gak jelas maunya apa, mantannya jadian sama cewek lain dia nangis, mantannya putus trus ngejar dia lagi dia gak mau..kayak..hhhh apaan sih -_-" Balik ke masa lalu juga gak jelas maunya apa padahal dia yang pengen mengulang masa lalu..sumpah lelah bacanya. Interaksi dan percakapan percakapan antar tokoh juga rasanya flat aja, kurang enggaging. Trus konfliknya tu kayak yaudah B aja..gak seru.
A wise love story. Di realita udah banyak sih nemuin yang pacaran lama-lama akhirnya putus juga, nikahnya sama yg lain. Based on experiences org2 disekitar aku, aku sih percaya bgt istilah pacaran lama gak menjamin pasti ke pelaminan. *(bukan curhat)*
Tapi buku ini justru tentang sebaliknya. Kalau udah takdirnya, ya akan terjadi gimanapun caranya. Dari buku ini lebih belajar bahwa gak semua hal harus disesalin meski akhirnya gak baik. Belum tentu kalau kita dikasih kesempatan lain untuk mengulang dan membuat pilihan berbeda, hasilnya akan lebih baik. Trust that what happened to us now is already the best for us.
Novel ini page turner sekali. Dibuat enjoy sama ceritanya yang bisa relate ttg perjalanan cinta Rae dan Lasha. Suka sama cerita diawal, masuk ke time travel saat Lasha koma, tapi setelah menuju akhir setelah sadar dari koma, ada beberapa part yg bikin bingung sama karakter Lasha. Dia maunya apa? Tapi untungnya luluh juga sih. Bagian minusnya pas di part menuju akhir entah kenapa banyak bgt percakapan yg bikin bosen dan yaudah berujung skip ke halaman lainnya. Overall cukup menarik utk mengisi waktu senggang.
jalan ceritanya bagus, cocok buat yang lagi pengen baca tapi enggak mau yang ringan aja. jokes anak SMA nya juga dapet banget, serasa balik ke masa SMA.
minusnya adalah karakter utama disini agak labil, pas masih SMA Lasha bijak banget. dia punya banyak mimpi yang keren. semakin dewasa, satu per satu mimpinya gak terwujud atau mungkin emang belom terwujud. yang bikin kesel adalah dia iri sama pencapaian mantan pacarnya. berkali-kali menyimpulkan kalo dia sebel karena ngerasa mantannya mau pamer, padahal dia sebel sama mantannya karena dia iri sama pencapaian mantannya. hdehh
This is something new sih dari penulis ini dan aku udah baca hampir semua bukunya tapi yang ini least favorite aku padahal masih satu universe sama buku yang lain, ini ceritanya bosenin dan karakter Lasha beneran ngeselin rasanya mau kasih jempol ke Rae yang bisa handle ini cewek.
Dari semua karakter perempuan di novel penulis ini cuma karakter Lasha yang menurutku ngeselinnya pake banget sampe gak kuat bacanya apalagi menjelang ending but glad dia sadar masalahnya ada di diri dia sendiri dan mau berubah di akhir.
Buku ini isinya cukup singkat, sehingga dapat dibaca dalam sekali duduk. Tetapi sayang, plot dalam buku ini dapat dengan mudah ditebak dan sedikit membosankan. Character buildingnya juga tidak terlalu mencolok. Namun, ide dari buku ini cukup unik dan jarang ditemui yaitu mengenai perjalanan kembali ke masa lalu. Kesimpulannya, buku ini boleh dibaca jika sedang berada dalam reading slump, tetapi jangan mengharapkan lebih mengenai alur cerita, pembahasaan, dan karakter dari tokohnya sendiri.
ternyata ini masih satu universe sama ceritanya aqessa yang lain ya, tapi karena bacanya udah agak lama, jadi lupa2 inget sama tokoh2nya. trus karena pernah baca cerita sebelum2nya dan pas baca ini ada selipan fantasi jadi agak kaget, ngiranya bakal berubah universe yang lainnya. kalo dari sisi ceritanya lumayan seru, agak bosen sedikit di awal2, tapi ke belakangnya seru. perasaan minder yang dialami sama lasha juga cukup relatable sama aku.
Aku mengharap lebih dari novel ini karena dua novel sebelumnya dri penulis yg sama sudah kubaca dan aku sangat suka. Jadi punya ekspetasi lebih. Mungkin karena ketinggian kali ya jadi setelah baca agak kecewa. Lumayan relate kepribadian tokohnya cuma kurang suka dgn sikap tokoh wanitanya yg plin plan, kurang tegas. Aku juga berharap novel ini lebih dewasa dengan nuansa citylite. Tapi ngga, lebih ada sisi fantasinya. Untuk genre sepertinya lebih ke selera masing-masing.
satu kata buat buku ini: unexpected! aku baca dgn tanpa ekspetasi apapun, tapi ini buku unexpected banget, awalnya merasa kayak “ah palingan buku metropop romance biasa yg light” eh ternyata ada unsur twist disini, agak kebaca diawalnya gimana, tapi ga nyangka di tengah2nya ada scene yg out of the box. bagus!
Finish it in just a day! Rasanya seperti perpaduan Midnight Library dan Romansa ala metropop Indonesia. I really like how the character developed, even when it was slow that it made me frustrated. But it was bearable…
To fit the theme: Lagu yang teringat saat baca buku ini—“Dust” by SVT 🪶