Jump to ratings and reviews
Rate this book

Memoar Mia Bustam #2

Dari Kamp ke Kamp

Rate this book
Bebas. Ya, kami para tapol yang setelah keluar dari tahanan disebut eks-tapol dan masih diembel-embeli lagi dengan G30S/PKI, sudah boleh menghirup udara bebas mulai Juli 1978. Benarkah kami ini bebas dalam artian yang sebenarnya?

Banyak di antara kami, yang waktu itu selama berbulan-bulan, mungkin lebih dari satu tahun, masih harus apel di Kodim seminggu sekali. Dalam pada itu, kami masih selalu dibayang-bayangi—siapa tahu—kemungkinan diciduk kembali.

Mula-mula ada peraturan tidak boleh meninggalkan kota, jadi itu berarti kami masih merupakan tahanan kota. Setelah agak dilonggarkan peraturan itu dan kami boleh bepergian ke luar kota, artinya masih dalam provinsi, waktu dibatasi. Akhirnya boleh keluar provinsi, namun hanya selama dua minggu. Pergi harus minta izin dan surat jalan ke RT, RW, Kelurahan, dan Kodim. Pulang harus apel ke Kodim.

KTP kami diberi tanda khusus ET, kepanjangan dari eks-tapol, sebuah stigma yang mencap kami menjadi warga negara kelas “kambing”, jauh berada di bawah mereka yang “bersih” dan “tak ternoda”.

368 pages, Paperback

First published July 1, 2008

5 people are currently reading
102 people want to read

About the author

Mia Bustam

3 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
18 (37%)
4 stars
23 (47%)
3 stars
5 (10%)
2 stars
2 (4%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for lita.
440 reviews67 followers
January 5, 2011
RIP Mia Bustam, 2 Januari 2011...

Oleh: FX Rudy Gunawan

Tidak ada air mata ketika Mia Bustam diangkut tentara karena berkegiatan di Lembaga Kesenian Rakyat. Tak ada peluk dan cium untuk anak-anaknya.

"Wis ya, Cah. Saya cuma bilang begitu. Karena kalau saya cium mereka, saya pasti nangis dan saya tidak mau. Menangis itu menandakan kelemahan. Dan itu tidak perlu diperlihatkan pada orang jelek. Orang jahat.”

Mia Bustam berkeras pantang menunjukkan lemah dan takut di depan para tentara yang menggelandangnya ke penjara. Tiga belas tahun berpindah-pindah tempat penahanan, dari Benteng Vredeburg, Penjara Wirogunan, sampai Plantungan dan Bulu, Mia Bustam tatak menanggung penyiksaan.

Saya tak pernah menyangka perempuan ayu ini berhati singa.

Ketika menerima kami dua tahun lalu di rumahnya di Cinere, Mia Bustam berbebat kain dan berkebaya ungu. Anggun. Di bawah lukisan dirinya ketika berusia 31 tahun, Mia Bustam bercerita runut soal jalan hidupnya.

Runut dan detail. Beberapa orang yang pernah mengenal Mia Bustam mengakui, mantan anggota pleno Lekra ini memiliki ingatan tajam.

Menurut anaknya, Sri Nasti Rukmawati, sang ibu melawan pikun dengan cara menulis. Menulis seluruh kisah hidupnya dan keluarga melalui buku Soedjojono dan Aku serta Dari Kamp ke Kamp.

Pada 2 Januari 2011 Mia Bustam tutup usia. Meninggalkan 8 anak, 20 cucu, dan 11 cicit. Istri Sudjojono (almarhum), bapak seni rupa Indonesia, ini berpulang di usia 91 tahun.

Satu hari sebelum meninggal, Mia Bustam menyampaikan keinginannya untuk menambah satu bab tentang Soeharto pada naskah buku yang baru selesai digarapnya. Buku lanjutan kisah hidupnya, yang sekali lagi menceritakan soal kekejaman rezim Orde Baru terhadap lawan politiknya.

“Aku masih ingin nambah satu bab tentang Soeharto di buku yang baru selesai kutulis,” ujarnya lirih, nyaris tak terdengar.

Dia kesulitan berbicara karena lendir di paru-parunya. Bicara dua menit, suaranya kembali hilang. Tangannya terlalu gemetar untuk memegang pena. Tak ada yang bisa dilakukannya selain berbaring di ruang tamu Nasti, anak keduanya.

Ruang tamu itu diubah menjadi kamar perawatan. Ketika masih sehat, Mia Bustam tinggal di rumah sederhana berpagar tanaman dan bunga tak jauh dari rumah anak keduanya itu.

Untung naskah terakhirnya sudah selesai ditulis, meski masih ingin menambah satu bab tentang Soeharto. Mungkin tak terlalu penting. Orang sudah banyak tahu tentang sepak terjang penguasa Orde Baru itu.

Karya lainnya yang selesai ditulis Mia Bustam sebelum kematian menjemput adalah sebuah terjemahan buku berbahasa Belanda tentang minyak dunia dan situasi politik yang masih sangat relevan.

Selamat jalan, Bu Mia…
Profile Image for Rei.
366 reviews42 followers
June 30, 2020
Mia Bustam, seorang pelukis pengurus organisasi Seniman Indonesia Muda (SIM), diciduk paska Peristiwa 30 September 1965. Ia ditahan bersama ratusan wanita lain yang seperti juga dirinya, tidak mengetahui apa kesalahan mereka. ⁣

Bu Mia dengan cukup terperinci menceritakan pengalamannya berpindah-pindah dari tahanan ke kamp Fort Vredeburg, ke LP Wirogunan, hingga ke kamp rehabilitasi Plantungan yang terletak di lereng Gunung Dieng. Di kamp-kamp ini ia menyaksikan para serdadu dan interogator yang tampaknya sama sekali sudah kehilangan kemanusiaannya, namun tak jarang di antara mereka pun ada yang masih berbelas kasih. Bu Mia juga bercerita tentang wanita-wanita tua buta huruf yang entah kenapa ikut terciduk, begitu pula dengan gadis-gadis remaja belasan tahun. Di dalam tahanan, mereka juga ikut mengasuh bayi dan anak-anak yang terpaksa dibawa oleh ibu mereka atau memang lahir di dalam tahanan. Beberapa tokoh dan cerita mereka juga baru saja kubaca beberapa hari lalu dalam buku Kembang-kembang Genjer.⁣

Aku menikmati buku ini. Serius! Di beberapa bagian, Bu Mia tidak hanya bercerita tentang pahitnya hidup di dalam tahanan selama 13 tahun namun juga bagaimana para tahanan itu mencoba untuk bertahan hidup; membuat ‘dapur darurat’, menyibukkan diri dengan membuat kerajinan tangan, bahkan mengadakan pertunjukan ketoprak. Mungkin karena dituturkan dengan gaya yang santai bahkan jenaka, walau kegetiran beliau terbaca jelas setiap kali ia mengritik penguasa yang keji dan semena-mena.⁣

Namun demikian, bukan berarti kita bisa mengecilkan kesengsaraan para tahanan ini. Bu Mia hanya segelintir orang yang ‘cukup beruntung’. Ratusan tahanan mengalami siksaan, sakit, kelaparan, dan terpisah dari keluarga mereka. Belum lagi tak terhitung angka pastinya yang ditembak mati atau menghilang tanpa jejak. Memoar yang sangat personal dan menyentuh ini menambah pengetahuanku akan sisi lain dari sejarah yang selama ini kudapat dari pelajaran di sekolah.⁣
Profile Image for Astrid.
93 reviews6 followers
December 17, 2021
Mia dan Aku*
:Mia Bustam

Mia hidup jauh sebelum aku. Jelas kami tidak saling mengenal. Kurasa satu dekade lalu aku sepintas membaca tulisan-tulisannya di bukunya yang lain. Namun aku merasa tak ada yang sepersonal catatannya akan Sudjojono dan dirinya. Ah, cinta. Betapa dekatnya kau dengan nadi kehidupan manusia. Dirimu akan mengenal jelas seseorang ketika ia sedang jatuh cinta. Atau dirimu akan kehilangan total pemahaman akan dirinya juga ketika sedang jatuh cinta.

Namun mengapa kita selalu mempunyai kata-kata itu, Mia? Jatuh cinta. Mengapa tidak tumbuh dalam cinta? Seperti yang terjadi padamu dan Sudjojono di suatu ketika. Begitu takutnya kita, manusia akan layu? Akan kematian? Akan ketidakabadian? Apakah karena kesadaran itukah kita, enggan menyebut sesuatu yang tumbuh. Karena seperti hidup kita mengetahui semua akan ada kata akhir.

Mia, Jakarta seceria halaman-halaman bab awalmu. Semanis senyum Sudjojono di suatu waktu. Mia, itulah aroma kemudaan. Aroma kebaruan akan segalanya. Bahkan perjuangan. Seni dan peperangan. Semua peran yang kau ambil Mia, berada di belakang dapur dan panggung. Namun semua peran itu sebegitu pentingnya. Dan pada akhirnya kaulah yang akan menemukan dirimu lagi, justru di masa dirimu paling kehilangan.

Di jernih matamu, bahkan hingga sembilan puluh tahun, aku yang tak menemuimu bahkan merasakan betapa kuatnya hidup di seluruh aliran darahmu. Bagi kita, yang orang Jawa, witing tresno jalaran soko kulino, cinta itu karena terbiasa. Apakah karena cinta itu dimulai dengan apa yang biasa-biasa saja?

Dengan merasakan kesederhanaan berbagi secobek sambal, nasi hangat dan pete mentah di sebuah dapur yang juga sedang kurasakan? Apakah sesederhana itukah kebahagiaan, Mia?

Aku yang anak milenial jaman ini tak bisa membayangkan. Delapan anak. Istilahnya sekarang dirimu, ibu tunggal. Aku yang satu anak saja begitu kewalahan. Belum lagi dirimu yang ditangkap dan dipenjarakan hampir empat belas tahun lamanya tanpa pengadilan. Dirimu yang ditinggalkan dengan mereka dan lalu dipisahkan oleh negara. Bagaimana rasanya perasaanmu ketika itu, bagai tubuh yang seluruh jiwa raganya ditarik paksa. Bagaimana dirimu kembali, Mia? Menjadi Mia. Ya, Mia Bustam.

Ah, betapa panjangnya perjalanan. Hanya sekian bab kau paparkan dalam sekian halaman ini. Betapa menegangkannya perasaan. Betapa hidupnya dirimu dalam sekian jaman dan jaman. Betapa akhirnya dirimu abadi dalam tulisan, Mia. Dalam lirik mata.

Aku bisa memahami ketakutan Rose akanmu, Mia. Kau, Mianya seorang Sudjojono di suatu waktu. Dan mungkin saja di lubuk hatinya yang terdalam, dirimu masih bersemayam. Begitu kuatnya cinta. Begitu membekasnya. Baik dalam derita dan luka. Baik dalam bahagia dan suka.

Aku masih kehilangan kata-kata dalam memahami betapa tegarnya dirimu, Mia. Betapa berlikunya hidup bagai ombak yang tak juga temaram. Mungkin dalam mencoba mengantar kata-katamu kemudian, diriku pun akan turut paham. Betapa manusia dengan segala cobaan, bagai sepotong bambu mengakar kuat yang tak juga terpatahkan akan berbagai macam angin kehidupan.

C’est la vie. Ya, beginilah hidup, Mia. Beginilah.



Amritsar, 22 Oktober 2019

*catatan kesan membaca ulang Mia Bustam "Sudjojon dan Aku" dan "Dari Kamp ke Kamp"
Profile Image for Jimmy.
155 reviews
July 25, 2008
Kisah seorang ibu yang menjadi korban sebagai tahanan politik peristiwa G30S/PKI. Dia dipisahkan dari keluarganya, dari anak-anaknya, dan harus hidup berpindah-pindah dari kamp ke kamp selama belasan tahun. Sejumlah kisah yang dialami oleh Ibu Mia dituangkan dalam buku ini, membuat kita bisa merasakan kehidupan yang kadang terasa sangat tidak adil karena kekuasaan yang tidak berpihak kepada rakyat.

"Dari Kamp ke Kamp - Catatan Seorang Perempuan", ditulis oleh Mia Bustam, yang mengalami sendiri ketidakadilan itu.

Ketika Mia bertemu dengan salah seorang anaknya yang kembali dari perjalanannya yang sangat panjang dan berakhir di Pulau Buru, dia berikan sebuah senyum hangat. Tidak ada peluk cium, tidak ada isak dan tangis. Ia jabat tangan anaknya itu, layaknya dua orang kawan yang sudah lama tidak bertemu. Ia berkata dengan mantap, "C'est la vie."
Ya benar, Bu! Inilah hidup.

Buku ini akan dibahas dalam
Siaran radio online : www.vhrmedia.com
Program : "Buku Kita"
Bersama : Lita Soerjadinata dan Jimmy Simanungkalit
Edisi : Senin, 28 Juli 2008, Pukul 1 - 2 Siang
Silahkan berinteraksi dengan kami di Yahoo Messenger dan email dengan ID : bukukita.vhrmedia@yahoo.com
See you then ;)
Profile Image for miaaa.
482 reviews419 followers
August 18, 2008
di luar masalah teknisnya, buku ini sebenarnya buku luar biasa. apa yang sebenarnya terjadi di tahun 1965? siapa orang-orang yang diciduk dan dimasukkan ke penjara dengan alasan melindungi mereka dari amarah rakyat?

ini sebuah jurnal pribadi. sesederhana itu. dari seorang perempuan yang mencintai seni dan anak-anaknya lebih dari apapun, yang berhasil bertahan hidup dari penjara ke penjara, yang tetap menegakkan kepalanya mempertahankan harga dirinya walau para kacung penguasa baru berupaya sebaliknya.

***

it is an amazing book albeit the technical issues i.e layout etc. what was occured during 1965 event? who were those men and women abducted and taken to prisons excluded all judicial processes?

this is a personal journal. as simple as that. of a woman who love her children and arts more than anything. she was able to survive from camp to camp. she held her head up high in pride albeit the new regime officers tent to do the opposite.
Profile Image for Willy Alfarius.
94 reviews7 followers
July 18, 2023
Membaca ulang untuk kedua kalinya buku ini, rasa kagum terhadap sosok Mia Bustam masih sama seperti ketika membaca memoarnya yang pertama. Dari tiga memoar yang sudah terbit, rasanya Dari Kamp ke Kamp ini benar-benar menunjukkan bagaimana sosok Bu Mia dan ketegarannya yang sekeras karang, di tengah situasi yang sulit sekali dibayangkan kepedihannya. Bagaimana tidak, dalam posisi sebagai seorang istri yang sendiri menghidupi delapan anak (setelah menolak dimadu oleh Sudjojono, suaminya), ia mesti mengalami fase paling gelap dalam sejarah Indonesia merdeka: dipenjara bertahun-tahun tanpa proses pengadilan sebagai tahanan politik menyusul terjadinya G30S 1965.

Memoar ini persis membahas fase gelap tersebut. Persisnya, kisah dimulai dalam tahun-tahun pertama pasca Mia bercerai dan mesti berjuang untuk hidup bersama anak-anaknya, bersamaan dengan ia memilih terjun ke dunia seni dan menjadi ketua Lekra (Lembaga Kebudajaan Rakjat) Yogyakarta. Posisinya di Lekra inilah yang membuatnya kemudian terseret dan ditahan oleh militer selama 13 tahun dengan alasan yang tentu saja mengada-ada dan gebyah uyah -sesuatu yang terjadi pada puluhan bahkan ratusan ribu orang lainnya yang dituduh Kiri dan terlibat dalam G30S. Dari Kamp ke Kamp menceritakan dengan detail bagaimana Mia ditangkap, dipindah dari satu penjara ke penjara lainnya mulai dari Kantor Polisi Sleman, Benteng Vredeburg, Wirogunan, Plantungan, sampai Bulu Semarang. Kebengisan dan ketidakmanusiawian rezim militeristik Orde Baru tergambar jelas dari pengalaman Mia dan orang-orang yang bersama dengannya dalam rangkaian cerita ini.

Yang jelas, sebagai pencerita, Mia Bustam tidak diragukan sama sekali kepiawaian dan keindahannya dalam bercerita, kendati kisah yang ada di dalamnya amat pahit. Penggalan dalam kisahnya berikut ini saya kira menggambarkan betapa sosok ini memang sangat luar biasa: perempuan tangguh, cerdas, terhormat, dan layak menjadi panutan bagi sosok seorang perempuan sekaligus ibu. Penggalan ini terjadi dalam fase penangkapan dirinya di rumah, di hadapan anak-anaknya:

"Aku pandangi anak-anak satu per satu dan hanya berucap, 'wis ya, cah', dan berjalan meninggalkan mereka tanpa menoleh lagi. Aku tidak mencium mereka. Aku tahu kalau aku menciumnya, aku akan menangis dan itu tidak aku maui. Air mataku hanya untuk mereka yang kukasihi, tidak untuk diperlihatkan kepada mereka yang memusuhi diriku." (hlm. 75 dalam edisi terbitan Ultimus, 2022).

Sebuah memoar yang tidak hanya berisi catatan harian dan pribadi, namun sekaligus menjadi dokumen dari perjalanan sejarah Indonesia merdeka yang menyimpan luka gelap dan pahit yang belum tuntas jua hingga kini.
Profile Image for Sheeta.
218 reviews17 followers
September 30, 2022
Memoar kedua Bu Mia kali ini tidak kalah seru dengan yang pertama. Di memoar kedua ini, Bu Mia menceritakan tentang pengalamannya selama berada di kamp-kamp tapol sepanjang tahun 1965 hingga 1978. Bu Mia secara detail menceritakan hal-hal besar maupun kejadian-kejadian kecil bersama teman-temannya yang berada di kamp.

Yang menarik lagi, cara Bu Mia bercerita sama dengan Tedjabayu—anaknya. Barangkali cara bercerita ini memang menurun kepada anaknya. Di memoar ini, banyak cerita-cerita yang lucu dan unik yang membuat kita seolah sedang bersama-sama dengan dia di kamp tersebut. Penggambaran suasana, baik secara visual (keadaan tembok, bentuk kamp, dll) maupun situasi psikologis orang-orang disana cukup membuat kita bisa membayangkan hal yang terjadi.

Pada masa ia ditahan, Bu Mia tidak mengalami kekerasan berlebihan. Tetapi, ia secara langsung menyaksikan orang-orang di sekitarnya yang disakiti. Orang-orang di dalam penjara yang diinterogasi dan kembali ke sel dengan keadaan menyedihkan, menyaksikan seorang perempuan yang hamil saat di penjara, dan masih banyak lagi. Saat-saat itulah yang selalu diingat Bu Mia hingga ia masih bisa menceritakannya.

Jika apa yang dirasakan Tedjabayu lebih ke fisik, para tapol wanita saya rasa lebih ke psikologis dan doktrin. Ada satu bab menarik ketika mereka mendapatkan "bimbingan mental". Pada saat itu, bimbingan mental diadakan sebagai upaya menumpas komunisme di kepala para tapol. Orang-orang agamais maupun dari kepolisian secara bergantian "mengisi kelas" dengan memberikan doktrin mengenai P4 dan Pancasila.

Buku ini membuka sisi lain dari kamp-kamp tapol wanita yang mungkin jarang diekspos. Kegiatan sehari-hari mereka, mulai dari memasak, melukis (bagi yang bisa), merajut, dan juga membuat taman adalah healing bagi mereka saat itu. Meskipun tetap ada suasana mencekam, namun buku ini terlihat lebih terang karena Bu Mia pun menceritakannya dengan energi positif.
Profile Image for Egy Imaldi.
30 reviews
February 8, 2025
Setelah selesai membaca memoarnya yang pertama, Sudjojono dan Aku, akhirnya selesai juga membaca Kamp ke Kamp.

Di memoar pertama, ketangguhan Mia Bustam menghadapi masa-masa sulit di hidupnya diceritakan dengan mengesankan. Bukan cuma sekadar melewati masa sulit, tetapi juga melewatinya dengan ketenangan. Kemudian di memoar kedua ini, saya menangkap masa-masa sulit itu bukan saja dilewati dengan ketenangan tetapi juga dilewati dengan perasaan penuh keceriaan. Meskipun bagi saya sendiri, sulit membayangkan seseorang dapat setenang dan seceria itu menghadapi kehidupan penjara selama belasan tahun. 'Tangguh' menjadi kata yang kerdil untuk menggambarkan sosok Mia Bustam. Ia lebih dari itu.

Dari kamp ke kamp yang ditempatinya, Mia Bustam melewati kesulitan-kesulitan hidupnya dengan kreativitas, keteguhan hati, dan perasaan untuk menolak sedih dan terlihat sedih. Benar-benar gambaran perempuan yang menolak lumpuh, baik secara pikiran maupun fisik. Ia terus mengasah keduanya meskipun berada di balik tembok penjara. Terutama mengasah pikirannya dengan terus membaca buku-buku, menulis, dan melukis.

Buku ini merangkum kehidupan Mia Bustam selama 13 tahun dipenjara di enam kamp yang berbeda. Melalui buku ini dapat tergambarkan suasana dan kehidupan di penjara perempuan pasca tragedi '65. Melalui ingatannya yang luar biasa, Mia Bustam merangkum semua itu dengan baik.

Semoga tenang selalu di kehidupan selanjutnya, Eyang Mia. Alfatihah.
Profile Image for Puri Kencana Putri.
351 reviews43 followers
June 15, 2018
Dari Kamp ke Kamp (2008) adalah memoir Mia Bustam, istri pertama maestro pelukis Sudjojono (beberapa karyanya masih bisa dinikmati di koleksi tetap Galeri Nasional). Laiknya memoir, buku ini adalah koleksi jurnal perjalanan hidup Ibu Mia sebelum ia menjadi tahanan politik pasca peristiwa 1965-1966. Banyak bagian dari buku ini yang terasa sentimentil, apalagi seting kisah banyak terjadi di Jogja, lapas Wirogunan, dan beberapa sudut kota ketika operasi keamanan digunakan untuk membredel kebebasan sipil hampir enam dekade silam.

"Menangislah, agar hatimu menjadi lega." // "Tidak Romo, saya tidak ingin menangis." // "Tidak kah engkau merindukan anak anakmu?" // "Tentu saja saya merindukan anak anak saya Romo, saya bahkan tidak tahu di mana mereka berada. Tapi saya kira, menangis karena itu tidak ada gunanya." // "Tidakkah engkau menyesal menjadi anggota PKI?" // "Saya tidak pernah menjadi anggota PKI, Romo. Saya pun tidak menyesal karena tidak pernah melakukan hal hal yang patut disesali." // "Jadi kau tidak merasa bersalah?" // "Tidak Romo, karena saya memang tidak bersalah." - Romo de Blot (hal. 124).

Nampaknya bagi Ibu Mia, kenang kenangan yang kasat mata bisa hilang atau rusak, namun kenangan yang ia simpan dalam hati akan tetap ada sampai akhir hayatnya.
Profile Image for Joshua.
62 reviews2 followers
July 7, 2023
Laiknya sebuah memoar. Namun bagi saya, membaca catatan ini berkesan seolah perjalanan penahanan paksa ini berlalu dengan damai disertai intrik kehidupan yang minim. Nyatanya jauh berbeda. Barang tentu penulis sengaja untuk tidak menampilkan kekejian Orde Baru secara gamblang karena memori itu perlahan pudar atau pilu untuk dihidupi lagi saat proses menulis.
Terlepas dari itu, bagi saya memoar ini cukup lengkap menceritakan perjalanan tahanan wanita saat itu.
3 reviews
May 14, 2025
Kata2 bu Mia mengalir dan indah untuk dinikmati. Pembaca bisa merasakan getir dan sedih harus berpisah secara paksa dari anak2 yang masih kecil, dipenjara dan difitnah tanpa bukti, lalu menghabiskan waktu hampir 14thn di dalam tahanan. Tapol yg kebanyakan wanita seniman & terpelajar memiliki inisiatif yg tinggi dan telaten merawat lingkungan penjara dan kamp. Sangat bagus sekali.
Profile Image for Shahnaz.
196 reviews
August 31, 2012
lebih lengkapnya : http://cfcgourmet.blogspot.com/2012/0...


47 tahun yang lalu Mia Bustam, ditangkap di kediamannya tanpa diberi kesempatan untuk memastikan keselamatan anak-anaknya. Dia diangkut truk, untuk dibawa entah kemana. Tepatnya tanggal 23 November 1965, 2 bulan setelah para Jenderal digulingkan oleh PKI. Dia hanya sempat berucap, “Wis ya, cah”. Karena dia tahu begitu tercium kening anaknya, air matanya takkan mungkin tak bergulir.

Dimulailah Mia dalam perjalanannya dari Kamp ke Kamp, dilontarkan seperti buntalan gombal tanpa kejelasan. Mia Bustam melewati 13 tahun penjara tanpa pengadilan. Penjara adalah duka. Belenggu bagi kebebasan. Dimana mereka diperlakukan bagai kaum yang tak mengenal Tuhan! Tapi selalu ada setitik cahaya untuk insan manusia. Di penjara, dia bertemu dengan orang-orang senasib, dan mereka melakukan berbagai kegiatan untuk menjaga kewarasan mereka. Dalam suka dan duka, mereka sempat mengadakan pertunjukan ketoprak, membuat taman, harnett, beternak, berlatih pencak silat, belajar berbagai bahasa.

Aku hampir menangis sewaktu ada cerita tentang seseorang bernama Mamiek (Sumarmiyati) yang didatangkan ke kamp tempat Mia Bustam ‘diamankan’ dengan keadaan shock. Setiap tapol yang (dianggap) berhubungan dengan Gerwani, PKI, dan Pemuda Rakyat pasti telah melewati Jefferson, sebuah perpustakaan dimana mereka diperiksa dengan kejam. Mia Bustam beruntung karena diperiksa dengan baik-baik. Tapi yang lainnya? Ada yang diinjak-injak hingga tulang punggungnya retak dan dia lumpuh untuk selamanya. Ada yang lidahnya ditancapi pensil tajam yang diikat dengan kawat dialiri listrik hingga dia bisu. Ada yang…. terlalu ngeri aku menuliskannya—siapa yang bisa melakukannya tanpa dia kehilangan kemanusiaannya? Mereka itu setan!

Mbak Mamiek hanya menangis dan tidak mau bersuara apapun. Ketika dokter yang bertugas di kamp itu memeriksanya, dokter itu sampai mendesis, “Binatang!”

Tapi tak semua petugas yang menjaga mereka berhati setan. Toh ada saja yang membantu menyelundupkan makanan untuk Tapol, ada yang membiarkan gerakan-gerakan kecil tapol yang ingin kebebasan. Mia sadar. Kebanyakan dari mereka hanya prajurit kecil yang tidak bisa melakukan apa-apa. Membantu terang-terangan pun akan dianggap sebagai pengkhianat negera, insubordinat. Merek berbagi perasaan dan humanisme yang sama: bagaimana rasanya menjadi rakyat kecil yang dibungkam.

Dipermainkan oleh emosi yang memuncak, aku merasa hampir senang, dengan cara yang aneh, ketika Mia menuliskan bagaimana akhir para pelaku kejahatan itu. Ada yang meninggal masuk jurang, ada yang seminggu sekarat dengan penuh derita, ada yang tangannya buntung karena tak sengaja kena ledakan. Bersamaan dengan berakhirnya bab itu, aku dengan segenap hati ikut membatinkan perasaan Mia yang tertulis dalam kata-katanya:

Sering aku berpikir, kapan giliran orang yang berdiri di belakang semua kejahatan itu. Ya, kapan…?

Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.