Setiap perjalanan pendek ke Jepang telah menjadi 'kursus-kursus' singkat yang semakin lama semakin dalam. Ini bukan sekolah formal untuk ambil S2, tetapi sekolah non formal untuk mengalami kebudayaan negara tetangga, dimana hal-hal yang baik dapat dijadikan teladan yang bisa diterapkan bagi bangsa ini. Melawat ke Jepang adalah kayu api pembakar semangat membangun negeri.
Avianti Armand adalah seorang penulis, dosen, dan arsitek. Kumpulan puisinya, Perempuan yang Dihapus Namanya (2011), memenangkan Khatulistiwa Literary Award untuk kategori puisi. Buku tersebut merupakan reinterpretasi atas tokoh-tokoh perempuan dalam kitab suci. Avianti telah menulis dua kumpulan cerpen: Negeri Para Peri (2009) dan Kereta Tidur (2011). Cerpennya, "Pada Suatu hari, Ada Ibu dan Radian," terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 2009.
saya jatuh cinta pada buku ini sejak pandangan pertama ketika membaca kalimat singkat di halaman depan. buku ini mengemas cerita perjalanan ber-arsitektur dengan cara lain, dengan unik dan membuat orang terus menerus penasaran ingin segera menyelesaikan membaca ataupun ingin membaca berulang-ulang.
Dalam buku ini tidak hanya bercerita tentang arsitektur di Jepang saja, melainkan landscpae, lifestyle, makanan, budaya dan bahkan hal-hal X di Jepang.
Banyak quote-quote bagus yang membuat saya makin cinta terhadap arsitektur, cinta kepada hidup, dan tentu saja Jepang.
Cerita-cerita ke-21 arsitek muda dan orang-orang yang dekat dengan dunia arsitektur itu sangat membuat saya benar-benar ingin rutin melakukan perjalanan ke Jepang. Dari cerita mereka bertemu dengan SANAA sampai dengan ditolaknya keinginan mereka untuk berfoto bersama dengan Tadao Ando, semuanya sangat asik untuk dibaca.
Yang paling membekas sekali di benak saya adalah ungkapan "Jepang itu kalo belum POL, belum AFDOL" hahaaa...kesimpulan ini sangat layak untuk ditiru ^_~
Terima kasih atas kineruku yang masih menjual buku ini. Agak menyesal kenapa membaca buku ini setelah lulus kuliah, seharusnya membaca buku ini saat kuliah, jadi bisa punya motivasi penuh untuk menabung dan berangkat ke Jepang. Hahaha
Buku yang berisi perjalanan meruang, foto-foto yang manis, dan tak hanya perkara arsitektur yang dibahas.
Buku arsitektur Indonesia yang wajib dimiliki menurut saya :)
Menemukan Haikk! di garage sale sebuah marketplace ternama di Indonesia. Karena dari judulnya saja sudah kelihatan unik, saya langsung membelinya seharga Rp30.000,- saja. Belakangan ini saya tahu kalau harga asli bukunya sekitar Rp175.000-Rp200.000, wah beruntungnya saya!
Saya tidak menahu tentang dunia arsitektur. Buku ini ditulis oleh sekumpulan mahasiswa arsitek yang berkelana ke Jepang. Hasil petualangannya berupa imajinasi liar seputar Jepang, bagaimana mereka menjelajahi berbagai pameran arsitektur yang ada di Jepang, dan komentar-komentar mengenai budaya Jepang yang menggelikan. Pengalaman-pengalaman yang mereka tulis terlihat sangat personal sehingga saya justru menjadi lebih menikmatinya. Berkat Haikk! saya jadi sedikit paham tentang pemikiran para arsitek.
Dari segi visual, buku ini memamerkan street photography yang cantik, terlihat sekali kalau yang memotret adalah orang yang paham benar mengenai dunia arsitektur. Oh iya, Haikk! juga menjadi satu-satunya buku dengan visualisasi terbaik dalam koleksi buku-buku saya.
My friends are co-authors for this book, and they gave it to me a free copy with their signature in it (thanks Raf + Anti). I always like a travelogue journal, and to me this book is more into a travelogue rather than an architecture literature. Let alone the fact that 95% of co-authors were actually architects.
I truly see "Japan" from their entire description, verbally or through avant-garde photos well executed in a marvellous page layout. Do I score something architecturally? I just don't really care...
Saya suka buku ini dari jurnal, ulasan, foto dan grafis. Saya awam mengenai arsitektur namun catatan perjalanan (yang ngga melulu soal arsitektur) ini membuat saya jatuh hati, terutama pada beberapa karya salah satu arsitek ternama Jepang, Tadao Ando. Buku ini memberi pengalaman baru bagi saya mengenai catatan perjalanan, karena buku ini ditulis keroyokan maka gaya bertuturnya pun berbeda-beda, dari yang fun sampai yang serius.