Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ras, Kuasa, dan Kekerasan Kolonial di Hindia Belanda

Rate this book
Penjajahan di Indonesia meninggalkan jejak panjang dan penuh kekerasan. Masa antara kedatangan Marsekal Daendels dan akhir Perang Jawa, yaitu antara 1808 dan 1830, adalah masa yang penuh dengan darah. Peralihan kekuasaan yang singkat dari rezim Prancis-Belanda Daendels (1808-11) ke pemerintahan Inggris di bawah Raffles (1811-16) dan pasca-1816 ketika pemerintahan jajahan Belanda kembali menguasai Nusantara diwarnai dengan pertempuran militer yang kadang sengit dan digerakkan oleh prasangka rasialis. Masyarakat Jawa yang dipandang sebagai kaum yang “terpuruk” (dari masa keemasan-nya sebelum penjajahan) dan “terbelakang”, sudah selayaknya diberadab-kan, bukan hanya dengan cara-cara militeristik tetapi juga dengan perangkat pemerintahan jajahan yang baru. Pada masa ini, terbentuklah suatu panoptikon atau pemerintahan-Bung-Besar-Orwellian di bawah Raffles yang merancang peta tentang sumber-sumber alam dan infrastruktur Pulau Jawa. Di sisi lain, muncul juga suara-suara kritis yang mengecam praktik penjajahan, seperti disuarakan oleh seorang jurnalis dan politikus yang radikal, William Cobbett (1763-1835). Buku ini merupakan kumpulan tujuh esai yang memusatkan pembahasannya pada konstruksi kolonial atas ras dan identitas, dan bagaimana pemerintahan kolonial pada awal abad ke-19 di Jawa bersandar pada teori-teori rasial untuk mengobjektifkan perbedaan ras sebagai batu penjuru yang kokoh dalam mengelola masyarakat jajahan pada abad ke-19.

296 pages, Paperback

Published August 10, 2022

24 people are currently reading
171 people want to read

About the author

Peter Carey

42 books79 followers
Librarian Note: There is more than one author in the GoodReads database with this name. See this thread for more information.

Laithwaite Fellow and Tutor in Modern History at Trinity College, Oxford. Peter Carey works on the history, contemporary politics and socio-economic development of Southeast Asia, specialising on Indonesia, East Timor, Cambodia and Burma.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
34 (47%)
4 stars
29 (40%)
3 stars
8 (11%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 16 of 16 reviews
Profile Image for mahatmanto.
545 reviews38 followers
October 26, 2022
buku baru ini merupakan kumpulan 7 buah esai mengenai konstruksi identitas pada masa kolonial belanda. tapatnya pada awal abad ke-19, yakni ketika daendels mewakili pemerintah prancis menguasai jawa [1808] hingga akhir perang jawa atau perang dipanagara [1830].

dihias dengan banyak foto yang bagus/informatif. judul buku yang provokatif ini pun sesuai dengan harapan saya: untuk memahami mengapa kebijakan rasial diambil di masa kolonial.

buku ini ada kemiripan dengan buku suntingan mereka berdua sebelumnya Racial Difference and the Colonial Wars of 19th Century Southeast Asia

yang membedakannya adalah naskah terjamahan dalam bahasa indonesia ini melulu hanya memuat tulisan kedua editor di atas, dan membatasi lingkupnya untuk yang berlangsung di hindia-belanda saja. tidak menyertakan pembahasan tentang filipina, melayu, dari penulis lain yang ada di dalam edisi berbahasa inggrisnya. padahal yang lain itu juga bagus-bagus.

jadi, buku ini tidak bisa disebut sebagai buku terjemahan dari buku berbahasa inggris sebelumnya. sehingga bisa dimaklumi bila dalam kolofonnya juga tidak mencantumkan “original title” dari buku ini.

kembali ke laktop, mengapa kebijakan rasial perlu diterapkan?
semula, memang tujuannya adalah untuk memudahkan pengelolaan, demi kemudahan pengendalian oleh negara kolonialis terhadap masyarakat yang amat beragam etnisitas, kepercayaan, bahasa... keragaman itu sendiri lahir dari usaha identifikasi etnis dari disiplin ilmu etnografi yang juga sedang berkembang saat itu.
dengan cara itu maka dapat dikenali karakteristik suatu etnis/ras, untuk dikelompok-kelompokkan berdasar kesamaan dan perbedaannya.
bukankah itu juga akan memudahkan untuk mengenalinya sebagai kawan atau lawan?
tidak heran bila beberapa dekade kemudian, tanah seluas nusantara ini bisa ditundukkan jelang memasuki abad ke-20.

itu dulu... belum aku baca semuanya.
Profile Image for nana.
71 reviews6 followers
December 23, 2025
Actually ⭐4.5/5

Membaca Ras, Kuasa, dan Kekerasan Kolonial di Hindia Belanda 1808-1830 karya Peter Carey terasa seperti diajak membuka kembali satu luka lama yang sebenarnya belum pernah sembuh. Buku ini bukan menceritakan mengenai kolonialisme sebagai masa lalu dan sudah berakhir, tetapi sebagai fondasi dari banyak masalah sosial, politik, dan cara berpikir kita hari ini. Lewat kumpulan tulisan yang tajam dan penuh konteks, penulis menunjukkan bahwa kolonialisme di Hindia Belanda (terutama Jawa) bukan sekadar soal siapa menguasai siapa, melainkan soal bagaimana ras dijadikan alat untuk mengatur, menindas, dan membentuk hierarki manusia.

Isi buku ini berangkat dari periode krusial awal abad ke-19, ketika Jawa mengalami pergantian kekuasaan cepat dari Belanda ke Prancis di bawah pimpinan Daendels, lalu ke Inggris di bawah pimpinan Raffles, sebelum akhirnya Belanda kembali berkuasa. Masa ini sering diperlakukan sebagai catatan kaki dalam sejarah, padahal justru di sinilah arah kolonialisme modern di Hindia Belanda ditentukan. Buku ini menjelaskan bagaimana hubungan yang sebelumnya relatif setara antara kerajaan-kerajaan Jawa dan bangsa Eropa berubah drastis menjadi relasi kuasa yang timpang, keras, dan rasial.

Yang menarik, buku ini menekankan bahwa perubahan tersebut bukan semata akibat keserakahan, tetapi juga karena lompatan besar Eropa pasca Revolusi Industri dan Revolusi Prancis. Keunggulan teknologi, militer, dan pengetahuan membuat bangsa Eropa bukan hanya lebih kuat secara fisik, tetapi juga merasa lebih unggul secara moral dan intelektual. Dari sinilah ideologi rasial tumbuh dan dilembagakan. Orang Eropa diposisikan sebagai subjek rasional dan modern, sementara pribumi direduksi menjadi objek yang harus diatur, diawasi, dan "dibimbing".

Figur seperti Raffles dibedah tanpa romantisasi. Ia tidak tampil sebagai pembaru humanis, melainkan administrator kolonial yang rapi, sistematis, dan dingin. Pemetaan Jawa yang detail dan modern bukan sekadar proyek ilmiah, tetapi alat kontrol kekuasaan. Penindasan ekonomi dan perusakan tatanan sosial Jawa dilakukan dengan logika administratif yang terasa sangat "beradab", tetapi efeknya menghancurkan. Penyerbuan Keraton Yogyakarta 1812 menjadi simbol runtuhnya dunia politik Jawa yang tak pernah benar-benar pulih, dan menjadi salah satu pemicu besar pecahnya Perang Jawa.

Buku ini juga membahas sejarah yang jarang dibicarakan, seperti konspirasi tentara Sipahi dengan Paku Buwono IV. Di sini terlihat bagaimana elite lokal yang kehilangan pijakan mencoba merebut kembali kuasa dalam situasi yang sudah berubah total. Ambisi besar Paku Buwono IV bertemu realitas politik yang tidak seimbang. Kekalahan demi kekalahan ini bukan hanya kekalahan militer, tetapi juga kekalahan simbolik dan psikologis yang dampaknya terasa lintas generasi.

Bagian paling menghantam dari buku ini adalah ketika penulis menyimpulkan bahwa Hindia Belanda pasca1816 berkembang menjadi masyarakat yang secara struktural rasis. Pembagian penduduk berdasarkan kategori ras (Eropa, Inlander, dan Timur Asing) bukan sekadar administrasi, melainkan sistem yang menentukan nilai hidup seseorang. Papan larangan "Anjing dan Pribumi Dilarang Masuk" bukan anomali, melainkan ekspresi jujur dari tatanan sosial kolonial. Setelah Perang Jawa berakhir 1830, sistem Tanam Paksa mempertegas bahwa eksploitasi dan pengendalian manusia berbasis ras menjadi kebijakan resmi.

Relevansi buku ini dengan Indonesia hari ini terasa sangat dekat. Rasisme memang tidak lagi tampil vulgar, tetapi jejaknya masih hidup dalam cara kita memandang otoritas, pengetahuan, dan nilai diri. Kita masih sering merasa bahwa pendapat orang luar lebih objektif, lebih pintar, lebih sah. Mentalitas kolonial itu tidak diwariskan lewat darah, tetapi lewat sistem dan kebiasaan berpikir. Buku ini membantu menjelaskan dari mana rasa rendah diri kolektif itu berasal.

Bagi masyarakat Jawa, refleksi ini terasa lebih personal. Hancurnya pusat-pusat kekuasaan dan budaya bukan hanya soal politik, tetapi juga soal identitas. Ketika tatanan lama dihancurkan dan digantikan oleh sistem kolonial, Jawa kehilangan ruang untuk mendefinisikan dirinya sendiri. Yang tersisa adalah simbol, tradisi yang dipreteli, dan ingatan yang terputus. Buku ini mengajak kita memahami bahwa kehilangan identitas bukan proses alamiah, melainkan hasil kekerasan sejarah.

Pada akhirnya, Ras, Kuasa, dan Kekerasan Kolonial di Hindia Belanda1808-1830 bukan buku yang menawarkan solusi. Buku ini justru membuat kita jadi bertanya, sejauh mana kita benar-benar sudah lepas dari kolonialisme?

Seperti dikatakan Frantz Fanon, imperialisme meninggalkan kerusakan yang harus dibersihkan bukan hanya dari tanah, tetapi juga dari pikiran. Buku ini penting dibaca bukan untuk menumbuhkan kemarahan, tetapi kesadaran. Karena tanpa memahami akar sejarahnya, kita akan terus mengulang pola ketimpangan yang sama hanya dengan wajah yang lebih modern.

Bagi pembaca awam yang jarang baca buku sejarah, tenang saja, buku ini sangat nyaman dan mudah dimengerti (meskipun gaya bahasanya agak kaku, mengingat buku ini diambil dari beberapa essay dari penulis). Catatan kaki yang diberikan sangat lengkap dan mempermudah kita untuk lebih paham.
Profile Image for Seno Guntur Pambudi.
78 reviews29 followers
October 29, 2022
Kolonialisasi membawa bangsa kita kepada masa yg paling sulit dan suram. Ketertindasan dan kekejaman dirasakan masyarakat Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) selama masa kolonialisasi Barat, mulai dr Belanda, Inggris kemudian Belanda lagi.

Kolonialisasi Barat lahir karena mereka menganggap ras mereka merupakan ras yg unggul. Teori ini dipakai untuk membenarkan perluasaan imperium mereka. Ada dua hal yg mendukung kolonialisasi Barat pd waktu itu, revolusi industri dan revolusi politik.

Dengan kemajuan di dua bidang tersebut, perbedaan teknologi, militer, dll membuat Barat maju lbh jauh drpd bangsa Timur. Kombinasi tersebut membuat Barat superior utk memperluas imperium mereka ke luar Eropa terutama Asia.

Dengan memakai dalil ras mereka lebih unggul, untuk membudayakan bangsa liyan (Timur), mereka memperluas imperium mereka yang tadinya hanya utk berdagang sekarang dgn maksud memperluas wilayah koloni.

Buku ini merupakan kumpulan esai dr dua penulis, Pater Carey dan Farish A. Noor, yg menyoroti bagaimana ras digunakan untuk menekan kuasa di Hindia Belanda selama periode 1808-1830.

Terdiri dari tujuh esai, buku ini dipilah dalam berbagai topik, bab satu membahas bagaimana Ras sangat penting dalam memperluas wilayah koloni Barat. Bab dua menjelaskan kemajuan Barat akibat dua revolusi yg terjadi di Eropa.

Kita juga akan disuguhi bagaimana proses Perang Jawa bisa pecah (1825-1840) pada bab 3-6. Mulai dari Jalan Raya Pos yg dibuka oleh Daendels, penyerangan Keraton yg dilakukan Raffles (merubaha tatanan dan kekuasan di Jawa) hingga bagaimana konspirasi Sipahi ingin memberontak kpd Inggris.

Kolonialisasi tidak hanya terjadi secara fisik, namun dekolonialisasi akal budi dan pikiran jg sangan penting, begitu kata Sukarno, Presiden pertama indonesia.

Frantz Fanon menulis, "Imperialisme meninggalkan benih-benih kebusukan yg harus kita cari dan hancurkan dgn bersih (tidak hanya) dari tanah air kita, namun juga dr akal budi dan pikiran kita."
Profile Image for Boyke Rahardian.
353 reviews22 followers
June 16, 2025
Premis utama buku ini (yang merupakan kumpulan 6 tulisan dari sejarawan Peter Carey dan Farish A. Noor) adalah bahwa seluruh diskursus mengenai proses kolonialisasi Asia Tenggara di abad 19 harus dimulai dari "politik ras dan perbedaan rasial". Penulis menunjukkan bahwa pada awalnya hubungan bangsa Eropa dengan kerajaan-kerajaan Nusantara bisa dianggap setara dan didorong oleh semangat kerjasama saling menguntungkan. Namun lompatan kemajuan yang dipicu oleh dual revolution revolusi industri dan revolusi Perancis di abad 19 membuat Eropa jadi berkali lipat lebih berdaya dibandingkan penduduk Nusantara. Tertinggal jauh, mereka tidak punya kesempatan secara ekonomi dan militer untuk mengembangkan institusi sosial dan pengetahuan untuk menahan gelombang kolonialisme Eropa. Sialnya, keunggulan ilmu pengetahuan tersebut juga mendorong ideologi rasial dan inipun dilembagakan secara sosial politik yang menjadi akar ketegangan rasial di masa kini.

Kedua penulis mengacu pada periode perebutan kekuasaan antara Belanda / Perancis di bawah Daendels dan Inggris di bawah Raffles yang menjadi titik balik perubahan hubungan kuasa dan kolonialisme di Nusantara pada umumnya dan Jawa pada khususnya. Rasisme (dan tentu saja keserakahan) di balik seluruh aksi Raffles di Jawa menjungkirbalikkan tatanan sosial politik kerajaan-kerajaan di Jawa yang tidak pernah pulih setelah serangan Inggris ke keraton Yogya di tahun 1812. Hal ini pula yang menjadi pemicu pecahnya perang Jawa kemudian.

Secara makro topik tersebut dibahas oleh Carey di Bab 2. Bab-bab selanjutnya membahas topik berhubungan yang lebih spesifik: Bab 3 mengenai Raffles serta penindasan dan pemerasannya yang sistematis di Jawa. Bab 4 membahas aspek sosial politik di balik sejarah pembuatan peta Jawa oleh Raffles yang detailnya sangat modern untuk ukuran saat itu. Bab 5 mengenai tulisan William Cobbett, anggota parlemen konservatif (namun radikal dan anti korporat) di abad 19 yang mengkritik penaklukan Jawa oleh EIC. Kritik tersebut bukan didasari pandangan moral karena lebih mengacu terhadap pandangan politik global di tengah perseteruan Inggris dan Napoleon - Perancis dan minimnya maslahat penaklukan Jawa bagi rakyat Inggris sendiri. Bab 6 mengulas konspirasi tentara Sipahi (Sepoy) dengan Paku Buwono IV di tahun 1815, sebuah episode sejarah yang jarang dibahas terutama karena Raffles sendiri berusaha menyembunyikan persoalan ini. Konspirasi yang rumit ini nampaknya dimotori ambisi PB IV untuk menegakkan kembali hegemoni Kesunanan Surakarta di Jawa Tengah bagian Selatan, sekaligus mendepak Inggris sebelum kembalinya Belanda ke Jawa. Rencana ini juga dikipasi tentara Sipahi yang tidak puas dengan kepemimpinan lokal Inggris dan ekspedisi Jawa yang membuat mereka kehilangan status di negara asalnya. Ambisi yang tidak didasari realitas politik ini keburu padam karena perencanaan yang amatiran dan gerak cepat pemerintah kolonial Inggris yang mencium aroma konspirasi.

Niet voor Honden en voor Inlanders (Anjing dan Pribumi dilarang masuk!) adalah papan pemberitahuan yang umum ditemui di taman-taman Hindia Belanda sampai tahun 1942. Sebagai penutup Peter Carey menyimpulkan bahwa sejak kembalinya Belanda di tahun 1816 "Hindia Belanda lebih mirip Afrika Selatan yang menerapkan apartheid...daripada Holandia modern". Terutama setelah kemenangan Belanda dalam perang Jawa di tahun 1830 "sistem perbudakan secara de facto diterapkan melalui Tanam Paksa, juga melalui sistem kendali masyarakat yang berdasarkan ras...melalui Peraturan Pemerintah tahun 1854 yang membagi populasi di Hindia Belanda menjadi 3 kategori etnis: Orang Eropa, Inlanders (pribumi) dan Vreemde Oosterlingen (Orang Timur Asing) yang masing-masing diberi status hukum dan politik".

Sistem ini secara inheren lemah dan menggali kuburnya sendiri. Sayangnya konflik rasial tersebut terlanjur mengakar sampai periode Indonesia modern sehingga Carey mengingatkan melalui kutipan Frantz Fanon yang terkenal imperialism leaves behind germs of rot which we must clinically detect and remove [not just] from our land but from our minds as well. Atau seperti kata Pramudya Ananta Toer: "seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan".
Profile Image for Ilham Bangun Asmoro.
37 reviews
February 13, 2023
Membaca buku ini hampir dua kali. Setelah tidak tamat membacanya karena terlalu berat menurut saya ketika membaca bab lima. Saya mencoba membaca buku lain karangan Peter Carey berjudul Kuasa Ramalan mengenai kehidupan pangeran Diponegoro. Dimana buku Kuasa Ramalan sejalan dengan buku baru ini. Dimana dalam buku ini salah satunya menyimpulkan bahwa Perang Jawa merupakan sebuah gerbang pemisah antara Jaman kuno Jawa menuju Jawa yang modern dibawah koloniasme dan Imperialisme bermacam macam bangsa. Mulai dari Belanda, Prancis - Belanda, Inggris dan kemudian kembali lagi kepada Belanda. Kolonialisme dan Imperialisme pada kurun masa tersebut, merupakan buah dari dua revolusi besar, Industri dan Politik yang pada akhirnya, mengakibatkan kekuasaan parsial pada tahun 1808 hingga 1830, menjadi utuh milik negara penjajah setelah itu. Dimana ras yang kuat akan mengalahkan, memetakan, dan mengendalikan yang lemah.

Bab selanjutnya membahas tentang sisi lain Raffles dimana beberapa pengkritik menguji buku karangan Raffles berjudul History of Java yang merupakan suatu produk plagiarisme tanpa memasukkan korespondensi yang tepat bahkan abai atas beberapa tulisan dan karya yang dimuat didalamnya. Dan dibahas pula, beberapa sisi lain baik dan buruk Raffles sebelum kembali ke Inggris seperti kematian asisten pribadinya, pengangkatan Pangeran Pakualam, karir Raffles dan sebagainya.

Bab lainnya juga, menjelaskan bagaimana perjalanan Raffles memetakan pulau jawa hingga muncul suatu produk kartografi berupa peta yang merupakan produk yang memberi tahu kita bagaimana Inggris memandang jawa. Dan dapat dipahami bahwa Raffles merupakan pejabat dari perusahaan global yang bertujuan memuliakan raja Inggris dan memberikan kekayaan pada EIC. Disamping pemikiran dan karya nya yang populer, kebijakan nya selama lima tahun memperparah kemiskinan dan jurang keadilan antara pribumi dan pemerintah.

Bab setelahnya pun mengkritik Inggris atas penaklukkan Jawa. William Cobbett menjelaskan secara gamblang bahwa penaklukkan Napoleon berbeda dengan Penaklukkan Inggris terhadap Jawa. Penaklukkan Napoleon hanya berdasar pada wilayah yang dekat dengan Prancis dimana rakyat dan pemerintah yang ditaklukkan mampu menjalankan pemerintahan baru mereka tanpa membebani sang penakluk. Sedangkan Inggris pada dasarnya menggunakan perang Napoleon sebagai pembenaran untuk memperluas kekaisarannya. Dan dalam hal penaklukkan Jawa, prinsip yang digunakan adalah memerintah suatu wilayah dengan memberikan rasa takut terhadap rakyat Jawa.

Kedua bab akhir diceritakan oleh Peter Carey dengan apik. Bagaimana konspirasi tentara India Sipahi dipadu dengan intrik Sunan untuk mengembalikan Kerajaan Mataram lama di bawah Kesunanan solo yang akhirnya harus menelan pil pahit kegagalan. Disamping itu, Kesimpulan yang sebenarnya sudah disinggung diawal bab dua, bahwa persepsi ras komunitas orang Eropa berubah seratus delapan puluh derajat dikarenakan revolusi kembar Eropa, yaitu Industri dan Politik yang melahirkan produk teknologi, kesombongan dan keangkuhan rasialis.
Profile Image for Wibisono Yamin.
89 reviews
July 31, 2025
Buku ini mengupas bagaimana pemerintahan kolonial Belanda di Jawa pada awal abad ke-19 memanfaatkan konsep ras untuk memperkuat kekuasaan. Awalnya, pada abad ke-16, orang-orang Belanda datang sebagai pedagang melalui VOC, menganggap bangsa Indonesia sebagai rekan dagang. Namun, pasca-Renaisans dan masa Napoleon, muncul pseudosains yang mendukung rasisme, mengubah pandangan Eropa terhadap bangsa lain. Kolonial Belanda mulai menjajah dengan membuat kontrak dengan kerajaan-kerajaan lokal, memanfaatkan konflik antar keluarga kerajaan untuk menguasai sumber daya alam. Mereka menerapkan sistem apartheid, meminta disembah seperti raja, memetakan wilayah, dan mengeksploitasi kekayaan alam serta tenaga kerja lokal. Ungkapan Perancis on parle de vous (mereka berbicara tentang Anda), chez vous (di tempat Anda), sans vous (tanpa Anda) menggambarkan bagaimana penjajah datang, mengatur nasib bangsa terjajah di wilayah mereka sendiri, tanpa melibatkan atau mempedulikan rakyat pribumi. Buku ini dengan bahasa yang tajam namun jelas menunjukkan bagaimana kolonialisme tidak hanya merampas fisik, tetapi juga martabat masyarakat jajahan.
Kolonial Belanda bekerja sama dengan bangsa Asia lain, seperti tentara Bengal dari Inggris, untuk menindas rakyat Indonesia, sebuah strategi yang juga diterapkan oleh Daendels dan Raffles. Raffles dan pihak Inggris menuduh kejatuhan mental dan peradaban Jawa yang adiluhung disebabkan oleh masuknya Islam, padahal tuduhan ini lahir dari sentimen Eropa terhadap Islam dan Kekaisaran Ottoman, yang saat itu menjadi kompetitor kuat mereka. Tuduhan ini keliru, karena keruntuhan tersebut lebih disebabkan oleh eksploitasi kolonial yang sistematis. Tindakan penjajah memicu perlawanan, seperti Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro, akibat ketidakpuasan terhadap penindasan dan perampasan. Inggris, yang sempat menguasai Jawa (1811–1816), menggunakan tentara India Bengal yang akhirnya memberontak dan berkomplot dengan Sultan Surakarta melawan penjajah, meski gagal. Pemberontakan ini menginspirasi Indian Mutiny beberapa dekade kemudian, menunjukkan betapa ketidakpuasan terhadap penjajahan menyatukan nasib bangsa-bangsa Asia. Sistem apartheid dan eksploitasi ini berlangsung hingga Jepang mengambil alih Indonesia pada 1942.

Takeaway dari buku ini adalah pentingnya memahami bahwa rasisme kolonial bukan sekadar prejudice, tetapi alat kekuasaan yang dirancang untuk merampas sumber daya dan martabat. Dengan bahasa yang sederhana namun mendalam, Carey dan Noor mengajak pembaca untuk melihat bagaimana sejarah penjajahan meninggalkan luka fisik, sosial, dan budaya yang masih relevan hingga kini. Soekarno, dalam pidato “Jas Merah” (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah), menegaskan bahwa bangsa Indonesia perlu melakukan dekolonialisasi mental, karena menghilangkan mentalitas bangsa terjajah bukanlah hal mudah. Buku ini menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan ketidakadilan, seperti yang ditunjukkan oleh semangat Diponegoro, harus terus digaungkan agar sejarah penindasan tidak terulang dan bangsa dapat berdiri dengan martabat sejati
15 reviews
November 21, 2024
Pertama tertarik dari judul buku ini. Aku tau buku ini dari Twitter (sebelum berubah menjadi X). Setelah baca buku ini, ternyata baru tersadar pelajaran Sejarah di sekolah itu gadak apa-apanya. Merasa bodoh ketika baca buku ini. Banyak nama yang sangat asing ku dengar dan menyesal kenapa dari dulu ga penasaran soal masa Hindia Belanda. Ternyata pengaruhnya sangat besar makanya sampai sekarang ga banyak perubahan yang terjadi di Indonesia. Untuk pemula ga aku sarankan baca untuk buku ini. Kalau mau baca buku ini setidaknya harus punya basic yang sangat kuat supaya paham isi buku ini. Mungkin untuk guru mata pelajaran Sejarah buku ini bagus ya. Cuman guru sekolah sekarang khususnya sekolah negeri di kota ku banyak yang ga peduli akan hal ini. Yang penting mereka dapat gaji bulanan dan pensiunan hehehe. Overall, buku ini bagus sekali untuk kalian penyuka sejarah. Silakan dibeli di Gramedia terdekat.
Profile Image for Keisha.
23 reviews
May 24, 2024
Saat membaca ini saya tidak merasa seperti membaca buku non-fiksi. Saya terlarut dalam penggunaan bahasa yang membuat saya membayangkan betapa sedihnya kakek moyang kita yang berjuang untuk kemerdekaan ini. Bab awal memang agak susah untuk di pahami oleh saya. Tapi bab selanjutnya ternyata sangat mudah di pahami. Buku non-fiksi terbaik yang saya baca sejauh ini.
Profile Image for Steven S.
705 reviews66 followers
May 7, 2023
Sajian menarik dari dua historian terkemuka Asia Tenggara. Rekomen!
Profile Image for Anom Parikesit.
40 reviews3 followers
January 7, 2024
Buku yang berisi kumpulan tulisan dan artikel dari Peter Carey dan Farish A. Noor tentang apa yang terjadi selama aneksasi dari Inggris dan Belanda setelahnya
45 reviews
May 1, 2024
It's always a pleasure to read Peter Carey's books which mercilessly peel away the wounds of colonialism. Even Raffles, who both came from England, is reviled in this book.
Profile Image for Hari Fitria Utama.
11 reviews
July 27, 2025
Kumpulan tulisan Peter Carey dan Farish A. Noor mengenai bagaimana rasisnya jaman penjajahan terutama sejak kedatangan Deandels.
Profile Image for Her Margono.
6 reviews
November 5, 2025
Apakah (orang) Indonesia masih krisis identitas? (Sebelum/sambil membaca [Metode Jakarta - Vincent Bevins]), buku ini layak dibaca sembari mendengarkan Bob Marley - Redemption Songs.
Displaying 1 - 16 of 16 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.