Anak perempuan yang mengumpulkan bangkai ikan di kotak makan, kucing kurus yang memberi pelajaran moral pada lelaki cabul, kumpulan mahasiswa dan mahasiswi yang berkumpul bagai ternak yang hendak disembelih para seniornya di inisiasi, dan lain seterusnya-kumpulan cerpen ini merupakan eksplorasi sisi gelap dalam berbagai perilaku manusia dalam kehidupan keseharian di Indonesia. Ironi dan humor terkadang muncul di sela singkapan kata-kata. Kumpulan cerita dalam buku "Ibu, Masukkan Aku Ke Perutmu Lagi" ini mungkin tidak menghibur, tapi berupaya memahami dan menemani.
Biasanya kalau ada paket berisi buku datang, setelah paket itu berpindah tangan dari kurir ke saya, paket itu akan langsung saya buka, dan saya akan langsung membaca buku itu.
Buku ini adalah pengecualian. Setelah menerimanya dari kurir, saya meletakkan buku ini di meja. Saya mendiamkannya berhari-hari tak tersentuh. Kenapa? Karena penulisnya Karina Andjani sebelumnya telah memberi peringatan ke saya via pesan singkat: hati-hati pas membacanya ya mas. Ini gelap banget.
Butuh beberapa hari untuk saya merasa yakin mental saya kuat membaca buku ini, lalu saya membacanya, dan dalam sekali duduk saya bisa menuntaskan membaca buku ini. Paripurna.
Mbak Karina benar. Cerita-cerita di kumpulan ini sungguh gelap, muram, nelangsa. Ada nestapa yang tak tepermanai terpatri di setiap jalinan aksaranya. Melalui buku ini, Mbak Karina mengajak kita menyelami ceruk terdalam pemikiran manusia yang sungguh gelap, nircahaya.
Saya ingat, beberapa tahun lalu Mbak Karina pernah mengirimkan dua cerpen via surel ke saya. Ketika membacanya dulu, saya sudah merasakan kegelapan itu. Namun, ketika kedua cerpen itu kemudian dikumpulkan bersama cerita lainnya di buku ini, kegelapannya makin terasa intens.
Buku ini adalah mengenai berbagai trauma masa lalu, rasa sakit dalam diri yang kadang sukar disembuhkan, serta kisah nahas orang-orang yang sangat ingin berdamai dengan dirinya sendiri namun tak punya mekanisme penanganan yang pas.
Saya sepakat dengan Mbak Karina. Buku ini mungkin tidak menghibur, tapi setidaknya ia berupaya memahami dan menemani.
Seperti itu kiranya kondisi kita, manusia-manusia malang yang hidupnya kadang diterpa kemalangan luar biasa. Kita kadang tak bisa terhibur dan terobati, namun setidaknya kita harus bisa memahami, agar kemudian bisa berdamai dengan diri sendiri.
Karena kita adalah tuan untuk diri kita sendiri. Maka, kita lah yang paling tahu bagaimana cara menangani luka dan trauma yang menggelayuti diri kita ini.
Selamat untuk kelahiran buku barunya Mbak Karina. Terima kasih sudah memberi peringatan di awal. Berkat itu, saya merasa baik-baik saja pascamembaca buku ini, dan justru malah berefleksi bagaimana cara terbaik berdamai dengan diri sendiri.
Tulisan Karina seperti membagi emosi yang mentah, dan pembacanya seperti menikmati medium rare steak.. sehingga memang tidak dapat disenangi sebagian orang, tetapi yang menyukai medium rare akan menikmati sensasinya.
Penuh dengan permainan logika dan bahasa yang memerlukan nalar tepat dan lateral thinking yang cukup dalam untuk dapat mengertinya. Tulisan Karina di buku ini seperti membaca sebuah diary. Meski buku ini merupakan kumpulan cerita pendek yang terpisah latar belakang, namun cerita-cerita ini pun terasa seperti pengalaman satu karakter yang sama - "Perempuan itu".
At times it feels like it's dark, fragile, and no hope.. some times I feel like I want to say to the character she wrote, "You are alright. You are enough. You've done so much." Di beberapa bagian cerita, tajam dan dinginnya emosi karakter seperti menghentikan pembaca untuk menunjukkan afeksi dan empati, karena ragu akan respon apa yang akan terjadi. Layaknya berusaha memindahkan sebuah kaca yang begitu tipis dan rapuh, yang apabila kita sentuh, kita khawatir apakah justru kacanya akan menjadi hancur lebur.
Seperti menikmati wine, yang butuh ketajaman lidah yang telah terlatih merasakan berbagai jenis rasa. Bagi saya, buku ini akan dapat dikecap, dan dinikmati oleh orang-orang yang telah merasakan luka, tekanan, dan trauma dalam hidup, untuk benar-benar mengerti ribuan rasa, dilema, dan proses berpikir karakter yang ada di dalamnya. Butuh empati dan ketajaman EQ yang tinggi untuk dapat menempatkan diri dan terjun dalam karakter.
Saya rasa ada tiga cabang kesimpulan yang dapat dirasakan pembaca setelah menyelesaikan buku ini. Pertama, bahwa hidup terlalu absurd dan tanpa harapan. Hidup dan mati kita tak jadi soal, hanyalah sebuah perkara eksistensialisme debu yang tak akan memberi ripple effect apapun di alam semesta yang begitu luas. Kedua, bahwa dalam hidup, kita selalu butuh harapan, yang memberikan kita -meski begitu kecil- makna bahwa hidup yang begitu absurd, begitu keras, begitu sakit, tetap ada secercah harapan untuk terus kita jalani. Sebuah oxymoron, namun sama-sama perkara eksistensial. Ketiga, seluruh buku ini tidak relatable bagi si pembaca, karena bisa jadi pembaca tipe inilah yang senang menebar tekanan dan kesakitan dalam hidup korban-korbannya.. persis seperti yang dijumpai karakter di buku ini.
Kali pertama baca karya Karina Andjani ini, nemu bukunya di Post Santa. Coba baca tapi sempat terhenti karena agak bingung.
Ini adalah buku kumpulan cerita. Cerita yang dikasih nama sesuai judul buku ini menarik sebenarnya, tapi terlalu deskriptif, pembaca sebenarnya mudah kok memahami tapi justru dijelaskan banget dengan narasi. Membuat pembaca memahami sendiri menurut saya lebih menyenangkan ketimbang maksudnya dibeberkan. Karena ini kan cerita ya, ke cerpen gitu. Bukan esai.
Makin ke belakang ceritanya makin pendek, lebih seperti tulisan untuk artikel dan bahkan ada yang sependek puisi. Isu yang diangkat memang menarik, banyak soal perempuan, tentang anak, tentang trauma, tentang kekerasan domestik.
Cerita-cerita di buku ini, benar-benar relate dengan kehidupan kita sehari-hari. Gelap tapi memang begitulah dunia. Dimana ada orangtua yang hanya beranak tetapi tidak bisa mengurus anaknya. Dimana ada orang agamis tetapi isi kepalanya di bagian celana. Dimana ada trauma yang mengakibatkan trauma lainnya.
Buku yang tidak sembarang orang bs menikmatinya, karena beberapa cerita mesti putar otak untuk dapat inti dari ceritanya. Tapi disitulah seninya.
Sangat direkomendasikan untuk orang-orang yang suka cerita-cerita gelap dan berat :)
Setiap ceritanya, penuh dengan makna yg tidak ditutup-tutupi. Membuat yang baca berasa malu sendiri, seperti bercermin. Dark namun itulah kenyataannya 👍🏻
Setiap tulisan didalamnya memiliki ruh yang menguar begitu kuat, punya warna rasa hingga bentuk yang unik. Terjalin dan terangkai melalui untaian luka lewat kerikil atau benda yang dibangun oleh stereotipe atas sebuah makhluk bernama perempuan. Bukan jenis cerita menghayal namun faktual. Tulisan tentang 'Mereka akan menyebut ini karma' atau 'Tidak ingin adalah sebuah keinginan' terasa begitu nyata. .. Kumpulan cerpen bukan sebuah pilihan yang biasanya jadi koleksi atau dibaca habis. Karna lebih sering terasa tidak tuntas, setidaknya itu buat saya. Akhirnya (jadi terbiasa) menyamaratakan kalau cerpen bukanlah pilihan. Dan persepsi saya itu habis2an diceluti oleh buku ini. Setiap cerita didalamnya meski singkat ternyata terasa penuh & lengkap. .. Jelas sekali kumpulan cerita ini bukan jenis cerita menghibur tetapi terasa memahami dan menemani
"Nak, kalau kau merasa begitu tak bahagia, kau boleh pergi mencari orang tua yang lain." Hlm.15
°°°°°
Buku ini ku selesaikan beberapa minggu yang lalu di kereta, tepat saat perjalananku kembali merantau setelah mudik ke rumah.
Gelap, sedih, dan tidak bisa dibilang menghibur cerpen-cerpen yang ada di buku ini. Topik yang di angkat sangat menarik dan kompleks, berbicara tentang trauma, keluarga, perempuan, pelecehan, dan hal lain yang relate dengan permasalahan yang ada di sekitar kita.
Cerita pertama yang dijadikan judul buku ini langsung menyihirku untuk aku terus melanjutkan menandaskan buku ini. Sudah jelas, menjadi cerita favoritku adalah cerita pertama ini. Ada rasa yang aneh dan unik saat membacanya, seperti ikut sedih dan tidak terima akan nasib malang gadis itu. Merinding banget bacanya..
Di beberapa cerita, penulis juga mengkritisi beberapa isu yang ada di sekitar, seperti budaya senioritas yang masih kerap dijumpai di kampus-kampus. Buku ini akan menjadi refleksi dalam memandang kehidupan dengan cara yang berbeda.
Ceritanya dituturkan dengan sederhana dan tidak terlalh banyak plot twist yang gimana-gimana. Ceritanya semakin ke belakang semakin sedikit, malah ada yang seperti puisi bentuknya. Tapi dari cara penulis meluapkan emosinya melalui cerpen-cerpennya aku yakin penulis orang yang sangat cerdas.
Overall aku suka dan langsung jatuh cinta dengan cerpen-cerpennya sejak cerita pertamanya. Karena buku ini sedikit banyak kisahnya berbicara tentang trauma, aku tidak merekomendasikan buku ini untuk kalian yang mentalnya sedang tidak baik-baik saja. Rating dariku 4,75/5☆
Untuk mempersiapkan diri mengarungi dunia yang dibangun Karina Andjani dalam kumpulan cerita pendek (sekali) ini, bersiap2lah akan 2 hal: satu, kisah2nya memang gelap, dan dua, jangan berharap terhibur. Karina pun mengingatkan sejak awal, bahwa buku ini tidak menghibur, tapi berupaya memahami & menemani.
Buku ini adalah soal trauma. Kecewa karena dilahirkan, mengalami kekerasan seksual, perlakuan bangsat laki2 hidup belang, orientasi kampus tolol, orang tua tak becus yang hanya ingin punya anak tapi tak mau bersusah2 merawat, masa lalu buruk, keinginan bunuh diri, memori2 busuk, kebencian terpendam.
Kumpulan cerpen ini memiliki tebal 181 halaman & terbagi menjadi 54 cerita. Ya, 54. Cerita pendek pertama sendiri mengambil 20 halaman. Bersiap2lah membaca cerita2 yang pendek sekali (rata2 3 halaman), penuh kepahitan, gerutuan, balas dendam, tapi juga herannya, empati terhadap yang mengalami penderitaan.
Entah apa yang ada di kepala Karina ketika memutuskan menulis ini. Saya hanya mengetahui rekam jejaknya sebagai lulusan S2 Filsafat dengan fokus pada filsafat musik. Dalam cerita2 di sini, memang dapat ditemui referensi2 musik klasik, tapi identitas itu begitu tertutupi oleh amarah yang tersebar di halaman2 buku.
Kumpulan cerpen ini menodong pembaca dengan pertanyaan2 eksistensialis, menguak pengalaman buruk masa lalu, maupun melemparkan batu pada kaca mosaik indah bernama pencitraan yang menutupi kemunafikan & iblis kejam dalam diri kita.
Kamu bisa jadi akan kebingungan membaca buku ini. Tidak banyak plot alur cerita unik, pengembangan karakter, ataupun trivia2 keren yang mengisapmu dalam serunya cerita2. Kamu akan kesal karena begitu banyak deskripsi berlebihan, pernyataan2 yang lebih terasa sebagai opini penulis daripada penceritaan, dan cerita2 tak terselesaikan.
Buku ini adalah serpihan2 kisah hidup yang belum selesai, terus berlanjut, mengingatkan kita akan amarah & kemalangan yang tak akan berhenti kita temui di sekitar karena sejumlah minoritas namun signifikan homo sapiens jahanam gila kuasa, mungkin sampai Tuhan Yesus datang kembali.
"Sedikit tidak enak dilihat, tetapi, bibir melengkung ke bawah mungkin merupakan proses menabung. Agar bibir dapat melengkung ke atas lagi." ✨
— Buku kumcer pertama yang aku baca dan berhasil membuatku terpukau. Terpukau dengan narasi penulis, kedalaman substansi di setiap bagiannya, dan kemahiran penulis mengangkat topik-topik tertentu.
— Terdiri dari 54 cerita dan masing-masingnya mengangkat isu dan berisi premis yang terasa dekat dengan kehidupan kita. Mulai dari isu kekerasan seksual, isu seputar keluarga, pernikahan, karier, pergolakan internal, cinta, dan banyak lagi.
— Di antaranya, salah satu cerita yang menurutku paling seru sampai membuatku terperangah dan menjerit yaitu berjudul "Mereka Akan Menyebut Ini Karma". Mengangkat tentang ganjaran yang didapatkan pelaku pelecehan seksual yang dikemas dengan menarik dan ditutup dengan apik.
— Buku ini dapat menjadi medium bagi pembaca untuk melakukan refleksi ke dalam diri, melihat sekitar, dan melihat dari sudut pandang yang berbeda tentang kehidupan.
Kalau kamu sedang mencari buku kumpulan cerpen, aku akan merekomendasikan buku ini di urutan pertama.
Aku suka cerita-cerita di dalamnya. Dan meski kaya metafora, ia tidak membingungkan dan tidak juga minim makna. Aku suka mungkin karena merasa terhubung, dengan cerita dan pola-pola rasa sakit masa lalu. Yang mungkin masih ada, dan menggerogoti di dalam.
Aku suka cerita yang banyak diibaratkan dengan not not piano. Beberapa judul musik klasik yang dilantunkan di sisi cerita. Untukku yang pecinta musik instrumental piano, bahagia menemukan buku ini. Bahagia juga dengan kenyataan bahwa Karina gemar bermain alat musik ini.
Terakhir, buku ini tak sengaja ku temukan di Post Santa sehari setelah melihat konser Yiruma di Jakarta. Sungguh hadiah terbaik untuk ulang tahunku. Terima kasih, Karina.