What do you think?
Rate this book


216 pages, Paperback
First published September 28, 2022
❝Yaelah, itu cuma highlight hidup! Dimasukin paling yang bagus-bagusnya doang. Biar setiap hari kelihatan seru. Jangan ketipu, Sof. Di dunia in nggak ada keluarga yang sempurna. Kalau terlalu diumbar gitu, apa-apa di-post, apa nggak aneh? Seakan-akan ingin meyakinkan orang-orang kalau mereka bahagia. Padahal kalau bahagia ya bahagia aja, nggak perlu validasi dong? Artifisial banget perasaannya.❞
—Page 43
❝Buat dipamerin ke Instagram, kan? Biar dapet likes dan ngerasa hebat, kan? Perasaan bahagia model begini ini nih yang rapuh. Foto bagus mah gimana sudutnya saja, Sof. Edit-edit, kasih filter, caption menarik, jadi deh foto estetik. Jangan menggantungkan kebahagiaan sama pengakuan orang.❞
—Page 44
❝Kamu tahu kan orangtua itu nggak cuma mewariskan harta ke anak-anak, Sof? Orangtua juga mewariskan kebiasaan, trauma, luka, dan cara menyelesaikan masalah ke anak-anaknya. Laksana emang banyak kekurangannya, Sof. Tapi, kuyakin dia begitu bukan karena nggak sayang sama kamu. Dia cuma nggak ngerti caranya, Sof. Dia nggak pernah tahu gimana caranya. Di rumahnya, setiap ada yang mulai buka suara, pasti akhirnya bertengkar. Ujung-ujungnya ada yang pergi dari rumah dan nggak balik-balik.❞
—Page 80
❝Semua hal yang kutahu selama ini atau yang kusangka tahu selama ini, sama sekali tidak berjalan seperti yang kupikirkan. Selama in aku terlalu sibuk memusatkan dunia padaku, hingga tampa sadar aku menjadi terlalu tajam ke dalam, tapi tumpul dengan sekitar. Aku hanya berkutat dengan rasa sakitku sendiri. Nggak ada keluarga yang sempurna di dunia ini, Sofia.❞
—Page 114
❝Apa kamu pikir karena sama-sama lari di stadion itu artinya kita harus ikut lomba maraton? Kamu silau sama pencapaian orang lain, sampai lupa bahwa kita nggak berada di perlombaan yang sama dengan mereka! Kamu tuh minta jawaban yang sama, padahal ujian kita saja beda sama mereka! Pikir, Sof. Buat aku keluarga ini cukup, selalu cukup, dan lebih dari cukup. Aku ada buat kamu, kamu ada but aku dan Raisa. Ini sesuatu yang nggak pernah aku punya, Sofia.
Dan aku selalu berusaha yang terbaik buat kalian. Aku nggak pernah nggak berusaha yang terbaik buat kita.❞
—Page 159
❝Semua orang punya medan perangnya masing-masing. Pun yang terlihat bahagia, bukan berarti mereka selalu baik-baik saja. Mereka hanya memilih tetap bahagia saat memutuskan tidak menyerah. Tetap berjuang bukan berarti kita tidak boleh gembira, kan?❞
—Page 181
❝Mengapa selama ini aku sibuk menghitung apa yang tidak aku punya, jika sebenarnya yang kubutuhkan adalah cukup, bukan ba-nyak? Mengapa selama ini aku sibuk memedulikan apa yang tidak aku miliki, padahal yang kumiliki sekarang tidak ada yang salah?❞
—Page 185
❝Dulu aku sulit merelakan hal yang sudah aku impikan namun tidak berjalan sesuai rencana. Tapi, kini kusadari itu hanyalah salah satu fase menjadi dewasa. Aku jadi paham hidup yang tidak berjalan sesuai rencana bukan berarti kegagalan, begitupun hidup yang berjalan sesuai rencana bukan berarti kemenangan mutlak. Satu-satu-nya hidup yang tidak pernah dimenangkan adalah hidup yang tidak pernah dipertaruhkan. Dan yang bisa aku lakukan sekarang adalah berusaha sebaik mungkin agar tidak ada penyesalan di masa depan.❞
—Page 192
❝Terkadang hal yang kita inginkan bukan hal yang kita butuhkan. Aku percaya, bila memang itu jalanku, maka aku pasti mendapatkannya, entah bagaimana caranya. Selama itu belum terjadi, pasti ada hal menarik lain yang bisa aku eksplorasi.❞
—Page 204
❝Ya, aku terbuka dengan pilihan-pilihan baru. Hidup memang penuh dengan pilihan kan? Namun, kali ini aku sadar sepenuhnya, di antara banyaknya pilihan itu aku bisa memilih untuk mengikhlaskan sesuatu yang tidak lagi relevan. Aku membatasi pilihan-pilihanku ke lingkup yang lebih realistis. Memilih untuk tidak memilih pun adalah sebuah pilihan yang bisa kulakukan. Bukankah terlalu banyak pilihan bisa membuat kita tersesat?
Aku percaya, menjadi berdaya bukan berarti bisa melakukan semua hal seperti yang kuinginkan. Bagiku, menjadi berdaya adalah ketika aku memiliki kekuatan untuk memilih dan mampu menjalani hidup sesuai dengan keputusanku sendiri dengan penuh tanggung jawab. Bagiku, menjadi berdaya adalah ketika kita memiliki kendali diri dan hidup dengan sepenuh hati.❞
—Page 205