Ma Yan terlahir sebagai anak tertua di keluarga miskin yang tinggal di Zhangjiashu, China. Saking miskinnya wilayah itu, bahkan beberapa keluarga di sana hanya berpenghasilan 120 yuan atau sekitar 15 dolar setahun. Namun, semangat Ma Yan yang luar biasa tidak membiarkan apa pun atau siapa pun menghalangi keinginannya meraih ilmu. Tidak hanya harus berlapar-lapar agar bisa membeli peralatan tulis, dia juga harus berani menentang kebiasaan lingkungannya. Sebab, di lingkungannya hanya anak lelaki yang umumnya bisa ke sekolah.
Novel yang diangkat dari kisah nyata ini sangat menyentuh dan akan membuat Anda berurai air mata. Betapa gadis kecil ini berusaha keras untuk memperoleh pendidikan yang layak. Bahkan, Ma Yan berani risiko kaki kecilnya bengkak hebat akibat berjalan kaki selama lima jam karena tidak punya uang untuk naik angkutan ke sekolah.
Bulan Mei 2001. Pierre Haski, seorang wartawan Prancis yang bergabung dengan sebuah tim ekspedisi kecil, tiba di Zhanjiashu, sebuah dusun kecil berjarak ribuan kilometer dari Beijing. Di kampung ini, Pierre dan rombongannya dipaksa oleh seorang ibu untuk singgah ke rumahnya yang sangat sederhana. Di sana, ibu tersebut memberikan selembar surat dan tiga buah buku kecil bersampul cokelat. Surat dan buku yang ternyata adalah sebuah diary itu ditulis dengan pensil oleh seorang bocah perempuan berusia 13 tahun bernama Ma Yan. Isinya, ditulis dalam aksara Cina, berupa curahan hati si gadis kecil tentang keinginannya untuk terus bersekolah. Namun, lantaran kemiskinan orang tuanya, Ma Yan harus rela mengubur cita-citanya itu.
Surat yang ditulis di selembar kertas bekas pembungkus kacang itu, telah menggugah hati Pierre dkk. Maka, setelah melalui penyuntingan serta ditambah wawancara dengan Ma Yan, catatan harian tersebut setahun kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul The Diary of Ma Yan.
Dan apa hasilnya? Luar biasa! Kisah gadis Tiongkok itu telah mengundang banyak simpati dari masyarakat pembacanya di Prancis yang lantas memberikan sumbangan uang bagi pendidikan Ma Yan. Apa sebenarnya yang dituturkan Ma Yan dalam diary-nya itu sehingga membuat para pembacanya jatuh hati?
Gadis ini lahir dari pasangan suami istri miskin di Cina. Sangat miskin. Bayangkan saja, dengan penghasilan 120 yuan setahun (setara dengan 15 dolar AS atau 160.000 rupiah), keluarga ini harus mencukupi kebutuhan hidup mereka. Jangan lagi untuk sekolah, untuk makan pun sangat susah. Tak jarang, Ma Yan sekeluarga harus berpuasa menahan lapar lantaran tak ada uang untuk membeli makanan.
Pernah suatu ketika Ma Yan mengidamkan sebatang pulpen yang dilihatnya di pasar. Harga pena itu hanya 2 yuan. Tetapi bagi Ma Yan, uang dua yuan adalah jumlah yang besar karena sama dengan uang sakunya selama dua pekan. Demi memiliki benda idamannya itu, Ma Yan rela berhemat dan menahan lapar selama berhari-hari.
Kuterima pena itu dengan gemetar. Jantungku berdebar. Kugenggam pena itu erat-erat. Kuingat nasi tak berasa yang harus kutelan berhari-hari sekian pekan demi pena itu. Kuingat pedih di rongga perut berisi kelaparan yang panjang…..(hlm.76)
Namun demikian, orang tua Ma Yan, terutama sang ibu, memiliki tekad baja untuk menyekolahkan anak-anaknya agar kelak mereka tak mengalami nasib serupa orang tua mereka. Ibu dan ayah Ma Yan memeras keringat dan darah demi pendidikan anak-anak mereka. Bahkan, ibu Ma Yan rela menjadi buruh pemanen fa cai – sejenis rumput sayuran, biasanya diolah untuk salad atau sup – di Ning Xia, daerah yang berbatasan dengan Mongolia Dalam. Berjarak 400 km dari kampung mereka. Meski upah yang diterima tak memadai, tetapi apa boleh buat hanya itulah pekerjaan yang tersisa bagi perempuan buta huruf seperti ibu Ma Yan.
Begitu beratnya kehidupan bagi Ma Yan sekeluarga. Kendati telah berupaya keras membanting tulang, namun akhirnya orang tua Ma Yan harus takluk di hadapan nasib buruk dan kemiskinan yang seolah abadi. Mereka menyerah, tak sanggup lagi membiayai sekolah Ma Yan.
Namun, peruntungan dan mukjizat seringkali datang tak terduga. Seperti telah diuraikan di atas, berkat catatan hariannya, Ma Yan bisa kembali melanjutkan cita-cita yang pernah terkubur. Gadis kecil itu kini kembali ke sekolah. Dunia telah membaca kisahnya dan mengulurkan bantuan untuknya. ***
Kisah tadi adalah kisah nyata yang ditulis ulang oleh Sanie B Kuncoro dalam bentuk novel (novelisasi?). Jika buku aslinya setebal 372 halaman dengan format pocket book, maka oleh Sanie diringkas menjadi hanya tinggal 214 halaman berukuran sedikit lebih besar.
Jika harus membandingkan keduanya, masing-masing memiliki kelebihan. The Diary of Ma Yan terbitan Q-Press tentu menyajikan cerita yang lebih detail karena memuat secara lengkap catatan harian Ma Yan. Bagi Anda yang senang dan ingin mengetahaui kisah rincinya, sebaiknya memang membaca buku aslinya. Tetapi, apabila Anda ingin menikmati sebuah kisah dengan alur seperti novel, maka tulisan Sanie akan lebih cocok.
Susan Ismiati, begitulah nama asli Sanie B Kuncoro, mengaku bahwa Ma Yan merupakan “novel” pertamanya dan menjadi semacam lompatan atau anak tangga dari semula menulis cerita cinta romantis manis–yang cenderung terasa lebih ngepop–kepada karya yang lebih “nyastra”, walaupun hal ini tak ada hubungannya sama sekali dengan gosip bakal keluarnya novel Susan paling mutakhir bertajuk Garis Perempuan yang konon akan berbeda dengan karya-karyanya selama ini. Hmm, kita tunggu saja, ya.
Kembali ke Ma Yan. Kalau kita perhatikan baik-baik kovernya, di sudut kiri atas tertera label “Lini Laskar Pelangi”. Barangkali fungsinya sebagai stempel bahwa kisah di dalamnya adalah sebuah kisah yang mengusung spirit Laskar Pelangi : pendidikan. Yah, memang begitulah kerap terjadi di mana pun. Sebuah produk yang laris manis, segera saja melahirkan produk-produk sejenis yang mirip. Itu berlaku hampir di segala bidang: buku, film, musik, makanan, minuman, fesyen…..
Tentang bukunya ini, Susan pernah berbagi kebahagiaan dengan saya, bahwa ia senang buku yang ditulisnya ini ternyata diterima dengan cukup baik oleh pembacanya. Salah satu buktinya pada suatu hari ia ditelepon oleh seorang ibu yang telah membaca Ma Yan ini. Si ibu menyampaikan penghargaan sekaligus berterima kasih kepada Susan karena berkat Ma Yan anak perempuannya (seumuran Ma Yan) kini jadi rajin belajar serta penuh perhatian kepadanya. Pengakuan ibu tersebut membikin Susan terharu dan diam-diam menitikkan air mata.
“Aku bahagia karena ternyata bukuku bermanfaat bagi orang lain,” katanya. Tentu saat itu ia sudah tidak menangis lagi.***
“Apakah Kemiskinan adalah warisan atau keturunan?”
Baginya kemiskinan sudah seperti sahabat. Atau mungkin lebih tepat untuk disebut sebagai sanak saudara sekalian. Garis kemiskinan itu terus turun temurun sejak lama. Penguasa Langit seakan tak ingin berlaku adil pada keturunannya. Seakan Penguasa Langit bahagia melihat keturunannya merana didera kemiskinan yang tak berkesudahan.
Gadis kecil itu bernama Ma Yan. Bersama ibu, ayah beserta kedua adiknya ia tinggal di sebuah desa bernama Zhangjiashu. Sebuah desa yang berada di pedalaman China, sangat terpencil, jauh dari hiruk pikuk kota. Jaraknya saja ribuan kilometer dari Beijing. Terbayang betapa jauhnya, bukan?
Jangan kau pikir pedalaman di sana berupa daratan penuh hutan yang mana tanah berhumus menyelimuti datarannya. Yang ada justru sebaliknya, sebuah pedalaman dengan daratan yang tanahnya kering kerontang. Jangankan sayuran, bahkan untuk sekedar rerumputan saja sulit untuk bertahan di tanah tersebut. Ditambah lagi dengan musim kemarau yang tak berkesudahan, maka lengkaplah sudah ‘persahabatannya’ dengan kepiluan.
Novel biografi ini diceritakan dengan dua sudut pandang, yakni melalui sudut pandang Bai Juhua –ibunya, dan Ma Yan sendiri. Ma Yan digambarkan sebagai seorang gadis yang memilliki semangat juang tinggi dan tak pernah mau menyerah sedikitpun. Sedang ibunya, digambarkan dengan seseosok ibu yang akan mengusahakan apapun –selama itu halal, sekalipun itu harus mengorbakan nyawanya, agar anak-anaknya dapat hidup ‘layak’. Mengenai alur, saya pribadi merasa ada beberapa part yang agak datar sehingga terkesan membosankan. Tema utama dari novel ini –menurut saya sendiri, lebih kepada diskriminasi gender yang kemudian permasalahan mengenai pendidikan dijadikan isu utama dalam penceritaan.
Dalam novel tersebut dikatakan bahwa perempuan dianggap tidak memerlukan pendidikan. Bahwa pintu keluar dari segala persoalan perempuan adalah sebuah perkawinan. Dan bahwa perempuan agaknya harus senantiasa patuh, meski kepatuhan itu menempatkan dirinya pada hak-hak yang tereliminasi. Anak perempuan dianggap lebih pantas bekerja di ladang ketimbang bersekolah dikarenakan tradisi di sana menganggap bahwa sekolah bagi anak perempuan hanya suatu kesia-siaan belaka sebab yang akan menikmati hasil dari kesuksesan sang anak itu tadi bukanlah orangtuanya, melainkan suaminya.
Tokoh Ma Yan di sini berusaha untuk ‘menghentikan’ disriminasi itu. Baginya, sekolah merupakan persemaian masa depan. Sebuah peluang untuk meraih sesuatu yang lebih besar. Menghentikan garis kemiskinan dan jalan untuk keluar dari penderitaan. Apapun konsekuensinya, tak peduli sekalipun demi mencapai sekolah ia harus berjalan sejauh 20 kilometer dengan segala rintangan bahaya yang menghadang –jurang, ular, dan bahkan penyamun. Dan tak peduli sekalipun itu berarti ibunya harus mengosongkan mangkuk nasinya.
Secara keseluruhan, pembingkaian tema dan eksekusi cerita yang diangkat pada novel ini terbilang sangat baik. Kalau saya boleh berkata, disamping menjadi sebuah novel cerita di dalamnya juga dapat dijadikan sebagai buku motivasi. Bagaimana tidak? Pesan moral yang ada di dalamnya dihantarkan oleh Penulis dengan begitu kuat. Bahwa kita tak boleh patah arang, bahwa kita jangan pernah membangkang perintah orangtua dan sebisa mungkin hindarilah mengeluh. Kisah Ma Yan mengajak kita untuk muhasabah diri. Bercermin dan menengok ke bawah serta jangan pernah lupa untuk mengungkapkan syukur kepada yang Kuasa.
Meski sederhana, cover novel ini cukup memikat. Membuat kita yang melihatnya ingin membawanya pulang. Sampulnya cukup dapat memberikan bayangan kepada pembaca tentang jalan cerita yang disuguhkan. Ukurannya pun sangat pas untuk dibawa kemana-mana, sangat enak untuk dibawa traveling. Awalnya, karena ukurannya yang kecil saya pikir margin dan ukuran hurufnya akan mepet dan lebih kecil namun ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti. Tak ada yang perlu dirisaukan dari segi teknis.
Saat buku ini sampai di tangan, yang pertama saya cari adalah informasi proses penulisannya. Kenapa? Karena Ma Yan berkisah tentang gadis kecil miskin di Cina yang berjuang untuk bisa tetap sekolah, dan nama penulis yang tertera di sampulnya adalah Sanie B. Kuncoro. Apakah Sanie riset sendiri ke negeri Cina untuk menulis kisah Ma Yan? Saya tidak menemukan jawabannya. Lalu saya mencari buku ini di goodreads, dan ternyata ada edisi bahasa Inggrisnya. Jadi apakah Sanie menerjemahkan buku ini atau menyadurnya? Entahlah, tidak dibahas juga.
Kedua, saya baru tahu Bentang punya lini Laskar Pelangi. Bagus juga sih, karena akan semakin banyak buku yang menggugah anak-anak untuk terus bersekolah. Walaupun yang membacanya kebanyakan anak-anak yang memang sudah bersekolah :)
Mengenai kisahnya sendiri, saya kurang sreg dengan gaya penulisannya. Kenapa harus dibuat mendayu-dayu? Tapi saya menemukan jawaban pertanyaan saya ini di sampul belakang. Begini yang tertulis: 'Novel yang diangkat dari kisah nyata ini sangat menyentuh dan akan membuat Anda berurai air mata...' Oooohhh pantas.
Untuk buku setipis ini, terlalu banyak pengulangan cerita dan narasi. Beberapa adegan dikisahkan dari mata Ma yan, kemudian dari mata ibunya. Tapi isinya sama saja... Lalu di tengah-tengah ada uraian mengenai kondisi petani fa cai di Cina. Lho ini yang cerita siapa? Nggak mungkin ibunya dong...tapi kenapa babnya tidak dipisah?
Dan di bab terakhir terungkaplah siapa yang menuliskan ulang kisah Ma Yan menjadi sebentuk novel. Lalu kenapa nama dia tidak tercantum?
Tantangan Baca GRI bulan April: Buku dengan karakter utama perempuan
Selamat Hari Kartini. Nggak perlu lagi dibahas kenapa harus Kartini, kenapa bukan perempuan yang lain. Lebih penting lagi ngebahas gimana supaya lebih banyak Kartini lainnya. Karena seperti halnya Ma Yan, masih banyak anak perempuan yang tidak dapat mengenyam pendidikan. Bersyukurlah kita yang tinggal di Ibu kota, dapat mengenyam pendidikan gratis walaupun hanya sampai menengah pertama. Tapi bagaimana dengan anak-anak perempuan yang lain? Kita mungkin tidak mengalami harus berpuasa selama dua minggu hanya demi memiliki sebuah pulpen. Atau harus mengalah karena anak laki-lakilah yang harus bersekolah, karena mereka harus membiayai keluarga nantinya.
Sudut pandang yang berubah antara Ma Yan dan ibunya agak membingungkan di setiap awal bab. Dan kalau ada pengulangan kenapa tidak dibuat terpisah menjadi dua bagian dengan sudut pandang masing-masing. Sepertinya akan lebih nyaman dibaca, imo.
"Aku bukan seorang anak perempuan yang hanya memiliki kepatuhan tanpa syarat. Aku anak perempuan yang memiliki daya untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihan-pilihanku." - Halaman 151.
Ma Yan berkisah tentang seorang gadis kecil dari Zhangjiashu yang berjuang untuk keluar dari garis kemiskinan. Di keluarganya, kemiskinan seolah diwariskan secara cuma-cuma, dimulai dari buyut, kakek, ibu, dan kini ia juga ikut 'menikmati' kemiskinan tersebut. Meski dalam kondisi keterbatasan, ibu dari Ma Yan masih berusaha untuk menyekolahkan anaknya. Tidak mudah tentu saja, apalagi bagi Ma Yan. Jarak dari rumah ke sekolah sangat jauh, belum lagi apa yang ia makan di asrama jauh lebih buruk dari yang ia makan di rumah. Sepotong kisah menarik adalah ketika Ma Yan ingin membeli sebuah pena yang mana ia sadar ia tak punya cukup uang. Uang saku yang diberikan oleh ibu juga tak banyak membantu, alhasil ia harus menabung selama dua minggu (!!!!) dan rela sarapan dengan nasi tanpa lauk supaya bisa membeli pena tersebut. Ma Yan pada akhirnya berhasil membeli pena yang ia idam-idamkan meski melewati proses panjang, melelahkan (dan membuat lapar). Ia selalu menggunakan pena itu untuk menulis apa yang ia pikirkan dan apa yang terjadi setiap harinya (bisa dibilang seperti menulis diary). Gagal mendapat nilai bagus di UTS, membuat kecewa orang tua, ujian tak berhenti sampai di sana. Ma Yan harus menghadapi kenyataan bahwa ibunya meminta ia untuk berhenti bersekolah karena keluarganya tak sanggup lagi membiayainya sekolah. Lebih dari itu, sang ibu juga menilai bahwa sebagai perempuan, Ma Yan tak terlalu perlu sekolah tinggi, ia harus mengalah pada adik laki-lakinya yang dinilai 'lebih perlu' menuntut ilmu. Ironis, karena ketika sang ibu memintanya berhenti sekolah, pada saat yang sama ia sedang sangat bersemangat untuk menuntut ilmu.
Buku kecil nan tipis tapi kisah di dalamnya sangat memotivasi. Mengusung isu kesetaraan gender dan kemiskinan yang masih sangat relevan untuk dibicarakan. Ma Yan adalah figur teladan bagi kita, khususnya para perempuan. Ma Yan mengajari kita bahwa kepatuhan kita sebagai wanita bukanlah kepatuhan buta, kita juga memiliki hak untuk mengejar apa yang kita impikan. Terlepas dari gender, kita semua memiliki peluang yang sama untuk melakukannya.
Meski saya bukan penggemar cara penulisannya yang angsty ala-ala karena menurut saya terlalu mendramatisir dan dibuat-buat, saya bisa bilang bahwa ini adalah buku yang layak untuk dibaca saat kita merasa ingin mengisi 'baterai motivasi' kita yang sudah mulai rendah. Ma Yan dalam kondisi lebih sulit dari kita saja tidak berhenti belajar, lalu mengapa kita sebagai individu yang jelas berada pada kondisi yang lebih baik darinya hendak berputus asa begitu saja?
Jika kisah Ma Yan tidak memotivasimu, saya nggak ngerti hal apa lagi yang dapat memotivasimu.
Baca ini. Niscaya kau akan merasa hidupmu dan menu makananmu, sesederhana apa pun itu, sungguhlah sangat mewah jika dibandingkan dengan hidup gadis kecil dari Desa Zhangjiashu seperti Ma Yan.
Dia harus menahan lapar selama dua pekan lebih, cuma makan nasi putih tanpa lauk hanya untuk bisa membeli sebuah pena. Berjalan kaki sejauh dua puluh kilometer agar bisa sampai ke sekolahnya, dan berisiko bertemu perampok.
Buku harian yang dia tulis tak hanya menarik perhatian dunia internasional sehingga dia akhirnya bisa kuliah. Dari buku harian itu akhirnya sang wartawan Perancis, Pierre Haski, yang menerima buku hariannya dari ibu Ma Yan, mendirikan lembaga Fund for the Children of Ningxia, sehingga anak-anak seusia Ma Yan di distrik termiskin di Tiongkok itu juga bisa melanjutkan sekolah.
Sinopsis buku ini amat menarik. Ia diadaptasi dari kisah benar yang berlaku di wilayah terpencil di China. Sungguh mengagumkan semangat seorang anak perempuan yang begitu kental jiwanya untuk menimba ilmu. Bukan mudah melalui perjalanan sejauh 5 jam berjalan kaki untuk sampai ke sekolah. Subhanallah. Saya teringat akan Lintang di dalam Laskar Pelangi. Ya, anak-anak ini sungguh bersemangat waja.
Ma Yan adalah anak sulung dari 3 orang adik-beradik yang mana dua lagi di bawahnya ialah lelaki. Sudah menjadi tradisi di sana bahawa anak perempuan akan terpinggir dari pendidikan dan anak lelaki diberi keistimewaan dan keutamaan dalam segala hal. Namun Ma Yan tidak rela menjadi mangsa tradisi itu lalu berusaha sedaya mungkin belajar untuk mengecapi kejayaan. Dengan itu besarlah harapannya untuk merubah nasib keluarganya.
Disebabkan perjalanan jauh selama 5 jam itu memang melelahkan membuatkan mereka terpaksa menumpang traktor yang ingin ke pekan tempat sekolahnya. Walaupun bayarannya cuma 1 yuan (mungkin RM1 kita di sini), namun keluarganya tidak mampu membayarnya. Oleh itu, ibu dan ayah Ma Yan berusaha keras bekerja mencari wang bagi membolehkan anak-anak mereka sekolah.
Namun kesempitan hidup akibat revolusi yang dicetuskan oleh Mao satu ketika dahulu mengakibatkan berpuluh-puluh generasi menanggung akibatnya.
Dataran yang kering-kontang, tiada air yang sampai ke penduduk dan mereka hanya menyimpan sisa-sisa ais semasa musim sejuk sebagai sumber air malah, penduduk muslim di situ semuanya terpaksa bertayamum bagi menunaikan solat. Air yang ada tidak mencukupi. Dahsyatnya keadaan ini. Tiada projek penanaman semula dirancang menyebabkan penduduk wilayah itu menderita.
Yang masih punya kudrat terpaksa berkelana ke tempat lain bagi mencari sesuap rezeki. Itu pun jika bertemu majikan yang baik dan dibayar gaji. Jika tidak dengan status pekerja haram, mereka akan pulang dengan tangan kosong kerana majikan menipu tidak mahu membayar wang.
Sungguh menyedihkan apabila membaca Ma Yan terpaksa mengikat perut selama 2 minggu semata-mata ingin membeli sebatang pen. Aduhai, sedangkan saya di sini sering sahaja kehilangan pen tanpa sengaja atau sengaja. Dan sesenang itu pen dibeli semula.
Sudah menjadi adat dalam pelajaran, Ma Yan tidak selalunya cemerlang di dalam peperiksaan sehingga dia pernah gagal dalam satu peperiksaan memasuki sekolah menengah perempuan yang dikatakan terbaik. Namun, dia tidak patah semangat dan tetap meneruskan persekolahan di sekolah biasa. Di sana dia belajar dengan tekun dan pernah menjadi juara kelas.
Satu kelebihan Ma Yan ialah dia rajin mencatat diari. Daripada diarinya inilah satu dunia dapat mengetahui kisah gadis cilik dari wilayah terpencil di China yang begitu gigih menuntut ilmu. Masih ada lagi anak perempuan yang mempunyai kesedaran bahawa pendidikan itu sangat penting dalam kehidupan.
Bagaimana dunia dapat mengetahui kisahnya? Ada sekumpulan orang asing yang datang ke kampung Ma Yan untuk membuat sedikit kajian. Mereka menumpang di rumah imam kampung tersebut. Pada hari mereka bertolak pulang, ibu Ma Yan yang baru tahu mengenai mereka berkejar menahan kenderaan yang dinaiki dan memaksa mereka ke rumahnya. Lalu ibu Ma Yan menyerahkan buku catatan milik Ma Yan atas dasar yakin sekumpulan orang asing itu akan memanfaatkannya. Mereka rupanya adalah sekumpulan wartawan yang datang dari Perancis.
Sehingga kini Ma Yan masih lagi belajar di sekolah menengah. Semoga impiannya ingin memasuki universiti akan tercapai. Maklumat mengenainya boleh dicari di dalam internet.
Sebetulnya saya ragu harus memberi bintang berapa untuk buku ini. Akhirnya, 3,5 bintang deh.
Cerita tentang perjuangan hidup yang sulit memang banyak sekali mendapat respon yang baik dari para pembaca. Apalagi perjuangan untuk mengenyam pendidikan, buku ini memang buku yang pertama hadir. Untuk alasan itu sepertinya penerbit Bentang Pustaka memberikan label 'Lini Laskar Pelangi' pada buku ini.
Berdasarkan kisah nyata, saya merasa buku ini akan membawa saya pada cerita hebat, penuh perjuangan diikuti juga dengan kesan haru biru kesedihan. Ternyata buku ini memang benar memberikan semua hal diatas, tapi porsinya tidak sesuai yang saya kira.
Ma Yan adalah anak sulung dari 3 bersaudara. Kedua adiknya laki-laki. Lahir dari ibu dan ayah yang tidak 'makan bangku sekolahan' karena kemiskinan. Hidup di negeri China yang katanya maju, tetapi tidak untuk keluarga Ma Yan. Sang Ayah harus bekerja keras mencari sedikit yuan untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya. Ibu Ma Yan bekerja sama kerasnya dengan sang ayah, untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya.
Ma Yan yang tau akan kesulitan Ayah dan Ibunya harus rela hanya makan semangkuk nasi tanpa sayur apapun demi tetap bersekolah. Ma Yan pun harus berpuasa hanya untuk membeli sebuah pena. Tapi itu ia lakukan demi mimpinya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari kedua orangtuanya. Ma Yan anak yang pintar, namun kemiskinan membuat Ma Yan harus rela diminta oleh Ibunya agar berhenti sekolah karena tidak ada biaya lagi untuk sekolahnya.
Ma Yan membuat surat pada sang Ibu, tapi karena sang ibu buta huruf, maka Ma Yan lah yang membacakannya : Ibu, Kumohon jangan hentikan langkahku. Aku akan tetap bersekolah, aku harus tetap sekolah! Lakukan sesuatu Ibu, sehingga aku bisa tetap meneruskan sekolahku. Lakukan apa saja Ibu, mesti itu harus mengosongkan mangkuk nasiku
Rasanya sedih sekali. Saya mencoba memposisikan diri sebagai Ibu Ma Yan, pastinya saya sebagai orangtua menginginkan dan akan terus melakukan apa saja yang terbaik untuk anak tercinta. Begitulah yang dilakukan Ibu dan Ayah Ma Yan.
Buku ini mengajarkan kita banyak hal, tidak hanya perjuangan Ma Yan untuk meraih pendidikan tapi juga pengertian anak pada orangtuanya, cinta Ayah dan Ibu yang tak terkira pada anaknya. Sungguh menyentuh.
Sebenarnya ini bukan buku pertama Sanie B. Kuncoro yang saya baca, sebelumnnya saya sudah membaca Garis Perempuan, dan ternyata saya menemukan kemiripan. Sanie menulis tentang perempuan yang hebat, penuh dengan pengertian, pengorbanan, perjuangan dan kerja keras dan juga cinta. Sayangnya, tidak seperti penulisan Garis Perempuan yang dibagi menjadi 4 bagian dimana tiap bab bercerita tentang seorang perempuan, Ma Yan ditulis dengan sudut pandang 2 orang, yaitu Ma Yan sendiri dan ibunya. Yang bikin ga enak, bab ini bercerita dari sisi Ma Yan, eh bab selanjutnya dari ibunya. Kurang pas aja dalam buku ini menurut saya. terakhir, yang paling penting, saya kurang suka ending yang nanggung gini.
Kisah rencah kemiskinan di sebuah wilayah paling miskin di China. Wilayah yang ketandusan air selalu mengalami kemarau yang dahsyat. Majoriti mereka adalah petani dengan pendapatan tahunan 400 Yuan sedangkan purata pendapatan masyarakat China adalah 6000 Yuan. Ma Yan lahir di dalam masyarakat ini. Ibunya Bai Juhua adalah seorang wanita tabah yang ingin mengubah tradisi masyarakat desa tersebut bahawa anak perempuan tidak perlu diberi pelajaran, tidak diutamakan malahan sebagai alat untuk menanggung beban keluarga dan akhirnya berkahwin.
Ma Yan telah diberi pelajaran oleh ibunya dengan sejuta keperitan dan kepayahan. Jarak ke sekolah ialah 20 kilometer berjalan kaki mengambil ebih kurang empat atau lima jam. Kerana jarak itu kerajaan telah menyediakan asrama dengan bayaran. Bayaran yuran juga tidak dapat dijelaskan hingga Ma Yan berlapar di asrama dan ibunya berlapar di rumah kerana terpaksa membayar yuran sekolah dia dan adiknya. Keputusan sukar yang perlu dibuat Ma Yan ialah apabila dia terpaksa berhenti sekolah kerana tidak mampu membayar yuran dan adik lelakinya meneruskan pelajaran kerana dia lelaki. itulah yang berlaku kepada ibunya yang perlu berhenti sekolah sebelum tahu membaca.
Kemiskinan dan kesusahan ibarat sesuatu yang diwarisi. jika ia tidak diubah maka ia akan terus bertali arus. Saya pernah mendengar kisah seumpama ini daripada ibu saya. Ibu saya terpaksa berhenti sekolah pada tahun 60-an kerana memberi peluang kepada adik-adik untuk bersekolah. Maka tindakan semua ibu adalah sama iaitu tidak mahu sejarah kesusahan hidupnya diwarisi. Bezanya kemiskinan di negara China akibat muka bumi yang tidak boleh diubah melainkan mereka berhijrah. Tetapi kita mempunyai bumi yang sangat kaya dan subur. Kesusahan dan kemiskinan boleh diubah dengan berusaha, rajin dan tekun maka berusahalah.
Membaca Ma Yan membawa kita bersyukur dengan apa yang kita ada.
Kisah yang mengharu biru. Dari halaman pertama hingga akhir membuat mata saya senantiasa berkaca-kaca.. Buku yang tepat dibaca di bulan Ramadan.. Ternyata lapar dan haus yang kita rasakan di bulan puasa ini, ga’ bisa dibandingin dengan lapar dan hausnya penduduk negeri nun jauh di sana, dekat gurun di Mongolia, tepatnya desa Zhangjiashu, China untuk bertahan hidup dan bersekolah. Ma Yan adalah seorang anak perempuan di desa itu. Hidup keluarganya susah..teramat susah.. Namun, semangat Ma Yan yang luar biasa tidak membiarkan apa pun atau siapa pun menghalangi keinginannya meraih ilmu. Ia harus menempuh jarak 20 km untuk sampai di sekolah. Jalur yang dilaluinya pun berbahaya n’ penuh rintangan. Dia juga harus melawan tradisi di desanya di mana hanya anak laki-laki yang bisa bersekolah sampai setinggi-tingginya.
Satu hal yang membuat saya tersedu-sedu adalah perjuangan Ma Yan untuk dapat membeli sebuah pena. Hanya sebuah pena..! Dia harus berpuasa dan kelaparan selama 3 minggu untuk pena itu…huhuhu T_T *ironis ya, di tengah banyaknya produk cina yang membanjiri berbagai negara di dunia, segelintir warganya yang mayoritas muslim itu malah tidak sanggup untuk membeli sebuah pena yang harganya hanya 2 yuan (kira-kira 2.500 rupiah)*
Cerita dalam novel ini di angkat dari kisah nyata anak negeri itu. Bersyukur apa yang dicita-citakan Ma Yan akhirnya tercapai. Semoga keberuntungan dan keberhasilan akan selalu berpihak kepada anak-anak desa Zhangjiashu lainnya.
Setelah membaca buku ini, saya…speechless. Betapa banyak yang harus kita syukuri dalam hidup ini… T_T
Ma Yan adalah karya Sanie B Kuncoro yang berdasar pada kisah nyata seorang gadis kecil miskin di pedalaman China yang berjuang untuk memperoleh pendidikan. Novel ini pertama terbit pada 2009 dan mendapat banyak apresiasi dari pembaca karena kisahnya yang menggugah dan sangat menyentuh. Hingga kini cerpen Sanie tersebar di berbagai media. Koran Kompas, Jawa Pos, Suara Merdeka, majalah Femina, Pesona, Sekar, Kartini, Eve dan tabloid Nyata. Novelnya yang telah diterbitkan adalah: Garis Perempuan, Memilikimu, Silang Hati, dan Alextimia (sebagai editor). Kumpulan cerpennya Melepas Ranting Hati dan Sayap Cahaya. Cerpennya yang lain tergabung pada antologi Cerpen Terbaik Kompas 2010, 24 Sauh dan Dongeng Patah Hati. Kini Sanie tinggal di perbatasan kota Solo pada sebuah rumah berbata merah dan berpagar batu kali yang terbuka pada setiap pembacanya untuk singgah. Sanie bisa dihubungi melalui Facebook : Sanie B Kuncoro
Betapa susahnya orang yang dahagakan ilmu menuntut untuk belajar, namun berapa ramai anak2 di negara kita yang diberi peluang yang luas terbuka untuk belajar, tetapi dipersia2kan.
Ma Yan & ibunya menghayati erti sebenar tuntutan menuntut ilmu dalam Islam dan yang paling utama, buat mengubah nasib masa depan mereka.
Berikut ini adalah resensi siswa kelas 10 setelah membaca Ma Yan bulan lalu.
Judul Buku: “Ma Yan” Penulis: Sanie B. Kuncoro Editor: Rahmat Widada Penerbit: Bentang Cetakan: I, 2009 Tebal: 214 halaman
Tak ada yang mustahil
Suatu hari di desa Zhangjiashu, China pada tahun 2001, Pierre Haski dan tim ekspedisinya yang bersiap meninggalkan daerah tersebut dipergoki oleh seorang wanita asing. Dengan panik wanita tersebut berceloteh dalam bahasa Mandarin, menarik-narik mereka agar ikut kerumahnya. Ketika tiba di sana dan tampak bahwa wanita tersebut tidak mendapatkan apa yang ia cari, diserahkannya kepada mereka sebuah buku catatan. Peristiwa tersebutlah awal mula sukses “Ma Yan”. Setelah buku itu diterjemahkan kedalam bahasa Perancis, betapa terkejutnya Pierre ketika mengetahui bahwa isi buku tersebut mengandung tulisan seorang gadis yang menceritakan perjuangan hidupnya demi meraih pendidikan. Oleh Pierre, catatan tersebut ia jadikan buku “The Diary of Ma Yan” yang sukses menyentuh hati masyarakat sedunia. Alhasil pada tahun 2009, novel “Ma Yan”, sebuah adaptasi baru karya Sanie B. Kuncoro diterbitkan. Lewat novel ini, para pembaca pun lebih mudah tersentuh dengan kisah Ma Yan, tanpa kehilangan citra dan pesan-pesan moral terkandung yang amat ingin dikemukakan oleh Pierre Haski. Ma Yan adalah anak sulung dalam keluarganya yang lahir dan tumbuh di provinsi Ningxia, China yang terpencil. Sebagai keluarga miskin, ayah dan ibu Ma Yan harus bekerja susah payah agar bukan hanya sekadar menghidupinya dan dua adiknya, tetapi menyekolahkan mereka pula. Bagi Ma Yan, sekolah merupakan perjuangan berat yang ia lalui setiap hari, sebab demi tiba di sekolah saja memerlukan perjalanan berjam-jam karena berjarak 20km dari rumahnya. Perjuangan ini ia lakukan setiap hari, karena ia mengetahui bahwa satu-satunya hal yang dapat membuat masa depan keluarganya cerah adalah pendidikan. Berbagai macam bentuk pengorbanan lainnya juga diceritakan oleh Ma Yan dalam buku catatan pribadi yang ia simpan, seperti menahan lapar selama 15 hari demi menghemat uang sakunya untuk membeli sebatang pena. Namun, ia tetap saja tak dapat bebas dari belenggu kemiskinan sampai akhirnya terpaksa putus sekolah karena orang tuanya sudah tak sanggup memenuhi biaya. Namun ini bukan akhir perjalanan Ma Yan, karena dengan tangguh ia terus memperlihatkan semangat juang tinggi ketika menghadapi apapun rintangan hidup yang ditemuinya. Kisah yang sepenuhnya yang inspirasional ini diilustrasikan dengan indah dalam novel “Ma Yan”. “Ma Yan” merupakan buku yang memiliki berbagai kelebihan dari segi isi maupun penulisan. Sanie B. Kuncoro dengan handal membangun cerita Ma Yan menggunakan berbagai unsur intrinsik. Antara lain, mendeskripsikan dengan detil latar gersang yang dimiliki provinsi Ningxia sehingga mempertegas sulitnya perjuangan yang dilalui Ma Yan, serta tema-tema yang diangkat dalam novel seperti kekeluargaan, yang ditunjukkan melalui bentuk pengorbanan dan kasih sayang yang diperlihatkan oleh ibu Ma Yan kepada anaknya sepanjang cerita. Gaya penulisan Kuncoro juga berperan besar dalam buku ini. Contohnya, dengan menyelingi isi novel dengan ekstrak buku harian asli Ma Yan, pembaca dibuat semakin berempati dan mendekatkan mereka dengan gadis itu karena ekstrak-ekstrak yang ditulis dalam kata-katanya sendiri. Novel juga dinarasikan lewat dua perspektif, yaitu Ma Yan dan ibunya, yang memberi sudut pandang milik dua tokoh yang berbeda ketika menghadapi berbagai peristiwa. Disamping adanya kelebihan, “Ma Yan” memperlihatkan kekurangan pula. Ada saatnya ketika alur cerita terasa datar akibat miripnya sudut pandang tokoh Ma Yan dan ibunya sehingga terasa ada pengulangan dalam satu peristiwa. Penulis juga terkadang terlalu hiperbola dalam mendeskripsikan jalan cerita karena pemilihan diksi yang terlalu menggugah, sehingga pembaca justru berpandangan skeptis daripada terharu. Meskipun adanya kekurangan tersebut, novel ini tetap pantas mendapat perhatian karena kelebihan utama, yaitu pesan-pesan berharga yang terkandung sepanjang cerita. Sebuah buku catatan mengungkapkan pentingnya meraih pendidikan, mempunyai semangat juang, serta bekerja keras bahkan rela mengorbankan banyak hal demi mendapatkan yang terbaik demi masa depan. Karena itu, “Ma Yan” merupakan karya yang cocok untuk membangun semangat pelajar di seluruh dunia, dan membuka hati setiap orang untuk menempuh cita-cita mereka, sebab Ma Yan membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil.
Sebuah catatan kecil oleh Alana Khea Yashadhana (10 A)
BELAJAR SEPERTI MA YAN!
“Ini buku anakku. Simpanlah dengan baik. Sungguh jangan biarkan buku ini menghilang apalagi tersia-siakan. ” Bai Juhua, wanita desa di Ningxia, Cina, menyerahkan tiga buah buku berwarna coklat kepada sekelompok orang asing yang dipimpin oeh Pierre Haski. Sesungguhnya tim jurnalis dari Perancis itu tidak mengerti perkataan Bai Juhua sama sekali. Namun, naluri mengatakan bahwa buku catatan tadi sangatlah berharga dan harus dijaga. Saat kembali ke ibukota Cina, Beijing, Pierre Haski memutuskan untuk menerjemahkan isi catatan itu. Sedikit demi sedikit terbentuklah perjalanan gadis kecil yang penuh dengan perjuangan dan derita. Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah putri dari Bai Juhua, Ma Yan. Di buku catatannya itu ditumpahkan segala perasaannya – senang, sedih, dan segala keluhannya. Diceritakan puasanya yang selama berminggu-minggu demi mendapat sebuah pena untuk mendukung pendidikannya. Mengapa ia sangat bersikeras meneruskan sekolah? Melawan nasib – apa rasanya? Bulan Januari 2002, Pierre Haski yang tersentuh oleh perjalanan Ma Yan menulis artikel tentang penemuannya itu di sebuah koran Perancis. Artikel ini berhasil menarik perhatian penerbit Editions Ramsay dan akhirnya dipublikasikan. Tak lama, buku Ma Yan menjadi salah satu penjualan terlaris. Sekarang, buku harian ini sudah diterjemahkan ke sejumlah bahasa lain, diantaranya bahasa Inggris, Perancis, dan Jepang. Di Indonesia, diari ini diadaptasi oleh Sanie B. Kuncoro menjadi novel fiksi, namun tidak beda jauh dengan karya orisinilnya. Membaca Mayan dalam versi novel ini, pembaca akan menemukan bahwa penulisan kembali Sanie B. Kuncoro kurang menarik jika dilihat dari gaya penulisannya. Terkadang Sanie agak berlebihan dalam mendeskripsikan situasi, contohnya saat Ma Yan harus berhenti sekolah dan merasa ia sedang menjalani ‘hukuman mati’. Bagian akhir novel terkesan sedikit membosankan karena banyak penjelasan yang terlalu panjang dan kurang relevan, seperti bab Fa Cai. Ada juga pengulangan bab, namun melalui perspektif yang berbeda, yaitu bab ‘Kepatuhan Anak Perempuan’ dan ‘Garis Perempuan’, di mana satu diceritakan oleh Ma Yan dan satunya oleh Bai Juhua. Pertukaran sudut pandang ini juga yang terkadang membingungkan – siapakah tokoh ‘aku’ kali ini, Ma Yan atau ibunya? Karena kisahnya dapat dikatakan sangat pribadi, tokohnya terbatas – cerita terfokuskan hanya pada Ma Yan dan Bai Juhua. Terlepas dari semua itu, Novel Ma Yan sebenarnya cukup unik, terutama karena latar tempatnya. Tidak banyak karya (sastra) yang menceritakan hidup di daerah terpencil Ningxia. Dari novel Ma Yan dapat dilihat seperti apa kehidupan dan kebudayaannya di sana. Hal-hal seperti inilah yang memperluas pengetahuan kita. Konflik yang diangkat juga menarik, yaitu manusia melawan alam. Ma Yan harus melewati segala dahaga, kelaparan, dan berbagai keluhan lain untuk bertahan hidup. Permasalahan batin Bai Juhua juga sangat menyentuh hati – seorang ibu yang dihadapkan pada tuntutan ekonomi dan tuntutan anaknya untuk meneruskan sekolah. Tak dipedulikannya lagi kesehatannya sendiri; didakinya gunung, memetik Fa Cai, melakukan kerja-kerja tambahan lainnya. Tokoh Ma Yan dan Bai Juhua benar-benar patut dikagumi karena pribadinya yang kuat. Tentu yang paling penting adalah pelajaran-pelajaran yang dapat diambil dari novel berdasarkan kisah nyata ini. Yang pertama, kita harus bersyukur karena hidup kita lebih beruntung dari Ma Yan. Hargailah apa-apa yang kita miliki karena di luar sana banyak yang tidak bisa memilikinya. Kedua, kita harus lebih bersabar dalam menghadapi segala cobaan dan berusaha untuk mencari jalan keluarnya, karena hanya itulah yang dapat membantu kita menyelesaikan masalah. Terakhir, perlu diperhatikan oleh mereka-mereka yang masih remaja: di manakah semangat belajar kalian? Contohlah Ma Yan yang selalu haus akan ilmu dan senantiasa ingin menjadi yang terbaik. Buatlah orang tua bangga dan jangan menyia-nyiakan jerih payah mereka. Secara keseluruhan, novel Ma Yan adalah sebuah novel yang penuh arti dan pesan-pesan berharga. Novel ini bisa dibandingkan dengan novel Laskar Pelangi oleh Andrea Hirata yang mempunyai tema yang sama: perjuangan untuk pendidikan. Untuk itu, bagi mereka yang telah membaca Laskar Pelangi dan menyukainya, kemungkinan besar akan menyukai Ma Yan juga. Buku Ma Yan juga layak dibaca oleh anak-anak sekolah untuk memotivasi keinginan menuntut ilmu dan bahkan orang-orang dewasa. Ceritanya bisa dinikmati oleh semua umur.
Masih ingat dengan tokoh Lintang dalam laskar pelangi? Anak nelayan yang rela menggayuh sepedanya berkilo –kilo meter agar dapat mendapatkan pendidikan dibangku sekolah. tak jarang dia harus berpapasan dengan buaya, menunggu buaya lewat agar dia bisa selamat sampai di sekolah.
Hal itu juga hampir sama dengan apa yang dialami oleh Ma Yan. Ma Yan terlahir sebagai anak tertua dari keluarga miskin yang tinggal di Zhangjiashu. Sebuah kota kecil yang terletak ribuan kilometer di sebelah barat laut Beijing. Wilayah ini begitu terpencil dan jauh dari perkembangan zaman, anak – anak di sana seakan – akan terisolasi dari perkembangan zaman. penduduknya miskin bahkan saking miskinnya wilayah itu, beberapa keluarga di sana hanya berpenghasilan 120 yuan atau sekitar 15 dolar setahun. Disamping itu anggaran Negara untuk pendidikan cenderung minim bahkan dikorupsi, menyebabkan anak – anak China banyak yang putus sekolah. anak- anak China menjadi anak –anak yang dahaga untuk mendapatkan pendidikan. Ma Yan salah satu anak yang muncul sebagai pejuang tangguh untuk berjuang mendapatkan pendidikan. Ma Yan Punya semangat yang luar biasa, dia tidak akan membiarkan apa pun atau siapa pun menghalanginya untuk meraih ilmu. Dia bahkan rela menahan lapar selama lima belas hari hanya untuk mendapatkan sebatang pena. Dia juga harus berani menentang lingkungannya yang umumnya hanya anak lelaki saja yang bisa sekolah.
Untuk sampai di sekolah Ma Yan harus menempuh jarak 20 Km. Dia merelakan kaki kecilnya bengkak akibat menempuh perjalanan selama empat sampai lima jam, dengan jalur berupa ladang – ladang pedalaman yang berbukit , trayek berbahaya dengan jurang –jurang dengan dakian dan turunan curam serta celah lebar diantara karang terjal. Tidak hanya itu saja, dalam melakukan perjalanan tidaklah selalu mulus karena ada saja penghadang berupa hewan liar yang siap memangsa dan para pencuri yang tak berhati nurani siap menjarah harta, meski hanya berupa perbekalan makanan ataupun alat –alat tulis. Kadang jika punya uang, untuk menghindari itu semua Ma yan naik traktor dengan membayar satu Yuan. Bagi Ma Yan uang satu Yuan sangatlah banyak, satu Yuan bisa untuk biaya hidup Ma Yan selama seminggu dan untuk mendapatkan uang satu Yuan, ibu Ma yan harus memeras keringat. Pernah suatu ketika Ma Yan tidak bisa membayar traktor, dia tidak punya apapun untuk dibayarkan kepada sang sopir, maka untuk menjaga kehormatan ayahnya dia merelakan pena yang dengan memperolehnya dia harus rela menahan lapar sampai 2 pekan, untunglah si sopir yang bijak menolaknya dan mengatakan untuk membayarnya lain kali. Setiap akhir pekan Ma Yan pulang ke desanya, dan ketika kembali dia membawa roti kukus buatan ibunya sebagai bekal makam malam selama seminggu di Asrama.
Ibu Ma Yan, perempuan yang sangat istimewa, meski dia wanita sederhana yang tidak berpendidikan, wanita ini rela tidak makan demi anak-anaknya, tangannya kasar yang sering bengkak dan berdarah karena bekerja tidak membuatnya berkeluh kesah, dia hanya ingin memberi kehidupan yang layak bagi ketiga anaknya. Dengan memberikan pendidikan kepada mereka.
Mendapat pendidikan adalah hak seorang setiap anak (Hal 120)
Sekolah sebagai pintu untuk beranjak dari kehidupan lama pada kehidupan baru dengan dengan berbagai harapan positif di dalamnya. (Hal. 111)
Itulah yang menjadikan ibu Ma Yan rela berkorban demi anak- anaknya, dia tidak ingin kelak anaknya mengalami nasib seperti dirinya, meski dia sakit perut yang tidak kunjung sembuh dia tetap bersemangat untuk bekerja keras demi memberikan pendidikan yang layak bagi anak – anaknya. Dia ingin memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Ibu dan Ma yan selalu yakin bahwa pendidikan adalah salah satu cara melepaskan diri dari genggaman kemiskinan. Bahwa pengetahuan akan memberi alternatif – alternatif penyelesaian permasalahan hidup.( Hal. 174)
Keyakinaan yang sama itu menjadikan adanya timbal balik, pengorbanan besar yang dilakukan ibu Ma Yan diiringi dengan kerja keras Ma Yan untuk membuktikan bahwa dia memang pantas untuk mengenyam pendidikan.
Ayah dan ibu rela mengorbankan segalanya agar kami bisa tetap sekolah. aku harus belajar supergiat untuk masuk universitas suatu hari nanti. Setelahnya aku akan mendapat pekerjaan yang bagus. Ibu dan ayah tidak akan hidup sengsara itulah tujuan hidupku, itulah pengharapanku. ( Hal . 61)
Aku harus terus bekerja keras sehingga tidak mengecewakan ibu. Harapan terbesar hidupku adalah kesehatannya membaik dan keluarga kami akhirnya berkumpul bersama selamanya. Jika aku sekiranya berhasil dalam hidup. Keberhasilanku adalah keberhasilan ibu. Aku akan selalu mengingatnya. (Hal. 89)
Keterbatasan bukanlah penghalang bagi orang yang selalu yakin dan bersemangat bahwa dia akan sukses meski harus berdarah – darah. Ma Yan yang nyaris putus sekolah karena ketiadaan biaya dan karena dia perempuan seakan tidak bisa menerima takdirnya. ketika di ujian menengah Ma Yan gagal, ibunya kecewa. Ibunya merasa bahwa pengorbanan yang selama ini dilakukan hanya membuahkan kesia-siaan belaka. Di samping itu perempuan di Negara China tidaklah penting jika harus sekolah karena pada akhirnya seorang wanita akan kembali ke dapur, menikah dan mengurus anak. Setelah menikah dia akan diboyong ke rumah suaminya, jadi jerih payah pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya kepada anak perempuannya tidaklah berguna.
Ketika mengetahui takdirnya kalau dia tidak meneruskan sekolah Ma Yan memberontak, dia tetap bersikeras dan memohon kepada ibunya agar dia tetap bersekolah. Dia menulis surat yang ditulis di atas kantong benih buncis karena tidak adanya kertas ditangannya. Ibunya yang buta huruf hanya bisa mendengar surat itu dibaca Ma Yan dengan hati teriris dan dia bertekad akan tetap meyekolahkan Ma Yan, beruntung Ada yang mengajaknya untuk memetik tanaman Fa Cai. Tanaman yang sebenarnya sangat dilarang oleh pemerintah Cina, tetapi Ironisnya justru sayuran ini sangat banyak diminati oleh penduduk, bahkan dari namanya saja orang bisa sangat menyukainya, Fa Cai yang berarti keberuntungan. Ibunya harus rela meninggalkan keluarganya dan mendaki gunung, berjalan berkilo-kilo meter untuk memanen Fa Cai dari jam enam pagi sampai jam tujuh malam dengan membungkukkan badannya. Dia tidak perduli meski sebenarnya perutnya sakit, dorongan yang kuat telah menggerus rasa sakitnya.
Novel ini diangkat dari kisah nyata, berawal dari catatan harian Ma Yan yang diberikan kepada lelaki asing yang baru saja ditemui ibu Ma Yan, dengan harapan akan merubah nasib Ma Yan menjadi lebih baik. Meski Novel ini ditulis menggunakan dua sudut pandang anak dan ibunya, tetapi tidak membuat novel ini terkesan kaku bahkan kita bisa merasakan bagaimana berkecamuknya perasaan sang ibu melihat anaknya tak bahagia, sedangkan sang anak berjuang meraih cita-citanya demi kegigihan sang ibu untuk memberikan pendidikan bagi anaknya. Novel ini juga sangat cocok dinikmati oleh berbagai usia, karena novel ini bisa memercikkan semangat untuk tidak menyerah kepada keterbatasan (kemiskinan) demi menggapai impian mengubah kehidupan menjadi lebih baik.
Ia seorang anak yang tak memiliki fasilitas apa pun untuk mencapai cita-cita, selain dirinya sendiri... Ia, anak perempuan itu, harus berjuang mengatasi kelaparan dalam puasa berpekan-pekan supaya bisa menabung untuk membeli sebatang pena. Adakah ironi pendidikan yang lebih tragis dari itu? . . . ❤ Novel yang membuat saya kesulitan tuk menahan airmata, karena gambaran tentang kehidupan di daerah terpencil yang jauh dari kata sejahtera sehingga bukan hanya terasa timpang antara kehidupan masyarakat dengan pembangunan ranah industrialisasi, tetapi juga kesenjangan antara hak mengenyam pendidikan.
❤ Jujur, novel Ma Yan menyentil saya dengan pelan juga memberi semacam energi agar tidak melupakan pentingnya menghidupkan semangat tuk menimba ilmu secara berkelanjutan.
❤ Awalnya saya cukup bingung karena ada tokoh lain yang hadir dalam beberapa halaman awal, namun setelah bagian akhir saya jadi mengerti bahwa itu merupakan adegan yg dapat menjelaskan sesuatu pada bagian akhirnya. Keren.
❤ Pendeskripsiannya benar-benar indah,bergerak perlahan dan membuat saya seolah sedang membaca novel Indonesia lama.
❤ Konflik yang dihadirkan pun bertumpu pada usaha Ma Yan dalam mengenyam pendidikan di bangku sekolah, sehingga saya tak merasa perubahan suasana dalam novelnya bergerak keluar jalur. Disamping itu, konsistensi pergerakan konflik dalam novel Ma Yan ini membuat pesan moril tentang kegigihan bersekolaj juga semangat Ma Yan tergambar dengan apik.
❤ Saya ingin merekomendasi novel ini untuk siapapun yang ingin membaca novel yang sarat makna
Baca buku ini saat aku kelas 1 atau 2 SMA, hampir 10 tahun yang lalu. Jadi lupa-lupa inget dengan keseluruhan bacaannya. Tapi yang kuingat, bahasanya bagus dan menambah kosakataku sebagai anak SMA. Juga bikin aku lebih bersyukur sih saat itu, karena aku bisa mengenyam pendidikan. Apalagi aku baca pas lagi di laboratorium, lagi bosen mengerjakan tugas kelompok dan pada rebutan mikroskop. Terus bacanya selesai satu kali duduk, aku pasti lagi bosen dan malas banget pas itu. Malas rebutan mikroskop.
Mencari buku ini kemana-mana, gak ketemu. Gak tahu kalau baca lagi sekarang, mungkin pendapatku berubah karena aku udah banyak baca buku yang lain. Mungkin itu kenapa banyak yang kasih bintang 3 dan meng-kritik bahasanya yang mendayu-dayu. Karena seingatku, bahasanya bagus. Hehe.
Masih ingat buku ini baca waktu SMP. Cerita tentang Ma Yan adalah anak sulung dari 3 bersaudara. Kedua adiknya adalah laki laki. Ma Yan lahir di keluarga yang sangat miskin di daerah Zhangjiashu, China. Ma Yan tidak bersekolah hanya adiknya saja yang bersekolah karena di desanya sebagaian perempuan menikah muda dan hanya anak laki lakilah yang berhak untuk sekolah.
Novel Ma Yan ini diklaim berasal dari kisah nyata dan novel ini menggunakan alur campuran sehingga bagi saya yang masih SMP masih agak bingung dalam memahami ceritanya. Namun novel ini merupakan salah satu novel yang bisa membuat saya sedih sampai membayangkan nasib seorang anak Perempuan di belahan bumi lainnya yang sangat ingin mengecap pendidikan dan rela untuk menahan lapar selama berminggu minggu demi hanya untuk membeli sebuah pena seharga 2 Yuan.
Bagi Ma yan, sekolah adalah manifestasi untuk masa depan, peluang untuk meraih sesuatu yang lebih besar nantinya. Berhenti bersekolah berarti kehilangan peluang untuk keluar dari penderitaan. Dia harus melakukan sesuatu untuk mengubah garis kemiskinan yang ada pada keluarganya. Dengan sabar dan bekerja keras ibu Ma yan untuk membiayai Ma yan dan adiknya bersekolah dengan tujuan agar anaknya bisa hidup dengan baik, tidak seperti kehidupan orang tuanya yang susah.
Novel ini mengajarkan saya untuk bersyukur dan memotivasi saya untuk meraih mimpi dan pendidikan yang setinggi tingginya.
Ma Yan, Kisah Perjuangan Melawan Kemiskinan dan Diskrimininasi Gender serta Marginalisasi Kehidupan
Air mata saya berkali-kali menetes sembari membuka lembar demi lembar novel karya Sanie B Kuncoro setebal 237 halaman ini. Saya larut dalam setiap pilihan kata Sanie yang mengena, cerdas, sekaligus menggugah nurani.
Novel ini diadaptasi dari kisah nyata Ma Yan, yang didapatkan dari catatan hariannya. Sebuah novel yang membuka cakrawala kehidupan kita. Banyak sekali yang dibahas disini. Bagaimana kemiskinan bisa memberikan kekuatan maha dahsyat. Bagaimana ketangguhan serta keyakinan bisa melahirkan daya dorong super hebat. Berlatar di Desa Zhangjiashu, ribuan kilometer dari Beijing yang terpinggirkan dan terkucil karena kekeringan hebat yang melandanya, novel ini berfokus pada cerita keluarga muslim China, dan mengambil sudut pandang dari Ma Yan serta ibunya.
Ini bukan novel romansa khas percintaan yang sedang gandrung dan dibual-bualkan. Novel ini lebih melihat cinta antara ibu dan anaknya, bagaimana mereka sama-sama berjuang melawan kemiskinan dengan cara mereka sendiri. Saya tersentuh, terutama saat Ma Yan dan adiknya harus menempuh perjalanan 20 km setiap minggunya untuk pulang ke rumah, sebelum kembali ke asrama sekolah mereka. Mengabaikan banyak bahaya yang sering harus mereka lewati di setiap perjalanan, juga keikhlasannya untuk berjalan kaki meski dengan penat karena ketiadaan uang bahkan untuk sekedar menumpang traktor yang melewati desa itu.
Begitupun ironi menyayat hati yang kembali harus saya temui. Ma Yan yang tak memiliki uang saku berlebih seperti kebanyakan temannya harus sarapan air teh hangat setiap harinya, makan nasi putih tanpa sayur atau lauk apapun karena ketiadaan uang untuk sekedar membeli lauk tambahan, dan menghemat roti kukus buatan ibunya untuk dimakan di malam harinya sebagai pengganjal perutnya.
Ma Yan hebat. Saya katakan ia tangguh. Kemiskinan yang ia alami telah membuatnya dewasa. Ia tahu bagaimana harus terus berjuang. Ia tahu, satu-satunya jalan meyelamatkan ia dan keluarganya dari kantong-kantong kemiskinan yang telah turun temurun menjerat dirinya dan keluarganya adalah dengan pendidikan. Ia ingin bersekolah setinggi-tingginya. Ia tahu hanya dengan itu ia bisa membawa secercah kebahagiaan, sesuatu yang sangat sulit untuk digapai saking lekatnya kekurangan dan kesengsaraan bersahabat karib dengannya.
Saya menangis saat ingat bagaimana ia harus mengunyah nasi putihnya yang hambar dan membuat mual selama 3 minggu serta menyisihkan yuan yang ia terima dari ibunya hanya demi membeli pena yang ia impi-impikan. Saya kembali menitikkan air mata bagaimana ia dan keluarganya harus menyiasati hidup, terbiasa untuk menghadapi kekeringan yang menyebabkan ladang tempat berkebun tak menghasilkan apapun. Menerima kenyataan ayahnya yang seorang veteran perang Korea dan menjadi pekerja di konstruksi pembangunan diperlakukan semena-mena oleh mandor yang mangkir dan tak mau membayar upahnya.
Dan saya tak berhenti tersedu saat novel ini membahas ibu Ma Yan, perempuan super kuat dan luar biasa. Ia yang tak pernah mengeluh, yang melakukan segalanya demi kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Memang benar bahwa setiap orang tua pasti akan melakukan apapun demi anak tercintanya. Namun menyaksikan pengorbanan tak berkesudahan yang dilakukan oleh ibu Ma Yan tetap saja membuat saya terharu sedemikian kuatnya.
Ia tahu, ia hanya wanita miskin yang berhenti bersekolah setahun setelah ia pertama kali masuk. Ibu Ma Yan adalah wanita luar biasa, yang memiliki keyakinan seteguh baja, sekuat karang. Cintanya pada keluarga membuatnya tetap bekerja tanpa pernah mengeluh, meski sakit di perutnya sering kali menyerangnya.
Sekali lagi, saya temukan definisi cinta tak bersyarat. Cinta sejati antara ibu dan anak. Yang tak memandang waktu, keadaan, atau apapun. Saya tak menyesal membeli novel ini dan langsung membacanya sampai tuntas. Novel ini juga sukses membuat saya semakin rindu pada mama. Terima kasih saya haturkan pada Sanie B Kuncoro yang telah piawai mengemas catatan harian Ma Yan menjadi novel yang menggugah dan menginspirasi.
Jakarta, 15 September 2015 16.45 WIB Resensor : Susanti
I love this biography novel. There are lots of lesson I get from reading this book. It teaches us to appreciate our parent as what they have give to us from all of this time. Recommended
Ketika melihat buku ini dan membaca sedikit resensinya dibelakang buku ini, hati ini langsung tertarik. Setiap kisah yang menceritakan perjuangan dan semangat seseorang untuk bisa bersekolah setinggi-tingginya dan berusaha menggapai impiannya selalu membuatku terharu dan terkadang jika kisah itu disampaikan dengan bahasa yang menarik, air mataku tak terasa pasti keluar terkadang bergetar tubuh dan jiwaku. Entahlah...kisah seperti ini seolah melemparku kembali ke masa lalu...
Novel ini diangkat dari kisah nyata Ma Yan yang tinggal di Zhangjiashu, Cina. Kisah tentang Ma Yan seorang anak perempuan yang dilahirkan seorang ibu yang miskin, keluarga yang miskin, yang harus berjuang untuk tetap bersekolah. Dia harus berjalan kaki berkilo-kilo meter hingga bengkak kakinya untuk bisa pergi ke sekolah, harus menghadapi preman-preman yang terkadang merampas sedikit barang yang dapat dia bawa walaupun itu hanya alat sekolah dan sedikit roti. Ma Yan seorang anak perempuan pandai yang bercita-cita memperbaiki nasibnya, nasib ibunya, ayahnya dan keluarganya dari kemiskinan, dan cita-cita tersebut diyakininya dapat dicapai melalui perjuangan bersekolah, untuk mendapatkan ilmu sebagai bekal untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik jauh lebih baik dari keadaan yang harus ditanggung ibu dan ayahnya.
Kisah ini semakin menarik karena diceritakan dari sisi Ma Yan sendiri dan juga dari sisi Ibu yang berjuang keras menahan sakit untuk dapat menyekolahkan anak-anaknya, agar garis kemiskinan tidak lagi menghampiri anak-anaknya.
Ketika membaca bagaimana Ma Yan harus berjalan kaki ke sekolah, harus menahan lapar, harus menahan hati melihat temannya membeli segala barang sementara dia sendiri tidak. Aku seolah tahu persis bagaimana perasaannya saat itu, Ah..... aku jadi ingat diriku sendiri sejak SMP ayahku kehilangan pekerjaan, ibuku hanya ibu rumah tangga, setiap hari hanya makan dari tanaman yang ada di kebun, sebutir telur harus dibagi empat untuk aku dan 3 saudaraku. Maka ketika ulang tahun ibuku memberikan satu telur utuh terasa bagai hadiah istimewa bagi kami. Untuk kebutuhan sehari-hari, buah-buahan hasil kebun dijual ibuku dengan tanpa patokan harga tergantung yang mau membeli. Sampai selepas SMA ayahku masih belum mendapat pekerjaan, beliau mencari pekerjaan di Jakarta, ayahku semakin jauh merantau dari tempat asalnya, Ternate, Maluku Utara. Saat masa sekolah kutenggelamkan diriku dalam buku-buku pelajaran, seringkali buku-buku itu kuperoleh dari meminjam baik di perpustakaan atau teman-teman atau harus bongkar gudang mencari buku-buku orangtuaku jaman dulu, toh ilmu bisa didapat dari buku mana saja tidak harus sama dengan yang digunakan disekolah. Berjalan kaki ke SMAku di Jl. Wahidin dari rumahku memang tidak sejauh Ma Yan berjalan tetapi jarak 3 kilometer cukup jauh dan melelahkan dibanding teman-teman yang datang dengan kendaraaan. Pada saat itu yang ada dalam benakku hanyalah berhasil di sekolah, setiap selesai sholat tahajud aku langsung belajar pada jam 3 pagi, sore hari, malam hari, kegiatanku cuma belajar, prestasi terbaik tak pernah lepas dari tanganku tapi ketika harapanku untuk melangkah ke jenjang lebih tinggi harus terhenti seolah duniaku mati. Berhenti sekolah adalah mimpi buruk bagiku, maka ketika aku membaca halaman 128 - 129 dimana sang ibu berkata pada Ma Yan bahwa dia tidak bisa lagi bersekolah, aku seperti melihat diriku sendiri. Seolah terulang lagi ibuku datang dan memberitahu bahwa ayahku gagal memperoleh lagi pekerjaannya dan tidak mungkin bisa membiayai kuliahku, aku diminta untuk mengerti, karena sudah cukuplah beban ibuku membiayai kuliah kakak di ITB, anak laki-laki harapan orangtua yang kelak diharapkan dapat membantu. Persis sama dengan yang dialami Ma Yan. Aku menangis, berontak, marah..merasa tidak berguna, merasa tidak dihargai segala prestasi yang didapat. Selama berminggu-minggu semangatku lenyap, tapi aku tidak mau kalah hingga akhirnya aku mengikuti test di sebuah lembaga pendidikan program satu tahun dengan biaya pendaftaran yang kuhutang dulu karena belum ada, untung saja bagian pendaftarannya kenal kakakku jadi dibolehin.. test..lulus peringkat satu dapat bea siswa 100 persen, nol biaya...Alhamdulillah Allah mengabulkan doaku, doa orangtuaku..selepas kuliah..langsung diminta mengajar dan kemudian melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri..
Lho..lho kok jadi cerita diri sendiri sih,..entar malah bosenin yang baca review... Yang jelas cerita nyata yang diceritakan kembali dalam bentuk novel ini begitu menyentuh dan enak untuk dibaca. Semoga semangat, cita-cita dan impian tidak pernah mati dalam hati sanubari kita..
Ini ialah antara buku yang paling sukar sekali saya selesaikan. Sehingga saya mengamalkan bacaan pantas dan mungkin ada beberapa halaman yang tidak dibaca. Saya memang bermasalah apabila membaca buku yang sedih. Tambahan lagi jikalau ia melibatkan orang Islam dan saya tahu itu adalah kisah benar. Maka bertambah-tambahlah kekusutan jiwa ketika membacanya.
Ma Yan mengisahkan seorang remaja (lahir 1988 - 4 tahun lebih muda dari saya) yang berjuang untuk bersekolah. Keluarga sebelah ayahnya merupakan veteran perang. Namun begitu mereka memang mewarisi kemiskinan sejak sekian lama. Inilah yang membuatkan ibu-bapa Ma Yan tetap perlu bekerja keras membiayai persekolahan anak-anak mereka kerana mereka percaya hanya dengan pendidikan sahaja yang mampu mengubah kemiskinan itu. Mereka tidak mahu anak-anak mereka mewarisi kemiskinan mereka seperti mana mereka juga telah mewarisi kemiskinan ibu ayah mereka turun-temurun.
Pekerjaan utama yang dibuat ibu-bapa Ma Yan ialah bertani. Tetapi oleh kerana cuaca panas memanjang yang tidak menjamin kesuburan tanah memaksa mereka mencari pekerjaan lain di Mongolia. Ayahnya mencari pekerjaan sebagai buruh di tapak pembinaan yang boleh mendapat gaji beratus-ratus yuan. Tetapi, itu belum tentu mereka akan mendapat gaji kerana selalunya mereka akan ditipu oleh mandur tapak pembinaan itu. Begitu juga ibu Ma Yan, tangannya sampai bengkak-bengkak kerana bekerja dan sedihnya di dalam masa yang sama dia juga berjuang dengan kesakitan perut yang dihidapinya. Sakit perut yang dihidapi itu terpaksa dilupakan hanya kerana tiada wang yang cukup untuk perubatan. Duit yang ada perlu digunakan untuk pembiayaan yuran sekolah.
Saya sehingga kini masih tidak boleh membayangkan kesusahan Ma Yan menahan kelaparan kerana mahu mengumpul duit membeli pen yang berharga hanya 2 yuan. Setiap minggu dia akan diberi ibunya 1 yuan. 1 yuan itu digunakan selama 5 hari untuk membeli sedikit sayur yang boleh memberi rasa sedikit kepada makanan tengaharinya. Dia tidak makan nasi untuk makan malam kerana duit tidak mencukupi. Ma Yan hanya memakan kuih kukus. Ada 5 keping kuih kukus. Jadi dia akan memakan 1 keping untuk setiap malam. Tetapi oleh kerana dia mahu membeli pen, jadi dia perlu menyimpan setiap 1 yuan yang diberi ibunya itu selama 2 minggu, baru cukup 2 yuan. Dalam tempoh 2 minggu itu, Ma Yan hanya memakan nasi sahaja tanpa lauk. Kadang-kadang dia selang-selikan dengan minum air supaya cepat kenyang. Malangnya masuk minggu kedua, yang sepatutnya dia akan mendapatkan 1 yuan lagi, ibu Ma Yan tidak ada duit. Jadi Ma Yan terpaksa meneruskan bertahan hanya memakan nasi kosong sahaja untuk 1 minggu sehinggakan dia rasa mual dan tidak mampu memakan nasi itu lagi. Dia masih lapar tetapi tidak dapat memasukkan nasi itu ke mulutnya. Malu saya dibuatnya kerana saya selalu membazir makanan.
Akhirnya Ma Yan berjaya membeli sebatang pen yang berharga 2 yuan itu. Pen itulah yang digunakannya menulis catatan hariannya - tentang cita-citanya dan harapannya yang mahu tetap bersekolah tetapi mungkin terpaksa dilupakan hanya kerana kemiskinan. Catatan itulah juga yang diberi ibu Ma Yan kepada sekumpulan pengembara dari Perancis yang disangkanya mencari kanak-kanak bijak. Puji-pujian kepada Allah yang sentiasa memerhatikan hambaNya. Pengembara( yang ada di antara mereka adalah wartawan) bukan sahaja membaca catatan itu, tetapi membantu Ma Yan dengan menubuhkan tabung kebajikan untuk membantu persekolahan Ma Yan. Sehingga kini, khabarnya Ma Yan sedang melanjutkan pelajaran di Perancis dan ibunya pula terlibat aktif membantu kanak-kanak yang senasib dengan Ma Yan. Boleh baca berita lanjut di sini.
Sekurang-kurangnya berita ini melapangkan saya. Sepanjang pembacaan saya kuat berimaginasi yang saya perlu ke China membantu Ma Yan. Emosional pula. Resah di hati tentang nasib minoriti muslim di sana. Agak mustahil saya terbang ke China bukan tetapi sekurang-kurangnya cerita Ma Yan ini menyedarkan saya yang begitu banyak orang Islam terbiar di seluruh dunia ini malah kehidupannya mungkin lebih sadis. Saya tidak tahu bagaimanakah cara untuk membantu tetapi mungkin saya patut memulakannya dengan doa. Maksud saya mereka tidak akan dilupakan di dalam setiap doa-doa saya, "Ya Allah kasihanilah saudara-saudaraku di seluruh dunia, walau di mana mereka berada, yang dikenali ataupun tidak, ampunilah mereka, dekatkanlah mereka kepadaMu, keluarkanlah mereka dari kesempitan dan makbulkanlah hajat mereka".
Ma Yan, Kisah Perjuangan Melawan Kemiskinan dan Diskrimininasi Gender serta Marginalisasi Kehidupan
Air mata saya berkali-kali menetes sembari membuka lembar demi lembar novel karya Sanie B Kuncoro setebal 237 halaman ini. Saya larut dalam setiap pilihan kata Sanie yang mengena, cerdas, sekaligus menggugah nurani.
Novel ini diadaptasi dari kisah nyata Ma Yan, yang didapatkan dari catatan hariannya. Sebuah novel yang membuka cakrawala kehidupan kita. Banyak sekali yang dibahas disini. Bagaimana kemiskinan bisa memberikan kekuatan maha dahsyat. Bagaimana ketangguhan serta keyakinan bisa melahirkan daya dorong super hebat. Berlatar di Desa Zhangjiashu, ribuan kilometer dari Beijing yang terpinggirkan dan terkucil karena kekeringan hebat yang melandanya, novel ini berfokus pada cerita keluarga muslim China, dan mengambil sudut pandang dari Ma Yan serta ibunya.
Ini bukan novel romansa khas percintaan yang sedang gandrung dan dibual-bualkan. Novel ini lebih melihat cinta antara ibu dan anaknya, bagaimana mereka sama-sama berjuang melawan kemiskinan dengan cara mereka sendiri. Saya tersentuh, terutama saat Ma Yan dan adiknya harus menempuh perjalanan 20 km setiap minggunya untuk pulang ke rumah, sebelum kembali ke asrama sekolah mereka. Mengabaikan banyak bahaya yang sering harus mereka lewati di setiap perjalanan, juga keikhlasannya untuk berjalan kaki meski dengan penat karena ketiadaan uang bahkan untuk sekedar menumpang traktor yang melewati desa itu.
Begitupun ironi menyayat hati yang kembali harus saya temui. Ma Yan yang tak memiliki uang saku berlebih seperti kebanyakan temannya harus sarapan air teh hangat setiap harinya, makan nasi putih tanpa sayur atau lauk apapun karena ketiadaan uang untuk sekedar membeli lauk tambahan, dan menghemat roti kukus buatan ibunya untuk dimakan di malam harinya sebagai pengganjal perutnya.
Ma Yan hebat. Saya katakan ia tangguh. Kemiskinan yang ia alami telah membuatnya dewasa. Ia tahu bagaimana harus terus berjuang. Ia tahu, satu-satunya jalan meyelamatkan ia dan keluarganya dari kantong-kantong kemiskinan yang telah turun temurun menjerat dirinya dan keluarganya adalah dengan pendidikan. Ia ingin bersekolah setinggi-tingginya. Ia tahu hanya dengan itu ia bisa membawa secercah kebahagiaan, sesuatu yang sangat sulit untuk digapai saking lekatnya kekurangan dan kesengsaraan bersahabat karib dengannya.
Saya menangis saat ingat bagaimana ia harus mengunyah nasi putihnya yang hambar dan membuat mual selama 3 minggu serta menyisihkan yuan yang ia terima dari ibunya hanya demi membeli pena yang ia impi-impikan. Saya kembali menitikkan air mata bagaimana ia dan keluarganya harus menyiasati hidup, terbiasa untuk menghadapi kekeringan yang menyebabkan ladang tempat berkebun tak menghasilkan apapun. Menerima kenyataan ayahnya yang seorang veteran perang Korea dan menjadi pekerja di konstruksi pembangunan diperlakukan semena-mena oleh mandor yang mangkir dan tak mau membayar upahnya.
Dan saya tak berhenti tersedu saat novel ini membahas ibu Ma Yan, perempuan super kuat dan luar biasa. Ia yang tak pernah mengeluh, yang melakukan segalanya demi kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Memang benar bahwa setiap orang tua pasti akan melakukan apapun demi anak tercintanya. Namun menyaksikan pengorbanan tak berkesudahan yang dilakukan oleh ibu Ma Yan tetap saja membuat saya terharu sedemikian kuatnya.
Ia tahu, ia hanya wanita miskin yang berhenti bersekolah setahun setelah ia pertama kali masuk. Ibu Ma Yan adalah wanita luar biasa, yang memiliki keyakinan seteguh baja, sekuat karang. Cintanya pada keluarga membuatnya tetap bekerja tanpa pernah mengeluh, meski sakit di perutnya sering kali menyerangnya.
Sekali lagi, saya temukan definisi cinta tak bersyarat. Cinta sejati antara ibu dan anak. Yang tak memandang waktu, keadaan, atau apapun. Saya tak menyesal membeli novel ini dan langsung membacanya sampai tuntas. Novel ini juga sukses membuat saya semakin rindu pada mama. Terima kasih saya haturkan pada Sanie B Kuncoro yang telah piawai mengemas catatan harian Ma Yan menjadi novel yang menggugah dan menginspirasi.
Ma Yan gadis yang terlahir sebagai anak tertua di keluarga miskin yang tinggal di Zhangjiashu, China. Daerah pedalaman yang tak pernah tersentuh ingar-bingar kemajuan ekonomi di China. Saya ‘bertemu’ Ma Yan di sebuah toko buku kecil di Tasikmalaya. Ia ada di rak bersama buku-buku lainnya. Buku ini saya beli sebagai hadiah bagi keponakan perempuan yang tinggal di rumah untuk melanjutkan sekolah. Sayangnya keponakan saya tidak pernah tertarik untuk membacanya hingga kemarin di hari ke-6 puasa saya mengambilnya dari rak, kemudian membacanya. Ma Yan mungkin bukan ‘teman’ yang cocok bagi keponakan saya, tapi barangkali ia akan mendapat tempat di sekolah berbasis kepramukaan yang dirintis oleh pelatih saya dalam kegiatan Kursus Mahir Dasar bagi Pembina Gerakan Pramuka sebulan lalu.
________________________ Masakan Ibu senantiasa terasa lezat. Entah mengapa bisa seenak itu bagi lidahku walaupun masakan itu seringkali hanya berupa sayur kubis berbumbu bawang dan garam. Barangkali itu karena Ibu memasaknya dengan sepenuh hati, sehingga kasih sayang di dalam dirinya kepada kami terbawa dalam ramuan bumbu pada pada setiap masakannya, dan menciptakan kelezatan yang tak tertandingi bagi lidah kami…
Demikian ungkap Ma Yan tentang hidangan sahur dan berbuka di rumah yang dimasak ibunya. Jauh sekali dengan apa yang biasa kita nikmati. Menu buka puasa saja demikian meriahnya, dimulai dari aneka makanan ta’jil, lalu hidangan utama yang ajaibnya ketika Ramadhan kadang lebih royal daripada biasanya. Menu sahur pun demikian, seolah tak berselera jika makan hanya dengan lauk seadanya sisa buka puasa petang tadi. Tapi masih saja kita berkeluh kesah ketika menjalankan puasa. Aktivitas dimundurkan menjadi lebih siang pengerjaannya. Jam sekolah juga kan? Masuk lebih siang, seolah ada permakluman bahwa orang puasa itu butuh waktu tidur tambahan setelah shalat subuh. Betul-betul ‘baik hati’ segala toleransi itu.
Tidak demikian bagi Ma Yan. Ramadhan ataupun bukan, setiap saat baginya adalah bekerja keras dan berkompromi dengan rasa lapar. Setiap hari ia harus berjalan 20 kilometer jauhnya untuk bisa sampai di sekolah. Perjalanan jauh yang dilakukan bersama dengan adik dan teman-teman sekampungnya ini juga seringkali tidak lancar. Di tengah jalan, jika sedang sial, kerap mereka dihadang penyamun yang dengan tega merampas benda-benda paling berharga bagi Ma Yan dan kawan-kawannya: alat tulis dan bekal makanan seadanya.
Dikarenakan jauhnya jarak dari rumah ke sekolah dan berbahayanya perjalanan pulang-pergi sekolah tersebut, diputuskan Ma Yan dan adik laki-lakinya yang bernama Ma Yichao untuk tinggal di asrama yang disediakan pihak sekolah. Ayah dan Ibunya bekerja keras membanting tulang bekerja apa saja agar bisa membayar uang sekolah Ma Yan dan adiknya. Ma Yan pun demikian. Ia bekerja keras dengan caranya sendiri karena sadar bahwa orangtuanya hanya bisa membayar uang sekolah dan menyerahkan beras sebanyak 25 kilogram kepada pihak sekolah setiap semesternya. Selebihnya tidak. Tak ada uang jajan, tak ada uang lebih untuk membeli alat-alat tulis. Bahkan pernah Ma Yan menahan lapar selama 15 hari hanya agar ia bisa membeli sebatang pena yang ia inginkan. Selama itu ia hanya makan nasi putih tanpa lauk sehari sekali dan memperbanyak minum.
Hal itu belumlah seberapa, hingga kedatangan ibunya yang mendadak ke sekolah untuk menjemputnya pulang. Selamanya. Ma Yan tak bisa meneruskan sekolah karena Ayah dan Ibu sudah tidak sanggup membiayainya. Semakin terasa tidak adil bagi Ma Yan karena ternyata Ma Yichao adik laki-lakinya masih bisa melanjutkan sekolah. Ketika Ma Yan bertanya mengapa pada Ibunya, ia menjawab: “karena kamu perempuan.”
Buku non-fiksi ini mengisahkan tentang perjuangan gadis kecil bernama Ma Yan yang tinggal di Zhiangjiashu (sebuah desa terpencil yang jaraknya ribuan kilometer dari Beijing). Ma yan yang gigih untuk menuntut ilmu ke sekolah meskipun itu ia capai dengan jarak tempuh 20 kilometer dengan berjalan kaki 4-5 jam.. Ia tidak sanggup untuk menumpang dengan traktor yang pastinya akan membuat perjalanannya lebih singkat karena uang 1 yuan sangat berarti bagi dirinya dan keluarganya yang sangat miskin. Pilihan menaiki traktor ataupun tidak makan siang disekolah membuatnya memilih berjalan kaki. Setiap kegagalan menjadikan Ma yan sebagai pribadi yang tidak menyerah dengan keadaan dan justru semakin gigih bersekolah agar bisa memperbaiki kehidupan keluarganya kelak.
Membaca buku ini seperti menampar muka saya. Anak kecil yang tidak memiliki apa-apa segigih itu berjuang demi keluarganya dan mengejar pendidikan sebisa mungkin. Membeli pena/pulpen yang di kita apalah arti harga 2 yuan harus dikumpulkan Ma yan hingga dua minggu hingga rela berminggu2 makan siang hanya semangkuk nasi tanpa sayur dan lauk.. Subhanallahh.. saya sangat terkesan sekali dengan sikap dan kegigihan Ma yan dan Ibu Ma yan yang senantiasa berjuang untuk sebisa mungkin mencukupi kehidupan ketiga putra-putrinya. Kita kayaknya harus banyak bersyukur dan bercermin sama diri sendiri terkadang kita masih suka menghamburkan uang untuk hal yang sbenernya tidak kita butuhkan dan makan yang berlebih-lebihan padahal di dunia bagian sana masih banyak orang yang untuk membeli sayur saja sudah cukup berat. Fuhh.. *self-reflection
Banyak sekali kutipan2 di dalam novel ini yang berhasil membuat saya jadi berpikir kembali tentang apakah kita sudah banyak bersyukur karena berkehidupan layak dan apakah saya sudah cukup berbagi kepada orang2 di sekeliling kita yang membutuhkan?
"Menjadi perempuan agaknya harus senantiasa patuh, meski kepatuhan itu menempatkan dirinya pada hak-hak yang tereliminasi. Kenyataannya, perempuan justru sering tersingkir dari keutamaan. Setiap keluarga selalu memilih untuk memiliki anak laki-laki. Bila seorang ibu belum melahirkan anak laki-laki, ia akan dipaksa untuk terus beranak hingga terlahir darinya seorang laki-laki sebagai pewaris keturunan nama keluarga" (Bai Juhua Ibu Ma Yan..Halaman 21)
"Dari rumah menuju sekolahku berjarak dua puluh kilometer. Jalur perjalanan itu berupa ladang2 pedalaman yang berbukit, trayek berbahaya yang berdekatan dengan jurang2 dengan dakian dan turunan yang curam serta celah lebar di antara karang terjal. Melalui rute ini memerlukan waktu tempuh empat jam untuk pejalan cepat dan lima jam untuk ayunan kaki berkecapatan ala kadarnya" (Ma yan.. Halaman 40)
"Kepada Ibu, Peribahasa mengatakan bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Maafkan bahwa aku telah gagal, ibu. Namun aku tidak akan berlindung di balik peribahasa itu. Tidak akan kulindungi atau kusamarkan kegagalan dengan alasan apa pun. Gagal adalah gagal kuterima dan kuakui itu dengan sepenuh hati. Tapi ibu, apakah kegagalan membuatku harus berhentu lalu melupakan jejak langkah yang telah kutempuh sebelum ini? apakah kemudian aku harus kehilangan jejak untuk menuju arah selanjutnya?" (Ma Yan..Halaman 149)
Buku ini sangat inspiratif! saya berikan 4 dari 5 bintang! :')
Keterangan : 1 yuan per posisi 5 oktober adalalah setara Rp 1.984,-
Perjuangan dan Mimpi Gadis Kecil Miskin di Pedalaman China untuk Meraih Pendidikan. Itulah subjudul yang tertera di sampul buku ini. Dan begitu pula lah isinya. Ma Yan, adalah putri sulung dari pasangan keluarga miskin di daerah terpencil di China. Saking terpencilnya, dikatakan bahwa orang tak mungkin datang ke sana secara tidak sengaja. Selain itu, daerah tersebut mengalami kekeringan berkepanjangan akibat kebijakan pemerintah sebelumnya, sehingga meskipun bermata pencaharian sebagai petani, penduduk desa tersebut hampir tak bisa menghasilkan bahan pangan apapun untuk dijual.
Ma Yan dan adik laki-lakinya harus berjalan kaki ke sekolah sejauh dua puluh kilometer. Asrama sekolah hanya menyediakan semangkuk nasi setiap harinya dari beras yang dibawa anak-anak sebagai biaya sekolah. Ma Yan pulang ke rumah pada hari Jumat siang, dan kembali ke sekolah di hari Minggu. Sebagai bekal lima hari di asrama, ibunya hanya membekalinya dengan uang satu yuan yang hanya bisa digunakan untuk membeli sayur ala kadarnya, dan lima buah roti kukus untuk makan malam selama seminggu. Pada pagi hari, dia hanya mengganjal perutnya dengan teh panas yang disediakan di dapur asrama.
Suatu ketika, Ma Yan sangat ingin membeli pena. Harganya dua yuan. Dia sadar benar bahwa orang tuanya tak mungkin memiliki uang lebih dari satu yuan per minggu untuk diberikan kepadanya, sementara untuk makan pun ibunya masih harus berhitung dengan teliti. Dia pun menahan perut dan lidahnya untuk tidak membeli sayuran sampai perutnya mual karena hanya diberi nasi tawar setiap hari. Dengan perjuangan seperti itu, dia baru bisa memiliki sebuah pena seharga dua yuan.
Suatu ketika, pengeluaran keluarga itu harus ditekan sedemikian rupa sehingga ada yang harus dikorbankan. Tidak ada jalan lain selain menekan biaya sekolah. Sebagai perempuan, Ma Yan lah yang menjadi korban pertama. Akan tetapi, tekad gadis kecil itu sedemikian kuatnya, dia memohon kepada ibunya untuk dicarikan jalan agar tetap bisa bersekolah. Ibunya pun tak tega melihat Ma Yan, gadis kecilnya yang cerdas dan sungguh-sungguh dalam belajar, harus bernasib sama sepertinya. Diam-diam, kedua ibu dan anak ini memiliki keyakinan yang sama bahwa hanya dengan pendidikan mereka bisa keluar dari kemiskinan dan penderitaan yang mereka akrabi selama ini.
Kisah ini merupakan gambaran nyata dari masyarakat miskin yang jumlahnya masih banyak. Entah itu di negeri China, tempat yang diceritakan dalam buku ini, atau bahkan negara kita sendiri. Semangat gadis kecil untuk terus belajar demi masa depan, dan perjuangan tak kenal lelah dari seorang ibu demi anak-anaknya, sungguh merupakan hal yang patut diteladani. Sebenarnya kisah ini diangkat dari kisah nyata, tetapi sepertinya penulis menceritakan sendiri menurut versinya. Jadi mungkin masih dalam kategori fiksi.
Penulis memiliki kepiawaian tersendiri dalam menyusun kalimat-kalimatnya sehingga enak dibaca tetapi tetap indah. Akan tetapi, masih ada beberapa pengulangan yang tampaknya kurang perlu. Yang paling mencolok adalah persamaan analogi surat dalam botol yang digunakan oleh ibu Ma Yan, yang notabene tidak berpendidikan, dengan Pierre Haski, seorang jurnalis yang menceritakan kisah Ma Yan pada dunia. Kesannya seolah-olah mereka memiliki sudut pandang yang sama, padahal dunia yang mereka jalani jauh berbeda.
Novel ini ialah adaptasi karya asal iaitu The Diary Of Ma Yan yang disunting oleh Pierre Haski, seorang jurnalis di sebuah akhbar Perancis berdasarkan diari sebenar seorang gadis cina muslim yang bernama Ma Yan. Apabila membaca tulisan Sanie B. Kuncoro ini, kisah Ma Yan sangat menyayat hati tetapi belum cukup untuk mengalirkan air mata.
Ma Yan yang hidup bersama keluarganya yang miskin dan di perkampungan yang terasing berjuang untuk mengubah nasibnya dan keluarganya dengan pendidikan dan menuntut ilmu bersungguh-sungguh. Namun, perjuangan ini menjadi sukar kerana kemiskinan itu sendiri ialah halangan baginya untuk memperoleh pendidikan yang baik.
Gambaran kemiskinan ditunjukkan apabila Ma Yan terpaksa berlapar selama dua minggu semata-mata untuk membeli pen yang berharga dua yuan. Dia dan adik-adiknya gigih menuntut ilmu sehingga sanggup berjalan selama lima jam untuk sampai ke sekolah.
Ibunya sendiri sebelum itu hanya bersekolah selama setahun dan kekal buta huruf kerana tidak mampu meneruskan persekolahan, bukan sahaja kerana miskin tetapi kerana dia seorang wanita. Adat tradisi menganggap wanita tidak perlukan pendidikan tinggi kerana akhirnya mereka tetap akan menjadi seorang isteri.
Ibunya dikahwinkan dengan ayahnya dengan penuh harapan akan berubah nasib, namun sebenarnya perkahwinan bukanlah pengakhiran sebuah penderitaan, tetapi sebuah peralihan kepada sebuah kehidupan baru. Kehidupan mereka sekeluarga terus dicengkam kemiskinan.
Mereka tidak mahu adat dan kemiskinan itu diwarisi oleh anak-anak mereka lalu ibu dan ayah Ma Yan berkorban darah dan keringat demi memastikan dia dan adik-adiknya dapat meneruskan pendidikan.
Ibu Ma Yan yang menderita penyakit sanggup merentas padang pasir sejauh 400 kilometer daripada kampung mererka untuk ke Ning Xia untuk menuai ‘fa cai’ bagi memperoleh wang biaya sekolahnya.
Bukan mereka sekeluarga sahaja yang menderita kehidupan seperti ini, terdapat ramai lagi keluarga yang mengalami nasib yang sama di perkampungan ini.
Perubahan yang diinginkan hampir mustahil kerana mereka terlalu miskin untuk menentang kemiskinan. Hanyalah keajaiban dan takdir, serta keyakinan seorang ibu yang mampu mengubah nasib mereka.
Ekspedisi Pierre Haski dan rakan-rakannya ke kampung Zhangjiashu itu serta usaha ibunya mengejar jip mereka merupakan permulaan sebuah perubahan.
Kini, kisahnya diketahui dunia dan menyebabkan 250 kanak-kanak China lain berpeluang memperoleh pendidikan. Kampungnya pula telah dibekalkan keperluan asas seperti bekalan air bersih dan kemudahan pertanian.
Novel ini memberi kesedaran akan penderitaan saudara kita di tempat lain dan menyebabkan timbul rasa syukur atas nikmat yang dimiliki. Selain itu, novel ini turut mendorong agar kita mempunyai sensitiviti untuk membantu mereka yang tidak bernasib baik. Tidak ketinggalan, pembaca turut disuntik dengan rasa penghargaan kepada pengorbanan ibu bapa.