Dalam budaya populer, tema tentang pencarian The Lost Ark of Covenant, atau Tabut Perjanjian Bani Israel yang hilang, telah beberapa kali diangkat dalam bentuk film, novel, atau cerita pendek. Misalnya dalam film Indiana Jones and the Raider of the Lost Ark yang disutradarai Steven Spielberg dan dibintangi Harrisson Ford. Umumnya, tema ini diangkat dalam relevansinya dengan Alkitab (Torah atau Injil) dan konteks Kristen atau Yahudi.
Antara tahun 2005-2008, saya mencoba untuk membangun sebuah perspektif baru dalam tema pencarian The Lost Ark of Covenant berdasarkan konteks pandangan Islam dengan mengacu kepada Surah Al Baqarah Ayat 248. Akhirnya, lahirlah novel ini.
“Rahasia Kaum Falasha” dihadirkan untuk mencoba memberikan alternatif dalam tema yang sama. Selain mencoba membangun perspektif Islam berdasarkan Al Qur’an, saya juga mencoba menguatkan kembali aplikasi literatur kuno, selain kitab-kitab suci, yang menyebut-nyebut Tabut Perjanjian ini, yakni kitab Kebra Nagast. Kebra Nagast merupakan kronik sejarah dari Ethiopia yang telah ada sejak 3000 tahun yang lalu, menceritakan tentang kisah dan silsilah raja-raja Dinasti Solomonik yang merupakan keturunan Nabi Sulaiman as. dan Ratu Saba (Bilqis).
Kisah dalam novel ini dimulai ketika Heri, seorang ahli filologi, tewas di Ethiopia saat sedang melakukan penelitian untuk disertasinya. Kepolisian Ethiopia menyatakan bahwa Heri tewas karena dibunuh oleh Indra, yang juga merupakan asisten Heri dalam penelitiannya.
Esa, sahabat Heri, yang juga seorang dosen sastra di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung menerima sebuah paket dari Heri melalui seseorang yang misterius. Paket itu diterimanya beberapa saat sebelum ia menerima kabar kematian Heri. Paket yang diterima Esa ternyata berisi sebuah gantungan kunci logam berbentuk segitiga sama sisi dengan warna emas.
Beberapa saat setelah kematian Heri, Esa kembali bertemu dengan Nisa, teman lamanya yang tiba-tiba muncul setelah bertahun-tahun. Di balik kemunculannya yang mendadak, Nisa ternyata bertujuan hendak mengambil segitiga emas yang ada pada Esa dan menyerahkannya pada ‘The Knigths of Zion’ –sebuah organisasi Zionis rahasia yang sangat menginginkan benda tersebut. ‘The Knigths of Zion’ berjanji untuk mempertemukan Nisa dengan ayahnya yang telah lama menghilang. Karena itulah Nisa mau melakukan hal tersebut.
Esa kemudian menemukan fakta bahwa desertasi yang sedang disusun Heri mengkaji sebuah naskah kuno Ethiopia dari Abad ke-1 Masehi yang ditulis dengan huruf Ge’ez dalam bahasa Archaic-Semitic –bahasa dan tulisan yang hanya biasa digunakan oleh bangsa Saba kuno. Sebelum meninggalnya, Heri ternyata sedang menggarap sebuah penelitian filologi untuk memecahkan teka-teki dalam manuskrip tersebut. Manuskrip tersebut telah menggiring Heri menemukan segitiga emas yang ternyata merupakan kunci penunjuk tempat penyimpanan Tabut Perjanjian Israel yang hilang (The Lost Ark of Covenant) dan harta simpanan Raja Sulaiman as.
‘The Knigths of Zion’, sebuah perkumpulan Zionis rahasia, merasa diri mereka sebagai pihak yang paling berhak untuk mewarisi Tabut Perjanjian dan harta peninggalan Sulaiman as. Sementara, bahaya besar mengancam jika Tabut suci tersebut jatuh ke tangan orang-orang Zionis. Maka, Esa pun dihadapkan kepada konflik. Apalagi ia terlanjur menyerahkan segitiga emas yang diterimanya kepada Nisa. Esa harus berpacu dengan ‘The Knight of Zion’ dalam menemukan Tabut Perjanjian dan harta karun Sulaiman as untuk mencegah agar benda tersebut tidak jatuh ke tangan Kaum Zionis.
Dalam pasar pembaca buku saat ini, sudah ada beberapa novel dengan genre dan tema yang sama. Sisi lain yang saya coba tawarkan melalui novel ini adalah segi kandungan unsur petualangan dan roman, serta penggabungannya dengan nilai-nilai kontemporer, historis, dan keislaman. Faktor-faktor tersebut diharapkan menjadi nilai lebih bagi novel ini. Novel ini, insya Allah, tidak sepenuhnya fiksi, karena unsur-unsur pembangunnya diambil dari fakta, hipotesis, dan teori konspirasi. Saya sungguh berharap bahwa novel ini dapat menggugah wacana dan menambah wawasan bagi para pembacanya.
Rahasia Kaum Falasha*) Perburuan Filolog Muslim Indonesia di Bawah Bayang-Bayang Zionis
*)Kaum Falasha, adalah sebutan bagi anak cucu Menelik, putra Raja Sulaiman dan Ratu Saba. Mereka berasal dari Ethiopia, berdarah Israel dan berkulit hitam. Tetapi orang Israel tidak pernah mengakui mereka sebagai bangsa Israel.
---
Seorang mahasiswa Indonesia bernama Heri dikisahkan melakukan penelitian di Ethiopia guna mengupas filologi bangsa Afrika. Dia tewas dibunuh setelah menemukan lembaran manuskrip-manuskrip kuno. Indra—sahabatnya yang berprofesi sebagai pedagang barang antik lolos dari maut dan menyimpan isi manuskrip kuno itu dalam benaknya.
Manuskrip-manuskrip itu berisi catatan sejarah pertemuan Raja Sulaiman dan Ratu Saba, sedangkan lembar kelima manuskrip menjelaskan letak tabut suci dan harta peninggalan Sulaiman lewat pantun berikut:
selebihnya dari riwayat tabut suci dan harta Salomo dengan segala keajaiban dan riwayatnya bukankah semua itu tertulis dalam kitab-kitab? Lamanya tabut itu berada di tempatnya Ialah selama kerajaan Tuhan berdiri Dan kerajaan Tuhan akan berdiri hingga akhir masa Menelik telah memindahkan harta dan tabut itu Dan ia menguburkannya di tempat yang seharusnya Di balik tangisan alam yang syahdu Dekat Bait Tuhan yang suci Di bawah sumber segala kehidupan Sesungguhnya tabut akan tetap berada Di tempat tahta para raja berada ---
Petualangan dimulai ketika seorang dosen muda bernama Esa mendapatkan ‘paket’ dari Heri. Bersama Indra dan Nisa, Esa terjerembab dalam perburuan tabut suci sampai ke Ethiopia, dan harus berhadapan dengan Kelompok Knights of Zion yang mengincar tabut suci itu.
Seperti petualangan Indiana Jones, Rahasia Kaum Falasha: Perburuan Filolog Muslim Indonesia di Bawah Bayang-Bayang Zionis dibumbui roman yang manis.
Buku pertama dari Trilogi The Battle for Solomon’s Treasure ini membuka fakta baru dan informasi sejarah harta karun Nabi Sulaiman. Kalau sudah membaca buku ini Anda pasti akan punya jawaban sendiri apakah kisah ini fiksi atau fakta.
thriller-konspirasi buatan anak Indonesia yang pertama kali saya baca,..tapi menurut saya masih kurang nampol.
Pertama,..tokoh utama dalam sebuah cerita ini yang hanya seorang asisten dosen saya rasa kurang tepat,..seharusnya profesinya lebih kuat sehingga dia memiliki akses yang lebih besar, anggaplah ahli antropologi MIT Massachusets, atau mungkin penerjemah manuskrip kuno yang punya banyak kenalan di luar negeri, atau mungkin mantan anggota Badan Intelejen Nasional,..c'mon,..musuhnya turunan2 ksatria templar yang menguasai dunia dibelakang layar,..masa lawannya asisten dosen sih.
kedua,..koq ada unsur Ayat2 cintanya yah?? sorry no offence, jadinya kurang 'galak'. Seorang pemuda Indonesia asisten dosen (kecil) yang bertentangan dengan sebuah organisasi besar yang mengendalikan dunia (besar) dalam imajinasi saya adalah sosok yang 'rebellious',..bukan fahri2an.
ketiga,..poin positif,...seperti prinsip utama saya yaitu karya seni yang BAGUS adalah sebagaimana isinya dapat merubah cara pandang seseorang terlepas dari BAIK-BURUK pembawaannya,..maka buku ini bisa saya bilang BAGUS karena membuat people aware dengan keadaan dunia..
Membaca buku ini, mau tak mau kita pasti akan membandingkannya dengan novel Da Vinci Code yang terlebih dahulu fenomenal. Yah, novel ini pun penuh dengan kode-kode dan simbol misterius. Selain itu juga berkaitan dengan agama. Bila dalam Da Vinci Code dibahas tentang cawan suci dalam tradisi kristen. Maka di novel ini yang jadi benang merahnya adalah Tabut perjanjian yang merupakan harta karun peninggalan Nabi sulaiman.
Plot diawali dari kematian seorang mahasiswa Indonesia di Ethiopia. Semua percaya bahwa pembunuhnya adalah teman korban sendiri yang juga berasal dari Indonesia. Esa, seorang dosen UPI yang merupakan teman korban menerima paket misterius dari sang pembunuh. Benda berbentuk segitiga itu menyeret sang dosen muda pada petualangan yang tak akan pernah bisa dilupakannya karena ternyata ia berurusan dengan jaringan zionisme internasional.
Lalu Nisa, teman semasa kuliah yang dulu tiba-tiba menghilang. Muncul dengan tiba-tiba juga. Kepulangan Nisa, gadis berjilbab itu ke Indonesia ternyata tidak kebetulan. Semuanya berhunbungan dengan benda misterius yang diterimanya.
Esa berkesempatan datang ke Australia, untuk menerima penghargaan untuk sahabatnya yang terbunuh itu dari Universitas. Hal ini dimanfaatkan untuk menyelidiki kematian temannya, ia bertemu dengan Bayu, saudara kembar Indra yang dituduh membunuh.
Novel ini layaknya sebuah ensiklopedi yang diceritakan dengan bumbu-bumbu fiksi. Banyak sekali fakta-fakta sejarah yang dijelaskan. Kita akan dibawa menjejaki sudut-sudut kota Adis Ababa, Sydney, Maladewa, Eden (Iran) dan Mekah. Saya salut dengan kepiawaian penulis. Walaupun ada beberapa kejadian yang kadang menurut agak “too good too be true”. Tapi foreall tidak terlalu bermasalah menurut saya.
Karakter dalam novel ini sama sekali bukan jagoan seperti Indiana Jones ataupun Robert Langdon, namun justru membuat cerita lebih real menurut saya. Selain itu, juga ada bumbu-bumbu kisah cinta ala Ayat Ayat cinta. Sedikit mengendurkan adrenalin. Tapi mungkin juga akan mengganggu bagi sebagian orang yang benar-benar ingin menikmati Thriller penuh. Tergantung selera sebenarnya.
Ada lima tokoh sentral dalam novel ini, Esa, Nisa, Indra, Rachel. Saya justru sangat tertarik dengan karakter Nisa. Perempuan yang sangat cerdas, ia bisa kabur dari mata-mata Zionis dengan bantuan mobil pizza yang sengaja dipesannya. Tapi saya lihat di goodreads, katanya tokoh ini meninggal di buku kedua (Misteri di Puncak Arafat). Bikin penasaran juga bagaimana meninggalnya.
Endingnya cukup logis menurut saya, terlepas dari bumbu ayat-ayat cintanya.
Oh ya, buku ini merupakan buku pertama dari trilogi Battle for solomon Treasure, saat resensi ini ditulis buku keduanya juga sudah terbit. (saya lagi nyari juga nih).
Nggak nyangka.. Dhika yang saya tahu aktivis kampus, ternyata bisa bikin novel. Nggak cuma itu, novel yang dia bikin isinya bisa dibilang berbobot. Dengan genre yang masih jarang dirambah novelis Indonesia, Dhika berhasil ngasih saya hiburan yang ensiklopedis. Sebuah kisah petualangan dosen bahasa dan sastra Inggris UPI Bandung yang berjuang dalam mengungkap kasus pembunuhan sahabat dekatnya. Namun, di balik itu ternyata ada hal yang lebih dahsyat: PERBURUAN HARTA KARUN NABI SULAIMAN. Nggak tanggung-tanggung, perburuan ini melibatkan jaringan zionis internasional yang harus dihadapi sang dosen bersama teman-teman barunya. Membaca novel ini jadi nostalgila semasa kuliah. Dhika menggambarkan detil ruangan kampus dan letak-letak gedung nyaris sempurna, apalagi buat yang udah pernah ngampus di sana. Malahan, tokoh-tokoh dalam novel itu mengambil nama-nama yang familiar buat anak-anak bahasa inggris UPI semasa Dhika kuliah. Misalnya, sang tokoh utama Esa yang merupakan kependekan dari English Students' Association. Lalu ada Heri, Nisa, Bayu, Bu Kim, dll. Jadi, pas baca nama-nama itu yang ada malah pengen ketawa karena ngerasa kenal dan langsung membayangkan tokoh itu sebagai teman-teman atau dosen semasa kuliah. Dhika.. Dhika.. ada-ada aja! Tapi, salut Bro! Oh ya, ini trilogi loh..
Menurut saya fakta sejarahnya cukup menarik. Memang diawal agak membosankan karena seperti cerita "picisan" islami pada umumnya yang numpang nempel ketenaran AAC (maaf). Karena agak dipaksakan seperti Esa dan Nisa tahu batasan hubungan antara wanita dan pria. Tapi mereka sering pergi kemana-mana berdua-duan. Dan sempat berpegangan tangan. Mungkin kalau lebih halus seperti memegang ujung baju (walaupun agak dipaksakan)
Disamping itu ada ketidak konsistenan penulis. Di bab awal yang menggambarkan Bayu (saudara kembar Indra) memiliki rambut panjang dikuncir mirip kuda. Tapi di bab2 pertengahan digambarkan Bayu Rambutnya pendek dan rapi. Padahal alur cerita ini thriller yang tidak ada keterangan Bayu melakukan hal2 santai seperti potong rambut.
Tapi jujur saya melihat buku ini bagus karena bagi saya fakta sejarah itu lebih penting dari pada cerita fiksinya.
bukunya bagus, menginspirasi kehidupan diluar agama islam yang banyak sangkut pautnya dengan ajaran zionis.. aku suka buku seperti ini, membuat saya berpikir kritis tentang agama.