•recently read•
4/5⭐
❝Dalam hidup, ada fase ketika kita nggak hanya berkaki dua. I don't mean it literally. Orang bilang, sewaktu kecil kita punya empat kaki, dan di masa tua berkaki tiga. Menurutku, ada lagi satu fase ketika kita akan mendapat ekstra kaki meskipun sepasang alat gerak itu sama sekali nggak melekat di tubuh kita. Hal itu ada pada orang lain—pasangan kita.
Tahu kan pernikahan itu hal serius karena dua orang memutuskan untuk menjadi satu? Kita diwajibkan melangkah bersama tak peduli apa pun halangan di depan. Bagaimanapun akhirnya, tujuan awal pernikahan sebenarnya sesederhana membuat hidup nggak hanya jadi milik sendiri, tapi jadi sesuatu untuk dibagikan dan dijalani bareng-bareng.❞
—Page 42
❝But, sometimes you should put yourself first.
Nggak perlu selamanya lo mikirin orang lain di atas lo. Be nice o yourself, too.❞
—Page 94
❝Perubahan penuh ketidakpastian. Dan sejujurnya, gue juga paham. Nyaman dengan situasi yang sudah ada sering bikin gue enggan pergi dan ngubah sesuatu. Gue sangat amat memahami itu.❞
—Page 161
❝Gue—uh, aku maksudnya—bukan ngebet nikah. Cuma, tiap kali ada hal-hal kayak gini, kadang aku mikir juga. Apa aku yang salah karena nggak bisa memenuhi ekspektasi orang? Apa emang aku yang kelamaan? Pada saat orang lain punya pasangan, aku masih sendiri. Nikah udah kayak utang, ditagih terus-terusan.
Padahal nggak ada ekspektasi siapa pun yang perlu kamu penuhi"
Kamu kan yang pernah bilang nikah itu nggak gampang? Biarin orang berekspektasi. Ujung-ujungnya kan hidup punya kamu. Hubungan punya kamu, bukan mereka. Nggak usah terlalu didengerin.
Take your time, Ken. Semua orang punya momentum yang berbeda.❞
—Page 178
❝Pengalamanku juga nggak banyak.
Jatuh cinta itu mungkin soal waktu. Kadang kita harus ketemu sama orang yang salah biar akhirnya ketemu sama yang tepat.❞
—Page 222
❝This... this just different. Aku nggak tahu bagaimana menjelaskannya, dan nggak tahu juga apa semua orang yang dilamar pasangannya merasa begini. Lamaran itu seakan mengubah cara pandangku. There is assurance that you wouldn't be alone, because somebody will be there for you. It feels weird and comforting at the same time.❞
—Page 249
❝Dan aku, mungkin saja akan menyiksa diri jika memaksakan diri dan berusaha membohongi hati.
Bun, kalau rasa sayang hanya menyakiti, apa itu tandanya perasaan tersebut lebih baik diikhlaskan?❞
—Page 304
❝Kalau butuh waktu menenangkan diri, nggak apa-apa. Kamu juga perlu ketenangan. Dan daripada kamu mengkhawatirkan pendapat orang, sebaiknya kamu pikirkan dirimu. Bukan hal yang salah untuk mengambil keputusan untuk diri sendiri. Hidup ini punya kamu kok."
Honestly, this feels weird but also comforting.❞
—Page 311
❝Ternyata rasanya sakit ya, Bun?
Semua luka perlu waktu buat sembuh. Pelan-pelan aja.
Even if it hurts, it's the best choice I've ever made. And there will be a time when my heart finally meet its match. It maybe not today.
But someday, it will. ❞
—Page 330
❝Hubungan kalian memang urusan kalian. Gue mau marah-marah juga, nggak akan ada yang berubah. Hubungan nggak ada yang gampang. Lihat aja gue sama Rob. Namanya jodoh, nggak ada yang tahu. Kita cuma bisa berusaha, kan? Berusaha berjuang atau ngelepasin. Hasilnya mungkin susah buat diterima. Yet we don't have any option beside letting it go and move on.❞
—Page 332
•••
Gimana jadinya klo kalian dilamar sahabat sendiri?😲 Itu lah yang terjadi pada Kenizia Wiantari, yang tanpa teding aling-aling dilamar oleh Giovanni Pranaja—sahabatnya selama belasan tahun! Parahnya lagi, Gio melamar Ken di acara nikahan Risa dan Adit yang notabene sahabat mereka juga!😱
Klo kalian jadi Ken, lamaran tahu bulat-nya Gio bakal diterima gak nih?😝
Jujur ya, dari awal baca sinopsis buku ini, aku udah bisa nebak ceritanya bakal dibawa kemana. Pun makin yakin setelah baca BAB 1. Kayak udah ketebak aja gitu lho. Maaf banget deh klo kesannya sok tau.🫣😅 Tapi nyatanya, dari awal sampe akhir, tebakanku bener dong~😎
Meskipun begitu, aku gak mau ambil pusing dan tetap menikmati perkenalanku dengan karya kedua dari Arata Kim ini. Gimana bacanya gak enjoy lha wong karakter-karakternya langsung mencuri perhatianku!😍 Aku pun dibuat senyum-senyum sendiri pas ngikuti perjalanan Ken dan Gio untuk saling mengenal. Gemesin banget!🥰 Meski tetep sih, pengen nampol Gio pake condel!😤
Aku suka sama geng-nya Ken, Gio, Mel, Risa, dan Adit yang awet sampe belasan tahun. Apalagi persabahatan mereka tuh real dan down to earth banget dengan segala dramanya. Bikin iri sih! Semoga aja persahabatanku bisa seawet itu juga!🙏🏻🍀
Dari judul, udah tau lah ya endingnya bakal gimana. Hayo, ada yang tau endingnya tuh sad atau happy? Klo penasaran, baca bukunya sendiri ya!😉
Overall, aku sangat menikmati buku yang page turner ini!🙌🏻 Kelar baca buku ini dalam waktu 1 hari saking ceritanya ngalir banget kayak aliran sungai. Klo kalian suka trope friends-to-lovers dan slow-burn-romance, buku ini cocok banget sih untuk kalian baca!💞 Ada banyak hal yang bisa aku pelajari dari buku ini, terutama masalah jodoh dan pilihan hidup. Ceritanya pun realistis banget dengan ending yang seperti ini. Suka!❤️🔥
#tiareadsbooks #tiawritesreviews